Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelainan kongenital anorektal didapatkan 1 dari tiap 5000-10000
kelahiran, sedangkan atresia ani didapatkan 1 % dari seluruh kelainan
kongenital pada neonatus dan dapat muncul sebagai penyakit tersering.
Jumlah pasien dengan kasus atresia ani pada laki-laki lebih banyak ditemukan
dari pada pasien perempuan.
Insiden terjadinya atresia ani berkisar dari 1500-5000 kelahiran hidup
dengan sedikit lebih banyak terjadi pada laki-laki. 20 % -75 % bayi yang
menderita atresia ani juga menderita anomali lain. Kejadian tersering pada
laki-laki dan perempuan adalah anus imperforata dengan fistula antara usus
distal uretra pada laki-laki dan vestibulum vagina pada perempuan (Alpers,
2006).
Angka kajadian kasus di Indonesia sekitar 90 %. Berdasarkan dari data
yang didapatkan penulis, kasus atresia ani yang terjadi di Jawa Tengah
khususnya Semarang yaitu sekitar 50% dari tahun 2007-2009. Menyikapi
kasus yang demikian serius akibat dari komplikasi penyakit atresia ani, maka
penulis mengangkat kasus atresia ani untuk lebih memahami perawatan pada
pasien dengan atresia ani.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan atresia ani ?
2. Apa etiologi dari atresia ani ?
3. Apa saja klasifikasi dari atresia ani ?
4. Bagaimana patofisiologi dari atresia ani ?
5. Bagaimana WOC dari atresia ani ?
6. Apa saja tanda dan gejala atresia ani ?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang dari atresia ani ?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari atresia ani ?
9. Apa saja komplikasi dari atresia ani ?

Keperawatan Anak 1
10. Bagaimana konsep asuhan keperawatan dari atresia ani ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi dari atresia ani.
2. Untuk mengetahui etiologi dari atresia ani.
3. Untuk mengetahui klasifikasi dari atresia ani.
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari atresia ani.
5. Untuk mengetahui WOC dari atresia ani.
6. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari atresia ani.
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari atresia ani.
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari atresia ani.
9. Untuk mengetahui komplikasi dari atresia ani.
10. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan dari atresia ani.

Keperawatan Anak 2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Istilah atresia berasal dari bahasa Yunani yaitu “a” yang berarti tidak ada
dan trepsis yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran,
atresia adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan
normal. Dalam dunia kedokteran, Atresia berarti tidak adanya lubang pada
tempat yang seharusnya berlubang. Sehingga atresia ani berarti tidak
terbentuknya lubang pada anus.
Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai
lubang keluar (Walley, 1996). Ada juga yang menyebutkan bahwa atresia ani
adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau
tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi, 2001). Sumber lain menyebutkan
atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan pemisahan kloaka
selama pertumbuhan dalam kandungan.
Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi
gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan. Jadi
menurut kesimpulan penulis, atresia ani adalah kelainan congenital anus
dimana anus tidakmempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi
gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan
lubang anus akan mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan bisa terlewatkan
bila tidak ada pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum. Atresia
Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate
meliputi anus, rectum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002).
Atresia ini atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi
membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan
lubang anus yang tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke
dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan
rectum. (sumber Purwanto. 2001 RSCM).

Keperawatan Anak 3
B. Etiologi
Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber
mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan
dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaan anus
umumnya tidak ada kelainan rectum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun
demikian pada agenesis anus, sfingter internal mungkin tidak memadai.
Menurut penelitian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal
resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang mempunyai gen
carrier penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan pada
anaknya saat kehamilan. 30% anak yang mempunyai sindrom genetic,
kelainan kromosom atau kelainan congenital lain juga beresiko untuk
menderita atresia ani. Sedangkan kelainan bawaan rectum terjadi karena
gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan sinus urogenital sehingga
biasanya disertai dengan gangguan perkembangan septum urorektal yang
memisahkannya.
1. Faktor predisposisi
Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat
lahir seperti :
a. Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral,
anal, jantung, trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe).
b. Kelainan sistem pencernaan. Putusnya saluran pencernaan dari atas
dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur
c. Kelainan sistem pekemihan.
d. Kelainan tulang belakang.
e. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu / 3 bulan.
f. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik di
daerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang
terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.
C. Klasifikasi
Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar :

Keperawatan Anak 4
1. Tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis
dicapai melalui saluran fistula eksterna.
Kelompok ini terutama melibatkan bayi perempuan dengan fistula
rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini
sering dengan bantuan dilatasi, maka bisa didapatkan dekompresi usus
yang adequate sementara waktu.
2. Tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalan keluar
tinja.
Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan
dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah
segera. Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok
anatomi yaitu :
a. Anomali rendah
Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot
puborectalis, terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang
baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat hubungan
dengan saluran genitourinarius.
b. Anomali intermediet
Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung
anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal.
c. Anomali tinggi
Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak
ada. Hal ini biasanya berhubungan dengan fistuls genitourinarius –
retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung
buntu rectum sampai kulit perineum lebih dari 1 cm.
Sedangkan menurut klasifikasi Wingspread (1984), atresia ani dibagi
menjadi 2 golongan yang dikelompokkan menurut jenis kelamin. Pada
laki-laki golongan I dibagi menjadi 4 kelainan yaitu kelainan fistel urin,
atresia rectum, perineum datar dan fistel tidak ada. Jika ada fistel urin,
tampak mekonium keluar dari orifisium eksternum uretra, mungkin
terdapat fistel ke uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis

Keperawatan Anak 5
menentukan letak fistel adalah dengan memasang kateter urin. Bila kateter
terpasang dan urin jernih, berarti fistel terletak uretra karena fistel tertutup
kateter. Bila dengan kateter urin mengandung mekonium maka fistel ke
vesikaurinaria. Bila evakuasi feses tidak lancar, penderita memerlukan
kolostomi segera. Pada atresia rectum tindakannya sama pada perempuan ;
harus dibuat kolostomi. Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit
pada invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.
Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 5 kelainan
yaitu kelainan kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia rectum
dan fistel tidak ada. Pada fistel vagina, mekonium tampak keluar dari
vagina. Evakuasi feces menjadi tidak lancar sehingga sebaiknya dilakukan
kolostomi. Pada fistel vestibulum, muara fistel terdapat divulva.
Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya minum susu.
Evakuasi mulai terhambat saat penderita mulai makan makanan padat.
Kolostomi dapat direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal. Bila
terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara traktus urinarius, traktus
genetalis dan jalan cerna. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna
sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi.Pada atresia rectum, anus
tampak normal tetapi pada pemerikasaan colok dubur, jari tidak dapat
masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi mekonium sehingga perlu
segera dilakukan kolostomi. Bila tidak ada fistel, dibuat invertogram. Jika
udara > 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan kolostomi.
Golongan II pada laki – laki dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel
perineum, membran anal, stenosis anus, fistel tidak ada. Fistel perineum
sama dengan pada wanita ; lubangnya terdapat anterior dari letak anus
normal. Pada membran anal biasanya tampak bayangan mekonium di
bawah selaput. Bila evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan terapi
definit secepat mungkin. Pada stenosis anus, sama dengan perempuan,
tindakan definitive harus dilakukan. Bila tidak ada fistel dan udara < 1 cm
dari kulit pada invertogram, perlu juga dilakukan pembedahan.
Sedangkan golongan II pada perempuan dibagi 3 kelainan yaitu

Keperawatan Anak 6
kelainan fistel perineum, stenosis anus dan fistel tidak ada. Lubang fistel
perineum biasanya terdapat diantara vulva dan tempat letak anus normal,
tetapi tanda timah anus yang buntu menimbulkan obstipasi. Pada stenosis
anus, lubang anus terletak di tempat yang seharusnya, tetapi sangat sempit.
Evakuasi feses tidal lancar sehingga biasanya harus segera dilakukan
terapi definitive. Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara < 1cm
dari kulit dapat segera dilakukan pembedahan definitive. Dalam hal ini
evakuasi tidak ada, sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.
D. Patofisiologi
Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal
secara komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus
dari tonjolan embrionik.Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah
dubur, sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur.
Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena
ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu
atau tiga bulan. Berkaitan dengan sindrom down. Atresia ani adalah suatu
kelainan bawaan.
Terdapat tiga macam letak :
1. Tinggi (supralevator) : Rektum berakhir di atas M.Levator ani
(m.puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit
perineum >1 cm. Letak upralevator biasanya disertai dengan fistel
kesaluran kencing atau saluran genital.
2. Intermediate : Rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak
menembusnya.
3. Rendah : Rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak antara
kulit dan ujung rectum paling jauh 1 cm.
E. Pathways

