Anda di halaman 1dari 109

CATATAN PERKULIAHAN FARMASI FISIK

(Semester Genap TA 2015-2016)

Kategori : A

Nama : Fariana Dwi M

NPM: 15330020

FARMASI FARMASI-ISTN

2016
TERMODINAMIKA

Termodinamika (bahasa Yunani: thermos = 'panas' and dynamic = 'perubahan') adalah fisika
energi , panas, kerja, entropi dan kespontanan proses.

 Hukum Awal Termodinamika

“Hukum awal menyatakan bahwa dua sistem dalam keadaan setimbang dengan sistem
ketiga, maka ketiganya dalam saling setimbang satu dengan lainnya. Hukum ini dimasukkan
setelah hukum pertama.”

Ilmu Zat :Padat, Cair, dan Gas

a) Gas
- Sifat gas dan Hukum-hukumGas Ideal
- Teori kinetika gas
- Tetapan gas : R dalam satuan Cal/K/mol
J/K/mol
L atm/K/mol

b) Cairan
- Sifat-sifat umum cairan
- Antar muka cairan
- Viskositas cairan

c) Padatan
- Sifat-sifat umum padatan
- Kristal

Termo (thermal ) : Panas atau kalor (q)


Satuan : Kalori,joul
Panas :Beberapa definisi yang terkait dengan panas
- Panas jenis : cal/K/g
- Panas jenis H20 = 1 cal/K/g
- 1 g H20 dari suhu 16,50C → 17,50C
16,50C = 289,50K
17,50C = 290,50K
- Kapasitas panas molar : cal/K/mol
- (Cp pada tek tetap; Cv pada vol tetap)
- Cp 0 untuk setiap substans tercantum dalam Hand Book
Physical Chemistry
- Kapasitas panas molar H20 = 18 cal/K/mol

kapasitas molar

N = massa/mr

N=1/18

1 kal/K : 1/18 mol = 18 cal/K/mol

Dalam ternodinamika: panas/kalor merupakan salah satu bentuk energi dari 7 parameter energi
termodinamik

 Kalor yang dilepaskan atau diserap (Q)


 Kerja pada sistem atau oleh sistem (W)
 Energi dalam (E atau U)
 Enthalpi (H)
 Entropi (S)
 Energi bebas Gibs (G)
 Energi bebas Helmholtz (A atau F)

Panas/kalor: energi yang dipindahkan dari sistem ke lingkungan atau dari lingkungan ke sistem
akibat adanya perbedaan suhu diantara keduanya.

Secara matematis ditulis

dq = C.dt..... integralkan . . . Q = C.∆T Dimana : Q = kalor yang dilepaskan/diserap sistem:


C = Kapasitas panas;∆T= Perbedaan suhu antara sistem dan lingkungan.

Kalor kalor

lingkungan

kalor sistem kalor kalor sistem kalor

lingkungan

kalor b) endoterm
a) eksoterm
Dinamika (Dynamic) : kerja (W)
Satuan : cal,joul,L atm
Dalam dinamika : W=F x a
W pada termodinamika : kerja tekanan – volume

Perumusan kerja (W) tek-vol:


Ekspansi gas di dalam suatu system silinder yang di lengkapi dengan piston yang dapat
bergerak bebas dengan mengabaikan energy gesekan. Sistem berlangsung pada tekanan luar
(Pext) tetap dan pada temperatur tetap.

Bila V2 > V1,

 V1 → V2 :ekspansi
 V2 → V1 : kompresi

System berlangsung pada p (ext) dan temperature tetap

Tekanan yang bekerja pada gas :P (ext) = F/A

→ F= P(ext). A (*)

W=Fxa

W = P(ext). A x (). A (*)

W=Fxa

W = P(ext). A x (h2-h1)

W = P X (V2-V1) = P∆V
W = - P ∆ V (pers W tek-vol)

Penguapan 18 g air pada temperature 1000C dan tekanan 1 atm dalam system kerja tek-vol

H20 (cair,250C ) → H20 (uap,1000C)


Berapa nilai W yang akan di hasilkan oleh proses pada system tsb? Bila diket nilai R =8,314
J/K/mol; R =1,987 Cal/Kmol ; R=0,082 Latm/K/mol.
W= - P∆V = -30.6 Latm
W= -P (V2-V1)
V1 = Vol H2O (cair,250C) = 18 ml atau 0,018 L
V2 = Vol H2O (uap,1000C) = 30,6 L
Nilai W untuk proses perubahan (Zat Cair atau Zat padat) → uap,
Maka:
→ W = - PVuap
→Pers. Alternatif :W = -nRT
Karena (dari contoh di atas): Vsuatu cairan << Vuapnya,
Maka Vol cairan tsb dapat diabaikan terhadap vol uapnya.
Maka hanya vol V2 (vol uap) saja yang diperhitungkan

SISTEM pada Termodinamika


 Setiap system dimana berlangsung suatu proses fisika atau kimia,dapat berupa hal
yang sederhana spt pemanasan air dalam gelas piala dan yang sangat kompleks spt
berbagai reaksi biokimia yang terjadi dalam tubuh manusia
Ada tiga jenis sistem berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi antara sistem dan lingkungan:
 sistem terisolasi: tak terjadi pertukaran panas, benda atau kerja dengan lingkungan.
Contoh dari sistem terisolasi adalah wadah terisolasi, seperti tabung gas terisolasi.
 sistem tertutup: terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) tetapi tidak terjadi
pertukaran benda dengan lingkungan. Rumah hijau adalah contoh dari sistem tertutup
di mana terjadi pertukaran panas tetapi tidak terjadi pertukaran kerja dengan
lingkungan. Apakah suatu sistem terjadi pertukaran panas, kerja atau keduanya
biasanya dipertimbangkanh sebagai sifat pembatasnya:
o pembatas adiabatik: tidak memperbolehkan pertukaran panas.
o pembatas rigid: tidak memperbolehkan pertukaran kerja.
 sistem terbuka: terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) dan benda dengan
lingkungannya. Sebuah pembatas memperbolehkan pertukaran benda disebut
permeabel. Samudra merupakan contoh dari sistem terbuka.
Proses-proses termodinamika gas

Proses isobarik

Diagram proses isobarik

Daerah berwarna kuning sama dengan usaha yang dilakukan.

 Proses isobarik adalah 𝑝𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 keadaan gas pada tekanan tetap.

𝑉2 𝑉1
Persamaan keadaan isobarik: =
𝑇2 𝑇1

Usaha yang dilakukan pada keadaan isobarik: 𝑊 = 𝑝 × ∆𝑉

Proses isokhorik

Digram proses isokhorik.

Grafiknya berupa garis lurus vertikal karena volumenya tidak berubah. Tidak ada usaha yang
dilakukan pada proses isokhorik.

 Proses isokhorik adalah perubahan keadaan gas pada volume tetap.


𝑝2 𝑝1
Persamaan keadaan isokhorik: : =
𝑇2 𝑇1
Proses isotermis/isotermik

Proses isotermik. Daerah berwarna biru menunjukkan besarnya usaha yang dilakukan gas.
Proses isotermik adalah perubahan keadaan gas pada suhu tetap.
Persamaan keadaan isotermik: 𝑝2 × 𝑉2 = 𝑝1 × 𝑉1
Usaha yang dilakukan pada keadaan isotermik:
 Dari persamaan gas ideal

𝑛×𝑅×𝑇
𝑝=
𝑉

Proses adiabatik

Proses adiabatik. Warna biru muda menunjukkan besarnya usaha yang dilakukan.
Proses adiabatik adalah perubahan keadaan gas dimana tidak ada kalor yang masuk maupun
keluar dari sistem.
Persamaan keadaan adiabatik: 𝑝1 × 𝑉1 = 𝑝2 × 𝑉2

Usaha yang dilakukan pada proses adiabatik:


HUKUM TERMODINAMIKA I

1)

 Hukum I termodinamika
"Jumlah kalor pada suatu sistem adalah sama dengan perubahan energi di dalam
sistem tersebut ditambah dengan usaha yang dilakukan oleh sistem."

Hubungan antara kalor dan lingkungan dalam hukum I Termodinamika seperti yang
ditunjukkan pada gambar 1.
Energi dalam sistem adalah jumlah total semua energi molekul yang ada di
dalam sistem. Apabila sistem melakukan usaha atau sistem memperoleh kalor dari
lingkungan, maka energi dalam sistem akan naik. Sebaliknya energi dalam sistem
akan berkurang jika sistem melakukan usaha terhadap lingkungan atau sistem
memberi kalor pada lingkungan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
perubahan energi dalam pada sistem tertutup merupakan selisih kalor yang diterima
dengan usaha yang dilakukan sistem.

Hukum TD I : Hukum kekekalan energy

 Nilai total energy dalam system terisolasi : selalu tetap


 Pada system tidak terisolasi : nilai total energy system dan lingkungan selalu tetap
 Hubungan panas dengan kerja dan energy yang tersimpan dalam system :

∆E = q + W
HK TD I:∆E =Q + W
Q=C.dT
W=-p.dV > W= -P (V2-V1)

Ketentuan dalam menggunakan pers hk TD I :


 System menyerap panas, maka nilai q = (+)
 System melepaskan panas, mk nilai q = (-)
 System melakukan kerja,maka nilai W = (-)
 Sistem dikenakan kerja, maka nilai W = (+)

 Ketentuan termodinamika I

∆E = q + W ∆E = q – W
1.W =(-) 1.W =(+)
2.w=(+) 2.w=(-)

E : fs. Keadaan
dE : bersifat eksak
2
∫ 𝑑𝐸 = 𝐸 = 2 − 𝐸1 = ∆𝐸
1

∆E : hanya bergantung pada keadaan awal dan akhir.


∮ 𝑑𝐸 = 𝑂
𝑎
∫ 𝑑𝐸 = 𝐸𝐴 − 𝐸𝐴 = 0
𝑎

Q dan W : bukan merupakan fs.keadaan


Dq dan Dw : tidak bersifat eksak
2
∫ 𝑑𝑄 ≠ 𝑄2 − 𝑄1 𝑑𝑎𝑛 ∮ 𝑑𝑄 ≠ 0
1
2
∫ 𝑑𝑊 ≠ 𝑊2 − 𝑊1 𝑑𝑎𝑛 ∮ 𝑑𝑊 ≠ 0
1

dE = Dq + Dw
∆E = Q + W
Perumusan dan perhitungan ∆E system
1) Pada volume tetap :
∆E = Q + W → ∆E = QV –P .∆ V
∆E = QV
2) Pada tekanan tetap :
∆E = Q + W → ∆E = QP – P .∆V
QP = ∆E + P .∆V ……(*)
H = E + PV (entalpi)
H : fs. Keadaan
Hasil integral dari dH = dE + PdV
∆H = ∆E + P∆V………(**)
(*) dan(**):
QP = ∆H

Catatan : untuk entalpi


Untuk setiap perubahan dari keadaan awal ke keadaan akhir yang tidak ada terdapat substans
gas
∆H = ∆E
Bila ada gas :∆H =∆E+P∆V
∆H = ∆E + ∆nRT
Contoh:
1. NaOH+HCl -> NaCl +H2O
10 ml 10 ml 20 ml
∆H =∆E+P∆V=0
2. CaCO3 +2HCl -> CaCl2 +H2O +CO2
∆H = ∆E + ∆nRT

∆n = Jumlah mol Gas Kanan– Jumlah Mol Gas Kiri


=1-0=1

Kapasitas panas molar


Satuan :J/K/mol atau Cal/K/mol
Pada V tetap : CV
Pada P tetap : CP
Cpountuk semua substans tercantum dalam hand book of physical chemistry
Hubungan CV,dan CP) dengan (∆E atau ∆H)
Pada V tetap:
𝜕𝐸 𝜕𝐸
E=fs (T,V) →𝑑𝐸 = (𝜕𝑇 ) 𝑑𝑇 + (𝜕𝑉) 𝑑𝑉

V tetap :
𝑑𝐸 𝜕𝐸
= (𝜕𝑇 ) 𝐶𝑣 =
𝑑𝑇

dE = Cv.Dt → ∆E = Cv ∆T
Pada V tetap:
𝜕𝐻 𝜕𝐻
H = fs (P,T) → 𝑑𝐻 = ( 𝜕𝑇 ) 𝑑𝑇 + ( 𝜕𝑃 ) 𝑑𝑃

Pada P tetap :
𝜕𝐻 𝜕𝐻 𝜕𝐻
𝑑𝐻 ( ) 𝑑𝑇 → = ( ) = 𝐶𝑝
𝜕𝑇 𝜕𝑇 𝜕𝑇
dH = Cp.Dt → ∆H = Cp ∆T
Hubungan Cp dan Cv :
dH = dE + PdV semua di bagi dengan Dt
𝑑𝐻 𝑑𝐸 𝑃𝑑𝑉
= +
𝑑𝑇 𝑑𝑇 𝑑𝑇
Cp = Cv + R
 Catatan
Cv=Untuk gas atomic Cv = 3/2 R
Untuk Gas molekuler Cv = 5/2 R (tidak bervibrasi)
Cv=7/2 R (bervibrasi)

Cp= Nilai Cp gas atomic tidak dapat di pengaruhi oleh suhu


Nilai Cp gas atomic < Cp gas molekuler

Exspansi reversible gas ideal secara isothermal :


2 2 𝑛𝑅𝑇
W = -∫1 𝑝𝑑𝑣 → 𝑊 = − ∫1 𝑑𝑉
𝑉
𝑉2 𝑃2
W = - nRT𝜏𝑛 𝑉1 … … … . 𝑊 = 𝑛𝑅𝑇𝑙𝑛 𝑃1

Catatan : tidak terjadi perubahan energy dalam pada eksapansi gas secara reversible dan
isothermal
∆E = Q + W
→ ∆E = 0→ Q = -W
Ekpansi reversible gas ideal secara adiabatic
→ system terisolasi secara termal
∆E = Q + W→W = ∆E
W = Cv.
𝑇1 𝑉2 𝑇1 𝑃1
= (𝑦 − 1) = ( ) (𝑦 − 1)/𝑦
𝑇2 𝑉1 𝑇2 𝑃2

Latihan:
1. Proses penguapan 36 gram H2O berlangung dalam suatu system kerja tekanan-
volume pda suhu 1000 C dan tekanan eksternal 1 atm. Diketahui panas penguapan
H2O Pada 1000 C = 40.67 kj mol-1 ; R =8,314 JK-1 mol-1berapa :
a. Nilai kerja yang di lakukan system menentang tekanan
eksternal
b. Peningkatan energy internal (1 atm )
c. Peningkatan energy total system
2. Suatu system ekspansi reversible gas berisi 14 gram nitrogen. Berapa besarnya
kerja maksimun di hasilkan system bila volume gas terekspansi secara
isothermal pada suhu 700C hingga menjadi 3 kali volume semula. ( di ketahui : R
= 8,314 JK-1 mol dan berat molekul N2 = 28,0 g mol -1). Wmax = 1,57 kj

Jawab :
1. Diketahui:
n=2
R=8,314 JK-1 mol-1
T=100 + 273 = 373
A .W= - n.R.T
= - 2 .8,314 JK-1 mol-1. 373K
W = - 6.202 Joule
b. ∆E = q + W
= 81,314 + ( - 6,202)
∆E = 75,14 joule
c. ∆H = dE + W
=75,14+ -(6,2)
∆H = 81,34 Joule
2. Diketahui:
T=70 C = 343 K
n= massa/mr = 14/28 = 0,5
v2 3 kali lebih besar dari pada V1

W=-nRTln V2/V1
= -0,5 x 8,314 x 343 X ln 3/1 = -1566 joule

Pengertiaan istilah ∆H pada perubahaan fisika dan kimia

 pada proses/perubahan fisika,Misalnya:


panas sublimasi
panas peleburan
panas penguapan
panas pelarutan
dsb.
 Pada proses/perubahan kimia,Misalnya:
Panas pembentukan
Panas pembakaran
Panas oksidasi
Panas hidrolisis
Panas ikatan
Dsb.

∆H : panas reaksi

Setiap reaksi kimia selalu di sertai oleh perubahan panas (perubahan entalpi)
Termokimia (lihat Hk Hess)

Reaksi kimia:

REAKTAN → PRODUK ; ∆H = ?

Hg + Ig HI(g); ∆H =? kcal/mol

0,5 H2(g) + 0,5 I2(s) → HI(g) ;∆H = 6,2 kcal/mol


0,5H2(g) → HI(g); ∆H = 52,1 kcal/mol

0,512(g) → Ig; ;∆H = 18,1 kcal/mol

0,5 H2(g) + 0,5 I2(s) → HI(g) ; ∆H = 6,2 kcal

H(g) → 0,5H2(g); ∆H = -52,1 kcal

Ig → 0,512(g); ∆H = -18,1 kcal

H(g) + I(g) → HI(g) ; ∆H = -64,0 kcal

Hitung ∆H pembakaran C2H2(g) : ∆H = ?

Dik :

C2H2(g) → 2C(s) + H2(g) ; ∆H = -54,2 kcal

CO2(g) →C(s) + O2(g) ; ∆H = 94,1 kcal

H2O(1) → H2(g) + 0,5O2(g); ∆H = 68,3 kcal

Jawab:

C2H2(g) + 2,502(g) →2CO2(g) + H2O(1)

∆H = -310,7 kcal

C2H2(g) → 2C(s) + H2(g) ; ∆H = -54,2 kcal

(C(s) + O2(g); ∆H = -94,1 kcal)x2

H2(g) + 0,5O2(g) → H2O(1) ; ∆H = -68,3 kcal

C2H2(g) +2,5O2(g) →2CO2(g)+H2O(1);∆H = -310,7 kcal


“ENTALPI REAKSI PEMBETUKAN STANDAR”

Atau “perubahan entalpi reaksi pembentukan standar”.∆H0f

 Adalah nilai ∆H untuk membentuk 1 mol suatu senyawa dari unsur unsur
pembentukan nya yang di ukur pada suhu 298K dan tekanan 1 atm.

∆H0f untuk semua ubstans nilainya tetap dan dapat di lihat dalam hand book of physical
chemistry.

Contoh:

H2(gas) + 0,5O2(gas) →H2O(1); ∆H0f(1) = -285,85 kJ mol-1

REAKTAN → PRODUK ; ∆H0reaksi= ?

Satuan : kcal mol-1 atau kJ mol-1

Contoh:

∆H0 𝑟𝑒𝑎𝑘𝑠𝑖 = ∑ ∆𝐻0f (produk)− ∑ ∆𝐻0f (react)

∆H0reaksi = (+) ; reaksi endoterm

∆H0reaksi = (-) ; reaksi exoterm

C2H6(g) + 3,502(g) →2CO2(g) + 3H2O(g);

∆H0reaksi =?

Dik : ∆H0f( kJ mol-1)

Untuk C2H6 = -85; O2(g) =0; CO2(g) =-393; H2O(g) = -242

∆H0reaksi = {(2𝑥393) + (3x-242)}-(-85)

= -1427 kJ mol-1
Ketergantungan ∆H0f pada suhu :

dH =CpdT

d(∆H0f) = ∆Cpreaksi dT

2 2
∫1 𝑑(∆H0f) =∆Cpreaksi∫1 dT

∆H0f(T2) - ∆H0f(T1) = ∆Cpreaksi (T2-T1)

atau:

∆H0f(T2) = ∆HOf(T1)+∆Cpreaksi (T2-T1)

Berapa ∆HOfH2O(g) pada suhu 700C

Dik:

∆H0fH2O(g) pada suhu 250C = -242 kJ mol-1

Cp0 untuk H2O(g) = 34 JK-1 mol-1 ; H2(g) = 29JK-1 mol-1; O2(g) =29 JK-1 mol-1

H2(g) + 0,5O2(g) → H2O(g)

∆Cpreaksi = 34 –{29+(0,5x29)}= -9,5 JK-1 mol-1

∆H0f H2O(g,70C) =∆H0f H2O(g,25C) + ∆Cpreaksi (343-298)=

= -242 kJ mol-1 + (-9,5 x 10-3 Kjk-1 mol-1) (45K)

∆H0f H2O(g,70C) = -242,43 kJ mol-1

HUKUM II TERMODINAMIKA

Hukum II Termodinamika memberikan batasan-batasan terhadap perubahan energi yang


mungkin terjadi dengan beberapa perumusan.

Bunyi Hukum II Termodinamika

“kalor mengalir secara alami dari benda yang panas ke benda yang dingin, kalor tidak akan
mengalir secara spontan dari benda dingin ke benda panas”.
System Spontan
terisolasi
Entropi meningkat

System terisolasi yang berlangsung spontan mengalami peningkatan entropiproses spontan:


setiap proses yang berlangsung tanpa bantuan energy

Pengertian Entropi

Termodinamika menyatakan bahwa proses alami cenderung bergerak menuju ke


keadaan ketidakteraturan yang lebih besar. Ukuran ketidakteraturan ini dikenal dengan sistem
entropi. Entropi merupakan besaran termodinamika yang menyerupai perubahan setiap
keadaan, dari keadaan awal hingga keadaan akhir sistem. Semakin tinggi entropi suatu sistem
menunjukkan sistem semakin tidak teratur.

