Anda di halaman 1dari 20

BAB I

( PENDAHULUAN )

A. LATAR BELAKANG

Seiring perkembangan zaman, telah banyak bermunculan lembaga- lembaga


keuangan, baik itu lembaga konvensional maupun lembaga keuangan yang berprinsip
syariah. Hanya saja dalam lembaga keuangan konvensional umumnya memakai
system bunga dalam mencari profit, hal ini bertentangan dengan prinsip syariah yang
lebih mengutamakan prinsip tolong menolong, serta mencari keridhoan Allah SWT.
Dalam bank syariah ataupun lembaga keuangan syariah sendiri, banyak hal-
hal yang perlu dikaji. Beberapa diantaranya adalah mengenai akad-akadnya, system
akadnya, mekanisme pembagian hasil, dan mekanisme pembiayaan dalam bank
syariah ataupun lembaga keuangan syariah.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa itu bagi hasil..?


2. Bagaimanakah system bagi hasil..?
3. Bagaimanakah perhitungan bagi hasil simpanan..?
4. Apa saja pembiayaan yang ada dalam lembaga keuangan mikro syariah..?
5. Bagaimana mekanisme pembiayaan yang ada dalam lembaga keuangan mikro
syariah..?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui Apakah yang di maksud bagi hasil.


2. Untuk mengetahui Bagaimanakah system bagi hasil
3. Untuk mengetahui Bagaimanakah perhitungan bagi hasil simpanan
4. Untuk mengetahui Apa saja pembiayaan yang ada dalam LKMS.
5. Untuk mengetahui mekanisme pembiayaan yang ada dalam LKMS.

1
BAB II
( PEMBAHASAN )

A. Bagi Hasil.

Bagi hasil adalah pendapatan utama pada kegiatan syariah, karena pada
dasarnya semua kegiatan syariah harus mempunyai manfaat yang adil antara
semua yang terlibat dalam kegiatan usaha yang mempergunakan prinsip
syariah.

Fatwa DSN-MUI No. l5/DSN-MUl/lX/2000 Tentang Prinsip Distribusi Hasil


Usaha dalam Lembaga Keuangan Syariah

Ketentuan umum:

1. Pada dasarnya, LKS boleh menggunakan prinsip Bagi Hasil (Net Revenue
Sharing) maupun Bagi Untung (Profit Sharing) dalam Pembagian hasil usaha
dengan mitra (nasabahnya).

2. Dilihat dari segi kemaslahatan (al-ashlah), saat ini pambagian hasil usaha
sebaiknya digunakan prinsip Bagi Hasil (Net Revenue Sharing).

3. Penetapan prinsip pembagian hasil usaha yang dipilih harus disepakati


dalam akad.

Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi
perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan
melalui Badan Arbitrasi Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui
musyawarah. 1

1 Djoko Muljono, BUKU PINTAR AKUNTANSI PERBANKAN DAN LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH, (Yogyakarta :
Andi : 2015) hlm.108

2
Fatwa DSN No: 14/DSN-MUI/lX/2000 Tentang Sistem Distribusi Hasil
Usaha dalam Lembaga Keuangan Syariah

Pada prinsipnya, LKS boleh menggunakan sistem Accrual Basis maupun


Cash Basis dalam administrasi keuangan. Dilihat dari segi kemaslahatan (al-
ashlah), dalam pencatatan sebaiknya digunakan sistem Accrual Basis. akan
tetapi dalam distribusi hasil usaha hendaknya ditentukan atas dasar
penerimaan yang benar-benar terjadi (Cash Basis). Penetapan sistem yang
dipilih harus disepakati dalam akad.

B. MEKANISME PERHITUNGAN BAGI HASIL DAPAT DI DASARKAN


PADA DUA CARA :

a. Profit sharing ( bagi laba )

Perhitungan bagi hasil yang mendasarkan pada laba, yaitu pendapatan usaha
dikurangi beban usaha. Misal, pendapatan usaha Rp 1.000 dan beban usaha Rp
700 maka laba yang akan dibagi adalah Rp 300(Rp1.000-Rp700) Dalam hal
ini semua pihak yang terlibat dalam akad akan mendapat bagi hasil sesuai
dengan laba yang diperoleh bahkan tidak mendapatkan laba apabila pengelola
laba mengalami kerugian, Disini unsur keadilan dalam berusaha betul-batul
diterapkan, bila laba besar maka pemiiik juga mendapatkan bagian besar dan
sabaliknya.2

b. Revenue sharing ( bagi pendapatan ) .