- Gangguan pertumbuhan ATRESIA ANI Visel rektovaginal


- Fusi
- Pembentukan anus dari
tonjolan embriogenik Feses tidak keluar Feses masuk ke uretra

Keperawatan Anak 7
Feses menumpuk Mikroorganisme masuk
Kelainan kongenital ke saluran kemih

Dysuria
Reabsorbsi sisa Peningkatan tekanan
metabolisme oleh tubuh intraabdominal
Gang. rasa nyaman
Operasi anoplasti
Keracunan
- Gang. Eliminasi
Urine
Mual , muntah - Nyeri

Ketidakseimbangan nutrisi
Ansietas Perubahan defekasi :
kurang dari kebutuhan
tubuh - Pengeluaran tak terkontrol
Resiko - Iritasi mukosa
kerusakan
integritas
kulit

Abnormalitas spingter Trauma jaringan


rektal

Nyeri Perawatan tidak


Gangguan rasa nyaman Inkontinensia defekasi adekuat

Resiko infeksi

F. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia ani adalah kegagalan lewatnya
mekonium setelah bayi lahir, tidak ada atau stenosis kanal rectal, adanya
membran anal dan fistula eksternal pada perineum (Suriadi, 2001). Gejala lain

Keperawatan Anak 8
yang nampak diketahui adalah jika bayi tidak dapat buang air besar sampai 24
jam setelah lahir, gangguan intestinal, pembesaran abdomen, pembuluh darah
di kulit abdomen akan terlihat menonjol (Adele,1996).
Bayi muntah – muntah pada usia 24 – 48 jam setelah lahir juga merupakan
salah satu manifestasi klinis atresia ani. Cairan muntahan akan dapat berwarna
hijau karena cairan empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan
mekonium.
G. Pemeriksaan Penunjang
Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang
sebagai berikut :
1. Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
2. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk
mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.
3. USG terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system
pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh
karena massa tumor.
4. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
5. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan
selang atau jari.
H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
a. Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah
yang disebut diseksi posterosagital atau plastik anorektal
posterosagital.
b. Colostomi sementara

Keperawatan Anak 9
I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Diperlukan pengkajian yang cermat dan teliti untuk mengetahui masalah
pasien dengan tepat, sebab pengkajian merupakan awal dari proses
keperawatan. Dan keberhasilan proses keperawatan tergantung dari
pengkajian. Konsep teori yang difunakan penulis adalah model konseptual
keperawatan dari Gordon.
a. Menurut Gordon data dapat dikelompokkan menjadi 11 konsep yang
meliputi:
1) Persepsi Kesehatan – Pola Manajemen Kesehatan
Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan
di rumah.
2) Pola nutrisi – Metabolik
Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umu terjadi pada pasien
dengan atresia ani post kolostomi. Keinginan pasien untuk makan
mungkin terganggu oleh mual dan munta dampak dari anestesi.
3) Pola Eliminasi
Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan paru
maka tubuh dibersihkan dari bahan - bahan yang melebihi
kebutuhan dan dari produk buangan. Oleh karena pada atresia ani
tidak terdapatnya lubang pada anus, sehingga pasien akan
mengalami kesulitan dalam defekasi (Whaley & Wong, 1996).
4) Pola Aktivitas dan Latihan
Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menhindari
kelemahan otot.
5) Pola Persepsi Kognitif
Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman,
daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab
pertanyaan.
6) Pola Tidur dan Istirahat

