Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Definisi
Peilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik., baik
kepada diri sendiri maupun orang lain (Yosep, 2007). Perilaku
kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai
seseorang secara fisik maupun psikologis. Perilaku kekerasan dapat
dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan. Perilku kekerasan dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu
saat sedang berlangsung perilaku kekerasan atau riwayat perilaku
kekerasan (Deden dan Rusdi, 2013).
Menurut Stuart dan Laraia (2001, dalam Deden dan Rusdi, 2013)
perilaku kekersan merupakan respon maladaptif dan marah dimana
marah merupakan reaksi terhadap kecemasan yang meningkat dan
dirasakan sebagai ancaman. Sedangkan menurut Kelliat (1999, dalam
Direja, 2011) perilaku kekersan dipengaruhi oleh adanya predisposisi
(faktor yang timbul jauh sebelum perilaku kekerasan muncul yang
meliputi faktor biologis, psikologis, dan sosial budaya) dan presipitasi
(pencetus) dapat berasal dari internal maupun eksternal.

2. Etiologi
Menurut Iyus Yosep (2007) faktor penyebab perilaku kekerasan
meliputifaktor predisposisi Faktor predisposisi terjadinya masalah
perilaku kekerasan adalah faktor psikologis, sosial budaya,
predisposisi dan presipitasi.
a. Faktor psikologis
1) Psychoanalytical theori
Teori ini mendukung bahwa perilaku agresif merupakan
akibat dari instinctual drives
2) Frustasi-agresion theori
Teori ini di kembangkan oleh pengikut Freud yang
mengatakan bahwa bila usaha seseorang mengalami
hambatan makan akan timbul dorongan agresif yang pada
gilirannya akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk
melukai orang atau objek yang menyebutkan frustasi.
b. Faktor sosial budaya
Sosial-learning theori, teori yang dikembangkan oleh Bandura
(1977, dalam Syilga Cahya, 2012) mengemukakan bahwa
agresi tidak berbeda dengan respon-respon yang lain. Agresi
dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin
sering mendapatkan penguatan maka semakin besar
kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan berespon
terhadap emosionalnya secara agresif sesuai dengan respon
yang dipelajarinya.
c. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi menurut Stuart dan Sundeen (1995, dalam
Achir Yani S. Hamid, 2008), berbagai pengalaman yang
dialami tiap orang yang merupakan faktor predisposisi, artinya
mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan
jika faktor berikut dialami oleh individu :
1) Psikologi
2) Biologis
3) Perilaku
4) Sosial budaya
5) Aspek spiritual
d. Stresor Presipitasi
Secara umum, seseorang akan berespon dengan marah apabila
merasa dirinya terancam. Ancaman tersebut dapat berupa
injury secara psikis, atau lebih dikenal dengan adanya ancaman
terhadap konsep diri seseorang. Ketika seseorang merasa
terancam, mungkin dia tidak menyadari sama sekali apa yang
menjadi sumber kemarahannya. Oleh karena itu, baik perawat
maupun klien harus bersama-sama mengidentifikasinya.

3. Patofisiologi
Depkes (2000, dalam Rinaouw Disrimia, 2010) mengemukakan
bahwa stress, cemas dan marah merupakan bagian kehidupan sehari –
hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat
menyebabkan kecemasan yang meninmbulkan perasaan tidak
menyenangkan dan terancam. Kecemasan dapat menimblkan
kemarahan yang mengarah pada perilaku kekerasan. Respon terhadap
marah dapat diekspresikan secara eksternal maupun internal. Secara
eksternal dapat berupa perilaku kekerasan sedangkan secara internal
dapat berupa perilaku depresi dan penyakit fisik.
Mengekspresikan marah dengan perilaku konstruktif dengan
menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa
menyakiti orang lain, akan menimbulkan perasaan lega, menurunkan
ketegangan, sehingga perasaan marah dapat diatasi (Depkes, 2000).
Apabila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku kekerasan ,
biasanya dilakukan individu karena ia merasa kuat. Cara demikian
tentunya tidak akan menyelesaikan masalah bahkan dapat
menimbulkan kemarahan yang berkepanjangan dan dapat
menimbulkan tingkah laku destruktif, seperti tindakan kekerasan yang
diujukan kepada orang lain maupun lingkungan. Perilaku yang tidak
asertif seperti perasaan marah dilakukan individu karena merasa tidak
kuat. Individu akan pura – pura tidak marah atau melarikan diri dari
rasa marahnya sehingga rasa marah tidak terungkap. Kemarahn
demikian akan menimbulkan kemarahan destruktif yang ditujukan
kepadadiri sendiri (Depkes, 2000)

4. Tanda dan Gejala


Yosep (2009, p. 96) mengatakan bahwa tanda dan gejala perilaku
kekerasan adalah sebagai berikut :
a. Muka merah dan tegang
b. Pandangan tajam
c. Mengatupkan rahang dengan kuat
d. Mengepalkan tangan
e. Bicara kasar
f. Suara tinggi, menjerit, atau berteriak
g. Melempar atau memukul benda atau orang lain
h. Merusak barang atau benda
i. Tidak mempunyai kemampuan mencegah atau mengontrol perilaku
kekerasan

