Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan adalah perubahan kearah kemajuan menuju terwujudnya
hakekat manusia yang bermartabat atau berkualitas. Perkembangan memiliki
sifat holistik (menyeluruh/kompleks) yaitu : terdiri dari berbagai aspek baik fisik
ataupun psikis, terjadi dalam beberapa tahap (saling berkesinambungan), ada
variasi individu dan memiliki prinsip keserasian dan keseimbangan.
Perkembangan Individu memiliki beberapa prinsip-prinsip yaitu: Never ending
process (perkembangan tidak akan pernah berhenti), Semua aspek
perkembangan saling mempengaruhi (aspek emosional, aspek disiplin, aspek
agama dan aspek sosial),Perkembnagan mengikuti pola/arah tertentu (karena
perkembangan individu dapat terjadi perubahan perilaku yang dapat
dipertahankan atau bahkan ditinggalkan)
Perkembangan merupakan proses yang tidak akan berhenti dan setiap
perkembangan memiliki tahapan tahapan yaitu : tahap dikenangkan, tahap
kandungan, tahap anak, tahap remaja, tahap dewasa, dan tahap lansia, ada juga
yang menggunakan patokan umur yang dapat pula digolongkan dalam masa
intraterin, masa bayi, masa anak sekolah, masa remaja dan masa adonelen yang
lebih lanjut akan disebut dengan periodesasi perkembangan.
Sebagai seorang individu yang sudah tergolong dewasa, peran dan tanggung
jawabnya tentu makin bertambah besar. la tak lagi harus bergantung secara
ekonomis, sosiologis ataupun psikologis pada orang tuanya. Mereka justru
merasa tertantang untuk membukukan dirinya sebagai seorang pribadi dewasa
yang mandiri. ‘Segala urusan ataupun masalah yang dialami dalam hidupnya
sedapat mungkin akan ditangani sendiri tanpa bantuan orang lain, termasuk
orang tua. Berbagai pengalaman baik yang berhasil maupun yang gagal dalam
menghadapi suatu masalah akan dapat dijadikan pelajaran berharga guna mem-
bentuk seorang pribadi yang matang, tangguh, dan bertanggung jawab terhadap
masa depannya.
Secara fisik, seorang dewasa muda {young adulthood) menampil-kan profil yang
sempurna dalam arti bahwa pertumbuhan dan perkembangan aspek-aspek
fisiologis telah mencapai posisi puncak. Mereka memiliki daya tahan dan taraf
kesehatan yang prima sehingga dalam melakukan berbagai kegiatan tampak
inisiatif, kreatif, energik, cepat, dan proaktif.
Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (young ) ialah mereka yang
berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock
(1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik
(physically trantition^ transisi secara intelektual (cognitive trantition), serta
transisi peran sosial (social role trantition).

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka pertmasalahan dapat dirumuskan
sebagai berikut :
1. Apa arti dari masa mengandung / prenatal?
2. Apa arti dari masa kelahiran / natal?
3. Apa arti dari masa bayi?
4. Apa arti dari masa prasekolah?
5. Apa arti dari masa anak sekolah?
6. Apa arti dari masa anak remaja?
7. Apa arti dari masa dewasa?
8. Apa arti dari masa usia lanjut / lansia?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui apa arti dari masa mengandung / prenatal.


2. Untuk mengetahui apa arti dari masa kelahiran / natal.
3. Untuk mengetahui apa arti dari masa bayi.
4. Untuk mengetahui apa arti dari masa prasekolah.
5. Untuk mengetahui apa arti dari masa anak sekolah.
6. Untuk mengetahui apa arti dari masa anak remaja.
7. Untuk mengetahui apa arti dari masa dewasa.
8. Untuk mengetahui apa arti dari masa usia lanjut / lansia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. MASA MENGANDUNG (PRENATAL)


Periode prenatal atau masa sebelum lahir dlah peride awal perkebangan manusia
yang dimulai sejak konsepsi,yakni ketika kaum wanita dibuahi oleh sperma laki-
laki sampai dengan waktu kelahirn individu.Masa ini pada umumnya
berlangsung selama 9 bulan kalender atau sekitar 280 hari sebelum lahir.Periode
prenatal ini merupakan periode yang sangat singkat ,dan pada periode inilah
dipandang terjadi perkembangan yang sngat cepat dalam diri individu.
Jauh sebelum adnya perhatian dan pengakuan dari kalangan psikoogi barat
terhadap perkembangan individu secara prenatal ini,psikologi Timur terutama
psikologi islam telah lebih dulu menempatkn masa prernatal ini sebagai periode
awa perkembangan individu.Beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadist Nabi
SAW.Yang menjadi landasan utama bagi psikologi islam,telah memberikan
sejumlah informasi tentang telah dimulainya kehidupan manusia sejak janin
berada dalan kandungan ibunya.Dalam sejumlah ayat Al-Qur’an dan Hadist
Nabi secara tidak langsung juga telah disampaian selama periode prenatal
ini,individu tidak hanya menglami perkembangan fisik melainkan sekaligus
mengalami perkembangan psikologi.(Mujib&Mudzaki 2001)

1. Tahap-tahap Perkembangan Masa Prenatal


Pada uumnya ahli psikologi perkembangan membagi periode prenatal atas 3
tahap,yaitu :
a) Tahap Germinal (Germinal stage)
Tahap germinal,yang sering juga disebut periode zigot,ovum atau periode nuftah
adalah Periode awal kejadian manusia.Periode germinl ini berlangsung kira-kira
2 miggu pertama dari kehidupan,yakni sejak bertemunya sel sperma laki-laki
dengan sel telur(ovum) perempuan yang dinamakan dengan “pembuahan”
(fertilization).Saat inisel sperma pria bergabung dengan sel telur wanita (ovum)
dan menghasilkan satu bentuk sel baru,yang disebut zigot(zygoet).Zigot ini
kemudian membelah menjadi sel-sel yang bebentuk bulatan-bulatan kecil yang
disebut Blastokis.Setelah sekitar 3 hari,blaskotis mengandung sekitar 60
sel.Tetapi karena jumlahnya semakin banyak,maka sel-sel ini semakin
mengecil,sebab blaskotis tidakmingkin lebih besar dari zigotnya yang asli.Pada
st terjadi pembelahan,blaskotis mengapung dan berproses disepanjang Tuba
Valopi.
Blaskotis yang berisi cairan dengan cepat mengalami perubahan penting.Blskotis
ini juga dibedakan menjadi 2 lampisan,yaitu lampisan atas(ectoderm),lampisan
tengah (mesoderm),dan lampisan bawah(endoderm).Dari ectoderm berkembang
rambut,gigi,dan kuku;kulit lapisan luar (kulit ari)dan kelenjar-kelenjar
kulit;panca idra dan sisem saraf.Dari mesoderm atau lapisan tengah,berkembang
otot,tulng atau rangka,sistem pembuangan kotoran dan sistem peredaran
darah(circulatory system),serta kulit lapisan dalam.sementara itu,endoderm atau
lapisan bawah menjadi sistem pencernaan,hati,pankreas,kelenjar ludah dan
sistem pernafasan dalam waktu singkat plasenta,tali pusat dan kantong amniotik
juga akan terbentuk dari sel-sel blastokis.
Setelah beberapa hari kira-kira seminggu setelah konsepsi – blastokis menempel
di dinding rahim.Blastokis yang telah tertanam secara penuh di dinding rahim
inilah yang disebut Embrio,dan peristiwa ini sekaligus menandakan akhir dari
tahap germilnal dan permulaan tahap embrio.

b) Tahap Embrio(Emrbionic stage)


Tahap kedua dari periode prenatal disebut tahap embrio yang dalam psikolgi
islam disebut ‘alaqah yitu segumpaan darah yang semakin membeku.Tahap
embrio ii dimuli dri 2 minggu sampai 8 minggu setelah pembuahan,yang
ditandai dengan terjadinya banyak perubahan pada semua organ utama dan
sistem-sistem fisiologis.Tetapi karena ukuranya 1 inci,maka bagian-bagian tubuh
embrio itu belum sepenuhnya berbentuk tubuh orang dewasa.Meskipun
demikian,ia sudah terlihat jelas dan dapat dikenali sebagai manusia dalam
bentuk kecil.
Selama periode embrio ini,pertumbuhn terjadi dalm 2 pola yaitu Chepalocudal
dan Proxymodistal.Chepalocudal artinya proses pertumbuhan yang dimulai dari
kepala,kemudian terus kebagian bawah dan terus kebagian eko.Dengan kata lain
kepala,pembuluh darah dan jantung --bagian-bagian dan organ-organ tubuh yang
paling penting—lebih dahulu berkembang dari pada lengan,tangan,dan
kaki.Proxymodistal adalah proses pertumbuhan yang dulai dari bagin-bagin yang
paling dekat dengan pusat(tengah) badan,kemudian baru kebagian-bagian yang
jauh dari pusat badan(Harris,1983)
Dalam periode embrio ini,terdapat 3 sarana penting yang membantu
perkembangan struktur anak,yaitu:kantong amniotik berisi cairan
amniotik,plasenta,dan tali pusat.Kantong amniotik berisi cairan amniotik yaitu
suatu cairan bening tempat embrio mengapung dan berfungsi sebgai pelindung
dri goncangan fisik dan perubahan temperatur.Plasenta adalah suatu tempat pada
dinding peranakan dimana ibu mensuplai oksigen dan bahan-bahan makanan
kepada anak dan anak mengembalikan sisa buangan dari aliran darahnya.Jadi
plsenta merupakan penghubung antara ibu dan embrio.Tali pusat adalah suatu
saluran lembut yang terdiri atas pembuluh-pembuluh darah yang berfungsi
menghubungkan embrio dengan plasenta,tali pusat ini terdiri dari 3 pembuluh
darah besar;satu untuk menyediakan bahan makanan dan dua untuk membawa
sisa buangan ke tubuh ibu.Tali pusat ini tidak memiliki urat saraf,sehingga
apabila dipotong tidak akan menimbulkan rasa sakit baik.
Periode embrio ini juga ditandai dengan suatu perkembanganyang cepat pada
sistem saraf.Hal ini terlihat pada umur 6 minggu embrio telah dapat dikenali
sebagai manusia,tetapi kepala lebih besar dari pda bagian-bagian badan
lainya.Pada umur 8-9 minggu,perubahan janin semakin terlihat dengan
jelas.Muka,mulut,mata,dan telinga sudah mulai terbentuk dengan baik.Lengan
dan kaki lengkap dengan jari-jarinya sudak nampak.Pada tahap ini organ-rgan
seks juga mulai terbentuk.Demikian juga dengan otot dan tuang rawan mulai
berkembang.Organ dalam seperti isi perut,hati,prankeas,paru-paru dan ginjal
mulai terbentuk dan berfungsi secara sederhana.
c) Tahap Janin(fetus stage)
Periode ini isebut juga periode fetus,yang dalam pskologi islam disebut periode
mudhgah.Periode ini dimulai dari usia 9 minggu sampai lahir.Setelah sekitar 8
minggu kehamilan,embrio berkembang menjadi sel-sel tulang.Dalam tahap ini
ciri-ciri fisik orang dewasa secara lebih proporsional mulai terlihat.Kepala yang
tadinya lebih besar dari bagian badan lainya mulai mengecil.Kaki dan tangan
terus meningkat secara substansial.
Meurut psikologi Islam,setelah janin dalam kandungan itu genap berumur 4
bulan,yaitu ketika janin telah terbentuk sebagai manusia,maka ditiupkan ruh
kedalamnya.Bersamaan dengan peniupan ruh ke dalam janin tersebut,juga
ditentukan hukum-hukum perkembanganya ,seperti masaah-masalah ang
berhubungan dengan tingkah laku(sifat,karakter dan bakat),kekayaan batas usia
dan lain-lain.
Riset baru menunjukkan bahwa janin telah mampu mendengar tau merespon
terhadap stimuli dari lingkungan eksternal,terutama sekali terhadap pola-pola
suara.