Perhitungan bagi hasil yang mendasarkan pada pendapatan usaha tanpa


dikurangi beban usaha .
misal pendapatan usaha Rp 1 000 dan beban usaha Rp 700 . maka dasar untuk
menentukan bagi hasil adalah pendapatan yang Rp 1.000 tanpa harus

2 Muhammad Sholahuddin, LEMBAGA KEUANGAN DAN EKONOMI ISLAM ( Yogyakarta: Penerbit Ombak :2014 )
hlm.105

3
dikurangi beban. Sepanjang pengelola memperoleh revenue maka pemilik
dana mendapat bagi hasilnya ( tanpa memperhatikan beban usaha) pengelola
dana harus menjalankan usaha dengan prinsip prudent atau usaha penuh
kehati-hatian sahigga resiko kerugian dapat ditekan sekecil mungkin.

Terdapat tiga konsep yang ada dalam perhitungan bagi hasil menurut tim
Pengembang Perbankan Syariah, Institut Bankir Indonesia, dalam laman
nonkshe, yaitu:

1. Adanya pemilik dana, dimana pemilik dana menginvestasikan dana yang


dimilikinya pada lembaga keuangan syariah yang bertindak sebagai pengelola.

2. Lembaga keuangan syariah akan mengelola dana tersebut pada usaha yang
layak dan menguntungkan yang sesuai dengan syariah islam

3. Adanya penandatanganan akad yang menentukan lingkup bersama, besar


nominal, dan nisbah, serta jangka waktunya.

Pendapatan yang akan Dibagihasilkan

Pendapatan bagi hasil yang diperoleh bank berasal dari hasil


penempatan dana pihak ke tiga melalui pembiayaan yang berakad jual beli,
maupun syirkah, atau jasa. Hasil dari pendapatan tersebut dibagihasilkan
kepada nasabah pemilik dana ( deposan ). Namun perlu diperhatikan bahwa
untuk menghasilkan pendapatan tersebut harus dilihat perbandingan antara
jumlah dana yang dikelola, modal sendiri, giro, tabungan, deposito, dan
lainnya dengan jumlah pembiayaan yang di salurkan.3

3 Muhammad Sholahuddin, LEMBAGA KEUANGAN DAN EKONOMI ISLAM ( Yogyakarta: Penerbit Ombak :2014 )
hlm.106

4
C. PERHITUNGAN BAGI HASIL.

Dalam bukunya, Muhammad memberikan contoh sederhana


perhitungan bagi hasil. Contoh tersebut seperti dibawah ini :

Kasus :

Bapak A memiliki deposito Rp. 10 juta, jangka waktu satu bulan ( 1 Desember
2009 s/d 1Januari 2010 ), nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank 57% :
43%. Jika keuntungan bank yang diperoleh untuk deposito satu bulan per 31
Desember 2009 adalah Rp. 20 juta dan rata-rata deposito jangka waktu 1 bulan
adalah Rp. 950 juta, berapa keuntungan yang diperoleh bapak A..?

Jawab .

Keuntungan yang diperoleh bapak A adalah :

( Rp. 10 juta/ Rp. 950 juta) x Rp. 20 juta x 57% = Rp. 120.000
dengan melihat penjelasan diatas, yaitu tentang proses perhitungan bagi hasil
dan contohnya, maka perhitungan bagi hasil dapat dirumuskan sebagai berikut :

Bagi hasil = keuntungan x nisbah x saldo rata-rata dana bank


Saldo rata- rata tabungan harian

Catatan
Besar kecilnya bagi hasil yang diperoleh deposan bergantung pada :
a. Pendapatan bank
b. Nisbah bagi hasil antara nasabah dan bank
c. Nominal deposito nasabah
d. Rata- rata saldo deposito untuk jangka waktu yang ada pada bank.
e. Jangka waktu deposito karena berpengaruh pada lamanya investasi.
5
Contoh Perhitungan Bagi Hasil di Bank Syariah.

