Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0-28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat
rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-
baiknya. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia
. Namun, banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan
penyesuaian biokimia.

Masalah pada neonatus ini biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi pada masa perinatal.
Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga kecacatan. Masalah ini timbul sebagai akibat
buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang kurang memadai, manajemen persalinan yang tidak
tepat dan tidak bersih, serta kurangnya perawatan bayi baru lahir.

Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3
kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Salah satu kasus yang banyak
dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang masih memiliki kondisi kesehatan rendah adalah
kasus tetanus. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara
berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Mortalitasnya sangat tinggi karena
biasanya baru mendapat pertolongan bila keadaan bayi sudah gawat. Penanganan yang sempurna
memegang peranan penting dalam menurunkan angka mortalitas. Tingginya angka kematian sangat
bervariasi dan sangat tergantung pada saat pengobatan dimulai serta pada fasilitas dan tenaga
perawatan yang ada.

1.2. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah asuhan pada neonates resiko tinggi dengan hipoglikemi?

2. Bagaimanakah asuhan pada neonates resiko tinggi dengan tetanus neonatorum?

3. Bagaimanakah asuhan pada neonates resiko tinggi dengan penyakit yang di derita ibu selama
hamil?

4. Bagaimanakah asuhan pada neonates resiko tinggi dengan lahir dari ibu yang menderita HIV dan
AIDS ?

5.

1.3. TUJUAN

1. Untuk mengetahui asuhan pada neonates resiko tinggi dengan hipoglikemi

2. Untuk mengetahui asuhan pada neonates resiko tinggi dengan tetanus neonatorum
3. Untuk mengetahui asuhan pada neonates resiko tinggi dengan penyakit yang di derita ibu selama
hamil

4. Untuk mengetahui asuhan pada neonates resiko tinggi dengan lahir dari ibu yang menderita HIV
dan AIDS

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. HIPOGLIKEMI

2.1.1 DEFINISI

Hipoglikemia (hypo+glic+emia) merupakan konsentrasi glukosa dalam darah berkurangnya secara


abnormal yang dapat menimbulkan gemetaran, keringat dan
sakit kepala apabila kronik dan berat,dapat menyebabkan manifestasisusunan

saraf pusat

(KamusKedokteran Dorland:2000).

Definisi kimiawi dari hipoglokemia adalah glukosa darah kurang dari 2,2 m mol/l, walaupun gejala dapat
timbul pada tingkat gula darah yang lebih tinggi.

(Petter Patresia A,1997)

Hipoglikemia adalah batas terendah kadar glukosa darah puasa(true glucose) adalah 60 mg %,dengan
dasar tersebut maka penurunan kadar glukosa darah di bawah 60 mg%.

(Wiyono ,1999).

2.1.2 ETIOLOGI

Secara garis besar hipoglikemia dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu: kelainan yang menyebabkan
pemakaian glukosa berlebihan dan produksi glukosa kurang.
a) Kelainan yang menyebabkan pemakaian glukosa berlebihan

Hiperinsulinisme (bayi dari ibu penderita diabetes), hipoglikemia hiperinsulinisme menetap pada bayi,
tumor yang memproduksi insulin dan child abuse. Hiperinsulinisme menyebabkan pemakaian glukosa
yang berlebihan terutama akibat rangsangan penggunaan glukosa oleh otot akibat sekresi insulin yang
menetap. Kelainan ini diketahui sebagai hipoglikemia hiperinsulin endogen menetap pada bayi yang
sebelumnya disebut sebagai nesidioblastosis.

