Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Analisis farmasi merupakan salah satu ilmu yang dipelajari didalam dunia farmasi, ilmu
ini mempelajari tentang bagaimana cara kita mengetahui adanya kandungan dan jumlah
kandungan suatu zat dalam suatu sampel. Salah satu metode di analisis farmasi adalah metode
spektrofotometri.Spektrofotometri adalah sebuah metode analisis untuk mengukur konsentrasi
suatu senyawa berdasarkan kemampuan senyawa tersebut mengabsorpsi berkas sinar atau
cahaya. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu,
sementara fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisiskan atau
diabsorpsi.Prinsip kerja spektrofotometer adalah menggunakan instrumen obat atau molekul
dengan radiasi elektromagnetik yang energinya sesuai.

Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan
zat yang lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis
reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa, titrasi redox untuk titrasi yang
melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatkan
pembentukan reaksi kompleks dan lain sebagainya.

Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai titik ekuivalen. Untuk
memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir titrasi dipilih sedikit mungkin dengan titik
ekuivalen, hal ini dapat dilakukan dengan memilih indicator yang tepat dan sesuai dengan titrasi
yang akan dilakukan

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan metode titrimetri ?
2. Apa yang dimaksud dengan metode nitrimetri?
3. Apa yang dimaksud dengan metode iodometri ?
4. Bagaimana cara penetapan sulfametokzasol secara nitrimetri?

1
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari nitrimetri
2. Untuk mengetahui pengertian dari titrasi bebas air
3. Untuk mengetahui pengertian dari iodometri
4. Untuk mengetahui penetapan sulfametokzasol secara nitrimetri

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. NITRIMETRI

Metode nitrimetri adalah metode penetapan kadar secara kuantitatif dengan


menggunakan larutan baku natrium nitrit. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi yakni
reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam membentuk garam
diazonium. Karena asam nitrit tidak stabil, maka diganti dengan natrium nitrit yang merupakan
garam dari asam nitrit , sedangkan untuk membuat suasana asam digunakan asam klorida.
NaNO2 + HCL à HNO2 + NaCL
Dengan persyaratan tertentu, reaksi diatas bersifat kuantitatif sehingga dapat digunakan
sebagai dasar penetapan kadar senyawa-senyawa yang mempunyai gugus amina aromatis primer
bebas atau senyawa-senyawa yang dapat menghasilkan gugus tersebut. Persyaratan tersebut
antara lain: suhu yang digunakan harus rendah (dibawah 15º C), sebab pada suhu yang lebih
tinggi garam diazonium yang terbentuk tidak stabil dan akan terhidrolisis menjadi fenol dan gas
nitrogen, disamping itu dikhawatirkan pada suhu yang lebih tinggi asam nitrit akan lebih cepat
terurai sehingga reaksinya tidak stokiometri. Meskipun demikian, titrasi dapat dilakukan pada
suhu kamar (sekitar 25º C) dan hasilnya tidak berbeda jika dibandingkan pada suhu yang lebih
rendah (15º C) asalkan titrasi dilakukan secara perlahan-lahan. Hal ini mungkin disebabkan
terhidrolisanya garam diazonium yang terjadi pada suhu yang lebih tinggi (suhu kamar) justru
mengakibatkan reaksi diazotasi berlangsung lebih cepat.
Reaksi diazotasi merupakan reaksi bimolekuler, dimana reaksi ini pada umumnya
berjalan lambat dibanding reaksi ionik. Oleh sebab itu, titrasi harus dilakukan secara pelan-pelan
(sekitar 4 sampai 8 ml tiap menit) terutama menjelang titik akhir titrasi. Titrasi diazotasi dapat
digunakan untuk :
a. Penetapan kadar senyawa-senyawa yang mempunyai gugus amin aromatis primer
bebas seperti sulfanilamid.
b. Penetapan kadar senyawa-senyawa yang mana gugus amin aromatic terikat
dengan gugus lain seperti suksinil sulfatiazol, ftalil sulfatiazol dan parasetamol.
c. Pada penetapan kadar senyawa yang mempunyai gugus aromatic yang terikat
dengan gugus lain seperti suksinil sulfatiazol harus dihidrolisis lebih dahulu