5. Penatalaksanaan
Dalam pandangan psikiatri (Ilmu Kedokteran Jiwa), jika seseorang
mengalami suatu gangguan atau penyakit, maka yang sakit atau
terganggu itu bukan terbatas pada aspek jiwanya saja atau raganya
saja, tetapi keduanya sebagai kebutuhan manusia itu sendiri. Menurut
pandangan holistik, manusi juga tidak terlepas dari lingkungannya,
karena itu pengobatan yang dilakukan juga harus memperlihatkan
ketiga aspek tersebut sebagai suatu kesatuan.
Adapun penatalaksanaan medik menurut MIF Baihaqi, dkk, 2005
sebagai berikut :
1) Somatoterapi
Dengan tujuan memberikan pengaruh – pengaruh langsung
berkaitan dengan badan, biasanya dilakukan dengan :
a) Medikasi psikotropik
Medikasi psikotropik berarti terapi langsung dengan obat
psikotropik atau psikofarma yaitu obat – obatan yang
mempunyainefek terapeutik langsung pada proses mental
pasien karena efek obat tersebut pada otak.
b) Terapi elektrokonvulasi (ECT)
Terapi ini dilakukan dengan cara mengalirkan listrik sinusoid
ketubuh penderita menerima aliran listrik yang terputus –
putus.
c) Somatoterapi yang lain
(1) Terapi konvulsi kardiasol, dengan menyuntikka larutan
kardiazol 10 % sehingga timbul konvulsi.
(2) Terapi koma insulin, dengan menyuntikka insulin sehingga
pasien menjadi koma, kemudian dibiarkan 1-2 jam,
kemudian dibangunkan dengan suntika gluk.
2) Psikoterapi
Psikoterapi adalh salah satu pengobatan ayau penyembuhan
terhadap suatu gangguan atau penyakit yang pada umumnya
dilakukan melalui wawancara terapi atau melalui metode – metode
tertentu misalnya : relaksasi, bermain dan sebagainya. Dapat
dilakukan secara individu atau kelompok, tujuan utamanya adalah
untuk menguatkan daya tahan mental penderita, mengembankan
mekanisme pertahanan diri yang baru dan lebih baik serta untuk
mengembalikan keseimbangan adaptifnya.
3) Manipulasi lingkungan adalah upaya untuk mempengaruhi
lingkungan pasien, sehingga bisa membantu dalam proses
penyembuhannya. Teknis ini terutama diberikan atau diterapkan
kepada lingkungan penderita, khususnya keluarga.
Fokus tindakan yang selama ini telah dilakukan untuk klien
dengan perilaku kekerasan (PK) adalah untuk mengontrol perilaku
dan dapat mengungkapkan kemarahannya secara asertif dan teknik
manajemen marah atau krisis. Selain intervensi dasar tersebut
diatas saat ini telah banyak dikembangkan terapi dalam mengatasi
gangguan jiwa yang salah satunya adalah terapi musik (Deden dan
Rusdi, 2013)
Musik merupakan sebuah rangsangan pendengaran yang
teorganisasi, terdiri atas : melodi, ritme, harmoni warna (timbre),
bentuk dan gaya. Terapi musik adalah keahlian menggunakan
musik atau elemen musik untuk meningkatkan, mempertahankan
serta mengembalikan kesehatan mental, fisik, emosional serta
spiritual (Setyohadi dan Kushariadi, 2011). Sedangkan menurut
Mary, John dan David (2015) bahwa musik adalah bentuk seni
yang paling sulit, namun berpengaruh besar terhadap pusat fisik
dan jaringan saraf. Musik juga mempengaruhi sistem saraf
parasimpatetis atau otomatis, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Terapi musik ini dapat menjadi salah satu metode
alternativ yang melengkapi terapi gangguan jiwa dengan indikasi
sepeti skizofrenia, perilaku kekerasan, gangguan alam perasaan
seperti depresi, gangguan perilaku, gangguan emosional, stress dan
kecemasan, delirium, melankolia dan mania (Sulistyowati, 2009).
Gambaran mekanisme musik dapat menurunkan emosional
seseorang dan memberikan rasa nyaman adalah melalui feedback
negatif ke kelenjar adrenal untuk menekan pengeluaran hormon
epineprin, norepineprin dan dopamine sehingga ketegangan dan
stress akhirnya berkurang. Selain itu secara fisiologis musik
memperbaiki sistem kimia tubuh sehingga dapat menurunkan
tekanan darah serta memperlambat pernafasan, detak jantung,
denyut nadidan aktifitas gelombang otak (Sulistyowati, 2009).
Sedangkan menurut Marry, John dan David (2015) bahwa terai
musik mempunyai kekuatan untuk menenangkan mahluk buas,
mengobati penyakit pada kelenjar thymus adalah contoh lain dari
energi penyembuhan. Kelenjar ini sangatlah penting dalam
mengatur energ tubuh. Kelenjar thymus adalah penghubung antara
pikiran dan tubuh. Saat seseorang menyimak musik atau menerima
energi warna dari musik yang difokuskan pada kelenjar thymus
dapat menyeimbangkan dan menyegarkan tautan antara tubuh dan
pikiran. Selain itu terapi musik bermanfaat meningkatkan
kesadaran spiritual sera menurunkan emosi.
Jenis musik yang dapat diterapkan sebagai terapi khususnya
pada klien dengan perilaku kekerasan adalh musik yang lembut
dan teratur seperti musik instrumental, pop dan musik klasik
karena ketiga musik tersebut bersifat datar, santai tidak mengentak
– hentak, nyaman didengar serta perubahan nadanya tidak terlalu
fluktuatif atau berubah – ubah sehingga diharapkan emosional
dapat dikontrol atau hilang. Beberapa ahli menyatakan bahwa
dalam terapi musik ini tidak dianjurkan untukmenggunakan musik
yang kera sepeti musik rock dan lain sebagainya karena dapat
memicu emosional (Setyoadi dan Kushariyadi, 2011).