Anda di halaman 1dari 28

BAHAN PEMBELAJARAN DIKLAT

PENGUATAN KEPALA SEKOLAH

Apakah Saudara ingin memberikan umpan balik/masukan mengenai


Bahan Pembelajaran Penguatan Kepala Sekolah ?

PENGELOLAAN
Pemerintah Indonesia mengajak para individu dan organisasi untuk
memberikan umpan balik/masukan, baik positif atau negatif, tentang bahan
pembelajaran Penguatan Kepala Sekolah.

PESERTA DIDIK
Dalam hal ini,Saudara diajak untuk memberikan umpan balik (masukan/
keluhan) ke Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah
(LPPKS), melalui:
Situs Web : www.lppks.org
Email : lp2kssolo@gmail.com
Telephone : (0271) 8502888, 8502999
SMS :
Fax : (0271) 8502000
Surat : Petugas Penanganan Keluhan
Kp. Dadapan RT. 06/ RW. 07,
Desa Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar,
Jawa Tengah.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN LEMBAGA


PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN KEPALA
SEKOLAH (LPPKS) INDONESIA

1
Bahan Pembelajaran
Ppengelolaan Pesrta Didik

Tim Pengembang Bahan Ajar


Lembaga Pengembangan dan
Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS)

Pengarah

Penanggung Jawab

Tim Penulis
.

Reviewer Drs. Sodiq Purwanto, M.Pd

Diterbitkan Oleh
LPPKS, Indonesia
@2017

Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi
buku ini tanpa izin tertulis dari LPPKS.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENJELASAN UMUM
1. Pengantar Bahan Pembelajaran
2. Hasil Pembelajaran yang Diharapkan
3. Tagihan
4. Ruang Lingkup
5. Langkah -Langkah Pembelajaran

KEGIATAN BELAJAR 1
TOPIK: Penempatan dan Pengembangan Kapasitas Peserta Didik
1. Materi
a. Penempatan Peserta Didik
b. Pengembangan Kapasitas Peserta didik
c. Pengembangan Bakat, Minat, dan Kreativitas Peserta Didik
2. Penugasan
KEGIATAN BELAJAR 2
TOPIK: Perencanaan, Pelakanaan, dan dan Evaluasi Kegiatan Pengembangan Bakat, Minat,
dan Kreativitas Peserta Didik.
1. Materi ...........................................................................
2. Penugasan ....................................................................

REFLEKSI
SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

3
PENJELASAN UMUM

1. Pengantar Bahan Pembelajaran


Pengelolaan peserta didik termasuk salah satu substansi pengelolaan pendidikan
dan menduduki posisi strategis karena merupakan pusat layanan pendidikan. Berbagai
macam kegiatan, baik yang berada di dalam maupun di luar latar institusi persekolahan,
tertuju kepada peserta didik. Semua kegiatan pendidikan, yaitu yang berkenaan dengan
manajemen akademik, layanan pendukung akademik, sumber daya manusia, sumber
daya keuangan, sarana prasarana dan hubungan sekolah dengan masyarakat,
senantiasa diupayakan agar menjadi layanan pendidikan yang handal bagi peserta didik.
Pengelolaan peserta didik adalah suatu pengaturan terhadap peserta didik di
sekolah, sejak peserta didik masuk sampai dengan peserta didik lulus, bahkan setelah
menjadi alumni. Kepala Sekolah/Madrasah diharapkan memiliki pengetahuan tentang
pengelolan peserta didik. Ruang lingkup pengelolaan peserta didik meliputi banyak
aspek, namun yang dibahas dalam bahan ajar ini hanya ada dua saja, yaitu:
1) Penempatan dan pengembangan kapasistas peserta didik.
2) Pengembangan minat dan bakat peserta didik.
Dalam bahan ajar ini dibahas pula bagaimana merencanakan, melaksanakan
dan evaluasi kegiatan. Dalam mata diklat ini juga dilakukan penguatan dua nilai karakter
utama, yaitu gotong royong (sub nilai kerjasama, menghargai dan komitmen atas
keputusan bersama) dan integritas (sub nilai kejujuran dan tanggung jawab), tanpa
mengabaikan nilai-nilai karakter lainnya.

2. Hasil Pembelajaran yang Diharapkan


Bahan pembelajaran ini diarahkan untuk mencapai target kompetensi kepala
sekolah dalam mengelola peserta didik dalam ta penempatan dan pengembangan
kapasitas peserta didik, termasuk di dalamnya engembangan minta dan bakat pserta
didik (Permendiknas No. 13 Tahun 2007).
Hasil pembelajaran yang diharapkan adalah Saudara memiliki kemampuan untuk:
a. Menjelaskan konsep penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik;
b. Menjelaskan konsep pengembangan minat dan bakan peserta didik;
c. Melakukan perencanaan, implementasi, dan evaluasi kegiatan penempatan,
pengembangan kapasitas, minat dan bakat peserta didik.
d. Melaksanakan pengelolaan penempatan dan pengembangan kapasitas, minat dan
bakat peserta didik.
e. Melakukan evaluasi penempatan dan pengembangan kapasitas, minat dan bakat
peserta didik.

3. Tagihan
Tagihan dalam Diklat Penguatan Kompetensi Kepala Sekolah dapat adalah:
a. Mendiskusikan integrasi nilai karakter dalam kegiatan pengembangan kapasitas,

4
bakat, dan minat peserta didik
b. Mengerjakan studi kasus tentang pengembangan kapasitas, bakat dan minat peserta
didik.
c. Menyusun instrumen monitoring kegiatan kapasitas, bakat, dan minat peserta didik.

Melalui proses pembelajaran dalam Diklat Penguatan Kompetensi Kepala Sekolah,


Saudara akan mendapatkan penguatan dua nilai karakter utama, yaitu gotong royong
(sub nilai kerjasama, menghargai dan komitmen atas keputusan bersama) dan integritas
(sub nilai kejujuran dan tanggung jawab keputusan bersama) dan integritas (sub nilai
kejujuran dan tanggung jawab).

4. Ruang Lingkup
Bahan pembelajaran ini akan mengantarkan Saudara untuk memahami:
1. Penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.
2. Pengembangan bakat dan minat peserta didik.
3. Perencanaan, implementasi, dan evaluasi penempatan dan pengembangan kapasitas,
minat, dan bakat peserta didik.

5. Langkah -Langkah Pembelajaran


Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mempelajari materi ini mencakup
aktivitas individual dan kelompok.
Aktivitas individual meliputi:
1. Membaca materi secara mandiri.
2. Menjawab pertanyaan.
3. Mengerjakan tugas dengan kerjasama dan mandiri.
4. Membaca referensi lainnya.
5. Melakukan refleksi.