 Entropi ,S : tingkat ketidakteraturan

S:fs keadaan

(lihat uraia fs keadaan untuk E)

2
∫ 𝑑𝑆 = S2 − S1 = ∆S
1

Untuk suatu system yang mengalami peningkatan entropi,maka

S2< S1 → ∆S < 0

Untuk system terisolasi, apakah proses nya berlangsung spontan atau tidak spontan,dapat
dilihat langsung dari nilai ∆Ssist,yaitu bila ∆Ssist >0: proses spontan dan bila ∆Ssist,<0: proses
tidakspontan.
Pada system yang tidak terisolasi:

Proses spontan atau tidak spontan,harus dilihat nilai total ∆Ssist,dan ∆Slingk. Yaitu

∆Ssist, + ∆Slingk = ∆Stotal

∆Stot >0 : proses spontan

∆Stot < 0: proses tidak spontan

Perubahan entropi suatu system di rumuskan oleh clausius ( 1865) dengan menggunakan
prinsip system yang reversible:

𝑞
Ds = 𝑇 (pers untuk system reversible)

Dimana q:qrev

Pada tekanan (P) tetap, qrev =∆H

dH
dS ; ∆H : proses fisika ataupun proses kimia.
𝑻

∆𝐻
Penyelesaian integralnya : ∆S = 𝑇

Pada proses reversible yang mengalami perubahan suhu :

∆𝐻 ∆𝐻 𝐶𝑝.∆𝑇 18,07
∆S = 𝑇 → ∆S = 𝑇 = = 122,1 =1,48
𝑇

𝐶𝑝.∆𝑇
Dalam pers differensial : ∆S = (T2-T1)
𝑇

𝐶𝑝.𝑑𝑇
𝑑𝑆 = 𝑇

2
2
𝑑𝑇
∫ 𝑑𝑆 = 𝐶𝑝 ∫
1 𝑇
1

CATATAN:

Pada suhu tertentu

∆𝐻
∆𝑆 =
𝑇
Pada rentangan suhu

𝑇2
∆𝑆 = 𝐶𝑝. 𝐼𝑛
𝑇1
 Berapa (energy) pana yang di perlukan untuk meningkatkan suhu 2 liter air dari suhu
kamar (250C) hingga mendidih (1000C), Bila diketahui bobot jenis air = g ml-1dan
kapaitas pana molar air (pada tekanan 1 atm) = 18 cal K-1 mol-1
 Hitung perubahan entropi peleburan asam benzoate bila di ketahui panas peleburan
asam benzoate = 18,07 kJ mol-1 dan titik lebur aam benzoate = 122,10C
 Hitung peningkatan entropi untuk perubahan H2O(1,50C) →H2O(g,100C).Bila diketahui Cp
H2O(1) = 75 JK-1mol-1 : Cp H2O(g) = 34 JK-1 mol-1 dan panas penguapan H2O(1) = 41 kJ
mol-1
𝑇2
H2O(1,278K) → H2O(1,373K) ; ∆S =𝐶𝑝𝑙𝑛 𝑇1
∆𝐻
H2O(1,373) → H2O(g,373); ∆S = 𝑇
𝑇2
H2O(g,373) → H2O(g,383) ;∆S =𝐶𝑝𝑙𝑛 𝑇1

Proses reversible atau (proses yang dapat balik pada titik keseimbangan)

∆𝐻
1. ∆S = 𝑇
𝑇2
2. ∆S =𝐶𝑝𝑙𝑛 𝑇1 (dengan cara merubah suhu)

Proses irreversible atau (proses yang tidak balik atau tidak pada titik keeimbangan)

∆𝑯
∆S > 𝑻 → T∆S > ∆H

CATATAN:

∆𝐻
∆S > 𝑇 = Spontan

T.∆S > ∆H =Spontan

∆H-T.∆S<0 =Spontan

∆H - T∆S <0 :proses spontan

G=H –TS (ananvailable tidak tersedia) atau energy bebas gibbs

G : fs keadaan

G : available energy
Nilai ∆G0f substans tercantum dalam hand book phys.chem

Dalam satuan kcal mol-1 atau kJ mol-1

dG =dH =TdS

2 2 2

∫ 𝑑𝐺 = ∫ 𝑑𝐻 − 𝑇 ∫ 𝑑𝑆
1 1 1

∆G = ∆H =T∆S (hasil dari persamaan)

∆G <0 : Spontan → negative spontan

∆G > 0: tidak spontan → positif tidak spontan

 Hitung perubahan energy gibbs reaksi pembakaran glukosa dalam perubahan pada
suhu 370 C diketahui nilai entalpi pembentukan standar (∆H0f) dan entropi standar (S0)
berturut turut untuk : C6H12O6 = -1275 kJ mol-1 ; CO2(g) = -393 kJ mol-1 dan 214 JK-1
H2O(1) =-285 Kj mol-1 dan 70 JK-1 mol-1 ; O2(g) = 0 Kj mol-1 dan 206 JK-1
1. Reaksi
2. ∆Hreaksi =-2793 kJmol-1;
3. ∆Sreaksi =0,255 Kjk-1 mol-1;
4. ∆Greaksi = -2872,05 kJmol-1;
Jawab:
∆G = ∆H – T. ∆S
Mencari ∆H∑ ∆𝐻 0f - ∑ ∆𝐻0f
{6x(-393)-6x(-285)}-{-1275+(0)}=
-648-(-128) = -520 kJ mol-1
Mencari ∆S∑ 𝑆0(padat) - ∑ 𝑆0(reaksi)
{(6x214) + (6x70)} – (213+(6x206)
=170 – 145
=250 JK-1 mol-1

∆G =∆H –T ∆S
= -2793-(310) .0,255
= -2872,05 KJ-1 mol-1
Jadi, reaksi berlangsung secara spontan,karena hasil dari ∆G yang (-).
Gabungan Hk T.D.I dan II

dE = dq + Dw (Hk.I)

dq = TdS (Hk.II) dE = TdS - PdV


 Pada V tetap : dE = TdS
 Pada S tetap : dE = - PdV

G = H – TS ; →nilai G ditentukan oleh perubahan nilai E,P dan V,

(dH = dE + PdV + VdP),

Maka :

dG = De + PdV + VdP – TdS –SdT

dG = De + PdV + VdP – (dE + PdV) –SdT

dG = VdP – SdT

 Pada T tetap : dG = VdP


 Pada P tetap : dG = -SdT

Pada V tetap :

(nilai G bergantung pada tekanan)

dG = VdP

𝑑𝑃
Gas ideal :𝑑𝐺 = 𝑛𝑅𝑇 → Persamaan
𝑃

2 2
𝑑𝑃
∫ 𝑑𝐺 = 𝑛𝑅𝑇 ∫
𝑃
1 1

𝑃2
∆G = 𝑛𝑅𝑇 ln 𝑃1

Berapa perubahan energy bebas gibbs bila 1 mol gas di kompressi dari 1 atm menjadi 10 atm
pada suhu 250 C. Diketahui R=8,314 JK-1 mol-

∆G = 5704,82 J
𝑃2
Prinsip persamaan ∆G 𝑛𝑅𝑇 ln 𝑃1 juga berlaku untuk larutan

𝑎2
∆G =𝑛𝑅𝑇 ln 𝑎1

Dimana:

n= mol solute

a2 = aktifitas solute keadaan akhir

a1 = aktifitas solute keadaan awal

untuk larutan larutan encer,aktifitas solute = konsentrasi dari larutan encer solute tersebut di
dalam medium pelarutnya.

*). Berapa energy tersedia yang di perlukan ginjal untuk menstranfer 0,1 mol urea dari
plasma darah ke urin pada suhu 370 C, bila diketahui konsentrasi urea dalam plasma darah =
0,005 M dan konsentrasi urea dalam urine = 0,33 M dan R = 8,314 JK-1 mol-1

∆G = 1079,8 J atau = 1,08 kJ

Jawab:

Diketahui:

R = 8,314

𝑐2
∆G =𝑛𝑅𝑇 ln 𝑐1

0,33
= 0,1 . 8,314.310.0,005

= 0,1 . 8,314 .310.66

= 1079,8 joule
Ketergantungan nilai entropi pada tekanan :

𝑝2 ∆𝐺 𝑝2
∆G 𝑛𝑅𝑇 ln 𝑝1 → = 𝑛𝑅𝑇 ln 𝑝1
𝑇

𝑝2 𝑝2
-∆S 𝑛𝑅𝑇 ln 𝑝1 → ∆S = −𝑛𝑅𝑇 ln 𝑝1

+ endergonic analog dengan endopern

_ eksegonik

Di atas nilai ∆G lebih eksegonik dari pada ke adisi ∆TP yang di bawah ∆G lebih endergonic
dari pada di atas

Walaupun tidak ada system yang dapat di buat reversible seratus persen,namun ada beberapa
yang mendekati.contoh yang paling baik dari kedapatan balikan adalah yang menyangkut
pengukuran potensial dari suatu sel elekrto kimia menggunakan metode potensimetri suatu
molekul yang pada permulaannya mengabsorbsi cahaya ultraviolet untuk mencapai sesuatu
keadaan teriksitasi dan kemudiaan memancarkan cahaya ultraviolet atau cahaya tanpak pada
waktu kembali ke tingkat dasar,dikatakan mengalami photoluminescence.emisi dari cahaya
ini dapat di gambarkan sebagai fluoresensi atau fosforensensi,bergantung ada mekanisme
yang mana electron akhirnya kembali ke keadaan dasar.

Keseluruhan mekanisme dapat digambarkan sebagai berikut

S0 + Ultaviolet → S* → S0 + Fluoresensi

(keadaan (Singlet)

dasar)

T* → S0 + Fosforesensi

(Triplet)
Hukum III termodinamika

Hukum termodinamika terkait dengan temperature nol absolute. Hukum ini menyatakan
bahwa “pada saat suatu system mencapai temperature nol absolute, semua proses akan
berhenti dan entropi system akan mendekati nilai minimum”. Hukum ini juga menyatakan
bahwa “entropi benda berstruktur Kristal sempurna pada temperature nol absolute bernilai
nol”.

Berdasarkan persamaan entropsi 1 perubahan entropi suatu zat dapat mencapai nilai
absolutnya pada suhu tertentu, sehingga pengukuran perubahan entropi dari satu suhu
tersebut ke suhu lainnya.

Hukum ketiga termodinamika memberikan dasar untuk menetapkan entropi absolut suatu zat,
yaitu entropi setiap kristal sempurna adalah nol pada suhu nol absolut atau nol derajat Kelvin
(K). Pada keadaan ini setiap atom pada posisi yang pasti dan memiliki energi dalam terendah.

Entropi dan energi bebas Gibbs juga merupakan fungsi keadaan sehingga kedua besaran ini
memiliki nilai pada keadaan standart, seperti halnya dengan entalphi. Hasil pengukuran
standart untuk entropi dan Energi bebas Gibbs juga dilakukan pada keadaan 25oC dan
dengan tekanan 1 atm.

Energi bebas Gibbs pembentukan standart memiliki arti perubahan energi bebas yang
menyertai reaksi pembentukan satu mol senyawa dari unsur-unsur penyusunnya. Demikian
pula untuk entropi standar yang dapat dipergunakan untuk menentukan entropi reaksi sebagai
harga pembandingnya.
BIOENERGETIKA

Aliran energy melalui sel hidup

Energi Foton
(Cahaya Matahari)

H2O

FOTOSINTETIK
POSPORILASI
H2 O MANUSIA & HEWAN
CO2
NH3 ~𝐏
N2

KH, LIPID
PROTEIN
JALUR-JALUR
(tanaman) METABOLISME

NADH2

NADPH2

O2

POSPORILASI
OKSIDATIF
ENERGI UNTUK :
Biosintesis
Kerja mekanik
ATP (Kontraksi otot)
Kerja syaraf
Kerja transport
Standar energy bebas dari dari hidrolisis beberapa organofosfat biokimia yang penting.

Senyawa ∆G0 kkal/mol

Fosfoenol piruvat - 14,8

Karbamoil fosfat - 12,3

1,3 – bifosfogliserat - 11,8

Keratin fosfat - 10,3

Asetil fosfat - 10,1

Arginine fosfat - 8,1

ATP → ADP → pi - 7,3

Glukosa -1- fosfat - 5,0

Fruktosa -6- fosfat - 3,8

Glukosa – 6- fosfat - 3,8

Gliserin – 3- fosfat - 2,2


FOSFOENOL 1,3- bisofosfogliserat

PIRUVAT fosforilasioksidatif

SUKINIL

koA

~𝐏
kreatin ~𝐏
~𝐏

kreatin

ATP

Siklus

ATP/ADP

ADP ~𝐏

FOSFORILASASI

Aktifasi dan pro

SGS endergo

NIK LAINNYA

GLISEPOL 3-P

Glukosa GP

GLUKOSA 1-6

BISFOSFAT
GLUKOSA(c6) GLIKOGEN(c612)

HEKSOSA FOSFAT

C6

TRIOSA FOSFAT

C3

NADH +

NADH

PIRUVAT LAKTAT

C3 C3
C 0 P

HC OH fosfogliserat kinase C OH

CH2 O P ADP ATP HC OH

(1,3-bisfosfogliserat)

CH2 O P

(3-fosfogliserat)

C - OH

piruvatlinase C - OH C - OH

C–O–P spontan

ADP ATP C - OH C=0

CH2

CH2 CH3
( asam pruvat)

P-N H2N

C =NH kreatinkinase C = NH

H3C -N

H3N – N

CH2

CH2

COOH

(keratin fosfat) COOH

(keratin)
BIOENERGETIKA REAKSI KOPEL

GLUKOSA t-p + H2O →GLUKOSA + Pi ; ∆G0 = + 13,8 kJ/mol

ATP → ADP + Pi ; ∆G0 = -36,8 Kj/mol

GLUKOSA + ATP GLUKOSA – G – P + ADP ∆G0 = + 13,8 kJ/mol


∆G0 = -36,8 Kj/mol
ATP ADP ∆G0 = -23,0 kJ/mol
(proses posforilasi)

∆𝐻 𝐻𝑣𝑒𝑏 𝐼
LUP= +𝑡
𝑅 𝑇

∆𝐻𝑉𝑝
- = 4,9
𝑅

∆Hev = 8,314 x (4,9 x 103)

LATIHAN:

Tekana uap pada suhu 200C = 17,5 35 mmHg dan pada suhu 300C =31,824 mmHg, hitung
panas penguapan air dalam interval suhu ini (∆Hvap = 10,53 kcal/mol)

Jawab:

Diketahui :

p1 = 200C =17,535 mmHg

P2 = 300C =31,824 mmHg

∆Hvap = 10,53

𝑃2 Δ𝐻𝑣𝑎𝑝 1 1
LUP =
𝑃1 R
(𝑇1 − 𝑇2)

31,824 10,53 1 1
= = = =
17,534 1,987 293 303

= 0,11mol-1
KESEIMBANGAN FASA
Fasa adalah suatu system yang homolog yang mempunyai batas yang system
Kondisi keseimbangan
Proses spontan (suatu system) pada temperature dan tekanan tetap,
- ∆G < 0
Adapun bila system berada dalam keadaan setimbang,
- ∆G = 0
1. Kesetimbangan fase sunstans murni :
System terdiri dari single sunstans (sunstans murni). Transisi fase single sunstans
sebagai fungsi temperature dan tekanan, Seperti yang di perlihatkan oleh contoh
“keseimbangan fase air sebagai fungsi temperature dan tekanan (pada system
tertutup)”.Seperti yang di perlihatkan dalam kurva berikut ini.

Gambar Diagram fasa. Tm adalah titik leleh normal air, , T3 dan P3 adalah
titik tripel, Tb adalah titik didih normal, Tc adalah temperatur kritis, Pc adalah
tekanan kritis.
Diagram fasa merupakan cara mudah untuk menampilkan wujud zat
sebagai fungsi suhu dan tekanan. Sebagai contoh khas, diagram fasa air diberikan
di Gambar. Dalam diagram fasa, diasumsikan bahwa zat tersebut diisolasi
dengan baik dan tidak ada zat lain yang masuk atau keluar sistem.
Sepanjang garis titik lebur : padat ↔cair ………..∆G =GI - GS
Sepanjang titik garis didih : cair ↔ uap/gas ………∆G =Gg –G1
Sepanjang garis titik sublimasi : padat ↔ uap/gas ……..∆G =Gg -GS
Dalam keadaan setimbang, pada titik lebur, ……∆G =0, …….. Gs =GI
Pada titik didih ……∆G = 0, ……. GI =Gg
Pada titik sublimasi ...…..∆G =0, ….. GS=Gg
Aturan fasa :
Aturan fasa gibbs , (J.Willard Gibbs,1876): Aturan ini menyatakan bahwa
Untuk kesetimbangan apapun dalam sistem tertutup, jumlah variabel bebas-disebut
derajat kebebasan F- yang sama dengan jumlah komponen C ditambah 2 dikurangi jumlah
fasa P, yakni,
F = C –P +2
F : derajat kebebasan;C: bilangan komponen:P; bilangan fasa
F : maksimum bila P=1
Catatan pada kesetimbangan fae H2O :
Berdasarkan nilai F untuk masing masing daerah
- Daerah fase padat,cair dan gas masing masing memiliki nilai F=2 (bivariant).
- Daerah sepanjang garis titik sublimasi,lebur,penguapan masing masing
Memiliki nilai F=1(univariant). Di masing masing daerah ini H2O berada dalam
keseimbangan dua fase.
- Daerah titik triple (T0 memiliki nilai F=0 (invariant),pada titik T ini H2O berada
dalam keseimbangan 3 fase (padat,cair dan gas)
Energy bebas gibbs H2O pada keseimbangan 2 fase misalnya pada keseimbangan fase
Cair → gas …... G1 = GG
dG = VdP – SdT (lihat persamaan ini pada catatan p;ertama)
maka V(1)dP – S(1)dT =V(g)dP –S(g)dT …. susun lalu akan di dapat
𝑑𝑃 ∆𝑆
∆SdT = ∆VdP ……. .𝑑𝑃 = ∆𝑉
𝑑𝑃 ∆𝐻
Pada system dalam kesetimbangan (2 fase),𝑑𝑉 = 𝑇∆𝑉 …..(pers.clapeyron)

Persamaan ini khususnya berguna bila di terapkan pada titik transisi cair ↔ uap
𝑑𝑃 ∆𝐻𝑣𝑎𝑝
…….. = …… T : temperature didih
𝑑𝑇 𝑇∆𝑉𝑣𝑎𝑝

∆V = Vuap – Vcair ……… Vcair<< Vuap


𝑅𝑇 𝑑𝑃 ∆𝐻𝑣𝑎𝑝
∆V = 𝑇 … … . 𝑃𝑑𝑇 = …… (pers.clasius-clapeyron)
𝑅𝑇 2
𝑑𝑃 ∆𝐻𝑣𝑎𝑝 𝑑𝑃
……. 𝑃𝑑𝑇 = …… (𝑑𝑇 = 𝑑 ln 𝑃)
𝑅𝑇 2
𝑑 ln 𝑃 ∆𝐻𝑣𝑎𝑝
……. = ……
𝑑𝑇 𝑅𝑇 2
Pada titik perubahan fase,(missal :cair →gas) pada setiap tekanan dan suhu tertentu maka
∆𝐻𝑣𝑎𝑝 1 1 ∆𝐻𝑣𝑎𝑝
……..In P = − +𝐶 ….. plot: In p vs 𝑇 → slope = −
𝑅 𝑇 𝑅

Persamaan ini dapat di gunakan untuk ,menghitung panas penguapan (∆H) suatu cairan
Contoh:data temperature – tekanan uap n-octana diketahui seperti berikut n-octana hitung
nilai panas penguapan n-octana,bila R = 1,987 Cal K-1 mol-1
Temperature (0C) : -14,0 19,2 45,1 . 65,7 104,0 125,O
Tekanan (mmHg) : 1 10 40 100 400 760
Jawaban:
∆Huap = 9,57 kcal K-1 mol-1 atau 40,0 kJ-1 mol-1
Persamaan clasius-clapeyron juga dapat di integralkan antara 2 nilai batas suhu dengan
asumsi bila nilai ∆Huap konstan dalam rantangan 2 batas suhu tersebut
2 ∆𝐻𝑣𝑎𝑝 2 𝑑𝑇 𝑃 Δ𝐻𝑣𝑎𝑝 1 1
∫1 𝑑 ln 𝑃 = ∫1 …… ln 𝑃2 = − (𝑇 = 𝑇 )
𝑅 𝑇2 1 R 2 1

𝑃2 Δ𝐻𝑣𝑎𝑝 1 1
atau : ln 𝑃1 = (𝑇1 − 𝑇2)
R

CATATAN Keseimbangan fase

 Sistem (proses fisika/kimia) 1. Keseimbangan fase zat murni padat ↔ cair


(sistem/kompenen) cair ↔ gas
Berdasarkan nilai ∆G nya padat ↔ gas
2. Keseimbangan fase campuran
∆G > 0 = Spontan (sistem multi komponen)
(2 komponen)
∆G < 0 = Non spontan (3 komponen)

FASE LARUTAN

Homogen Homogen

Padat Padat persamaan

Cair Cair

Gas Gas

Tunggal / murni
perbedaan
campuran campuran
2). Keseimbangan fase multi komponen :

Suatu system yang tertutup (pada suhu dan tekanan konstan) terdiri dari C komponen (C = 1,
2, 3,..) dan P fase (P = a ,b ,c ,….),berada dalam keadaan setimbang. Untuk system campuran,
parameter potensial kimia (yaitu energy bebas molar parsial) lebih tepat di gunakan dari pada
energy bebas molar.

G = f (T ,P, n1,n2,….)

𝜕𝐺 𝜕𝐺 𝜕𝐺 𝜕𝐺
…… 𝑑𝐺 = ( 𝜕𝑇 ) P,,n1,n2 .𝑑𝑇 + ( 𝜕𝑃) T,n1,n2, 𝑑𝑃 +(𝜕𝑛1)P,T,n2, 𝑑𝑛1 +(𝜕𝑛2)P,T,n1, 𝑑𝑛2 + ⋯

𝜕𝐺
……..( )p,T,nj = µ𝑖 … … … … µ𝐢 ∶ 𝐩𝐨𝐭𝐞𝐧𝐬𝐢𝐚𝐥 𝐤𝐢𝐦𝐢𝐚
𝜕𝑛𝑖

…..µi : dipengaruhi oleh tekanan,suhu dan komposisi.