2. Arti penting periode prenatal dalam perkembangan


Pembuahan sel telur wanita oleh sel sperma laki-laki dianggap masa yang
penting dan menentukan perkembangan manusia pada periode-periode
selanjutnya.Menurut Elizabeth B.Hurlock(1980) Ada 4 kondisi pentingterhadap
perkembangan individu di masa datang,yaitu :
a) Penentu Sifat Bawaan
Sifat bawaan ditentukan karena dalam masing-masing sel kelmin wanita maupun
pria terdapat 23 pasangan kromosom,dan setiap kromoso memiliki partikrl yang
dinamakan Gen,gen inilah yang dijadikan faktor penentu keturunan.Penentu sifat
bawaan mempengaruhi perkembangan selanjutnya dalam 2hal,yaitu
:pertama,faktor keturunan membatasi sejauh mana individu berkembang.Kalau
kondisi-kondisi sebeum dan setelah lahir menguntungkan ,dan kalau seseorang
mempunyai dorongan yang sangat kuat,ia dapat mengembangkan sifat-sifat fisik
dan mental yang diwarisinya sampai batas maximumnya,tetapi tidak dapat
berkembang lebih jauh lagi.kedua,bahwa sifat bawaan sepenuhnya merupakan
masalah kebetulan,tidak ada cara tertentu untuk mengendalikan jumlah
kromosom dari pihak ibu atau ayah yang akan diturunkan kepada anak.
b) Penentu jenis kelamin
Merupakan usur kedua yang terjadi pada saat terjadi pembuahan.Jenis kelamin
ini tergantung pada jenis spermatozoa yang menyatu dengan ovum.Ketika sel-sel
sperma pria bersatu dengan ovum tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk
mengubah jenis kelamin individu yang baru dibentuk.Jenis kelamin yang
terbentuk saat pembuahan mempengaruhi pola perilaku dan pola kepribadian
sepanjang hidup individu yang bersangkutan.
c) Penentu jumlah anak
Apakah kelahiran berbentuk tunggal atau kembar,meskipun pada umumnya
dalam peristiwa kelahiran hanya satu anak yang dilahirkan namun sering terjadi
juga kelhiran kembar.Kelahiran kembar ini terjadi apabilaovum yang telah
dibuahi (zygot)oleh satu spermatozoa membelah menjadi dua bagian atau lebih
yang terpisah selama tahap-tahap permulaan pembelahan sel.Apabila ini terjadi
akan menghasilkan kembar identik(uniovular)dua,tiga,atau lebih.Tetapi kalau
dua ovum atau lebih dibuahin secara bersamaan oleh spermtozoa yang berlainan
akan menghasilkan kembar non-identik(biovular atau fraternal)dua,tiga,atau
lebih.

d) Penentu Urutan anak


Umumnya orang tua memiliki sikap,perlakuan,dan memberikan peran yang
spesifik terhadap anak tunggal,anak tertua,anak menengah,atau anak
bungsu.Sikap perlakuan yang diberikan ortu sesuai dengan tempat dan urutanya
dalam keluarga ini mempunyi pengaruh terhadap kepribadian dan pembentukan
sikap anak ,baik terhadap diriya sendiri maupun terhadap orang lain serta
menjadi salah satu faktor yang mempengaruhinya dalam mengembangkan pola
perilaku tertentu.Misalnya anak pertama diharapkan sebagai contoh dan telah
diantara saudara-saudaranya yang lebih muda dan merawat mereka,hal ini akan
mempengruhi sikap anak pertama terhdap diri dan perilaku mereka sendiri
sepanjang rentang hidupnya.
Periode prenata ini merupakan saat dimana calon ortu menebtukan sikapnya
terhadap anak yang akan lahir.Sikap ini akan sangat mempengaruhi cara
bagaiman ortu memperlakukan atau mengasuh anaknya,terutama setelah tahun-
tahun pertama membentuk kepribadianya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangn prenatal
Dalam urin berikut ini akan dibahas beberapa faktor yang mempengaruhi
perkembngan prenatal diantaranya yaitu :
a. Kesehatan Ibu
Penyakit yang diderita ibu hamil akan dapat mempengaruhi perkembangan masa
prenatal.Apalagi penyakit tersebut bersifat kronis seperti kencig
manis,TBC,radang saluran kencing,penyakit kelamin dan sebagainya yang dapat
melahirkan bayi-bayi cacat.Demikian pula bila terjadi benturan ketika janin
berusia 3 bulan disertai dengan gangguan kesehatan pada ibu seperti
influenza,gondok,atau cacar yang dapat merusak perkembangan janin.Bahkan
apabila ibu hamil terserang penyakit campak rubella(campak jerman) dapat
dipastikan bahwa 60% kemungkinan bayi lahir dalam keadaan cacat.Sifilis juga
merupakan penyakit yang membahayakan pada masa prenatal,selain
mempengaruhi organogenesis sebagaimana diakibatkan oleh campak
rubella,sifilis juga merusak setelah organ terbentuk.Kerusakan meliputi luka
mata,yang dapat menyebabkan kebutaan,dan luka kulit.
Besarnya dampak kesehatan ibu-ibu hamil terhdap perkembangan masa prenatal
juga terlihat jelas ketika ibu menderita sindrom kehilangan kekebalan tubuh
yang lebih dikenal dengan AIDS(Acquired Immune Deviciency Syndrom) yaitu
merupakan penyakit utama yang menyebabkan kematian peringkat kedelapan di
klangan anak-anak dari usia 1 hingga 4 tahun pada tahun 1989.Setidak-tidaknya
ada 3 cara ibu yang menderita AIDS menginfeksi anaknya : (1)Selama hamil
melalui ari-ari
(2)Selama melahirkan melalui darah atau cairan ibu
(3)Setelah melahirkan melalui air susu.
b. Gizi Ibu
Janin yang sedang berkembang sangat tergantung pada gizi ibunya yang
diperoleh dari darah ibunya.Oleh sebab itu,makanan ibu yang sedang hamil
harus mengandung protein,lemak,vitamin,dan karbonhidrat untuk menjaga
kesehatan bayi.Anak-anak yang dilahirkan ibu yang kekurangan gizi cenderung
cacat.
c. Pemakaian bahan-bahan kimia oleh Ibu
Bahan-bahan kimia yang ada dalam obat-obatan atau makanan yng ada dalam
peredaran darah ibu yang tengah hamil,dapat mempengaruhi perkembangan
janin.Bahan-bahan kimia tersebut menimbulkan efek samping baik pada fisik
maupun pada sistem kimiawi dalam tubuh janin yang dinamakan
metabolite.Thalidomide merupakan salah satu obat yang mengandung bahan
kimia,yang pada orang dewasa tidak berdampak buruk.Tetapi pada embrio,obat
penenang itu sangat merusak yang berdampak menghambat pertumbuhan lenga
dan kaki janin(Seiffert&Hoffnung,1994)
Minuman yang mengandung alkoho jug merupakn zat lain yang dapat
mempengaruhi perkembangan prenatal,yang apabila dikonsumsi oleh ibu-ibu
hamil bisa mengakibatkan bayi menderita kelainin jantung,kepala
kecil,penyimpangan pada tulang,serta memperlihatkan perlambatan
perkembangan mental dan motorik(Barr,et.all,1990).Menghisap rokok bagi
wanita hamil juga berdampak negatif bagi perkembangan masa
prenatal,kelahiran dan perkembangan pascalahir.Merokok selama kelhiran dapat
menyebbkan pengurangan bobot kehamilan,menimbulkan reaksi aborsi
spontan,kelahiran prematur,dan sindrom kemtian bayi yang tinggi selama proses
kelahiran,serta penyesuaian diri yang buruk.
d. Keadaan dan ketegangan emosi Ibu
Emosional ibu selama kehamilan juga berpengaruh besar terhadap
perkembangan masa prenatal,karena apabila saat hamil ibu-ibu hamil mengalami
ketakutan,kecemasan,stres dan emosi lain yang mendalam maka akan terjadi
perubahan psikologis antara lain meningkatnya pernafasan dan sekresi oleh
kelenjar.Ibu yang mengalami stres berat dan berkepanjangan sebelum atau
selama kehamilan kemungkinan besar mengalami kesulitan medis dalam
melahirkan bayi yang abnormal dibandingkan dengan ibu yang relatif tenang
dan aman.Goncangan emosi diasosiakan dengan kejadian aborsi
spontan,kesulitan proses lahir,kelahiran prematur,dan penurunan berat,kesulitan
pernafasan dari bayi yang baru lahir,dan cacat fisik.

B. KELAHIRAN (NATAL)
Studi psikologis tentang kelahiran relatif baru dibandingkan dengan studi
medis.Studi psikologis tentang kelahiran lebih difokuskan bagaimana
pengruhnya terhadap perkembangan pascalahir,kondisi lingkungan pralahir dan
sejumlah faktor lain yang mempengruhi perkembangan sebelum dan sesudah
lahir.Perhatian juga difokuskan pda prematuritas dan pengaruhnya secara
langsung dan jangka panjangterhadap perkembangan anak(Hurlock,1987)
 Tahap-tahap perkembangan
Proses kelahiran dibagi menjadi 3 tahap pertama,Terjadi kontraksi peranakan
yang berlangsung selama 15 hingga 20 menit pada permulaan dan berakhir
hingga 1menit.Kontraksi ini menyebabkan leher rahimterentang dan terbuka
ketika tahap pertama berlangsung,kontraksi semakin sering,yang terjadi setiap 2
sampai 5 menit.Intensitasnya juga meningkat.Pada akhir tahap pertama
kelahiran,kontraksi memperlebar leher rahim hingga terbuka sekitar 4
incisehingga bayi dapat mempergerak dari peranakan kesaluran kelahiran.
Tahap kedua,dimulai ketika kepala bayi bergerak melalui leher rahim dan
saluran kelahiran.Tahap ini berakhir ketika bayi benr-benar keluar dari tubuh
ibu.Tahap ini berlangsung kira-kira1,5 jam.Pada setiap kontraksi,ibu mengalami
kesakitan untuk mendorong bayi keluar dari tubuhnya.Pada waktu kepala bayi
keluar dari tubuh ibu ,kontraksi terjadi hampir setiap menit dan berlangsung
kira-kira 1 menit.
Tahap ketiga,setelah bayi lahir.Pada waktu ini ari-ari,tali pusar dan selaput lain
dilepaskan dan dibuang,yng berlangsung hanya beberapa menit saja.

 Pengaruh Kelahiran Terhadap Perkembangan Pascalahir


1) Jenis kelahiran
Merupakan kondisi pertama yang menyebabkan kelahiran dapat mempengaruhi
perkembangan pascalahir.Secara umum kelahiran dapat dibedakan atas 5 jenis
yaitu:Kelahiran normal atau spontan,Kelahiran dengan peralatan,Kelahiran
langsung,Kelahira melintang,dan Kelhiran melalui pembedahan
sesar(Santrock,1995)
2) Pengobatan Ibu
Belakangan ini ibu-ibu yang akan melahirkan sering menggunakan obat-obatan
dengan maksud menghilangkan rasa sakit dan untuk mempercepat proses
melahirkan.Bayi yang lahir dari ibu yang memakam oxytocin (obat untuk
mempercepat proses melahirkan),cenderung mengalami penyakit
kuning(jaundice).
3) Lingkungan pralahir
Setiap kondisi dalam lingkungan pralahir yang menghalangi perkembangan
janin sesuai dengan tabel waktu yang normal,akan lebih banyak dengan kondisi
lingkungan yang nyaman.Dalam suatu infestigasi dilaporkan bahwa bayi berusia
2tahun yang sebelum lahir terkena timbal mesin yang tinggi dalam darah tali
pusat,mengalami kemunduran dala waktu test perkembangan
mental(Bellingger,et all.,1987)
4) Jangka waktu periode kehamilan
Walaupun lama rata-rata periode kehamilan 38 minggu atau 288 hari,amun
hanya sedikit bayi yang lahir tepat pada waktunya.Adakalanya bayi lahir lebih
awal dan adakalanya lahir lebih lambat dari waktu rata-rata tersebut.Bayi yang
lahir lebih awal dari waktu rata-rata disebut “Prematur” sedangkan bayi yang
lahir lebih lambat disebut “Postmatur”.
Bayi disebut Postmatur bila lebih lambat 2minggu atau lebih,sedangkn bayi
disebut prematur bila ia lahir lebih cepat 2miggu atau lebih dari waktu rata-rata.
5) Perawatan pascalahir
Perkebangan pasca lahir adalah jenis perawatan yang diperoleh bayi pada hari-
hari pertama kelahirannya. Kelahiran merupakan suatu “drama penjebolan”
secara drastis, yang disertai dengan perubahan-perubaha kondisi (psiko fisik)
secara pradikal revolusioner ari seorang bayi. Hal ini dapat dipahami, sebab
setelah 9 bulan berada dalam lingkugan rahim yang relatif stabil dan aan, jani
tiba-tiba berada dalam lingkungan, yang bukan saja berda tapi juga bervariasi.
Karena perbedan yang besar antara lingkungan intern(rahim) dan lingkunngan
ekstern ini, mengharuskan bayi untuk melakukan penyesuaian diri secara radikal
dan cepat. Keharusan bayi yang baru lahir melkukan penyesuaian dari yang
tidak disertai dengan kemampuan untuk melakukannya –karena ndisiya yang
lemah- menuntut perhatian dan perawatan dari orang tua, terutm pada ibunya,
Perhtin dan perawatan dari ibunya terhadap bayi yang baru dilahirkan mempunyi
pengaruh positif terhadap perkembangannya. Bayi mendapatkan perhatian dan
perwatan dengan baik cenderung lebih waspada, lebih aktif dan leih tanggap
terhadap rangsangan luardibandingkan dengan bayi yang kurang mendapatkan
perawatan.
Disamping itu, meode lain yang dilakukan oleh beberapa rumah sakit terhadap
kelahiran adalah dengan meletakkan bayi ang aru lahir di atas perut ibu segera
setelah lahir, dengan meyakinkan bahwa penempaan itu akan mendorong ikatan
emosional ibu-bayi (Santrock, 1995).
6) Sikap Orang Tua
Bila sikap orang tua menguntungkan hubungn orang tua dan anak akan baik,.
Hubungan baik oramg tua-anak ini akan dapat membantu bayi dalam
mennyauaikan diri dengan lingkugabaru yang dialami setelah lahir. Misalnya,
seorang ibu yang tenang sebelum dan selama melahirkan, akan menghasilkan
leih banyak air susu dibandigkan dengan ju yang tegang. Kondisi ini sabat
membantu byi dalam penyesuaian diri dengan cara makan baru yang harus
dilakukan sesudah melahirkannya, yaitu selalu mempersiapkan putting susu ibu.
Sebalinya, orang tua yang memiliki sikap yang kurang menguntungkan,
menyebabkan huungan ibu-bayi lebih emosional. Kondisi ini memperambat
penyesuaian bayi dalam hal makan dan tidur serta memperkuat tangisan yang
pada gilirannya akan mengganggu penyesuaian yang harus dilakukan bayi
dengan lingkungan pascalahir.