Aktivitas kelompok meliputi:


1. Mendiskusikan materi dan tugas.
2. Sharing pengalaman dalam melakukan tugas dan memecahkan kasus
3. Mempresentasikan hasil diskusi kelompok

Aktivitas individu adalah hal yang utama sedangkan aktivitas kelompok lebih
merupakan forum untuk berbagi, memberikan pengayaan dan penguatan terhadap
kegiatan yang telah dilakukan masing-masing individu. Melalui aktivitas individu maupun
kelompok tersebut, Saudara akan mendapatkan penguatan pada dua nilai karakter
utama, yaitu gotong royong (sub nilai kerjasama, menghargai dan komitmen atas
keputusan bersama) dan integritas (sub nilai kejujuran dan tanggung jawab keputusan
bersama) dan integritas (sub nilai kejujuran dan tanggung jawab), sehingga diharapkan

5
Saudara dapat secara individu dan kelompok meningkatkan kompetensi.

6
Bagan 1. Alur Pelaksanaan Diklat Penguatan Komptensi Kepala Sekolah dalam
Pengelolaan Peserta Didik

PENDAHULUAN (5’) INTI (75’) PENUTUP (10’)


• Berdoa/memberi Eksplorasi (20') • MT
salam • MT menyampaikan menyampaikan
• Tanya jawab pengelolaan peserta didik ketercapaian tujuan
tentang pengelolaan secara umum pembelajaran
peserta didik, jika ada Peserta mengerjakan LK • MT memberi
KS SLB, diminta untuk (20’) motivasi tindak
berbagi lanjut
• Hasil diskusi
pengintegrasian nilai
karakter dalam kegiatan
pengembangan kapasitas,
minat, dan bakat peserta
didik (LK A-01) - (10’)
• Hasil diskusi pemecahan
masalah tentang
pengembangan bakat dan
minat peserta didik (LK B-
01 dan LK B2) - (10’)

Elaborasi (30')
• Peserta mempresentasikan
hasil diskusi dan
menanggapi

Konfirmasi (5')
• MT memberi penguatan
tentang pengelolaan
peserta didik secara umum

7
KEGIATAN PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
Topik : Penempatan dan Pengembangan Kapasitas Peserta Didik

1. Materi
Sekolah adalah garda terdepan penyelenggaraan sistem pendidikan, dengan tugas
utama membantu dan mempersiapkan peserta didik meraih masa depan menjadi
manusia yang seutuhnya. Peserta didik akan berkembang dengan baik manakala
mendapat sentuhan, bimbingan, arahan, dan fasilitasi yang tepat sesuai dengan
kapasistas, minat dan bakat yang dimilikinya. Agar berkembang dengan baik, maka
aktivitas olah karsa, olah pikir, olah rasa, dan olah tubuh harus dilakukan secara
seimbang, komprehensif dan simultan di sekolah. Proses tersebut dilaksanakan dalam
bentuk kegiatan intrakurikuluer, kokurikuler, ekstra kurikuler, dan pengembangan diri
lainnya.. Oleh karena itu pengelolaan kegiatan intrakurikuluer, kokurikuler, dan ekstra
kurikuler peserta didik adalah pusat perhatian kepala sekolah selaku penanggung jawab
utama di sekolah.
Pengelolaan peserta didik adalah layanan yang memusatkan pada pengaturan,
pengawasan, dan layanan siswa di kelas dan diluar kelas seperti pendaftaran,
pengenal;an, dan layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan,
kebutuhan, dan minat sampai ia matang di sekolah (Knezevich, 1999). Adapun Mulyasa
(2011) menyebutkan bahwa pengelolaan peserta didik adalah penataan dan pengaturan
terhadap kegiatan yang berkaitan dengan peserta didik mulai masuk sampai keluarnya
pesert didik tersebut dari lembaga pendidikan. Dari dua pengertian tersebut dapat
disimpulkan, bahwa pengelolaan peserta didik adalah kegiatan pengaturan peserta didik
mulai dari masuk sampai lulus sekolah, baik di luar mapun di dalam kelas untuk
mengantarkan peserta didik menjadi lebih matang.
Tujuan pengelolaan peserta didik adalah mengatur kegiatan peserta didik agar
seluruh kegiatan tersebut menunjang dan mengarah pada pencapaian kompetensi
sebagaimana yang diuraikan dalam Standar kompetensi Lulusan (SKL) masing-masing
jenis dan jenjang sekolah. Adapun fungsi pengellolaan peserta didik adalah wahana bagi
peserta didik sebaik mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya,
segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya, dan segi potensinya.
Adapun prinsip-prinsip pengelolaan peserta didik adalah:
1) Sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah;
2) Kegiatannnya mengemban misi pendidikan;
3) Kegiatannya berupa menyatukan peserta didik yang beraneka ragam;
4) Kegiatannya dipandang sebagai pengaturan pembimbingan peserta didik;
5) Mendorong dan memacu kemandirian peserta didik;
6) Berfungsi bagi kehidupan peserta didik.

8
Ada dua pendekatan yang digunakan dalam pengelolaan peserta didik, yaitu
pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif (Yeager dalam Diitjen PMPTK:2007)
Pendekatan kuantitaif ini lebih menitikberatkan pada segi-segi administratif dan birokratik
satuan pendidikan. Dalam pendekatan demikian, peserta didik diharapkan banyak
memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan satuan pendidikan di tempat peserta
didik tersebut belajar. Asumsi pendekatan ini adalah, bahwa peserta didik akan dapat
matang dan mencapai keinginannya, manakala dapat memenuhi aturan-aturan, tugas-
tugas, dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga di mana ia belajar. Wujud
pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional antara lain dalam
bentuk mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah,
memperketat presensi, penuntutan disiplin yang tinggi, menyelesaikan tugas-tugas yang
diberikan kepadanya..
Pendekatan kualitatif lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta
didik. Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu, maka
pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Asumsi dari
pendekatan ini adalah, jika peserta didik senang dan sejahtera, maka mereka dapat
belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di
lembaga pendidikan seperti sekolah. Pendekatan ini juga menekankan perlunya
penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara
optimal.
Dari dua pendekatan tadi semestinya sekolah mengambil jalan tengah. Di satu sisi
peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif
sekolah di satu pihak, tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain
yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Peserta didik diminta untuk
menyelasikan tugas-tugas yang terkadang dirasakan berat, tetapi di sisi lain juga
disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya.
Ada banyak aktivitas pengelolaan peserta didik, mulai dari perencanaan peserta
didik, penerimaan peserta didik baru, masa pengenalan peserta didik baru, peningkatan
kedisiplinan, penempatan pesertan didik, pengembangan kapaistas, minat, bakat dan
kreativitas, pengembangan diri, dan lain sebaginya. Namun dalam bahan ajar ini titik
tekannya pada penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik dan
pengembangan minat dan bakat peserta didik.

a. Penempatan Peserta Didik


Penempatan peserta didikk adalah salah satu bagian dari kegiatan
pengelolaan peserta didik, setelah proses penerimaan peserta didik baru atau
PPDB dan masa pengenalan peserta didik baru atau MPLS. Dinamika PPDB di
masing-masing daerah dan jenjang pendidikan sangat beragam, termasuk teknis
pendaftaranya. Bagi daerah tertentu, sudah dilakukan PPDB on-line, sedangkan
daerah lainnya masih konvensional. Masalah yang terjadi dalam PPDB juga
beragam, mulai dari sekolah yang kekurangan calon siswa hingga sekolah yang
kebanjiran calon peserta didik baru. Sebagai salah satu bentuk perbaikan
mekanisme PPDB, mulai tahun pelajaran 2017/2018 pemerintah membuat
kebijakan sistem zonasi dalam PPDB, meskipun penerapannya masih belum
mulus.
Tahap berikut setelah PPDB adalah masa Pengenalan Peserta Didik Baru
atau MPLS. MPLS adalah masa di mana peserta didik dikenalkan dengan