…… 𝑑𝐺 = −𝑆𝑑𝑇 + 𝑉𝑑𝑃 + ∑ µ𝑖 𝑑𝑛𝑖

……. Pada P dan T konstan …. 𝑑𝐺 = −𝑆𝑑𝑇 + 𝑉𝑑𝑃 + ∑ µ𝑖 𝑑𝑛𝑖

Ketergantungan potensial kimia pada tekanan:

µi =µi* + RT In Pi.

µi* : potensial kimia komponen gas I pada Pi = 1 atm

……µi = konstan + RT ln (Variable komposisi)

……Persamaan ini dapat diterapkan unruk larutan

……µi = µi* + RT In ai………dimana ai aktivitas komponen i.

…...ai yiCi …… y : koefisien aktivitas komponen I,dan C: konsentrasi komponen i

System tertutup yang terjadi dari fase P dan komponen C dan berada dalam keadaan
setimbang, potensial kimia dari masing masing individual komponen mempunyai nilai yang
sama dalam semua fase

……→ µi(a) =µi(b) =… µi(p)


2a). Keseimbangan fase 2 komponen:
(keseimbangan fase sistem biner)

F = C – P + 2 ….. Fmax= ?

Tipikal kurva keseimbangan fase system biner ??


2b). Keseimbangan fase 3 komponen:
 TIPE-TIPE DIAGRAM FASE

1. Diagram Fase 2 D (Dimensi)


Diagram fase yang paling sederhana adalah diagram tekanan-temperatur
dari zat tunggal, sepertiair. Sumbu-sumbu diagram berkoresponden dengan
tekanan dan temperatur. Diagram fase pada ruang tekanan-temperatur
menunjukkan garis kesetimbangan atau kesetimbangan fase antara tiga fase padat,
cair, dan gas
Diagram fase yang umum. Garis titik-titik merupakan sifat anomali air. Garis
berwarna hijau menandakan titik beku dan garis biru menandakan titik didih yang berubah-
ubah sesuai dengan tekanan.
Penandaan diagram fase menunjukkan titik-titik dimana energi bebas bersifat non-
analitis. Fase-fase dipisahkan dengan sebuah garis non-analisitas, dimana transisi fase
terjadi, dan disebut sebagai kesetimbangan fase. Pada diagaram diatas, kesetimbangan fase
antara cair dan gas tidak berlanjut sampai tak terhingga. Ia akan berhenti pada sebuah titik
pada diagaram fase yang disebut sebagai titik kritis. Ini menunjukkan bahwa pada temperatur
dan tekanan yang sangat tinggi, fase cair dan gas menjadi tidak dapat dibedakan, yang
dikenal sebagai fluida super kritis. Pada air, titik kritis ada pada sekitar 647K dan 22,064
Mpa (3.200,1psi).

2. Diagram Fase 3 D (Dimensi)

Grafik tiga dimensi (3D) yang menunjukkan tiga kuantitas termodinamika. Sebagai
contoh, untuk sebuah komponen tunggal, koordinat 3D Cartesius dapat menunjukkan
temperatur(T), tekanan(P), dan volume jenis(v). Grafik 3D tersebut kadang-kadang disebut
diagram P-v-T. Kondisi kesetimbangan akan ditunjukkan sebagai permukaan tiga dimensi
dengan luas permukaan untuk fase padat, cair, dan gas. Garis pada permukaan tersebut
disebut garis tripel, dimana zat padat, cair, dan gas dapat berada dalam kesetimbangan.
3. Diagram Fase Biner

4. Diagram Fasa Senyawa dengan Titik Lebur Sebangun (Kongruen)

5. Diagram Fasa Senyawa dengan Titik Lebur Tak Sebangun (Inkongruen)


5. Diagram Fasa Senyawa dengan Titik Lebur Tak Sebangun (Inkongruen)
6. Diagram Larutan Padat
Sifat-sifat Larutan padat adalah sebagai berikut :
a) terbentuk dalam sistem kristal yang sama, ukuran ion atau molekul yang (relatif) sama
b) membentuk seri dengan perubahan sifat fisik dan kimiawi yang menerus.
c) Membentuk seri menerus dalam Deret Bowen 10
d) larutan homogen, komponen yang satu terbagi secara merata dalam kristal komponen yang lain

7. Diagram Terner (Ternary Diagram)


LARUTAN
 Larutan Ideal
Adalah larutan dengan zat terlarut ionik didefinisikan sebagai larutan yang ion-
ionnya dalam larutan bergerak bebas satu sama lain, dan tarik menarik hanya terjadi dengan
molekul pelarut.
 HUKUM RAOULT
“tekanan uap larutan ideal dipengaruhi oleh tekanan uap pelarut dan fraksi mol zat terlarut
yang terkandung dalam larutan tersebut”

Secara matematis, hukum Raoult untuk satu komponen dalam larutan ideal ditulis sebagai
𝑝𝑖 = 𝑝𝑖∗ 𝑥𝑖
Pi= tekanan uap parsial komponen i pada campuran gas
𝑝𝑖∗ = tekanan uap komponen murni i,
𝑥𝑖 = fraksi mol komponen i dalam campuran
Ketika komponen dalam campuran telah mencapai kesetimbangan, total tekanan uap pada
campuran dapat ditentukan dengan menggabungkan hukum Raoult dengan hukum
Dalton menjadi.......
𝑝𝑖 = 𝑝𝐴∗ 𝑥𝐴 +𝑝𝐵∗ 𝑥𝐵
Penyimpangan Hukum Raoult
a. Penyimpangan positif
Penyimpangan positif hukum Raoult terjadi apabila interaksi dalam masing–masing zat lebih
kuat daripada interaksi dalam campuran zat ( A – A, B – B > A – B). Penyimpangan ini
menghasilkan entalpi campuran (ΔHmix) positif (endotermik) dan mengakibatkan terjadinya
penambahan volume campuran (ΔVmix > 0). Contoh penyimpangan positif terjadi pada
campuran etanol dan n–hekasana.
b. Penyimpangan negatif
Penyimpangan negatif hukum Raoult terjadi apabila interaksi dalam campuran zat lebih kuat
daripada interaksi dalam masing–masing zat ( A – B > A – A, B – B).]Penyimpangan ini
menghasilkan entalpi campuran (ΔHmix) negatif (eksotermik) dan mengakibatkan terjadinya
pengurangan volume campuran (ΔVmix < 0). Contoh penyimpangan negatif terjadi pada
campuran aseton dan air.[6]

Hukum Raoult tentang aktivitas air


Aktivitas air adalah ukuran derajat keterikatan air. Berdasarkan keterikatannya, air dibedakan
menjadi air bebas, air terikat fisik, dan air terikat kimia.

Bunyi hukum Raoult tentang aktivitas air adalah: "Aktivitas air berbanding lurus dengan
jumlah molekul di dalam pelarut dan berbanding terbalik dengan molekul di dalamlarutan"
Secara matematis dapat ditulis sebagai:
Dimana:
 Aw --> Aktivitas air
 n1 --> jumlah molekul yang dilarutkan
 n2 --> jumlah molekul pelarut

 Larutan non ideal


Larutan non ideal adalah larutan yang gaya antar atom-atom, ion-ion, atau molekul
molekul harus dipertimbangkan dalam perhitungan.
 HUKUM HENRY
“tekanan uap pasial suatu zat terlarut di dalam larutan encer sebanding secara
proposional dengan fraksi mol nya”

Persamaan Hukum Henry :

P=kH X
kH = konstanta hukum henry, X = fraksi mol
Peningkatan tekanan parsial gas di atas cairan meningkatkan jumlah gas terlarut dalam cairan
kH tergantung pada suhu .

c = kP

c = konsentrasi ( M ) dari gas terlarut


k = konstanta ( mol / Latm ) yang hanya bergantung pada suhu
P = tekanan gas di atas larutan
KELARUTAN GAS DALAM CAIRAN :

Kelarutan gas dalam cairan berarti kemampuan gas yang bertindak sebagai terlarut
untuk dapat larut dalam cairan yang bertindak sebagai pelarut masing-masing pada komposisi
dan jumlah tertentu.
Prinsip kelarutan gas dalam cairan adalah "like dissolve like" yang berarti zat pelarut
dan terlarut saling melarutkan, apabila mempunyai kemiripan kepolaran.

GAS + CAIRAN →LARUTAN


(larutan gaseous dengan tekanan)

Kelarutan gas dalam suatu cairan bergantung pada :


- Tekanan
o Kelarutan gas dalam cairan akan meningkat jika tekanan meningkat, begitupun
sebaliknya jika tekanannya menurun maka kelarutan suatu gas dalam cairan juga
menurun. Kelarutan gas dalam cairan ini meningkat karena jika tekanan di
tingkatkan berarti kita paksa gas tersebut masuk kedalam larutan, malah kelarutan
gas dalam cairan dinyatakan dalam satuan atm.
- Temperatur
o Kelarutan suatu gas dalam cairan juga ditentukan oleh temperatur, dimana jika
temperaturnya tinggi, maka kelarutan gas dalam cairan akan semakin kecil begitu
pula jika temperatur suhunya diturunkan maka kelarutan suatu gas dalam cairan
makin mudah.
- Reaksi kimia (bila terjadi reaksi)
- Adanya garam

Contoh larutan gaseous :


- Larutan HCL
- Larutan Ammonia
- Minuman berbuih (mengandung CO2 )
- Produk aerosol ( CO2 atau N2 )
Efek tekanan :
Hukum Henry:
Dalam keadaan setimbang (pada temperature konstan),”konsentrasi gas yang
terlarut dengan tekanan parsial gas (dalam fase gas)”

→ Kelarutan gas meningkat bila tekanan diperbesar

Untuk larutan tidak encer, satuan konsentrasi gas: fraksi mol(“Xi”)


Untuk larutan encer, satuan konsentrasi gas: molar (“M”)

Efek temperatur :
Kelarutan gas menurun bila temperatur diperbesar

→ Catatan: - hati hati membuka tutup larutan gaseous ( misal dalam botol) pada
kondisi panas
- misalnya untuk membuka tutup larutan gaseous etil nitrat lakukan
dengan direndam dalam air

Efek reaksi kimia :

Kelarutan suatu gas yang bereaksi dengan cairan (pelarut) lebih tinggi daripada
Kelarutan suatu gas yang tidak bereaksi dengan cairan pelarut

Misal: kelarutan HCL 10000 kali kelarutan O2 dalam H2O

Larutan-larutan gaseous (terjadi reaksi), tidak memenuhi hukum Henry, seperti


larutan HCL,ammonia dan CO2

Efek adanya garam :

Bila keadaan larutan gaseous ditambahkan garam/elektrolit, akan terjadi salting out
(“pembebasan gas”)

Hal ini disebabkan terjadinya atraksi ion-ion elektrolit dengan molekul H2O

Misalnya: kedalam “carbonated solution” ditambah sedikit garam, akan terjadi salting
out
*). Hitung bobot molekul suatu senyawa disakarida yang dilarutkan sebanyak 24,1 g
Kedalam 1000g H2O pada suhu kama(25°C), berdasarkan data(percobaan) berikut:
Tekanan uap larutan ini =23,73 mmHg, dan diketahui tekanan uap H 2O =23,76
mmHg Pada suhu 25°C dan bobot molekul H2O= 18,0 g mol-1.
(P0pel – Plar) = Xi. P0pel
𝑛𝑧 .𝑡𝑒𝑟𝑙 0
0,03 mmHg = p pel
𝑛𝑝𝑒𝑙

24,1 𝑔 55,5 𝑚𝑜𝑙 ×0,003 𝑚𝑚𝐻𝑔


=
𝐵𝑀 𝑋 23,76 𝑚𝑚𝐻𝑔
24,1 𝑔
= 0,07 mol
𝐵𝑀 𝑋
24,1 𝑔
BM X = = 344,29 g mol-1
0,07 𝑚𝑜𝑙

*). Latihan:
3 gram urea dilarutkan kedalam 500g air.
Berapa titik beku larutan bila diketahui titik beku normal air = 0°C dan
Kf= 1,86 K/molal dan
BM urea, (NH2)2C)= 60g/mol
∆𝑇𝑓 = 𝐾𝑓 . 𝑚
1000(𝑔 𝑢𝑟𝑒𝑎)
∆𝑇𝑓 = 𝐾𝑓 𝑔 𝑎𝑖𝑟 × 𝐵𝑀 𝑢𝑟𝑒𝑎 = 0,186 K

Titik beku lar = - 0,186°C


*). Titik beku larutan dari 2g suatu zat turunan benzen yang dilarutkan dalam 100g
benzen mengalami penerunan sebesar 0,6095°C. Hitung bobot molekul zat
tersebut,diketahui titik beku benzen = 5,5°C.
Konsentrasi molal (m):
1000𝑔 ×𝑔 𝑧.𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
m=
𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 ×𝐵𝑀 𝑧.𝑡𝑒𝑟𝑙𝑟𝑡

∆𝑇𝑓=𝐾𝑓.𝑚
∆𝑇𝑓
m=
𝐾𝑓

1000𝑔 ×𝑔 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 ∆𝑇𝑓


=
𝑔 𝑧.𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 ×𝐵𝑀 𝑧.𝑡𝑒𝑟𝑙𝑟𝑡 𝐾𝑓

1000𝑔 × 𝑔 𝑧. 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝐵𝑀 𝑧. 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 = 𝐾𝑓
∆𝑇𝑓 × 𝑔 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
1000 𝑔 ×2 𝑔
BM z.terlarut = 5,12 K mol-1 = 168 g mol-1
0,6095𝐾 ×100𝑔
Penyimpangan sifat koligatif larutan (aquous) elektrolit
Solute Conc t.beku Conc 𝜋(atm)
C6H12O6 1m -1,86°C 0,01 M 0,224
KCL 1m -3,45°C 0,01 M 0,435
NiCl2 1m -5,38°C -
BaCl2 - 0,01 M 0,610

Faktor Van Hoff:

𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑘𝑜𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑢𝑘𝑢𝑟


𝑖=
𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑘𝑜𝑔𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙

𝑖 = 1 untuk larutan non-elektrolit


𝑖 > 1 untuk larutan elektrolit
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑟𝑡𝑖𝑘𝑒𝑙 𝑡𝑒𝑟𝑑𝑖𝑠𝑜𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖
𝑖=
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑎𝑟𝑡𝑖𝑘𝑒𝑙 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑑𝑖𝑠𝑜𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖

I = 2, 3, dst untuk lar elektrolit kuat dan i bergantung pada nilai 𝛼 untuk larutan elektrolit
lemah
(𝑖−1)
I = 1 + 𝛼 (v-1) atau 𝛼=
(𝑣−1)

Contoh: Larutan asam asetat, v = 2


*). Didapat titik beku larutan asam asetat 0,01 m=-0,0194°C
Tentukan nilai derajat disosiasi larutan,
Selanjutnya tetapkan nilai Ka lar Hac.

∆𝑇𝑓 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑎𝑡𝑎𝑛 0,0194


i= = = 1,043
∆𝑇𝑓 𝑛𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 0,0186

(𝑖−1)
𝑎= = 0,043 𝑎 = 4,3%
(𝑣−1)
𝑎2𝐶
Ka = = 1,93 × 10-5
(1−𝑎)
Sifat-Sifat Koligatif larutan:

 Sifat sifat umum yang dimiliki larutan:


 Penurunan tekanan uap
 Kenaikan titik didih
 Penurunan titik beku
 Tekanan osmosis

Penurunan tekanan uap:

Misalnya: Larutan terdiri dari 2 komponen


A = pelarut
B = z.terlarut non-volatil
Hk.Raoult : PA = XA . P°A
(XA = I – XB)
PA = (I-xB)P°A

P°A- PA = XB . P°A

Untuk Lar encer: 𝑛𝐵⁄𝑛𝐴 karena: nB << nA

𝒏𝑩
P°A- PA = 𝒏𝑨P°A

P°A- PA = penurunan tekanan uap


P°A = tek. Uap pelarut murni
PA = tek.uap larutan

Kenaikan titik didih:


Z. terlarut menurunkan tekanan uap
z. terlarut juga akan menyebabkan kenaikan titik didih

𝑃° +∆𝐻
𝐿𝑛( 𝑃 ) = 𝑅𝑇𝑇° (T-T°)

Diturunkan dari pers. Claueius-Clapeyron


dimana: P° = tekanan uap pelarut murni pada titik didihnya (T°)
P = tekanan uap larutan pada titik didihnya (T)
Perubahan titik didih sangat kecil
TT° = T°2
𝑅𝑇°2 𝑃°
T - T° = + 𝐿𝑛
∆𝐻 𝑃
+𝑹𝑻°𝟐 𝑷°
Atau ∆𝑻𝒅 = 𝑳𝒏
∆𝑯𝒗𝒂𝒑 𝒑

Hk Raoult: P = XA . P° dimana XA = fraksi mol p


𝑃
𝐿𝑛 𝑃° = 𝐿𝑛 𝑋𝐴
𝑃
𝐿𝑛 = 𝐿𝑛(1 − 𝑋𝐵 ) dimana XB = fraksi mol zat terlarut
𝑃°

Bila XB kecil
Maka: 𝐿𝑛(1 − 𝑋𝐵 ) = −𝑋𝐵 Menurut Derec Me.Laurin
𝑃 𝑃°
𝐿𝑛 𝑃° = −𝑋𝐵 → 𝐿𝑛 = 𝑋𝐵
𝑃
𝑹𝑻°𝟐
∆𝑻𝒅 = . 𝑿𝑩
∆𝑯𝒗𝒂𝒑

𝑛𝐵
Untuk Larutan encer: 𝑋𝐵 = 𝑛𝐴

(krn nB <<< nA)


𝑅𝑇°2 𝑊𝐵 .𝐵𝑀𝐴
∆𝑇𝑑 = ∆𝐻𝑣𝑎𝑝 𝑊𝐴 .𝐵𝑀𝐵

𝑅𝑇°2 𝐵𝑀∆ 1000 𝑊𝐵


∆𝑇𝑑 = .
∆𝐻𝑣𝑎𝑝 .1000 𝑊𝐴 𝐵𝑀𝐵

(Kd) (molalitas)
∆𝑻𝒅 = 𝑲𝒅. 𝒎
Kd = konstanta kenaikan t.didih molal

Penurunan titik beku:


Dg cara penurunan rumus yang sama dg kenaikan titik didih,akan diperoleh bahwa:
Penurunan titik beku Lar konsentrasi mol
𝑅𝑇°2 𝐵𝑀𝐴
∆Tb = . 𝑚 atau ∆𝑇𝑏 = 𝐾𝑏. 𝑚
1000.∆𝐻𝐿𝑒𝑏

Kb = konstanta penurunan t.beku molal


Nilai Kd dan Kb bbrp pelarut:

Pelarut Kd(°K molal-1) Kb(°K molal-1)


Air 0,512 1,86
As.asetat 2,93 3,90
Benzen 2,53 4,90
Fenol 3,56 7,40
Nitrobenzen 5,24 7,0

Tekanan osmosis:

 Osmosis :
peristiwa mengalirnya pelarut murni melalui membran semi permeabel ke larutannya.
 Tekanan osmosis:
Tek.luar yang harus dikenakan pd larutan untuk mencegah mengalirnya molekul-molekul
pelarut murni apabila larutan dan pelarutnya dipisahkan oleh membran semipermeabel

 Osmosis: prosesnya berlangsung lambat(bbrp jam –


bbrp hari).
 Larutan isotonik: larutan larutan yang memperoleh
tekanan osmosis yang sama.

Setelah proses osmosis mencapai keseimbangan:

Tinggi cairan pada kolom larutan > tinggi cairan pada kolom pelarut

𝑔𝑎𝑦𝑎 𝐴ℎ𝑑𝑔
Tek osmosis (𝜋) = =
𝑙𝑢𝑎𝑠 𝐴

𝜋 = dgh

A : Luas penampang kolom


d : berat jenis larutan
g : 980,7 cm det-2
h : tinggi cairan dalam larutan
 Tek osmosis suatu lar berbanding lurus dengan suhu absolut

𝜋
= konstanta .....(*)
𝑇

 Tek osmosis suatu lar berbanding lurus dengan konsentrasi molernya

𝜋
= konstanta .....(**)
𝑀

𝜋
(*) & (**) : 𝑀𝑇 = konstanta

Konstanta = konstanta gas ideal

𝜋 = 𝑅𝑀𝑇 M = konst.molar
Atau
𝑛𝐵
𝜋= RT
𝑉

nB = mol/zat terlarut
V = vol larutan dalam L

PRINSIP LARUTAN ISOTONIK DAN PENGATURAN TONISITAS


LARUTAN

Tonisitas :
Membandingkan tekanan otomatis antara dua cairan yang dipisahkan oleh membran
semi permeabel.
Dalam sistem osmosis, dikenal 3 tipe larutan :
 Larutan isotonik :
- dua larutan yang mempunyai konsentrasi solute sama
- dalam sistem fluida biologis,konsentrasi solute diluar cell = didalam cell.
 Larutan hipotonik :
- Larutan dengan konsentrasi solute (yang diintroduksi) lebih rendah
- dalam sistem fluida biologis,konsentrasi solute diluar cell < didalam cell.
 Larutan hipertonik :
- larutan dengan konsentrasi solute (yang diintroduksi) lebih tinggi
- dalam sistem fluida biologis, konsentrasi solute diluar cell > didalam cell
Difusi Osmotik terjadi bila konsentrasi antar 2 larutan yang terpisah dengan membran tidak
sama maka molekul air akan berdifusi melewati membran dari konsentrasi tinggi sampai
kedua konsentrasi larutan seimbang.