Dimisalkan Fulan membuka rekening tabungan iB pada tanggal 1


Maret 2014, selama satu bulan, dimana saldo Fulan yang terdapat di dalam
rekenin bank tersebut sebesar Rp 50.000.000. Besar nisbah bagi hasil yang
diberikan pihak bank atas produk tabungan tersebut sebesar 10%.
Diumpakanan, diketahui pendapatan bank pada bulan maret 2014 sebesar Rp
350.000.000, dan saldo rata-rata dana pihak ketiga (DPK) tabungan iB
sebesarRp 1.000.000.000. Sehingga bagi hasil yang di dapat adalah:

Diketahui: Saldo rata-rata : Rp. 50.000.000


Saldo DPK : Rp. 1.000.000.000
Pendapatan Bank : Rp 350.000.000
Nisbah : 10%
Jumlah Hari di Bulan Maret : 31 hari

Bagi Hasil = Saldo rata- rata x nisbah x pendapatan bank bulan A


Saldo rata- rata DPAK jumlah hari bulan A

Bagi Hasil = Rp. 50.000.000. x 10% x Rp 350.000.000


Rp. 1.000.000.000 31

= Rp. 56. 451.612903

Berdasarkan perhitungan diatas, besar bagi hasil yang di dapat oleh pak Fulan
selama satu bulan dengan besar dana Rp 50.000.000 adalah sebesar
Rp 56.541,612903.

6
D. PEMBIAYAAN

1. MUDHARABAH

A. PENGERTIAN AKAD MUDHARABAH

Mudharabah adalah akad yang telah dikenal oleh umat Muslim sejak
zaman nabi, bahkan telah dipraktikkan oleh bangsa Arab sebelum turunnya
Islam. Ketika Nabi Muhammad Saw. berprofesi sebagai pedagang, ia
melakukan akad mudharabah dengan Khadijah. Dengan demikian, ditinjau
dari segi hukum Islam, maka praktik mudharabah ini dibolehkan, baik
menurut ' Alquran, Sunnah, maupun Ijma'.

Dalam praktik mudharabah antara Khadijah dengan nabi, saat itu


Khadijah mempercayakan barang dagangannya untuk dijual oleh Nabi
Muhammad SAW. keluar negeri. Dalam kasus ini, khadijah berperan
sebagai pemilik modal (Shahib al-maal )sedangkan Nabi Muhammad Saw.
berperan sebagai pelaksana usaha (mudharib). Nah, bentuk kontrak antara
dua pihak di mana satu pihak berperan Sebagai pemilik modal dan
mempercayakan sejumlah modalnya untuk dikelola oleh pihak kedua,
yakni si pelaksana usaha, dengan tujuan untuk mendapatkan untung
tersebut akad mudharabah. Atau singkatnya, akad mudharabah adalah
persetujuan kongsi antara harta dari salah satu pihak dengan kerja dari
pihak lain.

Rukun Mudharabah

A. Adanaya pelaku ( pemilik modal maupun pelaksana Usaha )


B. Objek Mudharabah ( Modal kerja )
C. Persetujuan kedua belah pihak ( Ijab – Qobul )
D. Nisbah keuntungan.

7
NISBAH KEUNTUNGAN

1. Prosentase.

Nisbah keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk prosentase antara kedua


belah pihak, bukan dinyatakan dalam nilai nominal Rp temenin Jadi nisbah
keuntungan itu misalnya adalah 50:50 70:30 atau, 60 : 40 atau bahkan 99:1
Jadi nisbah keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan, bukan
berdasarkan porsi Setoran modal; tentu dapat saja bila disepakati ditentukan
nisbah keuntungan sebesar porsi setoran modal. Nisbah keuntungan tidak
boleh dinyatakan dalam bentuk nominal Rp tertentu, misalnya shahib al-maal
mendapat Rp 50 ribu, mudharib mendapat Rp 50 ribu.

