Anda di halaman 1dari 33

Bab I Pendahuluan

I.1. Tujuan Percobaan

1. Membuat larutan baku primer dan baku sekunder untuk titrasi asidimetri- alkalimetri.

2. Melakukan titrasi asidimetri-alkalimetri dan mengamati perubahan yang terjadi titik Akhir Titrasi.

3. Menghitung konsentrasi larutan baku sekunder pada titik akhir titrasi.

4. Mengukur pH larutan pada titik akhir titrasi.

I.2. Tinjauan Pustaka

I.2.1 Titrasi Titrasi merupakan suatu metode analisa kuantitatif yang didasarkan pada proses pengukuran volume dari suatu sampel (baku sekunder ) yang bereaksi secara kuantitatif dengan larutan standart primer sehingga pada suatu titik akan terjadi ekivalensi antara sampel dengan larutan standar primer ( Day and Underwood ,1998). Ekivalensi antara kedua zat terjadi ketika jumlah zat - zat yang bereaksi antara sample ( baku sekunder ) dengan larutan standart primer tepat saling menghabiskan . ( Harijadi,1990 ). Dalam proses titrasi, Larutan standart primer disebut dengan istilah titrat dan larutan baku sekunder disebut dengan titran. Titrat merupakan zat yang terdapat di labu titrasi atau erlenmeyer dan titran merupakan zat yang terdapat di dalam buret dalam proses titrasi.

Gambar I.1 Alat Titrasi Dalam proses mekanisme titrasi, dilakukan penambahan titran menggunakan suatu reagen hingga

Gambar I.1 Alat Titrasi

Dalam proses mekanisme titrasi, dilakukan penambahan titran menggunakan suatu

reagen hingga mencapai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi terjadi ketika adanya indikasi dari indikator yang bereaksi terhadap kehadiran titran berlebih dengan melakukan perubahan warna. Perubahan warna dari suatu indikator dapat terjadi pada titik ekivalen atau bisa saja tidak, sehingga diusahakan agar titik akhir titrasi terjadi sedekat mungkin dengan titik ekivalen. Oleh karena itu dibutuhkan untuk memilih indikator yang tepat untuk menunjukan titik akhir titrasi pada setiap titrasi yang dilakukan (Day and Underwood,1998 ). Setiap dilakukan titrasi terdapat reaksi kimia yang diperlakukan untuk penentuan metode titrimetik yang dilakukan. Terdapat empat tipe reaksi yang digunakan untuk melakukan titrasi

1. Titrasi Asam-Basa. Penentuan konsentrasi asam basa yang ditentukan melalui metode titrasi

berdasarkan teori ekivalensi dari suatu asam basa. Tergantung pada senyawa asam atau basa yang di tentukan konsentrasinya. 2.Titrasi Oksidasi-Reduksi ( Redoks ) Titrasi yang melibatkan oksidasi-reduksi yang dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu senyawa menggunakan senyawa yang memiliki sifat oksidator.

3. Titrasi Pengendapan. Titrasi yang melibatkan terjadinya pengedapan mengguakan kation perak untuk mengendapkan anion halogen untuk menentukan konsentrasi dari senyawa yang dapat bereaksi dengan anion halogen.

4. Titrasi pembentukan senyawa kompleks. Titrasi menggunakan pereaksi organik untuk membentuk seyawa kompleks stabil dengan sejumlah ion logan yang digunakan untuk menghitung konsentrasi ion logam dalam sampel.

( Day and Underwood , 1998 )

Prinsip dasar dari melakukan jenis-jenis titrasi yang berlaku adalah Ekivalensi dari suatu standar primer dan sampel yang ingin ditentukan volume dan konsentrasi dari kandungan suatu senyawa dalam sampel. Dengan melakukan titrasi kita dapat menentukan volume dari suatu sampel yang direaksikan secara kuantitatif dengan larutan baku primer. Pada saat terjadi ekivalensi antara larutan standar primer dengan sampel, maka konsentrasi dari suatu sampel dapat ditentukan melalui persamaan ekivalensi antara sampel dengan larutan standar primer.

Normalitas sampel x Volume sampel = Normalitas Standart primer x Volume Standar primer

Normalitas sampel Normalitas Standart primer . Volume standart primer

=

Volume sampel

Pengunaan reaksi kimia sebagai basis untut titrasi realtif sedikit. Sebuah reaksi kimia dapat menggunakan metode titrasi untuk penentukan ukuran konsentrasi sampel terus harus memenuhi syarat sebagai berikut.

1. Tidak ada reaksi sampingan yang dihasilkan pada saat titrasi dan proses reaksi kimia diproses sesuai dengan persamaan kimiawi tertentu.

2. Reaksi titrasi harus berjalan dengan cepat sehingga titrasi dapat diselesaikan dalam beberapa menit.

3. Harus tersedia beberapa metode untuk menentukan kapan tercapainya titik ekivalen. Umumrnya dalam titrasi menggunakan indikator atau metode instrumental agar analisis dapat menghentikan penambahan dari titran.

4. Reaksi itu harus dipastikan berakhir pada titik ekivalensi. Untuk itu, konstanta kesetimbangan reaksi harus besar. Akibatnya dapat terjadi perubahan yang besar dalam konsentrasi analit (atau titran) pada titik ekivalensi.

( Day and Underwood , 1998 )

I.2.2 Larutan Baku Primer dan Baku Sekunder Dalam metode titrimetri, larutan baku adalah suatu larutan yang memiliki konsentrasi yang diketahui secara tepat baik secara perhitungan matematis dan standarisasi larutan. Larutan yang diketahui secara tepat melalui perhitungan matematis dan teliti sehingga menghasilkan konsentrasi yang tepat disebut dengan larutan baku primer. Larutan yang perlu distandarisasi untuk mengetahui konsentrasinya dari larutan disebut larutan baku sekunder. Larutan baku primer dan baku sekunder memiliki perbedaan karakteristik.