PERHITUNGAN PENGATURAN TONISITAS LARUTAN :


I. Metode penurunan titik beku :
- Metode paling teliti dan mudah
- Penurunan titik beku suatu larutan tergantung dari jumlah bagian dalam larutan
tersebut, untuk larutan encer penurunan titik beku seanding dengan tekanan osmosis

∆𝑇𝑓
1a). Tf = Liso M ..... M=𝐿
𝑖𝑠𝑜

Dimana
M = konsentrasi molar NaCl yang diperlukan untuk mencapai nilai ΔTf = 0,52
ΔTf = 0,52 – Δtflarutan obat dan Liso = Liso NaCl Liso=3,4

𝑥 ∆𝑇
1b). = 𝑓
0,9 0,52

Dimana
X = banyaknya gram NaCl yang dibutuhkan agar larutan isotonis
ΔTf = 0,52 – ΔTflarutan obat
II. Metode Metode ekuilvalensi NaCl :
Ekivalensi dengan NaCl adalah sejumlah NaCl yang memberikan efek osmosa yang
sama dengan 1 gram zat terlarut. Angka ini berlainan untuk setiap zat

𝐿𝑖𝑠𝑜
E = 17,2 𝐵𝑀

0,52
Liso = ..... M: konsentrasi molar larutan (isotonis) obat
𝑀

Banyaknya NaCl yang diperlukan = (0,9 – E)

Contoh:
 Berapa banyaknya NaCl diperlukan dalam penyiapan 100 mL larutan Pilokarpin
Hidroklorida 1% agar larutan isotonik terhadap fluida tubuh.
Diketahui:
ΔTf larutan Pilokarpin Hidroklorida 1% = 0,13 K, dan ΔTf larutan NaCl 0,9 = 0,52 K dan
bobot molekul NaCl = 58,5 g mol-1 .

Penyelesaian:
ΔTf 0,39
Cara I.a): M=𝐿 = 3,4 = 0,1147 .... jadi konsentrasi NaCl = 0,1147 mol L-1 .
𝑖𝑠𝑜

Banyaknya larutan isotonis pilokarpin hidroklorida 1%,


dilarutkan 1 g pilokarpin hidroklorida dan 0,671 g NaCl dengan air..
ad 100 mL.
𝑋 ΔTf 𝑋 0,39
Cara I.b): = .... = .... X = 0,675 g
0,9 0,52 0,9 0,52

Jadi NaCl yang diperlukan = 0,01147 mol= 0,01147 mol × 58,5 g mol-1 =
0,675 g.
Jadi dalam preparasi 100 mL pilokarpin hidroklorida 1%, Dilarutkan 1 g
pilokarpin hidroklorida dan 0,675 g NaCl dengan air .. ad 100 mL.
Cara II : Cara ini diperlukan data konsentrasi Liso larutan Pilokarpin Hidrokklorida,
yakni diketahui = 4,08% , dan bobot molekul Pilokarpin Hidroklorida
(diketahui = 244,72 g mol-1)
𝐿
𝑖𝑠𝑜
E = 17,2 𝐵𝑀
0,52
Dimana Liso = 𝑀

Konsentrasi Liso larutan Pilokarpin Hidroklorida = 4,08%\


4,08 𝑔 40,8 𝑔 0,1667 𝑚𝑜𝑙
yakni = 100 𝑚𝐿 = = = 0,1667 M
𝐿 𝐿
0,52
Liso = 0,1667 = 𝟑, 𝟏𝟐
𝐿
𝑖𝑠𝑜 3,12
E = 17,2 𝐵𝑀 = 17,2244,72 = 0,22

NaCl diperlukan = (0,9 – E) = (0,9 – 0,22) g = 0,68 g


Jadi dalam preparasi 100 mL pilokarpin hidroklorida 1%, Dilarutkan 1 g
pilokarpin hidroklorida dan 0,68 g NaCl dengan air .. ad 100 mL.

Koefisien osmotik:
Faktor van’t Hoff pada larutan elektrolit

Persamaan tekanan osmosis untuk :


- Larutan non-elektrolit : 𝜋 = RTM
Larutan elektrolit : 𝜋 = iRTM

- Berapa tekanan osmosis larutan NaCl 0,9% pada suhu 25°C.


Diketahui bobot molekul NaCl = 58,5 g mol-1,
Faktor van’t Hoff (“i”) larutan NaCl = 1,9 dan R = 0,082 L atm K-1 mol-1.

Konsentrasi molar NaCl 0,9% = 0,9g NaCl/100 mL (=9,0g NaCl/L) ... = 0,1538
𝜋 = iRTM
𝜋 = (1,9)(0,082 L atm K-1 mol-1)(298 K)(0,1539 mol L-1) = 7,14 atm

Perhitungan tonisitas larutan dengan menggunakan Liso


Larutan isotonik terhadap fluida tubuh (darah): larutan yang mempunyai titik
Beku = - 0,52°C ..... Tf nya = 0,52
Larutan NaCl 0.9% ..... memiliki Tf = 0,52
Liso larutan NaCl 0.9%:
Untuk larutan non-ideal : ..... Tf = KfM
..... larutan elektrolit : ..... Tf = iKfM
..... iKf =Liso ..... Tf = LisoM

Berapa nilai Liso larutan NaCl 0.9% ..... (0,1538 M) ?


∆𝑇𝑓
Liso =
𝑀
0,52
Liso = 0,1538 = 3,4

Metode pengaturan tonisitas


1. Berapa banyaknya NaCl diperlukan dalam penyiapan 100 mL larutan benadril
hidroklorida 1% agar larutan isotonik terhadap darah merah.
Diketahui Tf larutan apomorfin hidroklorida 1% = 0,12 dan Tf larutan NaCl 1% =
0,58. Bobot molekul NaCl = 58,5 g mol-1.
Nilai Tf fluida tubuh adalah 0,52
NaCl ditambahkan agar larutan tersebut isotonik terhadap darah merah, maka
banyaknya penambahan NaCl tsb harus dapat menambah nilai Tf larutan sebesar
0,40 (yakni = 0,52 – 0,12).
∆𝑇𝑓 0,40
Berapa banyaknya? ..... M=𝐿 = = 0,1176
iso 3,4

Jadi diperlukan jumlah NaCl dalam 100 mL larutan benadril hidroklorida 1% tersebut
sebanyak 0,01176 mol atau = 0,01176 mol × 58,5 g mol-1 = 0,69 g
..... diperlukan 0,69 g NaCl

Jadi dalam preparasi: ..... dilarutkan 1,0 g benadril hidroklorida dan


0,69 g NaCl kedalam air ... ad 100 mL.
Metode NaCl equivalent (Mellen and Seltzer, 1936)
Berdesarkan Nilai kesetaraan Natrium Klorida: E

E : Banyaknya kandungan NaCl (dalam larutan) yang penurunan titik bekunya sama besarnya
dengan penurunan titik beku 1 gram obat yang terkandung dalam larutan tersebut.
Nilai kesetaraan NaCl (“nilai E”) untuk suatu obat didefinisikan sebagai nilai E (dalam gram)
obat tersebut per 1000 mL larutan, ..... maka:

1𝑔
∆Tf = Liso NaCl 𝑀

𝐸
Tf = 3,4
58,45

Δ𝐿𝑖𝑠𝑜
..... Nilai E (kesetaraan NaCl) untuk suatu obat, adalh, E = 17,2 M

2. Berapa gram banyaknya NaCl ditambahkan kedalam 100 mL larutan atropin sulfat
1% agar larutan isotonik terhadap darah.
Diketahui BM atropin sulfat = 694,82 g mol-1 dan Liso atropin sulfat 1% = 5,3

𝐿𝑖𝑠𝑜 5,3
E = 17,2 = 17,2 694,82 = 0,13 ...... kesetaraan NaCl (E)etropin sulfat = 0,13 g
𝑀

Jadi banyaknya NaCl yang diperlukan = (0,9 – 0,13) g = 0,77 g


Preparasi larutan:
..... dilarutkan : 1,0 g atropin sulfat dan 0,77 g NaCl kedalam air, ad 100 mL.
KESETIMBANGAN KIMIA: Konstanta Kesetimbangan

1. Keseimbangan : keadaan dimana konsentrasi reaktan dan produk tidak berubah (lagi)
dengan bertambahnya wakt.
2. Keseimbangan juga dapat dinyatakan sebagai suatu proses dimana
keadaan/parameter seperti temperatur, warna, tekanan, dan konsentrasi tidak
memperlihatkan perubahn (lagi) dengan bertambahnya waktu.
Tujuanya adalah untuk menentukan komposisi yang ada pada kondisi kesetimbangan untuk
temperatur dan tekanan tertentu. Suatu parametr penting untuk menentukan komposisi
kesetimbangan adalah konstanta kesetimbangan
Hal ini karena pada reaksi reversible yang berada dalam keadaan setimbang, misalkan
pada reaksi
aA + bB pP + qQ

laju reaksi kekanan = laju reaksi kekiri

 Asas Le Chatelier
Adalah asas yang digunakan untuk memprediksi pengaruh perubahan kondisi pada
kesetimbangan kimia
 Bunyi prinsip Le Chateiler
“Ketika sistem kesetimbangan dilakukan perubahan karena konsentrasi, suhu, volume,
atau tekanan, maka sistem akan menyesuaikan diri sedemikian rupa meniadakan pengaruh
perubahan dan akan menghasilkan kesetimbangan baru”.

 Faktor-faktor yang memoengaruhi kesetimbangan kimia


1. Pengaruh Konsentrasi
Konsentrasi reaktan atau pereaksi memengaruhi pergeseran kesetimbangan.
Beradasarkaan asas Le Chatelier , perlu diperhatikan beberapa, sebagai berikut:
1. Jika ada penambahan konsentrasi pada salah satu pereaksi, maka kesetimbangan akan
bergeser ke kanan (ke arah produk). Sebaliknya, jika ada penambahan konsentrasi
produk, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri (ke arah pereaksi).
2. Jika ada pengurangan konsentrasi salah satu pereaksi, maka kesetimbangan akan
bergeser ke kiri (ke arah pereaksi). Sebaliknya, jika ada pengurangan konsentrasi
produk, maka akan ada pergeseran kesetimbangan ke kanan (ke arah produk).
3. Jika ada pengurangan konsentrasi semua zat yang terlibat reaksi, misalnya dengan
pengenceran atau memperbesar volume, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah
yang jumlah molekulnya banyak.
Contoh:
Misalnya ada persamaan reaksi:
Fe2+(aq) + SCN–(aq) ↔ [Fe(SCN)]2+(aq)
Dengan catatan: warna [Fe(SCN)]2+ adalah merah, maka:
1. Jika ditambahkan ion Fe2+, maka kesetimbangan bergeser ke kanan sehingga
konsentrasi ion [Fe(SCN)]2+ semakin besar. Ini dibuktikan dengan warna merah
makin pekat.
2. Jika ditambahkan SCN–, maka kesetimbangan bergeser ke kanan sehingga konsentrasi
ion [Fe(SCN)]2+ makin besar. Ini dibuktikan dengan warna merah pekat.
3. Jika ada penambahan ion OH–, maka ion ini akan mengikat ion Fe2+, sehingga akan
terjadi pengurangan ion Fe2+.Dengan demikian, kesetimbangan bergeser ke kiri.
Akibatnya, konsentrasi ion [Fe(SCN)]2+ menjadi berkurang.Ini dibuktikan dengan
warna merah memudar.
4. Jika ada penambahan volume atau pengenceran, berarti memperkecil konsentrasi,
maka kesetimbangan bergeser ke jumlah molekul yang besar atau ke kiri, sehingga
warna memudar. Hal ini karena ion [Fe(SCN)]2+ menjadi berkurang.

2. Pengaruh Tekanan dan Volume


Penambahan tekanan atau volume hanya memberi pengaruh pada kesetimbangan
reaksi yang melibatkan gas. Sesuai dengan asas Le Chatelier, memperbesar tekanan akan
memberikan pengaruh yang sama dengan memperkecil volume.
Contoh; penambahan tekanan pada reaksi:
N2(g) + 3H2(g) ↔2NH3(g)
Pada pihak reaktan (sebelah kiri anak panah) mempunyai jumlah koefisien 4 (1 + 3),
sedangkan pihak produk (sebelah kanan anak panah) mempunyai koifisien 2. Karena
penambahan tekanan, berarti kesetimbangan bergeser ke pihak reaksi yang mempunyai
koefisien lebih kecil. Oleh karena itu, pada reaksi di atas, kesetimbangan bergeser ke kanan.
Artinya, konsentrasi NH3 akan bertambah ketika ada penambahan tekanan. Demikian juga
ketika volume diperkecil, maka konsentrasi NH3 menjadi bertambah.
3. Pengaruh Suhu
Menurut asas Le Chatelier , ketika suhu sistem dinaikkan, maka reaksi sistem adalah
dengan menurunkan suhu. Akibatnya, kesetimbangan akan bergeser ke pihak reaksi yang
menyerap kalor (endoterm). Sebaliknya, jika suhu sistem diturunkan, kesetimbangan akan
bergeser ke pihak reaksi yang melepaskan kalor (eksoterm).
Contoh:
N2(g) + 3H2(g) ↔ 2NH3(g) ∆H = -92,2 kJ
Karena ∆H negatif, maka reaksi ke kanan adalah reaksi eksoterm. (Masih ingatkan ya konsep
termokimia, hehe). Sebaliknya, reaksi ke kiri adalah reaksi endoterm.
N2(g) + 3H2(g) ↔ 2NH3(g) ∆H = -92,2 kJ ==> eksoterm
2NH3(g) ↔ N2(g) + 3H2(g) ∆H = +92,2 kJ ==> endoterm
Ketika suhu dinaikkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak reaksi yang menyerap
kalor (endoterm) atau ke kiri. Demikian juga sebaliknya, ketika suhu diturunkan, maka
kestimbangan akan bergeser ke kanan.

4. Pengaruh Katalis
Pengaruh katalis pada reaksi kesetimbangan adalah mempercepat tercapainya kesetimbangan,
tetapi tidak mempengaruhi arah kesetimbangannya itu sendiri
Contoh Soal
Pada reaksi kesetimbangan N2(g) + 3H2(g) ↔ 2NH3(g) ∆H = -92,2 kJ.
Tentukan arah pergeseran kesetimbangan jika:
1. Ditambah konsentrasi N2
2. Ditambah konsentrasi NH3
3. Dikurangi konsentrasi H2
4. Tekanan diperbesar
5. Volume diperbesar
Penyelesaian:
1. Reaksi bergeser ke kanan (ke NH3)
2. Reaksi bergeser ke kiri.
3. Reaksi bergeser ke kiri.
4. Jika tekanan diperbesar, Reaksi bergeser ke jumlah koefisien gas yang lebih kecil,
atau bergeser ke kanan.
5. Jika volume diperbesar, Reaksi bergeser ke jumlah koefisien gas yang lebih besar,
yaitu bergeser ke kiri.
Konstanta Keseimbangan:
Suatu reaksi kimia yang berada dalam keadaan setimbang (dan reversibel) dan
berlangsung dalm sistem homogen (ie. Dalam 1 fase), misalnya seperti reaksi berikut:

aA + bB pP + qQ
(Reaktan) (Produk)

Greaksi = Σ G(produk) – Σ G(reaktan)

G = [p𝜇P + q𝜇Q] – [a𝜇A + b𝜇B]

G0 = [p𝜇 0P + q𝜇 0Q] – [a𝜇 0A + b𝜇 0B]

𝝁i = 𝝁i + RT In Pi ...... untuk larutan 𝝁i = 𝝁i0 + RT In ai


(lihat catatan sebelumnya: ketergantungan potensial kimia suatu komponen pada tekanan,
juga berlaku untuk larutan bahwa potensial kimia suatu solute bergantung pada aktivitas
solute dalam larutan).

Aktivitas: konsentrasi efektif


Aktivitas = koefisien aktivitas x konsentrasi
Koefisien aktivitas: suatu bilangan yang menunjukan besarnya angka penyimangan yang
terjadi dari sifat ideal suatu larutan standar.
Makin encer konsentrasi larutan, nilai koefisien aktivitas makin mendekati 1.

G = [p𝜇P + q𝜇Q] – [a𝜇A + b𝜇B]; dan 𝜇 i = 𝜇 i0 + RT In ai


G = [p𝜇 0P +pRTInaP + q𝜇 0Q + qRTInaQ] – [a𝜇 0A + aRTInaA +b𝜇 0B + bRTInaB]
G = [p𝜇 0P + q𝜇 0Q] – [a𝜇 0A + b𝜇 0B] + [(RTInapP + RTInaqQ) – (RTInaaA + RTInabB)]
𝑎𝑝 𝑃.𝑎𝑞 𝑄
G = G0 + RT In𝑎𝑎 𝐴.𝑎𝑏 𝐵
𝑎𝑎 𝑃.𝑎𝑞 𝑄 (𝑎𝑃)𝑝 .(𝑎𝑄)𝑞
G = G0+ RT In K; ..... dimana K = 𝑎𝑎𝐴.𝑎𝑏𝐵 ..... dimana K =(𝑎𝐴)𝑎 .(𝑎𝐵)𝑏

Sistem dalam keadaan setimbang, ..... ∆G = 0,


..... maka : G0 = - RT In K
..... G0 : perubahan energi bebas standar (reaksi)
..... K : konstanta keseimbangan reaksi

Ketergantungan G0 pada nilai konstanta keseimbangan reaksi (dalam keadaan standar), .....
- bila K < 1 ..... maka nilai G0> 0
- bila K = 1 ..... maka nilai G0 = 0
- bila K > 1 ..... maka nilai G0< 0
1). Hitung disosiasi larutan aquous asam asetat bila diketahui Ka HAc = 1,75 x 10-5 ,dan
R = 1,987 cal K-1 mol-1. Dan sebutkan apakah kecenderungan reaksi lebih kuat kearah
keadaan reaktan atau kearah keadaan produk.
Jawab:
Larutan aquous : pelarutnya air
Asam asetat mengalami disosiasi/penguraian/ionisasi
CH3COOH ↔ CH3COO- + H+
HAc ↔ H+ + Ac-
∆G0 = -RT In K
= -1,987 x 298 In 1,75 x 10-5
= +6485,72 cal mol-1
= +6,485 Kcl mol-1

HAc ↔ H+ + Ac-
←∆G = -6,48
→∆G = +6,48
Jadi reakis lebih kuat cenderung kearah keadaan reaktan karena ∆G = -6,48

Ketergantungan Konstanta Keseimbangan pada Temperatur:


 Persamaan Vant Hoff
Persamaan ini meperlihatkan hubungan ketergantungan nilai konstanta keseimbangan
pada suhu. Dengan mengasumsikan H0 tidak bergantung pada suhu,

..... Lihat lagi persamaan sebelumnya: dG = VdP – SdT


𝜕𝐺
..... (𝜕𝑇 )p = −S
𝜕𝐺
..... G = H – TS →G = H + T (𝜕𝑇 )p ... lalu persamaan ini sama-sama dibagi dengan T2,
𝐺 𝐻 1 𝜕𝐺 𝐺 1 𝜕𝐺 𝐻
..... = 𝑇 2 + 𝑇(𝜕𝑇 )p ..... disusun menjadi: −𝑇 2 + 𝑇(𝜕𝑇 )p = −𝑇 2 .....
𝑇2
𝐺 𝐺
𝐺 1 𝑑𝐺 𝑑( ) 𝜕( ) 𝐻
..... − 𝑇 2 + 𝑇 𝑑𝑇 derivative dari 𝑇
..... ( 𝜕𝑇 )p = −𝑇 2
𝑇
𝑑𝑇
𝐺
𝜕(∆ ) ∆𝐻
..... Pada sistem termodinamik: ( 𝑇
)p = − 𝑇 2 ..... (a*)
𝜕𝑇
∆G0
..... G0 = − RT In K ..... = −R InK ..... (b*)
𝑇
𝑑 𝐼𝑛𝐾 ∆𝐻 0
..... (a*) dan (b*) : = 𝑅𝑇 2 ..... (Persamaan: van’t Hoff)
𝑑𝑇

maka penyelesaian integral persamaan van’t Hoff ini menjadi:


∆𝑯𝟎
InK = − 𝑹𝑻 + konstanta

CATATAN:
Jika persamaan tersebut , ∆H adalah entalpi reaksi pada temperatur T. Persamaan
Vant Hoff menunjukan bahwa ketika ∆H bernilai negatif (reaksi eksotermik). K akan
berkurang dengan temperatur, sedangkan ketika ∆H bernilai positif (reaksi endotermik. K
akan meningkat dengan temperatur

Entalpi reaksi ∆H sering kali mempunyai nilai yang hampir konstan didalam interval
temperatur yang lebar. Pada kasus demikian persamaan diatas dapat diintergralkan untuk
memperoleh:
𝑲𝟐 ∆𝑯𝟎 𝟏 𝟏
In = ( − )
𝑲𝟏 𝑹 𝑻𝟏 𝑻𝟐

Dimana 𝐾1 dan 𝐾2 masing-masing menunjukan konstanta kesetimbangan pada temperatur


𝑇1 dan 𝑇2

Konstanta Keseimbangan, (K):


1. Pada air (H2O), sebagai hasil autoprotolisis, Kw
2. Larutan aqueous (asam dan basa) lemah, Ka pada asam lemah dan Kb pada basa lemah
3. Hidrolisis senyawa garam (dalam larutan aquous), Kh
4. Elektrolit sulit larut (dalam pelarut air), Ksp
5. Ion kompleks, Kd dan Kf

Untuk hal ini, terlebih dahulu (sangat penting) memahami sifat-sifat H2O baik sifat-sifat fisik
maupun sifat-sifat lainnya.
Fisik dan kimia H2O: lihat/pelajari lagi dalam Kimia Dasar
Antara lain:
- H2O: es (padat), cairan dan uap/gas
- Kapasitas panas, panas penguapan, panas peleburan
- Densitas/bobot jenis
- Polaritas
- Ikatan hidrogen
- Kohesi dan adhesi
- Tegangan permukaaan
- Aksi kapiler
- Pelarut universal
- Amfoterik
- Autoprotolisis
- Terionisasi pada derajat yang sangat-sangat kecil

Dalam air: kenapa ada ion H+ dan ion OH- ???!