9
lingkungan, budaya, sarana dan prasarana sekolah, guru dan karyawan, serta
aktivitas di sekolah yang baru saja dimasukinya. Tujuan MPLS adalah
mempercepat adaptasi peserta didik dalam lingkungan yang baru dan
menyesuaikan dengan tuntutan proses pembelajaran yang berbeda dengan
sebelumnya. Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan MPLS adalah menghindari
perpeloncoan dan lebih mengetengahkan proses yang mendidik, membangun
dan menyenangkan.
Kegiatan penempatan peserta didik adalah kegiatan pengelompokan dalam
berbagai bentuk kelompok berdasarkan berbagai prtimbangan yang bersifat
mendidik dengan tujuan menempatkan peserta didik berada dalam lingkungan
dan suasan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.. Pengelompokan tersebut
dapat didasarkan pada:
(1) Fungsi integrasi, yaitu pengelompokan peserta didik berdasarkan umur, jenis
kelamin dan sebagainya.
(2) Fungsi perbedaan, yaitu pengelompokan peserta didik untuk menghargai
berdasarkan perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik seperti bakat,
minat, kemampuan dan sebagainya.
Di samping itu, pengelompokan dapat juga didasarkan pada hasil
belajar. Biasanya peserta didik dibagi atas 3 kelompok:
(1) Kelompok anak yang cepat berfikirnya
(2) Kelompok anak yang sedang berfikirnya
(3) Kelompok anak yang lambat berfikirnya
Sementara itu Soetopo (1982), berpendapat bahwa dasar-dasar
pengelompokan peserta didik ada 5 macam, yaitu:
(1) Friendship Grouping
Pengelompokan peserta didik yang didasarkan pada kesukaan di dalam
memilih teman antar peserta didik itu sendiri. Jadi dalam hal ini peserta didik
mempunyai kebebasan dalam memilih teman untuk dijadikan sebagai
anggota kelompoknya.
(2) Achievement Grouping
Pengelompokan peserta didik yang didasarkan pada prestasi yang dicapai
oleh peserta didik. Dalam pengelompokan ini biasanya diadakan percampuran
antara peserta didik yang berprestasi tinggi dengan peserta didik yang
berprestasi rendah.
(3)Aptitude Grouping
Pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas kemampuan dan bakat
yang sesuai dengan apa yang dimiliki peserta didik itu sendiri.
(4) Attention or Interest Grouping
Pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas perhatian atau minat yang
didasari kesenangan peserta didik itu sendiri. Pengelompokan ini didasari oleh
adanya peserta didik yang mempunyai bakat dalam bidang tertentu namun si
peserta didik tersebut tidak senang dengan bakat yang dimilikinya.
(5) Intellegence Grouping

10
Pengelompokan peserta didik yang didasarkan atas hasil tes intelegensi yang
diberikan kepada peserta didik itu sendiri.
Selain sekolah reguler, ada juga sekolah/madrasah inklusi, yaitu sekolah
umum yang melayani anak berkebutuhan khusus. Hal ini diatur dalam diatur dalam
Peraturan Mendiknas No. 70 tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta
Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat
Istimewa.
Pendidikan inklusi merupakan suatu pendekatan pendidikan yang inovatif
dan strategis untuk memperluas akses pendidikan bagi semua anak berkebutuhan
khusus termasuk anak penyandang cacat. Dalam konteks yang lebih luas,
pendidikan inklusi juga dapat dimaknai sebagai satu bentuk reformasi pendidikan
yang menekankan sikap anti diskriminasi, perjuangan persamaan hak dan
kesempatan, keadilan, dan perluasan akses pendidikan bagi semua, peningkatan
mutu pendidikan, upaya strategis dalam menuntaskan wajib belajar sembilan
tahun, serta upaya merubah nilai-nilai karakter tidak tergantung pada orang lain
dan sikap masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus.
Secara mendasar konsep dan praktik penyelenggaraan pendidikan inklusi
bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di berbagai belahan dunia saat ini mengacu
kepada dokumen internasional pernyataan Salamanca dan kerangka aksi pada
pendidikan kebutuhan khusus pada tahun 1994. Dalam dokumen tersebut
dinyatakan bahwa:
(1) Prinsip dasar dari sekolah inklusif adalah bahwa selama memungkinkan,
semua anak seyogyanya belajar bersama-sama, tanpa memandang
kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada diri mereka.
Sekolah inklusif harus mengenal dan merespon terhadap kebutuhan yang
berbeda-beda dari para peserta didiknya, mengakomodasi berbagai
macam gaya dan kecepatan belajarnya dan menjamin diberikannya
pendidikan yang berkualitas kepada semua peserta didik melalui
penyusunan kurikulum yang tepat, pengorganisasian yang baik,
pemilihan strategi pengajaran yang tepat, pemanfaatan sumber dengan
sebaik-baiknya dan penggalangan kemitraan dengan masyarakat
sekitarnya. Seyogyanya terdapat dukungan dan pelayanan yang
berkesinambungan sesuai dengan sinambungnya kebutuhan khusus yang
dijumpai di tiap sekolah.
(2) Anak yang menyandang kebutuhan khusus seyogyanya menerima
segala dukungan tambahan yang mereka perlukan untuk menjamin
efektifnya pendidikan mereka. Pendidikan inklusif merupakan alat yang
paling efektif untuk membangun solidaritas antara anak penyandang
kebutuhan khusus dengan teman-teman sebayanya. Pengiriman anak
secara permanen ke sekolah luar biasa atau kelas khusus atau bagian
khusus di sebuah sekolah reguler seyogyanya merupakan suatu
kekecualian, yang direkomendasikan hanya pada kasus-kasus tertentu di
mana terdapat bukti yang jelas bahwa pendidikan di kelas reguler tidak
dapat memenuhi kebutuhan pendidikan atau sosial anak, atau bila hal
tersebut diperlukan demi kesejahteraan anak yang bersangkutan atau
kesejahteraan anak-anak lain di sekolah itu.

11
b. Pengembangan Kapasitas Peserta didik

Pada dasarnya semua sekolah memiliki kewajiban untuk mengembangkan


potensi kecerdasan peserta didik secara maksimal. Hal tersebut berkaitan dengan
tujuan pendidikan yaitu untuk mengembangkan potensi anak didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas dalam Fajarwati, 2016)
Satuan pendidikan yang baik adalah satuan pendidikan yang mampu
memberikan layanan kepada peserta didik sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Salah satu bentuk potensi peserta didik adalah kecerdasan. Menurut Gardner
(dalam Fajarwati, 2016), ada delapan macam kecerdasan, yaitu (1) kecerdasan
verbal/linguistik, (2) logika matematik, (3) visual/spasial, (4) music/rhythmic, (5)
bodi/kinestetik, (6) interpersonal, (7) intrapersonal, dan (8) naturalistic”.
Seseorang akan berkembang kemampuannnya dengan baik sesuai dengan
jenis kecerdasannya tersebut. Mencermati pentingnya pengelolaan sekolah
berbasis pengembangan kecerdasan majemuk peserta didik, maka sudah
seharusnya diperlukan pengelolaan yang komprehensif mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan (evaluasi), dengan mempertimbangkan
kecerdasan, minat, dan bakat pserta didik.
Mengingat potensi berupa kecerdasan yang beragam tersebut, sekolah
semaksimal mungkin memberikan layanan yang beragam pula sesuai dengan
potensinya. Kemampuan peserta didik akan berkembang secara optimal bila
mendapatkan fasilitasi yang sesuai. Dengan demikian sekolah harus memiliki data
potensi kecerdasan peserta didik. Sekolah bisa melakukannya dengan
mengundang orang yang ahli dibidangnya. Data tersebut selanjutnya digunakan
sebagai perttimbangan untuk optimalisasi proses layanan pendidikan dalam
bentuk:
1) Penentuan pendekatan, strategi, metode, dan model belajar dalam
kegiatan intrakurikuler.
2) Penentuan jenis kegiatan kokurikuler.
3) Penentuan jenis kegiatan ekstrakurikuler.
4) Penentuan pendekatan, strategi, dan metode layanan bimbingan dan
konseling.
Kegiatan pada poin (1) dan (2) menjadi bahan kajian dalam pengembangan
kurikulum, ksusunya dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di kelas
dan berbagai penugasan yang berkaitan dengan pembelajaran tersebut.
Sedangkan poin (3) adalah kegiatan pengembangan diri dalam rangka optimalisasi
potensi yang dimiliki oleh peserta didik di luar kegiatan pembelajaran di kelas.
Sebagaimana diungkapkan di atas, agar perkembangan peserta didik berjalan
dengan baik, maka aktivitas olah pikir, olah rasa, dan olah tubuh harus dilakukan
secara seimbang, komprehensif dan simultan di sekolah. Proses tersebut
dilaksanakan dalam bentuk kegiatan intrakurikuluer, kokurikuler, dan ekstra
kurikuler.