( Day and Underwood , 1998 )

I.2.2.1 . Larutan Baku Primer Larutan baku primer adalah larutan yang memiliki konsentrasi yang diketahui secara tepat melalui penimbangan dan pelarutan dengan jumlah volume yang teliti. Berikut syarat-syarat suatu larutan dikatakan sebagai larutan standart baku primer :

1. Tersedia dalam bentuk murni, memiliki tingkat kemurnian yang tiggi.

2. Jumlah pengotor dalam padatan murni tidak boleh melebihi 0,01-0,02%.

3. Tidak higroskopis ( mudah menyerap air ).

4. Memiliki tingkat kestabilan padatan murni yang tinggi ( tidak mudah teroksidasi dalam udara dan berubah berat bila terpapar dengan udara ).

5. Memiliki berat ekivalen yang tinggi.

I.2.2.2. Larutan Baku Sekunder Larutan baku sekuder adalah larutan yang konsentrasinya tidak diketahui secara tepa sehingga perlu distandarisasi dengan larutan standart baku primer untuk menentukan konsentrasi dari larutan baku sekunder secara tepat. Standarisasi merupakan proses dimana konsetrasi larutan ditentukan secara akurat melalui titrasi Larutan baku sekunder bersifat tidak stabil sehingga terjadi perubahan berat dalam

penimbangan sehingga konsentrasinya tidak diketahui secara tepat dan memerlukan proses standarisasi larutan baku.

(Day and underwood , 1998)

I.2.3. Indikator pH ( Acid - Base Indicators ) Indikator pH merupakan suatu zat yang dapat berubah warna apabila terjadi perubahan pH dalam lingkungan karena kehadiran titran secara berlebih. Pemilihan indikator yang tepat agar titik akhir titrasi pada pH tertentu sedekat mungkin dengan titik akhir titrasi ( Day and Underwood,1998 ). Berikut ini jenis-jenis indikator yang dapat dibedakan melalui trayek pH indikator tersebut dapat dilihat pada table I.1

Tabel I.1. Jenis-jenis indikator pH ( acid - base indicators )

Nama

Jenis Indikator

Trayek pH

Perubahan warna

Asam pikrat

Asam

0,1 - 0,8

Tidak berwarna - Kuning

Biru Timol

Asam

1,2 - 2,8

Merah - Kuning

Asam

8,0 - 9,6

Kuning - Biru

2,6- Dinitrofenol

-

2,0 - 4,0

Tidak berwarna - Kuning

Kuning Metil

Basa

2,9 - 4,0

Merah - Kuning

Jingga Metil

Basa

3,1 - 4,4

Merah - Jingga

Hijau Bromkesol

Asam

3,8 - 5,4

Kuning - Biru

Merah Metil

Basa

4,2 - 6,3

Merah - Kuning

Lakmus

-

4,5 - 8,3

Merah - Biru

Biru Bromtimol

Asam

6,0 - 7,6

Kuning - Biru

Merah Fenol

Asam

6,4 - 8,0

Kuning - Merah

Phenolphtalein

Asam

8,0 - 9,6

Tidak berwarna - Merah

TimolFtalein

Asam

9,3 - 10,5

Tidak berwarna - Biru

( Source : Harijadi ,1990)

Setiap indikator asam basa memiliki trayek pH masing-masing demikian pula warna asam-basanya. Diluar trayek pH indikator hanya menampakkan warna asam atau warna basa sesuai dengan pH larutan. Penentuan penggunaan indikator berdasarkan pH dari

larutan dan melihat trayek pH dari indikator, ketika sesuai maka indikator tersebut dapat digunakan untuk menentukan pH suatu larutan. Perubahan warna oleh indikator asam-basa bila pH lingkungannya berubah disebabkan oleh :

1. Indikator asam-basa adalah asam organik lemah atau basa organik lemah sehingga ketika dalam larutan mengalami kesetimbangan pengionan

2. Molekul-molekul indikator tersebut mempunya warna yang berbeda denga ion-ionnya.

3. Letak trayek pH pada pH tinggi atau rendah atau di tengah tergantung pada besar kecilnya K a atau K b indikator.

4. Terjadinya trayek merupakan akibat kesetimbangan dan karena kemampuan mata untuk membedakan campuran warna terbatas.

(Harijadi, 1990 )

Beberapa indikator yang digunakan dalam titrasi asidimetri-alkalimetri.

I.2.3.1 Indikator PhenolPhtalein Indikator Phenolphatelin atau

one
one

3-bis(4-hydroxyphenyl)isobenzofuran-1(3H)-

merupakan indikator yang memiliki sifat yaitu asam lemah diprotik sehingga

indikator ini berkerja pada trayek pH basa yaitu 8,0-9,6. Pada trayek pH dibawah 8,0, Indikator Phenolphatelin tidak berwarna, ketika berada pada pH transisi yaitu 8,0-9,6 warna dari indikator phenolphtalein berubah menjadi merah muda, melewati pH 9,6 warna indikator phenolphatelin berwarna merah. Indikator phenolphatelin cocok digunakan untuk titrasi asam lemah dengan basa kuat karena ekivalen point dari titrasi berada pada pH 8,3 sehingga ketika pada titik equivalent point terlewati maka titik akhir ekivalen berada dekat dengan titik akhir titrasi nya sehingga pada titik akhir titrasi antara asam lemah dengan basa kuat warna titrasi ( asam lemah ) berwarna merah muda.