Karena,H2O : - Amfoterik (mempunyai sifat asam dan basa)
- Autoprotolisi
- Teronisasi dengan derajat yang sangat sangat kecil

Autoprotolisis: Perpindahan proton antara 2 molekul yang sama, yang satu molekul bersifat
sebagai asam Bronsted (donor proton) dan yang satu lagi bersifat sebagai basa Bronsted
(akseptor proton).

Autoprotolisis pada air: H2O + H2O OH− + H3O+

H2 O + H2O OH− + H3O+


(asam) (basa) (basa konyungasi) (asam konyungasi)

... H2O H+ + OH− .... [H+] = [OH−]

Pada suhu 298 K, [H+] = [OH−] = 1.0 × 10-7 mol L-1


..... Kw = [H3O+][OH-] = 1.0 × 10-14
pH: ?!

pH dan pOH dari H2O ?!

pH = − log[H+]
pH = − log (1.0 × 10-7) = 7.0
pOH = − log (1.0 × 10-7) = 7.0

pKw: ?!
 pKw = −log Kw = −log 10-14 = 14
 pKw = pH + pOH = 7 + 7 = 14
pH H2O murni (=7) .....: pH netral
Berapa pH larutan (aqueous)?!
 Larutan asam:
[H+] > 1.0 × 10-7 mol L-1
Kw konstan, maka [OH-] <1.0 × 10-7 mol L-1
Yaitu berdasarkan:
𝐾
[OH-] = [𝐻𝑤+]

 Larutan basa:
[OH-] > 1.0 × 10-7 mol L-1
𝐾
Kw konstan, maka [H+] < 1.0 × 10-7 mol L-1 .. yaitu berdasarkan: [H+] = [𝑂𝐻𝑤− ]
pH larutan (aqueous)
patokan umum:
 Lar netral: [H+] = [OH-], pH =7
 Lar asam : [H+] > [OH-], pH < 7
 Lar basa : [H+] < [OH-], pH > 7

Keseimbangan disosiasi larutan (aqueous) asam lemah


Catatan
 Teori Asam Arrhenius,
- Asam: substans yang menghasilkan ion hidrogen (H+) dalam larutan (aqueous)
( melepaskan ion H+ atau H3O+ dalam air)
 Berdasarkan jumlah ion H+ yang dapat dilepaskan, asam dapat terbagi menjadi
1. Asam monoprotik à melepaskan 1 ion H+
Contoh : asam klorida (HCl)
HCl → H+(aq) + Cl-(aq)
2. Asam diprotik à melepaskan 2 ion H+
Contoh : asam sulfat (H2SO4)
H2SO4 → H+(aq) + HSO4-(aq)
HSO4- → H+(aq) + SO42-(aq)
3. Asam triprotik à melepaskan 3 ion H+
Contoh : asam fosfat (H3PO4)
H3PO4 → H+(aq) + H2PO4-(aq)
H2PO4- → H+(aq) + HPO42-(aq)
HPO42- → H+(aq) + PO43-(aq)

 Teori Asam Bronsted-Lowry,


- Asam: adalah donor potion ( memberi proton (H+) kepada senyawa lain)
Contoh : HCl + H2O --> H3O+ + Cl-
 Teori Asam Lewis,
- Asam: adalah akseptor pasangan elektron
(senyawa dengan elektron valensi < 8)
Contoh : Reaksi antara NH3 dan BF3
H3N + BF3 --> H3NàBF3
Misal: Larutan (aqueous) asam asetat
[𝐻 + ][𝐴𝑐 − ]
Hac H+ + Ac⁻ ..... Ka = [𝐻𝐴𝑐]

..... [H+]2 = Ka [Hac] .....

[H+] = Ka[Hac]
[H+] = KaC
C = konsentrasi larutan asam
→ selanjutnya nilai pH larutan adalah pH = − log [H+]
𝟏 𝟏
Atau pH = 𝟐 𝐩𝐊𝐚−𝟐 𝐥𝐨𝐠 𝐂

Keseimbangan disosiasi larutan (aqueous) basa lemah


catatan:
 Teori Basa Arrhenius,
- Basa: substans yang menghasilkan ion hidroksida dalam larutan (aqueous)
(senyawa yang melepas ion OH- dalam air).
Misalnya pada rekasi antara NaOH dengan H2SO4.
NaOH + H2SO4 → NaHSO4 + H2O
NaHSO4 + NaOH → Na2SO4 + H2O

 Teori Basa Bronsted-Lowry,


- Basa: adalah akseptor proton (senyawa yang menerima proton (H+) dari
senyawa lain).
Contoh : NH3 + H2O --> NH4+ + OH-

 Teori Basa Lewis,


- Basa: adalah donor pasangan elektron ( mempunyai pasangan elektron bebas)
Teori Lewis memberikan penjelasan lain untuk menjelaskan reaksi ini.
Na2O(s) + SO3(g) --> Na2SO4(s)
2 Na+ + O2- --> 2 Na+ + [ OàSO3 ]2-
Misal: Larutan(aqueous) ammonium hidroksida

NH4OH NH4+ + OH⁻ .....


[𝑁𝐻4+ ][𝑂𝐻 − ]
Kb = [𝑁𝐻4 𝑂𝐻]

[OH⁻]2 = Kb [NH4OH]
[OH⁻] = Kb[NH4OH] ..... [OH⁻] = KbC
..... C = konsentrasi larutan basa
→ Selanjutnya nilai pOH larutan adalah pOH = ─ log [OH⁻] dan pH = 14 ─ pOH
𝟏 𝟏
Atau pH = pKw - 𝟐pKb + 𝟐log C

Nilai Ka dan Kb, disamping dapat digunakan untuk menetapkan nilai pH suatu
larutan, juga berguna untuk mengetahui derajat disosiasi suatu larutan (asam lemah ataupun
basa lemah).

Misal: menghitung derajat disosiasi (𝛼) larutan (aqueous) asam asetat.


HAc H+ + Ac⁻ ; 𝛼 = ?
..... Hac H+ + Ac⁻;
(c - 𝛼𝑐) (𝛼𝑐) (𝛼𝑐)

[𝐻 + ][𝐴𝑐 − ] (𝛼𝑐)(𝛼𝑐) (𝑎𝑐)2 𝑎2 𝑐


K𝛼 = = = (𝑐−𝛼𝑐) = (1−𝛼) .....
[𝐻𝐴𝑐] (𝑐−𝛼𝑐)

[(1−𝛼)𝐾a
𝛼=√ 𝑐

..... Untuk larutan (aquous) asam lemah: 𝛼<< 1, (nilai 𝛼 dapat diabaikan), sehingga

𝐾a
..... 𝛼= √𝑐

Catatan : bila nilai 𝛼 tidak diabaikan,maka nilai 𝛼 dihitung dengan rumus berikut:
𝛼2 𝑐
= Ka ..... c. 𝛼 2 + Ka. 𝛼 – Ka = 0
(1−𝛼)

−𝐾a+√[Ka2 +(4c.Ka)]
..... 𝛼= 2𝑐

Dimana c : konsentrasi larutan asam lemah dan


Ka : Konstanta keseimbangan disosiasi asam lemah.
..... prinsip persamaan ini juga berlaku untuk larutan basa lemah dengan mengganti
simbol Ka dengan Kb, dimana Kb : Konstanta keseimbangan disosiasi basa lemah dan
c : konsentrasi larutan basa lemah.
KONSTANTA KESEIMBANGAN pada HIDROLISIS Larutan Aqueous
Garam:
Garam ialah senyawa ionik yang terbentuk oleh reaksi antara asam dan basa. Garam ialah
elektrolit kuat yang terurai sempurna dalam air dan dalam beberapa kasus mereaksi
dengan air.
Hidrolisis senyawa garam dalam larutan aqueous:
Tipe senyawa garam berdasarkan hasil reaksi antara asam dan basa,
1. Garam yang terbentuk dari reaksi asam kuat + basa kuat, misal: NaCl
2. Garam yang terbentuk dari reaksi asam kuat + basa lemah, misal: NH4Cl
3. Garam yang terbentuk dari reaksi asam lemah + basa kuat, misal: NaAc
4. Garam yang terbentuk dari reaksi asam lemah + basa lemah, misal: NH4Ac

Larutan (aqueous) NaCl:


𝐻2 𝑂 𝐻 + + 𝑂𝐻 − Tidak terjadi hidrolisis, maka [H+] dan [OH-] tetap, yakni
𝑁𝑎𝐶𝑙 → 𝑁𝑎 + + 𝐶𝑙 − [H+]=[OH-]= 1.0 ×10-7 mol L-1. pH larutan = 7 (netral)

Larutan (aqueous) NH4AC:


𝐻2 𝑂 𝐻 + + 𝑂𝐻⁻ NH4+ dan Ac⁻ masing-masing terhidrolisis membentuk NH4OH & HAc
𝑁𝐻4 𝐶𝑙 → 𝑁𝐻4+ + 𝐶𝑙⁻ pH hanya bergantung pd nilai Ka dan Kb. pH = 7 bila Ka = Hac.
[𝑁𝐻4 𝑂𝐻][𝐻𝐴𝑐]
NH4+ + Ac⁻ + H2O Kb4OH + HAc ......
NH 𝐾ℎ = [𝑁𝐻4+ ][𝐴𝑐 − ]

[𝑁𝐻4 𝑂𝐻][𝐻𝐴𝑐] [𝐻 + ][𝑂𝐻 − ] 𝐾𝑤


𝐾ℎ = [𝑁𝐻4+ ][𝐴𝑐 − ]
× [𝐻 + ][𝑂𝐻 − ]
..... 𝐾ℎ =
𝐾𝑎 𝐾𝑏

[𝐻 + ][𝐴𝑐 − ] 𝐾𝑎 [𝐻𝐴𝑐]
Hac H+ + Ac⁻ ..... 𝐾𝑎 = ..... [𝐻 + ] =
[𝐻𝐴𝑐] [𝑁𝐻4+ ][𝐴𝑐 − ]

NH4+ + Ac⁻ + H2O NH4OH + Hac


(c-x) (c-x) (x) (x)

𝐾𝑎 [𝐻𝐴𝑐] 𝐾 (𝑥) 𝑥2 𝐾2 .𝐾
[𝐻 + ] = 𝑎
= (𝑐−𝑥) = 𝐾𝑎 √(𝑐−𝑥)2 = 𝐾𝑎 √𝐾ℎ = √ 𝐾𝑎 .𝐾𝑤
[𝐴𝑐 − ] 𝑎 𝑏

𝐾𝑎 .𝐾𝑤
..... [H+] = √ → selanjutnya nilai pH larutan adalah pH = - loh [H+]
𝐾𝑏
𝟏 𝟏 𝟏
Atau pH = 𝟐 𝒑𝑲𝒘 + 𝟐 𝒑𝑲𝒂 -𝟐 𝒑𝑲𝒃
Hitung berapa pH larutan (aqueous) berikut:
ELEKTROLIT Diketahui:
1. Hcl 0,01 M Ka (HAC) = 1.75 X 10-5
2. NaOH 0,01 M Kb (NH4OH) = 1,8 X 10-5
3. HAC 0,01 M Kw = 10-14
4. NH4OH 0,01 M 𝐾𝑎.𝐾𝑤 1,75 𝑥10−5 .10−14
[H+] =√ =√
5. NaCl 0,01 M 𝐾𝑏 1,8 𝑥 10−5

6. NH3Cl 0,01 M =√0,97222 𝑥10−14 = .....


7. NaAc 0,01 M PH = -log [H+]
8. NH4AC 0,01 M = -log [√0,97222 𝑥10−14 = ....

Pengaruh ion senama(“common ion effect”) dan larutan buffer:


Sesuai asas Le Chatelier: penambahan ion senama kedalam suatu reaksi kimia yang
berada
dalam keadaan setimbang akan menyebabkan kesetimbangan tersebut mengalami pergeseran.
Bergeser kearah mana? (ke kiri atau ke kanan?!)

Contoh: kedalam larutan Hac 0,1 M ditambahkan 0,09 mol NaAc, (Ka = 1,75×10-5)
Hac H+ + Ac⁻ (elektrolit lemah/asam lemah)
NaAc (elektrolit kuat), maka dalam larutan, NaAc → Na+ + Ac⁻,dengan demikian
penambahan Ac⁻menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kiri,sehingga [H+]
berkurang, atau pH larutan menjadi lebih tinggi.

Perhitungan: contoh,pH larutan Hac 0,1 M ?!


[H+] = √𝐾 𝑎 [𝐻𝐴𝑐]

[H+] = √(1,75 × 10−5 )(0,1) = 1,32×10-3 ..... pH = 2,88

pH larutan Hac 0,10 M mengandung 0,09 mol NaAc ?!


HAc H+ + Ac − [HAc] = (c − ac), nilai ac diabaikan karena ≪
(c − ac) (ac) (ac)
NaAc → Na+ + Ac − [Ac − ] = (C + ac), nilai ac diabaikan karena ≪
(C) (C) (C)
[𝐻 + ][𝐴𝑐 − ] 𝐾𝑎 [𝐻𝐴𝑐] [𝐻𝐴𝑐] 𝑐
K𝑎 = .... [𝐻 + ] = = 𝐾𝑎 … .. [H+] = 𝐶 K𝑎
[𝐻𝐴𝑐] [𝐴𝑐 − ] [𝐴𝑐 − ]

..... [H+] = 1,94×10-5 ..... pH = 4,71

Catatan:
Ac- dikurangi kesetimbangan geser ke kanan
Ac- ditambah kesetimbangan geser ke kiri
H+ ditambah kesetimbangan geser ke kiri
HAC ditambah kesetimbangan geser ke kanan

Sistem campuran asam lemah ataupun basa lemah yang bercampur dengan ion
senyawa nya,memiliki sifat buffer (penyangga). Ion senama tersebut biasanya berasal dari
senyawa garam. Larutan buffr/penyangga, yaitu larutan yang dapat menahan perubahan pH
ketika sejumlah kecil asam atau basa ditambahkan.

Terdapat 2 tipe sistem larutan buffer:


1* sistem campuran asam lemah dan garamnya, misal: Hac-NaAc
2* sistem campuran basa lemah dan garamnya, misal: NH4OH-NH4Cl

1* Larutan buffer campuran Hac-NaAc


𝐻𝐴𝑐 ⇄ 𝐻 + + 𝐴𝑐 −
𝑐 [𝑎𝑠𝑎𝑚]
(𝑐 − 𝑎𝑐) (𝑎𝑐) (𝑎𝑐) [H+] = 𝐶 K𝑎 ..... [H+] = [𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚] K𝑎
𝑁𝑎𝐴𝑐 → 𝑁𝑎 + + 𝐴𝑐 −
(C) (C) (C) → nilai pH larutan adalah pH = - log [H+]

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
Atau: 𝑝𝐻 = 𝑝𝐾𝑎 + 𝑙𝑜𝑔 (pers. Herdeson-Hasselbalch)
[𝑎𝑠𝑎𝑚]

Catatan: Mekanisme kerja buffer


Penambahan (sedikit) H+, .... H+ + Ac⁻ HAc
Penambahan (sedikit) OH⁻,... OH⁻ + HAc H2O + Ac⁻
2* Larutan buffer campuran NH4OH – NH4Cl

+ [𝑁𝐻4+ ][𝑂𝐻 − ] 𝐾𝑏 [𝑁𝐻4 𝑂𝐻] [𝑁𝐻4 𝑂𝐻]


𝑁𝐻4 𝑂𝐻 𝑁𝐻4+ + 𝑂𝐻 − 𝐾𝑏 = .. [𝑂𝐻 − ] = = 𝐾𝑏
[𝑁𝐻4 𝑂𝐻] [𝑁𝐻4+ ] [𝑁𝐻4+ ]
𝑐 [𝑏𝑎𝑠𝑎]
(𝑐 − 𝑎𝑐) (𝑎𝑐) (𝑎𝑐)[𝑂𝐻 − ] = 𝐾 … .. [𝑂𝐻 − ] = 𝐾𝑏
𝐶 𝑏 [𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
𝑁𝐻4𝐶𝑙 → 𝑁𝐻4+ + 𝐶𝑙 − → 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑝𝑂𝐻 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑂𝐻 = − log[𝑂𝐻 − ]
(C) (C) (C) niali pH larutan adalah pH = 14 – pOH

𝐾
Atau: [H+] = [𝑂𝐻𝑤−]

[𝑏𝑎𝑠𝑎]
𝑝𝐻 = 𝑝𝐾𝑤 − 𝑝𝐾𝑏 + 𝑙𝑜𝑔 [𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚] (pers. Herderson-Hasselbalch)

Catatan : Mekanisme kerja buffer


Penambahan (sedikit) OH-, .... 𝑂𝐻 − + 𝑁𝐻4 + ⇄ 𝑁𝐻4 𝑂𝐻
Penambahan (sedikit) H+, .... 𝐻 + + 𝑁𝐻4 𝑂𝐻⇄ 𝐻2 𝑂 + 𝑁𝐻4 +

Contoh soal:
1. Penyiapan larutan buffer campuran asam asetat – natrium asetat. Berapa rasio molar
[garam]/[asam] yang diperlukan untuk menyiapkan larutan buffer dengan pH= 5,2.
Diketahui Ka asam asetat = 1.75 x 10-5

[H+]=asam/garam.Ka pH= pKa + log garam/asam


pH= -log [H+] 5,2= 4,75
5,2= -log [H+] 5,2 – 4,75= log. garam/asam
[H+]= anti log 5,2 0,45= log. garam/asam
= 0,3x10-6 garam/asam= anti log 0,45
= 2,8
pKa= -log [Ka]
= -log [1,75 x 10-5
= 5 –log 1,75
= 5 – 0,24
= 4,75
Kapasitas buffer (Buffer capacity, 𝜷):
 Besarnya resistensi suatu buffer terhadap perubahan pH.
Istilah lain: Nilai buffer, Efisiensi buffer, Indeks buffer.
 Kapasitas buffer didefinisikan sebagai rasio penambahan basa kuat (atau asam kuat)
terhadap jumlah campuran suatu buffer yang relatif tidak menyebabkan terjadinya
Perubahan pH sistem larutan buffer.
 Kapasitas buffer adalah parameter kuantitatif yang menunjukan kekuatan (resistensi)
untuk mempertahankan pH , diungkapkan oleh persamaan dari Van Slyke berikut :

∆𝐵
𝛽= dimana ∆𝐵: Penambahan (terbatas/sedikit) basa kuat (dalam garis
∆𝑝𝐻

equiv Per liter) ke dalam larutan buffer yang akan menyebabkan


Terjadinya (sedikit) perubahan pH
Persamaan ini hanya untuk hitungan perkiraan/kasar.

 Contoh pasangan antara asam lemah CH3COOH dengan garamnya CH3COONa


CH3COONa ⇄ CH3COO- + Na+ (GARAM)
CH3COOH ⇄ CH3COO- + H+ (ASAM LEMAH)

Dalam larutan terdapat CH3COOH merupakan asam dan CH3COO- basa konjugasi
Kehadiran senyawa dan ion ini yang dapat menetralisir adanya asam dan basa dalam larutan.
Secara umum,larutan penyangga ini dibuat dengan campuran antara asam lemah dan asam
konjugasinya, campuran ini menghasilkan larutan bersifat asam. Kemudian campuran antara
basa lemah dan asam konjugasinya,campuran ini menghasilkan larutan bersifat basa.
 Komponen larutan penyangga terbagi menjadi:
1. Larutan penyangga yang bersifat asam
2. Larutan penyangga yang bersifat basa Larutan ini mempertahankan pH pada daerah
basa.
Perbandingan kadar asam lemah dengan garamnya, untuk preparasi larutan buffer yang
dapat mempertahankan pH tertentu, dapat diperhitungkan dengan persamaan buffer yang
disusun oleh Henderson-Hasselbach berikut:
Persamaan untuk larutan penyangga bersifat asam :
pH = pKa + log (Fi)/(Fu)

Persamaan untuk larutan penyangga bersifat basa :


pH = pKa + log (Fu)/(Fi)

dengan : Fi : fraksi terionkan / garam


Fu : fraksi tak terionkan / asam
Persamaan ini valid dan reliable untuk preparasi larutan buffer dengan range pH 4-10.