3
sehingga diperoleh gugus amin aromatis bebas untuk selanjutnya bereaksi dengan
natrium nitrit dalam suasana asam membentuk garam diazonium. Reaksi yang
terjadi pada analisis suksinil sulfatiazol.
d. Senyawa-senyawa yang mempunyai gugus nitro aromatis seperti kloramfenikol.
Senyawa-senyawa nitro aromatis dapat ditetapkan kadarnya secara nitrimetri
setelah direduksi terlebih dahulu untuk menghasilkan senyawa amin aromatis
primer. Kloramfenikol yang mempunyai gugus nitro aromatis direduksi terlebih
dahulu dengan Zn atau HCI untuk menghasilkan senyawa amin aromatis primer
yang bebas yang selanjutnya bereaksi dengan asam nitrit untuk membentuk
garam diazonium.
Reaksi ini dikenal dengan reaksi diazotasi, dengan persamaan yang berlangsung dalam
dua tahap seperti dibawah ini :
NaNO2 + HCl → NaCl + HONO
Ar- NH2+ HONO + HCl → Ar-N2Cl + H2O
Reaksi diazotasi dapat dipercepat dengan menambahkan kalium bromida. Titik ekivalensi
atau titik akhir titrasi ditunjukan oleh perubahan warna dari pasta kanji iodide atau kertas iodida
sebagai indikator luar. Kelebihan asam nitrit terjadi karena senyawa fenil sudah bereaksi
seluruhnya, kelebihan ini dapat berekasi dengan yodida yang ada dalam pasta kanji atas kertas,
reaksi ini akan mengubah yodida menjadi iodine diikuti dengan perubahan warna menjadi biru.
Kejadian ini dapat ditunjukkan setelah larutan didiamkan selama beberapamenit. Reaksi
perubahan warna yang dijadikan indikator dalam titrasi ini adalah :
KI +HCl → KCl + HI
2 HI + 2 HONO → I2 + 2 NO + H2O
I2 + Kanji yod (biru)
Menurut FI IV, senyawa-senyawa yang dapat ditentukan kadarnya dengan metode
nitrimetri diantaranya adalah benzokain, primakuin fosfat dan sediaan tabletnya, prokain HCl,
sulfasetamid, sulsfasetamid natrium, sulfametazin, sulfadoksin, sulfametaksol, tetrakin, tetrakin
HCl. Penetapan kadar senyawa ini dilakukan untuk mengetahui kemurnian zat tersebut dalam
suatu sample.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam nitrimetri :
a. Suhu

4
Pada saat melakukan titrasi, suhu harus antara 5-150C. walaupun sebenarnya
pembentukan garam diazonium berlangsung pada suhu yang lebih rendah yaitu 0-50C.
pada temperature 5-150C digunakan KBr sebagai stabilisator. Titrasi tidak dapat
dilakukan dalam suhu tinggi karena :
· HNO2 yang terbentuk akan menguap pada suhu tinggi.
· Garam diazonium yang terbentuk akan terurai menjadi fenol.
b. Keasaman
Titrasi ini berlangsung pada pH + 2, hal ini dibutuhkan untuk:
1. Mengubah NaNO2 menjadi HNO2-
2. Pembentukan garam diazonium.
c. Kecepatan reaksi
Reaksi diazotasi berlangsung lambat sekali, sehingga agar reaksi sempurna maka titrasi
harus dilakukan perlahan-lahan dan dengan pengocokan yang kuat. Frekuensi tetesan
pada awal titrasi kira-kira 1 ml/menit, lalu menjelang titik-titik akhir menjadi 2
tetes/menit.
Prinsip Titrasi Nitrimetri
a. Pembentukan garam diazonium dari gugus amin aromatic primer (amin aromatic
sekuder dan gugus nitro aromatic)
b. Pembentukan senyawa nitrosamine dari amin alifatik sekunder
c. Pembentukan senyawa azidari gugus hidrazida dan
d. Pemasukan gugus nitro yang jarang terjadi karena sulitnya nitrasi
dengan menggunakan asam nitrit dalam suasana asam.
Contoh zat yang memiliki gugu amin aromatic primer misalnya benzokain, sulfa yang
mempunyai gugus amin alifatis misalnya Na siklamat; yang memiliki gugus hidrazida
misalnya INH yang memiliki gugu amin aromatis sekunder adalah parasetamol,
fenasetin, dan yang memiliki gugus nitroaromatik adalah kloramfenikol.
Indikator Nitrimetri
Untuk menentukan titik akhir titrasi nitrimetri dapat digunakan 2 indikator yaitu:
a. Indikator dalam
Yaitu indikator yang digunakan dengan cara memasukkan indikator tersebut ke dalam
larutan yang akan dititrasi, contohnya tropeolin 00 dan metilen blue (5 : 3)