Keperawatan Anak 10
Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena
nyeri pada luka inisisi.
7) Konsep Diri dan Persepsi Diri
Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image,
body comfort. Terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan karena
dampak luka jahitan operasi (Doenges, 1993).
8) Peran dan Pola Hubungan
Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan
sesudah sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggungjawab atau
perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran (Doenges,
1993).
9) Pola reproduksi dan Seksual
Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi sosial sebagi alat reproduksi
(Doenges, 1993).
10) Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi
Adanya faktor stress lama, efek hospitalisasi, masalah keuangan,
rumah (Doenges, 1993).
11) Pola Keyakinan dan Nilai
Untuk menerangkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan
agama yang dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian.
Dengan ini diharapkan perawat dalam memberikan motivasi dan
pendekatan terhadap klien dalam upaya pelaksanaan ibadah
(Mediana, 1998).
b. Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani adalah
anus tampak merah, usus melebar, kadang – kadang tampak ileus
obstruksi, termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh
jaringan, pada auskultasi terdengan hiperperistaltik, tanpa mekonium
dalam 24 jam setelah bayi lahir, tinja dalam urin dan vagina (Whaley
& Wong,1996).
1) Keadaan umum : Klien lemah

Keperawatan Anak 11
2) Tanda-tanda vital
 Nadi : 120 – 140 kali per menit
 Tekanan darah : -
 Suhu : 36,5-37,5 C
 RR : 30-40 kali per menit
 BB : >2500 gr
 TB : normal
3) Data sistematik
a) System kardiovaskuler
Tekanan darah normal, Denyut nadi normal (120-140 kali per
menit)
b) System respirasi dan pernafasan
Klien tidak mengalami gangguan pernapasan
c) System gastrointestinal
Klien mengalami muntah-muntah, perut kembung dan
membuncit pada 24-28 jam setelah lahir. Tidak ditemukan
adanya saluran anus.
d) System musculosceletal
Klien tidak mengalami gangguansistem musculoskeletal
e) System integument
Klien tidak mengalami gangguan system integument
f) System perkemihan
Pada bayi laki-laki terdapat mekonium di dalam urine, dan
pada bayi perempuan dengan fistula urogenital ditemukan
mekonium dalam vagina.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan eliminasi urine b.d obstruksi anatomic, disuria.
b. Inkontinensia defekasi b.d abnormalitas sfingter rectal.
c. Nyeri akut b.d trauma jaringan.
d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
ketidakmampuan mencerna makanan.
e. Kerusakan integritas kulit b.d kolostomi.
f. Gangguan rasa nyaman b.d gejala terkait penyakit, vistel
retrovaginal,dysuria, trauma jaringan post operasi.
g. Resiko infeksi b.d perawatan tidak adekuat, trauma jaringan post
operasi.
h. Ansietas b.d pembedahan dan mempunyai anak yang tidak sempurna

3. Intervensi Keperawatan
a. Nyeri Akut

Keperawatan Anak 12
Definisi : pengalaman NOC NIC
sensori dan emosional - Pain Level. Pain management
yang tidak menyenangkan - Pain control. - Lakukan pengkajian
yang muncul akibat - Comfort level. nyeri secara
Criteria hasil : komperehensif
kerusakan jaringan yang
- Mampu
actual atau potensial atau termasuk lokasi,
mengontrol nyeri
digambarkan dalam hal karakteristik, durasi,
(tahu penyebab
kerusakan sedemikian frekuensi, kualitas
nyeri,mampu
rupa (international dan factor presipitasi
menggunakan - Observasi reaksi
association for the study
tehnik nonverbal dan
of pain); awitan yang tiba
nonfarmakologi ketidaknyamanan
-tiba atau lambat dari
untuk mengurangi - Gunakan tehnik
intensitas jaringan hingga
nyeri, mencari komunikasi
berat dengan akhir yang
bantuan) terapiutik untuk
dapat diantisipasi atau
- Melaporkan mengetahui
diprediksi dan
bahwa nyeri pengalaman nyeri
berlangsung < 6 bulan.
berkurang dengan pasien
Batasan Karakteristik :
menggunakan - Kaji kultur yang
 Perubahan selera
manajemen nyeri mempengaruhi
makan
- Mampu respon nyeri
 Perubahan tekanan
mengenali nyeri - Evaluasi pengalaman
darah
(skala, intensitas, nyeri masa lampau
 Prubahan frekwensi
frekuensi dan - Evaluasi bersama
jantung
 Perubahan frekwensi tanda nyeri) pasien dan tim
- Menyatakan rasa kesehatan lain
pernapasan
nyaman setelah tentang ketidak
 Gangguan tidur
nyeri berkurang efektifan control
nyeri masa lampau
- Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menemukan
dukungan
- Control lingkungan
yang dapat
menpengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
- Kurangi factor