C. MASA BAYI

1. Periodesasi Bayi
Masa bayi adalah masa yang berlangsung 2 tahun pertama setelah periode bayi
yang beru umur 2 minggu. Memang sering orang menyebutkan bahwa masa bayi
adalah setelah lahir dan masa dimana bayi tidak berdaya, tetapi anggapan
tersebut adalah salah, karena masa bayi setelah lahir dari kandungan adalah
masa prenatal.tetapi tidak berarti bahwa keadaan bayi tidak berdaya atau
pascanatal secara cepat menghilang dan bayi menjadi mandiri, melainkan setiap
hari, setiap minggu, dan setiap bulan bayi semakin mampu mandiri sehingga saat
masa bayi berakhir maka seorang manusia akan berbeda dengan awal masa bayi.
Sedangkan bayi dan anak kecil itu berbeda, kalau anak kecil adalah bayi yang
berhasil menguasai tubuhnya sehingga relative mandiri.
 Ciri-ciri masa bayi :
1) Masa bayi adalah masa dasar yang sesungguhnya, karena pada masa bayi
adalah dasar. Periode kehidupan yang sesungguhnya karena pada saat ini banyak
pola perilaku sikap dan pola ekspresi emosi terbentuk.
2) Masa bayi adalah masa dimana pertumbuhan dan perubahan berjalan pesat.
Bayi berkembang pesat, baik berbentuk fisik maupun psikologis, perubahan
tidak hanya terjadi dalam penampilan, tetapi juga kemampuan. Contohnya
perubahan dalam bentuk tubuh.
3) Masa bayi adalah masa berkurangnya ketergantungan. jika bayi sudah bias
melakukan kegiatan seperti duduk, berdiri, dan berjalan sendiri. Maka bayi tidak
mau orang lain membantunya, karena jika di larang maka bayi akan protes
dengan berbentuk ledakan amarah dan tangisan dan segera berkembang menjadi
negativism, yaitu cirri yang menobjol pada akhir masa bayi.
4) Masa bayi adalah mas meningkatnya individualitas. Individualitas pada bayi
tampak dalam penampilan dan pola-pola perilaku. Contohnya kemandirian bayi
dalam mengembangkan hal-hal yang sesuai minat dan kemampuannya.
5) Masa bayi adalah pembawaan sosialisasi. Salah satu cara yaitu dengan A
perilaku akrab, bayi lebih dapat mengandalkan perilaku dan kasih sayang ibu.
6) Masa bayi adalah masa yang menarik. Menurut orang dewasa bayi
mempunyai perbandingan tubuh yang tidak wajar, tetapi bayi lebih menarik
justru dengan tubuh / bentuk fisiknya yang mungil.
7) Bayi merupakan permulaan kreativitas. Dalam bulan-bulanpertama bayi
belajar mengambangkan minat dan sikap yang merupakan dasar bagi
kekreativitasnya dan penyesuaian diri dengan pola-pola yang di letakkan oleh
orang lainterutama orang tua.
8) Masa bayi adalah masa berbahaya. Bahaya dapat merupakan bahaya fisik dan
psikologis. Bahwa fisik yang paling parah adalah penyakit dan kecelakaan.
Karena pola perilaku minat dan sikap terbentuk selama masa bayi. Sedangkan
bahaya psikologis adalah bahaya psikologis dapat terwujud kalau di letakkan
dasar-dasar yang buruk pada masa bayi.
 Perkembangan Masa Bayi
Perkembangan yang dialami bayi tidak hanya perkembangan fisik, tetapi juga
perkembangan bicara maupun perkembangan sosialisasi.
a) Perkembangan Fisik
Pola perkembangan fisik selama masa bayiadalah :
 Berat. Pada usia empat bulan, barat bayi biasanya bertambah dua kali lipat.
Pada usia satu tahun berat bayi rata-rata tiga kali berat pada waktu lahir atau
sekitar 21 pon. Pada usia dua tahun rata-rata berat bayi Amerika adalah 25 pon.
Peningkatan berat tubuh selama bayi terutama di sebabkan karena peningkatan
jaringan lemak.
 Tinggi. Pada usia empat bulan, ukuran bayi antara 23 dan 24 inci, pada usia
satu tahun antara 38 dan 30 inci, dan usia dua tahun antara 32 dan 34 inci.
 Proporsi Fisik. Pertumbuhan kepala berkurang dalam masa bayi, sedangkan
pertumbuhan badan dan tungkai meningkat. Jadi bayi berangsur-angsur menjadi
kurang berat di atas dan tampak lebih ramping dan tidak gempal pada masa akhir
bayi.
 Tulang. Jumlah tulang meningkat selama masa bayi. Pengerasan tulang
dimulai pada awal tahun pertama, tetapi belum sampai masa puber. Ubun-ubun
atau daerah otak yang lunak 50% bayi yang lahir telah tertutup pada usia delapan
belas bulan, dan pada hamper semua bayi telah tertutup pada dua tahun.
 Otot dan Lemak. Urat otot sudah ada pada waktu lahir tetapi dalam bentuk
yang belum berkembang. Urat otot itu berkembang lambat selama masa bayi dan
lemah. Sebaiknya, jaringan lemak berkembang pest, sebagian karena tingginya
kadar lemak di dalam susu yang merupakan bahan makanan pokok bagi bayi.
 Bangun Tubuh. Selama tahun kedua, ketika proporsi tubuh berubah, bayi
mulai memperlihatkan kecenderugan bangun tubuh yang karakteristik. Tiga
bentuk bangun tubuh yang paling lazim adalah ektomorfik, yang cenderung
panjangdan langsing, endomorfik, yang cemnderung bulat dan gemuk, dan
mesomorfik, yang cenderung berat, keras, dan empat persegi panjang.
 Gigi. Rata-rata bayi mempunyai empat hingga enam gigi susu pada usia satu
tahun dan 16 pada usia dua tahu. Gigi yang pertama muncul adalah gigi depan,
sedangkan yang perakhir adalah geraham. Empat gigi susu yang terakhir
biasanya baru muncul pada tahun pertama masa kanak-kanak.
 Susunan saraf. Pada waktu lahir, berat otak adalah seperdelapan berat total
bayi. Pertambahan berat otak pada usia dua tahun. Otak kecil yang berperan
penting untuk menjaga keseimbangan dan pengendalian tubuh, bertambahnua
beratnya tiga kali lipat satu tahun sesudah kelahiran. Ini berlaku juga unyuk otak
besar. Sel-sel yang belum matang, yang ada pada waktu kelahiran, terus
berkembang sesudah kelahiran tetapi secara relative beberapa sel baru terbentuk.
 Perkembangan Organ Perasa. Pada usia tiga bulan, otot mata sudah cukup
terkoordinasi untuk memungkinkan bayi melihat sesuatu secara jelas dan nyata
dan sel-sel kerucut sudah berkembang baik untuk memungkinkanmereka melihat
warna. Pendengaran berkembang pesat selama wakti ini. Penciuman dan
pengecapan yang berkembang baik pada waktu kelahiran, terus membaik selama
masa bayi. Bayi sangat tanggap terhadap semua semua perangsang kulitkarena
tekstur kulit mereka yang tipis dan karena semua organ perasa yang
berhubungan dengan peraba, tekanan, rasa sakit, dan suhu berkembang dengan
baik.
b) Perkembangan Bicara
Berbiara merupakan sarana berkomunikasi. Untuk dapat berkomunikasi dengan
orang lain, individu harus dapat menguasai dua fungsi yang berbeda yaitu
kemampuan menangkap maksud yang dikomunikasikan dan kemampuan untuk
berkomunikasi dengan orang lain.
Ras senang, marah dan takut sudah dapat dimengerti sejak usia tiga bulan
sampai bayi berusia delapan belas bulan, kata-kata harus diperkuat dengan
isyarat seperti menunjuk benda. Pada usia dua tahun rata-rata bayi harus cukup
dapat mengerti dan bereaksi terhadap dua dari enam perintah sederhana.
 Pada usia 4-5 bulan : melihat, tetapi tidak dapat menyentuh.
 Pada usia 5-8 bulan : gerakan menyendok.
 Pada usia 8-9 bulan : memegang benda di masing-masing tangan.
 Pada usia 9 bulan : gerakan menjepit disempurnakan.
c) Perkembangan Sosialisasi
Reaksi sosialisasi kepada orang dewasa berbeda dengan reaksi social kepada
bayi-bayi lain.
Reaksi kepada orang dewasa dapat di gambarkan sebagai berikut :
 Dua sampai tiga bulan
Bayi dapat membedakan manusia Dari benda mati dan bayi tahu bahwa
manusialah yang memenuhi krbutuhan-krbutuhannya. Bayi puas bila berada
bersama manusia dan tidak senang kalau ditinggal sendiri. Pada usia ini bayi
tidak menunjukkan rasa lebih menyukai satu orang tertentu dibandingkan
dengan orang-orang lain.
 Empat sampai lima bulan
Bayi ingin di gendong oleh siapa saja yang mendekatinya. Ia member reaksi
yang berbeda kepada wajah-wajah yang tersenyum, suara-suara yang ramah, dan
suara-suara yang menunjukkan amarah.
 Enam sampai tujuh bulan
Bayi membedakan “teman” dan “orang asing” dengan tersenyum pada yang
pertama dan memperlihatkan ketakutan akan kehadiran pada orang yang
terakhir. Ini merupakan awal dari “masa lalu” juga merupakan permulaan dari
“masa terikat” yaitu masa dimana bayi menunjukkan keterikatan yang kuat
kepada ibunya atau ibu pengganti dan kekurangannya keramah tamahan.
 Delapan sampai Sembilan bulan
Bayi mencoba meniru kata-kata, isyarat, dan gerakan-gerakan sederhana dari
orang lain.
 Dua belas bulan
Bayi bereaksi terhadaplarangan “jangan-jangan”
 Enam belas sampai delapan belas bulan
Negativisme, dalam bentuk keras kepala tidak mau mengikuti permintaan atau
perintah dari orang dewasa di tunjukkan dengan perilaku menarik diri atau
ledakan amarah.
 Dua puluh dua sampai dua puluh empat bulan
Bayi bekerja sama dalam sejumlah keinginan rutin seperti berpakaian, makan,
dan mandi.
Reaksi sosial kepada bayi-bayi lain di gambarkan sebagai berikut :
 Empat sampai lima bulan
Bayi mencoba menarik perhatian bayi atau anak lain dengan melambungkan
badan ke atas dan ke bawah, menendang, tertawa, atau bermain dengan ludah.
 Enam sampai tujuh bulan
Bayi tersenyun kepada bayi lain dan menunjukkan minat terhadap tangisannya.
 Sembilan sampai tiga belas bulan
Bayi mencoba meremasi pakaian dan rambut bayi-bayi lain, meniru perilaku dan
suara mereka dan bekerja sama dlam menggunakan mainan, meskipunia
cenderung bingung bila bayi lain mengambil salah satu mainannya.
 Tiga belas sampai delapan belas bulan
Berebut mainan sekarang berkurang dan bayi lebih bekerja sama dalam bermain
dan mau berbagi rasa.
 Delapan belas sampai dua puluh empat bulan
Bayi lebih berminat bermain dengan bayi lain dan menggunakan bahan-bahan
permainan untuk membentuk hubungan sosial dengannya.

D. MASA PRASEKOLAH
Anak usia prasekolah (Taman Kanak-Kanak/ Play Group)merupakan masa
perkembangan individu sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran
tentang dirinya sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air
(toilet training), dan mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya
(mencelakakan dirinya).

 Perkembangan fisik
Proporsi tubuhnya berubah secara dramatis, seperti pada usia tiga tahun, rata-
rata tingginya sekitar 80- 90 cm, dan beratnya sekitar 10- 13 kg; sedangkan pada
usia lima tahun, tingginya sudah mencapai 100- 110 cm.
Tulang kakinya tumbuh dengan cepat, namun pertumbuhan tengkoraknya tidak
secepat usia sebelumnya. Pertumbuhan tulang- tulangnya semakin besar dan
kuat. Pertumbuhan giginya semakin lengkap/komplit sehingga dia sudah
menyenangi makanan padat, seperti daging, sayuran, buah- buahan, dan kacang-
kacangan.
Pertumbuhan otaknya pada usia lima tahun sudah mencapai 75 % dari ukuran
orang dewasa, dan 90 % pada usia enam tahun. Pada usia ini juga terjadinya
pertumbuhan “myelinization” (lapisan urat syaraf dalam otak yang terdiri dari
bahan penyekat berwarna putih, yaitu myelin) secara sempurna. Lapisan urat
syaraf ini membantu transmisi impul- impul syaraf secara cepat, yang
memungkinkan pengontrolan terhadap kegiatan- kegiatan motorik lebih seksama
dan efisien.
Di samping itu pada usia ini banyak juga perubahan fisiologis lainnya, seperti
(1) pernapasan menjadi lebih lambat dan mendalam, dan (2) denyut jantung
lebih lambat dan menetap.
Untuk perkembangan fisik anak sangat diperlukan gizi yang cukup, baik protein
(untuk membangun sel- sel tubuh), vitamin dan mineral (untuk pertumbuhan
struktur tubuh), dan carbohydrat (untuk energi).