Defek pada pelepasan glukosa (defek siklus Krebs, defek ”respiratory chain”). Kelainan ini sangat jarang,
mengganggu pembentukan ATP dari oksidasi glukosa, disini kadar laktat sangat tinggi

Defek pada produksi energi alternatif (defisiensi Carnitine acyl transferase. Kelainan ini mengganggu
penggunaan lemak sebagai energi, sehingga tubuh sangat tergantung hanya pada glukosa. Ini akan
menyebabkan masalah bila puasa dalam jangka lama yang seringkali berhubungan dengan penyakit
gastrointestinal. Sepsis atau penyakit dengan hipermetabolik, termasuk hipertiroidism

b) Kelainan yang menyebabkan kurangnya produksi glukosa

1. Simpanan glukosa tidak adekuat (prematur, bayi SGA, malnutrisi, hipoglikemia ketotik)

Kelainan ini sering sebagai penyebab hipoglikemia, disamping hipoglikemia akibat pemberian insulin
pada diabetes. Hal ini dapat dibedakan dengan melihat keadaan klinis dan adanya hipoglikemia ketotik,
biasanya terjadi pada anak yang kurus, usia antara 18 bulan sampai 6 tahun, biasanya terjadi akibat
masukan makanan yang terganggu karena bermacam sebab Penelitian terakhir mekanisme yang
mendasari hipoglikemia ketotik adalah gagalnya glukoneogenesis

2. Kelainan pada produksi glukosa hepar

Kelainan ini menurunkan produksi glukosa melalui berbagai defek, termasuk blokade pada pelepasan
dan sintesis glukosa, atau blokade atau menghambat gluikoneogenesis. Anak yang menderita penyakit
ini akan dapat beradaptasi terhadap hipoglikemia,karena penyakitnya bersifat kronik Kelainan hormonal
(panhypopituitarisme, defisiensi hormon pertumbuhan.

3. Defisiensi kortisol dapat primer atau sekunder.

Hal ini karena hormone pertumbuhan dan kortisol berperan penting pada pembentukan energi
alternative dan merangsang produksi glukosa. Kelainan ini mudah diobati namun yang sangat penting
adalah diagnosis dini
2.1.3 TANDA DAN GEJALA HIPOGLIKEMIA

Hipoglikemia bisa menunjukan gejala ataupun tidak. Kecurigaan tinggi harus selalu diterapkan dan
selalu antisipasi hipoglikemia pada neonatus dengan faktor risiko

a. Tremor

b. Sianosis

c. Apatis

d. Kejang

e. Apnea intermitten

f. Tangisan lemah/melengking

g. Letargi

h. Kesulitan minum

i. Gerakan mata berputar/nistagmus

j. Keringat dingin

k. Pucat

l. Hipotermi

m. Refleks hisap kurang

n. Muntah

Saat timbulnya gejala bervariasi dari beberapa hari sampai satu minggu setelah lahir. Berikut ini
merupakan gejala klinis yang dimulai dengan frekuensi tersering, yaitu gemetar atau tremor, serangan
sianosis, apati, kejang, serangan apnea intermiten atau takipnea, tangis yang melemah atau melengking,
kelumpuhan atau letargi, kesulitan minum dan terdapat gerakan putar mata. Dapat pula timbul keringat
dingin, pucat, hipotermia, gagal jantung dan henti jantung. Sering berbagai gejala timbul bersama-sama.
Karena gejala klinis tersebut dapat disebabkan oleh bermacam-macam sebab, maka bila gejala tidak
menghilang setelah pemberian glukosa yang adekuat, perlu dipikirkan penyebab lain.

( Afroh fauziah, 2012 )

2.1.4 Penatalaksanaan Hipoglikemi

Kejadian hipoglikemia dapat dicegah dengan:


a. Menghindari faktor resiko yang dapat dicegah, contohnya hipotermia.

b. Pemberian makan enteral merupakan tindakan preventif tunggal paling penting.

c. Jika bayi tidak mungkin menyusu, mulailah pemberian minum dengan menggunakan sonde dalam
waktu 1-3 jam setelah lahir.

d. Neonatus yang berisiko tinggi harus dipantau nilai glukosanya sampai asupannya penuh dan 3x
pengukuran normal sebelum pemberian minum berada diatas 45 mg/Dl

e. Jika ini gagal, terapi intravena dengan glukosa 10% harus dimulai dan kadar glukosa dipantau

Untuk penanganan bayi yang mengalami hiplogikemia dapat dilakukan dengan:

a. Monitor

Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu dimonitor dalam 3 hari pertama :

1) Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam

2) Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 kali
pemeriksaan.

