Anda di halaman 1dari 11

PENYALAHGUNAAN NARKOBA PADA REMAJA DAN KETERKAITANYA TERHADAP NILAI-NILAI PANCASILA

DISUSUN OLEH:

INDRAWATI ( NI: 1604110447 )

MATA KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA

FAKULTAS ADMINISTRASI NEGARA

UNIVERSITAS ISLAM KUANSING

TELUK KUANTAN, OKTOBER 2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat dan
karunian-Nya,sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengertian Kutipan
“ ini dengan lancar. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan Bahasa Indonesia.

Makalah ini ditulis dari hasil penyusun data-data sekunder yang diperoleh dari buku-
buku panduan dan informasi media massa yang berhubungan dengan judul makalah ini.

Semoga dengan membaca makalah ini dapat memberi menfaat dan menambah
wawasan kita. Memang ini jauh dari sempurna, maka diharapkan kritik dan saran dari pembaca
yang bersifat membangun.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................

DAFTAR ISI.............................................................................................................

BAB I: PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang.................................................................................................

1.2. Rumusan masalah............................................................................................

BAB II: PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kutipan...........................................................................................

2.2 Macam – Macam Kutipan.................................................................................

2.3 Cara Menempatkan Sumber Kutipan…………………….........................................

2.4 Cara Penulisan Sumber Kutipan dari Berbagai Sumber..................................

BAB III: KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Maraknya narkotika dan obat-obatan terlarang telah banyak mempengaruhi mental dan sekaligus
pendidikan bagi para remaja saat ini. Masa depan bangsa yang besar ini bergantung sepenuhnya pada
upaya pembebasan kaum muda dari bahaya narkoba. Sebagai makhluk tuhan yang maha esa,
seharusnya kita selalu berfikir jernih tentang bahaya yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkotika
dan obat-obatan terlarang, serta memerangi kesia-siaan yang diakibatkan oleh narkoba.

Sebagai ideologi, nilai-nilai Pancasila sudah menjadi budaya dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan benegara di Indonesia. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi
saat ini, nilai-nilai luhur Pancasila diindikasikan mulai dilupakan masyarakat Indonesia. Adapun perilaku
yang menyimpang dari nilai-nilai luhur Pancasila, salah satunya adalah penyalahgunaan narkoba.
Penyimpangan tersebut tidak sejalan dan bahkan bertentangan dengan ajaran yang terkandung di
dalam Pancasila. Pancasila merupakan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang dapat dijadikan pedoman
bagi seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai kemajuan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Sudah
selayaknya, bangsa Indonesia mengembangkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar
kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mewujudkan cita-cita bangsa.

1.2 RUMUSAN MASALAH

a. Pengertian Narkoba

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba

c. Pengaturan Narkoba dalam Perundang-undangan

d. Keterkaitan Narkoba Terhadap Nilai-nilai Pancasila

e. Bahaya Narkoba bagi Remaja dan Penanggulangannya

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Narkoba

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Yaitu semua zat padat, cair,
maupun gas yang dimasukkan ke dalam tubuh yang dapat merubah fungsi dan struktur tubuh secara
fisik maupun psikis tidak termasuk makanan, minuman, dan oksigen dimana dibutuhklan untuk
mempertahankan fungsi tubuh normal. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-
senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan
untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan
dan dosis yang semestinya.

Narkoba di bagi menjadi 3 jenis, yaitu narkotika, psikotropika, dan bahan adiktiftif lainya. Tiap jenis
dibagi-bagi lagi ke dalam beberapa golongan.

a. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman , baik sintetis maupun
bukan sintetis, yang dapat menyebabkan penuruna atau perubahan kesadaran dan hilangnya rasa. Zat
ini dapat mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Jenis narkotika di bagi atas 3 golongan :

1. Narkotika golongan I adalah yang paling berbahaya ,memiliki daya adiktif sangat tinggi sehingga
tidak boleh di gunakan untuk kepentingan apa pun,kecuali penelitian atau ilmu pengetahuan.
Contohnya adalah ganja, heroin, kokain, morfin, opium,dll.