 Perkembangan intelektual
Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berada pada periode
preoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi
mental secara logis. Yang dimaksud dengan operasi adalah kegiatan- kegiatan
yang diselesaikan secara mental bukan fisik. Periode ini ditandai dengan
berkembangnya representasional, atau “ symbolic function”, yaitu kemampuan
menggunakan sesuatu untuk mempresentasikan (mewakili) sesuatu yang lain
dengan menggunakan symbol (kata- kata, gesture/ bahasa gerak, dan benda).
Dapat juga dikatakan sebagai “semiotic function” , kemampuan untuk
menggunakan symbol- symbol (bahasa, gambar, tanda/ isyarat, benda, gesture,
atau peristiwa) untuk melambangkan suatu kegiatan, benda yang nyata, atau
peristiwa. Melalui kemampuan tersebut anak mampu berimajinasi atau
berfantasi tentang berbagai hal. Dia dapat menggunakan kata- kata, peristiwa
dan benda untuk melambangkan yang lainnya.

 Perkembangan emosional
Pada usia 4 tahun, anak sudah mulai menyadari akunya, bahwa akunya (dirinya)
berbeda dengan bukan Aku (orang lain atau benda). Kesadaran ini diperoleh dari
pengalamannya, bahwa tidak setiap keinginannya dipenuhi oleh orang lain atau
benda lain. Dia menyadari bahwa keinginannya berhadapan dengan keinginan
orang lain, sehingga orang lain tidak selamanya memenuhi keinginannya.
Bersamaan dengan itu, berkembang pula perasaan harga diri yang menuntut
pengakuan dari lingkungannya. Jika lingkungannya (terutama orang tuanya)
tidak mengakui harga diri anak, seperti memperlakukan anak secara keras, atau
kurang menyayanginya, maka pada diri anak akan berkembang sikap- sikap;a)
keras kepala/menentang, atau b) menyerah menjadi penurut yang diliputi rasa
harga dirinya kurang dengan sifat pemalu. (Karso, dkk.(ed),1982; Syamsu Yusuf
LN,2000).

 Perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa anak usia prasekolah, dapat diklasifikasikan ke dalam dua
tahap, sebagai berikut :
a. Usia 2,0- 2,6 tahun bercirikan :
1) Anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna.
2) Anak sudah mampu memahami tentang perbandingan, misalnya burung pipit
lebih kecil dari burung perkutut, anjing lebih besar dari kucing.
3) Anak banyak menanyakan nama dan tempat:apa, di mana dan dari mana.
4) Anak sudah banyak menggunakan kata- kata yang berawalan dan yang
berakhiran.
b. Usia 2,6- 6,0 tahun bercirikan :
1) Anak sudah dapat menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya.
2) Tingkat berpikir anak sudah lebih maju, anak banyak menanyakan soal waktu
sebab- akibat melalui pertanyaan- pertanyaan: kapan, mengapa, dan bagaimana.

 Perkembangan sosial
Pada usia prasekolah (terutama mulai usia 4 tahun), perkembangan sosial anak
sudah tampak jelas, karena mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman
sebayanya. Tanda- tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah :
a. Anak mulai mengetahui aturan- aturan, baik di lingkungan keluarga maupun
dalam lingkungan bermain.
b. Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan.
c. Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.
d. Anak mulai dapat bermain bersama anak- anak lain, atau teman sebaya (peer
group).
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh iklim sosio- psikologis
keluarganya.
 Perkembangan bermain
Di usia ini anak lebih suka bermain sebagai kebebasan batin dalam memperoleh
kesenangan. Banyak keuntungan bermain bagi anak secara psikologis dan
pedagogis, serta terdapat nilai- nilai yang sangat berharga bagi anak, di
antaranya: a) anak memperoleh perasaan senang, puas, bangga, atau peredaan
ketegangan, b)mengembangkan sikap percaya diri, tanggung jawab dan bekerja
sama (kooperatif). c) mengembangkan daya fantasi, dan kreatifitas ,d) mengenal
aturan kelompok, e) memupuk rasa toleransi dan sportifitas . (Syamsu Yusuf,
2000).

 Perkembangan kepribadian
Pada masa ini, berkembang kesadaran dan kemampuan untuk memenuhi
tuntutan dan tanggung jawab (Ambron, 1981). Diharapkan orang tua bersikap
bijaksana, penuh kasih sayang, tidak bersikap keras dalam menghadapi perilaku
anak, agar tidak berkembang sikap anak membandel yang kurang terkontrol.

 Perkembangan moral
Pada masa ini, anak sudah memiliki dasar tentang sikap moralitas terhadap
kelompok sosialnya (orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui pengalaman
berinteraksi dengan orang lain itu anak belajar memahami tentang sesuatu
kegiatan atau perilaku mana yang baik/ boleh/ diterima/ disetujui atau buruk/
tidak boleh/ tidak diterima/ tidak disetujui. Karenanya orang tua hendaklah bisa
mengajarkan bagaimana bertingkah laku yang terpuji, seperti mencuci tangan
sebelum makan, membaca basmalah sebelum makan dan sebagainya.

 Perkembangan kesadaran beragama


Kesadaran beragama pada usia ini ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Sikap keagamaannya bersifat reseptif (menerima) meskipun banyak bertanya.
b. Pandangan keTuhanannya bersifat anthropormorph (dipersonifikasikan).
c. Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum mendalam) meskipun
mereka telah melakukan atau berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ritual.
d. Hal keTuhanan dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan
pribadinya) sesuai dengan taraf berpikirnya yang masih bersifat egosentrik
(memandang segala sesuatu dari sudut dirinya) (Abin Syamsuddin
Makmum,1996 ; Syamsu Yusuf LN,2000).

E. MASA ANAK SEKOLAH


 Karakteristik masa anak-anak
Anak Menyayangi Suatu Proses :
Anak-anak tidak mempunyai tilikan dan pengalaman yang memungkinkan
mereka dapat menerima dengan sepenuh hati tujuan-tujuan yang dirumuskan
oleh orang dewasa.kalau anak bertanya tentang sesuatu, yang penting bukanlah
jawabannya yang menjadi tujuan, melainkan proses berbicaranya itu sendiri atau
bertanyanya itu sendiri. Itulah sebvabnya anak selalu bertanya sekalipun orang
dewasa sudah memberikan jawabannya. Jadi, anak-anak tertarik akan prosesnya.
Kalau ia berbicara, yang sangat menarik beginya dan yang menjadi tujuannya
adalah kegiatan bicaranya itu sendiri.

Kebutuhan Dasar Anak-Anak


Kebutuhan tentang tujuan-tujuan yang dekat. Bagi anak kecil, “hari ini” dan
“besok” lebih penting dari pada “minggu yang akan datang”. Hal ini di sebabkan
oleh keadaan anak kecil belum memiliki konsep waktu yang jelas. Anak cepat
merasa lelah, karena itu guru harus pandai mengalihkan perhatian mereka dari
obyek atau pelajaran yang satu kepada yang lain.dalam mengerjkan sesuatu ia
ingin segera mencapai tujuannya. Kalau membuat suatu benda, misalnyan
hendaknya segera di selesaikan.
Kebutuhan akan sukses. Perasaan berhasil atau gagal tak perlu berasal dari suatu
ukuran mutlak dari sesuatu pekerjaannya.apa yang merupakan sukses bagi
seseorang, mungkin merupakan kegagalan bagi orang lain. Percobaan-percobaan
membuktikan bahwa kecocokan tujuan anak-anak bergantung pada jenis
pengalaman yang telah di milikinya, pada konsep tentang dirinya, dan pada
harapan-harapan yang di ajarkan pleh subkulturalnya. Para siswa yang berhasil
cenderung memiliki aspirasi yang sejalan dengan pekerjaan yang lampau. Apa
yang menjadi aspirasi anak-anak bergantung pada apa yang menurut persepsinya
dapat di capainya. Apabila anak-anak sering mengalami kegagalan mereka akan
kehilangan harga dirinya, dan hal ini berkecenderungan bahwa mereka akan
menetapkan tingkat aspirasinya di bawah kemampuan mereka yang
sesungguhnya. Keadaan ini menunjukkan bahwa anak-anak membutuhkan
keberhasilanikeberhasilan tertentu dalam usahanya agar harga dirinya tidak
hilang dan aspirasinya tetap tinggi.
Sedapat mungkin guru hendaknya bersifat konsisten dalam perasaannya,
sikapnya yang berhubungan dengan hal-hal yang rutin, di siplin, dana
pendekatan terhadap siswa. Mengapa konsistensi sikap dan tindakan guru itu
penting ? hal ini adalah karena :
a) Konsistensi cenderung mengurangi rasa cemas dan kekhawatiran para siswa.
Adanya rasa cemas, terutama yang berhubungan dengan perwujudan tujuan-
tujuan, akan mempermudah belajar, akan tetapi, jika terlalu banyak kecemasan
yang tidak berhubungan dengan tujuan, hal ini akan bertentangan dengan belajar
yang efisien.
b) Konsistensi yang membenarkan serta tidak membenarkan tindakan tertentu
akan memberikan gambaran yang jelas bagi para siswa tentang tujuan-tujuan
yang akan di capai. Para siswa berusaha mendapat pembenaran dari orang lain,
termasuk dari guru-gurunya.
c) Kebiasaan-kebiaaan yang di sadari oleh hal-hal yang bersifat kognitif dan di
perkuat dengan model yang konsisten akan mempermudah penguasaan
kebiasaan-kebiasaan tersebut.
 Anak Sekolah Dasar
Hal-hal yang perlu mendapat perhatian antara lain adalah pendekatan yang
radikal dalam pendidikan anak, Walden Two, masalah-masalah anak sekolah
dalam kaityannya dengan factor orangtua, dan pengaruh permulaan duduk di
kelas satu di sekolah dasar. Pokok-pokok itu perlu kita telaah secara garis
besarnya.
Pendekatan RadikalLembaga Pendidikan Anak.konsep ini di kembangkan oleh
Alexander S. Neil denga sekolahnya yang di sebutnya summerhill. Ide ini
berdasarkan pandangan bahwa hakekat manusia itu “baik” dan “Bijaksana”
(goodness and wise).anak harus di bebaskan dari ikatan-ikatan dan hambatan-
hambatan serta disiplin yang di atur oleh orang sewasa. Anak harus berkembang
sebebas mungkin sesuai dengan minat dan pola alami perkembangan manusia.
Biarkanmeeka mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas
perbuatannya sendiri. Dengan demikian kemampuan yang masih terpendam
dapat berkembang, anak-anak aktif dan akan merasa bahagia jika mereka bekerja
secara bebas, mereka akan menjadi sehat, menghilangkan atau terhindar dari
kecemasan dan rasa benci. Kita tidak perlu membebani anak dengan tugas
membaca nuku sehingga menghilangkanwaktu dan energinya karena buku tidak
akan membentuk karakter, kecintaan, dan kebebasan. Menurut pendapatnya
dengan cara tersebut pendidikan betul-betul akan mempersiapkan anak bagi
kehidupan kelak.ekspresi anak harus di kembangkan. Biarkan anak menentukan
sendiri apa yang hendak di pelajari.dia mnunjukkan contoh bahwa kendatipun
belajar itu penting, belajar bukanlah segalanya atau untuk semua orang. Banyak
bukti bahwa seseorang gagal mempelajari buku, namun dia lulus dalam ujian
dan kemudian menjadi orang ternama di masyrakat.
Masalah anak sekolah dalam kaitannya dengan orangtua. Jack Rouman
mengemukakan bahwa terdapat kaitan yang erat antara keadaan masyarakat,
khususnya yang memungkinkan para ibu bekerja di luar rumah, dengan
timbulnya masalah-masalah di kalangan anak-anak. Dia telah mengadakan
serangkaian riset tentang permasalahan itu dengan cara studi kasus dan sejumlah
wawancara terhadap 4000 kasus yang dibagi ke dalam empat kategori yakni :
1. Para ibu yang bekerja secara penuh di luar rumah,
2. Yang tinggal bersama orantua atau pembantu,
3. Keluarga dimana orang dewasa sering tidak ada di tempat, dan
4. Keluarga yang tidak punya factor-faktor seperti di atas (kelompok control).