Keperawatan Anak 13
presipasi nyeri
- Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
- Kolaborasikan
dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak
berhasil
Analgesic
Administration
- Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan derajat
nyeri sebelum
pemberian obat
- Cek intruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih anlgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesic ketika
pemberian lebih dari
Satu
- Tentukan pilihan
analgesic tergantung
tipe dan beratnya
nyeri
- Tentukan analgesic
pilihan, rute
pemberian, dan dosis
optimal
- Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
- Monitor vitas sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesic
pertama kali

Keperawatan Anak 14
- Berikan anlgesik
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
- Evaluasi evektifitas
analgesik, tanda dan
gejala.

b. Ketidak Seimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh


Definisi : Asupan nutrisi NOC NIC
tidak cukup untuk  Nutritional Status : Nutritional
memenuhi kebutuhan  Nutritional Status : Management
meabolik. food and  Kaji adanya alergi
Batasan karakteristik :  Fluid intake makanan
 Keram abdomen  Nutritional Status :  Kolaborasi dengan
 Nyeri abdomen nutrien ahli gizi untuk
 Menghindari  Intake menentukan jumlah
makanan  Weight control kalori dan nutrisi
 BB 20% atau lebih Kriteria Hasil : yang dibutuhkan
dibawah BB ideal  Adanya pasien
 Kerapuhan kapiler peningkatan BB  Anjurkan pasien
 Diare sesuai denga untuk meningkatkan
 Kehilangan rambut tujuan intake Fe
berlebihan  BBI sesuai dengan  Anjurkan pasien
 Kelemahan otot untuk TB untuk meningkatkan
menelan  Mampu protein dan vitamin
mengidentifikasi C
kebutuhan nutrisi  Berikan makanan
tidak ada tanda- yang terpilih (sudah
tabda malnutrisi dikonsultasikan
 Menunjukkan dengan ahli gizi)
peningkatan fungsi  Ajarkan pasien
pengecapan dari bagaiman membuat
menelan catatan makanan
 Tidak terjadi harian
penurunan BB yag  Monitor jumlah
berarti nutrisi dan
kandungan kalor
 Berikan informasi
tentang kebutuhan
nutrisi
 Kaji kemampuan

Keperawatan Anak 15
pasien unuk
mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
Nutrition
Monitoring
 BB pasein dalam
batas normal
 Monitor adanya
penurunan BB
 Monitor tipe dan
jumlah aktivitas
yang biasa
dilakukan
 Monitor interaksi
anak atau orangtua
selama makan
 Monitor lingkungan
selama makan
 Jadwalkan
pengobatan dan
tindakan tidak
selama jam makan
 Monitor kulit kering
dan perubahan
pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor
kekeringan, rambut
kusam, dan mudah
patah
 Monitor mual dan
muntah
 Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb, dan
kadar Ht
 Monitor
pertumbuhan dan
perkembangan
 Monitor pucat,
memerahan, dan

Keperawatan Anak 16
kekeringan jaringan
konjungtiva
 Monitor kalori
intake nutrisi
 Catat adanya
edema, hiperemik,
hipertonik papila
lidah dan cavitas
oral
 Catat jika lidah
berwarna magenta,
scarlet

c. Resiko tinggi infeksi


Definisi : mengalami NOC NIC
peningkatan resiko Immune status Infection control
terserang organisme Knowledge : (control infeksi)
patogenik infection control - Bersihkan
Faktor-faktor resiko: Risk control lingkungan setelah
 Penyakit kronis Criteria hasil : dipakai pasien lain
- Diabetes mellitus klien bebas darl - Pertahankan teknik
- Obesitas tanda dan gejala isolasi
 Pengetahuan yang infeksi - Batasi pengunjung
tidak cukup untuk mendeskripsikan bial perlu
menghindari proses penularan - Instruksikan pada
pemajanan pathogen penyakit faktor pengunjung untuk
 Pertahanan tubuh yang mempengaruhi mencuci tangan saat
primer yang adekuat penularan berkunjung dan
- Gangguan peritaltis penatalaksanaannya, setelah berkunjung
- Kerusakan  Menunjukan meninggalkan
integritas kulit kemampuan pasien
(pemasangan untuk mencegah - Gunakan sabun
kateter intravena, timbulnya antimikrobia untuk
prosedur invasif) infeksi mencuci tangan
- Perubahan sekresi  Jumlah leukosit - Cuci tangan setiap
pH dalam batas sebelum dan
- Penurunan kerja normal sesudah tindakan
siliaris  Menunjukan keperawatan
- Pecah ketuban dini perilaku hidup - Gunakan baju,
- Pecah ketuban lama sehat sarung tangan
- Merokok
sebagai alat
- Stasis cairan tubuh
pelindung