3,
3,
Gambar I.2 Struktur Indikator Phenolphtalein Indikator Phenolphtalein berkerja memberi warna pada Trayek pH basa karena

Gambar I.2 Struktur Indikator Phenolphtalein

Indikator Phenolphtalein berkerja memberi warna pada Trayek pH basa

karena sifat dari indikator. Indikator Phenolphtalein bersifat sebagai asam lemah

karena memiliki gugus fenol. Ketika larutan akhir titrasi bersifat basa maka terdapat

banyak ion OH - yang mengikat ion H + dari phenolphtalein. Karena sifat asam lemah

yaitu mendonorkan H + untuk basa sehingga proton pertama terurai diikat oleh ion OH -

kemudian proton H + pada indikator terurai lagi kemudian diikat oleh ion OH -

membentuk ion phtalein 2- yang memberikan warna merah pada larutan basa.

( Day and Underwood , 1998)

warna merah pada larutan basa. ( Day and Underwood , 1998) Source : Day and Underwood

Source : Day and Underwood ,

1998

Gambar I.3 Skema Reaksi Indikator PP dalam suasana basa

7

I.2.3.2 . Metil Merah Metil merah (2-(N,N-dimethyl-4-aminophenyl) azobenzenecarboxylic acid) merupakan indikator yang memiliki sifat basa lemah sehingga indikator ini memiliki trayek pH asam yaitu 4,2-6,3. Ketika Metil merah diteteskan pada Larutan yang bersifat basa maka indikator tersebut berubah menjadi warna kuning, ketika larutan berada pada range pH antara 4,2-6,3 maka larutan berubah warna menjadi jingga, melewati pH 4,2 larutan bersifat asam maka larutan akan berwarna merah. Titrasi dari garam yang terbentuk dari asam lemah dan basa kuat yang memiliki pH disekitar basa kuat dititrasi dengan asam kuat memiliki range titik ekivalen pada pH 4,2-6,3. Titik akhir titrasi terjadi ketika penambahan satu tetes asam sehingga pH larutan akan bersifat asam berada disekitar pH 4,2 sehingga titik akhir titrasi ditandai dengan larutan berwarna merah. Pemilihan indikator metil merah sebagai indikator cocok karena berada pada pH asam dekat dengan titik akhir titrasi.

karena berada pada pH asam dekat dengan titik akhir titrasi. Gambar I.4 Struktur Indikator Metil merah

Gambar I.4 Struktur Indikator Metil merah

Indikator metil merah berkerja memberi warna pada trayek pH asam karena sifat dari indikator. Indikator metil merah memiliki sifat yaitu basa lemah karena memiliki gugus amina tetapi memiliki gugus fungsional pada salah satu cincin yaitu gugus asam karboksilat. Ketika Indikator metil merah diteteskan pada larutan basa maka H + dari gugus fungsional karboksilat diikat oleh OH - dari larutan basa sehingga terbentuk anion metil merah yang membuat warna larutan menjadi warna kuning . Ketika larutan berada pada titik akhir titrasi, larutan bersifat asam. Larutan yang bersifat asam mendonorkan proton H + pada gugus N pada Anion metil merah sehingga terbentuk kation metil merah sehingga membuat warna menjadi merah. Titik akhir titrasi berada

pada warna merah muda. Warna merah muda berada pada pH 4,2 sehingga larutan bersifat asam.

muda berada pada pH 4,2 sehingga larutan bersifat asam. Gambar I.5 Skema Reaksi Metil Merah dalam

Gambar I.5 Skema Reaksi Metil Merah dalam suasana asam

I.2.4. Asidimetri-Alkalimetri Asidimetri-Alkalimetri merupakan analisis dengan menggunakan metode titrimetri (

titrasi ) yang menyangkut dengan reaksi penetralan ( ekivalensi ) asam-basa. Asidimetri- Alkalimetri merupakan dua metode titrimetri yang berbeda. Asidimetri merupakan metode titrasi dengan menggunakan asam sebagai larutan standar primer untuk menentukan konsentrasi dari analit dalam hal ini larutan standart baku sekunder bersifat basa. Alkalimetri merupakan metode titrasi dengan menggunakan basa sebagai larutan standar primer untuk menentukan konsentrasi dari analit dalam hal ini larutan standar baku sekunder bersifat asam. Titrasi asidimetri-alkalimetri disebut juga sebagai titrasi asam - basa . Kedua metode titrimetri menyangkut prinsip reaksi asam - basa yaitu :

1. Asam kuat dengan basa kuat, misalnya:

NaOH + HCl → NaCl + H 2 O Reaksi ionnya: H + + OH - ↔ H 2 O

2. Asam kuat dengan basa lemah, misalnya:

HCl + NH 4 OH →NH 4 Cl + H 2 O Reaksi ionnya:NH 4 OH + H + ↔ NH 4 + + H 2 O

3. Asam lemah dengan basa kuat, misalnya:

CH 3 COOH + NaOH → CH 3 COONa + H 2 O Reaksi ionnya: CH 3 COOH + OH - ↔ CH 3 COO - + H 2 O

4. Asam kuat dengan garam dari asam lemah (reaksi pembentukan asam lemah), misalnya:

HCl + NH 4 BO 2 ↔ HBO 2 + NH 4 Cl Reaksi ionnya: H + + BO 2- ↔ HBO 2 5. Basa kuat dengan garam dari basa lemah (reaksi pembentukan basa lemah), misalnya:

NaOH + NH 4 CH 3 COO ↔ NH 4 OH + CH 3 COONa Reaksi ionnya: NH 4 + + OH - ↔ NH 4 OH

(Harijadi , 1990 )