3) Kadar glukosa ≤ 45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia

4) Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan hipoglikemia selesai

b. Penanganan hipoglikemia dengan gejala :

1) Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1 ml/menit

2) Pasang dekstrosa 10% = 2 cc/kg dan diberikan melalui intravena selama 5 menit dan
diulang sesuai kebutuhan (kebutuhan infus glukosa 6-8 mg/kg/menit)

Contoh : BB 3 kg, kebutuhan glukosa 3 kg x 6 mg/kg/mnt = 18 mg/mnt = 25920 mg/hari. Bila dipakai D
10% artinya 10 g/100cc, bila perlu 25920 mg/hari atau 25,9 g/hari berarti perlu 25,9 g/ 10 g x 100 cc=
259 cc D 10% /hari.

c. Untuk mencari kecepatan Infus glukosa pada neonatus dinyatakan dengan GIR.

Kecepatan Infus (GIR) = glucosa Infusion Rate

Atau cara lain dengan GIR

Konsentrasi glukosa tertinggi untuk infus perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan vena
sentral

Contoh : Berat bayi 3 kg umur 1 hari

Kebutuhan 80 cc/jam/hari = 80 x 3 = 240 cc/hari = 10 cc/jam


d. Periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan tiap 3 jam:

1. Bila kadar glukosa masih < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi seperti diatas

2. Bila kadar glukosa 25-45 mg/dl, tanpa gejala klinis :

· Infus D10 diteruskan

· Periksa kadar glukosa tiap 3 jam

· ASI diberikan bila bayi dapat minum

3. Bila kadar glukosa ≥ 45 mg/dl dalam 2 kali pemeriksaan

· Ikuti petunjuk bila kadar glukosa sudah normal

· ASI diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus diturunkan pelan-pelan

· Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba

4. Kadar glukosa darah < 45 mg/dl tanpa gejala:

1. ASI teruskan

2. Pantau, bila ada gejala manajemen seperti diatas

3. Periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :

· Kadar < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi

· Kadar 25-45 mg/dl naikkan frekwensi minum

· Kadar ≥ 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal

5. Kadar glukosa normal

· IV teruskan

· Periksa kadar glukosa tiap 12 jam

· Bila kadar glukosa turun, atasi seperti diatas

· Bila bayi sudah tidak mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila 2 kali pemeriksaan
dalam batas normal, pengukuran dihentikan.

e. Persisten hipoglikemia (hipoglikemia lebih dari 7 hari)

1) Konsultasi endokrin

2) Terapi: kortikosteroid hidrokortison 5 mg/kg/hari 2 x/hari iv atau prednison 2 mg/kg/hari per


oral, mencari kausa hipoglikemia lebih dalam.

3) bila masih hipoglikemia dapat ditambahkan obat lain: somatostatin, glukagon, diazoxide, human
growth hormon, pembedahan. (jarang dilakukan)
2.2. TETANUS NEONATORUM

2.2.1 DEFINISI

Tetanus Neonatorum merupakan tetanus yang terjadi pada bayi yang dapat disebabkan adanya infeksi
melalui tali pusat yang tidak bersih.Masih merupakan masalah di indonesia dan di negara berkembang
lain, meskipun beberapa tahun terakhir kasusnya sudah jarang di indonesia. Angka kematian tetanus
neonatorum tinggi dan merupakan 45 – 75 % dari kematian seluruh penderita tetanus. Penyebab
kematian terutama akibat komplikasi antara lain radang paru dan sepsis, makin muda umur bayi saat
timbul gejala, makin tinggi pula angka kematian. (Maryunani, 2011).