2. Narkotika golongan II adalah narkotika yang memiliki daya adiktif kuat,tetapi bermanfaat untuk
pengobatan dan penelitian.Contohnya adalah petidin dan turunannya , benzeditin, betametadol,dll.

3. Narkotika golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi bermanfaat untuk
pengobatan dan penelitian . Contohnya adalah kodein dan turunannya.

Berdasarkan cara pembuatannya,narkotika di bedakan menjadi :

· Narkotika alami ; adalah narkotika yang zat adiktif diambil dari tumbuh-tumbuhan (alam),seperti:
ganja , hasis,koka,opium.

· Narkotika semisintesis ; adalah narkotika alami yang di olah dan di ambil zat adiktif agar memiliki
khasiat yang lebih kuat sehingga dapat di manfaatkan untuk kepentingan kedokteran ,seperti : morfin
,kkodein,kokain.

· Narkotika sintetis: adalah narkotika palsu yang dibuat dari bahan kimia ,di gunakan untuk pembiusan
dan pengobatan bagi orang yang menderita ketergantungan narkoba ,seperti: petidin,methadon
naltrexon.

b. Psikotropika

Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis (bukan narkotika) yang bersifat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada
aktifitas mental dan tingkah laku.

Berdasarkan ilmu farmakologi ,psikotropika di kelompokkan ke dalam 3 golongan, yaitu :

1. Kelompok depresan /penekan saraf pusat/penenang/obat tidur,contohnya:


valium,Bk,megadon,dll.jika di minum akan memberikan rasa tenang,mengantuk,tentram,damai,juga
menghilangkan rasa takut dan gelisah.

2. Kelompok stimulant /perangsang saraf pusat anti tidur,contihnya : amfetamin,ekstasi,dan shabu. Jika
di minum akan mendatangkan rasa dan tidak merasa lapar

3. Kelompok halusinogen ,adalah obat atau zat yang dapat menimbulkan khayalan ,contohnya : LCD

Contoh psikotropika:

· Ekstasi atau Inex atau Metamphetamines

· Demerol

· Speed

· Angel Dust

· Sabu-sabu (Shabu/Syabu/ICE)

· Sedatif-Hipnotik (Benzodiazepin/BDZ), BK, Lexo, MG, Rohip, Dum

· Megadon

· Nipam

c. Zat Adiktif.
Zat adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidup, maka
dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan
dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus. Jika dihentikan dapat memberi efek lelah
luar biasa atau rasa sakit luar biasa. Contohnya:

· Alkohol

· Nikotin

· Kafein

· Zat Desainer

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyalahgunaan narkoba, yaitu:

a. Faktor lingkungan sosial

Yaitu pengaruh yang ditimbulkan dari lingkungan sosial pelaku, baik lingkungan sekolah, pergaulan dan
lain-lain. Hal tersebut dapat terjadi karena benteng pertahanan dirinya lemah, sehingga tidak dapat
membendung pengaruh negatif dari lingkungannya. Pada awalnya mungkin sekedar motif ingin tahu dan
coba-coba terhadap hal yang baru, kemudian kesempatan yang memungkinkan serta didukung adanya
sarana dan prasarana. Tapi lama kelamaan dirinya terperangkap pada jerat penyalahgunaan narkoba.

b. Faktor kepribadian

Rendah diri, emosi tidak stabil, lemah mental. Untuk menutupi itu semua dan agar merasa eksis maka
melakukan penyalahgunaan narkoba.

c. Faktor keluarga

Sejak dini orangtua dengan anak komunikasi kurang efektif dan efisien dengan alasan kesibukan
pekerjaan atau kurang pengarahan terhadap anak hingga acuh tak acuh mengikuti perkembangan
zaman hingga serba boleh.

d. Faktor Pendidikan

Pendidikan akan bahaya penyalahgunaan narkoba di sekolah-sekolah juga merupakan salah satu bentuk
kampanye anti penyalahgunaan narkoba. Kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh siswa-siswi akan
bahaya narkoba juga dapat memberikan andil terhadap meluasnya penyalahgunaan narkoba di kalangan
pelajar.