BAB II METODE PERCOBAAN

II.1. Bahan dan Alat

II.1.1 Bahan - Bahan yang Digunakan

1. Asam Oksalat Kristal ( H 2 C 2 O 4 .2H 2 O )

2. Natrium Hidroksida ( NaOH)

3. Indikator PhenolPhtalein

4. Natrium Boraks ( Na 2 B 4 O 7 .10H 2 O )

5. Asam Klorida (HCl )

6. Indikator Metil Merah

7. pH Universal

II.1.2. Alat - Alat yang Digunakan

1. Botol Timbang

2. Beaker Glass

3. Batang pengaduk

4. Corong

5. Labu Ukur

6. Kaca Arloji

7. Gelas Ukur

8. Pipet Volume

9. Pipet tetes

10. Erlenmeyer

11. Botol Semprot

12. Statif dan klem

13. Buret

14. Neraca analitik

15. Neraca kasar

II.2. Prosedur Percobaan

II.2.1. Prosedur Percobaan Asidimetri

1. Larutan standar asam oksalat 0,1 N dibuat dengan teliti sebanyak 100 ml.

2. Larutan NaOH 0,1 N dibuat sebanyak 1 liter

3. Sebanyak 10 ml larutan standar asam oksalat dipipet menggunakan pipet volum dan dimasukkan ke dalam labu titrasi/erlenmeyer.

4. Larutan diberi 2 tetes indikator phenolphtalein (pp).

5. Larutan dititrasi dengan larutan NaOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna.

6. Lakukan cara kerja no. 3-5 sebanyak dua kali.

7. Larutan pada titik akhir titrasi diukur pH nya.

II.2.2. Prosedur Percobaan Alkalimetri

1. Larutan standar natrium boraks 0,1 N dibuat dengan teliti sebanyak 100 ml.

2. Larutan HCl 0,1 N dibuat sebanyak 1 liter

3. Sebanyak 10 ml larutan standar natrium boraks dipipet menggunakan pipet volum dan dimasukkan ke dalam labu titrasi/erlenmeyer.

4. Larutan diberi 2 tetes indikator metil merah.

5. Larutan dititrasi dengan larutan HCl 0,1 N sampai terjadi perubahan warna.

6. Lakukan cara kerja no. 3-5 sebanyak 2 kali.

7. Larutan pada titik akhir titrasi diukur pH nya.

II.3. Prosedur Pembuatan Larutan

II.3.1 Prosedur Pembuatan Larutan Asam Oksalat

1. Dihitung jumlah berat asam oksalat yang digunakan untuk membuat larutan untuk membuat larutan asam oksalat sebanyak 100 ml dengan konsentrasi

±0,1 N Data - data pembuatan larutan asam oksalat

Rumus molekul kristal asam oksalat

Berat molekul kristal asam oksalat

Normalitas asam oksalat

= H 2 C 2 O 4. 2H 2 O

= 126,07

= 0,1

Volume larutan asam oksalat

Reaksi ion asam oksalat (H 2 C 2 O 4 )

= 100 ml / 0,1 liter

2H + + C 2 O 4 2

Normalitas H 2 C 2 O 4

Mol

terlarut

Mol

terlarut

Mol

terlarut

H 2 C 2 O 4 .2H 2 O

H 2 C 2 O 4

H 2 C 2 O 4

.2H 2 O

.2H 2 O

= Valensi H +

x Mol terlarut H 2 C 2 O 4 .2H 2 O

Volume larutan H 2 C 2 O 4

= Normalitas H 2 C 2 O 4 x Volume larutan H 2 C 2 O 4 Valensi H +

=

0, 1

eq

liter

x 0,1 liter

2 eq

=

5 x

10 -3 mol

Massa H 2 C 2 O 4 . 2H 2 O

Batas atas ( batas maximum )

= mol terlarut H 2 C 2 O 4 . 2H 2 O x BM H 2 C 2 O 4 . 2H 2 O

= 5 x 10 3 mol x 126,07 gram ⁄ mol

= 0,6304 gram

= 0,6304 gram + (0,6304 gram x 10 % )

= 0,6934 gram

Batas bawah ( batas minimum ) = 0,6304 gram - (0,,6304 gram x 10 % )

Range penimbangan

= 0,5674 gram

= 0,5674 gram - 0,6934 gram

2. Kristal asam oksalat ditimbang dengan menggunakan neraca analitis dalam botol

timbang dengan jumlah berat penimbangan 0,6304 gram.

3. Kristal asam oksalat dilarutkan dalam beaker glass dengan volume penambahan

aquades ±50 ml.

4.

Larutan standart asam oksalat ±50 ml dimasukkan kedalam labu takar 100 ml

dan ditambah dengan aquades sampai mencapai tanda batas.

5. Larutan standart asam oksalat 100 ml dalam labu takar dikocok agar larutan

homogen dan diberi label.

II.3.2. Prosedur Pembuatan Larutan Natrium Hidroksida

1. Dihitung jumlah berat Natrium hidroksida yang akan digunakan untuk

pembuatan larutan NaOH ±0,1 N sebanyak 1liter.

Data - data pembuatan larutan Natrium Hidroksida

Rumus molekul natrium hidroksida

Berat molekul natrium hidroksida

Normalitas natrium hidroksida

Volume natrium hidroksida

Reaksi ion NaOH

=

= NaOH

= 40

= 0,1

=

Na + + OH -

1

=

=

=

0,1

1

1

0,1

=

=

0,1 40

=

4

Penimbangan natrium hidroksida dengan menggunakan neraca kasar dengan

jumlah timbangan kurang lebih 4 gram.

2. Padatan natrium hidroksida ditimbang dengan menggunakan neraca kasar dalam

kaca arloji dengan jumlah berat tmangan sebanyak kurang lebih 4 gram.

3. Padatan natrium hidroksida dilarutkandengan menggunakan aquades dalam

beaker glass hingga volume larutan natrium hidroksida mencapai 100 ml dalam

beaker glass, diaduk dengan batang pengaduk kemudian diberi label.

II.3.3 Prosedur Pembuatan Larutan Natrium Boraks

1. Dihitung jumlah berat natrium boraks yang digunakan untuk membuat larutan

natrium boraks ±0,1 N sebanyak 100 ml.