2. Bagi Untung dan Bagi Rugi.

Ketentuan diatas itu merupakan kansekuensi logis dari karakteristik akad


mudharabah itu sendiri, yang tergolong ke dalam kontrak investasi (natural
uncertainty contracts). Dalam kontrak ini, return dan timing cash flow kita
tergantung kepada kinerja sektor riiInya. Bila laba bisnisnya. besar kedua
belah pihak mendapat bagian yang besar pula Bila laba bisnisnya kecil mereka
mendapat bagian yang kecil Juga. Nah, filosofi ini hanya dapat berjalan jika
nisbah laba ditentukan dalam bentuk prosentase, bukan dalam bentuk nominal
Rp tertentu.

Contoh kasus

Bank Jayen Syariah (BJS) melakukan kerjasama bisnis dengan Bapak Irfa,
seorang pedagang buku di Pasar Shoping Yogyakarta menggunakan akad
mudharabah (BJS sebagai pemilik dana dan Irfa sebagai pengelola dana). BJS
memberikan modal kepada Irfa sebesar Rp 10.000.000 sebagai modal usaha
pada Tanggal 1 Januari 2009 dengan nisbah bagi hasil BJS : Irfa = 30% : 70%.

8
Pada tanggal 31 pebruari 2009, Irfa memberikan Laporan Laba Rugi penjualan
buku sebagai berikut:

Penjualan Rp 1.000.000

Harga Pokok Penjualan (Rp 700.000)

Laba Kotor Rp 300.000

Biaya-biaya Rp 100.000

Laba bersih Rp 200.000

Hitunglah pendapatan yang diperoleh BJS dan Irfa dari kerjasama bisnis
tersebut pada tanggal 31 Pebruari 2009 bila kesepakan pembagian bagi hasil
tersebut menggunakan metode:

a. Profit sharing

b. Revenue sharing

Jawab:

a. Profit sharing

Bank Syariah : 30% x Rp 200.000 (Laba bersih) = Rp 60.000

Irfa : 70% x Rp 200.000 = Rp 140.000

b. Revenue sharing

Bank Syariah : 30% x Rp 300.000 (Laba Kotor) = Rp 90.000

Irfa : 70% x Rp 300.000 = Rp 210.000

9
2. MUSYARAKAH

A. PENGERTIAN MUSYAROKAH

Musyarakah Perspektif Fiqih Pengertian musyarakah Musyarakah atau


sering disebut syarikah atau syirkah berasal dari fi’il madhi ) yang
mempunyai arti: sekutu atau teman peseroan, perkumpulan,
perserikatan (Munawwir, 1984: 765). Syirkah dari segi etimologi
mempunyai arti: campur atau percampuran. Maksud dari percampuran
disini adalah seseorang mencampurkan hartanya dengan harta orang
lain sehingga antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya sulit
untuk dibedakan lagi (Al-Jaziri, 1990: 60). Definisi syirkah menurut
mazhab Maliki adalah suatu izin ber-tasharruf bagi masing-masing
pihak yang bersertifikat. Menurut mazhab Hambali, syirkah adalah
persekutuan dalam hal hak dan tasharruf. Sedangkan menurut Syafi’i,
syirkah adalah berlakunya hak atas sesuatu bagi dua pihak atau lebih
dengan tujuan persekutuan (Ghufron A, 2002: 192). Sayyid Sabiq
mengatakan bahwa syirkah adalah akad antara orang Arab yang
berserikat dalam hal modal dan keuntungan (Sabiq, 1987: 193). M. Ali
Hasan mengatakan bahwa syirkah adalah suatu perkumpulan atau
organisasi yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang
bekerja sama dengan penuh kesadaran untuk meningkatkan
kesejahteraan anggota atas dasar sukarela secara kekeluargaan (Hasan,
2003: 161). Jadi, syirkah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih
dalam suatu usaha perjanjian guna melakukan usaha secara bersama-
sama serta keuntungan dan kerugian juga ditentukan sesuai dengan
perjanjian.