2.2.2 ETIOLOGI

Penyakit ini disebabkan oleh karena clostridium tetani yang bersifat anaerob dimana kuman tersebut
berkembang tanpa adanya oksigen. Tetanus pada bayi ini dapat disebabkan karena tindakan
pemotongan tali pusat yang kurang steril, untuk penyakit ini masa inkubasinya antara 5 – 14 hari
(Hidayat, 2008).

2.2.3 TANDA dan GEJALA

Tanda dan gejalanya meliputi :

a. Kejang sampai pada otot pernafasan

b. Leher kaku

c. Dinding abdomen keras

d. Mulut mencucu seperti mulut ikan.

e. Suhu tubuh dapat meningkat.

2.2.4 PENATALAKSANAAN

a. Mengatasi kejang

Kejang dapat diatasi dengan mengurangi rangsangan atau pemberian obat anti kejang.

Obat yang dapat dipakai adalah kombinasi fenobarbital dan largaktil.Fenobarbital dapat diberikas mula-
mula 30 – 60 mg parenteral kemudian dilanjutkan per os dengan dosis maksimum 10 mg per hari.
Largaktil dapat diberikan bersama luminal, mula-mula 7,5 mg parenteral, kemudian diteruskan dengan
dosis 6 x 2,5 mg setiap hari. Kombinasi yang lain adalah luminal dan diazepam dengan dosis 0,5 mg/kg
BB. Obat anti kejang yang lain adalah kloralhidrat yang diberikan lewat rektum.
· Pemberian antitoksin

Untuk mengikat toksin yang masih bebas dapat diberi A.T.S (antitetanus serum) dengan dosis 10.000
satuan setiap hari serlama 2 hari .

· Pemberian antibiotika

Untuk mengatasi inferksi dapat digunakan penisilin 200.000 satuan setiap hari dan diteruskan sampai 3
hari panas turun.

b. Perawatan Tali pusat

Tali pusat dibersihkan atau di kompres dengan alkohol 70 % atau betadin 10 %.

c. Memperhatikan jalan nafas, diuresis, dan tanda vital. Lendir sering dihisap.

Masalah yang perlu diperhatikan adalah bahaya terjadi gangguan pernafasan, kebutuhan nutrisi/cairan
dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.Gangguan pernafasan yang sering timbul
adalah apnea, yang disebabkan adanya tenospasmin yang menyerang otot-otot pernafasan sehingga
otot tersebut tidak berfungsi.Adanya spasme pada otot faring menyebabkan terkumpulnya liur di dalam
rongga mulut sehingga memudahkan terjadinya poneumonia aspirasi.Adanya lendir di tenggorokan juga
menghalangi kelancaran lalu lintas udara (pernafasan).Pasien tetanus neonatorum setiap kejang selalu
disertai sianosis terus-menerus. Tindakan yang perlu dilakukan :

a. Baringkan bayi dalam sikap kepala ekstensi dengan memberikan ganjal dibawah bahunya.

b. Berikan O2 secara rumat karena bayi selalu sianosis (1 – 2 L/menit jika sedang terjadi kejang,
karena sianosis bertambah berat O2 berikan lebih tinggi dapat sampai 4 L/menit, jika kejang telah
berhenti turunkan lagi.

c. Pada saat kejang, pasangkan sudut lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan
memudahkan penghisapan lendirnya.

d. Sering hisap lendir, yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan
sewaktu-waktu terlihat pada mulut bayi.

e. Observasi tanda vital setiap ½ jam .

f. Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat.

g. Jika bayi menderita apnea :

· Hisap lendirnya sampai bersih

· O2 diberikan lebih besar (dapat sampai 4 L/ menit)


Letakkan bayi di atas tempat tidurnya/telapak tangan kiri penolong, tekan-tekan bagian iktus jantung di
tengah-tengah tulang dada dengan dua jari tangan kanan dengan frekuensi 50 – 6 x/menit.