Dari studi itu diambil sejumlah kesimpulan sebagai berikut :


a) Dari ketiga kelompok tersebut di temukan bahwa separo dari anak-anak
mereka memerlikan pelayanan bimbingan sekolah karena adanya gangguan fisik
dan mental.
b) Kebanyakan anak yang ibunya bekerja jauh dari rumah tidak menghadapi
masalah di sekolah, namun kita harus sensitive terhadap anak-anak yang lebih
muda usianya.
c) Masalah ibu yang bekerja tidak sebesar masalah yang dihadapi oleh anak-
anak yang ada pada keluarga yang berantakan. Kesulitan mereka di sebabkan
oleh keluarga yang merupakan satu keluarga yang pecah.
d) Anak-anak perempuan hanya seperempatnya yamg membutuhkan pelayanan
bimbingan. Perbedaan antara tiga kelompok dan kelompok control hanya sedikit.
Anak-anak perempuan hanya terpengaruh oleh perubahan yang tidak teratur di
dalam keluarga.
e) Terdapat korelasi yang tinggi antara usia dan seks dengan pertumbuhan
perkembangan. Anak yang lebih muda lebih besar kebergantungannya di
banding dengan anak-anak yang sudah masuk di sekolah dasar. Mereka
membutuhkan hubungan dengan orangtuanya untuk mendapat bimbingan.
f) Anak-anak membutuhkan bimbingan atau bantuan yang sangat besar guna
melakukan penyesuaian diri terhadap orang tua atau pembantu rumah tangga.
g) Lingkungan keluarga yang tidak teratur merupakan factor yang kuat
pengaruhnya kepada anak di sekolah.
h) Orangtua dan guru perlu menyadari apa yang mungkin terjadi bila anak
berada dalam keluarga demikian, setidak-tidaknya berusaha mencegah atau
mengurangi kesulitan-kesulitan yang di hadapi oleh anak-anak yang
bersangkutan.
Pengaruh mulai bersekolah. Celia Burn Stendler dan Norman Young
mengadakan penelitian melalui wawancara dengan sejumlah ibu. Tisisnya ialah
bahwa pengalaman pertama masuk sekolah memainkan peran yang penting
dalam sosialisasi ank-ak. Secara teoritis anak yang berumur enam tahun
merupakan percobaan bagi orang tua. Mereka sulit, agresif, penuntut. Penelitian
berdasarkan postilat sebagai berikut :
1) Masuk kelas satu memiliki arti yang penting bagi anak dan membawa
perubahan-perubahan tertentu dalam konsepsi mereka dalam dirinya.
2) Perubahan pada tinggkah laku pada anak usia enam tahun di sebabkan oleh
agen sosialisasi baru yang diperkenalkan olehy guru. Melalui wawancara
terhadap 250 orang tua sebagai sampel dapat di rumuskan hasil penelitian
sebagai berikut :
a. Masuknya anak ke kelas satu sangat signifikan dalam jiwa anak usia enam
tahun dan membawa perubahan-perubahan tertentu bagi konsepnya tentang
dirinya. Hal ini disebkan oleh harapan-harapan cultural, dramatisasi peristiwa,
dan anak melihatnya sebagai suatu inisasi bagi dirinya dalam hubungan dengan
dunia luar. Sekolah merupakan agen sosialisasi.
b. Kesulitan-kesulitn dalam melakukan penyesuaian diri pada anak usia enam
than mungkin karena proses sosialisasi itu di ganggu oleh pengaruh masuknya
itu sendiri dank arena tekanan-tekanan yang berkenaan dengan penyesuaian-
penyesuaian yang baru.
Pengaruh lingkunan sekolah terhadap perilaku anak. Factor lingkungan sekolah
besar pengaruhnya terhadap perkembangan perilaku anak. Yang termasuk
lingkungan sekolah adalah perilaku dan pribadi guru, perilaku teman sekolah,
kondisi bangunan sekolah, dan kurikulum serta system instruksional yang
diterapkan terhadap anak-anak tersebut.
Perilaku dan pribadi guru besar pengaruhnya terhadap perkembangan perilaku
anak-anak. Guru yang berlaku negative dan berpribadi belum matang atau tak
terintegrasi akan mengakibatkan anak-anak melakukan hal yang sama, karena
selama bersekolah, terjadi transaksi yang terus menerus antara anak dan gurunya
dengan cara peniruan, identifikasi, dan penyesuaian. Gejala perilaku frustasi,
pemarah dan mudah tersinggung, suka mencontoh dan kurang percaya kepada
diri sendiri, kurang adil dan kurang bertanggung jawab, sikap pasif dan tidak
kreatif dapat mempengaruhi perilaku anak-anak sehingga mereka cenderung
berperilaku yang sama.
Perilaku teman sekolah juga turut mempengaruhi perkembangan oerilaku anak-
anak karena mereka saling bergaul dan saling meniru satu dengan yang lainnya,
kenakalan anak-anak, perilaku mekanggar disip[lin, sikap mementingkan
kelompok, dan mengganggu kelompok lainnya adalah beberapa contoh akibat
pengaruh perilaku teman-temannya yang bersifat negative serta cenderung
merugikan oran lain,
Kondisi bangunan sekolah yang tidak memenuhi syarat, misalnya keadaan
ruangan yang kotor dan tidak sehat, ventilasi yang kurangmemadai, ruang yang
gelap, peralatan yang tidak terpelihara, merupakan beberapa contoh yang
umumnya mengakibatkan gangguan dalam belajar dan pada gilirannnya anak-
anak malas bersekolah, senang bermain di luar sekolah, dan mengabaikan
pelajaran gurunya sehingga tumbuh berbagai bentuk perilaku yang kurang
harmonis.
Kurikulum dan system intruksional yang terlalu berat dan kaku serta suasana
yang otoritas memberikan pengaruh destruktif tertentu terhadap perkembangan
perilaku anak. Tidak mengherankan banyak sikap yang kurang menyenangkan,
kegagalan belajar, frustasi, dan sebagainya tumbuh karena factor ini.

F. MASA ANAK REMAJA


 Karakteristik Anak Remaja
Pengertian dasar tentang istilah Adolescence (Masa Remaja / Keremajaan)
hanyalah pertumbuhan ke arah kematangan. Ini adalah periode antara permulaan
pubertas dengan kedewasaan yang secara kasar antara usia 14-25 tahun untuk
laki-laki dan antara usia 12-21 tahun untuk perempuan.
Dalam dunia yag mengalami perubahan yang cepat, memang tak bias di
hindarkan bahwa tingkah laku sebagian remaja mengalami ketidaktentuan
tatkala mereka mencari kedudukan dan identitas para remaja bukan lagi kanak-
kanak, tetapi juga belum menjadi orang dewasa. Mereka cenderung dan bersifat
lebih sensitive karena perannya belum tegas. Ia mengalami pertentangan nilai-
nilai dan harapan-harapan yang akibatnya lebih mempersulit dirinya yang
sekaligus mengubah perannya. Para remaja adalah individu-individu yang
sedang mengalami serangkaian tugas perkembangan yang khusus.
Keunikan para remaja terletak pada individu-individunya. Tampak jelas bahwa
para remaja dari keluarga yang sama memperlihatkan perbedaan-perbedaan
dalam besar badan, inteligensi, minat,dan sifat sosialnya. Anak kembarpun
memperlihatkan perbedaan-perbedaan sekalipun mereka memiliki kesamaan
pembawaan. Para remaja dari kelas social yang satu berbeda dengan para remaja
dari kelas yang lain dalam sikap dan cita-citanya. Pendeknya beberapa keunikan
para remaja itu terletak dalam individualitasnya, bukan pada masa remajanya.

 Kebutuhan Dasar Anak Remaja


kebutuhan umum manusia baik anak-anak, orang dewasa, maupun para remaja
merasakan kebutuhanuntuk mencintai dan di cintai, ingin memiliki pengalaman-
pengalaman baru, ingin memperoleh pengenalan, atau pengakuaningin menjadi
seseorang yang berdiri sendiri, dan ingin memuaskan kebutuhan ini lebih
intensif. Para remaja membutuhkan pengalaman-pengalaman baru pada masa
kanak-kanak, pengalaman baru ini di peroleh dalam keluarga atau dari tetangga.
Sewaktu mereka meningkatmenjadi remaja, mereka mencari pengalaman baru di
luar rumah dan tetangga. Mereka masih membutuhkan juga pengakuan dari
orang tua dan tetangganya, tetapi kebutuhan untuk di akui oleh teman sebayanya
lebih kuat pengaruhnya.
Menurut penelitian Ericson,Eisenberg, Glasser, Mead, Shore, dan Massimo,
identitas merupakan kebutuhan yang sangat besar pada para remaja. Mereka
ingin memilikisesuatu, ingin berbeda, ingin di kenal, dan ingin merasakan
kehadirannya. Banyak perasaan tidak berharga yang di rasakan para remaja
dapat di gindarkan dengan cara memberi mereka tanggung jawab tertentu
sehingga mereka merasa dirinya penting.
Kebutuhan akan bantuan orang dewasa. Pertumbuhan berciri kemajuan dan
kemunduran pada suatu saat para remaja ingin mempertahankan haknya untuk
bertindak berdasarkan keputusannya sendiri tanpa campur tangan orang dewasa.
Pada saat lain mereka membutuhkan nasehatserta bimbingan dan penyuluhan
orang dewasa. Beberapa orang tua ada yang sabar dan cukup mengerti terhadap
sikap remaja yang tidak konsisten ini. Para guru akan berusaha untuk
menghindari sikap dogmatism dan otoriter dalam menghadapi para remaja
andaikata mereka menyadari bahwa sikap yang tidak konsisten ini adalah suatu
aspek yang wajar dari mereka yang sedang menuju kematangan.
Banyak program remaja yang gagal sebelum di mulai karena program tersebut
direncanakan dan di organisasi oleh para ahli, lalu di desakkan para remaja.
Kemampuan untuk mengarahkan diri secara bijaksana tumbuh melalui praktek.
Hendaknya di sadari benar bahwa keputusan-keputusan para remaja tidak terlalu
harus sesuai dengan pandangan orang dewasa. (Kelly).
Orang dewasa dapat membantu para remaja dengan baik, dengan cara
memahami sumber-sumber yang menyebabkan kekacauan pada mereka.
Misalnya dengan jalan mengajak mereka berbicara (bukan member khotbah)
tentang perilaku serta konsekuensi-konsekuensinya dalam jangka panjang.
Berilah mereka kasih saying yang beresumber dari pengertian, dan bantulah
mereka dalam menetapkan tujuan-tujuan yang berhubungan dengan pekerjaan
mereka.

 Remaja dalam Lingkungan Belajar Mengajar


Pertumbuhan mental dan pengukuran potensi. Selama ini ada anggapan bahwa
pertumbuhan inteligensi berhenti pada usia 16 tahun. Pengertian ini di rumuskan
apabila rata-rata individu berhenti sekolah pada kelas delapan. Terman dan
Merrill dalam merevisi manual untuk Skala Inteligensi Stanford-Binet
mengadakan penyesuaian table-tabel usia berdasarkan asumsi bahwa menurut
penemuan akhir-akhir ini, pertumbuhan mental meluas diatas usia 15
tahun.penelitian terhadap penduduk di Amerika Serikat pada tahun 1960
menunjukkan bahwa mereka rata-rata mencapai pendidikan kelas 12. Menurut
penelitian Owens terdapat bukti-bukti yang menunjuk kepada suatu kesimpulan
bahwa inteligensi itu harus tumbuh atau berhenti, bergantung kepada apakah
kapasitas individu untuk perkembangan mentalnya di latih atau tidak. Dan ini
meluas sampai usia 50 tahun atau lebih.
Adapun inteleigensi itu bukanlah sesuatu yang global atau tunggal yang dapat di
evaluasi dengan alat psikometrik yang tunggal. Individu-individu itu memiliki
banyak inteligensi. Guilford menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya ada 120
jenis inteligensi yang berbeda beda, kebanyakan psikolog setuju bahwa satu tes
inteligensi menghasilkan skoe global, tidak memberikan etimasi yang pasti
tentang potensi individu. Lebih jauh mereka juga setuju bahwa sekalipun tes
inteligensi yang konvensional berkorelasi secara positif dengan prestasi sekolah,
ada lagi jenis-jenis inteligensi lainnya yang harus dikenal di sekolah di samping
yang bersifat akademis, misalnya inteligensi yang bersifat kreatif, artistic, social,
dan kepemimpinan.
Dalam hubungan ini Bernard mengutip pernyataan Barbara H. Kemp bahwa para
pendidik harus mendorong setiap siswa untuk mengembangkan bakat-bakat
aslinya sepenuh-penuhnya sehingga di kemudian hari ia dapat menggunakan
secra efektif. Mereka harus menggunakan bermacam-macam tes untuk
mengukur potensi-potensi individu, bukan hanya menggunakan tes untuk
menukur inteligensi. Mereka harus memberikan arahjan perhatian dan
bimbingan yang di butuhkan oleh setiap individu siswa.
Mempermudah belajar remaja. Program sekolah yang konvensional dan
berstruktur sangat baik bagi para siswa dari golongan menengah. Bagi para
siswa dengan latar belakang dan motivasi yang berbeda, program konvensional
ini menghasilkan perenggangan. Bagi mereka yang telah mengerti semangat
waktu perubahan yang tepat, inovasi, berdiri-sendiri,dan penekanan terhadap
pribadi dari pada terhadap benda-benda sekolah sering-sering menghasikan
sikap ambivalen.oleh karena itu, dari sejumlah literature dalam psikologi dan
sosiologi remaja dan juga dari penelitian tentang kebutuhan dan tugas
perkembangannya, beberapa anjuran telah di kemukakan untuk mempermudah
cara-cara belajar formal. Anjuran yang di kemukakan berikut ini sebagian
berasal dari hasil studi tentang remaja sebagai gejala cultural dan biologis.
Sebagian lagi berasal dari praktik-praktik konvensional maupun inovatif di
sekolah menengah.
1. Belajar para remaja akan di permudah apabila ada keseimbangan antara
pembatasan dan kebebasan.
2. Belajar para di sekolah akan di permudah apabila para remaja di perlukan
sebagai pribadi dan bukan sebagai benda.
3. Belajar akan di permudah apabila para remaja tahu bahwa suaranya di dengar
dan pilihannya sungguh-sungguh di perhitungkan.
4. Belajar akan di permudah apabila seorsng tahu bahwa ia diterima, di kenal,
atau di akui oleh kelompoknya, dan kehadirannya menimbulkan perbedaan
tertentu.
5. Belajar akan di permudah serta perkembangan kepribadian yang seimbang
akan mengingat apabila personel sekolah mengenal berbagai inteligensi dan
berbagaigaya belajar.
6. Belajar akan di permudah apabila kapasitas para pemudauntuk mempercayai
dirinya diterima dan mereka di beri semangat.
7. Mempelajari konsep-konsep yang tepilih dan konsep diri yang sehat akan di
permudah bila para remaja memahami dirinya sendiri dan kebudayaan remaja.
8. Belajar akan di permudah apabila angka-angka di hilangka.
9. Lingkungan belajar mengajar bagi para remaja akan menjadi baik bila guru-
guru mengetahui dan menerima beban dan tantangan terhadap dirinya sebagai
pusat perhatian remaja dan sebagai model.

