Anda di halaman 1dari 2

Kasus Pencucian Uang, Nazaruddin Dituntut 7

Tahun Penjara
Lukman Diah Sari • Rabu, 11 May 2016 17:40 WIB
GOOGLE+

Muhammad Nazaruddin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (11/5/2016). Antara Foto/Sigid
Kurniawan

Metrotvnews.com, Jakarta: Muhammad Nazaruddin dituntut tujuh tahun penjara dan denda
Rp1 miliar. Ia dinilai melakukan pencucian hasil korupsi dengan membeli aset tanah,
bangunan, alat transportasi, dan saham.

"Kami menuntut supaya majelis hakim menyatakan (Nazaruddin) terbukti sah dan
meyakinkan melakukan tindak pidana pencucian uang," kata Jaksa Penuntut Umum Kresno
Anto Wibowo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusa, Rabu
(11/5/2016).

"Kami menjatuhkan pidana penjara tujuh tahun dengan denda Rp1 miliar subsider satu tahun
kurungan," tambah Kresno. Jaksa juga menuntut hakim merampas aset Nazaruddin.

Hal yang memberatkan Nazaruddin karena telah melakukan perbuatan korupsi saat negara
sedang memberantas korupsi, korupsi secara terstruktur dan sistematis untuk kepentingan
pribadi dan kelompok.

Nazaruddin dijerat Pasal 12 huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana


diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo
Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Nazaruddin juga dianggap melanggar Pasal 3 UU No. 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 65 ayat (1)
KUHP.

Lalu, Pasal 3 ayat (1) huruf a, c, dan e UU No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan UU No. 25 Tahun 2003 jo Pasal 55 ayat
(1) ke-1 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.
Mantan Bendahara Umum ini memastikan dirinya akan mengajukan pledoi atau pembelaan
pada Rabu 18 Mei.
"Sidang perkara ini ditunda sampai Rabu untuk pembacaan pledoi," kata Majelis Hakim Ibnu
Basuki.

Pada Januari 2013, Mahkamah Agung memvonis Nazaruddin hukuman tujuh tahun penjara
terkait kasus suap pembangunan Wisma Atlet Palembang. Putusan ini sekaligus membatalkan
vonis di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat dan Pengadilan Tinggi DKI selama empat tahun 10
bulan penjara