Anda di halaman 1dari 4

Halaman Pengesahan

LAPORAN KEGIATAN
F.2. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN

TOPIK : STBM

Diajukan dalam rangka praktik klinis dokter internsip sekaligus


sebagai bagian dari persyaratan menyelesaikan program internsip
dokter Indonesia di Puskesmas Berbah

Disusun Oleh:
dr. Rully Riyandika
Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal Agustus 2017

Oleh
Pembimbing Dokter Internsip Indonesia

dr.
NIP. 197003212007012012

LAPORAN KEGIATAN
F.2. UPAYA KESEHATAN LINGKUNGAN

1. Latar belakang
Indonesia masih menghadapi permasalahan higiene dan sanitasi. Hasil Riskesdas 2010
menunjukkan 25% masyarakat menggunakan jamban tidak sehatdan 17,7% masih melakukan
Buang Air Besar Sembarangan(BABS. Diare merupakan penyebab kematian nomor satu di
Indonesia, yaitu 42% dari total kematian usia 0 –11 bulan. Sekitar 162.000 bayi meninggal
setiap tahun, atau 460 bayi per hari (Riskesdas 2010). Secara umum dikatakan, bayi usia di
bawah 2 tahun yang menderita diare sedang sampai diare berat setiap tahun mengalami
gangguan pertumbuhan dibandingkan dengan bayi usia dua tahun yang lain.
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disebut STBM merupakan
pendekatan dan paradigma baru pembangunan sanitasi di Indonesia yang mengedepankan
pemberdayaan masyarakat dan perubahan perilaku. STBM ditetapkan sebagai kebijakan
nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
852/MENKES/ SK/IX/2008 untuk mempercepat pencapaian MDGs tujuan 7C, yaitu
mengurangi hingga setengah penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan
sanitasi pada tahun 2015. Tahun 2014, Kepmenkes ini diganti dengan Peraturan Menteri
Kesehatan No.3 Tahun 2014 tentang STBM. Adapun tujuan penyelenggaraan STBM adalah
untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri dalam
rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Diharapkan
pada tahun 2025, Indonesia bisa mencapai sanitasi total untuk seluruh masyarakat,
sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)
Indonesia.
Pendekatan STBM diadopsi dari hasil uji coba Community Led Total Sanitation (CTS)
yang telah sukses dilakukan di beberapa lokasi proyek air minum dan sanitasi di Indonesia,
khususnya dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk mengubah perilaku buang air
besar sembarangan (BABS) menjadi buang air besar di jamban yang higienis dan layak.
Perubahan perilaku BAB merupakan pintu masuk perubahan perilaku santasi secara
menyeluruh. Atas dasar pengalaman keberhasilan CLTS, pemerintah menyempurnakan
pendekatan CLTS dengan aspek sanitasi lain yang saling berkaitan yang ditetapkan sebagai 5
pilar STBM, yaitu (1) Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS), (2) Cuci Tangan Pakai
Sabun (CTPS), (3) Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT), (4)
Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PS-RT), dan (5) Pengamanan Limbah Cair Rumah
Tangga (PLC-RT). Pendekatan STBM terdiri dari tiga strategi yang harus dilaksanakan secara
seimbang dan komprehensif, yaitu: 1) peningkatan kebutuhan sanitasi, 2) peningkatan
penyediaan akses sanitasi, dan 3) penciptaan lingkungan yang kondusif.

2. Permasalahan Masyarakat
Kurangnya kesadaran masyarakat berbah akan pentingnya STBM cukup rendah hal ini
ditandai dengan meningkatkan angka kesakitan yang berkaitan oleh sanitasi lingkungan
masyarakat seperti diare, DBD, Tifoid. Dengan tingginya angka-angka ini perlu dilakukan
reminding atau mengingatkan kembali kepada masyarakat akan pentingnya STBM.

3. Perencanaan dan Pemilihan Intervensi


Metode yang dipilih untuk pemantauan sanitasi total berbasis masyarakata adalah
dengan penyuluhan dan Tanya jawab bersama 25 kepala keluarga. Materi pertanyaan berupa
kriteria jamban sehat, pengelolaan air minum dan makan pembuangan dan pengelolaan
limbah rumah tangga

4. Jadwal Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Rabu, 5Oktober 2016
Tempat : Balai Desa

5. Materi

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah suatu pendekatan untuk memobilisasi
masyarakat guna membebaskan secara tuntas kebiasaan buang air besar sembarangan dengan
pemberdayaan masyarakat melalui pemicuan. STBM adalah sebuah pendekatan untuk
memperbaiki kesehatan lingkungan masyarakat yang meliputi lima indikator kesehatan
lingkungan (pilar): 1) Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS); 2) Cuci Tangan Pakai
Sabun (CTPS); 3) Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT); 4)
Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PS-RT); 5) Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga
(PLC-RT).
Tujuan Umum STBM dalam Program ini dimaksudkan untuk memperbaiki kondisi
sanitasi dalam rangka menurunkan prevalensi stanting di Indonesia melalui perubahan
perilaku sanitasi dan higiene masyarakat Perubahan perilaku sanitasi dan hygiene dilakukan
melalui pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan akses terhadap sanitasi
Lima (5) tujuan khusus pelaksanaan STBM adalah sebagai berikut :
1) Meningkatkan ketrampilan petugas provinsi/kabupaten melaksanakan pelatihan pemicuan
dan pemantauan STBM, dan meningkatkan kemampuan petugas puskesmas dan kader
desa melakukan pemicuan dan paska pemicuan,
2) Melakukan pemicuan dan kelanjutan paska pemicuan masyarakat dusun/RW sampai
terjadi desa SBS,
3) Untuk mendapatkan d ukungan dan komitmen pemerintah daerah serta SKPD diprovinsi,
kabupaten dan kecamatan serta pemerintah desa untuk melaksanakan pemicuan dan
paska pemicuan STBM,serta kegiatan pemasaran sanitasi,
4) Memperbaiki akses masyarakat terhadap pelayanan, peralatan dan material sanitasi serta
pembiayaan,
5) Memperbaiki sistem dan penyelenggaraan pemantauan dan evaluasi program STBM

STBM mempunyai 3 komponen, yaitu enabling environment atau Peningkatan


Lingkungan yang kondusif, demand creation atau Peningkatan kebutuhan sanitasi dan Supply
improvement atau Peningkatan penyediaan suplai sanitasi. Keterkaitan ketiga komonen
digambarkan sebabagi berikut:

6. Evaluasi
Kegiatan penyuluhan dan Tanya jawab berjalan lancar. Didapatkan dari 25 kepala keluarga
yang hadir keseluruhan telah memiliki kriteri jamban sehat, pengelolaan minum dan makan
yang baik, namun terdapat permsalahan mengenai pembuangan limbah rumah tangga. Di
akhir sesi diadakan diskusi terbuka mengenai materi yang disampaikan, kemudian peserta
merespon dengan memberikan pertanyaan tentang isi materi yang dikaitkan dengan masalah
yang sering terjadi di lingkungan sekitar.