Keperawatan Anak 17
- Trauma jaringan - Pertahankan
(mis., trauma lingkungan aseptic
destruksi jaringan) selama pemasangan
 Ketidak adekuatan alat
pertahanan sekunder - Ganti letak IV
- Penurunan perifer dan line
hemoglobin central dan dressing
- Imunosupresi (mis,. sesuai dengan
Imunitas didapat petunjuk umum
tidak adekuat, agen - Gunakan kateter
farmaseutikal intermiten untuk
termasuk menurukan infeksi
imunosupresan, kandung kencing
steroid, antibody, - Tingkatkan intake
monoclonal, nutrisi
imunomudulator) - Berikan terapi anti
- Supresi respon biotic bila perlu
inflamasi Infection
 Vaksinasi tidak protection
adekuat (proteksi
 Pemajanan terhadap terhadap
pathogen infeksi)
 Lingkungan
meningkat (wabah) - Monitor tanda dan
 Prosedur invasive gejala infeksi
 Malnutrisi sistemik dan local
- Monitor hitung
granulosit,WBC
- Monitor kerentanan
terhadap infeksi
- Batasi pengunjung
- Sering pengunjung
terhadap penyakit
menular
- Pertahankan teknik
aspesis pada pasien
yang beresiko
- Pertahankan teknik
isolasi
- Berikan perawatan
kulit pada area
epidema

Keperawatan Anak 18
- Inspeksi kulit dan
membrane mukosa
terhadap
kemerahan, panas,
drainase
- Inspeksi kondisi
luka/insisi bedah
- Dorong masukan
nutrisi yang cukup
- Dorong masukan
cairan
- Dorong istirahat
- Instruksikan pasien
untuk minum
antibiotic sesuai
resep
- Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
- Ajarkan cara
menghindari infeksi
- Laporkan
kecurigaan infeksi
- Laporkan kultur
positif

d. Ansietas
Definisi : Perasaan tidak NOC NIC
nyaman atau kekhawatiran  Anxiety self- Anxiety Reduction
yang samar disertai respon control (penurunan
autonom (sumber sering  Anxiety level kecemasan)
kali tidak spesifik atau  Coping - Gunakan pendekatan
tidak diketahui oleh yang menenangkan
individu) ; perasaan takut Kriteria Hasil : - Nyatakan dengan
 Klien mampu jelas harapan
yang disebabkan oleh
mengidentifikasi terhadap pelaku
antisipasi terhadap
dan pasien
bahaya. Hal ini
mengungkapkan - Jelaskan semua
merupakan isyarat
gejala cemas prosedur dan apa
kewaspadaan yang
 Mengidentifikas, yang dirasakan
memperingatkan individu
mengungkapkan selama prosedur
akan adanya bahaya dan

Keperawatan Anak 19
kemampuan individu dan - Pahami perspektif
untuk bertindak menunjukkan pasien terhadap
menghadapi ancaman. teknik untuk situai stres
mengontrol - Temani pasien untuk
Batasan Karakteristik cemas memberikan
 Vital sign dalam keamanan dan
 Perilaku :
- Penurunan batas normal mengurangi takut
 Postur tubuh - Dorong keluarga
produktivitas
- Gerakan yang dan tingkat untuk menemani
ireleven aktivitas anak
- Gelisah menunjukkan - Lakukan back/neck
- Melihat sepintas berkurangnya rub
- Insomnia kecemasan - Dengarkan dengan
- Kontak mata yang penuh perhatian
buruk - Identifikasi tingkat
- Mengekspresikan kecemasan
kekhawatiran karena - Bantu pasien
perubahan dalam mengenal situasi
peristiwa hidup yang menimbulkan
- Agitasi kecemasan
- Mengintai - Dorong pasien untuk
- Tampak waspada mengungkapkan
 Affektif perasaan, ketakutan,
- Gelisah, Distres persepsi
- Kesedihan yang - Instruksikan pasien
mendalam menggunakan teknik
- Ketakutan
relaksasi
- Perasaan tidak
- Berikan obat untuk
adekuat
mengurangi
- Berfokus pada diri
kecemasan
sendiri
- Peningkatan
kewaspadaan
- Iritabilitas
- Gugup senang
berlebihan
- Rasa nyeri yang
meningkatkan ketidak
berdayaan
- Peningkatan rasa
ketidakberdayaan
yang persisten
- Bingung, Menyesal