Data - data pembuatan larutan natrium boraks

Rumus molekul kristal natrium boraks = Na 2 B 4 O 7. 10H 2 O

Berat molekul kristal natrium boraks

= 381,372

Normalitas natrium boraks

=

0,1

Volume larutan natrium boraks

Reaksi pembentukan natrium boraks

2 + 2 4 7

2

2 +

2 4 7

= 100 ml / 0,1 liter

+ 2 2 ( garam basa )

+ 2

2 4 7 . 10 2

2 4 7 . 10 2

2 4 7 . 10 2

2 4 7 . 10 2

=

2 4 7 .2 2

2 4 7 .2 2

= 2 4 7 . 10 2 2 4 7 . 10 2

=

=

0,1

0,1

2

5 10 3

=

2 4 7 . 10 2 2 4 7 . 10 2

= 5 10 3 381,372

.

= 1,9069

Batas atas ( batas maximum )

= 1,9069 gram + ( 10 % x 1,9069 gram )

= 2,0976 gram

Batas bawah ( batas minmium )

= 1,9069 gram - ( 10 % x 1,9069 gram )

= 1,7162 gram

Range penimbangan

= 1,7162 gram - 2,0976 gram

2. Kristal natrium boraks ditimbang menggunakan neraca analitis dalam botol

timbang dengan jumlah berat penimbangan 1,9069 gram.

3. Kristal natrium boraks dilarutkan dalam beaker glass dengan penambahan

aquades ±50 ml kemudian diaduk menggunakan batang pengaduk.

4. Larutan standart natrium boraks dalam beaker glass dimasukkan dalam labu takar

kemudian dilakukan penambahan aquades hingga mencapai tanda batas.

5. Larutan standart natrium boraks dikocok agar larutan homogen dan diberi label.

II.3.4 Prosedur Pembuatan Larutan asam klorida

1. Dihitung jumlah volume yang akan diambil dalam larutan HCl pekat untuk

membuat larutan HCl ±0,1 N sebanyak 1 L

Data - data pembuatan larutan asam klorida

Rumus molekul asam klorida

BM asam klorida

Density asam klorida pekat

Konsentrasi asam klorida pekat

Volume larutan asam klorida

Normalitas asam klorida

Reaksi ion asam klorida

= HCl

=

36,46

= 1,19

= 37 %

= 1

= 0,1

+

+

= +

=

=

0,1

+

1

1

= 0,1

=

= 0,1 36,46

= 3,646

=

=

3,646

1,19

37 %

= 8,3

2. Larutan HCl pekat di lemari asam diambil menggunakan pipet tetes kemudian dimasukkan ke dalam gelas ukur hingga volume hcl pekat mencapai 8,3 ml.

3. Larutan HCl pekat dari gelas ukur dimasukkan ke dalam beaker glass kemudian ditambah dengan aquades untuk mendapatkan volume larutan HCl 1 L. Kemudian diaduk menggunakan batang pengaduk dan diberi label.

BAB III HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

III.1. Hasil Percobaan

III.1.1 Asidimetri

1. Larutan standar dibuat dengan cara menimbang asam oksalat sebanyak 0,6768 gram , kemudian dilarutkan dan diencerkan dengan aquades sampai 100 ml. Rumus kimia asam oksalat = H 2 C 2 O 4. 2H 2 O

BM asam oksalat

= 126,07

2. Hasil titrasi Indikator yang digunakan indikator Phenolphtalein

Vol asam oksalat,

Vol NaOH,

Perubahan warna

pH

pada titik

Ml

ml

akhir

10

11,9

Tidak berwarna - Merah muda

8

10

12

Tidak berwarna - Merah muda

8

Rata-rata:10

11,95

Tidak berwarna - Merah muda

8

III.1.2 Alkalimetri

1. Larutan standar dibuat dengan cara menimbang natrium boraks sebanyak 1,7858 g, kemudian dilarutkan dan diencerkan dengan aquades sampai 100ml. Rumus kimia natrium boraks = Na 2 B 4 O 7 .10H 2 O

= 381,372

BM natrium boraks

2 . Hasil titrasi

Indikator yang digunakan indikator metil merah

Vol natrium

Vol HCl,

 

pH

boraks,

ml

Perubahan warna

pada titik

ml

akhir

10

10,5

kuning - merah muda

5

10

10,6

kuning - merah muda

5

Rata-rata: 10

10,55

kuning - merah muda

5

III.2. Pengolahan Data/Perhitungan

III.2.1. Pengolahan Data Asidimetri

III.2.1.1. Data - Data Praktikum (Sebelum Titrasi )

1. Massa H 2 C 2 O 4. 2H 2 O yang ditimbang

= 0,6768 gram

2. Massa NaOH yang ditimbang

= 4,0 gram

3. Volume larutan H 2 C 2 O 4. 2H 2 O

= 100 ml / 0,1 liter

4. Volume larutan NaOH

= 1 liter

 

5. Berat molekul asam oksalat

=

126,07

6. Berat Molekul natrium hidroksida

= 40

III.2.1.2. Data - Data Praktikum ( saat titrasi )

1. Volume H 2 C 2 O 4. 2H 2 O saat titrasi

= 10 ml

2. Volume rata - rata NaOH hasil titrasi

= 11,95 ml

3. Indikator PhenolPhtalein

= 2 tetes

III.2.1.3 Konsentrasi Larutan Standart Asam Oksalat

2 2 4 . 2 2

2 2 4 .2 2

=

2 2 4 .2 2

2

2

2

2

4 . 2

4 . 2

2

2

0,6768

=

126,07

= 5,36 10 3

2 2 4 . 2 2

= + 2 2 4 . 2 2

2 2 4 . 2 2 =

2

5,36 10 3

0,1

2 2 4 . 2 2 =

2

2

2

2

4 . 2

4 . 2

2

2

2 2 4 . 2 2

=

=

=

0,1072

2 2 4 . 2 2

+

0,1072

2

0,0536

III.2.1.4. Konsentrasi Larutan NaOH Setelah Pembakuan

2 2 4

=

1 .

