Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Menurut Gunawan (2003:177-178) menyatakan bahwa keterampilan berpikir kritis


adalah kemampuan untuk berpikir pada level yang kompleks dan menggunakan
proses analisis dan evaluasi. Berpikir kritis melibatkan keahlian berpikir induktif
seperti mengenali hubungan, manganalisis masalah yang bersifat terbuka, menentukan
sebab dan akibat, membuat kesimpulan dan mem-perhitungkan data yang relevan.
Sedang keahlian berpikir deduktif melibatkan kemampuan memecahkan masalah
yang bersifat spasial, logis silogisme dan membedakan fakta dan opini. Keahlian
berpikir kritis lainnya adalah kemampuan mendeteksi bias, melakukan evaluasi ,
membandingkan dan mempertentangkan. Berpikir kritis mengandung aktivitas mental
dalam hal memecahkan masalah, menganalisis asumsi, memberi rasional,
mengevaluasi, melakukan penyelidikan, dan mengambil keputusan. Dalam
proses pengambilan keputusan, kemampuan mencari, menganalisis dan mengevaluasi
informasi sangatlah penting. Orang yang berpikir kritis akan mencari, menganalisis
dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan berdasarkan fakta kemudian
melakukan pengambilan keputusan.

Berpikir kritis digunakan perawat untuk beberapa alasan :

1. Mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

2. Penerapan profesionalisme

3. Pengetahuan tehnis dan keterampilan tehnis dalam memberi asuhan keperawatan.

4.Berpikir kritis merupakan jaminan yang terbaik bagi perawat dalam menuju
keberhasilan dalam berbagai aktifitas.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah yang dapat dirumuskan dalam penulisan makalah ini sebagai
berikut:

1.Bagaimana Tahapan dan Proses dalam Berpikir dan Belajar?

1
2. Apa saja hal yang berkaitan dengan Peta Informasi ( Siklus, rantai, spider)?

3. Bagaimana Pengertian serta Aspek yang berkaitan dengan Berpikir Kritis?


4. Apa saja Komponen Berpikir Kritis dalam Keperawatan?
5. Bagaimana Sikap dan Standar Berpikir Kritis?
6.Apa saja yang hal yang berkaitan dengan Kompetensi Berpikir Kritis serta Sintesa
Pemikiran Kritis?

1.3 TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan.
Jawaban dari pertanyaan tersebut sebagai berikut:

1.Untuk mengetahui Tahapan dan Proses dalam Berpikir dan Belajar

2.Untuk mengetahui Hal yang berkaitan dengan Peta Informasi (Siklus, rantai, spider)

3.Untuk mengetahui Pengertian serta Aspek yang berkaitan dengan Berpikir Kritis

4.Untuk mengetahui Komponen Berpikir Kritis dalam Keperawatan

5.Untuk mengetahui Sikap dan Standar Berpikir Kritis

6.Untuk mengetahui Hal yang berkaitan dengan Kompetensi Berpikir Kritis serta
Sintesa Pemikiran Kritis

1.4 MANFAAT PENULISAN

Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca.

1.Manfaat bagi penulis

- Untuk menambah wawasan pembaca agar lebih mengetahui mengenai Berpikir


Kritis dalam Keperawatan

2. Bagi pembaca:

- Untuk menambah wawasan pembaca agar lebih mengetahui mengenai Berpikir


Kritis dalam Keperawatan

- Sebagai media informasi

2
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 Berpikir dan Belajar


Manusia membutuhkan pengetahuan baru dan memperbaiki kemampuan untuk
berpikir, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Belajar dan berpikir tidak
dapat di pisahkan. Sepanjang waktu, sejalan keterlibatan dalam pengalaman baru dan
menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita menjadi lebih mampu untuk membuat
asumsi, menyajikan ide – ide, dan membuat simpulan yang valid. Sebagai perawat
professional, perawat harus selalu melihat dan berpikir ke depan. Praktik keperawtan
harus selalu berubah. Sehingga dapat dikatakan, dengan tersedianya pengetahuan
baru, perawat professional harus selalu menantang cara – cara tradisional dalam
melakukan sesuatu dan mencari apa yang paling efektif, yang mempunyai bukti –
bukti mendukung secara ilmiah, dan memberikan hasil yang lebih baik untuk klien.
2.1.1 Taksonomi
Pada tahun 1982 sebuah persatuan profesional, North American Nursing Diagnosis
Association (NANDA) didirikan. Tujuan NANDA adalah “untuk mengembangkan,
memperhalus, dan mempromosikan taksonomi terminologi diagnosis keperawatan
untuk digunakan secara luas oleh perawat profesional” (Kim, Mc Farland, dan
McLean, 1984). Pada tahun 2003, NANDA berubah nama menjadi NANDA
International (NANDA-I) agar lebih mencerminkan penggunaan diagnosis
keperawatan internasional untuk komunitas kesehatan secara global. Organisasi ini
adalah pemimpin klasifikasi diagnosis keperawatan dan didukung oleh ANA sebagai
pihak yang bertanggungjawab untuk melakukan hal itu.

Pertama kali ANA Standard of Nursing Practice (1973) menggabungkan diagnosis


keperawatan pada tahun 1971, dan tetap terdapat dalam Nursing Scope and Standards
of Practice (ANA, 2004). Scope of Nursing Practice (1987) yang diterbitkan oleh
ANA, menjelaskan keperawatan sebagai diagnosis dan penatalaksanaan respon
manusia terhadap kesehatan dan penyakit, membantu memperkuat definisi diagnosis
keperawatan.

Penelitian dalam bidang diagnosis keperawatan terus berkembang. Akibatnya,


NANDA-I terus berkembang dan menambahkan nama diagnosis baru pada daftar

3
NANDA-I. Penggunaan standar formal pernyataan diagnosis keperawatan memilki
beberapa tujuan sebagai berikut.
- Menyediakan definisi yang tepat yang dapat memberikan bahasa yang sama
dalam memahami kebutuhan klien bagi semua anggota tim pelayanan kesehatan.
- Memungkinkan perawat untuk mengkomunikasikan apa yang mereka lakukan
sendiri, dengan profesi pelayanan kesehatan lain, dan masyarakat.
- Membedakan peran perawat dari dokter atau penyelenggara pelayanan
kesehatan lain.
- Membantu perawat berfokus pada bidang praktik keperawatan.
- Membantu mengembangkan pengetahuan keperawatan.
o Sasaran diagnosa keperawatan adalah untuk mengmbangkan suatu rencana
asuhan yang bersifat individual sehingga klien dan keluarganya mampuh
mengatasi perubahan dan untuk menghadapi tantangan yang diakibatkan dari
maslah kesehtan. Sasaran dari diagnosa medis adalah untuk meresepkan
pengobatan.