Keperawatan Anak 20
- Ragu/tidak percaya
diri
- Khawatir
 Fisiologis
- Wajah tegang, Tremor
tangan
- Peningkatan keringat
- Peningkatan
ketegangan
- Gemetar, Tremor
- Suara bergetar
 Simpatik :
- Anoreksia
- Eksitasi
kardiovaskuler
- Diare, Mulut kering
- Wajah merah
- Jantung berdebar –
debar
- Peningkatan tekanan
darah
- Peningkatan denyut
nadi
- Peningkatan reflek
- Peningkatan frekuensi
pernapasan, pupil
melebar
- Kesulitan bernapas
- Vasokontriksi
seperfisial
- Lemah, kedutan pada
otot
 Parasimpatik :
- Nyeri abdomen
- Penurunan tekanan
darah
- Penurunan denyut
nadi
- Diare, mual, vertigo
- Letih, gangguan tidur
- Kesemutan pada
ekstremitas
- Sering berkemih
- Anyang – anyangan

Keperawatan Anak 21
- Dorongan segera
berkemih
 Kognitif
- Menyadari gejala
fisiologis
- Bloking fikiran,
konfusi
- Penurunan lapang
persepsi
- Kesulitan
berkonsentrasi
- Penurunan
kemampuan untuk
belajar
- Penurunan
kemampuan untuk
memecahkan masalah
- Ketakutan terhadap
konsekuensi yang
tidak spesifik
- Lupa, gangguan
perhatian
- Khawatir, melamun
- Cenderung
menyalahkan orang
lain
Faktor Yang
Berhubungan:
 Perubahan dalam
(status ekonomi,
lingkungan, status
kesehatan, pola
interaksi, fungsi peran,
status peran)
 Pemajanan toksin
 Terkait keluarga
 Herediter
 Infeksi/ kontaminan
interpersonal
 Penularan penyakit
interpersonal
 Krisis maturasi, krisis

Keperawatan Anak 22
situasional
 Stres, ancaman
kematian
 Penyalahgunaan zat
 Ancaman pada ( status
ekonomi, lingkungan,
status kesehatan, pola
interaksi, fungsi peran,
status peran, konsep
diri)
 Konflik tidal disadari
mengenai tujuan
penting hidup
 Konflik tidak disadari
mengenal nilai yang
esensial/penting
 Kebutuhan yang tidak
dipenuhi

e. Gangguan eliminasi urin


Definisi : disfungsi pada NOC NIC
eliminasi urine  Urinary Urinary retention care
Batasan karakteristik : elimination - Lakukan penilaian
 Disuria  Urinary kemih yang
 Sering berkemih contiunence komprehensif
 Anyang-anyangan Criteria hasil : berfokus pada
 Inkontinensia  Kantung
inkontinensia
 Nokturia kemih kosong
(misalnya, output
 Retensi secara penuh
urin, pola masalah
 Dorongan  Tidak ada
kencing praeksisten).
Factor yang residu urine
- Memantau
berhubungan : >100-200 cc
penggunaan obat
 Obstruksi  Intake cairan
dengan sifat
anatomic dalam rentang
antikolinergik atau
 Penyebab multiple normal
 Bebas dari property alpa agonis.
 Gangguan sensori - Memonitor efek dari
motorik ISK
 Tidak ada obat-obatan yang
 Infeksi saluran diresepkan, seperti
spasma
kemih calcium channel
blander
 Balance cairan clockers dan
seimbang antikolinergik.