e. Faktor Masyarakat dan Komunitas Sosial

Faktor yang termasuk dan mempengaruhi kondisi sosial seorang remaja atnara lain hilangnya nilai-nilai
dalam sebuah keluarga dan sebuah hubungan, hilangnya perhatian dengan komunitas, dan susahnya
berdaptasi dengan baik (bisa dikatakan merasa seperti alien, diasingkan).

f. Faktor Populasi Yang Rentan

Remaja masa kini hidup dalam sebuah lingkaran besar, dimana sebagian remaja berada dalam
lingkungan yang beresiko tinggi terhadap penyalahgunaan narkoba. Banyak remaja mulai mencoba-coba
narkoba, seperti amphetamine-type stimulants ( termasuk didalamnya alkohol, tembakau dan obat-
obatan yang diminum tanpa resep atau petunjuk dari dokter, serta obat psikoaktif ) sehingga
menimbulkan berbagai macam masalah pada akhirnya.

2.3 Pengaturan Narkoba dalam Perundang-undangan.

a. Landasan Hukum
Landasan Hukum adalah Landasan hukum yang berupa peraturan perundang undangan dan konvensi
yang sudah diratifikasi cukup banyak, diantaranya adalah :

Ø Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, menyatakan:

· Pasal 45: Pecandu narkotika wajib menjalani pengobatan dan/atau perawatan.

· Pasal 36 : Orang tua atau wali pecandu yang belum cukup umur bila sengaja tidak melaporkan
diancam kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak satu juta rupiah.

· Pasal 88 : Pecandu narkotika yang telah dewasa sengaja tidak melapor diancam kurungan paling
lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak dua juta rupiah, sedang bagi keluarganya paling lama 3
(tiga) bulan atau denda paling banyak satu juta rupiah.

Ø Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, menyatakan :

· Pasal 37 ayat (1) : Pengguna psikotropika yang menderita syndrome ketergantungan berkewajiban
ikut serta dalam pengobatan atau perawatan.

· Pasal 64 ayat (1) : barang siapa menghalang-halangi penderita syndrome ketergantungan untuk
menjalani pengobatan dan/atau perawatan pada fasilitas rehabilitasi sebagaimana dimaksudkan dalam
pasal 37, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling
banyak 20 juta rupiah.

Ø UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

· PP Nomor 1 Tahun 1980 tentang Ketentuan Penanaman Papaver, Koka, dan Ganja.

· Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman Beralkohol.

· UU No. 8 Tahun 1976 tentang Pengesahan konvensi Tunggal Narkotika 1961.

· Konvensi Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika 1988.

Penyalahgunaan Narkoba termasuk kualifikasi perbuatan pidana (delict) yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan sebagaimana disebutkan di atas. Hukum pidana menganut asas legalitas,
sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP yang menegaskan : “Tiada suatu perbuatan dapat
dipidanakan kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum
perbuatan dilakukan”. Perkara narkotika termasuk perkara yang didahulukan dari perkara lain untuk
diajukan ke pengadilan guna penyelesaian secepatnya.

Tentang Ketentuan Pidana Narkotika diatur dalam UU No. 22 Tahun 1997, Bab XII, Pasal 78 s/d 100. Bagi
pelaku delik narkotika dapat dikenakan pidana penjara sampai dengan 20 tahun atau maksimal dengan
pidana mati dan denda sampai Rp. 25 Milyar. Demikian juga bagi pelaku delik psikotropika, dalam UU
No. 5 tahun 1997, Bab XIV tentang Ketentuan Pidana, Pasal 59-72, dapat dikenai hukuman pidana
penjara sampai 20 tahun dan denda sampai Rp. 750 juta. Berat ringannya hukuman tergantung pada
tingkat penyalahgunaan narkoba, apakah sebagai pemakai, pengedar, penyalur, pengimpor/pengekspor,
produsen ilegal, sindikat membuat korporasi dan sebagainya.

Pengaturan narkotika berdasarkan undang-undang nomor 35 tahun 2009 (UU No.35 tahun 2009),
bertujuan untuk menjamin ketersedian guna kepentingan kesehatan dan ilmu pengetahuan, mencegah
penyalahgunaan narkotika, serta pemberantasan peredaran gelap narkotika.