5
b. Indikator luar
Sulfanilat ke dalam Erlenmeyer usahakan terlokalisasi pada satu titik, agar tidak
diperlukan banyak ammonia untuk melarutkan. Setelah asam sulfanilat larut, larutan
kemudian diasamkan dengan HCI 25% sampai pH 2, karena asam nitrit terbentuk pada
suasana asam. Kemudian tambahkan KBr, yang pada titrasi nitrimetri diperlukan sebagai
· Katalisator, yaitu untuk mempercepat reaksi karena KBr dapat mengikat
NO2 membentuk nitrosobromid, yang akan meniadakan teaksi tautomerasi dari bentuk
keto dan langsung membentukfenol.
· Stabilisator, yaitu untuk mengikat NO2 agar asam nitrit tidak terurai atau menguap
Penetapan titik akhir dapat juga ditunjukkan dengan campuran tropiolin dan metilen blue
sebagai indikator dalam larutan. Titik akhir titrasi juga dapat ditentukan dengan teknik
potensiometri menggunakan platina sebagai indikator elektroda dan saturated calomel
elektroda sebagai elektroda acuan. Pada berbagai macam indikator yang digunakan dalam
titrasi nitrimetri ini, maka dapat dikatakan bahwa setiap indikator tersebut memiliki
keuntungan dan kerugian . salah satunya adalah indikator luar, dimana keuntungan dari
indikator ini adalah terjadinya perubahan warna yang jelas, sedangkan kerugiannya
adalah :
a. Pelaksanaan tidak praktis karena kita harus menggoreskan setiap kali penambahan
titran.
b. Larutan harus didinginkan.
c. Memerlukan reaksi orientasi untuk memperkirakan titik akhir titrasi.
2. TITRASI BEBAS AIR
Titrasi bebas air (TBA) merupakan prosedur titrimetri yang paling umum yang digunakan
untuk uji – uji dalam Farmakope.
Prosedur yang paling umum digunakan untuk titrasi basa-basa organik adalah dengan
menggunakan titran asam perklorat dalam asam asetat.

 Prinsip

6
Air dapat bersifat asam lemah atau basa lemah. Oleh karena itu, dalam lingkungan
air, air dapat berkompetisi dengan asam-asam atau basa-basa yang sangat lemah
dalam hal menerima atau memberi proton.
 Sebagai indikator dapat digunakan : oraset biru, kuinaldin merah, dan Kristal
violet.
 Kelebihan
(i) metode ini cocok untuk titrasi asam-asam atau basa-basa yang sangat lemah,
dan
(ii) pelarut yang digunakan adalah pelarut organik yang juga mampu melarutkan
analit-analit organik.
 Kelemahan
- Segala hal yang berhubungan dengan proses titrasi ini harus bebas dari air.
- Alat-alat yang digunakan tidak dapat boleh dibasahi dengan air namun
dengan pelarut yang mudah menguap seperti etanol,aseton,dll. Sehingga
proses titrasi ini membutuhkan biaya yang mahal.
 Contoh
Indicator : Kristal violet
Titran : HClO4 perubahan warna dari violet menjadi biru hijau
Untuk tahu TAT : indicator + satu tetes pelarut ( asam asetat glasial) → violet +
satu tetes HClO4 berubah menjadi biru hijau.

3. PENGERTIAN IODOMETRI

Iodometri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif volumetri secara oksidimetri dan
reduksimetri melalui proses titrasi (W Haryadi, 1990). Titrasi oksidimetri adalah titrasi terhadap
larutan zat pereduksi (reduktor) dengan larutan standar zat pengoksidasi (oksidator).

Titrasi reduksimetri adalah titrasi terhadap larutan zat pengoksidasi (oksidator) dengan
larutan standar zat pereduksi (reduktor). Oksidasi adalah suatu proses pelepasan satu elektron
atau lebih atau bertambahnya bilangan oksidasi suatu unsur. Reduksi adalah suatu proses
penangkapan sau elektron atau lebih atau berkurangnya bilangan oksidasi dari suatu unsur.

7
Reaksi oksidasi dan reduksi berlangsung serentak, dalam reaksi ini oksidator akan
direduksi dan reduktor akan dioksidasi sehingga terjadilah suatu reaksi sempurna. Pada titrasi
iodometri secara tidak langsung, natrium tiosulfat digunakan sebagai titran dengan indikator
larutan amilum. Natrium tiosulfat akan bereaksi dengan larutan iodin yang dihasilkan oleh reaksi
antara analit dengan larutan KI berlebih. Sebaiknya indikator amilum ditambahkan pada saat
titrasi mendekati titik ekivalen karena amilum dapat memebentuk kompleks yang stabil dengan
iodin.