Perlunya pembinaan kemampuan professional guru. Pemberian kemudahan


belajar sebagaimana telah di uraikan di atas, pada gilirannya menimbulkan
tuntutan yang kuat kepada guru sebagai tenaga kependidikan yang professional.
Salah satu dimensi kemampuan professional aadalah kemampuan
kepribadian.dengan kata lain, tiap guru harus memiliki kepribadian yang
matang, dan dengan kepribadian itu dia mampu bertindak sebagai pribadi yang
berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian siswa.

 Perkembangan Karakter dan Masalah Remaja


Teori perkembangan karakter. Teori dahulu tentangmoral ialahbahwa semua
perilaku moral adalah spesifik untuk suatu situasi saja. Belum ada teori yang
bersifat umum sehingga Havighurst merumuskan suatu teori perilaku moral yang
di rumuskan menjadi sejumlah tipe yang disusun bertingkat menjadi urutan
perkembangan yang harus di lalui oleh tiap orang yang menuju kedewasaan.
Menurut Havighurst, yang di maksud dengan karakter adalah suatu perangkat
yang terdiri atas lima karakter. Setiap tipe itu merupakan suatu representasi dari
tingkat perkembangan psikososial individu sebagai berikut :

Tipe Karakter Periode Perkembangan


1) Amoral Infancy
2) Expendet Early Childhood
3) Conforming Later Childhood
4) Irrational-conscientious Adolescence and adulthood
5) Rational-altruristic

Barangkali tipe karakter tersebut di maksudkan untuk :


1. Di rumuskan dan di gambarkan dalam peristilahan system control individual
yang berguna untuk menyesuaikan diri dalam rangka memuaskan tuntutan-
tuntutan lingkungan social.
2. Meliputi semua model adaptasi yang mungkin.
3. Dirumuskan dalam istilah motivasi dan
4. Manyajikanpola perilaku operasional dan tingkat perkembangan psikososial.
Kelima karakter tersebut merupakan lima pola sebagai komponen-komponen
karakter atau merupakan five pure “Ideal types”. Dan kelima motif yang utama
itu merupakan komponen-komponen karakter moral. Kendatipun mungkin ada
seseorang yang memiliki tipe murni, dalam prakteknyaproporsi kelima kategori
itu bersifat relative dalam diri seseorang atau dengan kata lain terdapat struktur
dinamis.

G. PERKEMBANGAN DEWASA DAN MASA TUA


Terlepas dari perbedaan dalam penentuan waktu dimulainya status kedewasaan
tersebut, pada umumnya psikolog menetapkan sekitar usia 20 tahun sebagai awal
masa dewasa dan berlangsung sampai sekitar usia 40 – 45, dan pertengahan
masa dewasa berlangsung dari sekitar usia 40 -45 sampai sekitar usia 65 tahun,
serta masa dewasa lanjut atau masa tua berlangsung dari sekitar usia 65 tahun
sampai meninggal (Feldman, 1996).
Berikut ini aspek perkembangan yang terjadi selama masa dewasa dan usia tua,
yang meliputi perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial.
1. Perkembangan Fisik
Pada awal masa dewasa kemampuan fisik mencapai puncaknya, dan sekaligus
mengalami penurunan selama periode ini. Beberapa gejala penting dari
perkenbangan fisik:
a. Kesehatan badan
Mulai dari sekitar usia 18 – 25 tahun, individu memiliki kekuatan yang terbesar,
gerak-gerak reflek mereka sangat cepat. Lebih dari itu, kemampuan reproduktif
mereka berada di tingkat paling tinggi. Meskipun pada awal masa dewasa
kondisi kesehatan fisik mencapai puncaknya, namun selama periode ini
penurunan keadaan fisik juga terjadi. Sejak usia sekitar 25 tahun, perubahan-
perubahan fisik mulai terlihat. Perubahan-perubahan ini sebagian besar lebih
bersifat kuantitatif daripada kualitatif. Secara berangsur-angsur. Kekuatan fisik
mengalami kemunduran, sehingga lebih mudah terserang penyakit. Akan tetapi,
bagaimanapun juga seseorang masih tetap cukup mampu untuk melakukan
aktivitas normal. Bahkan bagi orang yang selalu menjaga kesehatan dan
melakukan olah raga secara rutin masih terlihat bugar.

Bagi wanita, perubahan biologis yang utama terjadi selama masa pertengahan
dewasa adalah perubahan dalam hal kemampuan reproduktif, yakni mulai
mengalami menopause atau berhentinya menstruasi dan hilangnya kesuburan.
Pada umumnya, ini terjadi pada usia 50 tahun bahkan ada yang sudah
mengalaminya pada usia 40 tahun. Peristiwa ini disertai dengan berkurangnya
hormone estrogen. Bagi sebagian perempuan ini tidak menimbulkan problem
psikologis. Tetapi bagi lainnya, menopause menyebabkan gejala psikologis
termasuk depresi dan hilang ingatan. Sejumlah studi belakangan ini menunjukan
bahwa problem tersebut sebenarnya lebih disebabkan oleh reaksi terhadap usia
tua yang dicapai oleh wanita dalam suatu masyarakat yang sangat menghargai
anak-anak muda dari pada peristiwa menopause itu sendiri (Feldman, 1996).
Bagi laki-laki, proses penuaan selama masa pertengahan dewasa tidak begitu
kentara, Karena tidak ada tanda-tanda fisiologis dari peningkatan usia seperti
berhentinya haid pada perempuan. Lebih dari itu laki-laki tetap subur dan
mampuh menjadi ayah anak-anak sampai memasuki usia tua. Hanya beberapa
kemunduran fisik juga terjadi secara berangsur-angsur, seperti berkurangnya
produksi air mani, dan frekuensi orgasme yang cenderung merosot.
Pada masa tua atau masa dewasa akhir, sejumlah perubahan pada fisik semakin
terlihat akibat dari proses penuaan. Diantara perubahan fisik yang kentara pada
masa tua ini terlihat pada perubahan seperti rambut menjadi jarang dan berubah,
kulit mongering dan mengerut, gigi hilang dan gusi menyusut, konfigurasi wajah
berubah; tulang belakang menjadi bungkuk. Kekuatan dan ketangkasan fisik
berkurang, tulang rapuh, mudah patah dan lambat untuk diperbaiki kembali.
System kekebalan tubuh melemah, sehingga rentah terhadap berbagai penyakit.

b. Perkembangan sensori
Pada masa awal dewasa, penurunan fungsi pengelihatan dan pendengaran belum
begitu kentara. Akan tetapi, pada masa dewasa tengah perubahan-perubahan
dalam pengelihatan dan pendengaran merupakan dua perubahan fisik yang
paling menonjol. Pada usia antara 40 dan 59 tahun, daya akomodasi mata
mengalami penurunan paling tajam. Karena itu banyak orang pada usia setengah
baya mengalami kesulitan dalam melihat obyek-obyek yang dekat (Kline &
Schieber, 1985). Sementara itu, pendengaran juga mengalami penurunan pada
usia sekitar 40 tahun. penurunan dalam hal pendengaran ini lebih terlihat pada
sensitivitas terhadap nada tinggi. Dalam hal penurunan sensitivitas terhadap
nada tinggi ini, terdapat perbedaan jenis kelamin, yakni laki-laki biasanya
kehilangan sensitivitas terhadap nada tinggi lebih awal dibandingkan
perempuan. Perbedaan jenis kelamin ini mungkin lebih disebabkan oleh
pengaruh pengalaman laki-laki terhadap suara gaduh dalam pekerjaan sehari-
hari, seperti pertambangan, perbengkelan, dan sebagainya.
Selanjutnya pada masa dewasa akhir, perubahan-perubahan sensori fisik
melibatkan indera pengelihatan, pendengaran, perasa, pencium, dan peraba.
Perubahan dalam indera pengalihatan pada masa dewasa akhir misalnya tampak
pada berkurangnya ketajaman pengelihatan dan melambatnya adaptasi terhadap
perubahan cahaya. Biji mata menyusut dan lensanya menjadi kurang jernih,
sehingga jumlah cahaya yang diperoleh retina berkurang.retina orang tua usia 65
tahun hanya mampu menerima jumlah cahaya serertiga dari jumlah cahaya yang
diperolehnya pada usia 20 tahun (Kline & Schieber, 1985).
Begitu juga dengan pendengaran, diperkirakan sekitar 75% dari orang usia 75 –
79 tahun mengalami berbagai jenis permasalahan pendengaran, dan sekitar 15%
dari populasi di atas usia 65 tahun mengalami ketulian, yang biasanya
disebabkan oleh kemunduran selaput telinga. Sementara itu, penurunan juga
terlihat dalam kepekaan terhadap rasa dan bau. Dalam hal ini, kepekaan terhadap
rasa pahit dan masam bertahan lebih lama disbandingkan rasa manis dan asin
(Santrock, 1995).
c. Perkembangan otak
Mulai masa dewasa awal, sel-sel otak juga berangsur-angsur berkurang. Tetapi,
perkembangbiakan koneksi neural (neural connection), khususnya bagi orang-
orang yang tetap aktif, membantu mengganti sel-sel yang hilang. Hal ini
membantu menjelaskan pendapat umum bahwa orang dewasa yang tetap aktif,
baik secara fisik, seksual, maupun secara mental, menyimpan lebih banyak
kapasitas mereka untuk melakukan aktifitas-aktifitas demikian pada tahun-tahun
selanjutnya.
Pada usia tua, sejumlah neuron, unit-unit sel dasar dari system saraf menghilang.
Menurut hasil sejumlah penelitian, kehilangan neuron itu diperkirakan mencapai
50% selama tahun-tahun masa dewasa. Tetapi penelitian lain memperkirakan
bahwa kehilangan itu lebih sedikit. Bagaimana pun juga, menurut Santrock
(1995), diperkirakan bahwa 5 hingga 10% dari neuron kita berhenti tumbuh
sampai kita mencapai usia 70 tahun. Setelah itu, hilangnya neuron akan semakin
cepat.
Hilangnya sel-sel otak dari sejumlah orang dewasa diantaranya disebabkan oleh
serangkaian pukulan kecil, tumor otak, atau terlalu banyak minum minuman
beralkohol. Semua ini akan semakin merusak otak, menyebabkan terjadinya
erosi mental, yang sering dasebut dengan kepikunan (senility). Bahkan dapat
menimbulkan penyakit otak yang lebih menakutkan lagi, yaitu penyakit
Alzheimer, yang diderita 3% dari populasi dunia berusia 75 tahun. penyakit ini
menyebabkan memori berkurang, kemudian penalaran dan bahasa memburuk.
Sebagai penyakit yang menjalar cepat, setalah 5 – 20 tahun, penderita menjadi
kehilangan arah, kemudian tidak dapat mengendalikan diri, dan akhirnya kosong
secara mantal, hidup merana ( Myers, 2996).
2. Perkembangan kognitif
Pertanyaan yang paling banyak menimbulkan controversial dalam studi
perkembangan rentang hidup manusia adalah tentang kemampuan kognitif orang
dewasa, seperti memori, kreativitas, inteligensi, dan kemampuan belajar, paralel
dengan penurunan kemampuan fisik. Pada umumnya orang percaya bahwa
proses kognitif mengalami kemerosotan bersamaan dengan terus bertambahnya
usia. Bahkan ini juga tercermin dalam masyarakat ilmiah. Namun, belakangan
sejumlah hasil penelitian nahwa kepercayaan tentang terjadinya kemerosotan
proses kognitif bersamaan dengan penurunan fisik, sebenarnya hanyalah salah
satu stereotip budaya yang meresap pada diri kita. Uraian berikut akan
mengetengahkan beberapa perubahan penting dalam proses kognitif yang terjadi
pada masa dewasa dan usia tua.
a. Perkembangan pemikiran postformal
Sesuai dengan tahap perkembangam kognitif Piaget, pemikiran remaja berada
pada tahap operasional formal – tahap kemampuan berpikir secara abstrak dan
hipotesis. Tipe pemikiran ini dimulai sekitar usia 11 tahun, tetapi tidak
berkembang secara penuh sampai berakhirnya masa remaja. Karena itu Piaget
percaya seorang remaja dan seorang dewasa memiliki cara berpikir yang sama
(McConnel & Philipchalk, 1992). Akan tetapi para pengkritik Piaget
menunjukkan bahwa kesimpulan itu tidak dapat diterapkan pada kebudayaan-
kebudayaan lain, sebab ditemukan banyak remaja tidak menggunakan pemikiran
operasional formal (Neimark, 1992).
Bahkan sejumlah ahli perkembangan percaya bahwa baru pada masa dewasalah
individu menata pemikiran operasional formal mereka. Mereka mungkin
merencanakan dan membuat hipotesis tentang masalah-masalah seperti remaja,
tetapi mereka menjadi sistematis ketika mendekati masalah sebagai orang
dewasa. Ketika sejumlah orang dewasa lebih mampu menyusun hipotesis dari
pada remaja dan menurunkan suatu pemecahan masalah dari suatu
permasalahan, banyak orang dewasa yang tidak menggunakan pemikiran
operasional formal sama sekali (Keating, 1990).
Gisela Labouvie-Vief, 1986 (dalam McConnel & Philipchalk, 1992) menyatakan
bahwa pemikiran dewasa muda menunjukkan suatu perubahan yang signifikan.
Ia percaya bahwa masyarakat kita yang kompleks memiliki pertimbangan-
pertimbangan yang praktis dan bahkan mengubah bentuk logika kaum muda
yang idealis. Karena itu, pemikiran orang dewasa muda menjadi lebih kongkrit
dan pragmatis, sesuatu yang dikatakan oleh Labouve-Vief sebagai tanda
kedewasaan.
Sudut pandang lain mengenai perubahan kognitif pasa orang dewasa
dikemukakan oleh K.Warner Schie (1977). Dalam hal ini ia percaya bahwa
tahap-tahap perkembangan kognitif Piaget menggambarkan peningkatan
efisiensi dalam memperoleh informasi yang baru. Ada keraguan bahwa orang
dewasa melampaui pemikiran ilmiah yang merupakan cirri dari pemikiran
operasional formal, dalam usahanya memperoleh pengetahuan. Meskipun
demikian orang dewasa lebih maju dari remaja dalam menggunakan
intelektualitas. Pada masa dewasa awal misalnya, orang biasanya berubah dari
mencari pengetahuan menuju menerapkan pengetahuan, yakni menerapkan apa
yang telah diketahuinya untuk mencapai jenjang karir dan membentuk keluarga.
Dengan demikian, kemampuan kognitif terus berkembang selama masa dewasa.
Akan tetapi, bagaimana pun tidak semua perubahan kognitif pada masa dewasa
tersebut yang mengarah pada peningkatan potensi. Bahkan kadang-kadang
beberapa kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring dengan
pertambahan usia. Meskipun demikian, sejumlah ahli percaya bahwa
kemunduran keterampilan kognitif yang terjadi terutama pada masa dewasa
akhir, dapat ditingkatkan kembali melalui serangkaian pelatihan.