1

=

2

=

2

=

2 . 2

1 . 1

2

0,1072

10 10 3

11,95 10 3

2

=

0,08970

2

2

=

2

0,08970

 
 

=

 

1

2

= 0,08970

Keterangan :

Molaritas 2

Normalitas 2

Volume 1

Normalitas 1

Molaritas 1

Volume 1

= Molaritas NaOH

= Normalitas NaOH

= Volume NaOH rata - rata hasil titrasi

=

= Molaritas

= Volume 2 2 4 100 ml

Molaritas

2 2 4 2 2 4

III.2.1.5. pH Matematis Larutan Saat Titik Akhir Titrasi

Data - data hasil titrasi :

Mol H 2 C 2 O 4

Mol NaOH

=

= 0,0536 x 10 -3

= 5,36 x 10 -4 mol

= Molaritas NaOH titrasi x Volume NaOH rata-rata

= 0,08970

= 1,072 x10 -3 mol

Molaritas H 2 C 2 O 4

x Volume H 2 C 2 O 4 titrasi

x 10 x 10 -3 liter

x 11,95 x 10 -3 liter

Reaksi Titrasi asam oksalat dengan Natrium hidroksida

 

2 2 4

+

2

2 2 4

+

2

M

5,36 x 10 -4 mol

1,072 x 10 -3 mol

 

B

5,36 x 10 -4 mol

1,072 x 10 -3 mol

- 5,36 x10 -4 mol

- 5,36 x10 -4 mol

S

-

-

5,36 x10 -4 mol

5,36 x 10 -4 mol

Ditinjau dari reaksi tersebut , perhitungan pH berdasarkan hidrolisis garam karena tidak ada zat asam atau basa yang tersisa dalam reaksi .

Molaritas

Na

2 C

2

O

4

( garam basa )

Molaritas Na 2 C 2 O 4

( garam basa )

Molaritas Na 2 C 2 O 4

( garam basa )

pH hidrolisis garam basa

Data - data untuk hidrolisis garam :

Ka 1 asam oksalat = 5,6 x 10 -2

Ka 2 asam oksalat = 5,4 x 10 -5

= 2 2 4

5,36 10 4

=

21,95 10 3

= 0,02441

( Day and Underwood , 1998 )

[ OH - ] 1

=

1

=

10

−14

2 0,02441

2

5,6 10

= 9,336 x 10 -8 M

[ OH - ] 2

=

1

 

=

=

[OH - ]

=

=

=

pOH

=

=

=

10

−14

5 0,02441

2

5,4 10

2,88 x 10 -6 M

[ OH - ] 1

+ [OH - ] 2

9,336 x 10 -8 M + 2,88 x 10 -6 M

2,97336 x 10 -6 M

- Log ( [OH - ] )

- Log ( 2,97336 x 10 -6 M )

5,52

pH

= 14 - pOH

= 14 - 5,52

= 8,48 ( secara matematis )

pH ind = 8

% ralat

= | −ℎ |

x 100 %

= |8−8,48|

8

x 100 % = 6 %

III.2.2 Pengolahan Data Akalimetri

III.2.2.1 Data-Data Praktikum ( Sebelum Titrasi )

1. Massa Na 2 B 4 O 7 .10H 2 O hasil timbangan

= 1,7858 gram

2. Volume HCl pekat

= 8,3 ml

3. Volume larutan Na 2 B 4 O 7 .10H 2 O

= 100 ml / 0,1 liter

4. Volume larutan HCl

= 1 liter

5. Berat molekul HCl

=

36,46

6. Berat molekul Na 2 B 4 O 7 .10H 2 O

=

381,372

III.2.2.2 Data-Data Praktikum ( Saat Titrasi )

1.Volume larutan Na 2 B 4 O 7 .10H 2 O saat titrasi

= 10 ml

2. Volume larutan HCl rata - rata saat titrasi

= 10,55 ml

3. Indikator Metil Merah

= 2 tetes

III.2.2.3 Konsentrasi Larutan Standart Natrium Boraks

2 4 7 . 10 2

2

4 7 . 10

2

2 4 7 . 10 2

2 4 7 . 10 2

2 4 7 .10 2

=

2 4 7 .10 2

1,7858

=

381,372

= 4,682 10 3

=

2 4 7 .10 2

2 4 7 . 10 2

=

2 4 7 . 10 2

=

2 4 7 . 10 2

=

2 4 7 . 10 2

=

2 4 7 . 10 2

=

2

4,682 10 3

0,1

0,0936

2 4 7 . 10 2

+

0,0936

2

0,0468

III.2.2.4 Konsentrasi Larutan HCl setelah Pembakuan

2 4 7 .

=

1 .

1

=

2

 

=

2

=

2

=

2

=

2

=

2 . 2

1 . 1

2

0,0936

10 10 3

10,55 10 3

0,08872

2

0,08872

1

2

Keterangan :

Molaritas 2

Normalitas 2

= 0,08872

= Molaritas HCl

= Normalitas HCl

Volume 1

=

Volume HCl rata - rata hasil titrasi

Molaritas 1

=

Molaritas

2 4 7

Normalitas 1

=

Molaritas

2 4 7 .