 Faktor – faktor yang mempengaruhi pH dan larutan buffer adalah:


- Penambahan garam-garam netral
- Pengenceran
- Temperatur
Tabel. Perkiraan nilai kapasitas buffer (𝛽) larutan (buffer) yang terdiri dari asam
asetat dan natrium asetat dalam jumlah yang sama (0,1 M)
Mol NaOH yang pH larutan Kapasitas Buffer
ditambahkan
0 4,76
0,01 4,85 0,11
0,02 4,94 0.11
0,03 5,03 0.11
0,04 5,13 0,10
0,05 5,24 0,09
0,06 5,36 0,08
(Martin et al., Physical Pharmacy, 2nd ed.)
Kapasitas dapar bergantung pada perbandingan (garam)/(asam). kapasitas
dapar yang terbesar adalah pada saat (garam)/(asam) = 1 dan karena itu sesuai
dengan persamaan pH=pKa.
Persamaan kapasitas dapar sebelumnya sudah memberikan hasil yang cukup.
Persamaan tersebut selanjutnya diperbaiki lebih lanjut oleh Koppel, Spiro, serta Van
Slyke, yaitu :
Persamaan yang lebih akurat untuk menghitung kapasitas buffer (𝛽):

𝐾𝑎 [𝐻 + ]
𝛽 = 2,303 𝐶 (𝐾𝑎 +[𝐻 + ])2
dimana C: total konsentrasi buffer {[asam] + [garam]}

𝐾𝑎 [𝐻 + ]
𝛽 = 2,303 𝐶 (𝐾𝑎 +[𝐻 + ])2
..... nilai 𝛽 : maksimum bila pH = pKa

[𝐻 + ]2
𝛽 max= 2,303 𝐶 (2[𝐻 + ])2
..... 𝜷max : 0,5758 C

Parameter penting yang diperlukan dalam penyiapan larutan buffer adalah:


[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚] [𝑏𝑎𝑠𝑎]
pH; rasio molar atu rasio molar [𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚] ; 𝛽; dan C: total konsentrasi buffer.
[𝑎𝑠𝑎𝑚]

 Kapasitas dapar tidak hanya dipengaruhi oleh perbandingan (garam)/(asam) tetapi


juga oleh konsentrasi total dan asamnya. Meningkatnya konsentrasi komponen
dapar mengakibatkan kapasitas atau efisiensi dapar juga meningkat.
Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa kapasitas dapar dapat dipengaruhi oleh
perbandingan konsentrasi (garam)/(asam) yang meningkat dengan perbandingan
menuju 1, dan meningkatnya konsentrasi total asam dan garam.

Contoh soal:
1. Hitung kapasitas suatu buffer yang disiapkan untuk pH = 4,76 dengan
Menggunakan campuran asam asetat dan natrium asetat dalam jumlah molar yang
Sama (0,01M). Diketahui Ka asam asetat = 1,75 x 10-5.
𝐾𝑎 [𝐻 + ]
𝛽 = 2,303 𝐶
(𝐾𝑎 + [𝐻 + ])2
2,3 𝑥 0,02 𝑥 (1,75 𝑥 10−5 )𝑥 (1,75 𝑥 10−5 )
𝛽=
[(1,75 𝑥 10−5 ) + (1,75 𝑥 10−5 )
= 0,115

Catatan tambahan (untuk diketahui): Koefisien aktivitas dan Persamaan Buffer.


Perhitungan-perhitungan pada buffer dengan akurasi lebih tinggi lagi:
Gunakan konsentrasi efektif (: aktivitas), yaitu: a = 𝛾c
Misal: Buffer campuran asam asetat – natrium asetat

𝐻𝐴𝑐 ⇄ 𝐻 + + 𝐴𝑐 − (𝛾𝐻 +𝐶𝐻 )(𝛾𝐴𝑐 − .𝐶𝐴𝑐 −)


Ka =
𝑁𝑎𝐴𝑐 → 𝑁𝑎+ + 𝐴𝑐 − (𝛾𝐻𝐴𝑐 .𝐶𝐻𝐴𝑐 )

(𝛾 .𝐶 )
𝛾𝐻 + . 𝐶𝐻 + = 𝐾𝑎 (𝛾𝐻𝐴𝑐− .𝐶𝐻𝐴𝑐−)
𝐴𝑐 𝐴𝑐

(𝛾 .𝐶 ) 𝐶𝐻𝐴𝑐
𝛾𝐻 + . 𝐶𝐻 += 𝐾𝑎 (𝛾 𝐻𝐴𝑐− .𝐶𝐻𝐴𝑐−) .... 𝛾𝐻 + . 𝐶𝐻 + = (𝛾
𝐴𝑐 𝐴𝑐 𝐴𝑐 − . 𝐶𝐴𝑐 −)

𝐶 1
..... log 𝑎𝐻 ˖ = log 𝐾𝑎 + 𝑙𝑜𝑔 𝐶𝐻𝐴𝑐− + 𝑙𝑜𝑔 𝛾
𝐴𝑐 𝐴𝑐 −

[𝑎𝑠𝑎𝑚]
..... log 𝑎𝐻 ˖ = log 𝐾𝑎 + log [𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚] − 𝑙𝑜𝑔𝛾𝐴𝑐 -

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
..... − log 𝑎𝐻 ˖ = − log 𝐾𝑎 + 𝑙𝑜𝑔 − 𝑙𝑜𝑔𝛾𝐴𝑐 -
[𝑎𝑠𝑎𝑚]

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚]
..... 𝑝𝐻 = 𝑝𝐾𝑎 + 𝑙𝑜𝑔 + 𝑙𝑜𝑔𝛾𝐴𝑐 -
[𝑎𝑠𝑎𝑚]

[𝑔𝑎𝑟𝑎𝑚] 0,5√𝜇
..... 𝑝𝐻 = 𝑝𝐾𝑎 + 𝑙𝑜𝑔 − .....
[𝑎𝑠𝑎𝑚] 1+√𝜇

..... dimana 𝜇: kekuatan ionik (ionic strength)


Menurut teori Debye-Huckel: nila ionic strength untuk larutan aqueous ion –
ion
Univalent tidak lebih besar dari 0,2 pada suhu 25°C.
Contoh soal:
Larutan buffer terdiri dari campuran asam format dan natrium format masing-masing
dalam Jumlah 0,05 dan 0,1 mol L-1. Ka asam format diketahui = 1,78 x 10-4 dan
kekuatan ionik larutan .Diketahui = 0,10. Hitung pH larutan buffer (dengan dan tanpa
memperhitungkan koreksi koefisien Aktivitas).

(0,05+0,01)
Ph = 4,76 + log = 5,583
(0,1−0,01)
Elektrolit (kuat) sulit larut/sedikit larut:
Konstanta Keseimbangan Hasil Kelarutan, Ksp:
Senyawa ionic yang sulit atau seddikit larut, misalnya MxAy, di dalam larutan
jenuhnya, akan berada dalam keadaan setimbang antara bentuk padatnya dan bentuk hasil
disosiasinya berupa ion seberti berikut ini
 Hasil kali kelarutan(Ksp)= hasil kali konsentrasi ion-ion dalam larutan jenuh
dipangkatkan koefisien masing-masing.
[𝑀+ ]𝑥 .[𝐴− ]𝑦
(MxAy)(S) ⇄ xM+(aq) + yA-(aq) ….𝐾 = ……..Ksp = [M+]x.[A-]y
(𝑀𝑥 _𝐴𝑦 )

Bila [M+]x.[A-]y = Ksp  larutan (tepat) jenuh


Bila [M+]x.[A-]y < Ksp  larutan tidak jenuh
Bila [M+]x.[A-]y > Ksp  larutan lewat jenuh, (terbentuk endapan MxAy)
Nilai Ksp dipengaruhi oleh suhu, secara umum nilain Ksp suatu senyawa ionic meningkat
dengan kenaikan suhu. Ksp senyawa ionic sulit larut bernilai tetap pada suhu tertentu, dan
nilai Ksp yang dicantumkan dalam handbook adalah pada kondisi standar (suhu 250 C)
Penggunaan Ksp (penting) hanya untuk senyawa-senjyawa ionic sulit larut/sedikit larut
 Memprediksikan apakah akan terbentuk endapan di dalam suatu pencampuran ionic
 Menentukan kelarutan suatu senyawa ionic dan sebaliknya nilai Ksp suatu senyawa
ionic dapat ditentukan bila kelarutannya diketahui

Coontoh soal:
Bila diketahui Ksp Ag2CrO4 = 4.10-12 maka konsentrasi CrO4 dalam larutan jenuh
AgCrO4 adalah
Penyelesaian:
S 2s s
Ksp = (Ag+)2(CrO4-2)
4.10-12 = (2s)2(s)
4.10-12 = 4s3
10-12 = s3
S = 10-4(CrO4-2) = s=10-4
Pengaruh ion senama (common ion effect) terhadap kelarutan senyawa-senyawa ionic.
Penambahan ion senama kedalam suatu larutan jenuh senyawa ionic akan
menyebabkan kelarutan senyaw tersebut berkurang (dan terbentuk endapan).
 Pengaruh ion sejenis : Kelarutan garam semakin kecil
 Pengendapan:-Mengendap jika hasil kali ion-ion pangkat koefisien>Ksp (larutan
lewat jenuh)
 belum mengendap jika hasil kali ion-ion pangkat koefisien < Ksp (larutan tidak
jenuh)

Misal : larutan jenuh CaSo4 berada dalam keadaan setimbang seperti berukut,
CaSO4(s) ⇄ Ca2+(aq) + SO42-(aq)
Bila kedalam larutan ini ditambahkan NaSO4, maka keseimbangan akan bergeser
kekiri sehingga terbentuk endapan CaSO4.
Kelarutan AgCl dalam larutan HCl encer < kelarutan AgCl dalam H2O, halini
dikarenakan adanya efek ion senama (Cl- dalam larutan HCl encer.

Contoh soal:
Jika diketahui kelarutan Ag2CrO4 dalam air murni adalah 8,43 x 10-5mol/L pada suhu 25C .
Tetukanlah kelarutan Ag2CrO4 (Ksp Ag2CrO4 = 2,4 x 10-12) itu dalam AgNO3 0,1 N

Jawab :
Kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 N
Larutan AgNO3 0,1 mengandung 0,1 M ion Ag+ dan o,1 M ion NO3-
AgNO3 (aq) ⇄ Ag+ (aq) + NO3- (aq)
0,1 M 0,1 M 0,1 M
Jika ke dalam larutan ditambahkan Ag2CrO4 padat, maka kristal itu akan larut hingga laruta
jenuh .
Misalkan kelarutan Ag2CrO4 = s mol/L maka konsenterasi ion CrO42- yang dihasilkan = s
mol/L dan ion Ag+ = 2s mol/L
Ag2CrO4 (s) ⇄ 2Ag+(aq) + CrO42-(aq)
s 2s s
Jadi konsentrasi total ion Ag+ = 0,1 + 2s mol/L. Oleh karena nilai s relatif kecil, yaitu s <>-5,
maka konsenterasi ion Ag+ dapat dianggap = 0,1 mol/L (0,1 +2s ≈ 0,1) dalam larutan jenuh
Ag2CrO4 berlaku

Ksp Ag2CrO4 = [Ag+]2[ CrO42-]


2,4 x 10-12 = (0,1)2 (s)
2,4 x 10-12 = 10-2 s
s = 2,4 x 10-10

Jadi kelarutan Ag2CrO4 dalam larutan AgNO3 0,1 M = 2,4 x 10-10 mol/L. Kira-kira 351
ribu kali lebih kecil dibandingkan dengan kelarutannya dalam air.

Konstanta Keseimbangan pada Ion Kompleks:


Contoh Ion Kompleks : [Ag (CN)2]- ; [Zn(CN)42- ; [Co(NH3)6]3+
(A. Werner, 1893):
Atom logam mempunyai 2 jenis valensi
Valensi primer : (berdsarkan banyaknya e yang dapat dilepaska oleh atom logam)
Valensi sekunder : berdasarkan kemampuan ion logam (pusat) membentuk ikatan
kovalen koordinasi dengan gugus terkoordinasi (ligand)

Misalkan pada ion kompleks


[Co(NH3)6]3+
Co : atom pusat
NH3 : lignd
Angka 6 : bilangan koordinasi (2x nilai valensi primer)
3+ : muatan bersih ion kompleks
Ligand : Ligand adalah basa Lewis, dan dalam pembentukan ikatan kovalen
koordinasi dengan atom pusat, ligand berperan sebagai donor pasang e

Tipe ligand :
 Unidentat, (ligand yang dapat menyediakan sepasang electron)
 Multidentat, ( ligand yang dapat menyediakan lebih dari sepasang electron
ditempat/posisi yang berbeda). Bila ikatan antara ion logam dan multidentat
membentuk cincin, maka ion kompleks yang terbentuk dinamakan kelat
(chelate) dan ligandnya disebut pengkelat (chelating agents). Bentuk lingkar
(cincin) yang terbentuk biasanya berupa pola cincin segi 5 dan segi 6.
Beberapa contoh chelating agents:
1. En: etilendiamina
2. Oks: oksalat
3. O-fen: o-fenantrolin
4. Dien: dietilentriamina
5. Trien: trietilentetraamina
6. EDTA : etilendiaminatetraasetat

Struktur ion kompleks yang sering dijumpai:


Linear, bujusangkar, tetrahedral, dan octahedral.
Keseimbangan Pembentukan Ion Kompleks (dalam larutan aqueous):
Contoh:
AgCl(s) + 2NH3(aq) ⇄ [Ag(NH3)]+(aq) + Cl –(aq)
Ag +(aq) + 2NH3(aq) ⇄ [Ag(NH3)2]+ (aq)……..(ion kompleks)
Konstanta Keseimbangan Pembentukan dan Disosiasi Ion Kompleks:
..... Ag+(aq) + 2 NH3(aq) ⇄ [Ag(NH3)2]+(aq)

Konstanta Keseimbangan Pembentukan Ion Kompleks (Kf) dalam larutan aqueous:


(Konstanta Stabilutas Ion Kompleks)
..... Ag+(aq) + 2 NH3(aq) ⇄ [Ag(NH3)2]+(aq)

[𝐴𝑔(𝑁𝐻3 )2 ]+
..... 𝐾𝑓 = [𝐴𝑔+ ][𝑁𝐻3 ]2

Konstanta Keseimbangan Disosiasi Ion Kompleks, (Kd) dalam larutan aqueous:

..... [Ag(NH3)2]+(aq) ⇄ Ag+(aq) + 2 NH3(aq)

[𝐴𝑔+ ][𝑁𝐻3 ]2 1 1
..... 𝐾𝑑 = [𝐴𝑔][𝑁𝐻3 ]
..... 𝐾𝑑 = atau ..... 𝐾𝑓 =
𝐾𝑓 𝐾𝑑
Konstanta Keseimbangan pada Reaksi Pembentukan Kompleks Elektrolit Sulit Larut
dengan Ligand dala Larutan Aqueous :

AgCl(s) + 2 NH3(aq) ⇄ [Ag(NH3)2]+(aq) + Cl-(aq).

[𝐴𝑔(𝑁𝐻3 )+2 [𝐶𝑙]


− [𝐴𝑔(𝑁𝐻3 )2 ]+ [𝐶𝑙]−
..... 𝐾= [𝐴𝑔+ ][𝑁𝐻3 ]2
..... 𝐾= [𝑁𝐻3 ]2

[𝐴𝑔(𝑁𝐻3 )+
2 [𝐶𝑙]
− [𝐴𝑔+ ]
..... 𝐾= [𝑁𝐻3 ]2
× [𝐴𝑔+ ] ..... K = Kf.Ksp

Beberpa contoh harga konstanta pembentukan ion komplek:

Keseimbangan Ion Kompleks Kf


+ −
𝐴𝑙 3 + 6 𝐹− ⇄ [𝐴𝑙𝐹6 ]3 1.0 x 1020
+ −
𝐻𝑔2 + 4 𝐶𝑙 − ⇄ [𝐻𝑔𝐶𝑙4 ]2 5.0 x 1025
𝐴𝑔+ + 2 𝑁𝐻3 ⇄ [𝐴𝑔(𝑁𝐻3 )2 ]+ 1.6 x 107
+ +
𝑍𝑛2 + 4 𝑁𝐻3 ⇄ [𝑍𝑛(𝑁𝐻3 )4 ]2 7.8 x 108
+ +
𝐶𝑢2 + 4 𝑁𝐻3 ⇄ [𝐶𝑢(𝑁𝐻3 )4 ]2 1.1 x 1013
+ +
𝐶𝑜2 + 6 𝑁𝐻3 ⇄ [𝐶𝑜(𝑁𝐻3 )6 ]2 5.0 x 104
+ +
𝐶𝑜3 + 6 𝑁𝐻3 ⇄ [𝐶𝑜(𝑁𝐻3 )6 ]3 4.6 x 1033
+ +
𝐶𝑑2 + 4 𝑁𝐻3 ⇄ [𝐶𝑑(𝑁𝐻3 )4 ]2
2.6 x 105
2+ [𝑁𝑖(𝑁𝐻3 )6 ] 2+
𝑁𝑖 + 6 𝑁𝐻3 ⇄
2.0 x 108
2+ 3−
𝐹𝑒 + 6 CN− ⇄ [Fe(CN)6 ]
1.0 x 1024
3+ 3−
Fe + 6 CN − ⇄ [Fe(CN)6]
1.0 x 1031
+ − [𝐴𝑔(𝐶𝑁)2 ]−1
𝐴𝑔 + 2 𝐶𝑁 ⇄
5.3 x 1018
2+ − [𝐶𝑑(𝐶𝑁)4 ]2

𝐶𝑑 + 4 𝐶𝑁 ⇄
7.7 x 1016
LARUTAN ELEKTROLIT: Interaksi coulombic dan disosiasi ionic
 Larutan Elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik atau semua
zat bila dilarutkan dalam air maka akan mengalami ionisasi dan menghasilkan larutan
yang dapat menghantarkan arus listrik.
Jenis larutan elektrolit – Khusus untuk larutan elektrolit terdiri dari 2 macam larutan, yaitu
larutan elektrolit kuat dan lerutan elektrolit lemah :
 larutan elektrolit kuat adalah larutan elektrolit dimana zat yang larut dalam air
mengalami proses ionisasi sempurna atau terionisasi sempurna dan menghasilkan
larutan dengan daya hantar listrik yang baik.
 larutan elektrolit lemah adalah larutan elektrolit dimana zat yang larut dalam air
mengalami proses ionisasi sebagian atau terionisasi sebagian dan menghasilkan
larutan dengan daya hantar listrik yang buruk.

Reaksi Ionisasi : reaksi yang terjadi dimana suatu senyawa menjadi ion-ion dari unsur
penyusunnya.
Contoh:
NaCl(s) -> Na+(aq) + Cl-(aq) ; senyawa NaCl berubah menjadi ion unsur
penyusunnya, Na+ dan Cl- K2SO4 -> 2K+ + SO42-
Pengertian derajat ionisasi adalah hubungan secara kualitatif kuat lemahnya suatu
elektrolit, nama lain derajat ionisasi adalah derajat disosiasi. Simbolnya ? (alfa)
Rumus derajat ionisasi atau rumus derajat disosiasi :
? = MT / MM
MT = jumlah mol zat yang terionisasi
MM = jumlah mol zat yang dilarutkan atau mula-mula

1. Elektrolit kuat mempunyai harga derajat ionisasi = 1


Contoh senyawa yang termasuk larutan elektrolit kuat = HCl, HBr, HI (ketiga larutan
ini adalah larutan hidrogen halida), selain itu larutan hidroksida untuk golongan IA (NaOH,
KOH, RbOH, CsOH), dan larutan hidroksida untuk golongan IIA yaitu Ca(OH)2, Sr(OH)2,
Ba(OH)2
2. Elektrolit lemah mempunyai harga derajat disosiasi mendekati 0
Contoh larutan elektrolit lemah = asam asetat atau CH3COOH, amonium hidroksida
NH4OH, H2CO3, asam nitrit atau HNO2, dan asam fosfat atau H3PO4
 Hukum coulomb
“besar gaya tolak-menolak atau gaya tarik-menarik antara dua benda bermuatan listrik,
berbanding lurus dengan besar masing-masing muatan listrik dan berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak antara kedua benda bermuatan”.
Suatu elektrolit adalah suatu substans (didalam pelarut air) terdisosiasi menjadi ino-
ion (positif dan negative). Gaya interaksi antar 2 partikel bermuatan tersebut (Q1 dan Q2)
yang terpisah dengan jarak (r) dibunyikan oleh Hukum Coulomb sebagai berikut:
𝑄1 𝑄2
𝐹= ….. dimana 𝜖 : sifat medium (permittivitas)
4𝜋𝜖𝑟 2

F : gaya tolak-menolak atau gaya tarik-menarik dalam satuan newton (N)


Q1: besar muatan pertama dalam satuan coulomb (C)
Q2: besar muatan kedua dalam satuan coulomb (C)
r : jarak antara dua benda bermuatan dalam satuan meter (m)
𝜖0 ∶ permittivitas dalam ruang vakum
𝜖𝑟 ∶ permittivitas relative (“konstanta dielektrik”)
𝜖
𝜖𝑟 = ….. 𝜖0 = 8,854 × 10−12 𝐶 2 𝐽−1 𝑚−1 .
𝜖0

𝑉 =𝐹 ×𝑟 ….. dimana V: energy potensial interaksi


𝑄1 𝑄2 𝑍1 𝑍2 𝑒 2 𝑍1 𝑍2 𝑒 2
𝑉= ….. 𝑉= ….. 𝑉=
4𝜋𝜖𝑟 4𝜋𝜖𝑟 4𝜋𝜖0 𝜖𝑟 𝑟

….. (Z : valensi, dan e =1,602 x 10-19C)


Harga konstanta dielektrik beberapa pelarut
Pelarut 𝜖𝑟 Pelarut 𝜖𝑟
n-Hexane 1.89 Methanol 32.6
Cyclohexane 2.02 Nitrobenzene 35
1,4-Dioxane 2.21 Acetonitrile 36.2
Benzene 2.28 N,N Dimethylformamide 36.7
Diethyl ether 4.34 Ethylene glycol 37.7
Ethyl acetate 6.02 N,N-Dimethylacetamide 37.8
Acetic acid 6.19 Glycerol 42.5
n-Butyl alcohol 17.1 Dimethyl sulfoxide 49
i-Propyl alcohol 17.7 Formic acid 58
Acetone 20.7 Water 78.5
Ethanol 24.3 Formamide 110
*). Hitung energy interaksi coulombic (V) antara Na+ dan Cl- pada jarak kontaknya
(r = 2,76 x 10-10 m), (jari-jari ion Na+ dan Cl- masing-masing = 0,95 A0 dan 1,81 A0.
(Hitung V dalam vakum dan dalam air).