INDIKATOR
Warna dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga iodin dapat bertindak
sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu atau violet yang intens
untuk zat-zat pelarut seperti karbon tetraklorida dan kloroform dan terkadang kondisi ini
dipergunakan dalam mendeteksi titik akhir dari titrasi-titrasi. Namun, pada percobaan iodimetri
kali ini kita menggunakan larutan kanji sebagai indikator. Kanji bereaksi dengan iod, dengan
adanya iodida membentuk suatu kompleks yang berwarna biru kuat, yang akan terlihat pada
konsentrasikonsentrasi iod yang sangat rendah. Kepekaan reaksi warna ini adalah sedemikian
rupa sehingga warna biru akan terlihat bila konsentrasi iod adalah 2 x 10-5 M dan konsentrasi
iodida lebih besar daripada 4 x 10-4 M pada 20oC.
Kepekaan warna berkurang dengan naiknya temperatur larutan. Kanji tidak dapat
digunakan dalam medium yang sangat asam karena akan terjadi hidrolisis pada kanji itu sendiri.
Keunggulan pada pemakaian kanji ini yaitu bahwa harganya murah, namun terdapat kelemahan-
kelemahan yaitu sebagai berikut : (i) bersifat tidak dapat larut dalam air dingin; (ii) ketidak
stabilan suspensinya dalam air; (iii) dengan iod memberi suatu kompleks yang tak dapat larut
dalam air, sehingga kanji tidak boleh ditambahkan terlalu dini dalam titrasi (karena itu, dalam
titrasi iod larutan kanji hendaknya tak ditambahkan sampai tepat sebelum titik akhir, ketika
warna mulai memudar).

8
PEMBAHASAN KELOMPOK
1. Nitrimetri
Metode nitrimetri adalah metode penetapan kadar secara kuantitatif dengan
menggunakan larutan baku natrium nitrit. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi
yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam
membentuk garam diazonium.
 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam nitrimetri :
1. Suhu
2. Keasaman
3. Kecepatan reaksi
 Prinsip Titrasi Nitrimetri
a. Pembentukan garam diazonium dari gugus amin aromatic primer
(amin aromatic sekuder dan gugus nitro aromatic)
b. Pembentukan senyawa nitrosamine dari amin alifatik sekunder
c. Pembentukan senyawa azidari gugus hidrazida dan
d. Pemasukan gugus nitro yang jarang terjadi karena sulitnya nitrasi
dengan menggunakan asam nitrit dalam suasana asam.
 Indikator Nitrimetri
1. Indikator luar
2. Indikator dalam
2. Titrasi bebas air
Titrasi bebas air (TBA) merupakan prosedur titrimetri yang paling umum yang
digunakan untuk uji – uji dalam Farmakope.
 Prinsip
Air dapat bersifat asam lemah atau basa lemah. Oleh karena itu, dalam lingkungan
air, air dapat berkompetisi dengan asam-asam atau basa-basa yang sangat lemah
dalam hal menerima atau memberi proton.
 Kelebihan
(i) metode ini cocok untuk titrasi asam-asam atau basa-basa yang sangat lemah,
dan

9
 Kelemahan
- Segala hal yang berhubungan dengan proses titrasi ini harus bebas dari air.

3. Pengertian iodometri
Iodometri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif volumetri secara
oksidimetri dan reduksimetri melalui proses titrasi (W Haryadi, 1990). Titrasi
oksidimetri adalah titrasi terhadap larutan zat pereduksi (reduktor) dengan larutan
standar zat pengoksidasi (oksidator).

10
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
 Nitrimetri
Metode nitrimetri adalah metode penetapan kadar secara kuantitatif dengan
menggunakan larutan baku natrium nitrit.

 Titrasi bebas air


Titrasi bebas air (TBA) merupakan prosedur titrimetri yang paling umum yang digunakan
untuk uji – uji dalam Farmakope.
Prosedur yang paling umum digunakan untuk titrasi basa-basa organik adalah dengan
menggunakan titran asam perklorat dalam asam asetat.
 Pengertian iodometri
Iodometri merupakan salah satu metode analisis kuantitatif volumetri secara oksidimetri
dan reduksimetri melalui proses titrasi (W Haryadi, 1990).

11
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Drs. Sudjadi, Apt., MS., phd. Dkk. Analisis farmasi. Yogyakarta, 2012 november.

Christian, Gary D.(1980). Analytical Chemistry. Toronto: John Wiley & Sons David Harvey,
(2000).Modern Analytical Chemistry. Toronto: John Wiley & Sons Day, Underwood, (1999).
Kimia Analisis Kuantitatif. Jakarta: Erlangga J. Bassett. (1978). Vogel’s Textbook of
Quantitative Inorganic Analysis. Great Britain : Longman Group. John Kenkel, (2003).
Analytical Chemistry for Technicians. Washington, Lewis Publishers Rubinson, Judith F &
Rubinson, Kenneth A, (1998). Contemporary in Analytical Chemistry. Toronto: John Wiley &
Sons Suyanta, Regina Tutik, dan Sunarto, (2003). Petunjuk Praktikum Kimia Analisis I,
Yogyakarta: FMIPA UNY W. Haryadi, (1990). Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia

12