Untuk lebih mengefektifkan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap
Narkotika dan Prekursor Narkotika, diatur mengenai penguatan kelembagaan yang sudah ada yaitu
Badan Narkotika Nasional (BNN). BNN tersebut didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun
2007 tentang Badan Narkotika Nasional, Badan Narkotika Provinsi, dan Badan Narkotika
Kabupaten/Kota. BNN tersebutmerupakanlembaga non struktural yang berkedudukan di bawah dan
bertanggung jawab langsung kepada Presiden, yang hanya mempunyai tugas dan fungsi melakukan
koordinasi. Dalam Undang-Undang ini, BNN tersebut ditingkatkan menjadi lembaga pemerintah non
kementerian (LPNK) dan diperkuat kewenangannya untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. BNN
berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden. Selainitu, BNN juga
mempunyai perwakilan di daerah provinsi dan kabupaten/kota sebagai instansi vertikal, yakni BNN
provinsi dan BNN kabupaten/kota.
2.4 Keterkaitan Narkoba Terhadap Nilai-nilai Pancasila

Pancasila merupakan dasar falsafah Negara Republik Indonesia secara resmi tercantum di dalam alenia
ke-empat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, yang ditetapkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus
1945.Pancasila yang disahkan sebagai dasar negara yang dipahami sebagai sistem filsafat bangsa yang
bersumber dari nilai-nilai budaya bangsa.Sebagai ideologi, nilai-nilai Pancasila sudah menjadi budaya
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi saat ini nilai-nilai luhur pancasila
diindikasikan mulai dilupakan masyarakat Indonesia.Sendi-sendi kehidupan di masyarakat sudah banyak
yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

Narkoba memiliki hubungan dan keterkaitan dengan nilai-nilai Pancasila, karena penggunaan
penyalahgunaan narkoba adalah perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai Pancasila.

Sehingga dapat disimpulkan Bahwa Hubungan Penggunaan Penyalahgunaan Narkoba terhadap nilai-nilai
Pancasila adalah :

1. Narkoba dapat dan diperbolehkan digunakan dalam bidang kesehatan dan dengan jumlah yang
sedikit dan tidak menyalahi atuaran kemanusiaan sesuai dengan kandungan nilai Pancasila sila ke dua.

2. Narkoba jika dipakai dan disalahgunakan maka perbuatan si pemakai menyimpang dari nilai-nilai
Pancasila sila Pertama, Kedua ,dan Ketiga. Sila Pertama yaitu Pemakai tidak percaya terhadap Tuhan
yang Maha Esa, karena ia lebih percaya terhadap Narkoba untuk menenangkan diri dan menghilangkan
masalah yang terjadi pada dirinya. Sila Kedua yaitu Pemakai merusak dan membunuh dirinya sendiri
dengan mengonsumsi narkoba. Sila Ketiga yaitu pemakai tidak menghiraukan dampak-dampak yang
terjadi terhadap orang lain dan masyarakat.

Menurut Sholikah dkk, keterkaitan narkoba dengan nilai-nilai pancasila adalah sebagai berkut:

1. Narkoba jika digunakan dalam bidang medis dan dengan kuantitas yang sedikit perbolehkan selama
tidak menyalahi aturan yang sesuai dengan sila ke II. Maksudnya setiap manusia memiliki hak untuk
hidup dan hak untuk sehat. Hak-hak tersebut menjadi cerminan dari sila ke II “Kemanusiaan yang adil
dan beradap”.

2. Jika narkoba disalahgunakan maka perbuatan tersebut adalah penyimpangan dari sila I, II dan III.
Karena dengan melakukan penyalah gunaan narkoba berarti para pemakai tidak percaya bahwa Tuhan
itu ada dan hanya Dia-Lah dzat Yang Maha Segalanya, dimana seharusnya tempat untuk mengadu atas
masalah-masalah yang dihadapi adalah Tuhan, bukannya menggunakan narkoba. Narkoba hanyalah
membuat mereka lupa dengan masalah yang mereka hadapi dalam beberapa saat. Tindakan tersebut
tidak mencermikan sila I. Selain itu narkoba akan membuat mereka menyalami kecanduan dan
membuat kesehatan mereka menjadi rusak bahkan dapat membuat mereka mati. Itu merupakan
penyimpangan dari sila ke II. Disisi lain mereka yang telah menyalami kecanduan narkotika biasanya
lebih suka menyendiri dan lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umum atau
bersama, tindakan tersebut bertolak belakang dengan nilai-nilai pancasila sila ke III.