−(1,602 ×10−19𝐶)2
V(vakum) = 4𝜋(8,854×10−12 𝐶 2 𝐽−1 𝑚−1 )(1)(2,76×10−10 𝑚) = −8,36 × 10−19 𝐽 =

Atau V(vakum) = -5044 kJ mol-1

V(air) = - 0,106 x 10-19 J per pasangan ion ….. (𝜖𝑟 = 78,5)

Atau V(air) = - 6,42 kJ mol-1

Daya energy interaksi antar ionic (dalam medium/pelarut) dipengaruhi oleh nilai
konstanta dielektrik medium/pelarut. Konstanta dielektrik menunjukan kemampuan
medium/pelarut untuk memisahkan ion-ion yang berbeda muatan. Makin besar harga
konstanta dielektrik medium/pelarut makin tinggi kemampuan medium/pelarut tersebut untuk
memisihkan ion-ion yang berbeda muatan.

Air memiliki nilai konstanta dielektrik tinggi (: nilainya tertinggi diantara pelarut-
pelarut yang umum digunakan). Dengan demikian bila substans elektrolit (senyawa ionik,
misalnya MA) didalam pelarut air mengalami ionisasi dan secara bersamaan mengalami
disosiasi, seperti gambaran berikut.

𝑑𝑖𝑠𝑜𝑠𝑖𝑎𝑠𝑖
𝑀𝐴 ⇄ 𝑀+ + 𝐴−

Larutan ini ( MA M+ + A-) memiliki sifat dapat menghantar arus listrik


Svante Arrhenius, 1887:

Teori Svante Arrhenius:


larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik, karena dalam larutan elektrolit
tersebut terdapat ion-ion yang dapat bergerak bebas. Ion-ion inilah yang dapat
menghantarkan arus listrik. Untuk lebih memahami teori Arhennius ini, coba perhatikan
gambar di atas!
Sifat-sifat Larutan Elektrolit
 Senyawa ionic dalam air: terdisosiasi menjadi 2 partikel ion,
Melalui ion-ion bermuatan, arus listrik dapat mengalir dalam larutan elektrolit.
 Elektrolit kuat …… memiliki daya hantar arus listrik baik/tinggi
 Elektrolit lemah … memiliki daya hantar arus listrik buruk/rendah

Larutan elektrolit berdasarkan daya hantar arus listrik :


Strong Electrolytes Weak Electrolytes Nonelectrolytes
HCL, HBr, HI CH3CO2H H2O
HclO4 HF CH3OH (methyl alcohol)
HNO3 C2H5OH (ethyl alcohol)
H2SO4 C12H22O11 (sucrose)
KBr Most compounds of carbon
NaCl (organic compounds
NaOH, KOH
Other soluble ionic
compounds

Definisi/istilah parameter konduktivitas pada larutan elektrolit:


Konduktivitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan arus
listrik. Pengukuran konduktivitas dapat dilakukan dengan menggunakan arus listrik yang
dialiarkan pada dua elektroda yang dicelupkan kedalam air/larutan kimia, dan tegangan yang
dihasilkan diukur
 𝜌 (rho): resistivitas atau resistensi spesifik dengan satuan: ohm meter (𝞨 m);
Ohm centimeter (𝞨 cm)
 1 𝞨 m = 100 𝞨 cm; (1𝞨 cm = 0.01 𝞨 m)
 R : tahanan atau resistensi (satuan: ohm atau S-1), S = ohm-1, S = mho, (S: siemen)
 Tahanan (R) berbanding lurus dengan panjang/jarak antara dua elektroda (I) dan
berbanding terbalik dengan luas penampang elektroda (A)
𝑙
𝑅= 𝜌
𝐴
 G: konduktansi,yaitu kebalikan dari resistensi. Satuan G adalah siemens “S” atau
ohm-1
Atau mho atau 𝞨-1
1
𝐺=
𝑅
 Ʌm = konduktivitas molar (satuan: S m2 mol-1)
𝐾
Ʌm = 𝐶

 K: konduktivitas (atau konduktansi spesifik), yaitu kebalikan dari resistivitas.


Satuan: S m-1 dan sering dalam S cm-1.
Konduktivitas suatu substans dalam S m-1 adalah konduktansi substans
tersebut sepanjang 1 meter dengan luas area 1 m2
 C: konsentrasi larutan (satuan: mol dm-3)
 C* : konstanta sel (ie. sel konduktivitas) dengan satuan m-1
C* = R K

1). Data tahanan(R) larutan larutan KCl 0,1 M dengan suatu sel konduktivitas = 100 𝞨
Diketahui konduktivitas KCL 0,1 M = 1,29 S m-1.
Hasil pengukuran tahanan (R) larutan KCL 0,02 M dengan sel yang sama
menunjukkan nilai R = 520 𝞨.
Hitung:
- Konstanta sel konduktivitas (C*)
- Konduktivitas (K) dan konduktivitas molar (Ʌm) untuk larutan KCL 0,02 M.

1) C* = RK 𝐾
- ˄m =
C* = 1,29 x 100 𝐶
𝑚𝑜𝑙
C* = 129 m-1 Konsentrasi = 0,02
𝐿
= 0,02 X 103 mol/m3
𝐶∗
2) K = = 20 mol/m3
𝑅
0,248
K=
129 ˄m =
20
520
K = 0,248 Sm-1 = 0,124 Sm2 mol-1
Sel konduktivitas untuk penetapan derajat disosiasi (𝛼)
dan konstanta keseimbangan disosiasi (K) larutan elektrolit lemah.

Ʌ𝑚
𝛼= Ʌ0𝑚

Ʌ0𝑚 ∶ 𝑘𝑜𝑛𝑑𝑢𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑚𝑜𝑙𝑎𝑟 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑒𝑛𝑐𝑒𝑟 ∞


+ −
Ʌ0𝑚 = 𝜆0 + 𝜆0
+ −
Ʌ0𝑚 = 𝑣 + 𝜆0 + 𝑣 − 𝜆0
𝞴0+ : konduktivitas molar kation (lar encer )
𝞴0- : konduktivitas molar anion (lar encer )
v+ : jml partikel kation
v- : jml partikel anion

Elektrokimia
 Pemanfaatan energi listrik untuk melakukan suatu reaksi kimia.
 Pemanfaatan suatu reaksi kimia untuk menghasilkan energi listrik
Elektrokimia adalah ilmu yang mempelajari aspek elektronik dari reaksi kimia. Elemen
yang digunakan dalam reaksi elektrokimia dikarakterisasikan dengan banyaknya elektron
yang dimiliki.
Elektrokimia secara umum terbagi dalam dua kelompok, yaitu sel galvani dan sel
elektrolisis.Reaksi elektrokimia dapat berlangsung secara spontan,yaitu ketika dua elektrode
yang direndam di dalam cairan elektrolit dihubungkan dengan untai listrik.
 Sel Elektrolitik : Konversi energi listrik → energi kimia (non-spontan)
 Sel Galvanik : Konversi energi kimia → energi listrik (spontan)
 Elektrokimia : Mengenai produksi energi listrik dari energi yang dilepaskan oleh
reaksi (berlangsung) spontan dan penggunaan energi listrik untuk melangsungkan
reaksi non-spontan
Sel Galvanik

Reaksi redoks dalam sel galvani adalah reaksi


spontan. Untuk alasan ini, sel-sel galvani biasanya
digunakan sebagai baterai. Reaksi sel Galvani
memasok energi yang digunakan untuk melakukan
usaha atau kerja. Energi yang dimanfaatkan dengan
menempatkan oksidasi dan reduksi dalam wadah
terpisah, bergabung dengan suatu alat yang memungkinkan elektron mengalir. Sebuah sel
galvani umum adalah sel Daniell.

Sel Elektrolitik

Reaksi redoks dalam sel elektrolisis adalah


nonspontan. Energi listrik diperlukan untuk
menginduksi reaksi elektrolisis. Contoh dari sel
elektrolisis pada NaCl cair, di mana elektrolisis NaCl
cair untuk membentuk natrium cair dan gas klorin.
Ion-ion natrium bermigrasi ke arah katoda, di mana
mereka direduksi menjadi logam natrium. Demikian
pula, ion klorida bermigrasi ke anoda dan dioksidasi
untuk membentuk gas klor. Jenis sel digunakan untuk
memproduksi natrium dan klorin. Gas klorin dapat dikumpulkan sekitar sel. logam natrium kurang
padat daripada garam cair dan dihapus seperti mengapung ke atas wadah reaksi.

Perbedaan antara Sel Galvani dan Sel Elektrolisis


 Anoda dari sel elektrolisis bermuatan positif karena anoda menarik anion dari larutan,
sedangkan katoda negatif.
 Anoda dari sebuah sel galvani bermuatan negatif, karena oksidasi spontan pada anoda
adalah sumber elektron sel atau muatan negatif. Katoda dari sel galvani adalah
bermuatan positif.
 Reaksi redoks dalam sel galvani adalah reaksi spontan.
 Reaksi redoks dalam sel elektrolisis adalah nonspontan.
Hukum Faraday

PRINSIP PERHITUNGAN ELEKTROLISIS

Hukum Faraday I
 Banyaknya perubahan kimia yang terjadi pada elektroda berbanding lurus dengan
banyaknya listrik yang mengalir selama elektrolisis berlangsung

Rumus:
m = e . i . t / 96.500
q=i.t

m = massa zat yang dihasilkan (gram)


e = berat ekivalen = Ar/ Valens i= Mr/Valensi
i = kuat arus listrik (amper)
t = waktu (detik)
q = muatan listrik (coulomb)

Hukum Faraday II
 Massa dari macam-macam zat yang diendapkan pada masing-masing elektroda
(terbentuk pada masing-masing elektroda) oleh sejumlah arus listrik yang sama
banyaknya akan sebanding dengan berat ekivalen masing-masing zat tersebut."

Rumus:
m1 : m2 = e1 : e2
m = massa zat (garam)
e = beret ekivalen = Ar/Valensi = Mr/Valensi
Contoh:
Pada elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektroda inert, dialirkan listrik 10 amper selama 965
detik.Hitunglah massa tembaga yang diendapkan pada katoda dan volume gas oksigen yang
terbentuk di anoda pada (O°C, 1 atm), (Ar: Cu = 63.5 ; O = 16).

Jawab:

CuSO4 (aq) ® Cu2+(aq) + SO42-(aq)


Katoda [elektroda - : reduksi] : Cu2+(aq) + 2e- ® Cu(s)
Anoda [elektroda + : oksidasi]: 2 H2O(l) ® O2(g) + 4 H+(aq) + 4 e-

a).massa tembaga:
m = e . i . t/96.500
= (Ar/Valensi) x (10.965/96.500)
= 63.5/2 x 9.650/96.500
= 31.25 x 0,1
= 3,125 gram

a). m1 : m2 = e1 : e2
mCu : mO2 = eCu : eO2
3,125 : mO2 = 6.32/2 : 32/4
3,125 : mO2 = 31,25 : 8
mO2 = (3.125 x 8)/31.25 = 0.8 gram
mol O2 = 0.8/32 = 8/320 = 1/4 mol
volume O2 (0°C, 1 atm) = 1/40 x 22.4 = 0.56 liter
Sel Galvanik

 Potensi sel: perbedaan potensial antara dua elektroda sel galvanik, dan diukur dalam
satuan volt, yakni perbedaan potensial antar apotensial reduksi (katoda) dan potensial
oksidasi (anoda)
 Esel = Ekatoda – Eanoda (berdasarkan E01/2 reaksi reduksi)
 Esel = Eanoda – Ekatoda (berdasarkan E01/2 reaksi oksidasi)
 Esel = Eoksidasi + Ereduksi
 Potensial setengah sel(“oksidasi” ataupun “reduksi”) secara individual tidak dapat
diukur. Yang dapat diukur hanyalah perbedaan antara 2 potensial setengah sel yang
nilainya merupakan nilai emf dari suatu sel.
 Nilai potensial elektroda standar untuk Hidrogen (Pt, H2(g, 1 bar)/H+(aq, 1M) adalah
nol
 H+(aq) + e-→ ½ H2(g); E0 sel = 0 Volt
 Nilai potensial setengah sel dari semua setengah reaksi redoks diukur dengan
mengkaitkan/membandingkan kepada elektroda hidrogen standar.
Sel galvanik untuk redok : Cu + 2Ag+→ Cu2+ + 2Ag

Sel galvanik untuk redoks : Zn + Cu2+→ Zn2+ + Cu


Persamaan Nernst:
Persamaan Nernst adalah persamaan yang berkaitan dengan tegangan dari sel kimia untuk
potensial sel standar dan konsentrasi reaktan dan produk.

Rumus persamaan Nernst

0 𝑅𝑇
𝐸𝑐𝑒𝑙𝑙 = 𝐸𝑐𝑒𝑙𝑙 − 𝑙𝑛𝑄
𝑛𝐹
0.05916
𝐸 = 𝐸0 − 𝑙𝑜𝑔𝑄
𝑛

𝑅𝑇 (𝑎𝐻2 )
0 𝑐𝑎𝑡ℎ𝑜𝑑𝑒
𝐸𝑐𝑒𝑙𝑙 = 𝐸𝑐𝑒𝑙𝑙 − 𝑛𝐹 ln (𝐴𝐻2 )
𝑎𝑛𝑜𝑑𝑒

𝑅𝑇 [𝑂𝑥]
𝐸 = 𝐸0 + 𝑖𝑛 [𝑅𝑒𝑑]
𝑛𝐹

0 𝑅𝑇 [𝑅𝑒𝑑]
𝐸𝑐𝑒𝑙𝑙 = 𝐸𝑐𝑒𝑙𝑙 − 𝑛𝐹 [𝑂𝑥𝑖]

Dimana :
Ecel adalah potensial sel
E0cel mengacu potensial sel standar
R adalah konstanta gas
T adalah temperatur absolut
n adalah jumlah mol elektron yang ditransfer oleh reaksi sel
F adalah konstan Faraday
Q adalah hasil bagi reaksi, di mana
Q = [C] c · [D] d / [A] a · [B] b

dimana A, B, C, dan D adalah spesi kimia; dan a, b, c, dan d adalah koefisien dalam
persamaan yang seimbang:
aA + b B → c C + d D

contoh:
Pada 25 °C, persamaan Nernst dapat dinyatakan sebagai:
Ecel = E0cel – 0,0591 / n x log10Q
Atau
Ecel = E0cel – (0,0591 V / n) log Q
KINETIKA REAKSI KIMIA DALAM BIDANG FARMASI :
Dekomposisi (kimia) Obat

Dekomposisi obat dalam suatu bentuk sediaan . . .terjadi . . . sebagai akibat senyawa kimia
obat tersebut mengalami degradasi.
Bentuk/tipe reaksi utama yang dapat menyebabkan terjadinya degradasi senyawa obat:
 Hidrolisi (yang paling umum)
 Oksidasi (yang paling umum)
 Dekomposisi fotokiia
 Isomerisasi
 Polimerisasi
Hidrolisis
Misalnya :
Aspirin + H2 O →Asam Salisilat + asam Asetat
Procaine + H2 O→ p-Anminobenzoic acid + B-Diethylaminoethanol
Senyawa-senyawa obat yang rentan terhadap hidrolisi, antara lain golongan ester, amida,
laktam, dan imida

Proteksi degradasi hidrolisis, misalnya:


 Eliminasi/menurunkan kandungan H2 O
 Mengatur pH medium sediaan
 Pembentukan kompleks
Contoh: Inhibisi hidrolisis banzocaine dengan penambahan caffeine membentuk
kompleks benzoicaine-caffeine (nilai t1/2 senyawa kompleks ini meningkat tajam
hanya dengan sedikit penambahan caffeine).

Oksidasi
Misalnya:
Ascorbic acid + O2 → Dehydroascorbic acid
Golongan senyawa kimia obat yang rentan terhadap oksidasi antara lain: golongan steroid,
asam-asam lemak tidak jenuh dan senyawa obat yang mengandung ikatan rangkap
terkonyugasi.
Proteksi degradasi oksidatif:
 Eliminasi O2:
o Gas inert
o Kemasan vakum
 Penambahan antioxidant kedalam system sediaan
 Pengaturan temperature
 Pengaturan cahaya
 Hindari kontak dengan ion-ion logam berat seperti besi: cobalt dan nikel

KINETIKA REAKSI :
- Laju reaksi
- Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
- Mekanisme reaksi

Kinetika Kimia (Chemical Kinetics) adalah salah satu cabang ilmu kimia yang mengkaji
mengenai seberapa cepat suatu reaksi kimia berlangsung. Dari berbagai jenis reaksi kimia
yang telah dipelajari para ilmuwan, ada yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat
(reaksi berlangsung cepat), seperti reaksi pembakaran gas metana. Di sisi lain, ada pula reaksi
yang berlangsung dalam waktu yang lama (reaksi berlangsung lambat), seperti reaksi
perkaratan (korosi) besi. Cepat lambatnya suatu reaksi kimia dapat dinyatakan dalam
besaran laju reaksi.

Laju reaksi
Jumlah mol reaktan per satuan volume yang bereaksi per satuan waktu
Satuan : mol L-1 detik-1

Hukum laju reaksi :


persamaan dasar reaksi
REAKTAN → PRODUK
(R) (P)
LAJU ATAU KECEPATAN SUATU REAKSI:
Terjadi penambahan (+) atau pengurangan (-)
Konsentrasi R/P dalam selang waktu dt
Laju suatu reaksI : v atau r
−𝑑[𝑅]
v= (laju konsumsi reaktan)
𝑑𝑡
𝑑[𝑃]
v= (laju pembentukan produk)
𝑑𝑡

CATATAN: Tanda – (negatif) menunjukkan pengurangan konsentrasi reaktan


Tanda + (positif) menunjukkan peningkatan konsentrasi produk

CONTOH:
Pada pembentukan etil asetat dari etil alkohol dan asam asetat
CH3COOH + C2H5OH  CH3C00C2H5 +H2O

𝑑(𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻) 𝑑(𝐶2 𝐻5 𝑂𝐻)


𝑅𝑓 = − =−
𝑑𝑡 𝑑𝑡
Rf = laju reaksi ke kanan
Sebaliknya

𝑑(𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐶2 𝐻5 ) 𝑑(𝐶𝐻2 𝑂)


𝑅𝑓 = − =−
𝑑𝑡 𝑑𝑡
Rf = laju reaksi ke kiri

Hukum persamaan laju reaksi:

Hukum laju reaksi (The Rate Law) menunjukkan korelasi antara laju reaksi (v) terhadap
konstanta laju reaksi (k) dan konsentrasi reaktan yang dipangkatkan dengan bilangan tertentu
(orde reaksi). Hukum laju reaksi dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
−𝑑[𝑅]
v= = 𝑘 [𝑅]𝑥
𝑑𝑡

x: order reaksi

k:konstanta laju reaksi

Nilai order dan konstanta laju reaksi ditetapkan melalui percobaan

Orde reaksi

 Orde reaksi adalah jumlah pangkat konsentrasi-konsentrasi yang menghasilkan suatu


garis lurus
CONTOH:

𝑑(𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻) 𝑑(𝐶2 𝐻5 𝑂𝐻)


𝑅𝑓 = − =− = 𝑘(𝐶𝐻3 𝐶𝑂𝑂𝐻)(𝐶2 𝐻5 𝑂𝐻)
𝑑𝑡 𝑑𝑡

Maka :

Reaksi adalah orde pertama terhadap asam asetat dan

Orde pertama terhadap etanol ;

Orde reaksi keseluruhan adalah Orde dua

0,1,2,…, pecahan, pseudo, campuran dan negative


Hukum persamaan laju reaksi menurut ordernya:
A → Produk …. v = k[A]x
A +B + dst → Produk ….v = k[A]x[B]y
Order reaksi terhadap perubahan [A] = x, dan terhadap [B] = y
… order reaksi (Keseluruhan)=x+y
Untuk keperluan estimasi tingkat degradasi suatu sediaan obat, order reaksi yang penting
adalah: order 0;1; 2; pseudo order0; dan p[seudo order 1
Keterangan pseudo order:
A + B → Produk … v=k[A]x[B]y, ….. bila x=1 dan y=1
Maka : v=k[A][B],….. reaski order ke 2

Bila [b] dibuat tetap, maka laju reaksi hanya dipengaruhi oleh perubahan [A],
…. v = k’[A], …. : pseudo order 1, dimana k’ = k[B]y,
Selanjutnya bila [A] juga dibuat tetap, . . . … maka v = k”, →:pseudo order 0,
Dimana k”=k [A]x[B]y
Contoh pseudo order :
Hidrolisis sukrosa (dalam suasana asam ), ….. v = k [sukrosa] [H+], memperlihatkan
kinetika order hidrolisis sukrosa = 2
Bila hidrolisis berlangsung dalam larutanyang dibufer berarti nilai [H+] tetap, maka kinetika
order hidrolisis sukrosa = pseudo order 1
Hirolisis ampisilin dalam larutan suasana basa, . . . . . Amp+ OH- → Produk, mka
v=k[Amp][OH-], dimana kinetikan order hidrolisis ampisilin memperlihatkan order ke 2. Bila
hidrolisis berlangsung dalam larutan yang di buffer berarti nilai [OH-] tetap, maka kinetika
order hidrolisis ampisilin = pseudo order 1.
Selanjutnya bila ampisilin dalam sediaan sispensi di buffer, maka kinetika order hidrolisi
ampisilin = pseudo orer 0
Persamaan Dasar Laju Reaksi (…laju konsumsi reaktan)
−𝑑𝐶 −𝑑𝐶
𝑣= = kCx ……. = 𝑘𝐶 𝑥 , dimana C: [Reaktan]; x: order reaksi dan k; konstanta
−𝑑𝑡 𝑑𝑡

laju reaksi, dan satuannya bergantung pada order reaksi.