Musyarakah Perspektif Perbankan Syariah

Implementasi musyarakah dalam perbankan syariah dapat dijumpai


pada pembiayaan-pembiayaan seperti:
1. Pembiayaan Proyek
10
Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan proyek
dimana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk
membiayai proyek tersebut, dan setelah proyek itu selesai nasabah
mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah
disepakati untuk bank.
2. Modal Ventura
Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melakukan
investasi dalam kepemilikan perusahaan, musyarakah
diaplikasikan dalam skema modal ventura. Penanaman modal
dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan setelah itu bank
melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya, baik secara
singkat maupun bertahap. Ketentuan umum pembiayaan
musyarakah sebagai berikut (Karim, 2004: 92-93):

1. Semua modal disatukan untuk dijadikan modal proyek


musyarakah dan dikelola bersama-sama. Setiap pemilik modal
berhak turut serta dalam menentukan kebijakan usaha yang
dijalankan oleh pelaksana proyek. Pemilik modal dipercaya untuk
menjalankan proyek musyarakah dan tidak boleh melakukan
tindakan seperti:
a. Menggabungkan dana proyek dengan dana pribadi.
b. Menjalankan proyek dengan pihak lain tanpa izin pemilik modal
lainnya.
c. Memberi pinjaman pad pihak lain.
d. Setiap pemilik modal dapat mengalihkan penyertaan atau
digantikan Volume 2, No.2, Desember 2014 319 320 oleh pihak
lain.
e. Setiap pemilik modal dianggap mengahiri kerja sama apabila:
menarik dari perserikatan, meninggal dunia dan menjadi tidak
cakap hukum.

2. Biaya yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan jangka


waktu proyek harus diketahui bersama. Keuntungan dibagi sesuai

11
porsi kesepakatan sedangkan kerugian dibagi sesuai dengan porsi
kontribusi modal.
3. Proyek yang akan dijalankan harus disebutkan dalam akad.
Setelah proyek selesai nasabah harus mengembalikan dana
bersama bagi hasil yang telah disepakati untuk bank.

Skema Musyarokah

3. MURABAHAH

A. PENGERTIAN

Murabahah secara bahasa berasa dari kata ‫ ربح‬yang


berarti keuntungan, karena dalam jual beli murabahah harus
menjelaskan keuntungannya. Sedangkan menurut istilah
murabahah adalah jual beli dengan harga pokok dengan
tambahan keuntungan (Al Zuhaili, 1984). Salah satu skim fiqh
yang paling populer digunakan oleh perbankan syariah adalah
skim jual beli murabahah. Transaksi pembiayaan murabahah

12
ini lazim dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Secara sederhana, murabahah berarti suatu penjualan barang
seharga barang tersebut ditambah dengan margin yang
disepakati (Karim, 2007).

Bentuk-bentuk akad jual beli yang telah dibahas oleh


para ulama dalam fiqh muamalah terbilang sangat banyak
sekali. Namun dari sekian banyak akad jual beli tetap
disandarkan pada tiga jenis akad jual beli yang syar’i
(memakai sistem syariah) yaitu Ba’i al Murabahah, Ba’i As
Salam, dan Ba’i Istishna (Antonio, 2001). Dari tiga jenis akad
ini telah berkembang macammacam akad jual beli. Murabahah
merupakan salah satu bentuk jual beli amanah yang dikenal
dalam syari’at Islam, karena penjual disyaratkan melakukan
kontrak terlebih dahulu dengan menyatakan harga barang yang
akan dibeli (Hulwati, 2006). Dalam pembiayaan murabahah
bank menetapkan harga jual barang yaitu harga pokok
perolehan barang ditambah sejumlah margin keuntungan bank.
Harga jual yang telah disepakati di awal akad tidak boleh
berubah selama jangka waktu pembiayaan.

Contoh aplikasi di perbankan syariah (Laksmana, 2009):

1. Pembiayaan konsumtif: Pembiayaan Kepemilikan Rumah,


Pembiayaan kepemilikan Mobil, Pembiayaan Pembelian Perabot
Rumah Tangga.