12
Kegiatan pengembangan diri dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler akan
sangat berpengruh pada perkembangan sikap dan mental peserta didik. Oleh
karena itu kegiatan ini harus secara sadar memperhatikan dan
mengimplementasikan pendidikan karakter dalam perencanaan, pelaksanaan
sampai dengan penilaiannya. Dapat dikatakan bahwa hampir semua nilai karakter
bisa dieksplorasi dan dielaborasi pada hampir semua aktitias kegitaan ini. Tentu
dengan bobot dan proporsi yang berbeda. Pengelola dan pembina kegiatan bisa
memilih nilai karakter tertentu sesuai dengan karakteristik kegiatan sebagai skala
prioritas penanaman nilai. Selain lima cincin karakter yang sudah kita ketahui
bersama, maka rujukan penting pengembangan layanan pendidikan adalah
Standar Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Inti, terutama Kompetensi Inti 1 dan
kompetensi Inti 2. Deskripsi pada SKL serta KI 1 dan KI 2 harus menjadi inspirasi
penanaman nilai pada setiap aktivitas kegiatan ekstra kurikuler. Berikut ini adalah
contoh format 1 (pengintegrasian nilai-nilai karakter dalam kegiatana ekstra
kurikuler) seperti di bawah ini.

Gambar 1. Format pengintegrasian nilai karakter dalam kegiatan pengembangan


minat dan bakat.

c. Pengembangan Bakat dan Minat Peserta Didik

Bakat adalah potensi dasar yang dibawa dari lahir. Minat adalah kecenderungan
hati yang tinggi terhadap sesuatu. Bakat adalah potensi dasar yang dibawa dari
lahir, sedangkan minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.
Sedangkan kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru,
berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada (Utami Munandar,2011).
1) Mengembangkan Bakat, Minat, Kreativitas, dan Kemampuan
Pesert Didik
Potensi dasar yang dibawa sejak lahir oleh peserta didik tentu saja sangat
beragam. Walaupun demikian, dasar setiap peserta didik mendapat perhatian
dan layanan, dalam kondisi yang saling berbeda itu sedapat mungkin semuanya
mendapat saluran pengembangan diri. Pengembangan bakat di sekolah
ditempuh dengan dua cara, yaitu dengan kurikuler dan ekstrakurikuler.
Pengembangan yang secara kurikuler dilakukan secara konvensional dalam tatap
muka di dalam kelas. Pelajaran menyanyi, menari, musik, atau olahraga maupun
berbagai jenis keterampilan yang berperan untuk mengembangkan potensi dasar
peserta didik diberikan dalam bentuk kegiatan pembelajaran secara formal.
Pengertian formal dalam hal ini adalah terstruktur, pelaksanaannya berlangsung
pada jam-jam efektif belajar.

13
Sekalipun bakat para peserta didik saling berbeda, secara garis besar
dapat dikelompokkan ke dalam beberapa klasifikasi utama, yaitu bidang seni,
bidang olah raga dan bidangketerampilan. Bidang seni antara lain: musik, sastra,
teater, dan tari beserta cabang-cabangnya. Termasuk musik antara lain paduan
suara, group band. Sastra mencakup penyelenggaraan majalah dinding,
majalah sekolah. Seni teater meliputi baca puisi, cerpen, dan seni berpentas.
Seni tari meliputi tari klasik/modern.

2) Menyiapkan Perangkat Pemantau Bakat, Minat, Kreativitas, dan Kemampuan


Peserta didik.
Untuk memantau bakat, minat, kreativitas, dan kemampuan peserta didik
diperlukan beberapa perangkat. Perangkat yang paling sederhana adalah
lembar-lembar catatan. Selain catatan, bakat, minat dan kreativitas serta
kemampuan juga dapat dipantau dengan daftar isian atau angket. Kepada
peserta didik disodorkan sejumlah pernyataan agar diselaraskan dengan
keberadaan diri mereka. Perangkat lain yang digunakan untuk pemantaun bakat,
minat, kreativitas, dan kemampuan adalah tes. Dengan menjalani tes berbagai
potensi seorang peserta didik akan terjaring. Tes bisa berupa tulis, lisan,
atau bahkan perbuatan. Seseorang dikatakan berbakat melukis baru akan
terdeteksi bila ia telah menghasilkan sesuatu goresan yang berupa gambar
atau sketsa. Seorang dikatakan berbakat menyanyi bila suaranya terdengar
merdu dan memiliki kepekaan lebih dibandingkan orang kebanyakan yang tidak
memiliki potensi bidang ini. Demikian pun orang baru akan dikatakan kreatif bila
ekspresi jiwanya dalam bentuk karya apa saja mempunyai ciri khas, yakni nilai
orisinal dan mengandung unsur yang unik.
Berbagai perangkat pemantau bakat, minat, kreativitas, dan kemampuan ini
sangat diperlukan untuk dua belah pihak. Di pihak pertama untuk kepentingan
peserta didik. Sebagaimana disadari bersama karena kewajiban sekolah adalah
mengembangkan keempat aspek di atas, dipersiapkannya alat pantau itu akan
lebih memudahkan memberi layanan kepada peserta didik. Di sisi lain, untuk
kepentingan sekolah alat pantau itu akan memudahkan tata kerja. Bila sewaktu-
waktu ada kepentingan, misalnya sekolah agar mengirimkan beberapa orang
dalam lomba tarik suara, baca puisi, dan berpidato, dalam waktu secepatnya
akan mudah ditemukan personal yang akan diwakilkan.
Pada sekolah-sekolah yang akan menciptakan keunggulan sebagai salah
satu penciri kelebihan sekolah tertentu dari lainnya, perangkat pemantau ini akan
lebih dipersiapkan dengan baik. Sebagai contoh, salah satu SMP ternyata
keunggulannya di bidang sepak bola. Alat pantau yang dipersiapkan dari awal
guna menjaring peserta didik yang akan dihimpun tim sepak bola sekolah bisa
menggunakan bermacam prosedur seperti dikemukakan di atas. Termasuk
pemantau bakat, minat, kreativitas, dan kemampuan adalah tersedianya
lapangan atau media pencurahan ekspresi. Sangat mungkin ketika peserta didik
wanita bermain di lapangan bola, voli, atau tenis baru ketahuan bahwa
sebenarnya seseorang berbakat dan tergolong memiliki tingkat kreativitas yang
tinggi dan berkemampuan prima. Sementara itu, peserta didik yang bersangkutan
tidak merasa bahwadirinya memiliki kelebihan itu. Atau, anak itu hanya kurang