b. Perkembangan memori
Salah satu karakteristik yang paling sering dihubungkan orang dewasa dan usia
tua adalah penurunan dalam daya ingat. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa
perubahan memori bukanlah suatu yang sudah pasti terjadi sebagai bagian dari
proses penuaan, melainkan lebih merupakan stereotip budaya. Hal Ini dibuktikan
oleh hasil dari lintas budaya ysng dilakuukan oleh B.L. levy dan E. Langer
(1994) terhadap orang tua di Cina dan di Amerika. Hasil studi ini menyimpulkan
bahwa orang tua dalam kultur yang memberikan penghargaan tinggi terhadap
orang tua, seperti kultur Cina daratan, kecil kemungkinan mengalami
kemerosotan memori disbanding dengan orang tua yang hidup dalam kultur
yang mengira bahwa kemunduran memori adalah sesuatu yang mungkin terjadi.
Lain dari itu, ketika orang tua memperlihatkan kemunduran memori,
kemunduran tersebut pun cenderung sebatas pada keterbatasan tipe-tipe memori
tertentu. Misalnya, kemunduran kecenderungan terjadi keterbatasan memori
episodic (episodic memories) – memori yang berhhubungan dengan
pengalaman-pengalaman tertentu di sekitar kehidupan kita. Ssementara tipe-tipe
lain, seperti memori semantic-memori hubungan yang berhubungan dengan
pengetahuan dan fakta-fakta umum, dan memori inplisit- memori bawah sasdar
kita, secara umum tidak mengalami kemunduran karena pengaruh ketuaan
(Fieldman, 1996).
Kemorosotan dalam memori eepisodic, sering menimbulkan perubahan-
perubahan dalam orang tua. Misalnya, seseorang yang memasuki pension, yang
mungkin tidak lagi mengahadapi tantangan-tantangan penyesuaian intelektual
sehubungan dengan pekerjaan, dan mungkin lebih sedikit menggunakan memori
atau bahkan kurang termotifasi untuk mengingat berbagai hal, jelas akan
mengalami kemunduran dalam memorinya. Untuk itu, meereka menggunakan
strategi penghafalan bagi orang uta, tidak hanya memungkinkan dapat mencegah
kemunduran memori jangka panjang melainkan, sekaligus dapat meningkatkan
kekuatan memori mereka (Ratner et. Al., 1987).
Jadi, kemorosotan fungsi pada funsi kognitif pada masa tua, pada umumnya
memang meerupakan sesuatu yang tidak dapat di elakkan, karena disebabkan
berbagai factor, seperti penyakit kekacauan otak atau kecemasan atau depresi.
Akan tetapi, hal ini bukan berarti keterampilan kognitif tidak bisa di pertahankan
atau di tingkatkan. Kunci untuk memelihara keterampilan kognitif terletak pada
tingkat pemberian beberapa rangsangan intelektual. Oleh karena itu, orang tua
sangat membutuhkan suatu lingkungan perangsang dalam rangka mengasah dan
memelihara keterampilan-keterampilan kognitif mereka serat mengatisipasi
terjadinya kepikunan.
c. Perkembangan inteligensi
Suatu mitos yang bertahan hingga sekarang adalah bahwa menjadi tua berarti
mengalami kemunduran intelektual. Mitos ini diperkuat oleh sejumlah peneliti
awal yang berpendapat bahwa seiring dengan penuaan selama masa dewasa
menjadi kemunduran dalam inteligensi umum. Misalnya dalam studi kros-
seksional, peneliti menguji orang-orang dari berbaai usia pada waktu yang sama.
Ketika memberikan tes inteligensi kepada sampel yang representatuf, penaliti
secara konsisten menemukan bahwa orang dewasa yang lebih tua memberikan
lebih sedikit jawaban yang benar dibanding orang dewasa yang lebih muda.
Oleh karena itu, David Wechsler (1972), menyimpulkan bahwa kemunduran
kemamppuan mental merupakan bagian dari proses penuaan organisme secara
umum. Hampir semua studi menunjukkan bahwa setalah mencapai puncaknya
pada usia antara 18 dan 25 tahun, kebanyakan kemampuan manusia terus-
menerus mengalami kemunduran.
Akan tetapi, studi Thorndike mengenai kemampuan belajar orang dewasa
menyimpulkan bahwa kemampuan belajar mengalami kemunduran sekitar 15%
pada usia 22 dan 42 tahun. kemampuan untuk mempelajari pelajaran-pelajaran
sekolah ternyata hanya mengalami kemunduran sekitar 0,5% - 1% setiap tahun
antara usia 21 dan 41tahun. puncak kemampuan belajar terdapat pada usia 25
tahun, namun kemunduran yang terjadi sesudah usia 25 - 45 tahun tidak
signifikan. Bahkan pada usia 45 tahun kemampuan belajar seseorang sama
baiknya dengan ketika mereka masih berusia antara 20 – 25 tahun
(Witherimgton, 1986).
Studi Thorndike menunjukkan bahwa kemundura kemampuan intelektual oranng
dawasa tidak disebabkan factor usia, melainkan factor lain. Witherington (1986),
ada tiga factor penyabab kemunduran belajar orang dewasa:
• Ketiadaan kapasitas belajar, orang dewasa tidak memiliki kemampuan belajar
apabila ketika muda tidak memiliki kapasitas belajar yang memadai.
• Terlalu lama tidak melakukan aktifitas-aktifitas yang bersifat intelektual.
Orang yang telah berhenti membaca bacaan yang ‘’berat’’ dan berhenti pula
melakukan pekerjaan intelektual, akan terlihat bodoh dan tidak mampu
mengerjakan pekerjaan semacam itu.
• Factor budaya, terutama cara seseorang memberikan sambutan, seperti
kebiasaan, cita-cita, sikap, dan prasangka-prasangka yang telah mengakar,
sehingga setiap usaha untuk mempelajari cara sambutan yang baru akan
mendapat tantangan yang kuat.
3. Perkembangan psikososial
Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas
dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pola dan tingkah
laku sosial orang dewassa berbeda dengan orang yang lebih muda dalam
beberapa hal. Perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh perubahan fisik dan
kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi disebabkan oleh peristiwa
kehidupan yang berhubungan dengan keluarga dan pekerjaan. Menurut Erikson,
perkembangan psikososial selama masa dewasa dan tua ditindai dengan tjga
gejala.
a. Perkembangan keintiman
Keintiman dapat diartikan sebagai suatu kemampuan memperhatikan orang lain
dan membagi pengalaman dengan mereka. Menurut Erikson, pembentukan
hubungan intim merupakan tantangan utama memasuki masa dewasa. Pada masa
awal dewasa ini, orang-orang telah siap dan ingin menyatukan identitasnya
dengan orang lain. Mereka mendambakan hubungan yang intim, dilandasi rasa
persaudaraan, serta siap mengambangkan daya yang dibutuhkan untuk
memenuhi komitmen meskipun harus berkorban. Dalam suatu studi ditunjukkan
bahwa hubungan intim mempunyai pengaruh yang besar terhadap
perkembangan psikologis dan fisik. Orang yang mempunyai tempat untuk
berbagi ide, perasaan, dan masalah, merasa lebih bahagia dan lebih sehat dari
pada yang tidak memiliki tempat untuk berbagi (Traupmann & Hatfield, 1981).
Ada beberapa gejala dalam keintiman :
 Cinta
Selama tahap perkembangan keintiman, nilai-nilai cinta muncul. Menurut
Santrok (1995), cinta dapat diklasifikasikan menjadi empat bentuk cinta, yaitu :
altruism, persahabatan, cinta yang romantic atau bergaira, dan cinta yang penuh
perasaan atau persahabatan. Meskipun cinta sudah tampak dalam tahap
sebelumnya, namun perkembangan cinta dan keintimansejati baru muncul
setelahseseorang memasuki masa dewasa. Cinta pada orang dewasa
diungkapkan dalam bentuk kepedulian terhadap orang lain.
Robert J. Sternberg, 1993 (dalam Santrock, 1995) mengungkapkan sebuah teori
tentang cinta yang dikenal dengan “the triangular theory of love” (teori cinta
triangular) yang menyatakan cinta memiliki tiga bentuk utama, yaitu: gairah –
cinta yang didasari daya tarik fisik dan seksual pada pasangan; keintiman – cinta
didasari perasaan emosional tentang kehangatan, kedekatan, dan berbagi dalam
hubungan; komitmen – cinta yang didasari penilaian kognitif atas hubungan dan
niat mempertahankan hubungan, bahkan ketika menghadapi masalah.