Cara Merumuskan Diagnosa Keperawatan.

Pendekatan dalam membuat diagnosa keperawatan dapat dilakukan dengan cara :

1. Pola P+E+S (PES) yaitu : Problem = adalah ciri, tanda atau gejala relevan
yang muncul sebagai akibat adanya masalah.maslah

Etiologi = penyebab

Symptom = tanda dan gejala

Contoh :

Pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan penumpukan sputum pada
saluran nafas,ditandai dengan pergerakan dinding dada yang tidak optimal.

2. Pola P+E (PE) yaitu : Problem : maslah

Etiologi : penyebab

Contoh :

4
Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh,yang berhubungan nafsu makan
berkurang (anoreksia).

Macam-macam diagnosa keperawatan.

NANDA-I telah mengidentifikasi empat tipe diagnosis keperawatan, yaitu :

1.Diagnosis Keperawatan Aktual


Respons manusia terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupan yang terdapat
dalam individu, keluarga, atau komunitas. Karakteristik definisi (manifestasi, tanda,
dan gejala) yang dikelompokkan dalam pola petunjuk yang berhubungan atau
gangguan yang mendukung pengkajian diagnosis ini (NANDA International, 2007).
Pemilihan diagnosis aktual menunjukkan bahwa data pemeriksaan yang ada sudah
cukup untuk menegakkan diagnosis keperawatan. Dalam kasus Nn. Devine, Lisa
menilai klien menderita nyeri tulang belakang dengan angka keparahan antara 8-9
dari skala 1-10. Rasa nyeri meningkat saat pergerakan. Akibat rasa nyeri tersebut, Nn.
Devine tidak dapat tidur. Nyeri akut merupakan diagnosis keperawatan aktual.
2.Diagnosis Keperawatan Risiko
Menggambarkan respons manusia terhadap kondisi kesehatan/proses kehidupan yang
mungkin menyebabkan individu, keluarga, atau komunitas menjadi rentan (NANDA
International, 2007). Sebagai contoh, setelah Nn. Devine menjalani laminektomi, dia
akan memiliki luka operasi. Lingkungan rumah sakit menciptakan risiko infeksi
nosokomial. Sehingga, setelah Nn. Devine menjalani operasi, Lisa menegakkan
diagnosis keperawatan risiko infeksi. Pengkajian utama untuk tipe diagnosis ini adalah
adanya data yang menunjang faktor risiko (insisi dan lingungan rumah sakit) yang
mendukung kerentanan Nn. Devine. Data tersebut termasuk faktor fisiologis,
psikososial, keturunan, gaya hidup, dan lingkungan yang meningkatkan kerentanan
klien, atau kecenderungan berkembang ke arah kondisi tersebut.
3.Diagnosis Keperawatan Promosi Kesehatan
Penilaian klinis terhadap motivasi individu, keluarga, atau komunitas serta keinginan
untuk meningkatkan kesejahteraan dan aktualisasi potensi kesehatan manusia sebagai
ungkapan kesiapan mereka untuk meningkatkan perilaku kesehatan tertentu, seperti
nutrisi dan olahraga. Diagnosis promosi kesehatan dapat digunakan pada berbagai
bidang kesehatan dan tidak membutuhkan tingkat kesejahteraan tertentu (NANDA

5
International, 2007). Potensial peningkatan kenyamanan merupakan contoh diagnosis
promosi kesehatan.

4.Diagnosis Keperawatan Sejahtera


Menggambarkan respons manusia terhadap tingkat kesejahteraan dalam individu,
keluarga, atau komunitas yang memiliki kesiapan untuk peningkatan (NANDA
International, 2007). Ini merupakan penilaian klinis tentang individu, keluarga, atau
komunitas daam transisi dari tingkat kesejahteraan tertentu ke tingkat kesejahteraan
yang lebih tinggi. Anda memilih tipe diagnosis ini ketika klien berharap atau telah
mencapai tingkat kesehatan yang optimal.
2.1.2 Tahapan Proses Belajar
1.Petunjuk yang dapat membantu perawat mengimplementasikan rencana
pengajaran:
- Waktu yang optimal masing – masing bergantung pada klien yang belajar. Sebagian
klien memilih waktu terbaik untuk belajar pada pagi hari, sebagian harinya pada sore
hari.
- Kecepatan setiap sesi juga mempengaruhi belajar. Perawat hendaknya sensitive
terhadap berbagai tanda mengetahui bahwa langkah – langkah mengajar terlalu cepat
atau lambat.
- Keadaan lingkungan dapat menurunkan atau membantu belajar.
- Alat bantu belajar dapat membantu perkembangan belajar dan membantu
memfokuskan perhatian.

- Perawat juga harus mendorong belajar secara independen dengan mendorong klien
menggali sumber-sumber informasi yang dibutuhkan

- Melakuka pengulangan, sebagai contoh, merangkum isi substansi, mengatakan


dengan kata-kata lain, dan mendekatkan materi dari titik-titik lain kedalam satu
pemahaman dapat menguatkan belajar

- Materi dari yang tidak diketahui ke yang diketahui dan hubungan diliat secara logis.

2.Pertimbangan dalam Implementasi tindakan keperawatan

- Individualitas klien, dengan mengkomunikasikan makna dasar dari suatu


implementasi keperawatan yang akan dilakukan

6
- Melibatkan klien dengan mempertimbangkan energi yang dimiliki, penyakitnya,
hakikat stressor, keadaan psiko-sosio-kultural, pengertian terhadap penyakit dan
intervensi

- Pencegahan terhadap komplikasi yang mungkin terjadi

- Mempertahankan kondisi tubuh agar penyakit tidak menjadi lebih parah serta upaya
peningkatan kesehatan

- Upaya rasa aman dan bantuan kepada klien dalam memenuhi kebutuhannnya

- Penampilan perawat yang bijaksana dari segala kegiatan yang dilakukan kepada
klien.

3.Pedoman dalam pelaksanaan implementasi keperawatan

- Berdasarkan respons klien

- Berdasarkan ilmu pengetahuan, hasil penelitian keperawatan, standar pelayanan


professional, hukum dan kode etik keperawatan.

- Berdasarkan penggunaan sumber-sumber yang tersedia

- Sesuai dengan tanggung jawab dan tanggung gugat profesi keperawatan

- Mengerti dengan jelas pesanan-pesanan yang ada dalam rencana intervensi


keperawatan

- Harus dapat menciptakan adaptasi dengan klien sebagai individu dalam upaya
meningkatkan peran serta untuk merawat diri sendiri (Self Care)

- Menekankan pada aspek pencegahan dan upaya peningkatan status kesehatan

- Dapat menjaga rasa aman, harga diri dan melindungi klien

- Memberikan pendidikan, dukungan dan bantuan.

- Bersifat holistik

- Kerjasama dengan profesi lain

- Melakukan dokumentasi

7
4.Jenis implementasi keperawatan dalam pendidikan kesehatan
- Independent implementations, adalah implementasi yang diprakarsai sendiri oleh
perawat untuk membantu klien dalam mengatasi masalahnya sesuai dengan
kebutuhan
- Interdependen atau Collaborative implementations, adalah tindakan keperawatan
atas dasar kerjasama sesama tim keperawatan atau dengan tim kesehatan lainnya
- Dependent implementations, adalah tindakan keperawatan atas dasar rujukan dari
profesi lain
5.Pelaksanaan implementasi keperawatan
- Tahap persiapan
- Tahap pelaksanaan
- Tahap Terminasi
6. Hal - hal yang harus di dokumentasikan

- Mencatat waktu dan tanggal pelaksanaan

- Mencatat diagnosa keperawatan nomor berapa yang dilakukan intervensi tersebut

- Mencatat semua jenis intervensi keperawatan termasuk: Contoh : Mengornpres luka


dengan betadin 5 % , hasil : luka tampak bersih, pus tidak ada, tidak berbau.

2.1.3 Proses Internalisasi Belajar


- Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran perlu dirancang dan di kembangkan sebaik mungkin dengan
memperhatikan tujuan, strategi, materi, metode, media dan sistem evaluasi yang akan
digunakan agar isi pelajaran sebagai masukan benar-benar dapat diterima peserta
didik secara optimal dan berkesan dalam memori mereka
- Proses Belajar
Perlu adanya proses evaluasi baik itu berupa latihan, pengulangan, penerapan secara
konkret, ataupun dalam bentuk tes tertulis, lisan atau perbuatan yang diberikan oleh
pengajar
2.1.4 Pengolahan Informasi
Sistem informasi yang berbasis computer dapat meningkatkan pelayanan kesehatan
pada suatu rumah sakit. Tujuannya adalah untuk meningkatkan penggunaan data
kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan, riset, dan pendidikan. System
informasi manajemen keperawatan adalah meningkatkan kualitas dokumentasi,

8
meningkatkan kualitas asuhan, meningkatkan produktifitas kerja, memudahkan
komunikasi antara tim kesehatan. Beberapa keuntungan menggunakan sistem
informasi manajemen keperawatan adalah meningkatkan kualitas dokumentasi,
meningkatkan kualitas asuhan, meningkatkan produktifitas kerja, memudahkan
komunikasi antara tim kesehatan, memudahkan dalam mengakses informasi,
meningkatkan kepuasan kerja perawat, perawat memiliki waktu lebih banyak untuk
melayani pasien, menurunkan Hospital Cost, menurunkan Lost of data and
information, mencegah Redundancy (Kerangkapan Informasi).
Aplikasi Sistem Informasi Manajemen Berhubungan Dengan Sistem Informasi
Keperawatan Di RS
Untuk aplikasi sistem informasi manajemen asuhan keperawatan baru beberapa
rumah sakit saja yang sudah menerapkan dan itu pun masih terbatas, seperti Rumah
Sakit Fatmawati Jakarta dan rumah sakit Charitas Palembang
a. Di RS Fatmawati Jakarta, sejak tahun 2002 mulai mengembangkan sistem
pendokumentasian keperawatan berupa SIM keperawatan. Sistem pendokumentasian
keperawatan yang terkomputerisasi sudah mulai diimplementasikan sejak tahun 2004.
Sistem Informasi Manajemen keperawatan ini baru sebatas menentukan rencana
keperawatan.
b.Di RS Charitas Palembang, sistem dokumentasi keperawatan terkomputerisasi
mulai dikembangkan sejak tahun 2002. Di RSUD Banyumas sistem
pendokumentasian ini baru menerapkan dengan sistem NIC-NOC. Di RSUD
Cengkareng Jakarta baru sebatas pelaksanaan Clinical pathway.

2.2 Peta Informasi ( Siklus, rantai, spider)


A. Pengertian Peta Informasi
Menurut Hudojo, et al (2002) peta konsep adalah saling keterkaitan antara konsep
dan prinsip yang direpresentasikan bagai jaringan konsep yang perlu dikonstruksi dan
jaringan konsep hasil konstruksi inilah yang disebut peta konsep. Sedangkan menurut
Suparno (dalam Basuki, 2000, h.9) peta konsep merupakan suatu bagan skematik
untuk menggambarkan suatu pengertian konseptual seseorang dalam suatu rangkaian
pernyataan. Peta konsep bukan hanya menggambarkan konsep-konsep yang penting,
melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan

9
konsep-konsep tersebut dapat digunakan dua prinsip yaitu prinsip diferensial
progresif dan prinsip penyesuaian integratif.
B. Ciri- ciri Peta Konsep

Dahar (1989) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut :

1. Penyajian peta konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep


dan proposisi-proposisi dalam suatu topik pada bidang studi.
2. Peta konsep merupakan gambar yang menunjukkan hubungan konsep-konsep dari
suatu topik pada bidang studi.
3. Bila dua konsep atau lebih digambarkan dibawah suatu konsep lainnya, maka
terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep itu.
Martin (dalam Basuki, 2000) mengungkapkan bahwa peta konsep merupakan
petunjuk bagi guru, untuk menunjukkan hubungan antara ide-ide yang penting
dengan rencana pembelajaran. Sedangkan menurut Arends (dalam Basuki, 2000)
menuliskan bahwa penyajian peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi
mahasiswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru. Dengan
penyajian peta konsep yang baik maka mahasiswa dapat mengingat suatu materi
dengan lebih lama lagi.
C. Jenis- jenis Peta Informasi

Menurut Nur (2000) (dalam Erman 2003: 24) peta konsep ada empat macam yaitu:
pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus
(cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).

1) Pohon Jaringan

Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan
oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan
antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik
itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan
mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari
umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama
dan berikan hubungannya pada garis-garis itu (Nur dalam Erman 2003: 25)
Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
a) Menunjukan informasi sebab-akibat

10
b) Suatu hirarki
c) Prosedur yang bercabang
2) Rantai Kejadian
Nur (dalam Erman 2003:26) mengemukakan bahwa peta konsep rantai kejadian dapat
digunakan untuk memberikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu
prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan
eksperimen. Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
a) Memerikan tahap-tahap suatu proses
b) Langkah-langkah dalam suatu prosedur
c) Suatu urutan kejadian
3) Peta Konsep Siklus
Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir.
Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya
kejadian akhir itu menghubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang
dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk
menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk
menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang.
4) Peta Konsep Laba-laba
Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan
curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh
sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan
dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kita dapat
memulainya dengan memisah-misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut
kaitan tertentu sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di
luar konsep utama. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan
hal-hal:
a) Tidak menurut hirarki, kecuali berada dalam suatu kategori
b) Kategori yang tidak parallel
c) Hasil curah pendapat.
2.3 Berpikir Kritis
2.3.1 Pengertian
Berpikir kritis adalah suatu proses dimana seseorang atau individu dituntut untuk
menginterpretasikan dan mengevaluasi informasi untuk membuat sebuah penilaian
atau keputusan berdasarkan kemampuan, menerapkan ilmu pengetahuan dan
11
pengalaman. (Pery & Potter,2005). Menurut Bandman dan Bandman (1988), berfikir
kritis adalah pengujian secara rasional terhadap ide-ide, kesimpulan, pendapat,
prinsip, pemikiran, masalah, kepercayaan dan tindakan. Untuk mendapatkan suatu
hasil berpikir yang kritis, seseorang harus melakukan suatu kegiatan (proses) berfikir
yang mempunyai tujuan (purposeful thinking), bukan “asal” berfikir yang tidak
diketahui apa yang ingin dicapai dari kegiatan tersebut. Artinya, walau dalam
kehidupan sehari-hari seseorang sering melakukan proses berpikir yang terjadi secara
“otomatis”.
2.3.2 Unsur – unsur dan Kualitas
a) Sistematik dan senan tiasa menggunakan kriteria yang tinggi (terbaik) dari sudut
intelektual untuk hasil yang ingin dicapai.
b) Individu brtanggung jawab sepenuhnya atas proses kegiatan berfikir kritis.
c) Selalu menggunakan kriteria berdasarkan standar yang telah ditentukan dalam
memantau proses berpikir.
d) Melakukan evaluasi terhadap efektivitas kegiatan berfikir yang ditinjauh dari
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Karakteristik berfikir kritis dalam keperawatan

a) Rasional, reasonable, reflektif (berdasarkan alasan - alasan dan bukti) bukan atas
dasar keinginan pribadi (pemikir kritis “melompat pada kesimpulan” butuh waktu
untuk koleksi data, timbang fakta, dan fikirkan permasalahan).
b) Melibatkan skepticism yang sehat dan kontruktif tidak menerima dan menolak ide –
ide, kecuali karna mengerti hal tersebut menaati peraturan setelah berfikir panjang
dengan mencari pemahaman, merasioanalisasikannya, mengikuti yang masuk akal,
dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.
c) Otonomi tidak mudah dimanipulasi.
d) Berfikir dengan pemikiran sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya.
e) Kreaktif, menciptakan ide – ide orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran –
pemikiran dan kosep.
f) Adil atau tidak berpihak siapapun.
g) Dapat dipercaya dan dilakukan, memutuskan tindakan yang dapat dilakukan.
Membuat observasi yang dapat dipercaya, menegakkan kesimpulan secara tepat,
mengatasi masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan.
2.3.3 Aspek Prilaku dan Keterampilan Berpikir Kritis

12
1. Percaya Diri
Belajar bagaimana memperkenalkan diri kepada klien,berbicara secara meyakinkan
saat memulai terapi atau prosudur.dengan membuat klien mengira ada tidak dapat
melakukan perawatan yang aman.selalu mempersiapkan segala sesuatu sebelum
melakukan tindakan keperawatan.dorong klien untuk bertanya.
2. Berpikir Independen

Baca literatur tetag keperawatan terutama jika terdapat berbagai pedapat mengenai
satu subjek yang sama.berbicaralah dengan perawat lain dan berbagi ide mengenai
tindakan keperawatan.

3. Tanggung Jawab dan Otoritas


Mintalah batuan jika anda tidak yakin bagaimana melakukan ketrampilan
keperawatan selalu merujuk pada aturan dan prosudur manual untuk mengulang
langkah langkah suatu keterampilan.laporka semua masalah secepat mungkin,ikuti
semua standar praktikum keperawatan yang anda miliki.
4. Mau mengambil resiko
Jika pengetahuan yang anda punya membuat anda bertanya mengenai perintah dari
klinik anda,maka lakukanlah.bersedia untuk merekomendasikan pendekata alternatif
dalam perawtan,jika teman anda hanya mendapatkan sedikit keberhasilan dalam
merawat kliennya.
5. Disiplin
Selalu sistematis dalam setiap hal yang anda lakuka.gunakan criteria berdasarka ilmu
dan bukti yang dikenal untuk aktivitas seperti pengkajian dan evaluasi.luangkan
waktu untuk menjadi lebih sistematis dan gunakan waktu anda yang
seefektif mungkin.
6. Persisten
Hati hati dengan jawaban mudah,jika teman kerja anda memberikan informasi yang
tidak lengkap tentang klien,maka perjelslah informasi tersebut dan bicaralah dengan
klien secara langsung.jika msalah yang sama terus berlangsung di divisi
keperawatan,maka ajaklah teman kerja anda,lihatlah polanya dan carilah
penyelesaiannya bersama.
7. Kreatif
Lihatlah pendekatan berbeda lainnya jika tindakan yang anda berikan tudak berhasil
pada klien.sebagai contoh,klien yang sedang mengalami rasa nyeri muingkin

13
memerlukan posisi yang berbeda atau teknik distraksi.jika mungkin , libatkanlah
anggota keluarga klien dalam beradaptasi terhadap pendekatan keperawatan yang
anda lakukan agar dapat dilakukn dirumah.
8. Rasa ingin tahu
Selalu bertanya mengapa.sebuah tanda klinis atau gejala sering merupakan indikasi
dari berbagai masalah. Eksplorasi dan belajar lagi segala hal mengenai klien agar
dapat membuat keputusan klinis yang tepat.
9. Intregitas
Kenali saat dimana pendapat anda bertentangan dengan pendapat lain,lihat kembali
posisi anda dan putuskan bagaimana cara terbaik yang dapat memuskan semua
orang.jangan melanggar standart keperawatan dan kejujuran dalam memberikan
perawtan pada klien
10. Rendah hati
Kenali situasi dimana anda memerlukan informasi lebih untuk membuat suatu
keputusan . jika anda merupakan orang baru di suatu divisi, maka mintlah untuk di
orientasikan pada area divisi tersebut. Meintalah perawat yang telah bekerja didivisi
tersebut untuk membimbing anda secara teratur

2.3.4 Model Berpikir Kritis dan Tingkatannya

Dalam penerapan pembelajaran pemikiran kritis di pendidikan keperawatan, dapat


digunakan tiga model, yaitu: feeling, vision model, dan examine model yaitu sebagai
berikut:

1. Feling Model

Model ini menerapkan pada rasa, kesan, dan data atau fakta yang ditemukan. Pemikir
kritis mencoba mengedepankan perasaan dalam melakukan pengamatan, kepekaan
dalam melakukan aktifitas keperawatan dan perhatian. Misalnya terhadap aktifitas
dalam pemeriksaan tanda vital, perawat merasakan gejala, petunjuk dan perhatian
kepada pernyataan serta pikiran klien.

2. Vision model

14
Model ini dingunakan untuk membangkitkan pola pikir, mengorganisasi dan
menerjemahkan perasaan untuk merumuskan hipotesis, analisis, dugaan dan ide
tentang permasalahan perawatan kesehatan klien, beberapa kritis ini digunakan untuk
mencari prinsip-prinsip pengertian dan peran sebagai pedoman yang tepat untuk
merespon ekspresi.

3. Exsamine model

Model ini dungunakan untuk merefleksi ide, pengertian dan visi. Perawat menguji ide
dengan bantuan kriteria yang relevan. Model ini digunakan untuk mencari peran yang
tepat untuk analisis, mencari, meguji, melihat konfirmasi, kolaborasi, menjelaskan
dan menentukan sesuatu yang berkaitan dengan ide.

Terdapat 3 model berpikir kritis dalam keperawatan menurut para ahli:

A. Costa and colleagues (1985)

Menurut costa and colleagues klasifikasi berpikir dikenal sebagai ‘the six Rs” yaitu:

1. Remembering ( mengingat)

2. Repeating (mengulang)

3. Reasoning (memberi alasan)

4. Reorganizing (reorganisasi)

5. Relating (berhubungan)

6. Reflecting (merenungkan)

B. Lima model berpikir kritis

1. Total recall

Total recall atau kemampuan mengingat adalah kemampuan mengingat kembali fakta
dimana dan bagaimana menemukan pengalaman dalam memorinya ketika

15
dibutuhkan. Fakta – fakta keperawatan didapatkan berasal dari berbagai sumber, abik
dikelas, buku, informasi dari klien atau sumber lainnya.

2. Habits ( kebiasaan)

Pola pikir yang diulang – ulang akan menjadi suatu kebiasaan baru (Second Nature)
yang secara spontan dapat dilakukan. Hasil dari kebiasaan tersebut menjadi cara baru
dalam melakukan suatu kebiasaan. Orang sering mengartikan bahwa suatu kebiasaan
itu dilakukan tanpa berpikir.

3. Inquiry ( penyelidikan / menanyakan keterangan )

Inquiry (Penyelidik) adalah suatu penemuan fakta melalui pembuktian dengan


pengujian terhadap suatu isu penting atau pertanyaan yang membutuhkan suatu
jawaban. Penyelidikan merupakan buah pikiran utama yang digunakan dalam
memperoleh suatu kesimpulan.

4. New ideas and creativity

New ideas and kreativity (ide – ide baru dan kreativitas) adalah ide – ide dan
kreativitas yang menentukan bentuk berpikir yang sangat khusus. Berpikir kreatif
(creatuve thinkig) adalah kebalikan dari kebiasaan (habits). Berpikir kritis sangat
menghargai adanya kesalahan dan perbedaan terhadap nilai – nilai yang dipelajari. Ide
– ide baru dan kreativitas dasar perlu dikembangkan dalam keperawatan, karena
keperawatan memiliki bannyak standar yang dapat menjamin pekerjaan lebih baik.

5. Knowing how you think (mengetahui apa yang kamu pikirkan)

Knowing How You Think ( Tahu Bagaimana Kamu Berpikir) adalah kemampuan
mengetahui kita tentang bagaimanakita berpikit. Model “tahu bagaimana kita
berpikir” ini dapat membantu perawat bekerja secara kolaborasi dengan kesehatan
lain. Satu hala yanga sangat penting dari tahu bagaimana kamu berpikir ini adalah
mereka bekerja dengan refleksi, bagaimana yang telah perawat dan klien pikirkan
dalam bekerja sama sewaktu menjalankan asuhan keperawatan.

2.4 Komponen Berpikir Kritis dalam Keperawatan

16
Terdapat beberapa komponen berpikir kritis dalam keperawatan yang dapat menjadi
sebuah acuan dalam menghasilkan pemikiran kritis. Komponen berpikir kritis tersebut
antara lain:
1. Relevance
Relevansi (keterkaitan) dari pernyataan yang dikemukakan.
2. Importance
Penting tidaknya isu atau pokok-pokok pikiran yang dikemukakan.
3. Novelty
Kebaruan dari isi pikiran, baik dalam membawa ide-ide atau informasi baru maupun
dalam sikap menerima adanya ide-ide baru orang lain.
4. Outside material
Menggunakan pengalamannya sendiri atau bahan-bahan yang diterimanya dari
perkuliahan (refrence).
5. Ambiguity clarified
Mencari penjelasan atau informasi lebih lanjut jika dirasakan ada ketidakjelasan.
6. Linking ideas
Senantiasa menghubungkan fakta, ide atau pandangan serta mencari data baru dari
informasi yang berhasil dikumpulkan.
7. Justification
Member bukti-bukti, contoh, atau justifikasi terhadap suatu solusi atau kesimpulan
yang diambilnya. Termasuk di dalalmnya senantiasa memberi penjelasan mengenai
keuntungan (kelebihan) dan kerugian (kekurangan) dari suatu situasi atau solusi.
8. Critical assessment
Melakukan evaluasi terhadap setiap kontribusi / masukan yang datang dari dalam
dirinya maupun dari orang lain.
9. Practical utility
Ide-ide baru yang dikemukakan selalu dilihat pula dari sudut keperaktisan /
kegunaanya dalam penerapan.
10. Width of understanding
Diskusi yang dilaksanakan senantiasa bersifat meluaskan isi atau materi diskusi.
Secara garis besar, perilaku berpikir kritis diatas dapat dibedakan dalam beberapa
kegiatan :

a. Berpusat pada pertanyaan (focus on question)

17
b. Analisa argument (analysis arguments)

c. Bertanya dan menjawab pertanyaan untuk klarifikasi (ask and answer questions
of clarification and/or challenge)

d. Evaluasi kebenaran dari sumber informasi (evaluating the credibility sources of


information)

2.5 Sikap dan Standar Berpikir Kritis


A. Sikap Berpikir Kritis

Definisi dari kritis itu sendiri adalah Sikap Kritis itu, sebenarnya sikap spontan
seseorang terhadap sesuatu yang terjadi secara tidak terduga, mungkin lewat
perkataan, atau perbuatan. Supaya terjadi komunikasi secara 2 arah dan tidak
adanya doktrin. Sikap kritis itu mempunyai 3 arti yaitu pertama sikap tidak mudah
percaya, besusaha selalu menemukan kesalahan, dan rasa ingin tahu yang tajam.

- Tidak mudah percaya

Tidak mudah percaya adalah hal yang sangat penting bukan berarti harus tidak
percaya setiap apa yang orang bicarakan, disini pengertian dari tidak mudah
percayanya itu adalah supaya kita tidak mudah tertipu oleh omongan orang, banyak
orang yang terkena doktrin.

- Selalu mencari kesalahan

Mungkin kedengarannya memang sangat egois tetapi sebenarnya tidak ada unsur
egois dari arti ini, karena memang selalu mencari kesalahan itu mengandung banyak
arti. Memang sikap kritis itu selalu mencari kesalahan tetapi mencari kesalahan
yang bisa membuat orang yang kita kritik itu tahu apa sebenernya yang mereka
bicarakan dan supaya mereka tahu apa kesalahan mereka jadi mereka juga bisa
intropeksi diri karena banyak sekali orang di dunia yang pintar dalam berbicara
banyak hal padahal sebenarnya mereka tidak mengerti apa yang mereka bicarakan,
Sebab itu lah disini selalu mencari kesalahan dalam arti kritis itu bukan lah sifat
egois melainkan untuk memberi tahu apa kekurangan dari orang lain dan agar yang
mengkritis juga bisa lebih mengerti.

- Rasa ingin tahu yang tajam

18
Sebenarnya ini adalah hal yang paling penting yang harus dimiliki oleh setiap orang
yang mempunyai sikap kritis karena banyak orang bilang semakin banyak kita
mengetahui sesuatu semakin banyak ilmu yang kita miliki, disini saya ingin
memberikan sesuatu kata2 yang mungkin bisa berguna “jangan pernah menyesal
jika dunia tidak mengenal kamu, tetapi menyesal lah jika kamu tidak mengenal apa
itu dunia”

Betapa pentingnya jika kita mempunyai rasa ingin tahu yang tajam maka dalam
kehidupan kita bisa mengetahui apa sebenarnya dunia itu sendiri, banyak hal yang
belum kita ketahui dari dunia. Kembali ke sikap kritis rasa ingin tahu yang tajam
sebenarnya adalah hal yang paling dasar kita perlukan agar kita menjadi berani
untuk berbicara di depan umum dan berbicara kepada setiap orang di lingkungan
kita, karena jika kita sudah banyak tahu dan berani untuk memberikan pendapat atau
solusi kepada setiap orang yang berbicara dengan kita maka dengan itu lah kita
sudah mudah untuk melakukan sikap kritis.

B. Standar Berpikir Kritis


1.Standar 1: Kejelasan (clarity)
Kejelasan merupakan pondasi standardisasi. Untuk mencapai kejelasan berpikir
dalam berpikir kritis, seseorang dituntut untuk tidak hanya memperhatikan kejelasan
bahasa, tetapi juga kejelasan pemikiran itu sendiri. Kejelasan bahasa berhubungan
dengan bagaimana kita memakai bahasa sesuai kaidah kebahasaan dalam
mengemukakan pemikiran kita. Bahasa adalah alat untuk mengekspresikan pemikiran.
Jika kaidah-kaidah kebahasaan tidak diperhatikan atau tidak ditaati, kita akan gagal
memanfaatkan bahasa sebagai alat menyampaikan gagasan. Selain itu, kejelasan juga
termasuk kejelasan isi pikiran.
2.Standar 2: Presisi (precision)
Ketepatan (presisi) dalam mengemukakan pikiran atau gagasan sangat ditentukan oleh
bagaimana seseorang membiasakan dan melatih dirinya dalam mengobservasi sesuatu
dan menarik kesimpulan-kesimpulan logis atas apa yang diamatinya tersebut.
Kemampuan presisi juga berhubungan dengan apa yang diistilah dengan close
attention. “Really valuable ideas can only be had at the price of close attention,”
demikian Charles S.Pierce.Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak bidang yang
membutuhkan presisi. Misalnya dalam bidang kedokteran, teknik, arsitektur, dan

19
sebagainya. Dalam pemikiran kritis pun dibutuhkan ketepatan. Kemampuan
mengamati dan menentukan apa yang sebenarnya sedang terjadi atau sedang dihadapi
membutuhkan kemampuan presisi ini.
3. Standar 3: Akurasi (Accuracy)
Keakuratan putusan kita sangat ditentukan oleh informasi yang masuk ke dalam
pikiran kita. Jika kita menginput informasi yang salah atau menyesatkan, maka jangan
heran kita menghasilkan suatu putusan atau kesimpulan yang salah pula. Misalnya,
seorang pemimpin perusahaan memutuskan memecat karyawannya karena mendengar
informasi yang salah dari karyawan lain bahwa karyawan yang dipecat itu melanggar
kode etik perusahaan. Seharusnya sang pimpinan memanggil dan menggali sendiri
informasi dari karyawan tersebut dan informasi-informasi lainnya yang terkait. Orang
yang selalu berpikir kritis tidak akan gegabah dalam mengambil putusan jika
informasi-informasi yang dibutuhkan belum mencukupi. Mereka yang terbiasa
berpikir kritis tidak hanya menjunjung tinggi dan memberikan penilaian pada suatu
kebenaran. Mereka juga memiliki passion yang mendalam tentang keakuratan dan
informasi-informasi yang tepat. Socrates mengatakan bahwa hidup yang tidak
direfleksikan tidak pantas untuk dihidupi tampaknya tepat untuk menggambarkan
kemampuan berpikir kritis yang satu ini.
4. Standar 4: Relevansi (Relevance)
Yang dimaksud di sini adalah bagaimana kita memusatkan perhatian pada informasi-
informasi yang dibutuhkan bagi kesimpulan berpikir kita, dan tidak membiarkan
pikiran dikuasai, dikendalikan, atau dialihkan oleh informasi-informasi lain yang
tidak relevan.
5. Standar 5: Konsistensi (Consistency)
Mencari dan mempertahankan kebenaran menuntut adanya konsistensi sikap, baik
dalam upaya terus menerus mencari kebenaran maupun membangun argumen-
argumen mengenai pengetahuan. Kebenaran tidak pernah dicapai sekali untuk
selamanya, dia harus terus dikejar dan diusahakan. Tanpa sikap konsisten dalam
mencari kebenaran mustahil memperoleh kebenaran. Demikian pula sikap konsisten
dalam membangun argumentasi yang adalah ekspresi pengetahuan subjek mengenai
sesuatu. Argumen yang jelas dan terpilah-pilah harus tetap dipertahankan, dan ini
langsung memperlihatkan konsistensi dari si subjek yang berpikir kritis.
Ada dua ketidak konsistenan yang harus dihindari. Pertama, inkonsistensi logis,
dalam arti percaya atau menerima sebagai benar suatu materi tertentu yang tidak
20
benar sebagian atau seluruhnya. Kedua, inkonsistensi praktis, yakni diskrepansi antara
perkataan dan perbuatan. Orang yang konsisten harus memiliki sikap yang
mencerminkan apa yang dikatakannya. Hal ini akan nyata benar dalam pemikiran dan
sikap moral.
6.Standar 6: Keutuhan (Completeness)
Ini lebih berhubungan dengan rasa tidak puas pikiran kita ketika mencerna atau
memahami suatu pemikiran. Misalnya, kita membaca laporan investigasi koran atau
majalah tertentu mengenai kejahatan kra putih (white Collar Crime). Mungkin karena
keterbatasan ruang atau data-data, kita sebagai pembaca merasa tidak puas dengan apa
yang disajikan. Reaksi pikirn kita ini wajar adanya, karena kita sadar betul, bahwa
sesuatu akan menjadi lebih baik jika mendalam dan sebaliknya. Pikiran kita akan
mengapresiasi pemikiran-pemikiran yang mendalam lebih dari sekadar basa-basi atau
dibuat-buat.
7.Standar 7: Fairness
Berpikir kritis menuntut kita agar memiliki pemikiran yang fair, dalam arti open
minded, impartial, serta bebas distorsi dan praduga. Memang agak sulit menghindari
hal-hal demikian dalam pemikiran kita, tetapi kita harus menghindarinya kalau mau
bersikap kritis. Kita memang hidup dalam kebudayaan masyarakat yang menyenangi
hal-hal bersifat gossip, dugaan, prasangka, stereotype, dan sebagainya yang ternyata
sangat menyenangkan dan menghibur. Tetapi kalau kita mau berpikir dan bersikap
kritis, maka hal-hal seperti ini harus dihindari. Jika tidak, pemikiran atau argumentasi
yang kita bangun tidak akan objektif dan fair.
2.6 Kompetensi Berpikir Kritis serta Sintesa Pemikiran Kritis
A. Kompetensi Berpikir Kritis
Menurut Katoko- Yahiro dan Saylor (1994) kompetensi berpikir kritis adalah suatu
proses kognitif yang digunakan oleh perawat dalam membuat penilaian keperawatan.
Terdapat 3 tipe kompetensi yaitu berpikir kritis yang umum meliputi pengetahuan
tentang metode ilmiah, penyelesaian masalah, dan pembuatan keputusan. Berpikir
kritis dapat dibagi menjadi dua yaitu berpikir kritis spesifik dalam situasi klinis serta
berpikir kritis dalam keperawatan. Berpikir kritis spesifik dalam situasi klinis meliputi
alasan mengangkat diagnosa dan membuat keputusan untuk perencanaan tindakan
sedangkan berpikir kritis dalam keperawatan meliputi pendekatan proses keperawatan
mulai dari pengkajian hingga evaluasi.
B. Sintesa Pemikiran Kritis
21
Didalam melakukan pemikiran kritis diperlukan adanya sintesa atau gabungan elemen
yang dapat memudahkan dalam melakukan hal tersebut. Sintesa ini digunakan dalam
penelitian dan komponen, pemecahan masalah keperawatan, serta menjadi kriteria
yang digunakan pada sikap berpikir kritis. Dengan mengetahui hal tersebut, dapat kita
pahami bahwa sintesa turut serta mendukung kelangsungan dalam melakukan
pemikiran kritis. Sintesa pemikiran kritis antara lain:
1. Menentukan tujuan pemikiran kritis
2. Menyusun pertanyaan atau membuat sebuah kerangka masalah
3. Menunjukan sebuah bukti
4. Menganalisis konsep
5. Asumsi

Sintesa pemikiran kritis pun memiliki beberapa kriteria yang dapat menjadi acuan
memperkuat apakah elemen tersebut dapat menjadi acuan dalam melakukan
pemikiran kritis. Kriteria tersebut antara lain: kejelasan, ketepatan, ketelitian, dan juga
keterkaitan.

22
BAB 3

PENUTUP

3.1 Simpulan

- Keterampilan berpikir kritis adalah kemampuan untuk berpikir pada level yang
kompleks dan menggunakan proses analisis dan evaluasi.

- Berpikir kritis melibatkan keahlian berpikir induktif seperti mengenali hubungan,


manganalisis masalah yang bersifat terbuka, menentukan sebab dan akibat, membuat
kesimpulan dan mem-perhitungkan data yang relevan.

- Tahapan Proses Belajar adalah waktu yang optimal masing – masing bergantung
pada klien yang belajar. Sebagian klien memilih waktu terbaik untuk belajar pada
pagi hari, sebagian harinya pada sore hari, kecepatan setiap sesi juga mempengaruhi
belajar. Perawat hendaknya sensitive terhadap berbagai tanda mengetahui bahwa
langkah – langkah mengajar terlalu cepat atau lambat, keadaan lingkungan dapat
menurunkan atau membantu belajar, alat bantu belajar dapat membantu
perkembangan belajar dan membantu memfokuskan perhatian. Perawat juga harus
mendorong belajar secara independen dengan mendorong klien menggali sumber-
sumber informasi yang dibutuhkan

- Menurut Nur (2000) (dalam Erman 2003: 24) peta konsep ada empat macam yaitu:
pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus
(cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).

- Aspek Prilaku dan Keterampilan Berpikir Kritis


1. Percaya Diri
Belajar bagaimana memperkenalkan diri kepada klien,berbicara secara meyakinkan
saat memulai terapi atau prosudur.dengan membuat klien mengira ada tidak dapat
melakukan perawatan yang aman.selalu mempersiapkan segala sesuatu sebelum
melakukan tindakan keperawatan.dorong klien untuk bertanya.
2. Berpikir Independen

23
Baca literatur tetag keperawatan terutama jika terdapat berbagai pedapat mengenai
satu subjek yang sama.berbicaralah dengan perawat lain dan berbagi ide mengenai
tindakan keperawatan.

3. Tanggung Jawab dan Otoritas


Mintalah batuan jika anda tidak yakin bagaimana melakukan ketrampilan
keperawatan selalu merujuk pada aturan dan prosudur manual untuk mengulang
langkah langkah suatu keterampilan.laporka semua masalah secepat mungkin,ikuti
semua standar praktikum keperawatan yang anda miliki.
4. Mau mengambil resiko
Jika pengetahuan yang anda punya membuat anda bertanya mengenai perintah dari
klinik anda,maka lakukanlah.bersedia untuk merekomendasikan pendekata alternatif
dalam perawtan,jika teman anda hanya mendapatkan sedikit keberhasilan dalam
merawat kliennya.
5. Disiplin
Selalu sistematis dalam setiap hal yang anda lakuka.gunakan criteria berdasarka ilmu
dan bukti yang dikenal untuk aktivitas seperti pengkajian dan evaluasi.luangkan
waktu untuk menjadi lebih sistematis dan gunakan waktu anda yang
seefektif mungkin.
6. Persisten
Hati hati dengan jawaban mudah,jika teman kerja anda memberikan informasi yang
tidak lengkap tentang klien,maka perjelslah informasi tersebut dan bicaralah dengan
klien secara langsung.jika msalah yang sama terus berlangsung di divisi
keperawatan,maka ajaklah teman kerja anda,lihatlah polanya dan carilah
penyelesaiannya bersama.
7. Kreatif
Lihatlah pendekatan berbeda lainnya jika tindakan yang anda berikan tudak berhasil
pada klien.sebagai contoh,klien yang sedang mengalami rasa nyeri muingkin
memerlukan posisi yang berbeda atau teknik distraksi.jika mungkin , libatkanlah
anggota keluarga klien dalam beradaptasi terhadap pendekatan keperawatan yang
anda lakukan agar dapat dilakukn dirumah.
8. Rasa ingin tahu

24
Selalu bertanya mengapa.sebuah tanda klinis atau gejala sering merupakan indikasi
dari berbagai masalah. Eksplorasi dan belajar lagi segala hal mengenai klien agar
dapat membuat keputusan klinis yang tepat.
9. Intregitas
Kenali saat dimana pendapat anda bertentangan dengan pendapat lain,lihat kembali
posisi anda dan putuskan bagaimana cara terbaik yang dapat memuskan semua
orang.jangan melanggar standart keperawatan dan kejujuran dalam memberikan
perawtan pada klien
10. Rendah hati
Kenali situasi dimana anda memerlukan informasi lebih untuk membuat suatu
keputusan . jika anda merupakan orang baru di suatu divisi, maka mintlah untuk di
orientasikan pada area divisi tersebut. Meintalah perawat yang telah bekerja didivisi
tersebut untuk membimbing anda secara teratur
- Terdapat beberapa komponen berpikir kritis dalam keperawatan yang dapat menjadi
sebuah acuan dalam menghasilkan pemikiran kritis. Komponen berpikir kritis tersebut
antara lain:
1. Relevance
Relevansi (keterkaitan) dari pernyataan yang dikemukakan.
2. Importance
Penting tidaknya isu atau pokok-pokok pikiran yang dikemukakan.
3. Novelty
Kebaruan dari isi pikiran, baik dalam membawa ide-ide atau informasi baru maupun
dalam sikap menerima adanya ide-ide baru orang lain.
4. Outside material
Menggunakan pengalamannya sendiri atau bahan-bahan yang diterimanya dari
perkuliahan (refrence).
5. Ambiguity clarified
Mencari penjelasan atau informasi lebih lanjut jika dirasakan ada ketidakjelasan.
6. Linking ideas
Senantiasa menghubungkan fakta, ide atau pandangan serta mencari data baru dari
informasi yang berhasil dikumpulkan.
7. Justification
Member bukti-bukti, contoh, atau justifikasi terhadap suatu solusi atau kesimpulan

25
yang diambilnya. Termasuk di dalalmnya senantiasa memberi penjelasan mengenai
keuntungan (kelebihan) dan kerugian (kekurangan) dari suatu situasi atau solusi.
8. Critical assessment
Melakukan evaluasi terhadap setiap kontribusi / masukan yang datang dari dalam
dirinya maupun dari orang lain.

9. Practical utility

Ide-ide baru yang dikemukakan selalu dilihat pula dari sudut keperaktisan /
kegunaanya dalam penerapan.
10. Width of understanding
Diskusi yang dilaksanakan senantiasa bersifat meluaskan isi atau materi diskusi.

- Menurut Katoko- Yahiro dan Saylor (1994) kompetensi berpikir kritis adalah suatu
proses kognitif yang digunakan oleh perawat dalam membuat penilaian keperawatan.
Terdapat 3 tipe kompetensi yaitu berpikir kritis yang umum meliputi pengetahuan
tentang metode ilmiah, penyelesaian masalah, dan pembuatan keputusan.
- Didalam melakukan pemikiran kritis diperlukan adanya sintesa atau gabungan
elemen yang dapat memudahkan dalam melakukan hal tersebut. Sintesa ini digunakan
dalam penelitian dan komponen, pemecahan masalah keperawatan, serta menjadi
kriteria yang digunakan pada sikap berpikir kritis.

3.2 Saran

Demikian makalah yang dapat kami selesaikan, jika terdapat kesalahan pada
penulisan kami ingin memohon bimbingan untuk kedepannya.

26
DAFTAR PUSTAKA

Referensi Internet:

Ns. M. Abdul Jabbar, S.Kep. 2014. Berfikir kritis dalam keperawatan.


http://www.ilmukesehatan.online/2014/09/berfikir-kritis-dalam-keperawatan.html. diakses
pada tanggal 3 Maret 2018

Daniel Nathan. 24 Juni 2015. Sikap kritis itu penting.


http://www.kompasiana.com/danielnathanlelouch/sikap-kritis-itu-penting .diakses pada
tanggal 3 Maret 2018

Muhammad Firdaus Aprilio. 20 Juli 2014. Pengertian Peta Konsep.


http://www.jeli.web.id/2014/07/pengertian-peta-konsep.html. Diakses pada tanggal 3 Maret
2018

Referensi Buku:

Patricia A. Potter, Anne G. Perry. 2006. Fundamental of Nursing 9th edition. Jakarta:
Salemba Medika

Potter & Perry.(2006). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, & Praktik. Jakarta: EGC

27