Bila belum berhasil cabutlah sudut lidahnya, lakukan pernafasan dengan menutup mulut dan hidung
bergantian secara ritmik dengan kecepatan 50 – 60 x/menit, bila perlu diselingi tiupan.

d. Kebutuhan nutrisi/cairan

Akibat bayi tidak dapat menetek dan keadaan payah, untuk memenuhi kebutuhan makananya perlu
diberikan infus dengan cairan glukosa 10 %. Tetapi karena juga sering sianosis maka cairan ditambahkan
bikarbonas natrikus 1,5 % dengan perbadingan 4 : 1. Bila keadaan membaik, kejang sudah berkurang
pemberian makanan dapat diberikan melalui sonde dan selanjutnya sejalan dengan perbaikan bayi
dapat diubah memakai dot secara bertahap.

e. Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit

Kedua orang tua pasien yang bayinya menderita tetanus peru diberi penjelasan bahwa bayinya
menderita sakit berat, maka memerlukan tindakan dan pengobatan khusus, kerberhasilan pengobatan
ini tergantung dari daya tahan tubuh si bayi dan ada tidaknya obat yang diperlukan hal ini mengingat
untuk tetanus neonatorum memerlukan alat/otot yang biasanya di RS tidak selalu tersedia dan harganya
cukup mahal (misalnya mikrodruip).

Selain itu yang perlu dijelaskan ialah jika ibu kelak hamil lagi agar meminta suntikan pencegahan tetanus
di puskesmas, atau bidan, dan minta pertolongan persalinan pada dokter, bidan atau dukun terlatih
yang telah ikut penataran Depkes. Kemudian perlu diberitahukan pula cara pearawatan tali pusat yang
baik.

2.3. PENYAKIT YANG DIDERITA IBU SELAMA HAMIL

2.3.1 BAYI LAHIR DARI IBU DENGAN DIABETES MILITUS

bayi lahir dari ibu dengan diabetes militus (DM), beresiko terjadi hipoglikimia pada 3 hari pertama
setelah lahir, walaupun bayi sudah dapat minumdengan baik.Anjurkan ibu untuk menyusui dinidengan
lebih sering, paling tidak 8 kali sehari siang malam.Bila bayi berumur kurang dari 3 hari, amati samapai
umur 3 hari.Periksa kadar glucose saat bayi datang/ pada umur 3 jam.Tiga jam setelah pemeriksaan
pertama kemudian tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai kadar glucose dalam batas normal dalam 2 kali
pemeriksaan berturut-turut.Bila kadar glucose kurang dari 45mg/Dl atau bayi menunjukkan hipoglikemi
(tremor/letargi)tangani untuk hipoglikemi.Bila dalam pengamatan tidak ada tanda-tanda hipoglikemi
atau masalah lain, pulangkan nayi pada hari ke 3.

Bila bayi umur 3 hari/lebih dan tidak ada tanda-tanda penyakit, bayi tidak perlu pengamatan.Bila bayi
dapat minum dengan baik dan tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan d RS, bayi dapat
dipulangkan.
2.3.2 BAYI LAHIR DENGAN SIFILIS

Sifilis kongenitalis adalah suatu infeksi oleh bakteri preponema palladium yang ditularkan dari ibu
kepada janin di dalam kandungannya.Kemungkinan terjadinya penularan ibu hamil yang menderita sifilis
kepada janin melalui plasenta(ari-ari) adalah sebesar 60-80%. Penularan biasanya terjadi pada sifilis
stadium awal yang tidak di obati.Hampir 50% bayi yang terinfeksi selama berada dalam kandungan akan
meninggal sesaat sebelum atau setelah dilahirkan.