2. Pembiayaan Produktif: Pembiayaan Investasi Mesin dan


Peralatan, Pembiayaan Investasi Gedung dan Bangunan,
Pembiayaan Persediaan Barang Dagangan, dan Pembiayaan
Bahan Baku Produksi.

13
B. Rukun Pembiayaan Murabahah

a. Ba’i atau penjual, penjual disini adalah orang yang


mempunyai barang dagangan atau orang yang menawari suatu
barang .
b. Musytari atau pembeli, adalah orang yang melakukan
permintaan terhadap suatu barang yang ditawarkan oleh
penjual.
c. Mabi’ atau barang, adalah komoditi, benda, objek yang
diperjualbelikan .
d. Tsaman atau harga jual, adalah sebagai alat ukur untuk
menentukan nilai suatu barang
e. Ijab dan Qabul yang dituangkan dalam akad.

Contoh kasus

Berikut adalah penetapan margin Murabahah di BMT Al-Fath


IKMI:
Nama : Tuan Bramasta
Fasilitas Pembiayaan : Pembiayaan Pemilikan Laptop
Unit : 5 Unit
Tujuan Pembiayaan : Pembelian laptop
Plafond Pembiayaan : Rp. 100.000.000
Jangka Waktu : 24 bulan (2 Tahun)
Margin : Rp. 14.400.000 (18%)
Tanggal Cair : 16 Juni 2013
Tanggal Jatuh Tempo : 16 Juni 2015
Uang muka/ DP : Rp. 20.000.000

14
Perhitungan :
1. Margin:
(Harga beli – DP) x 18% = (Rp.100.000.000 – Rp. 20.000.000) x 18% = Rp.
14.400.000
= Rp. 14.400.000/24 bulan = Rp. 600.000 per bulan

3. Harga Pokok:
Harga beli – DP = Rp. 100.000.000 – Rp. 20.000.000
Rp. 80.000.000/ 24 bulan = Rp. 3.333.300 per bulan

3. Angsuran cicilan per bulan = Margin + Harga Pokok


= Rp. 600.000 + Rp. 3.333.300
= Rp. 3.933.300
Hasil perhitungan angsuran cicilan perbulan pada akad murabahah adalah
sebesar Rp. 3.933.300, dan perhitungan angsuran cicilan pertahun adalah
sebesar Rp 47.199.600

4. SALAM

A. Pengertian

Secara bahasa as-salam atau as-salaf berarti pesanan. Secara


terminologis para ulama mendefinisikannya dengan: “Menjual suatu
barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual suatu (barang) yang
ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal lebih awal, sedangkan
barangnya diserahkan kemudian hari”.

B. Rukun dan Syarat Salam

Syarat-syarat sahnya jual beli salam adalah sebagai berikut:

1. Pihak-pihak yang berakad disyaratkan dewasa, berakal, dan baligh.

15
2. Barang yang dijadikan obyek akad disyaratkan jelas jenis, ciri-ciri, dan
ukurannya.

3. Modal atau uang disyaratkan harus jelas dan terukur serta dibayarkan
seluruhnya ketika berlangsungnya akad. Menurut kebanyakan fuqaha,
pembayaran tersebut harus dilakukan di tempat akad supaya tidak
menjadi piutang penjual. Untuk menghindari praktek riba melalui
mekanisme Salam.pembayarannya tidak bisa dalam bentuk
pembebasan utang penjual.

4. Ijab dan qabul harus diungkapkan dengan jelas, sejalan, dan tidak
terpisah oleh hal-hal yang dapat memalingkan keduanya dari maksud
akad.

Skema akad salam pada Bank Syariah.

Contoh kasus sederhana

Tuan Sugiarso memesan beras pandanwangi type A sebanyak 100 kg


kepada tuan Candra dengan harga Rp1.500.000 (Rp15.000/kg) dibayar
tunai. Penyerahan barang akan dilakukan seminggu kemudian.