14
minat saja pada sesuatu bidang yang sebenarnya dia mampu, sehingga setelah
hal itu diketahui oleh sekolah anak akan bisa dibangkitkan minatnya.
3) Menyelenggarakan Wahana Penuangan Kreativitas
Sekolah adalah tempat tunas-tunas muda tumbuh dan berkembang. Baik
fisik maupun mental serta berbagai potensi yang melekat dalam diri peserta didik
pada hakikatnya memerlukan bimbingan dari pihak orang-orang lebih dewasa.
Mengingat orang tua peserta didik pada umumnya lebih banyak memintakan
bimbingan tersebut kepada pihak sekolah, sekolah harus bersiap diri dalam
menyelenggarakan wahana berbagai penuangan bakat, minat, kreativitas, dan
kemampuan peserta didik. Beberapa wahana yang bisa diselenggarakan oleh
sekolah antara lain meliputi bidang-bidang olah raga, kesenian, dan
keterampilan sehingga akan membentuk sikap yang bertanggungjawab dalam
kehidupan sehari-hari.
a) Fasilitas olah raga
Tiap sekolah mempunyai kondisi yang berbeda dalam menyediakan fasilitas
olah raga. Ada sekolah yang mempunyai fasilitas sangat lengkap, sebaliknya
ada dan jauh lebih banyak lagi yang minim fasilitas. Bila fasilitas
selengkapnya ada idealnya sekolah mempunyai:
- lapangan sepak bola
- lapangan bola basket
- lapangan voli
- lapangan badminton
- lapangan tenis
- lapangan tenis meja
- gedung/hall olah raga
- berbagai sarana olah raga
Berbagai sarana olah raga seperti yang diuraikan di atas adalah
bermacam perlengkapan pendukung olah raga yang berupa fasilitas
tambahan hingga peralatan pokok olah raga. Termasuk fasilitas tambahan
misalnya: bak lompat jauh papan loncat tinggi dan loncat galah, papan-
papan loncat jangkit. Piranti-piranti olah raga di dalam gedung misalnya
berlapis-lapis boks untuk ketangkasan olah raga dalam ruangan, bahkan pun
tali-tali besar yang dipergunakan untuk tangkas bergelantung atau berayun
demi penguatan otot-otot sekaligus membina keberanian peserta didik.
Termasuk peralatan olah raga adalah bermacam bola, raket, net, kostum
yang semua itu diperlukan demi terselenggaranya kegiatan olah raga secara
memadai di sekolah sehingga akan menumbuhkan nilai-nilai karakter
toleran, taat hukum, kreatif, kerjasama dan menjadi teladan bagi sekolah lain.
b) Fasilitas Seni
Fasilitas seni adalah bermacam peralatan untuk mengembangkan bidang
seni. Sejumlah bidang seni yang dapat dikembangkan adalah:
- Seni musik
Dari yang paling ideal hingga sangat sederhana, antara lain

15
seperangkat alat bermain band; perlengkapan vokal group; seperangkat
alat musik kolintang; samroh; dan jenis kesenian yang Iain. Untuk
mendukung kegiatan ini diperlukan sound system yang memadai dan
peralatan pendukung untuk kegiatan bermain musik.
- Seni Sastra
Fasilitas seni sastra misalnya sejumlah buku literatur, buku buah karya
pilihan yang berupa puisi, novel, dan naskah-naskah drama. Fasilitas
seni sastra lain misalnya media untuk menuangkan gagasan dalam
bentuk majalah dinding, majalah sekolah, papan tempel surat kabar/
majalah; ruang berlatih drama, dan fasilitas pengeras suara yang
canggih, kaset, CD, dan piranti mengatur tata lampu pentas.
- Seni Tari
Fasilitas yang dibutuhkan dalam seni tari adalah musik pengiring
seperti gamelan, tape recoder, kaca pantul, costum pentas, dan
ruang khusus yang diperuntukkan kiprah mereka yang menggeluti
bidang ini.

c) Mewadahi/Menyalurkan Bakat, Minat, dan Kreativitas Peserta didik


Mewadahi atau menyalurkan bakat, minat, dan kreativitas peserta didik
berarti menciptakan daya dukung agar peserta didik yang memiliki bakat,
minat, dan kreativitas pada bidang-bidang yang disebutkan tadi mendapat
saluran. Bakat main bola, menyanyi, bermusik, menari, membaca puisi,
menulis cerpen, dan main drama sedapat mungkin diwadahi oleh sekolah
sehingga peserta didik merasa memperoleh penyaluran potensi yang mereka
miliki.
Langkah-langkah yang ditempuh untuk itu:
1) Mendata bakat, minat, kreativitas peserta didik;
2) Mengklasifikasi data sesuai bakat, minat, dan kreativitas peserta didik
3) Menyusun program atau jadwal;
4) Mengalokasikan dana;
5) Menyediakan sarana yang dibutuhkan;
6) Merencanakan penampilan karya / gelar seni /berpentas
7) Melakukan evaluasi.

Wadah sebagaimana kegiatan tersebut di atas diwujudkan dalam bentuk


kegiatan kegiatan ekstrakurikuler. Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan
Ekstrakurikuler Pada Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah
menyatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang
dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan
kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan.
Kegiatan ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk
mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama,

16
dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung
pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Kegiatan ekstrakurikuler terdiri atas:
1) Kegiatan ekstrakurikuler wajib.
2) Kegiatan ekstrakurikuler pilihan.
Kegiatan ekstrakurikuler wajib merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang
wajib diselenggarakan oleh satuan pendidikan dan wajib diikuti oleh seluruh
peserta didik, berbentuk pendidikan kepramukaan. Kegiatan ekstrakurikuler
pilihan sebagaimana merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan
dan diselenggarakan oleh satuan pendidikan sesuai bakat dan minat peserta
didik, dapat berbentuk latihan olah bakat dan latihan olah minat.
Pengembangan berbagai bentuk kegiatan ekstrakurikuler pilihan
dilakukan dengan mengacu pada prinsip (1) partisipasi aktif dan (2)
menyenangkan.
Bentuk kegiatan ekstrakurikuler dapat berupa:
(1) Krida, misalnya: Kepramukaan, Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS),
Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS),
Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), dan lainnya.
(2) Karya ilmiah, misalnya: Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan
penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian, dan
lainnya.
(3) Latihan olah-bakat latihan olah-minat, misalnya: pengembangan bakat
olahraga, seni dan budaya, pecinta alam, jurnalistik, teater, teknologi
informasi dan komunikasi, rekayasa, dan lainnya.
(4) Keagamaan, misalnya: pesantren kilat, ceramah keagamaan, baca tulis
Al Qur’an, retreat.
(5) Bentuk kegiatan lainnya.