Gejala pada bayi baru lahir,antara lain: rewel, pembesaran getah bening,hati dan limpa,berat badan bayi
tidak bertambah aytau gagal berkembang, wajahnya tampak seperti orang tua,bibirnya pecah-pecah,
dari hidungnya keluar lender berdarah,lepuhan kecil(vesikel) pada telapak tangan dan telapak kaki,ruam
mukulopapulerberwarna tembaga pada wajah, telapak tangan,telapak kaki, ruam pada tepi mulut, alat
kelamin dan anus, hidungnya datar (saddle nose), meningitis(peradangan selaput otak),
koroiditis(peradangan pada belakang mata), kejang, serta hidrosefalus(pembesaran rongga otak yang
berisi cairanakibat peningkatan tekanan di dalam otak).

Gejala bayi yang lebih besar dan anak-anak ialah nyeri tulang, tidak mau bergerak karena tumgkai dan
lengannya nyeri,kelainan pada tulang kering(saber shins), pembengkakan sendi, gigi Hutchinson (gigi
berbintik-bintik dan berbentuk seperti baji), pembentukan jaringan parut pada luka dimulut, kalamin
dan anus (disebut ragade), keterbelakangan mental, gangguan penglihatan,kornea keruh. Gangguan
pendengaran atau tuli, bercak abu-abu seperti lender di anus dan vulva(disebut kondiloma lata).

Banyak anak yang menderita sifilis kongenitalis tetap berada pada stadium laten dan tidak pernah
manunjukkan gejala.Pada beberapa anak akhirnya akan timbul gejala berupa: luka terbuka di dalam
hidung dan di langit-langit mulut, benjolan yang menyerupai tombol pada tulang tungkai dan tulang
tengkorak,tuli dan buta,gigi Hutchinson.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik, kemungkinan disertai riwayat sifilis
pada ibu selama hamil. Pemeriksaan yang dilakukan pada ibu: Tes VDRL, tes serologis untuk sifilis (VDRL
dan FTA-ABS),pemeriksaan mikroskop lapang pandang gelap(untuk menunjukkan adanya treponema
pallidum),rontgen tulang.

Bila hasil tes ibu positif dan sudah diobati dengan penicillin 2,4 juta U di mulai sejak 30 hari sebelum
melahirkan, bayi tidak perlu diobati.Bila ibu diobati atau pengobatan tidak adekuat atau status
pengobatan tidak diketahui,

maka lakukan beberapa hal berikut ini:

1) Berikan pada bayi benzathine benzylpenicillin imtramuskular dosis tunggal.


2) Beri ibu dan bapak bayi benzathine benzylpenicillin 2,4 juta U intramuscular dalam dua suntikan
di tempat berbeda

3) Rujuk ibu dan bapak bayi ke RS untuk tindak lanjut

4) Kalukan tindak lanjut dalam 4 minggu untuk pemeriksaan pertumbuhan bayi dan tanda-tanda
sifilis konginetal.

5) Cari tanda-tanda sifilis konginetal pada bayi(edema,ruam kulit,lepuh di telapak


tangan/kaki,kondiloma di anus,rhinitis,hidrops fetalis/hepatosplenomegali).

6) Bila tanda-tanda di atas, berikan terapi untuk sifiliskonginetal.

7) Laporkan kasus ke Dinas Kesehatan setempat

2.3.3 BAYI LAHIR DARI IBU DENGAN MALARIA

Bayi dari ibu dengan ibu malaria dapat mengalami premature, BBLR, KMK, dema, masalah minum,
iritabel, hipatosplenomegali, ikterus dan anemia.Apabila menemukan kasus bayi baru lahirdengan ibu
yang menderita malaria, lakukan hal-hal berikut ini:

1. Anjurkan ibu tetep menyusui

2. Periksa hausan darah,terutama plasmodium falsifarum

3. Bila hasil negative tidak perlu pengobatan

4. Bila hasil positife, obati dengan anti malaria

5. Ibu hamil yang menderita malaria, bayi berisiko menderita malaria congenital

6. Periksa tanda-tanda malaria konginetal,antara lain: ikterus, hepatosplenomegali,anemia, demam,


masalah minum, muntah(sangat sulit dibedakan dengan gejala malaria yang di dapat/bukan konginetal).