5. Ijarah

A. PRINSIP SEWA (IJARAH)

Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat (hak guna),


bukan perpindahan kepemilikan (hak milik). Jadi pada dasarnya
prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli, tapi perbedaannya
terletak pada objek transaksinya . Bila pada jual beli objek

16
transaksinya barang, pada ijarah objek transaksinya adalah barang
maupun jasa.

Jenis Barang/jasa yang Dapat Disewakan ,


1. Barang modal: aset tetap, misalnya bangunan, gedung, kantor,
ruko, Dan lainnya
2. Barang produksi: mesin alat-alat berat, dan lain-lain.
3. Barang kendaraan transportasi: darat laut dan udara.
4. Jasa untuk membayar ongkos: angkut dan transportasi.

Soal:

Bpk. Ahmad hendak menyewa sebuah ruang perkantoran di sebuah


gedung selama 1 tahun mulai dari tanggal 1 Mei 2002 sampai 1 Mei
2003. Pemilik gedung menginginkan pembayaran sewa secara tunai di
muka sebesar Rp 240.000.000,-. Dengan pola pembayaran tersebut,
kemampuan keuangan Bpk. Ahmad tidak memungkinkan. Bpk.
Ahmad hanya dapat membayar sewa secara angsuran per bulan.
Untuk memecahkan masalahnya ini, Bpk. Ahmad mendatangi sebuah
bank syariah untuk meminta pembiayaan, dengan memaparkan
kondisi kebutuhan dan keuangannya. Analisa Bank: Berikut adalah
analisa bank dalam memberikan pendanaan dengan memperhitungkan
kebutuhan dan kemampuan finansial/keuangan nasabah serta required
rate of profit bank (sebesar 20%):

Harga sewa 1 tahun (tunai di muka) : Rp240.000.000,


Required rate of profit bank (20%) : Ra 48.000.000
Harga sewa kepada nasabah Rp288.000.000,
Periode pembiayaan : 12 bulan (=360hari)
Besarnya angsuran nasabah per bulan: Rp 24.000.000,

Dengan analisa tersebut maka bentuk pembiayaan yang diberikan oleh


bank kepada Bpk Ahmad adalah:

17
> Pembiayaan ijarah, harga sewa Rp288.000.000,12 bulan (360 hari),
angsuran Rp24.000.000,-/bulan
> Pendanaannya diambil dari URIA

18
BAB III
( PENUTUP)

Kesimpulan

1. Bagi hasil adalah pendapatan utama pada kegiatan syariah, karena pada dasarnya
semua kegiatan syariah harus mempunyai manfaat yang adil antara semua yang
terlibat dalam kegiatan usaha yang mempergunakan prinsip syariah.
2. Mekanisme perhitungan bagi hasil terdapat dua cara :
a. Profit Sharing
b. Revenue sharing
3. Akad mudharabah adalah persetujuan kongsi antara harta dari salah satu pihak dengan
kerja dari pihak lain.
4. Musyarakah atau syirkah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam suatu
usaha perjanjian guna melakukan usaha secara bersama-sama serta keuntungan dan
kerugian juga ditentukan sesuai dengan perjanjian.
5. Akad murobahah adalah akad suatu penjualan barang seharga barang tersebut
ditambah dengan margin yang disepakati.
6. Ba’I as salam berarti Menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual
suatu (barang) yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal lebih awal,
sedangkan barangnya diserahkan kemudian hari.
7. Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat (hak guna), bukan
perpindahan kepemilikan (hak milik). Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama saja
dengan prinsip jual beli, tapi perbedaannya terletak pada objek transaksinya. Bila
pada jual beli objek transaksinya barang, pada ijarah objek transaksinya adalah barang
maupun jasa.

19
DAFTAR PUSTAKA

A Karim, Adiwarman . 2016 . Bank Islam . Jakarta. PT Raja Grafindo Persada.

Sholahuddin, Muhammad . 2014 . Lembaga Keuangan dan ekonomi Islam


.Yogyakarta. Ombak

Muljono, Djoko . 2015. Buku Pintar Akuntansi Perbankan dan Lembaga keuangan
Syariah . Yogyakarta .Andi

20