Pengembangan berbagai bentuk Kegiatan Ekstrakurikuler Pilihan dilakukan


melalui tahapan:
1) Identifikasi kebutuhan, potensi, dan minat peserta didik.
2) Analisis sumber daya yang diperlukan untuk penyelenggaraannya.
3) Pemenuhan kebutuhan sumber daya sesuai pilihan peserta didik atau
menyalurkannya ke satuan pendidikan atau lembaga lainnya.
4) Penyusunan program Kegiatan ekstrakurikuler.
5) Penetapan bentuk kegiatan yang diselenggarakan.
Yang harus disadari benar oleh kepala sekolah selaku pemimpin dan
manajer di sekolah adalah orientasi dari kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Pada
hakekatnya seluruh layanan yang disediakan di sekolah dalam berbagai bentuk,
temasuk di dalamnya kegiatan ekstrakurikuler, harus bermuara pada peningkatan
kapasitas peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Kegiatan Ekstrakurikuler pada satuan pendidikan dikembangkan dengan
prinsip:

17
(1) partisipasi aktif, artinya menuntut keikutsertaan peserta didik secara penuh
sesuai dengan minat dan pilihan masing-masing; dan
(2) menyenangkan, yakni dilaksanakan dalam suasana yang
menggembirakan bagi peserta didik.
Adapun lingkup kegiatan ekstrakurikuler ada dua besaran, yaitu
(1) Individual, yakni kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh peserta didik
secara perorangan.
(2) Berkelompok, yakni kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh peserta didik
secara :
(a)Berkelompok dalam satu kelas (klasikal).
(b)Berkelompok dalam kelas paralel
(c) Berkelompok antarkelas.

2. Penugasan (20 menit)


Tugas 01: Pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter dalam program
pengembangan minat dan bakat.

Petunjuk Pengerjaan:
a. Berkelompoklah dalam 4-5 orang dengan jenjang pendidikan yang sama.
b. Bacalah uraian tugas dengan cermat.
c. Diskusikan dalam kelompok.
d. Gunakan laptop untuk menuangkan hasil diskusi.
e. Presentasikan hasil kerja kelompok.
f. Beri komentar dan masukan pada kelompok lain.

Penugasan
Rencanakan minimal empat macam kegiatan pengembangan bakat dan minat yang
bisa dikembangkan di sekolah, dan identifikasi nilai-nilai karakter yang bisa
diintegrasikan pada kegiatan tersebut. Gunakan format 1 (LK 01) untuk mengerjakan
tugas ini.

A. Kegiatan Pembelajaran 2
Perencanaan, Pelakanaan, dan dan Evaluasi Kegiatan Pengembangan Bakat,
Minat, dan Kreativitas Peserta Didik.

1. Materi
Setiap kegiatan dalam bentuk apa pun terbagi dalam tiga kriteria besar, yaitu
perencanaan, pelaksanaan, dan evlauasi atau Planning-Implementing-Evaluating (P-I-
E). Perencanaan adalah awal dari seluruh tindakan manajemen. Dengan demikian
satuan pendidikan wajib menyusun perencanaan kegiatan pengembangan kapasistas,
minat dan bakat peserta didik dalam bentuk rogram yang merupakan bagian dari
Rencana Kerja Sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler pada dasarnya mengembangkan

18
bakat, minat, kreativitas, dan kemampuan peserta didik, yakni potensi besar yang
harus difasilitasi dengan baik oleh satuan pendidikan sehingga akan membentuk
siswa-siswi yang berkarakter toleran, taat hukum, profesional dan kreatif, kerjasama
dan keteladanan.
Penyusunan program adalah suatu aktivitas yang bermaksud memilih kegiatan-
kegiatan yang sudah diidentifikasi dalam langkah kebijakan. Hal ini harus dilakukan,
karena tidak semua kegiatan yang diidentifikasi tersebut nantinya dapat dilaksanakan.
Dengan perkataan lain, penyusunan program berarti seleksi atas kegiatan-kegiatan
yang sudah diidentifikasi dalam kebijakan.
Ada beberapa pertimbangan dalam seleksi kegiatan ini. Pertimbangan tersebut
antara lain:
(1) Seberapa besar kegiatan tersebut berkontribusi pada tujuan pendidikan;
(2) Pertimbangan ketersedianaan sumber daya manusia, biaya, dan sarana
sekolah
(3) Ketersediaan waktu;
(4) Kemungkinan hambatan yang terjadi.
Pertimbangan-pertimbangan tersebut perlu dilakukan, agar apa yang
direncanakan benar-benar tercapai sesuai dengan target yang ditetapkan. Dengan
demikian, kegiatan yang diprogramkan tersebut benar-benar realistik dan dapat
dilaksanakan. Kegiatan yang diprogramkan tersebut akhirnya menjadi berbobot dan
bermakna, karena memiliki andil yang jelas dalam pencapaian tujuan pendidikan.
Program kegiatan ini kadang dipersempit dengan penggunanaan istilah
program kegiatan ekstrakurikuler. Program yang disusun tersebut selanjutnya
disosialisasikan kepada peserta didik dan orangtua/wali pada setiap awal tahun
pelajaran. Program kegiatan kegiatan pengembangan bakat dan minat i minimal yang
memuat:
(1) rasional dan tujuan umum;
(2) deskripsi setiap kegiatan pengembangan diri;
(3) mekanisme pengelolaan;
(4) pendanaan;
(5) Evaluasi.

Perencanaan yang baik akan sangat membantu bagaimana proses


pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik. Agar berjalan dengan baik, kegiatan
ekstrakurikuler sebaiknya dilengkapi dengan panduan kegiatan berupa pedoman
penyelengaraan kegiatan pengembangan kapasitas, bakat dan minat peserta didik,
yang memuat antara lain:

(1) Kebijakan;
(2) Rasional dan tujuan kebijakan program;
(3) Deskripsi program, meliputi:
- Jenis-jenis kegiatan yang disediakan;
- tujuan dan kegunaan kegiatan;
- keanggotaan/kepesertaan dan persyaratan;

19
- jadwal kegiatan;
(4) Manajemen program, meliputi:
- Struktur organisasi dan uraian tugas pengelolaan program;
- Mekanisme pemantauan dan supervisi yang akan dilakukan oleh satuan
pendidikan untuk masing-masing kegiatan ekstrakurikuler; dan
(5) Panduan penilaian kegiatan ektra kurikuler.
(6) Pendanaan program ekstrakurikuler.
(7) Lampiran-lampiran, berupa format-format yang digunakan untuk mendukung
kegiatan, antara lain format silabus, daftar hadir, jurnal kegiatan, daftar nilai,
instrumen pemantauan, format kesanggupan peserta didik, format izin orang
tua, dan instrumen lain yang diperlukan.
Sebagai sebuah proses manajemen sekolah, kegiatan ekstrakurikuler harus
dilakukan monitoring atau pemantuan, dengan tujuan:
(a) Memberikan masukan tentang kebutuhan dalam melaksanakan program,
(b) Mendapatkan gambaran ketercapaian tujuan setelah adanya kegiatan.
(c) Memberikan informasi tentang metode yang tepat untuk
melaksanakan kegiatan.
(d) Mendapatkan informasi tentang adanya kesulitan-kesulitan dan
hambatan-hambatan selama kegiatan.
(e) Memberikan umpan balik bagi sistem penilaian program;
Pemantauan berupa upaya untuk mengetahui, berperan untuk mengetahui
apakah kemampuan seseorang peserta didik dalam berbagai bidang sebagaimana
yang telah dilayani penyalurannya oleh sekolah berjalan lancar. Di sisi lain
pemantauan ini mempunyai fungsi untuk menentukan kebijakan penanganan pada
tahap berikutnya terlebih-lebih demi sukses program yang telah dilaksanakan.
Hasil pantauan adalah catatan-catatan penting mengenai pelaksanaan berbagai
kegiatan tentang seluruh individu peserta didik. Catatan itu secara garis besar
mengenai hal-hal:
(1) Bagaimana kondisi umum kemampuan peserta didik
(2) Kendala apa yang terjadi pada masing-masing bidang
(3) Adakah kemampuan yang menonjol pada masing-masing bidang.
Karena fungsi pantauan adalah untuk menentukan langkah ke depan, maka
setelah dilakukan pemantauan itu beberapa kegiatan yang menyertai adalah :
(1) Melakukan review untuk tindak lanjut demi langkah perbaikan. Misalnya
dalam kenyataan terdapat beberapa orang peserta didik yang setelah
melaksanakan berbagai kegiatan ternyata kemampuannya sangat minim.
Berarti, ada ketidakcocokan antara hasil tes atau penjajagan atau pun
penentuan oleh sekolah tentang sesuatu pilihan berkenaan kemampuan
peserta didik.
(2) Melakukan pembenahan. Peserta didik yang terlihat kurang berkemampuan
dibangkitkan semangatnya. Atau sangat mungkin justru terjadi perubahan.
Ada alternatif, karena sesuatu pertimbangan peserta didik menjadi memilih
bidang yang lain, meskipun telah mengikuti kegiatan selama beberapa
waktu.