7. Gejala dapat timbul 14 jam-8 minggi setelah lahir.Berikan klorokuin basa 10%mg/kgBB peroral, 6
jam kemudian dilanjutkan 5 mg/kgBB, selanjutnya 5 mg/kg BB 12 jam dan 24 jam setelah
pemberian pertama

8. Jangan memberikan kina pada bayi dibawah umur 4 bulan(efek samping hipotensi)

2.3.4 BAYI LAHIR DARI IBU DENGAN SITOMEGALOVIRUS

Infeksi sitomegalovirus adalah suatu penyakit virus yang bias menyebabkan kerusakan otak dan
kematian pada bayi baru lahir . Sitomegalovirus kongenitalis terjadi jika virus dari ibu yang terinfeksi
menular kepada janin yang dikandungnya melalui plasenta (ari-ari)

Infeksi pada ibu mungkin tidak menimbulkan gejala sehingga ibu tidak menyadari bahwa dia sedang
menderita infeksi Sitomegalovirus..
2.4 LAHIR DARI IBU YANG MENDERITA HIV DAN AIDS

2.4.1 DEFINISI

AIDS adalah salah satu penyakit retrovirus epidemic menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang
pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok resiko
tertentu, termasuk pria homoseksual, atau biseksual, penyalahgunaan obat intra vena, penderita
hemofilia, dan penerima transfusi darah lainnya, hubungan seksual dan individu yang terinfeksi virus
tersebut.( Kementerian Kesehatan RI.2011)

AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dan kelainan ringan dalam respon imun
tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi
yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi.(Nursalam. 2007.)

Acquired immunodeficiency syndrom (AIDS) suatu gejala penyakit yang menunjukkan kelemahan atau
kerusakan daya tahan tubuh atau gejala penyakit infeksi tertentu / keganasan tertentu yang timbul
sebagai akibat menurunnya daya tahan tubuh (kekebalan) oleh virus yang disebut dengan HIV. Sedang
Human Imuno Deficiency Virus merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang
kemudian mengakibatkan AIDS.

.HIV sistem kerjanya menyerang sel darah putih yang menangkal infeksi.Sel darah putih tersebut
termasuk dalam limfosit yang disebut dengan T4 atau sel T penolong.( T helper ), atau juga sel CD 4. HIV
tergolong dalam kelompok retrovirus sub kelompok lentivirus. Juga dapat dikatakan mempunyai
kemampuan mengopi cetak materi genetika sendiri didalam materi genetik sel – sel yang ditumpanginya
dan melalui proses ini HIV dapat mematikan sel – sel T4

2.4.2 ETIOLOGI

Resiko HIV utama pada anak-anak yaitu:

· Air susu ibu yang merupakan sarana transmisi

· Pemakaian obat oleh ibunya

· Pasangan sexual dari ibunya yang memakai obat intravena

· Daerah asal ibunya yang tingkat infeksi HIV nya tinggi

2.4.3 DIAGNOSIS
Bayi yang tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal secara klinis selama periode neonatal.Penyakit
penanda AIDS tersering yang ditemukan pada anak adalah pneumonia yang disebabkan Pneumocystis
carinii. Gejala umum yang ditemukan pada bayi dengan ifeksi HIV adalah gangguan tumbuh kembang,
kandidiasis oral, diare kronis, atau hepatosplenomegali (pembesaran hapar dan lien)

Karena antibody ibu bisa dideteksi pada bayi sampai bayi berusia 18 bulan, maka tes ELISA dan Western
Blot akan positif meskipun bayi tidak terinfeksi HIV karena tes ini berdasarkan ada atau tidaknya
antibody terhadap virus HIV. Tes paling spesifik untuk mengidentifikasi HIV adalah PCR pada dua saat
yang berlainan.DNA PCR pertama diambil saat bayi berusia 1 bulan karena tes ini kurang sensitive
selama periode satu bulan setelah lahir.CDC merekomendasikan pemeriksaan DNA PCR setidaknya
diulang pada saat bayi berusia empat bulan.Jika tes ini negative, maka bayi terinfeksi HIV.