Volume 1 = Volume 2 4 7 . 10 2 100

III.2.2.5 pH matematis larutan Saat Titik Akhir titrasi\

Data - data hasil titrasi :

Mol

2 4 7

Mol

=

= 0,0468 x 10 -3

= 4,68 x 10 -4 mol / 0,468 mmol

= Molaritas

= 0,08872

= 9,4 x 10 -4 mol / 0,940 mmol

Molaritas 2 4 7

titrasi

x

Volume H 2 C 2 O 4 titrasi

x 10 x 10 -3 liter

x Volume HCl titrasi

x 10,55 x 10 -3 liter

Reaksi titrasi natrium boraks dengan asam klorida

2 4 7 . 10 2

+

2

4 3 3

+

2

+

5 2

M

0,468 mmol

0,940 mmol

-

-

B

0,468

mmol

0,936

mmol

1,872 mmol

0,936 mmol

2,34 mmol

S

-

0,004 mmol

1,872 mmol

0,936 mmol

2,34 mmol

Ditinjau dari reaksi tersebut perhitungan pH berdasarkan asam kuat karena yang tersisa adalah asam kuat. Asam kuat mempengaruhi seluruh pH pada suatu larutan. Terdapat asam lemah yaitu asam boraks tetapi sifat asam boraks yaitu asam lemah sehingga asam boraks tidak mempengaruhi pH keseluruhan larutan hasil titrasi.

[H] +

[H] +

[H] +

[H] +

pH

pH

pH

% ralat

= Molaritas HCl x Valensi asam

=

Mol terlarut HCl

HCl x Valensi asam

Volume larutan

4 x 10 3 x 10 3 mol

=

20,55 x 10 3 liter

1

= 1,9464 x 10 -4

= - log [ H ] +

= - log [ 1,9464 x 10 -4

= 3,71

]

= | −ℎ |

= |5−3,71|

5

x 100 % = 25, 8 %

x 100 %

III.3. Pembahasan

III.3.1 Asidimetri

Asidimetri merupakan salah satu analisis metode titrimetri dengan meggunakan

asam sebagai larutan standar baku primer untuk menentukan kandungan dari suatu analit

dalam hal ini larutan standar baku sekunder. Dalam percobaan asidimetri yang dilakukan,

asam oksalat sebagai larutan standar baku primer yang digunakan untuk menentukan

konsetrasi dari suatu analit yaitu larutan natrium hidroksida. Hal ini dapat dinamakan

standarisasi larutan natrium hidroksida menggunakan asam oksalat. Larutan standar baku

primer asam oksalat 0,1072 diletakkan dalam labu titrasi / erlenmeyer sebanyak 10 ml,

dititrasi dengan larutan NaOH dengan volume rata-rata titrasi yaitu 11,95 ml dengan

pemberian indikator phenolphtalein yang menunjukan kapan terjadinya titik akhir titrasi

yang terjadi . Indikator diberikan ke dalam larutan yang dititrasi sebanyak 2 tetes. Semakin

banyak tetes indikator yang digunakan semakin pekat indikasi warna dari indikator tetapi

tidak mempengaruhi hasil dari titrasi.

Pada percobaan titrasi pertama dengan menggunakan larutan standart baku primer

asam oksalat ±0,1 dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH, terjadi perubahan

warna ketika volume NaOH mencapai 11,9 ml. Perubahan warna yang terjadi dari tidak

berwarna hingga menunjukan warna merah muda. Hal ini menunjukkan bahwa titik akhir

titrasi berada pH basa karena trayek pH phenolphtalein 8,0-9,6 ( Harijadi, 1990 ).

Pengukuran pH dilakukan pada titrasi yang pertama, warna indikator pH menunjukkan

bahwa larutan hasil titrasi pertama berada pada pH 8. Pada percobaan titrasi yang kedua

dengan menggunakan larutan yang sama yaitu standart baku primer asam oksalat dititrasi

dengan larutan NaOH, terjadi perubahan warna dari tidak berwarna hingga merah muda

dengan volume NaOH yang digunakan untuk titrasi yaitu 12 ml. Pengukuran pH dilakukan

pada larutan hasil titrasi yang kedua dan warna indikator pH menunjukan bahwa pH

larutan yaitu 8. Terjadi perbedaan volume NaOH yang digunakan untuk titrasi berbeda

hanya 1 % sehingga masih bisa ditoleransi. Volume rata-rata hasil titrasi digunakan untuk

mengukur konsentrasi larutan NaOH yaitu 11,95 ml. Secara matematis, konsentrasi larutan

. Larutan NaOH mengalami perubahan

NaOH yang didapat yaitu 0,8970

konsentrasi pada waktu pertama perhitungan pembuatan larutan NaOH dibuat dengan

konsentrasi ±0,1 kemudian mengalam perubahan konsentrasi hingga menjadi 0,8970

. Oleh karena itu larutan NaOH tidak bisa menjadi larutan baku primer sehingga

diperlukan standarisasi terlebih dahulu menggunakan asam oksalat. NaOH memiliki sifat yang tidak stabil sehingga mudah mengalami perubahan. NaOH bersifat higroskopis sehingga menyerap uap air dari udara yang mengakibatkan NaOH lebih mudah meleleh dalam ruang terbuka. Selain itu, NaOH juga bereaksi dengan CO 2 di udara membentuk Na 2 CO 3 . Sehingga NaOH tidak dapat digunakan sebagai baku primer melainkan sebagai larutan baku sekunder.