20
(3) Melakukan tindak lanjut berkenaan poin 2). Misalnya kalau didapati anak
sangat berbakat sehingga penanganannya harus berbeda dengan para
peserta didik pada umumnya. Misalnya kalau seorang anak SMP ternyata
mempunyai prestasi olah raga tenis yang sangat mengagumkan. Atau, bisa
menghasilkan lukisan dalam kualitas yang menakjubkan. Dalam hal yang
demikian itu, terkait dua peserta didik yang mempunyai kemampuan luar
biasa itu harus mendapatkan layanan dari pihak sekolah. Cara yang diambil
misalnya dengan menitipkan kedua anak berprestasi itu kepada klub-klub
kenamaan/sanggar-sanggar ternama.
Dalam melaksanakan pemantauan, hendaknya perlu diingat hal-hal berikut:
(1) Pemantauan harus kontinyu
(2) Dilakukan secara objektif
(3) Kriteria pemantauan harus jelas.
Sebagaimana halnya pemantauan proses pembelajaran di satuan pendidikan,
seyogyanya proses pemantauan dan evaluasi menggunaka instrumen , sehingga
lebih mudah dianalisis dan ditindaklanjuti. Instrumen dikembangkan berdasarkan
indikator-indikator keberhasilan proses dan hasil yang disepakati bersama di satauan
pendidikan tersebut.
Sebagai sebuah siklus manajemen, satuan pendidikan harus melakukan
evaluasi program kegiatan ekstrakurikuler pada setiap akhir tahun ajaran untuk
mengukur ketercapaian tujuan pada setiap indikator yang telah ditetapkan. Hasil
evaluasi digunakan untuk penyempurnaan program kegiatan ekstrakurikuler tahun
ajaran berikutnya. Proses evaluasi dapat dilakukan dalam bentuk rapat atau diskusi
dengan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan kegiatan tersebut.
Bahan yang bisa diolah untuk kegiatan evaluasi antara lain:
(1) Hasil pemantauan selama proses kegiatan,
(2) Masukan dan saran dari pembina kegiatan;
(3) Masukan dari peserta didik peserta kegiatan;
(4) Masukan dari orang tua atau wali peserta didik;
(5) Kebijakan baru dari pemerintah;
(6) Nilai peserta didik;
Tujuan evaluasi terhadap suatu program/kegiatan, seperti yang dijelaskan oleh
Kirkpatrik (1994), adalah sebagai berikut.
(a) Untuk menilai keefektifan program;
(b) Untuk menunjukkan atau melihat dampak
(c) Untuk memperkuat atau meningkatkan akuntabilitas
(d) Untuk medapatkan masukan terhadap pengambilan keputusan untuk
perbaikan program berikutnya.
Hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam pengelolaan kegiatan
ekstrakurikuler atau pengembangan kapasitas, minat, bakat adalah penilaian peserta
didik. Sebagai sebuah aktivitas pendidikan, kemajuan serta keikutsertaannya dalam
kegiatan ekstrakurikuler harus dilakukan penilaian. Satuan pendidikan harus
memberikan nilai terhadap peserta didik dalam pengembangan diri atau kegiatan

21
ekstrakurikuler secara kualitatif dan dideskripsikan pada rapor peserta didik. Peserta
didik berhak mendapatkan nilai sesuai dengan keikutsertaaanya, dan nilai
ekstrakurikuler wajib mempengaruhi kenaikan kelas yang bersangkutan. Dengan
demikian proses penilaian dalam kegiatan ekstrakurikuler harus tetap mengacu pada
prinsip-prinsip dan prosedur penilaian pendidikan.
Selain melakukan penilaian, satuan pendidikan sebaiknya juga memberikan
penghargaan kepada peserta didik yang memiliki prestasi menonjol atau
cemerlang pada kegiatan ekstrakurikuler. Dengan penghargaan tersebut diharapkan
membangkitkan motivasi bagi yang bersangkutan dan bagi peserta didik lainnya.
Kebiasaan satuan pendidikan memberikan penghargaan terhadap prestasi baik akan
menjadi bagian dari diri peserta didik setelah mereka menyelesaikan pendidikannya
untuk terbiasa menghargai dan mengapresiasi prestasi dan karya orang lain, sebagai
salah satu bentuk pendidikan karakter. Penghargaan tersebut dapat diberikan untuk
satu kurun waktu akademik tertentu, misalnya pada setiap akhir semester, akhir
tahun, atau pada waktu peserta didik telah menyelesaikan seluruh program
pembelajarannya.

2. Penugasan
Tugas 02:
LK 02: Studi Kasus Pengembangan Bakat Minat Peserta Didik

Petunjuk Pengerjaan:
(1) Berkelompoklah dalam 4-5 orang dengan jenjang pendidikan yang sama.
(2) Bacalah kasus dengan cermat.
(3) Diskusikan pemecahan masalahnya.
(4) Gunakan laptop untuk menuangkan hasil diskusi.
(5) Presentasikan hasil kerja kelompok.
(6) Beri komentar dan masukan pada kelompok lain.

Penilaian:
a. Skor 4 : apabila bisa menemukan 5 alternatif solusi dengan tepat (sarpras
olahraga, sarpras kesenian, peserta didik berkebutuhan khusus,
kegiatan OSIS yang belum berjalan dengan baik, dan pembinaan
OSIS yang masih kurang)
b. Skor 3 : apabila bisa menemukan 4 alternatif solusi dengan tepat (sarpras
olahraga, sarpras kesenian, peserta didik berkebutuhan khusus,
kegiatan OSIS yang belum berjalan dengan baik, dan pembinaan
OSIS yang masih kurang)
c. Skor 2 : apabila bisa menemukan 3 alternatif solusi dengan tepat (sarpras
olahraga, sarpras kesenian, peserta didik berkebutuhan khusus,
kegiatan OSIS yang belum berjalan dengan baik, dan pembinaan
OSIS yang masih kurang)
d. Skor 1 : apabila bisa menemukan 2 alternatif solusi dengan tepat (sarpras
olahraga, sarpras kesenian, peserta didik berkebutuhan khusus,

22
kegiatan OSIS yang belum berjalan dengan baik, dan pembinaan
OSIS yang masih kurang)

Kasus:
Sekolah Cendekia memiliki 288 peserta didik, dua diantaranya peserta didik
berkebutuhan khusus. Satu low vision yang tidak bisa membaca dari jarak jauh dan
satu peserta didik memiliki cacat fisik sejak lahir yang membutuhkan kursi roda untuk
mobilitasnya. Sekolah tersebut diminati oleh masyarakat sekitar, namun memiliki
keterbatasan dalam sarana dan prasarana di bidang olahraga dan kesenian.
Lapangan olahraga yang tersedia adalah lapangan voli, sementara untuk alat musik
terdapat seperangkat alat rebana, 12 buah seruling dan 3 buah gitar. Kegiatan OSIS
pun kurang berjalan dengan baik karena ketua OSIS hanya mengadakan rapat satu
kali dan tidak ada tindak lanjut dari guru pembina OSIS.
1. Bagaimanakah tindakan Anda sebagai kepala sekolah dalam mengembangkan
bakat dan minat peserta didik dengan kondisi sekolah tersebut? Kerjakan pada
LK 2.
2. Rancanglah salah satu instrumen untuk melakukan pemantauan kegiatan
pengembangan bakat dan minat tersebut.