 Pernikahan dan keluarga


Dalam pandanga Erikson, keintiman biasanya menuntut perkembangan seksual
dengan lawan jenis yang ia cintai, yang dipandang sebagai teman berbagi suka
dan duka. Ini berarti bahwa hubungan intim yang terbentuk akan mendorong
orang dewasa awal untuk mengembangkan genitalitas seksual yang
sesungguhnya dalam hubungan timbal balik denhan mitra yang dicintai.
Meskipun belakangan ini kecenderungan orang dewasa untuk membujang
meningkat dan perceraian sering terjadi, namun orang Amerika masih
menunjukkan kecenderungan yang kuat untuk menikah. Bahkan penelitian
Robin (1973) menunjukkan hampir 95% orang menikah, dan sebagian besar
menikah pada awal masa dewasa. Bertentangan dengan pendapat umum,
perempuan kurang romantic dibandingkan dengan laki-laki dalam usaha
pendekatan memilih pasangan mereka. Laki-laki lebih cenderung cepat jatuh
cinta daripada perempuan dan lerasa puas dangan kualitas calon mereka.
Sebaliknya, perenpuan lebih praktis dan berhati-hati dalam menentukan
pasangan dan lebih mungkin membandingkan colon pasangannya dengan calon
alternative lainnya.
Secara tradisi, perkawinan menuntut perubahan gaya hidup yang lebih besar bagi
perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Laki-laki yang sudah menikah
melanjutkan karirnya, sedangkan perempuan mungkin dituntut untuk
melepaskan kebebasan kehidupan lajangnya demi berbagai tuntutan peran dan
tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Perubahan ini tidak jarang memicu
problema dalam perkawinan. Dalam penelitia yang dilakukan Elizabeth Douvan
dan teman-temannya, dilaporkan bahwa hampir 60% pria dan wanita dari
seluruh partisipan mengaku mereka mengalami berbagai problem dalam
pernikahan. Problem-problem ini muncul disebabkan banyak factor, diantaranya;
pasangan gagal mempertemukan dan menyesuaikan kebutuhan dan harapan satu
sama lain; salah satu pasangan mengalami kesulitan menerima perbedaan-
perbadaan nyata dalam kebiasaan kebutuahan, pendapat, kerugian dan nilai.
Problem yang paling mencolok adalah masalah keuangan dan anak-anak; adanya
rasa cemburu dan rasa memiliki berlebihan, membuat masaing-masing merasa
kurang dapat kebebasan; pembagian tugas dan wewenang yang tidak adil;
kegagalan dalam berkomunikasi; dan masing-masing pasangan tumbuh dan
berkembang kea rah yang berbeda, tidak sejalan mencari minat dan tujuan
sendiri-sendiri (Davidoff, 1988).
Memang, tidak satupun hubungan interpersonal dan intim, termasuk perkawinan
yang berjalan mulus dan selalu mesra. Tidak ada dua orang yang mampu hidup
bersama bertahun-tahun tanpa terjadi konflik. Apalagi institusi perkawinan
dibangun oleh dua individu yang memiliki persepsi dan harapan yang berbeda
tentang perkawinannya. Meskipun konflik dalam hubungan perkawinan tidak
mungkin dihindari, namun banyak juga orang yang berusaha keras untuk
menciptakan suatu bentuk ikatan yang memuaskan, yakni di mana kedua
pasangan dapat saling memperoleh imbalan kepuasan dengan ongkos yang
sekecil mungkin. Mayers menjelaskan bahwa ikatan cinta akan lebih langgeng
apabila didasarkan pada persamaan minat dan nilai, saling berbagi perasaan dan
dukungan materi, serta keterbukaan diri secara intim. Kelanggengan sebuah
ikatan perkawinan biasanya juga lebih terjamin apabila masing-masing pasangan
menikah berumur di atas 20 tahun dan berpendidikan baik (Mayers, 1996).
Terdapat perbedaan gender dalam hal kepuasan perkawinan. Studi Robert R.
Bell (1979) menunjukkan bahwa wanita yang menikah mengalami fruatasi, tidak
puas dan tidak bahagia yang lebih besar dibandingkan dengan pria. Hal ini
teritama dialami oleh wanita menikah yang tidak bekerja, karena mereka
mempunyai pilihan terbatas untuk kepuasan pribadi. Rubin (1984) melaporkan
bahwa keluhan umum yang disampaikan wanita dalam pernikahan bahwa suami
mereka tidak peduli pada kondisi emosionalnya dan tidak mengekspresikan
perasaan dan pikiran mereka sendiri.
Namun tidak semua wanita merasa tidak puas dengan perkawinannya. Di Jepang
misalnya, hasil penelitian Nihon Keizai Shinbun (1993) menunjukkan 86,2%
wanita menyatakan puas dengan kehidupan perkawinannya. Kecenderungan
yang sama juga ditemukan di Indonesia,
Hasil penelitian juga menunjukkan, wanita yang merasa puas dengan
perkawinannya lebih menempatkan anak sebagai prioritas utama sebagai sumber
kepuasan, sedankan hubungan suami istri menempati prioritas rendah. Penelitian
Lopata tentang kepuasan wanita yang berperan sebagai ibu rumah tangga
menunjukkan bahwa 38% dari wanita mengatakan anak sebagai sumber
kepuasan dari perannya sebagai ibu rumah tangga. Hanya 9% yang menyukai
suami sebagai salah seorang yang memberikan kepuasan (Fransella & Frost,
1977).
Akan tetapi, fakta penelitian Bernand (1973) menunjukkan bahwa anak
bukanlah salah satu sumber kepuasan utama bagi wanita, sebab ada hal-hal lain
dari anak yang membuat mereka merasa tidak bahagia. Bahkan mungkin
sebaliknya, ketidak hadiran seorang anak justru mendorong hubungan yang
semakin intim dan perasaan kasih saying yang semakin kuat antara suami dan
istri.
Dengan demikian, pada umumnya peran utuma wanita ialah menjadi seorang
istri dan ibu. Pria juga sepakat bahwa pekerjaan rumah tangga dan menjaga anak
merupakan tugas atau pekerjaan wanita. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya
waktu semakin banyak wanita yang menunjukkan peningakatan perhatin dalam
perkembangan karir, sehingga wanita tidak hanya terlambat menikah, tetapi juga
terlambat memiliki anak.
Akan tetapi, ketika banyak wanita yang terlibat dalam dunia karir, berarti pada
saat yang sama mereka dihadapkan pada lebih banyak tuntutan peran yang harus
dimainkan dalam kehidupannya, di satu sisi, wanita karir harus memerankan
beberapa peran tang dituntut oleh pekerjaannya, namun di sisi lainia dituntut
pula untuk memerankan tanggang jawabnya sebagai seorang istri dan ibu rumah
tangga.
Thompson & Walker (1989) mencatat, pernikahan dengan peran ganda memiliki
sisi positif dan negative bagi individu. Salah satu sisi positif utama dari segi
keuangan. Disamping itu, pernikahan dengan peran ganda juga dapat
memberikan kontribusi pada hubungan yang lebih setara antara suami dan istri,
serta eningkatkan harga diri bagi wanita. Sisi negatifnya adakah tuntutan adanya
waktu dan tenaga ekstra, konflik antara peran suami dan istri, dan jika memiliki
anak, perhatian terhadap anak-anak berkurang.
Bagaimana pun juga, wanita yang bekerja akan mengalami konflik peran.
Konflik peran wanita ini dipengaruhi beberapa factor: (1) image wanita tentang
dirinya sendiri; (2) sudut pandang wanita tentang femininitas; (3) pendapat pria
tentang wanita karir dan jenis karirnya. Untuk mengurangi konflik, wanita karir
dituntut melakukan manajemen konflik. Poloma (dalam Fransella & Frost, 1977)
menyebutkan beberapa teknik manajemen konflik bagi wanita dalam
menghadapi tekanan pekerjaannya, yaitu:
• Mendefinisikan situasi secara menyanangkan, contoh: berkata pada dirinya
sendiri “saya menjadi seorang ibu yang lebih baik karena saya bekerja”.
• Mengurutkan peran terpenting, contoh: memprioritaskan kebutuhan keluarga
sebagai kebutuhan yang utama dan pertama.
• “Compartmentalization” – melihara peran terpisah tersebut dalam konsep dan
praktek.
• “Compromise” – contoh: memilah-milah urusan karir tertentu yang tidak perlu
dan menyesuaikannya dengan berbagai tuntutan atau kebutuhan.
Memperhatikan daftar panjang tentang berbagai kesulitan atau problem umum
yang terjadi dalam perkawinan, dapat dipahami bahwa perkawinan yang bahagia
dan langgeng membutuhkan dua orang yang dengan sepenuh hati mempunyai
cukup keterampilan dalam menghadapi dan mengatasi konflik peran dan setiap
probem yang timbul.

 Perkembangan generativitas
Generativitas (generativity), adalah tahap perkembangan psikososial ke-7 yang
dialami individu sselama pertengahan masa dewasa. Cirri utama tahap
generatifitas adalah perhatian terhadap apa yang di hasilkan (keturunan, pruduk-
produk, ide-ide dsb) serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman
untuuk generasi mendatang. Transmisi nilai-niilai sosial ini diperlukan untuk
memperkaya aspek psikoseksual dan aspek psikososial kepribadian. Apabila
generatifitas lemah atau tidak di ungkapkan, maka kepribadian akan mundur,
mengalami pemiskinan, dan stagnasi.
Apa yang disebut Erikson dengan generativity pada masa setengah baya ini ialah
suatu rasa kekwatiran mengenai bimbingan dan persiapan bagi generasi yang
akan dating. Jadi pada tahap ini, nilai pemeeliharaan berkembang. Pemeliharaan
terungkap dalam kepedulian seseorang terhadap orang lain,dalam keinginan
memberikan perhatian pada orang yang membutuhkan serta berbagi dan
membagi pengetahuan dan pengalaman dengan mereka. Nilai pemeliharaan ini
tercapai lewat kegiatan membesarkan anak dan mengajar, member contoh dan
mengontrol.
Daniel Levinson, 1978 (dalam Santrock, 1995) memandang paru kehidupan ini
sebagai sebuah krisis, yang menyakini bahwa usia tengah baya berada diantara
masa lalu dan masa depan, yang berusaha mengatasi kesenjangan yang
mengancam cotinuitas kehidupannya. Dari usia 20 hingga 33 tahun individu
mengalami masa transisi dimana ia haruss menghadapi persoalan dalam
menentukan tujuan yang lebih serius. Selama usia 30an focus perhatian individu
lebih di arahkan pada keluarga dan perkembangan karir. Pada tahun-tahun
berikutnyaselama periode pertengahan dewasa ini individu memasuki fase yang
disebut Levinson dengan fase BOOM – Becoming One’s Own Man (fase
menjadi diri sendiri). Usia 40 individu mencapai kestabilan karir, telah berhasil
mengatasi dan menguasai kelemahan-kelemahan sebelumnya untuk belajar
menjadi orang dewasa, dan sekarang harus menatap ke depan kehidupan yang
akan dijalaninya sebagai orang dewasa usia tengah baya.
Ketika seseorang mensdekati usia 50 tahun, pandanagn mengenai jarak
kehidupan cenderung berubah. Mereka tidak lagi memandang dalam pengertian
waktu, tetapi mereka memikirkan mengenai tahun yang tersisa untuk hidup.
Setelah menghadapi kematian orang tua mereka, mereka mulai menyadari
bahwa kematian mereka sendiri merupakan suatu tantangan yang tak
terelakkkan. Pada masa ini, banyak orang yang membangun kembali kehidupan
mereka dalam pengertian prioritas, menetukan apa yang penting untuk dilakukan
dalam waktu yang tersisa.
Menururt hasil penelitian Bernice Neugarden, orang dewasa yang berusia 40,50,
dan awal 60 tahun adalah orang-aorang yang mulai suka melakukan instropeksi
dan banyak merenungkan tentang apa yang sebetulnya apa yang sedang terjadi
pada dirinya. Banyak diantara mereka yang berpikir untuk berbuat sesuatu dalam
sisa waktu hidupnya. Orang dewasa yang berusia 40 tahun ke atas secara mental
juga mulai mempersiapkan diri untuk sewaktu-waktu menghadapi persoalan
yang bakal terjadi. Pria lebih sering memikirkan kesehatannya, serangan jantung
dan kematian. Wanita, disamping juga memikirkan hal-hal tersebut, ketakutan
menjadi janda merupakan persoalan yang banyak membebani pikirannya
(Davidoff, 1988).
 Perkembangan integritas
Integritas (integrity) merupakan tahap perkembangan psikososial Erikson yang
terakhir. Integritas paling tepat di lukiskan sebagai keadaan yang dicapai
seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang, produk-produk dan
ide-ide, serta setelah berhasil melakukan penyesuaian diri dengan berbagai
keberhasilan dan kekebalan dalam kehidupannya. Lawan dari integritas adalah
keputus asaan tertentu dalam menghadapi perubahan-perubahan siklus
kehidupan individu, terhadap kondisi-kondisi sosial dan historis, di tambah
kefanaan hidup menjelang kematiannya. Seseorang yang berhasil menagani
masalah yang timbul setiap tahap kehidupan sebelumnya, maka dia akan
mendapat perasaan ututh atau integritas. Sebaliknya, seorang yang berusia tua
melakukan peninjauan kembaliterhadap kehidupannya yang silamdengan penuh
penyesalan, menilai kehidupannya sebagai suatu rangkaian hilangnya
kesempatan dan kegagalan, maka pada tahun akhir kehidupan ini akan
merupakan tahun yang penuh dengan tahun keputusasaan.
Tahap integeritas ini dimulai kira-kira usia sekitar 65 tahun, dimana orang yang
berada pada usia ini sering disebut sebagai orang usia tua atau orang usia lanjut.
Belakangan ini, masa usia lanjut masih dibagi lagi menjadi dua tahap, yaitu,
tahap usia tua dini dan tahap usia tua dalu. Meskipun batasan umur dari kedua
tahap usia tua ini tidak ditentukan secara tepat, tetapi pada umumnya, usia dini
dimulai pada usia 65-75 tahun. usia di atas 65 tahun, banyak menimbulkan
masalah barru dalam kehidupan seseorang.
Masa pension, yang member waktu luang untuuk di isi, mereka sangat berharap
masih dapat melakukan kegiatan yang bisa ia lakukan untuk memperoleh
kembali identitas diri dan nilainya. Tapi pada sisi lain mereka juga ingin dapat
melepaskan semua itu atau menarik diri dari keterlibatan sosial dan menjalani
hidup kontemplatif.
Berbagai permasalahan dan konflik yang dihadapi pada usia tua ini diatasi
dengan berbagai cara yang berbeda, yang merefleksikan kebiasaan hidup, niilai
dan konsep diri. Bernice Neugarden dan teman-temannya mengidentifikasi
beberapa pola penyesuaian diri yang dilakukan orang-orang tua dengan berbagai
jenis kepribadian tertentu. Biasanya membuat 3 penyesuaian diri yang
memuaskan. Pertama, mengadakan reorganisasi, sebagai pengganti kegiatan
lama dengan yang baru. Kedua, membuat spseialisasi yang terfokus, dimana
mereka hanya memilih satu peran dan memusatkan perhatian pada peran
tersebut (seperti berperan sebaggai suami yang baik, atau berperan sebagai
pelukis yang baik). Ketiga, menarik diri dari keterlibatan sosial, yang dengan
sengaja meninggalkan semua kegiatan sosial yang sebelumnya aktif diikutinya,
tetapi mereka tetap menaruh terhadap minat terhadap dunia dan dirinya sendiri
(Daviidoff, 1988).
Masalah pengendalian diri tampaknya menjadi hal penting bagi orang usia
lanjut. Meskipun mereka pada dasarnya sangat membutuhkan pertolongan orang
lain, namun mereka juga sangat ingin untuk menunjukkkan bahwa dirinya masih
mampu melakukan aktivitas sendiri, dan mereka masih mempunyai kekuatan
dan wewenang. Kebanyakan dari orang-orang yang sudah tua sering kali
berorientasi pada masa lalu, menengok ke belakang tentang apa saja yang telah
mereka perbuat dan bagaimana hasilnya. Peninjauan hidup ini mungkin
merupakan suatu upaya mereka untuk mencari identitas-identitas dirinya yang di
rasa hlang karena merasa disishkan oleh lingkungannya. Sering kali mereka
mencari jawaban atas hall-hal yang sebelumya kurang ia mengerti dan
menyatukan diri kepada keberhasislan dan kegagalan masa lalunya. Dalam
beberapa kasus, mereka berusaha menuliskan riwayat hidupnya sebagai upaya
untuk merasa dekat dengan dirinya sendiri dan masa lalunya.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. SARAN

DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Hj. Samsunuwiyati Mar’at S.Psi, Pikologi Perkembangan, Bandung :


PT Remaja Rosadakarya 2008
Elizabrth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta : Erlangga, 198
Arif Ainur R.(2004) Sistematika Psikologi Perkembangan. Diktat. Surabaya:
F.Dakwah IAIN.
Dr. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar & Mengajar, Bandung : Sinar Baru
Algesindo 2009
Prof. Dr. Hj. Syamsunuwiyati Mar’at, S.Psi. Psiklogi Perkembangan. PT.
Remaja Rosdakarya Bandung 2008