2.5 Bahya Narkoba bagi Remaja dan Penanggulangannya.

a. Bahaya Narkoba bagi Remaja.

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan generasi muda dewasa ini kian
meningkat Maraknya penyimpangan perilaku generasi muda tersebut, dapat membahayakan
keberlangsungan hidup bangsa ini di kemudian hari. Karena pemuda sebagai generasi yang diharapkan
menjadi penerus bangsa, semakin hari semakin rapuh digerogoti zat-zat adiktif penghancur syaraf.
Sehingga pemuda tersebut tidak dapat berpikir jernih. Akibatnya, generasi harapan bangsa yang
tangguh dan cerdas hanya akan tinggal kenangan. Sasaran dari penyebaran narkoba ini adalah kaum
muda atau remaja. Kalau dirata-ratakan, usia sasaran narkoba ini adalah usia pelajar, yaitu berkisar
umur 11 sampai 24 tahun.

Akibat penyalahgunaan narkoba bagi diri remaja:


a. Terganggunya fungsi otak dan perkembangan normal remaja :

o Daya ingat sehinnga mudah lupa

o Perhatian sehingga sulit berkonsentrasi

o Persepsi sehingga memberi perasaan semu.

b. Keracunan, yaitu timbul akibat pemakaian narkoba dalam jumlah yang cukup, berpengaruh pada
tubuh dan perilakunya.

c. Overdosis, terjadi karena sudah lama berhenti pakai, lalu memakai lagi dengan dosis yang dahulu
digunakan. Overdosis dapat menyebabkan kematian karena terhentinya pernapasan atau peredaran
otak.

d. Gejala putus zat, yaitu gejala ketika dosis yang dipakai berkurang atau dihentikan pemakaianya.

e. Berulang kali kambuh, yaitu ketergantungan menyebabkan craving (rasa rindu pada narkoba)
walaupun telah berhenti pakai. Itulah sebabnya pecandu akan berulang kali kambuh.

f. Gangguan perilaku, yaitu sulit mengendalikan diri, mudah tersinggung, menarik diri dari pergaulan,
serta hubungan dengan keluarga terganggu. Terjadi perubahan mental, gangguan pemusatan perhatian,
motivasi belajar lemah.

g. Gangguan kesehatan, yaitu kerusakan atau gangguan fungsi organ tubuh seperti, hati, jantung, paru-
paru, ginjal, dan lai-lain,

h. Kendornya nilai-nilai, yaitu mengendornya nilai-nilai kehidupan agama, sosial-budaya, seperti seks
bebas dengan akibat(penyakit kelamin, kehamilan tak diinginkan). Sopan santun hilang. Ia menjadi
asocial, mementingkan diri sendiri, dan tidak mempedulikan kepentingan orang lain.

i. Masalah ekonomi dan hukum, yaitu pecandu terlibat hutang, karena berusaha memenuhi
kebutuhannya akan narkoba. Ia mencuri uang atau menjual barang-barang milik pribadi atau keluarga.
Jika masih sekolah, uang sekolah digunakan untuk membeli narkoba, sehingga terancam putus sekolah,
dan di tahan polisi atau bahkan di penjara.

b. Penanggulanganya.

1. Preventif (pencegahan), yaitu untuk membentuk masyarakat yang mempunyai ketahanan dan
kekebalan terhadap narkoba. Pencegahan adalah lebih baik dari pada pemberantasan. Pencegahan
penyalahgunaan Narkoba dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pembinaan dan pengawasan
dalam keluarga, penyuluhan oleh pihak yang kompeten baik di sekolah dan masyarakat, pengajian oleh
para ulama, pengawasan tempat-tempat hiburan malam oleh pihak keamanan, pengawasan distribusi
obat-obatan ilegal dan melakukan tindakan-tindakan lain yang bertujuan untuk mengurangi atau
meniadakan kesempatan terjadinya penyalahgunaan Narkoba.