Reaksi Order 0*:
Reaksi dengan orde nol adalah reaksi dimana laju tidak bergantung pada konsentrasi reaktan.
Penambahan maupun mengurangan konsentrasi reaktan tidak mengubah laju reaksi.
−𝑑𝐶 −𝑑𝐶
= 𝑘𝐶 𝑥 ….. dimana x = 0 maka . . . =𝑘
𝑑𝑡 𝑑𝑡
−𝑑𝐶
= 𝑘disusun menjadi –dC =kdt . . .atau dC= -kdt
𝑑𝑡
𝑡 𝑡
∫0 𝑑𝐶 = −𝑘 ∫0 𝑑𝑡→ Ct=C0-kt
Reaksi Order 1:
Reaksi dengan orde satu adalah reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi reaktan yang
dipangkatkan dengan bilangan satu.
−𝑑𝐶 −𝑑𝐶
= 𝑘𝐶 𝑥 ….. dimana x = 1 maka . . . = 𝑘𝐶
𝑑𝑡 𝑑𝑡
−𝑑𝐶 −𝑑𝐶 −𝑑𝐶
= 𝑘𝐶disusun menjadi = kdt . . .atau = -kdt
𝑑𝑡 𝐶 𝐶
𝑡 −𝑑𝐶 𝑡
∫0 = −𝑘 ∫0 𝑑𝑡 → lnCt = lnC0 – kt
𝐶

Reaksi Order 2:
Reaksi dengan orde dua adalah reaksi dimana laju bergantung pada konsentrasi satu reaktan
yang dipangkatkan dengan bilangan dua atau konsentrasi dua reaktan berbeda yang masing-
masing dipangkatkan dengan bilangan satu.
−𝑑𝐶 −𝑑𝐶
= 𝑘𝐶 𝑥 ….. dimana x = 2 maka . . . = 𝑘𝐶 2
𝑑𝑡 𝑑𝑡
−𝑑𝐶 −𝑑𝐶 −𝑑𝐶
= 𝑘𝐶 2 disusun menjadi = kdt . . .atau = -kdt
𝑑𝑡 𝐶2 𝐶2
𝑡 −𝑑𝐶 𝑡 1 1 1 1
∫0 = −𝑘 ∫0 𝑑𝑡 …………. (− 𝐶 ) - (− 𝐶 ) = - kt atau = 𝐶 + kt
𝐶2 𝑡 0 𝐶𝑡 0

Penetapan orde reaksi dan konstanta laju reaksi (harus) melalui percobaan :

Metode:

 Metode laju reaksi awal/dan dikombinasi dengan metode isolasi/pseudo order reaksi.
 Metode integrasi (mencocokan hasil pengolahan data percobaan dengan persamaan
laju reaksi yang sesuai)

Untuk reaksi-reaksi dengan mekanisme sederhana (1 tahap):


Order reaksi = koefisien stoikhiometri reaksi

Untuk reaksi-reaksi dengan mekanisme kompleks (beberapa tahap)

Order reaksi mungkin sama atau tidak sama dengan koefisien stoikhiometri reaksi

Contoh :

1). Tentukan order reaksi dan konstanta laju reaksi berikut:

2H2(g) + 2NO (g)+ → N2(g) + 2H2O(g), ….. V= k[H2]x[NO]y, x=? y=?

(penyelesaiaannya harus melalui percobaan)

Data percobaan:
Percobaan p(H2)0 pNO)0 V reaksi
1 53,3 kPa 20,0 kPa 0,035 kPa det-1
2 53,3 “ 40,0 “ 1,140 “
3 19,6 “ 53,3 “ 0,091 “
4 39,2 “ 53,3 “ 0,182 “
Cermati data percobaan 1 versus 2:

V ∞ [NO]y: ie. [NO] dibuat 2x, … v menjadi 4x, maka y=2

Cermati data exp 3 versus 4:


V ∞ [H2]x: ie. [H2] dibuat 2x, … v menjadi 2x, maka x=1

V= k[H2][NO]2, … menunjukan reaksi order 3

Perhitungan menggunakan pers logaritma:


V= k[H2]x[NO]y, ….. logv = logk + xlog[H2] + ylog[NO]

Percobaan 1 vs 2:
Log 0,035 = logk + xlog53,3 + ylog20
Log 0,140 = logk + xlog53,3 + ylog40 _
- 0,602 = - 0,301y → y = 2

Percobaan 3 vs 4:
Log 0,091 = logk + xlog19,6 + ylog53,3
Log 0,182 = logk + xlog39,2 + ylog53,3 _
- 0,301 = - 0,301x → x = 1

Log k = - 1,4559 – 1,7267 – 2,6021 = - 5,7847 (exp-1), K = 1,64 × 𝟏𝟎−𝟔


Laju suatu reaksi yang terdiri dari beberapa tahap reaksi dasar, biasanya dijelaskan dengan
menggunakan mekanisme dari masing-masing tahap reaksi tersebut.
Tidak semua tahap mempengaruhi laju reaksi, ……tapi hanya tahap reaksi dasar yang paling
lambat yang akan mempengaruhi laju reaksi.

Contoh: reaksi yang mekanismenya melalui beberapa tahap, seperti berikut ini.
1. 2NO(g) ⇄ N2O2(g)
2. N2O2(g) + H2(g) → N2O(g) + H2O(g) (lambat)
3. N2O(g) + H2(g) → N2(g) + H2O(g) (cepat)

Jadi tahap reaksi yang menentukan laju reaksi keseluruhan adalah reaksi tahap-2, yang laju
reaksinya: v = kthp-2[N2O2][H2]

[N2O2]=K1[NO]2 (…pada tahap reaksi 1)., ….. V= kthp-2K1 [NO]2[H2]


….. V= k[H2][NO]2 dimana k= kthp-2K1

Penetapan order reaksi dan konstanta laju reaksi dengan metode integrasi

Contoh:
Data kinetika reaksi pembentukan UREA {(NH2)2CO} dari AMMONIUM SIANAT
(NH4CNO) dalam larutan aquous (C=0,3817M) pada suhu 65ᵒC adalah sbb:
T(menit) : 0 20 50 75 165
Ct (M) : 0,3817 0,267 0,1896 0,1491 0,0861

Tetapkan order reaksi dan hitung nilai konstanta laju reaksi.


NH4CNO → (NH2)2CO
V= k[NH4CNO]x, … …. X=?

- Uji dengan pers laju reaksi order ke nol:


𝐶𝑡 = 𝐶0 − 𝑘𝑡
Plot Ct vs t dan evaluasi grafik
- Uji dengan pers laju reaksi order ke satu:
𝑙𝑛𝐶𝑡 = 𝑙𝑛𝐶0 − 𝑘𝑡
Plot lnCt vs t dan evaluasi grafik
- Uji dengan pers laju reaksi order ke dua:
1 1
= + 𝑘𝑡
𝐶𝑡 𝐶0
1
Plot vs t dan evaluasi grafik
𝐶𝑡

Menetapkan nilai waktu paruh (𝑡1⁄ ) dan umur simpan (nilai t90) untuk reaksi-reaksi order ke
2

nol dan ke satu


Reaksi order ke nol:

Ct = Co – kt
𝐶𝑜−𝐶𝑡
T =
𝑘
𝐶𝑜−0,5𝐶𝑜 0,5𝐶𝑜
𝑡1⁄ = =
2 𝑘 𝑘
0,5𝐶𝑜
𝑡1⁄ =
2 𝑘
𝐶𝑜−0,9𝐶𝑜
𝑡90 =
𝑘
0,1𝐶𝑜
𝑡90 =
𝑘

Reaksi order ke satu:


lnCt = lnCo – kt
𝑙𝑛𝐶𝑜−𝑙𝑛𝐶𝑡
t =
𝑘
𝑙𝑛𝐶𝑜−𝑙𝑛0,5𝐶𝑜 𝑙𝑛2 0,693
𝑡1⁄ = ….. 𝑡1⁄ = ….. 𝑡1⁄ =
2 𝑘 2 𝑘 2 𝑘
𝑙𝑛𝐶𝑜−𝑙𝑛0,9𝐶𝑜 𝑙𝑛1,1111 0,105
𝑡90 = ….. 𝑡90 = ….. 𝑡90 =
𝑘 𝑘 𝑘

𝑔
Sediaan aspirin dalam larutan (pH 2,5) dengan konsentrasi awal = 0,30 ⁄100 𝑚𝑙
memperlihatkan kinetika degradasi orde ke satu dan konstanta laju degradasinya pada suhu
kamar = 9.7 × 10−7 det-1. Berapa konsentrasi aspirin setelah penyimpanan 7 minggu.
Selanjutnnya hitung 𝑡1⁄ dan 𝑡90 sediaan aspirin masing-masing dalam sedian larutan dan
2
𝑔
suspense. Dosis sediaan aspirin dalam bentuk suspense adalah 1,0 ⁄100 𝑚𝑙 . Diketahui
𝑔
kelarutan aspirin = 0,33 ⁄100 𝑚𝑙 .
Dalam sediaan larutan, ……order ke Satu

0,693
𝑡1⁄ = ,….. k: order 1
2 𝑘
0,105
𝑡90 = ,….. k: order 1
𝑘

Dalam sediaan suspense, …… order ke nol

0,5𝐶𝑜
𝑡1⁄ = , …… k: order 0
2 𝑘
0,1𝐶𝑜
𝑡90 = , …… k: order 0
𝑘

K order 0 tidak diketahui (dalam soal), tapi dapat dihitung dengan menggunakan prinsip
pseudo order.
Kinetika degradasi sediaan larutan (di buffer) → suspensi:

𝑣 = 𝑘𝑜𝑟𝑑 −1 [𝑎𝑠𝑝]𝑑𝑠 → 𝑣 = 𝑘𝑜𝑟𝑑 −0 𝑘𝑜𝑟𝑑 −0 = 𝑘𝑜𝑟𝑑 −1 [𝑎𝑠𝑝]𝑘𝑒𝑙

Dalam sediaan suspensi:

0,5𝐶𝑜 0,5[𝑎𝑠𝑝]𝑠𝑢𝑠𝑝 0,5(1,0) 0,5


𝑡1⁄ = 𝑡1⁄ = = (9,7×10−7)(0,33) = = 18 hari
2 𝑘 2 𝑘𝑜𝑟𝑑−0 3,2×10−7

0,1𝐶𝑜 0,1[𝑎𝑠𝑝]𝑠𝑢𝑠 0,1(1,0)


𝑡90 = 𝑡90 = = (9,7×10−7)(0,33) = 3,6 hari
𝑘 𝑘𝑜𝑟𝑑 −0

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi:


1. Konsentrasi
2. Luas permukaan kontak
3. Suhu
4. Katalisator
5. Pelarut
6. Konstanta dielektrik
7. Cahaya
Pengaruh suhu terhadap laju reaksi:
Pers. Arrhenius (1889)

Agar reaksi kimia dapat terjadi, reaktan harus bertumbukan. Tumbukan ini
memindahkan energi kinetik (energi gerak) dari satu molekul ke molekul lainnya, sehingga
masing-masing molekul teraktifkan. Tumbukan antarmolekul memberikan energi yang
diperlukan untuk memutuskan ikatan sehingga ikatan baru dapat terbentuk.
Kadang-kadang, walaupun terjadi tumbukan, energi kinetik yang tersedia tidak cukup
untuk dipindahkan sehingga molekul tidak dapat bergerak dengan cukup cepat. Kita dapat
mengatasi hal ini dengan memanaskan campuran reaktan. Suhu adalah ukuran energi
kinetik rata-rata dari molekul tersebut; menaikkan suhu akan meningkatkan energi
kinetik yang ada untuk memutuskan ikatan-ikatan ketika tumbukan.
Untuk memulai suatu reaksi kimia, tumbukan antarmolekul harus memiliki total
energi kinetik minimum sama dengan atau lebih dari energi aktivasi (Ea), yaitu jumlah
energi minimum yang diperlukan untuk memulai suatu reaksi kimia. Saat molekul
bertumbukan, terbentuk spesi kompleks teraktifkan (keadaan transisi), yaitu spesi yang
terbentuk sementara sebagai hasil tumbukan antarmolekul sebelum pembentukan produk.
A + B ——-> AB* ——-> C + D
reaktan keadaan transisi produk
Konstanta laju reaksi (k) bergantung pada temperatur (T) reaksi dan besarnya energi
aktivasi (Ea). Hubungan k, T, dan Ea

Dinyatakan dalam persamaan Arrhenius sebagai berikut :


k = A e –Ea / RT atau ln k = ln A – Ea / R.T

k = konstanta laju reaksi


Ea = energi aktivasi (kJ/mol)
T = temperatur mutlak (K)
R = konstanta gas ideal (8,314 J/mol.K)
e = bilangan pokok logaritma natural (ln)
A = konstanta frekuensi tumbukan (faktor frekuensi)
Dari persamaan Arrhenius terlihat bahwa laju reaksi (dalam hal ini diwakili konstanta
laju reaksi) semakin besar saat reaksi terjadi pada temperatur tinggi yang disertai
dengan energi aktivasi rendah.

Contoh:

Reaction: 𝐻𝑂− + 𝐶𝐻3 𝐵𝑟 → [𝐻𝑂 − − − 𝐶𝐻3 − − − 𝐵𝑟]≠ → 𝐶𝐻3 𝑂𝐻 + 𝐵𝑟

Faktor/konstanta Arrhenius “A” dalam teori tabrakan antar molekul,bergantung pada


frekuensi tabrakan (𝑓) dan probabilitas (P) bahwa tidak semua tabrakan memberikan hasil
reaksi. A = 𝑓 P
*). Hasil percobaan dekomposisi suatu sediaan
5-hidroksimetilfurfural memperlihatkan kinetika order ke satu, dengan data konstanta laju
−1
dekomposisinya seperti berikut ini, yaitu pada suhu: 120ᵒC = 3,258 × 10−4 det,
−1 −1
130ᵒC = 8,38 × 10−4 det dan 140ᵒC = 1,350 × 10−3 det .
Hitung: Ea, k(25), dan t(90,25) .

Diketahui:
R = 8,314 J K-1 mol-1
Ea = 90,77 kJ mol-1
K(298) = 4,995 x 10-8 det-1
0,105
T(90) = = 2102102 det atau = 24 hari
𝑘

Waktu prauh dan umur simpan sediaan obat


Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat obat dapat dilakukan dengan cara
kinetika kimia. Hal-hal yang penting diperhatikan dalam penentuan kestabilan suatu zat
dengan cara kinetika kimia adalah:
a. Kecepatan reaksi
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi
c. Tingkat reaksi dan cara penentuannya.
Konstanta K yang ada dalam hukum laju yang digabung dengan reaksi elementer,
disebut konstanta laju spesifik untuk reaksi itu. Setiap perubahan dalam kondisi reaksi
seperti temperatur, pelarut atau sedikit perubahan dari suatu komponen yang terlibat
dalam reaksi akan menyebabkan hukum laju reaksi mempunyai harga yang berbeda
untuk konstanta laju spesifik. Secara eksperimen, suatu perubahan konstanta laju spesifik
berhubungan terhadap perubahan dalam kemiringan garis yang diberikan oleh persamaan
laju.
Stabilitas obat adalah suatu pengertian yang mencakup masalah kadar obat yang
berkhasiat. Batas kadar obat yang masih tersisa 90 % tidak dapat lagi atau disebut sebagai sub
standar waktu diperlukan hingga tinggal 90 % disebut umur obat. Orde reaksi dapat
ditentukan dengan beberapa metode, diantaranya:
1) Metode substitusi
Data yang terkumpul dari hasil pengamatan jalannya suatu reaksi
disubstitusikan ke dalam bentuk integral dari persamaan berbagai orde reaksi. Jika persamaan
itu menghasilkan harga K yang tetap konstan dalam batas-batas variasi percobaan, maka
reaksi dianggap berjalan sesuai dengan orde tersebut.
2) Metode grafik
Plot data dalam bentuk grafik dapat digunakan untuk mengetahui orde reaksi tersebut.
Jika konsentrasi di plot terhadap t dan didapat garis lurus, reaksi adalah orde nol. Reaksi
dikatakan orde pertama bila log (a-x) terhadap t menghasilkan garis lurus. Suatu reaksi orde
kedua akan memberikan garis lurus bila 1/ (a-x) diplot terhadap t (jika konsentrasi mula-mula
sama). Jika plot 1 /(a-x)² terhadap t menghasilkan garis lurus dengan seluruh reaktan
sama konsentrasi mula- mulanya,reaksi adalah orde ketiga.
3) Metode waktu paruh
Dalam reaksi orde nol, waktu paruh sebanding dengan konsentrasi awal, a. Waktu
paruh reaksi orde pertama tidak bergantung pada a; waktu paruh untuk reaksi orde kedua,
dimana a = b sebanding dengan 1/a dari dalam reaksi orde ketiga, dimana a = b = c,
sebanding dengan 1/a². Umumnya berhubungan antar hasil di atas memperlihatkan waktu
paruh suatu reaksi dengan konsentrasi seluruh reaktan sama.

Kinetika Reaksi Enzimatik


Cara Kerja Enzim
 Reaksi tanpa enzim
- Lambat
- Membutuhkan suhu yang tinggi
- Tekanan yang tinggi
 Reaksi enzimatis
- Enzim memberikan suatu lingkungan yang spesifik di dalam sisi aktifnya, sehingga
reaksi secara energetik dapat lebih mudah terjadi.
 Perbedaan antara energi reaktan (fase awal) dena\gan energi produk (fase akhir)→
selisih energi bebas standar (∆𝐺 0 ).
Enzim → mempercepat reaksi tetapi tidak mengubah keseimbangan reaksi atau ∆G0 .
Keseimbangan reaksi antara reaktan dan produk mencerminkan perbedaan energi bebas pada
fase awal.

E + S ⇄ ES → P + E

𝑘2 [𝐸]0 [𝑆]0
𝑣= [𝑆]0 + 𝐾𝑚
(Hk. Michaelis-Menten)

Km: konstanta Michaelis


K2 : daya enzim mentransformasi suatu subtract membentuk produk. (jumlah molekul yang
dikonversi menjadi produk dalam satuan waktu per molekul enzim)

Bila [S]0 berlebihan laju reaksi: max

Maka: Vmax = k2[E]0


𝑉𝑚𝑎𝑥[𝑆]0
𝑣= [𝑆]0 + 𝐾𝑚

1 1 𝐾𝑚 1
= +( ) [𝑆]0
(Pers. Lineweaver-Burk)
𝑣 𝑉𝑚𝑎𝑥 𝑉𝑚𝑎𝑥

1 1 𝐾𝑚
Plotting 𝑣𝑠 [𝑆]0
kurva garis lurus, dan diperoleh ( ) sebagai slope
𝑣 𝑉𝑚𝑎𝑥
1
Nilai k2 didapat dari intersep
𝑉𝑚𝑎𝑥

Bila [E]0 diketahui.


SUMBER BAHAN CATATAN:

 Fotokopi materi / tayangan DR. Amllius Thalib


 Uraian / penjelasan DR. Amllius Thalib saat perkuliahan
 Text Book :
Alfred Martin, James Swarbrick, Arthur Cammarata. Farmasi Fisik, edisi ketiga
Kanginan, Marthen (2002). Fisika Untuk SMA Kelas XI Semester 2. Erlangga.
Harjani, T., dkk.(2013). KIMIA: Untuk SMA/MA Kelas XI. Masmedia: Sidoarjo
Andy. 2009. Pre-College Chemistry.
Chang, Raymond. 2007. Chemistry Ninth Edition. New York: Mc Graw Hill.
Moore, John T. 2003. Kimia For Dummies. Indonesia:Pakar Raya.
 Internet :
http://fisikazone.com/hukum-ii-termodinamika/
http://www.informasi-pendidikan.com/2015/02/hukum-i-termodinamika.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Termodinamika
http://ardi-thermodynamics.blogspot.co.id/2015/03/hukum-ketiga-
termodinamika.html
http://dokumen.tips/documents/kimfis-2-kesetimbangan-fasa-tugas-makalah.html
https://www.google.co.id/search?q=binary+phase+diagram/&gws_rd=ssl
https://dsupardi.wordpress.com/kimia-xi/kesetimbangan-larutan/
https://zonaliakimiapasca.wordpress.com/kimia-kelas-x/semester-2/1-larutan-
elektrolit-dan-non-elektrolit/3-teori-ionisasi/
http://tatangsma.com/2015/07/perbedaan-antara-sel-volta-dan-sel-elektrolisis.html
http://tatangsma.com/2015/07/definisi-dan-rumus-persamaan-nernst.html
https://www.scribd.com/doc/97263979/Soal-Larutan-Penyangga
http://dokumen.tips/documents/laporan-stabilitas-obat.html
Wordpress. 2008. Hukum RaoultDiakses pada 4 Apr 2010.
https://www.scribd.com/doc/215935674/9-perhitungan-isotonis
https://books.google.co.id