Keperawatan Anak 23
- Menyediakan
penghapusan privasi

f. Inkontinensia defekasi
Definisi : perubahan pada NOC NIC
kebiasaan defekasi normal  Bowel Bowel incontinence
yang dikarakteristikan continence care
dengan pasase  Bowel - Perkirakan
fesesinvolunter. elimination penyebab fisik dan
Batasan karakteristik : Criteria hasil : psikologi dari
 Rembesan konstan  Bab teratur, inkontimemsia fekal
feses lunak mulai dari - Jelaskan penyebab
 Bau fekal setiap hari masalah dan
 Warna fekalditempat sampai 3-5 hari rasional dari
tidur  Defekasi lunak, tindakan
 Warna fekal pada feses berbentuk - Jelaskan tujuan dari
pakaian  Penurunan managemen bowel
 Ketidak mampuan insiden pada
menunda defekasi inkontinensia pasien/keluarga.
 Ketidak mampuan usus - Diskusikan
untuk mengenali  Perawatan diri prosedur dan
dorongan defekasi toileting criteria hasil yang
 Tidak perhatian  Perawatan diri diharapkan bersama
terhadap dorongan ostonomi pasien
defekasi  Perawatan diri - Intruksikan
 Mengenal fekal penuh hygien pasien/keluarga
tetapi menyatakan  Fungsi untuk memcatat
tidak mampu gastrointestinal keluaran feses
mengeluarkan feses adekuat - Cuci area parianal
 Pengetahuan dengan sabun dan
padat
tentang air lalu keringkan
 Kulit perianal
perawatan - Jaga kebersihan
kemerahan
 Menyatakan sendiri ostomi baju dan tempat
mampuan  Status nutrisi tidur
ketidak
makanan dan - Lakukan program
mengenali kepenuhan
minuman latihan BAB
rectal.
adekuat - Monitor efek
 Integritas samping
jaringan kulit pengobatan
dan memberan - Bowel training
- Rencanakan

Keperawatan Anak 24
mukosa baik. program BAB
dengan pasien dan
pasien yang lain.
- Konsul kedokter
jika pasien
memerlukan
suppositoria.

4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah tahap pelaksanaan atau
implementasi terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah dibuat
atau ditetapkan untuk perawat bersama klien ataupun tenaga kesehatan
lainnya guna mengatasi masalah kesehatan klien. Pelaksanaan dilakukan
sesuai dengan rencana tindakan yang telah divalidasi sesuai dengan
kebutuhan klien.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tahap terakhir dari proses
keperawatan. Kegiatan ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai
setelah tahap pelaksanaan tidakan keperawatan dengan tujuan dan criteria
hasil yang diharapkan dalam tahap perrencanaan. Perawat mempunyai 3
alternatif dalam mengevaluasi atau menentukan sejauh mana tujuan
tersebut tercapai, diantaranya adalah :
1. Tujuan tercapai : jika data subjektif dan objektif ditemukan pada
saat evaluasi telah memenuhi kriteria hasil.
2. Tujuan teratasi sebagian : jika data subjektif dan objektif yang
ditemukan hanya sebagian yang sesuai dengan kriteria hasil.
3. Tujuan belum tercapai : jika data subjektif dan objektif yang
ditemukan tidak sesuai dengan kriteria hasil.

Keperawatan Anak 25
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Atrisi ani atau anus imperforata merupakan suatu kelainan malformasi
kongenital di mana terjadi ketidaklengkapan perkembangan embrionik pada
bagian anus atau tertutupnya anus secara abnormal atau dengan kata lain tidak
ada lubang secara tetap pada daerah anus. Lokasi terjadinya anus imporferata
ini meliputi bagian anus, rektum, atau bagian diantara keduanya.
Adapun penyebab terjadinya penyakit atresi ani ini adalah :
1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur.
2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu/3 bulan.
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik di
daerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi
pada minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.
B. Saran
Kami memahami makalah yang dibuat masih jauh dari kata sempurna,
oleh karena itu pembaca bisa memberi saran dan kritik kepada kami untuk
menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini bisa memberikan manfaat
kepada pembaca secara umum terlebih bagi penulis sendiri.

Keperawatan Anak 26