C. Refleksi
1. Hal-hal apa saja yang sudah Saudara kuasai setelah mendapatkan pembelajaran
mengenai Penempatan dan Pengembangan Kapasitas Peserta Didik dan
Pengembangan Bakat dan Minat Peserta Didik?
2. Hal-hal apa saja yang belum Saudara kuasai setelah mendapatkan pembelajaran
mengenai Penempatan dan Pengembangan Kapasitas Peserta Didik dan
Pengembangan Bakat dan Minat Peserta Didik?
3. Apa yang Saudara ketahui tentang pendidikan inklusif?
4. Apa yang Saudara ketahui tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)?

D. Simpulan
Pengelolaan peserta didik adalah kegiatan pengaturan peserta didik mulai dari
masuk sampai lulus sekolah, baik di luar mapun di dalam kelas untuk mengantarkan
peserta didik menjadi lebih matang. Banyak aktivitas kegiatan pengelolaan peserta
didik, namun pada akhirnya harsu bermuara pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Oleh karena itu pengelolan peserta didik harus menjadi bagian integral dari
manajemen sekolah dalam rangka mencapai visi dan misi satuan pendidikan kawah
pendadaran dan pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik
menjadi manusia seutuhnya. Salah satu kegiatan penting dalam pengelolaan peserta
didik adalah pengembangan kapasitas, bakat, dan minat peserta didik.
Agar program kegiatan pengelolaan peserta didik berjalan, maka perlu dilakukan
dalam siklus manajemen berupa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi atau
planning-implementing-evaluating (PIE). Dengan siklus ini diharapkan program
berjalan dengan baik dan terjadi perbaikan proses maupun hasil terus menerus dari
waktu ke waktu.

23
Sebagai bentuk tanggung jawab moral, pengelolaan peserta didik harus
mengakomodasi kebutuhan khusus peserta didik, yang dikenal dengan pendidikan
inklusi. Selain itu kegiatan pengelolaan peserta didik, khususnya kegiatan
pengembangan kapasitas, minat, dan bakat harus mengintegrasikan nilai-nilai
pendidikan karakter bangsa, agar olah pikir, olah hati, dan olah tubuh berproses
dengan harmonis sehingga menjadi manusia yang berguan bagi dirinya, keluarganya,
masyarakat lingkungan, agama, bangsa dan negara. .

24
DAFTAR PUSTAKA

Dirtendik, Dirjen PMPTK. 2007. Materi Diklat Manajemen Kepesertadidikan (Peserta Didik).
Fajarwati, Dian. 2016. Membangun Sekolah Berbasis Kecerdasan Majemuk. Jakarta: Grha
Cipta Media.
Kirkpatrick, D. L. 1994. Evaluating Training Programs. San Francisco: Berrett-Koehler
Publishers, Inc.
Mulyasa, E, 2011. Manajemen Berbasisi Sekolah: Konsep, Strategi,dan Implementasi.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sutopo, Hidayat. 1982. Dasar-Dasar Administrasi Pendidikan. Malang: Departemen
Administrasi Pendidikan FIP IKIP Malang.
Utami Munandar.2002. Anak Unggul Berotak Prima. Jakarta: PT. Gramedia.
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195607221985031-
SUNARYO/Makalah_Inklusi.pdf

25
BAHAN BACAAN

1. Permendiknas No 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana


Sekolah/Madrasah.
2. Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan
3. Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inkusif Bagi Peserta Didik
yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
4. Permendikbud Nomor 23 Tahun 2013 Tentang Standar Pelayanan Minimal Pendidikan.
5. Permendikbud.Nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum
SD/Madrasah Ibtidaiah.
6. Permendikbud.Nomor 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum
SMP/MadrasahTsanawiyah.
7. Permendikbud.Nomor 69 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum
SMA/Madrasah Alyah.
8. Permendikbud.Nomor 70 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum
SMK/MadrasahAlyah Kejuruan.
9. Permendikbud Nomor 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler Pada
Pendidikan Dasar Dan Pendidikan Menengah.
10. Permendikbud Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai
Eksrakurikuler Wajib bagi Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
11. Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada
Pendidikan Dasar dan Menengah
12. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas
Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
13. Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti
14. Inpres. Nomor 09 tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan pada
pendidikan Vokasi.
15. Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas
16. Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS)
bagi Siswa Baru
17. Permendikbud No. 17 Tahun 2017 tentang Sistem Zonasi dalam Penerimaan Peserta
Didik Baru (PPDB).
18. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan
Karakter (PPK)

26
LK A-01

Petunjuk Pengerjaan:
1. Berkelompoklah dalam 4-5 orang dengan jenjang pendidikan yang sama.
2. Bacalah soal dengan cermat.
3. Diskusikan bersama anggota kelompok.
4. Tuliskan hasil diskusi dalam program power point presentation.
5. Presentasikan hasil kerja kelompok.
6. Beri komentar dan masukan pada kelompok lain.
Soal:
Diskusikan praktik baik penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik di sekolah
Saudara dimulai dari perencanaan, penerimaan peserta didik baru, Masa Pengenalan
Lingkungan Sekolah (MPLS) dan bimbingan konseling dengan mempertimbangkan
penguatan pendidikan karakter!

Jawaban:

27
LK B-01

Petunjuk Pengerjaan:
1. Berkelompoklah dalam 4-5 orang dengan jenjang pendidikan yang sama.
2. Bacalah kasus dengan cermat.
3. Diskusikan pemecahan masalahnya.
4. Gunakan laptop untuk menuangkan hasil diskusi.
5. Presentasikan hasil kerja kelompok.
6. Beri komentar dan masukan pada kelompok lain.

Kasus:
Sekolah Cendekia memiliki 288 peserta didik, dua diantaranya peserta didik berkebutuhan
khusus. Satu low vision yang tidak bisa membaca dari jarak jauh dan satu peserta didik
memiliki cacat fisik sejak lahir yang membutuhkan kursi roda untuk mobilitasnya. Sekolah
tersebut diminati oleh masyarakat sekitar, namun memiliki keterbatasan dalam sarana dan
prasarana di bidang olahraga dan kesenian. Lapangan olahraga yang tersedia adalah
lapangan voli, sementara untuk alat musik terdapat seperangkat alat rebana, 12 buah
seruling dan 3 buah gitar. Kegiatan OSIS pun kurang berjalan dengan baik karena ketua
OSIS hanya mengadakan rapat satu kali dan tidak ada tindak lanjut dari guru pembina OSIS.

Bagaimanakah tindakan Anda sebagai kepala sekolah dalam mengembangkan bakat dan
minat peserta didik dengan kondisi sekolah tersebut?

Jawaban:

28