Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.

1 Februari 2017 (11-19) ISSN: 2337-6732

KAJIAN HUBUNGAN BATASAN KRITERIA MARSHALL


QUOTIENT DENGAN RATIO PARTIKEL LOLOS SARINGAN
NO.#200 – BITUMEN EFEKTIF PADA CAMPURAN JENIS
LASTON
Louis Christian Lagonda
O. H. Kaseke, S.V. Pandey
Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Sam Ratulangi
Email : lagondalouischristian@gmail.com

ABSTRAK

Marshall Quotient (MQ) merupakan hasil bagi antara Stabilitas dan Flow yang diperoleh dari
uji tekan dengan metode Marshall sedangkan besaran Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200-
Bitumen Efektif diperoleh dan dihitung dari komposisi campuran. Spesifikasi Teknik Bina
Marga tahun 2010 Revisi 2 untuk campuran Lapis Aspal Beton (LASTON) semula ada batasan
MQ namun pada revisi 3 MQ telah ditiadakan dan diganti dengan Ratio Partikel Lolos
Saringan No.#200-Bitumen Efektif dengan batasan 1,0 sampai dengan 1,4. Dalam penelitian
ini akan dikaji hubungan dan pengaruh Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200-Bitumen Efektif
terhadap MQ pada campuran LASTON.
Penelitian ini menggunakan material batu pecah dari lokasi sumber Kakaskasen dan Aspal
penetrasi 60/70 ex Pertamina yang tersedia di Laboratorium Teknik Perkerasan Jalan Fakultas
Teknik Universitas Sam Ratulangi. Bahan Filler tambahan menggunakan Portland Cement
(PC). Proses penelitian ini dimulai dengan pemeriksaan persyaratan material dan
perancangan komposisi agregat sesuai persyaratan gradasi LASTON, dibuat benda uji untuk
pengujian Marshall dan hasil uji dianalisis, sehingga diperoleh kadar Aspal terbaik.
Selanjutnya, dirancang komposisi dengan kadar Aspal tetap tapi kandungan Filler berubah –
ubah sehingga Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200 - Bitumen Efektif bervariasi menjadi
0.63, 0.95, 1.2, 1.45, dan 1,75.
Dari pemeriksaan di laboratorium diperoleh untuk Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200 -
Bitumen Efektif 0.63 nilai MQ adalah 395 kg/mm, pada nilai Ratio Partikel Lolos Saringan
No.#200 - Bitumen Efektif 0.95 MQ adalah 417 kg/mm, pada nilai Ratio Partikel Lolos
Saringan No.#200 - Bitumen Efektif 1.2 MQ adalah 439 kg/mm, pada nilai Ratio Partikel Lolos
Saringan No.#200 - Bitumen Efektif 1.45 MQ adalah 463 kg/mm, dan pada nilai Ratio Partikel
Lolos Saringan No.#200 - Bitumen Efektif 1.75 MQ adalah 489 kg/mm. Dengan kata lain
hubungan antara MQ dengan Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200 - Bitumen Efektif adalah
sebagai berikut, jika Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200 - Bitumen Efektif relatif kecil
menghasilkan nilai MQ yang rendah, sebaliknya Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200 -
Bitumen Efektif lebih besar, menghasilkan nilai MQ yang tinggi. Dengan menggunakan
batasan Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200 - Bitumen Efektif antara 1.0 sampai dengan
1.4 nilai MQ yang diperoleh adalah 420 kg/mm sampai dengan 460 kg/mm. Batasan MQ yang
sebelumnya hanya memberikan batas minimum 250 kg/mm.
Sebaiknya menggunakan nilai Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200 - Bitumen Efektif yang
tinggi karena akan menghasilkan MQ yang besar, namun kandungan kadar Aspal (Bitumen)
harus diperhatikan karena kandungan bitumen akan berpengaruh pada nilai Void In Mix
(VIM).

Kata Kunci : Lapis Aspal Beton-Lapis Aus, Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200 -
Bitumen Efektif, Marshall Quotient,

11
Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.1 Februari 2017 (11-19) ISSN: 2337-6732

PENDAHULUAN
Batasan Masalah
Latar Belakang Pada penelitian ini pembahasan
dibatasi sebagai berikut :
Laston (Lapisan Aspal Beton) • Penelitian hanya dibatasi pada
adalah lapis perkerasan aspal campuran campuran beraspal panas (hotmix)
panas. Menurut spesifikasi Bina Marga aspal jenis campuran AC-WC.
beton dibedakan atas 3 (tiga) macam lapisan, • Penilitian hanya dilakukan di
yaitu Laston Lapis Aus (Asphalt Concrete- laboratoriom dan tidak akan
Wearing Course atau AC-WC), Laston Lapis melakukan uji lapangan, sampai
Antara (Asphalt Concrete- Binder Course dengan pengujian Marshall.
atau AC-BC) dan Laston Lapis Pondasi • Aspal yang digunakan adalah Aspal
(Asphalt Concrete- Base atau AC-Base), Penetrasi 60-70
Bina Marga (2007). • Material tidak akan diteliti secara
Kimiawi
Salah satu jenis campuran beraspal
panas yang digunakan sebagai lapisan
Tujuan Penelitian
permukaan adalah Laston Lapis Aus
Penelitian ini bertujuan untuk
(Asphalt Concrete- Wearing Course atau
mengkaji hubungan antara Marshall Quotient
AC-WC), dimana agregatnya bergradasi
dengan Rasio antara Filler dengan Bitumen
menerus. Berdasarkan Spesifikasi Bina
Konten pada campuran AC-WC yang
Marga 2010 Revisi 2 untuk mengevaluasi
diperoleh berdasarkan Metode Marshall
LASTON masih digunakan metode
melalui pengujian di laboratorium.
Marshall, Kriteria Marshall meliputi
Stabilitas, Kelelehan Plastis (Flow), Rongga
Manfaat Penelitian
udara dalam campuran (Void in Mix/VIM),
Manfaat dari penelitian ini adalah
Rongga antar Mineral Agregat (Void in
sebagai berikut :
Mineral Agregat/VMA), Volume Pori antar
butir Agregat terisi Aspal (Void Filled by • Penelitian ini dilakukan agar dapat
Bitumen/VFB), dan Marshall Quotient. Pada diketahui hasil mengenai hubungan
Spesifikasi Bina Marga Tahun 2010 revisi 2 perbandingan antara Filler dengan
dan sebelumnya terdapat besaran Marshall Aspal Efektif dengan besaran Marshall
Quotient yaitu besaran hasil bagi dari nilai Quotient
Stabilitas dan Flow sedangkan dalam revisi • Dapat dijadikan acuan untuk
terbaru (Spesifikasi Bina Marga 2010 Revisi perancangan campuran Aspal panas di
ke 3 Tahun 2013) Marshall Quotient tidak Laboratorium.
disyaratkan lagi dan diganti dengan angka
atau Ratio (hasil bagi) antara persentasi TINJAUAN PUSTAKA
Filler dengan persentasi Bitumen Efektif
dalam batasan minimum 1,0% sampai Spesifikasi campuran AC-WC
dengan maximum 1,4%. Jadi dalam Lapisan ini adalah lapisan yang
penilitian ini akan mengevaluasi Marshall berhubungan langsung dengan roda
Quotient dengan ratio filler bitumen konten kendaraan sehingga lapisan ini di rancang
dengan cara membuat variasi kadar Filler untuk tahan terhadap perubahan cuaca, gaya
agar dapat dilihat hubungannya . geser, tekanan roda ban kendaraan serta
memberikan lapis kedap air untuk lapisan
dibawahnya. Sebagai lapis permukaan, lapis
Rumusan Masalah aspal beton harus dapat memberikan
Berdasarkan hal-hal diatas, maka kenyamanan dan keamanan yang tinggi
dalam penelitian ini akan dikaji hubungan (Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton
batasan kriteria Marshall Quotient dengan untuk Jalan Raya, SKBI-2.4.26.1987).
Ratio Partikel Lolos Saringan no.#200 dengan
kadar Bitumen efektif pada campuran jenis
LASTON.

12
Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.1 Februari 2017 (11-19) ISSN: 2337-6732

Bahan Pengisi (Filler) campuran. Konsep kriteria pengujian


Bahan pengisi (filler) dalam Marshall yang kemudian dikembangkan oleh
campuran aspal beton adalah bahan yang lolos U.S Corps of Engineer dan prosedur
saringan No.200 (0,075 mm). Macam bahan pengujiannya mengikuti AASHTO T 245-74
pengisi yang dapat digunakan ialah abu batu, Tahun 1974. Kriteria pengujian Marshall
kapur padam, Portland Cement (PC), debu terdiri atas :
dolomite, abu terbang, debu tanur tinggi 1. Stabilitas
pembuat semen atau bahan mineral tidak Menurut The Asphalt Institute, Mudianto
plastis lainnya. (2004), stabilitas adalah kemampuan
Walaupun demikian komposisi campuran aspal untuk menahan deformasi
filler dalam campuran tetap harus dibatasi akibat beban yang bekerja tanpa mengalami
karena kadar filler yang terlalu tinggi akan deformasi permanen seperti gelombang, alur
mengakibatkan campuran menjadi getas ataupun bleeding yang dinyatakan dalam
(briittle) dan retak (crack) ketika menerima satuan kg atau lb. Menurut The Asphalt
beban lalu lintas, dan kadar filler yang terlalu Institute, Mudianto (2004), Pengukuran
rendah menyebabkan campuran terlalu lunak stabilitas dengan test Marshall diperlukan
pada saat cuaca panas. (Bina Marga 1987). untuk mengetahui kekuatan tekan geser dari
contoh / sampel yang ditahan dua sisi kepala
Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200- penekan (porsi tahanan kohesi lebih dominan
Bitumen Efektif dari porsi tahanan penguncian butir) dengan
Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200- nilai stabilitas yang cukup tinggi diharapkan
Bitumen Efektif adalah perbandingan perkerasan dapat menahan lalu lintas tanpa
prosentase jumlah bahan pengisi (filler) yang terjadi kehancuran geser (SNI-06-2489-
diperlukan terhadap total berat campuran 1991).
dengan prosentase aspal (bitumen) efektif 2. Rongga Udara dalam Campuran/Void
pada campuran. Pengaruh Ratio Filler- In Mix (VIM)
Bitumen antara lain adalah: Void in Mix atau disebut juga rongga dalam
1. Untuk memodifikasi agregat halus campuran digunakan untuk mengetahui
(filler), sehingga berat jenis besarnya rongga campuran, sedemikian
campuran meningkat dan jumlah sehingga rongga tidak terlalu kecil yang akan
aspal yang diperlukan untuk mengisi menimbulkan bleeding atau terlalu besar yang
rongga akan berkurang. dapat menimbulkan oksidasi / penuaan aspal
2. Secara bersamaan akan membentuk dengan masuknya udara dan sinar ultra violet
suatu campuran pada nilai terbaik (SNI-06-2489-1991).
yang akan membalut dan mengikat 𝐺𝑚𝑚−𝐺𝑚𝑏
VIM = 100 × 𝐺𝑚𝑚
agregat secara optimal.
Keterangan :
3. Mengisi ruang antar agregat halus
dan kasar, serta meningkatkan VIM : Rongga udara dalam campuran
kepadatan dan kestabilan. padat, persen dari total volume.
Gmm : Berat jenis maksimum campuran.
Sifat-Sifat Campuran Yang Di Gmb : Berat jenis curah campuran padat.
Pertimbangkan Dalam Desain
Menurut Silvia Sukirman (2003), terdapat 3. Rongga Terisi Aspal/Void Filled
tujuh karakteristik campuran yang harus Bitumen (V F B)
dimiliki oleh beton aspal adalah stabilitas, Voids Filled with Bitumen (VFB), adalah
keawetan, kelenturan atau 15 fleksibilitas, volume pori di antara partikel-partikel agregat
ketahanan terhadap kelelahan (Fatique yang terisi aspal dalam campuran padat, yang
Resistance), kekesatan permukaan atau dinyatakan dalam (%) terhadap volume total
ketahanan geser, kedap air dan kemudahan campuran. Parameter VFB diperlukan
pelaksanaan (Workability) untuk mengetahui apakah perkerasan
memiliki keawetan (durability) dan tahan air
Kriteria Marshall (impermeability) yang cukup memadai. (SNI-
Kriteria pengujian Marshall adalah 06-2489-1991)
kriteria yang paling umum digunakan dalam
mendesain maupun mengevaluasi sifat-sifat

13
Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.1 Februari 2017 (11-19) ISSN: 2337-6732

𝑉𝑀𝐴−𝑉𝐼𝑀 deformasi jika ditempatkan di as jalan,


VFB = 100 ×
𝑉𝑀𝐴
sedangkan campuran berkadar aspal tinggj
Keterangan :
akan lebih kuat menahan deformasi jika
VFB : Rongga udara yang terisi aspal, ditempatkan di bagian tepi perkerasan (tanpa
prosentase dari VMA, (%) tahanan samping). (SNI-06-2489-1991)
VMA : Rongga udara pada mineral agregat,
prosentase dari volume total, (%) 6. Marshall Quotient
VIM : Rongga udara pada campuran setelah Marshall Quotient (MQ) yaitu hasil
pemadatan, (%) bagi stabilitas dan flow, yang digunakan
sebagai indikator kelenturan yang potensial
4. Rongga pada Campuran Agregat/Void terhadap keretakan. Nilai Marshall Quotient
Mineral Aggregate (VMA) dinyatakan dalam kg/mm. (Hardiyatmo,H.C,
2007). Dua parameter yang penting yang
Void in Mineral Agregat atau rongga pada ditentukan dalam pengujian tersebut, seperti
campuran agregat adalah rongga antar butiran beban maksimum yang dapat dipikul benda
agregat, terdiri dari rongga udara serta aspal uji sebelum hancur atau Marshall Stability
effektif yang dinyatakan dalam prosentase dan deformasi permanen dari sampel sebelum
volume total campuran. Bila rongga udara hancur, yang disebut Marshall Flow , serta
serta kadar aspal telah diketahui, maka hanya turunan dari keduanya yang merupakan
tingkat absorbsi agregat yang belum perbandingan antara Marshall Stability
terungkap. Dengan pertimbangan bahwa dengan Marshall Flow yang diebut dengan
penilaian agregat sudah dilakukan pada tahap Marshall Quotient, yang merupakan nilai
perencanaan, maka parameter VMA dapat kekakuan berkembang (speudo stiffness), yag
dianggap tidak diperlukan lagi (SNI-06-2489- menunjukkan ketahanan campuran beraspal
1991). terhadap deformasi permanen (Read. J, 2003)
𝐺𝑚𝑏×𝑃𝑆 𝑆𝑡𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠
VMA = 100 × 𝐺𝑠𝑏 Marshall Quotient = 𝐹𝑙𝑜𝑤
Keterangan :
VMA : Rongga dalam agregat mineral 7. Evaluasi Nilai Volumetrik Campuran
(persen volume curah) Beraspal
Gsb : Beratjenis curah agregat. Untuk mengetahui karakteristik campuran
PS : Agregat, persen berat total yang direncanakan memenuhi kriteria yang
campuran. telah ditentukan, perlu dilakukan evaluasi
hasil pengujian Marshall, disamping nilai
Gmb : Berat jenis curah campuran padat.
stabilitas dan pelelehan, juga terhadap hasil
perhitungan volumetrik. Disamping kekuatan
Atau, jika komposisi campuran ditentukan (stabilitas dan pelelehan), kinerja campuran
sebagai persen berat agregat, maka VMA beraspal sangat ditentukan oleh volumetrik
dihitung dengan persamaan sebagai berikut : campuran dalam keadaan padat. (Sukirman.
𝐺𝑚𝑏 100 S, 2003)
VMA = 100 × 𝐺𝑠𝑏
× 100+𝑃𝑏 1
METODOLOGI PENELITIAN
Keterangan :
Pb : Aspal, persen berat agregat. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium
Gmb : Berat jenis curah campuran padat. Transportasi Fakultas Teknik Universitas
Gsb : Berat jenis curah agregat. Sam Ratulangi, dengan menggunakan metode
pengujian berdasarkan pada pedoman
5. Kelelehan / Flow perencanaan campuran beraspal panas dengan
Parameter flow diperlukan untuk metode Spesifikasi Bina Marga 2010 revisi 3.
mengetahui deformasi vertikal campuran saat Seperti telah disampaikan di bab I bahwa jenis
dibebani hingga hancur (pada stabilitas campuran beraspal panas yang dipilih untuk
maksimum). Flow akan meningkat seiring penelitian ini adalah Asphalt Concrete
dengan meningkatnya kadar aspal. Campuran Wearing Course (AC-WC). Tahapan-tahapan
berkadar aspal rendah lebih tahan terhadap yang dilakukan meliputi :

14
Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.1 Februari 2017 (11-19) ISSN: 2337-6732

a. Mendapatkan data persyaratan untuk HASIL PENELITIAN


agregat, aspal dan jenis campuran yang
akan digunakan dalam penelitian ini. Evaluasi pengujian campuran aspal
b. Pengambilan sampel material yang panas jenis AC-WC dengan menggunakan
bersumber dari Desa Kakaskasen, dan material yang diambil dari Kakaskasen, dapat
menggunakan Aspal penetrasi 60/70 dilihat melalui data hasil penelitian yang
yang telah disediakan dilaboratorium. diolah sesuai rumus dan disajikan dalam
c. Pemeriksaan awal yaitu abrasi untuk bentuk tabel dan grafik.
melihat apakah material sudah
memenuhi syarat untuk melakukan Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Material
pemeriksaan lanjutan, kemudian analisa Agregat
Sifat-sifat
saringan dan berat jenis sebagai acuan Hasil Pemeriksaan Persyaratan
material/bahan
untuk dapat merancang komposisi
campuran. * Agregat Kasar
d. Perancangan komposisi agregat dan Keausan (Abrasi) 35% Maks. 40 %
menghitung perkiraan kadar aspal. Berat jenis bulk 2.40
e. Pembuatan 15 sampel benda uji dengan Berat jenis SSD 2.43
5 variasi kadar aspal perkiraan. Berat jenis apparent 2.47
f. Pengujian benda uji Marshall dengan Penyerapan 1.33 Maks. 3,0
tujuan mendapatkan sifat-sifat seperti : * Agregat Sedang
Stabilitas, Flow, VIM (Void In Mix), Berat jenis bulk 2.39
VFB (Void Filled With Bitumen), VMA Berat jenis SSD 2.43
(Void Mix Aggregate), Ratio Partikel Berat jenis apparent 2.48
Lolos Saringan No.#200 - Bitumen Penyerapan 1.39 Maks. 3,0
Efektif dan Marshall Quotient (MQ). * Agregat Halus
g. Dari hasil rekapitulasi perhitungan Abu Batu
Marshall maka diperoleh kadar Aspal Berat jenis bulk 2.34
terbaik Berat jenis SSD 2.38
h. Setelah diperoleh kadar Aspal terbaik, Berat jenis apparent 2.44
dibuat perancangan komposisi dengan Penyerapan 1.81 Maks. 3,0
ratio filler terhadap Bitumen Efektif
bervariasi. Kadar filler yang divariasikan Campuran beraspal panas AC-WC dan
3.5%, 5.0%, 6.5%, 8.0%, 9.5% Kriteria Marshall
menggunakan radasi ideal, dengan
menggunakan presentasi berat total Dari hasil pemeriksaan yang
campuran 100% yang diperoleh dari dilakukan di laboratorium dengan
komposisi agregat gabungan pada kadar menggunakan variasi kadar aspal, maka di
aspal. dapat hasil data test Marshall yang disajikan
i. Pembuatan benda uji untuk memperoleh dalam bentuk grafik dan tabel.
data kriteria Marshall seperti Stabilitas,
Flow, VIM (Void In Mix), VFB (Void Tabel 2. Hasil Rekapitulasi Marshall Test
Filled With Bitumen), VMA (Void Mix (AC-WC)
Aggregate), Ratio Filler-Bitumen dan Kadar Marshall
Marshall Quotient (MQ). Aspal Stabilitas Flow Quotient VIM VMA VFB ff/bt
j. Menganalisis komposisi campuran
(%) (kg) (mm) (kg/mm) (%) (%) (%)
dengan pengujian Marshall, untuk
memperoleh pengaruh hubungan 4 1124 2.8 394.4 12.1 17.4 30.8 2.3
Marshall Quotient dengan Ratio Filler- 5 1333 3.1 432.4 8.2 15.8 48.1 1.6
Bitumen efektif. 6 1435 3.3 441.2 5 15.2 66.4 1.3
k. Selanjutnya adalah kesimpulan dan saran 7 1377 3.5 392 3.9 15.9 75.3 1
dari hasil penelitian yang diperoleh.
8 1170 3.7 301.7 3.4 17.4 80.2 0.9

15
Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.1 Februari 2017 (11-19) ISSN: 2337-6732

Grafik 1. Hubungan Kadar Aspal dan Grafik 5. Hubungan Kadar Aspal dan VIM
Stabilitas

Grafik 6. Hubungan Kadar Aspal dan


Grafik 2. Hubungan Kadar Aspal dan VMA
Flow

Grafik 7. Hubungan Kadar Aspal dan VFB


Grafik 3. Hubungan Kadar Aspal dan
MQ Pengaruh variasi Filler dan Ratio Partikel
Lolos Saringan No.#200-Bitumen Efektif
terhadap Marshall Quotient
Dalam pembuatan benda uji untuk
menganalisa pengaruh Ratio Filler Bitumen
Content dibuat 5 variasi kadar filler yaitu
kadar filler 3.5%, 5%, 6.5%, 8%, dan 9.5%
dengan kadar aspal tetap/optimum yang di
dapat dari pengujian Marshall test
sebelumnya. Untuk mencari komposisi
variasi filler digunakan gradasi ideal, dimana
gradasi gabungan berada diantara batas atas
Grafik 4. Ratio Partikel Lolos Saringan dan bawah Spesifikasi Bina Marga 2010
No.#200 - Bitumen Efektif

16
Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.1 Februari 2017 (11-19) ISSN: 2337-6732

revisi 3, yang di variasikan hanya pada 5.5


HUBUNGAN FILLER-BITUMEN CONTENT DENGAN VIM (GI)

saringan No.# 100 dan No.# 200.


5
Tabel 3. Variasi Ratio Partikel Lolos 5.0

4.8
Saringan No.#200-Bitumen Efektif pada
4.5 4.5
campuran AC-WC
4.3

VIM
4.1
Variasi ff/bt Stabilita Flow (mm) MQ VIM VMA VFB 4y = -0.8068x + 5.4691

Filler s (kg) (%) (%) (%) R² = 0.9998

3.5 0.6 1371 3.5 395 5 15.8 68.5


3.5
5 0.9 1416 3.4 417 4.8 15.6 69.5
6.5 1.2 1447 3.3 439 4.5 15.4 70.6
3
8 1.4 1465 3.2 463 4.3 15.2 71.7
9.5 1.7 1506 3.1 489 4.1 15 72.7
2.5
0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8
RATIO FILLER-BITUMEN CONTENT

Grafik 10. Hubungan Ratio Partikel Lolos


1800
HUBUNGAN FILLER-BITUMEN CONTENT DENGAN
STABILITY (GI)
Saringan No.#200-Bitumen Efektif dengan
1750
1700
VIM
1650 HUBUNGAN RATIO FILLER-BITUMEN CONTENT DENGAN VMA
1600 15.9 (GI)
1550
1500 1506 15.8
1450 1465 15.8
1447
1400 1416
15.7
1371
1350
1300 15.6
Stabilitas

1250 15.6
y = 118.56x + 1302.9
1200 R² = 0.9814 15.5
VMA

1150
1100
15.4
1050 15.4
1000
15.3
950 y = -0.7151x + 16.211
900 R² = 0.9998
15.2
850 15.2
800
750 15.1
700
650 15 15.0
600
0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 14.9
RATIO FILLER-BITUMEN CONTENT
0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8
RATIO FILLER-BIRUMEN CONTENT
Grafik 8. Hubungan Ratio Partikel Lolos
Grafik 11. Hubungan Ratio Partikel Lolos
Saringan No.#200-Bitumen Efektif dengan
Saringan No.#200-Bitumen Efektif dengan
Stabilitas
VMA
HUBUNGAN FILLER-BITUMEN CONTENT DAN FLOW (GI)
4.1 HUBUNGAN RATIO FILLER-BITUMEN CONTENT DENGAN VFB
74
3.9

y = 3.91x + 66.046
3.7 72.7
R² = 0.9998
72
3.5 3.5 71.7
3.4
3.3 3.3
70.6
3.2
3.1 y = -0.3679x + 3.7134 70
Flow

3.1
R² = 0.9976 69.5
VFB

2.9
68.5
2.7 68

2.5

2.3
66

2.1

1.9
0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 RATIO
0.9 1.0 1.1 1.2 1.3 CONTENT
FILLER-BITUMEN 1.4 1.5 1.6 1.7 1.8 64
0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0FILLER-BITUMEN
RATIO 1.1 1.2 1.3 CONTENT
1.4 1.5 1.6 1.7 1.8
Grafik 9. Hubungan Ratio Partikel Lolos
Grafik 12. Hubungan Ratio Partikel Lolos
Saringan No.#200-Bitumen Efektif dengan
Saringan No.#200-Bitumen Efektif dengan
Flow
VFB

17
Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.1 Februari 2017 (11-19) ISSN: 2337-6732

520
HUBUNGAN RATIO FILLER-BITUMEN DENGAN MQ Partikel Lolos Saringan No.#200-Bitumen
510
500
490
Efektif 1.45 MQ adalah 463 kg/mm, dan pada
480
470 y = 87.276x + 339.23
489
nilai Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200-
460 R² = 0.9991 463
450
440
Bitumen Efektif 1.75 MQ adalah 489 kg/mm.
439
430
420
Dengan kata lain hubungan antara MQ
410 417
dengan Ratio Partikel Lolos Saringan
Marshall Quotient

400
390 395
380
370
No.#200-Bitumen Efektif adalah sebagai
360
350
340
berikut, jika Ratio Partikel Lolos Saringan
330
320
No.#200-Bitumen Efektif relatif kecil
310
300
290
menghasilkan nilai MQ yang rendah,
280
270
sebaliknya Ratio Partikel Lolos Saringan
260
250
240
No.#200-Bitumen Efektif lebih besar,
230
220
menghasilkan nilai MQ yang tinggi. Dengan
0.40.50.50.60.60.70.70.80.80.90.91.01.01.11.11.21.21.31.31.41.41.51.51.61.61.71.71.81.8
F menggunakan batasan Ratio Partikel Lolos
3 3 4 4 5 5 6 6 7 7 8 8 9 9 1 F
. . . . . . . . . . . . . 0 /i Saringan No.#200-Bitumen Efektif antara 1.0
Grafik 13. Hubungan Ratio Partikel Lolos sampai dengan 1.4 nilai MQ yang diperoleh
Saringan No.#200-Bitumen Efektif dengan adalah 420 kg/mm sampai dengan 460
Marshall Quotient kg/mm. Batasan MQ yang sebelumnya hanya
PENUTUP memberikan batas minimum 250 kg/mm.
Kesimpulan Saran
Dari pemeriksaan di laboratorium diperoleh Untuk jenis campuran LASTON sebaliknya
untuk Ratio Partikel Lolos Saringan No.#200 menggunakan nilai Ratio Partikel Lolos
- Bitumen Efektif 0.63 nilai MQ adalah 395 Saringan No.#200-Bitumen Efektif yang
kg/mm, pada nilai Ratio Partikel Lolos tinggi karena akan menghasilkan MQ yang
Saringan No.#200-Bitumen Efektif 0.95 MQ besar, namun kandungan kadar Aspal
adalah 417 kg/mm, pada nilai Ratio Partikel (Bitumen) harus diperhatikan karena
Lolos Saringan No.#200-Bitumen Efektif 1.2 kandungan bitumen akan akan berpengaruh
MQ adalah 439 kg/mm, pada nilai Ratio pada nilai Void In Mix (VIM).

DAFTAR PUSTAKA

Asphalt Institute,1983,Thickness Design Asphalt Pavement For Highways and Streets, Manual
Series No.1 (MS-1).

Bagus Priyatno, 1999, Perancangan Prasarana Jalan, Dalam Penataran dan Pelatihan Dosen
Teknik Sipil Perguruan Tinggi Swasta Kopertis Wilayah VI, September 1999.

Departemen Pekerjaan umum, 1983, Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton Pondasi Atas
(Laston Atas), Direktorat Jenderal Bina Marga.

Departemen Pekerjaan Umum, 2007, Rancangan Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan
Divisi VI Perkerasan Beraspal, Edisi April 2007.

Departemen Pekerjaan Umum, Dierktorat Jendral Bina Marga : Petunjuk Pelaksanaan Lapis
Aspal Beton No. 13/PT/B/1983,1983.

Hamirhan Saodang, Konstruksi Jalan Raya Buku 2 Perancangan Perkerasan Jalan Raya, Nova,
Bandung, 2005

Hardiyatmo,H.C., 2007. Pemeliharaan Jalan Raya, Gadjah Mada University Press,


Yogyakarta).

Kementrian Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga, Spesifikasi Umum Edisi 2010
(revisi 3).

18
Jurnal Sipil Statik Vol.5 No.1 Februari 2017 (11-19) ISSN: 2337-6732

Laboratorium Rekayasa Jalan Jurusan Teknik Sipil ITB, buku besar, Bandung, Maret 2001.

Metode Pengujian Campuran Aspal dengan Alat Marshall,SNI 06-2489-1991

Petunjuk Pelaksanaan Lapis Aspal Beton untuk Jalan Raya, SKBI-2.4.26.1987

SNI-06-2489-1991, Pengujian Campuran Beraspal dengan alat Marshall

Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan tahun 2010, Departemen Pekerjaan Umum

Sukirman Silvia. Perkerasan Lentur Jalan Raya. Nova, Bandung, 1998

The American Association of State Highway and Transportaion Officials (AASHTO),


Standard Spesification for Transportation Materials, and Methods of Sampling and
Tsting, Adopted by AASHTO, September 1974. AASHTO T11-82

Untung, S.D. 1997. Konstruksi Jalan Raya. Universitas Atma Jaya.

Wardano, S.H. 1999. Hotmix. Pelatihan Teknis EEPP, Yogyakarta.

19