2. Represif (penindakan), yaitu menindak dan memberantas penyalahgunaan narkoba melalui jalur
hukum, yang dilakukan oleh para penegak hukum atau aparat keamanan yang dibantu oleh masyarakat.
Kalau masyarakat mengetahui harus segera melaporkan kepada pihak berwajib dan tidak boleh main
hakim sendiri.

3. Kuratif (pengobatan), bertujuan penyembuhan para korban baik secara medis maupun dengan
media lain. Di Indonesia sudah banyak didirikan tempat-tempat penyembuhan dan rehabilitasi pecandu
narkoba seperti Yayasan Titihan Respati, pesantren-pesantren, yayasan Pondok Bina Kasih dll.

4. Rehabilitatif (rehabilitasi), dilakukan agar setelah pengobatan selesai para korban tidak kambuh
kembali “ketagihan” Narkoba. Rehabilitasi berupaya menyantuni dan memperlakukan secara wajar para
korban narkoba agar dapat kembali ke masyarakat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Kita tidak
boleh mengasingkan para korban Narkoba yang sudah sadar dan bertobat, supaya mereka tidak
terjerumus kembali sebagai pecandu narkoba.

BAB III
KESIMPULAN

a. Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Yaitu semua zat padat, cair,
maupun gas yang dimasukkan ke dalam tubuh yang dapat merubah fungsi dan struktur tubuh secara
fisik maupun psikis tidak termasuk makanan, minuman, dan oksigen dimana dibutuhklan untuk
mempertahankan fungsi tubuh normal. Narkoba di bagi menjadi 3 jenis, yaitu narkotika, psikotropika,
dan bahan adiktiftif lainya.

b. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyalahgunaan narkoba, yaitu: Faktor lingkungan
sosial, kepribadian, keluarga, Masyarakat dan Komunitas Sosial,pendidikan, dan Populasi Yang Rentan.

c. Pengaturan Narkoba dalam Perundang-undangan tertulis dalam: Undang-undang Nomor 22 Tahun


1997 tentang Narkotika, Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, dan UU Nomor 23
Tahun 1992 tentang Kesehatan.

d. Narkoba dapat dan diperbolehkan digunakan dalam bidang kesehatan dan dengan jumlah yang
sedikit dan tidak menyalahi atuaran kemanusiaan sesuai dengan kandungan nilai Pancasila sila ke dua.
Narkoba jika dipakai dan disalahgunakan maka perbuatan si pemakai menyimpang dari nilai-nilai
Pancasila sila Pertama, Kedua ,dan Ketiga. Sila Pertama yaitu Pemakai tidak percaya terhadap Tuhan
yang Maha Esa, karena ia lebih percaya terhadap Narkoba untuk menenangkan diri dan menghilangkan
masalah yang terjadi pada dirinya. Sila Kedua yaitu Pemakai merusak dan membunuh dirinya sendiri
dengan mengonsumsi narkoba. Sila Ketiga yaitu pemakai tidak menghiraukan dampak-dampak yang
terjadi terhadap orang lain dan masyarakat.

e. Akibat penyalahgunaan narkoba bagi diri remaja yaiyu: overdosis, Terganggunya fungsi otak dan
perkembangan normal remaja, serta dapat menyebabkan keracunan.

f. Narkoba dapat ditanggulangi dengan cara: pencegahan, penindakan, pengobatan, dan rehabilitasi

DAFTAR PUSTAKA

Partodiharji, S. 2009 .Kenali Narkoba dan Musuhi Penyalahgunanya.Esensi. Jakarta.

Semium, S. 2006. Kesehatan Mental 2. Kanisius. Jakarta.

Undang-undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika.

Karisma Publishing. 2011. Undang-undang Narkotika RI No. 35 Tahun 2009. Jakarta: SL Media.

Sholikah, dkk. 2011. Narkoba Sebagai Tindakan Nilai-nilai Pancasila. IKIP PGRI. Madiun.

Diposkan oleh ashfie ibrahim di 06.43


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar: