Anda di halaman 1dari 26

HAKIKAT STRATEGI PEMBELAJARAN

Untuk menyelesaikan Tugas Perencanaan dan Strategi Pembelajaran


Matematika yang dibina oleh:
En Efendi, M.Pd

Kelas MATKOM 5B (Kelompok 1):

1. Nurrahmah (201310060311047)
2. Siti Mariyah U. (201310060311050)
3. Silvi Maulidia Sholihah (201310060311066)
4. Rizki Al Akbar (201310060311074)
5. Sheila Zendayani U. (201310060311078)

PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
TAHUN 2015
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, shalawat dan salam
pada junjungan Nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah dengan izin dan petunjuk-Nya
penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah mata kuliah Perencanaan dan
Strategi Pembelajaran Matematika dengan membahas tentang Hakikat Strategi
Pembelajaran.
Penyusunan makalah ini tidak akan berhasil dengan baik jika tidak ada dorongan
dan bantuan dari berbagai pihak. Dengan kesempatan kali ini penyusun akan
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang secara langsung maupun
tidak langsung telah membantu proses pengerjaan laporan sehingga laporan ini dapat
tersusun dengan baik dan tepat waktu. Ucapan terima kasih penulis akan disampaikan
kepada:
1. Bapak En. Effendy, M.Pd selaku Dosen mata kuliah Perencanaan dan Strategi
Pembelajaran Matematika.
2. Ayah dan Ibu tercinta yang tak pernah lelah memberikan motivasi, semangat, kasih
sayang, doa dan pengorbanan yang tak terbatas.
3. Teman-teman yang telah membantu dan mendukung dalam penuntasan laporan.

Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu kami
terbuka untuk kritik dan saran agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata,
semoga penulisan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pembaca.

Wassalammu’alaikum Wr. Wb.

Malang , 23 Sepetmber 2015

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... 2


DAFTAR ISI ...................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 4
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 4
1.3 Tujuan .......................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 6
2.1 Pengertian Strategi Belajar Mengajar (SBM) ......................................... 6
2.2 Perbedaan Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran ......... 7
2.3 Perilaku Strategi Belajar Mengajar ........................................................ 8
2.4 Komponen Strategi Belajar Mengajar .................................................... 10
2.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Strategi Belajar Mengajar .............. 11
2.6 Langkah-langkah Strategi Belajar Mengajar .......................................... 17
2.7 Tugas dan Fungsi Guru ........................................................................ 20
BAB III PENUTUP ................................................................................... 25
3.1 Kesimpulan ................................................................................................. 25
3.2 Saran ........................................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 26

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas manusia
seutuhnya adalah misi pendidikan yang menjadi tanggung jawab professional setiap
guru. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pengetahuan kepada siswa di kelas
tetapi dituntut untuk meningkatkan kemampuan guna mendapatkan dan mengelola
informasi yang sesuai dengan kebutuhan profesinya.
Mengajar bukan lagi usaha untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan
juga usaha menciptakan sistem lingkungan yang membelajarkan subjek didik agar
tujuan pengajaran dapat tercapai secara optimal. Mengajar dalam pemahaman ini
memerlukan suatu strategi belajar mengajar yang sesuai. Mutu pengajaran tergantung
pada pemilihan strategi yang tepat dalam upaya mengembangkan kreativitas dan sikap
inovatif subjek didik. Untuk itu perlu dibina dan dikembangkan kemampuan
professional guru untuk mengelola program pengajaran dengan strategi belajar yang
kaya dengan variasi.

1.2 Rumusana Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan strategi belajar mengajar ?
2. Apa perbedaan pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran ?
3. Bagaimana perilaku strategi belajar mengajar ?
4. Bagaimana hubungan antara komponen strategi belajar mengajar ?
5. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi strategi belajar mengajar ?
6. Bagaimana langkah-langkah strategi belajar mengajar ?
7. Apa saja tugas dan fungsi guru ?

1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengertian strategi belajar mengajar
2. Untuk membedakan pendekatan, strategi, metode, dan teknik
pembelajaran

4
3. Untuk mengidentifikasi perilaku strategi belajar mengajar
4. Untuk mengetahui hubungan antara komponen strategi belajar mengajar
5. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi strategi belajar
mengajar
6. Untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah strategi belajar mengajar
7. Untuk mengetahui tugas dan fungsi guru

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Strategi Belajar Mengajar (SBM)


Startegi belajar-mengajar mempunyai banyak istilah dan pengertian, terutama dari
para ahli. Barikut ini beberapa pendapat ahli mengenai pengertian strategi belajar
mengajar.
Strategi belajar-mengajar, menurut J.R. David dalam Teaching Strategies for
College Class Room (1976) ialah aplan, method, or series of activities designe to
achicves a particular educational goal (P3G, 1980). Menurut pengertian ini strategi
belajar-mengajar meliputi rencana, metode dan perangkat kegiatan yang direncanakan
untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.
Menurut Sudjana, Nana (1989) dalam (https://insaniaku.files.wordpress.com),
starategi belajar mengajar merupakan tindakan guru melaksankan rencana mengajar,
yaitu usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel pengajaran (tujuan, metode,
alat, serta evaluasi) agar dapat mempengaruhi siswa mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
T. Raka Joni, seoarang pakar pendidikan, mengartikan strategi belajar-
mengajar sebagai pola umum perbuatan guru-murid di dalam perwujudan
kegiatan belajar-mengajar. Sementara itu, Joyce dan Weill mengatakan bahwa
strategi belajar-mengajar sebagai model-model mengajar.
Secara umum, strategi belajar mengajar merupakan pola-pola kegiatan yang
dilakukan oleh guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
Strategi belajar mengajar begitu penting dirumuskan guru sebelum melaksanakan
pembelajaran, serta perlu melakukan format ulang bila tidak sesuai dengan kondisi
kelas, situasi kelas, karakteristik siswa yang ditemui dan materi yang akan diajarkan.
Hal ini karena tugas guru membimbing siswa untuk mendapatkan hasil pembelajaran
secara optimal.

6
2.2 Perbedaan Pendekatan, Strategi, Metode, dan Teknik Pembelajaran
Istilah pendekatan, strategi, metode, dan teknik sering kita temukan bahkan
digunakan dalam pembahasan ataupun penyusunan proses pembelajaran di sekolah.
Keempat istilah sering digunakan secara bergantian, walaupun pada dasamya
istilah-istilah tersebut memiliki perbedaan satu sama lain.
Menurut Joni, T. Raka (1991), pendekatan menunjukkan cara umum dalam
memandang permasalahan atau objek kajian. Dalam pembelajaran, pendekatan
yang dipilih akan menjadi pedoman dalam memilih komponen pembelajaran
lainnya, terutama startegi dan metode pembelajaran.
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh
seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran untuk memudahkan
peserta didik menerima dan memahami materi pembelajaran, sehingga tujuan
kompetensi, dan hasil belajar dapat tercapai dengan baik. Dalam strategi
pembelajaran mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang
digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan perkataan lain,
strategi pembelajaran mengandung arti yang lebih luas dari metode dan teknik.
Artinya, metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari
strategi pembelajaran.
Ketepatan dalam memilih stategi sangat memungkinkan keterlaksanaan metode-
metode terpilih untuk mewujudkan sekaligus menciptakan kondisi pembelajaran yang
kondusif dan menyenangkan sehingga peserta didik merasa dipermudah dalam
mewujudkan hasil belajar yang diharapkan. Dengan demikian, strategi merupakan
komponen pembelajaran yang memungkinkan terlaksananya metode-metode terpilih
untuk menyajikan bahan ajar selama kegiatan pembelajaran.
Pervical, Fred & Elington, Henry (1984) menyatakan bahwa metode adalah cara
yang umum untuk menyampaikan pelajaran kepada peserta didik atau mempraktikan
teori yang telah dipelajari dalam rangka mencapai tujuan. Jadi, metode berhubungan
dengan cara yang memungkinkan peserta didik memperoleh kemudahan dalam rangka
mempalajari bahan yang disampaikan oleh guru.
Pemilihan metode oleh guru dalam pembelajaran sangat penting, karena ketepatan
dalam memilih metode sangat berpeluang bagi terciptanya kondisi yang kondusif dan

7
menyenangkan sehingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan
efisien sehingga peserta didik dapat meraih hasil belajar sesuai yang diharapkan.
Dengan demikian, metode merupakan suatu komponen yang sangat menentukkan
terciptanya kondisi selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran.
Dalam konteks kondisi pembelajaran yang menyenangkan itu, Ivon K. Davies
(1981) menegaskan bahwa suatu kegiatan pembelajaran tidak selalu menjamn peserta
didik akan dapat belajar. Hal ini menunjukkan bahwa sebaik apapun seorang guru
dalam merancang atau mendesain suatu program pembelajaran, program tersebut tidak
dapat mewujukan ketercapaian kompetensi yaang diharapkan secara optimal, apabila
tidak didukung oleh pemilihan sekaligus penggunaan metode secara tepat.
Teknik pembelajaran seringkali disamakan artinya dengan metode
pembelajaran. Teknik adalah jalan, alat, atau media yang digunakan oleh guru
untuk mengarahkan kegiatan peserta didik ke arah tujuan yang ingin dicapai
(Gerlach dan Ely, 1980).
Pada dasarnya, metode dan teknik pembelajaran itu berbeda. Metode
pembelajaran lebih bersifat prosedural, yaitu berisi tahapan tertentu, sedangkan
teknik adalah cara yang digunakan, yang bersifat implementatif. Dengan
perkataan lain, metode yang dipilih oleh masing-masing itu adalah sama, tetapi
mereka menggunakan teknik yang berbeda.
Strategi dapat diartikan sebagai rencana kegiatan untuk mencapai sesuatu.
Sedangkan metode ialah cara untuk mencapai sesuatu. Untuk melaksanakan suatu
strategi digunakan seperangkat metode pengajaran tertentu. Dalam pengertian demikian
maka metode pengajaran menjadi salah satu unsur dalam strategi belajar mengajar.
Unsur seperti sumber belajar, kemampuan guru dan siswa, media pendidikan, materi
pengajaran, organisasi adalah: waktu tersedia, kondisi kelas dan lingkungan merupakan
unsur-unsur yang mendukung strategi belajar-mengajar.

2.3 Perilaku Strategi Belajar Mengajar


Hasil kegiatan belajar mengajar tercermin dalam perubahan perilaku (entering
behavior), baik secara material-subtansial, struktural-fungsional, maupun secara
behavior. Persoalannya adalah kepastian bahwa tingkat prestasi yang dicapai siswa itu
apakah benar merupakan hasil kegiatan belajar mengajar yang bersangkutan. Untuk

8
kepastiannya seharusnya guru mengetahui tentang karakteristik perilaku anak didik saat
mereka mau masuk sekolah dan mulai dengan kegiatan belajar mengajar dilangsungkan,
tingkat dan jenis karakteristik perilaku anak didik yang telah dimilikinya ketika mau
mengikuti kegiatan belajar mengajar. Itulah yang dimaksudkan dengan entering
behavior siswa.
Menurut Abin Syamsudin, entering behavior dapat diidentifikasikan dengan cara:
a. Secara tradisional, yaitu guru memberikan sejumlah pertaanyaan kepada peserta
didik mengenai bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.
b. Secara inovatif, yaitu guru memberikan pre-test kepada peserta didik sebelum
memulai program belajar mengajar.
Gambaran tentang entering behavior ini dapat membantu guru dalam hal-hal
sebagai berikut:
a. Mengetahui seberapa jauh kesamaan individual siswa dalam taraf kesiapannya
(readiness), kematangan (maturation), serta tingkat penguasaan (matery)
pengetahuan serta keterampilan dasar.
b. Guru dapat memilih bahan, prosedur, metode, teknik, serta alat bantu belajar
mengajar yang sesuai.
c. Guru dapat mengetahui seberapa jauh dan seberapa banyak perubahan perilaku
peserta didik dengan membandingkan nilai pre-test dengan nilai-nilai hasil pasca-
test.
Ada tiga dimensi dari entering behavior yang perlu diketahui oleh guru:
a. Batas-batas ruang lingkup materi pengetahuan yang telah dimiliki dan dikuasai oleh
siswa.
b. Tingkatan tahapan materi pengetahuan, terutama kawasan pola-pola sambutan atau
kemampuan yang telah dimiliki siswa.
c. Kesiapan dan kematangan fungsi-fungsi psikofisik. Sebelum merencanakan dan
melaksanakan kegiatan mengajar, guru harus dapat menjawab pertanyaan.

Model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu bertujuan
mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan
membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement). Model
ini lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perlilaku yang

9
tidak dapat diamati. Karakteristik model ini adalah penjabaran tugas-tugas yang harus
dipelajari peserta didik lebih efisien dan berurutan.

2.4 Komponen Strategi Belajar Mengajar


Berikut ini merupakan komponen-komponen dalam strategi belajar mengajar,
yaitu :
1. Tujuan pengajaran
Tujuan pengajaran merupakan acuan yang dipertimbangkan untuk memilih
strategi belajar mengajar.
2. Guru
Masing-masing guru berbeda dalam pengalaman, pengetahuan, kemampuan
menyajikan pelajaran, gaya mengajar, pandangan hidup dan wawasan.
Perbedaan ini mengakibatkan adanyaperbedaan dalam pemilihan strategi belajar
mengajar yang digunakan dalam program pengajaran.
3. Peserta didik
Dalam kegiatan belajar mengajar peserta didik mempunyai latarbelakang yang
berbeda-beda, hal ini perlu dipertimbangkan dalam menyusun strategi belajar
mengajar yang tepat
4. Materi pelajaran
Materi pelajaran dapat dibedakan antara materi formal (isi pelajaran dalam buku
teks resmi/buku paket di sekolah) dan materi informal (bahan-bahan pelajaran
yang bersumber dari lingkungan sekolah)
5. Metode pengajaran
Ada berbagai metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam strategi
belajar mengajar
6. Media pengajaran
Keberhasilan program belajar mengajar tidak tergantung dari canggih atau
tidaknya media yang digunakan, tetapi dari ketepatan dan keefektifan media
yang digunakan.
7. Faktor administrasi dan finansial
Terdiri dari jadwal pelajaran, kondisi gedung dan ruang belajar.

10
2.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Strategi Belajar Mengajar
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi starategi belajar mengajara dalam
proses pembelajaran. Faktor-faktor tersebut adalah tujuan, guru, peserta didik, sarana
dan prasarana, kegiatan pembelajaran, lingkungan, bahan dan alat evaluasi, dan suasana
evaluasi. Dengan faktor-faktor yang telah diketahui tersebut tentunya strategi belajar
mengajar dapat ditentukan oleh guru dan siswa agar belajar dapat berjalan secara
optimal. Faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam
kegiatan belajar mengajar. Kepastian dari perjalanan proses belajar mengajar
berpangkal dari jelas tidaknya perumusan tujuan pengajaran. Tercapainya tujuan
sama halnya keberhasilan pengajaran. Sedikit banyaknya perumusan tujuan akan
mempengaruhi kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru, dan secara
langsung guru mempengaruhi kegiatan belajar peserta didik. Guru dengan
sengaja menciptakan lingkungan belajar guna mencapai tujuan. Jika belajar anak
didik dan kegiatan mengajar guru bertentangan, dengan sendirinya tujuan
pengajaran pun gagal untuk dicapai. Maka dari itu perumusan tujuan
pembelajaran harus jelas dan dimengerti oleh guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran tersebut dapat tercapai secara optimal dengan strategi belajar yang
baik.
2. Guru
Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi
suatu strategi pembelajaran. Tanpa guru bagaimanapun bagus dan idealnya suatu
strategi tidak mungkin bisa diaplikasikan. Keberhasilan implementasi suatu
strategi pembelajaran akan tergantung pada kepiawaian guru dalam
menggunakan metode dan tekhnik pembelajaran.Guru dalam proses
pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Guru tidak hanya berperan
sebagai model atau teladan bagi siswa tetapi juga sebagai pengelola
pembelajaran. Dengan demikian efektivitas proses pembelajaran terletak
dipundak guru. Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat
ditentukan oleh kualitas atau kemampuan guru. Guru sangat menentukan bagi

11
keberhasilan anak, mengingat guru adalah pengajar dan pembimbing anak didik
walaupun tujuan akhir tergantung dari anak didik tersebut.
3. Peserta didik
Menurut Dunkin, faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran
dilihat dari aspek siswa meliputi :
a. Latar belakang siswa (pupil formative experience) meliputi jenis kelamin
siswa, tempat kelahiran, tingkat sosial ekonomi, dari keluarga bagaimana
siswa berasal dan lain sebagainya. Kepribadian mereka bermacam-macam
ada yang pendiam, ada yang periang, ada yang suka bicara, ada yang kreatif,
keras kepala, manja dan sebagainya.
b. Sifat yang dimiliki siswa (pupil properties) meliputi kemampuan,
pengetahuan dan sikap. Tidak dapat disangkal bahwa setiap siswa memiliki
kemampuan atau tingkat kecerdasan yang bervariasi. Perbedaan-perbedaan
semacam itu menuntut perlakuan yang berbeda pula baik dalam penempatan
atau pengelompokan siswa maupun dalam perlakuan guru dalam
menyesuaikan gaya belajar. Karena itu perbedaan anak pada aspek biologis,
intelektual dan psikologis tersebut dapat mempengaruhi kegiatan belajar
mengajar.Anak didik atau siswa adalah organisme yang unik yang
berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak
adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi jarak dan
irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu
sama.
4. Sarana dan Prasaran
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap
kelancaran proses pembelajaran misalnya media pembelajaran, alat-alat
pelajaran, perlengkapan sekolah dan lain-lain. Sedangkan prasarana adalah
segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses
pembelajaran misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil
dan lain-lain. Kelengkapan saran dan prasarana akan membantu guru dalam
menyelenggarakan proses pembelajaran dengan demikian sarana dan prasarana
merupakan komponen penting yang dapat mempengaruhi proses

12
pembelajaran.Terdapat beberapa keuntugan bagi sekolah yang memiliki
kelengkapan sarana dan prasana, misalnya
a. Pertama, kelengkapan sarana dan prasarana dapat menumbuhkan gairah dan
motivasi guru mengajar. Mengajar dapat diartikan sebagai proses
penyampaian materi pelajaran dan sebagai proses pengaturan lingkungan
yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Jika mengajar dipandang
sebagai proses penyampaian materi, maka dibutuhkan sarana pembelajaran
berupa alat dan bahan yang dapat menyalurkan pesan secara efektif dan
efisien, sedangkan manakala mengajar dipandang sebagai proses mengatur
lingkungan agar siswa dapat belajar, maka dibutuhkan sarana yang
berkaitan dengan berbagai sumber belajar yang dapat mendorong siswa
untuk belajar.
b. Kedua, kelengkapan saran dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan
pada siswa untuk belajar. Setiap siswa pada dasarnya memiliki gaya belajar
yang berbeda. Siswa yang auditif akan lebih mudah belajar melalui
pendengar, sedangkan tipe siswa yang visual akan lebih mudah belajar
melalui penglihatan.
5. Kegiatan Pembelajaran
Pola umum kegiatan pembelajaran adalah terjadinya interaksi antara guru
dan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya. Guru yang mengajar, anak
didik yang belajar. Maka guru adalah orang yang menciptakan lingkungan
belajar bagi kepentingan belajar anak didik.Strategi penggunaan metode
mengajar amat menentukan kualitas hasil belajar mengajar. Hasil pembelajaran
yang dihasilkan dari penggunaan metode ceramah tidak sama dengan hasil
pembelajaran yang dihasilkan dari penggunaan metode tanya jawab atau metode
diskusi.
6. Lingkungan
Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat
mempengaruhi proses pembelajaran yaitu:
a. Faktor organisasi kelas, yang di dalamnya meliputi jumlah siswa dalam
satu kelas merupakan aspek penting yang bisa mempengaruhi proses
pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif

13
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dalam
satu kelas berkecenderungan :
1. Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah
siswa, sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempint.
2. Kelompok belajar akan kurang mampu memanfaatkan dan
menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya dalam
penggunaan waktu diskusi. Jumlah siswa yang terlalu banyak akan
memakan waktu yang banyak pula, sehingga sumbangan pikiran akan
sulit didapatkan dari setiap siswa.
3. Kepuasan belajar setiap siswa akan kecenderungan menurun. Hal
inidisebabkan kelompok belajar yang terlalu banyak akan mendapatkan
pelayanan yang terbatas dari setiap guru, dengan kata lain perhatian
guru akan semakin terpecah.
4. Perbedaan individu antara anggota akan semakin tampak, sehingga
akan sukar mencapai kesepakatan. Kelompok yang terlalu besar
cenderung akan terpecah ke dalam sub-sub kelompok yang saling
bertentangan.
5. Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan
semakin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju
mempelajari materi pelajaran baru.
6. Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan
semakin banyak siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap
kegiatan kelompok.
b. Faktor iklim sosial – psikologis maksudnya, keharmonisan hubungan
antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim sosial ini
dapat terjadi secara internal dan eksternal.Iklim sosial – psikologis secara
internal adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan
sekolah misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa, antara siswa
dengan guru, antara guru dengan guru bahkan antara guru dengan
pimpinan sekolah.Iklim sosial – psikologis eksternal adalah keharmonisan
hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan
sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-

14
lembaga masyarakat dan sebagainya.Iklim sosial yang banyak
mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua dan keluarga siswa itu
sendiri. Sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga
dan demografi keluarga (letak rumah) semuanya dapat memberi dampak
baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh
siswa.
7. Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di dalam kurikulum
yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan. Biasanya
bahan pelajaran itu sudah dikemas dalam bentuk buku paket untuk dikonsumsi
oleh anak didik. Setiap anak didik dan guru wajib mempunyai buku paket
tersebut guna kepentingan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Bila tiba masa ulangan, semua bahan yang telah diprogramkan dan harus
selesai dalam jangka waktu tertentu dijadikan sebagai bahan untuk pembuatan
item-item soal evaluasi. Gurulah yang membuat dengan perencanaan yang
sistematis dan dengan menggunakan alat evaluasi. Alat-alat evaluasi yang
umumnya digunakan tidak hanya benar-salah (true – false) dan pilihan ganda
(multiple choise) tapi juga menjodohkan (matching), melengkapi (completion)
dan essay.Masing-masing alat evaluasi mempunyai beberapa kelebihan dan
kekurangan. Benar – salah ( B – S) dan pilihan ganda adalah bagian dari tes
objetif. Maksdunya, objektive dalam hal pengoreksian, tapi belum tentu objektif
dalam jawaban yang dilakukan oleh anak-anak didik. Karena sifat alat ini
mengharuskan anak didik memilih jawaban yang sudah disediakan dan tidak ada
alternatif lain diluar dari alternatif itu, maka bila anak didik tidak dapat
menjawabnya, cenderung melakukan tindakan spekulasi pengambilan sikap
untung-untungan ketimbang tidak bisa.
Alat test dalam bentuk essay hanya dapat dijawab bila anak didik betul-
betul menguasai bahan pelajaran dengan baik. Bila tidak, kemungkinan besar
anak didik tidak dapat menjawabnya dengan baik dan benar. Kelemahan alat test
ini adalah dari segi pembuatan item soal tidak semua bahan pelajaran dalam satu
semester dapat tertampung untuk disuguhkan kepada anak didik pada waktu
ulangan. Essay memang alat test yang tidak objektif, karena dalam penilaiannya,

15
kalaupun ada standar penilaian, masih terpengaruh dengan selera guru. Apalagi
bila tulisan anak didik tidak mudah terbaca, kejengkelan hati segera muncul dan
pemberian nilai tanpa pemeriksaanpun dilakukan.
8. Suasana Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas. Semua anak
didik dibagi menurut kelas masing-masing dan tingkatan masing-masing. Besar
kecilnya jumlah anak didik yang dikumpulkan di dalam kelas akan
mempengaruhi suasana kelas. Sekaligus mempengaruhi suasana evaluasi yang
dilaksanakan. Sistem silang adalah tekhnik lain dari kegiatan mengelompokkan
anak didik dalam rangka evaluasi. Sistem ini dimaksudkan untuk mendapatkan
data hasil evaluasi yang benar-benar objektif.
Karena sikap mental anak didik belum semuanya siap untuk berlaku
jujur, maka dihadirkanlah satu atau dua orang pengawas atau guru yang
ditugaskan untuk mengawasinya. Selama pelaksanaan evaluasi, selama itu juga
seorang pengawas mengamati semua sikap, gerak gerik yang dilakukan oleh
anak didik.
Sikap yang merugikan pelaksanaan evaluasi dari seorang pengawas
adalah membiarkan anak didik melakukan hubungan kerja sama diantara anak
didik. Pengawas seolah-olah tidak mau tau apa yang dilakukan oleh anak didik
selama ulangan. Lebih merugikan lagi adalah sikap pengawas yang sengaja
menyuruh anak didik membuka buku atau catatan untuk mengatasi
ketidakberdayaan anak didik dalam menjawab item-item soal. Dengan dalih,
karena koreksinya sistem silang, malu kebodohan anak didik diketahui oleh
sekolah lain.Suasana evaluasi yang demikian tentu saja, disadari atau tidak,
merugikan anak didik untuk bersikap jujur dengan sungguh-sungguh belajar di
rumah dalam mempersiapkan diri menghadapi ulangan. Anak didik merasa
diperlakukan secara tidak adil, mereka tentu kecewa, mereka sedih, mereka
berontak dalam hati, mengapa harus terjadi suasana evaluasi yang kurang enak
dipandang mata. Dimanakah penghargaan pengawas atas jerih payahnya belajar
selama ini. Dampak dikemudian hari dari sikap pengawas yang demikian, adalah
mengakibatkan anak didik kemungkinan besar malas belajar dan kurang
memperhatikan penjelasan ketika belajar mengajar berlangsung. Hal inilah yang

16
seharusnya tidak boleh terjadi pada diri anak didik. Inilah dampak yang
merugikan terhadap kualitas pembelajaran.

2.6 Langkah-langkah Strategi Belajar Mengajar


Langkah – langkah pembelajaran disusun untuk membantu siswa menguasai
kompetensi dasar yang diberikan. Langkah – langkah pembelajaran merupakan hal yang
sangat menentukan dalam keberhasilan siswa menguasai kompetensi dasar. Dengan
kegiatan pembelajaran yang disusun dengan tepat siswa akan lebih mudah menguasai
materi ajar yang diberikan. Dalam merencanakan kegiatan pembelajaran, harus
diperkirakan bagaimana indikator keberhasilan belajar. Namun ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam menyusun langkah - langkah dalam penyusunan strategi
belajar mengajar :
1. Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat.
2. Ketersediaan sumber belajar.
3. Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
4. Memilih dan menetapkan isi dan muatan (bahan ajar)
5. Merencanakan dan memperkirakan kebutuhan waktu yang sesuai.
Secara umum, prosedur atau langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui 3
tahapan yaitu : (1) kegiatan pendahuluan; (2) kegiatan inti; (3) kegiatan akhir dan tindak
lanjut:
a. Pendahuluan
Udin S. Winataputra, dkk. (2003) mengemukakan hal-hal yang dilakukan
dalam kegiatan pendahuluan, yaitu :
1. Menciptakan Kondisi Awal Pembelajaran,meliputi: membina keakraban,
menciptakan kesiapan belajar peserta didik dan menciptakan suasana belajar
yang demokratis.
2. Apersepsi meliputi: kegiatan mengajukan pertanyaan untuk mengaitkan
materi yang akan dibelajarkan dengan materi atau pengetahuan yang telah
dikuasai siswa sebelumnya, memberikan komentar atas jawaban yang
diberikan peserta didik dan membangkitkan motivasi dan perhatian peserta
didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal senada disampaikan oleh
Depdiknas (2003) bahwa dalam kegiatan pendahuluan, perlu dilakukan

17
pemanasan dan apersepsi, di dalamnya mencakup: (1) pelajaran dimulai
dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami peserta didik; (2) motivasi
peserta didik ditumbuhkan dengan bahan ajar yang menarik dan berguna
bagi peserta didik; dan (3) peserta didik didorong agar tertarik untuk
mengetahui hal-hal yang baru.
b. Kegiatan Inti
Kegiatan inti pada dasarnya merupakan kegiatan untuk mencapai tujuan
pembelajaran atau proses untuk pencapaian kompetensi, yang dilakukan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik, degan menggunakan metode yang disesuaikan
dengan karakteristik pesertadidikdan materi pelajaran Udin S. Winataputra, dkk.
(2003) mengemukakan hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan inti, yaitu : (1)
menyampaikan tujuan yang ingin dicapai, baik secara lisan maupun tulisan, (2)
menyampaikan alternatif kegiatan belajar yang akan ditempuh, dan (3)
membahas materi. Depdiknas (2003) mengemukakan tiga bentuk kegiatan ini
yaitu: (1) eksplorasi; (2) konsolidasi pembelajaran, dan (3) pembentukan sikap
dan perilaku.
1. Kegiatan eksplorasi, merupakan usaha memperoleh atau mencari
informasi baru. Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan eksplorasi,
yaitu: (a) memperkenalkan materi/keterampilan baru; (b) mengaitkan
materi dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik; (c)
mencari metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan
penerimaaan peserta didik akan materi baru tersebut.
2. Konsolidasi, merupakan merupakan negosiasi dalam rangka
mencapai pengetahuan baru. Dalam kegiatan konsolidasi
pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah : (a) melibatkan peserta
didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajar
baru; (b) melibatkan peserta didik secara aktif dalam pemecahan
masalah; (c) meletakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu
kaitan antara materi pelajaran yang baru dengan berbagai aspek

18
kegiatan dan kehidupan di dalam lingkungan; dan (d) mencari
metodologi yang paling tepat sehingga materi ajar dapat terproses
menjadi bagian dari pengetahuan peserta didik.
3. Pembentukan sikap dan perilaku merupakan pemrosesan
pengetahuan menjadi nilai, sikap dan perilaku. Yang perlu
diperhatikan dalam pembentukan sikap dan perilaku, adalah :
a. Peserta didik didorong untuk menerapkan konsep atau pengertian
yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
b. Peserta didik membangun sikap dan perilaku baru dalam
kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari.
c. Cari metodologi yang paling tepat agar terjadi perubahan sikap
dan perilaku peserta didik.
c. Kegiatan Akhir dan Tindak Lanjut Pembelajaran
Udin S. Winataputra, dkk. (2003) mengemukakan hal-hal yang dilakukan
dalam kegiatan akhir dan tindak lanjut pembelajaran, yaitu: (a) penilaian akhir;
(b) analisis hasil penilaian akhir; (c) tindak lanjut; (d) mengemukakan topik yang
akan dibahas pada waktu yang akan datang; dan (e) menutup kegiatan
pembelajaran. Mulyasa (2003) mengemukakan dua kegiatan pokok pada akhir
pembelajaran, yaitu : (a) pemberian tugas dan (b) post tes. Sementara itu,
Depdiknas (2003) mengemukakan dalam kegiatan akhir perlu dilakukan
penilaian formatif, dengan memperhatikan hal-hal berikut: (a) kembangkan cara-
cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik; (b) gunakan hasil penilaian
tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah-
masalah yang dihadapi guru; dan (c) cari metodologi yang paling tepat yang
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini disajikan bagan prosedur pembelajaran.

19
2.7 Tugas dan Fungsi Guru
Menurut Roestiyah N.K.,tugas guru adalah sebagai brerikut :
1. Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian, kecakapan dan
pengalaman – pengalaman
2. Membentuk kepribadian anak yang harmonis, sesuai cita- cita dan dasar negara
kita pancasila
3. Menyiapkan anak menjadi warga negara yang baik sesuai Undang- undang
pendidikan yang merupakan keputusan MPR No.II Tahun 1983
4. Sebagai perantara dalam belajar. Didalam proses belajar guru hanya sebagai
perantara/ medium, anak harus berusaha sendiri mendapatkan/ insight timbul
perubahan dalam penegtahuan, tingkah laku dan sikap.
5. Guru adalah pembimbing, untuk membawa anak didik kearah kedewasaan,
pendidik tidak maha kuasa, tidak dapat membentuk anak didik menurut
kehendaknya.
6. Guru adalah pen dihubung antara sekolah dan masyarakat. Anak nantinya kan
hidup dan bekerja, serta mengabdikan diri dalam masyarakat, dengan demikian
anak harus dilatih dan dibiasakan di sekolah terlebih dahulu.
7. Guru sebagai administrator dan menejer Diamping mendidik, seorang guru haru
dapat mengerjakan urusan tata usaha membuat buku kas, daftar induk, rapor,
daftar gaji, dan sebagainya, serta dapat mengkoordinasi segala pekerjaan di

20
sekolah secara demokratis, sehingga suasana pekerjaan penuh dengan rasa
kekeluargaan.
8. Pekerjaan guru sebagai suatu profesi. Orang yang menjadi guru karena terpaksa
tidak dapat bekerja dengan baik, maka harus menyadari benar- benar
pekerjaannya sebagai suatu profesi.
9. Guru sebagai perencana kurikulum. Guru mengahdapi anak- anak setiap hari,
gurulah yang paling tahu kebutuhan anak- anak dan masyarakat sekitar, maka
dalam menyusun kurikulum, kebutuhan ini tidak boleh di tinggalkan.
10. Guru sebagai pemimpin. Guru mempunyai kesempatan dan tanggung jawab
dalam banyak situasi untuk membimbing anak kearah pemecahan soal,
membentuk keputusan, dan menghadapkan anak- anak kepada problem
11. Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak- anak. Guru harus turut aktif dalam
segala aktifitas anak,misalnya dalm ekstrakurikuler membentuk kelompok
belajar dan sebagainya.

Fungsi guru sebagai pendidik atau siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi
guru, yaitu
a. Korektor
Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana
nilai yang buruk. Nilai yang berbeda ini harus betul- betul dipahami dalam
kehidupan masyarakat.
b. Informator
Sebagai informotory, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan
ilmu penegtahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap
mata pelajaranyang telah diprogramkan dalam kurikilum.
c. Motivator
d. Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah
dan aktif belajar.
e. Inisiator
Dalam fungsinya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide- ide
kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.
f. Pembimbing

21
Peran guru yang tidak kalah penting dari semua peran yang telah disebutkan
diatas, adalag sebagai pembimbing. Peranan ini harus lebih dipentingkan, karena
kehadiran guru disekolah adalah untuk membimbing anak didik menjadi
manusia dewasa susila yang cakap
g. Supervisor
Sebagai supervior, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai
secara kritis terhadap proses pengajaran.

Tugas Dan Fungsi Guru Menurut Undang- Undang


Dalam Undang – Undang Sisdiknas Bab XI pasal 39, 40 dan 42 dinyatakan
bahwa tugas guru adalah merencanakan dan melaksanaakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, menciptakan suasana pendidikan yang
bermakna, menyenangkan, kreatif, dimanamis, dan dialogis, mempunyai komitmen
secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan, dan memberi teladan dan
menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang
diberukan kepadanya, memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan
jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 Tentang Guru, bahwa guru memiliki tugas
sebagai berikut:
a. Memiliki akademik yang berlaku.
b. Memiliki kompetensi pedagogik, yaitu yang meliputi :
 Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
 Pemahaman terhadap peserta didik
 Pengembangan kurikulum atau silabus
 Perancangan pembelajaran
 Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
 Pemanfaatan teknologi pembelajaran
 Evaluasi hasil belajar dan

22
 Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya
c. Memiliki kompetensi kepribadian, yang meliputi :
 Beriaman dan bertakwa
 Berahlak mulia, arif dan bijaksana
 Demokratis, mantap
 Berwibawa, stabil;
 Dewasa, jujur , sportif
 Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat
 Secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan
 Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

d. Memiliki kompetensi sosial, yang meliputi :


 Berkomunikasi lisan, tulis, dan / atau isyarat secara santun
 Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
 Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga
kependidikan pemimpin satuan pendidikan, orang tua wali peserta didik.
 Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan
norma serta sistem nilai yang berlaku, dan
 Menerapkan prinsip persaudaraan sejai dan semangat kebersamaan.
e. Memiliki kompentensi profesional, yang meliputi :
 Mampu menguasai materi secara luas dan mendalam sesuai dengan
standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan / atau
kelompok mata pelajaran yang akan diampu; dan
 Mampu menguasai konsep dan metode disiplin keilmuan,teknologi,atau
seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan
program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan / kelompok mata
pelajaran yang akan dilampaui
f. Memiliki sertifikat pendidik
g. Sehat jasmani dan rohani
h. Melaporkan pelanggaran terhadap peraturan satuan pendidikan yang dulakukan
oleh peserta didik kepada pemimpin satuan pendidikan.

23
i. Mentaati peraturan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan, penyelenggara
pendidikan, pemerintah daerah, dan pemerintah.
j. Melaksanakan pembelajaran yang mencangkup kegiatan pokok:
 Merencanakan pembelajaran
 Melaksanakan pembelajaran
 Menilai hasil pembelajaran
 Membimbing dan melatih peserta didik ; dan
 Melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan
pokok.

24
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Strategi belajar mengajar perlu dirancang dan diterapkan guru ketika akan
dan saat melaksanakan pembelajaran. Dengan strategi pembelajaran yang baik,
tentunya akan dapat dihasilkan hasil pembelajaran yang maksimal. Oleh karena
itu, sebagai calon pendidik maka kita harus mampu memilih dan menerapkan
strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mampu
mencapai kesuksesan dalam proses belajar mengajar.

3.2 Saran
Seorang guru sebaiknya mampu menguasai dan menerapkan strategi belajar
mengajar berdasarkan situasi dan waktu tertentu dalam pembelajaran di kelas.
Supaya peserta didik lebih mudah memahami materi yang disampaikan, sehingga
tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

25
DAFTAR PUSTAKA

Barlian, Ikbal. 2013. Begitu Pentingkah Strategi Belajar Mengajar Bagi Guru ?. Jurnal
Pendidikan (online). (http://eprints.unsri.ac.id , diunduh pada 27 September 2015)

Djamarah, S. B & Zain, A. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta

Nurlaela, Siti. 2015. Konsep Strategi Belajar Mengajar. Makalah (online).


(https://lightatthenight.blogspot.ca , di unduh pada 28 September 2015)

Rianto, Milan. 2006. Pendekatan, Startegi, dan Metode Pembelajaran. Bahan Ajar
diklat (online). (https://ayahalby.files.wordpress.com, di unduh pada 27
September 2015)

Sunhaji. 2009. Strategi Pembelajaran Sunhaji. Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan


(online). (https://insaniaku.files.wordpress.com, diunduh pada 27 September
2015)

http://nurma.staff.uns.ac.id/wp-content/blogs.dir/25/files/2008/11/sbm.pdf (diunduh
pada 27 September 2015)

https://newsatria156.wordpress.com/2012/09/06/makalah-faktor-faktor-yang-
mempengaruhi-strategi-belajar-mengajar/ (di unduh pada tanggal 28 september
pukul 08:00)

http://www.situsbahasa.info/2011/05/perencanaan-pemebelajaran .html (di unduh pada


tanggal 28 september pukul 08:00)

http://www.academia.edu/8944202/Penyusunan_Langkah-Langkah_Pembelajaran (di
unduh pada tanggal 28 september pukul 08:00)

26