Pengukuran pH larutan hasil titrasi dengan menggunakan indikator universal menghasilkan pH rata-rata larutan hasil titrasi yaitu 8. Secara perhitungan matematis didapatkan pH larutan hasil akhir titrasi 8,48 dengan persen ralat yaitu dibawah 10 % yaitu 6 % sehingga masih dapat masuk dalam perhitungan. Pengukuran pH larutan hasil titrasi dengan menggunakan pH universal memiliki kelemahan yaitu pengukuran pH tidak tepat hanya diambil garis besar angka dari pH tersebut dan kepekaan terhadap pH larutan masih kurang sehingga terkadang pH universal tidak bisa menunjukan warna pada angka pH ternetu sehingga perlu waktu untuk mendapat pengukuran pH yang tepat. Faktor kesalahan dari titrasi dapat juga dilakukan oleh kesalahan manusia dalam melihat ukuran volume yang digunakan dalam biuret, tingkat kebersihan alat-alat yang digunakan dalam titrasi yang dapat mempengaruhi konsentrasi dari suatu larutan serta jumlah indikator yang ditetes mempengaruhi perubahan warna, sehingga ketika pada saat titik akhir titrasi warna yang terjadi adalah merah pekat karena jumlah indikator yang digunakan banyak. Faktor keberhasilan dari titrasi asidimetri adalah ketelitian dalam titrasi dan seluruh pengunaan alat serta kebersihan untuk mendapatkan titik akhir titrasi yang maksimal. Serta jumlah perlakuan titrasi tidak cukup hanya dengan dua kali titrasi, perlu titrasi sampai 3-4 kali untuk mendapatkan konsentrasi larutan NaOH dengan tepat dan pasti.

BAB IV KESIMPULAN

IV.Asidimetri

1. Larutan asam oksalat sebagai baku primer untuk titrasi asidimetri dibuat

dengan penimbangan massa asam oksalat seberat 0,6768 gram dilarutkan

dalam aquades untuk membuat larutan asam oksalat sebanyak 100 ml dan

melalui perhitungan matematis konsentrasi asam oksalat dalam larutan

adalah 0,1072

2. Larutan natrium hidroksida sebagai baku sekunder untuk titrasi asidimetri

dibuat dengan penimbangan massa natrium hidroksida seberat 4 gram.

Untuk mengetahu konsentrasi dari NaOH perlu standarisasi dengan asam

oksalat

3. Asidimetri menggunakan indikator phenolphtalein karena titrasi antara

asam oksalat dengan NaOH titik ekivalen berada pada pH 8

4. Titik akhir titrasi ditunjukan dengan adanya indikasi dari indikator

Phenolphtalein yang berubah warna dari tidak berwarna menjadi merah

muda

5. Pengukuran pH rata - rata larutan hasil titrasi menggunakan pH universal

didapat pH larutan rata - rata adalah 8 dan secara matematis yaitu 8,48

dengan ralat 6%

6. Konsentrasi larutan NaOH setelah pembakuan menggunakan larutan asam

dengan volume rata rata larutan NaOH

oksalat yaitu 0,08970

yang menitrasi asam oksalat adalah 11,95 ml

IV.2. Alkalimetri

1. Larutan natrium boraks sebagai baku primer untuk titrasi alkalimetri

dibuat dengan penimbangan massa natrium boraks seberat 1,7858 gram

dilarutkan dalam 100 ml dan melalui perhitungan matematis konsentrasi

natrium boraks dalam larutan adalah 0,1072

2.

Larutan asam klorida sebagai baku sekunder untuk titrasi asidimetri dibuat dengan pengambilan volume asam klorida pekat sebanyak 8,3

ml untuk membuat larutan asam klorida 100 ml. Untuk mengetahu

konsentrasi dari asam klorida perlu standarisasi dengan natrium boraks.

3. Alkalimetri menggunakan indikator metal merah karena titik akhir titrasi antara larutan natrium boraks dengan larutan asam klorida berada pada

pH 3,71 ( pH perhitungan matematis )

4. Titik akhir titrasi ditunjukan dengan adanya indikasi dari indikator metal

merah yang berubah warna dari kuning pada larutan dengan pH diatas 6,3 menjadi merah muda pada pH parutan dibawah 4,3

5. Pengukuran pH rata-rata hasil titrasi menggunakan pH universal kemudian didapat pH larutan rata-rata menggunakan pH universal yaitu 5

dan pH perhitungan secara matematis yaitu 3,71 dengan ralat perhitungan

25,8%

6. Terjadi perbedaan antara perhitungan pH matematis dengan pH universal tetapi lebih sesuai dengan perhitungan pH matematis karena berdasarkan pada perubahan warna indikator metal merah. Perubahan warna indikator metil merah pada titik akhir titrasi alkalimetri yaitu menjadi warna merah muda pada pH dibawah 4,3

7. Konsetrasi larutan asam klorida setelah pembakuan menggunakan larutan

dengan volume larutan rata rata

natrium boraks yaitu 0,0887 eq

⁄ liter

asam klorida untuk menitrasi natrium boraks adalah 10,55 ml

DAFTAR PUSTAKA

Day, R .A, Jr. dan Underwood, A.L.,1998, Analisis Kimia Kuantitatif, edisi ke-6. Jakarta:

Erlangga. Harjadi, W, 1990, Ilmu Kimia Analitik Dasar.Jakarta: PT. Gramedia. Anonim , Compund Summary For CID 4764 ( Phenolphtalein ) , Pub Chem Chemistry open database U.S National Library Medicine , 25 januari 2018 .

Lampiran - Lampiran

Lampiran Foto Praktikum

Lampiran - Lampiran • Lampiran Foto Praktikum Gambar L.1 Hasil titrasi asidimetri yang pertama Gambar L.3

Gambar L.1 Hasil titrasi asidimetri yang pertama

Praktikum Gambar L.1 Hasil titrasi asidimetri yang pertama Gambar L.3 Hasil titrasi alkalimetri yang pertama Gambar

Gambar L.3 Hasil titrasi alkalimetri yang pertama

pertama Gambar L.3 Hasil titrasi alkalimetri yang pertama Gambar L.2 Hasil titrasi asidimetri yang kedua Gambar

Gambar L.2 Hasil titrasi asidimetri yang kedua

alkalimetri yang pertama Gambar L.2 Hasil titrasi asidimetri yang kedua Gambar L.4 Hasil titrasi alkalimetri yang

Gambar L.4 Hasil titrasi alkalimetri yang kedua