Tetapi bila bayi tersebut mendapatkan ASI, maka bayi resiko tertular HIV sehingga tes PCR perlu diulang
setelah bayi disapih. Pada usia 18 bulan, pemeriksaan ELISA bisa dilakukan pada bayi bila tidak tersedia
sarana pemeriksaan yang lain.

CDC mengembangkan klasifikasi HIV pada bayi dan anak berdasarkan hitung limfosit CD4+ dan
manifestasi klinis penyakit.Pasien dikategorikan berdasarkan derajat imunosupresi (1, 2, atau 3) dan
kategori klinis (N, A, B, C, E).Klasifikasi ini memungkinkan adanya surveilans serta perawatan pasien yang
lebih baik. Klasifikasi klinis dan imunologis ini bersifat eksklusif, sekali pasien diklasifikasikan dalam suatu
kategori, maka diklasifikasi ini tidak berubah walaupun terjadi perbaikan status karena pemberian terapi
atau factor lain.

Menurut Depkes RI (2003), WHO mencanangkan empat strategi untuk mencegah penularan HIV dari ibu
ke anak dan anak, yaitu dengan mencegah jangan sampai wanita terinfeksi HIV/AIDS, apabila sudah
dengan HIV/AIDS dicegah supaya tidak hamil, apabila sudah hamil dilakukan pencegahan supaya tidak
menular pada bayi dan anaknya, namun bila ibu dan anak sudah terinfeksi maka sebaiknya diberikan
dukungan dan perawatan bagi ODHA dan keluarga.

Bayi yang beresiko tertular HIV diantaranya

· Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual

· Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan yang berganti-ganti

· Bayi yang lahir dan ibu dengan penyalahgunaan obat melalui vena

· Bayi atau anak yang mendapat tranfusi darah atau produk darah yang berulang

· Bayi atau anak yang terpapar dengan alat suntik atau tusuk bekas yang tidak steril

2.4.4 Tanda dan Gejala

Gejala umum yang ditemukan pada bayi dengan infeksi HIV adalah:
· Gangguan tumbuh kembang

· Kandidiasis oral

· Diare kronis

· Hepatosplenomegali (pembesaran hepar dan lien)

2.4.5 Penularan

Penularan HIV dari bayi kepada bayinya dapat melalui:

· Dari ibu kepada anak dalam kandungannya (antepartum)(5-10 %)

· Selama persalinan (intrapartum)(10-20 %)

· Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang terinfeksi (postpartum)

· Bayi tertular melalui pemberian ASI

· Sebagian besar (90%), infeksi HIV pada bayi disebabkan penularan dari ibu, hanya sekitar 10% yang
terjadi karena proses tranfusi.

BBL memproduksi respon antibodi yg tdk terlalu aktif, Lebih terbatas thd infeksi HIV
Bayi lahir dg ibu HIV seropositif : memiliki antibody HIV saat lahir.
Bayi tdk terinfeksi akan kehilangan antibodi maternal sekitar 8-15 bln.
Sebagian besar bayi terinfeksi : mengembangkan antibodi mereka sendiri dan tetap seporopositif

Bayi yang memperlihatkan tanda2 infeksi saat lahir cenderung meninggal dlm satu bulan.

2.4.6 Pencegahan

Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui :

1. Saat hamil. Penggunaan antiretroviral selama kehamilan yang bertujuan agar vital load rendah
sehingga jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV.

2. Saat melahirkan. Penggunaan antiretroviral(Nevirapine) saat persalinan dan bayi baru dilahirkan
dan persalinan sebaiknya dilakukan dengan metode sectio caesar karena terbukti mengurangi resiko
penularan sebanyak 80%.

3. Setelah lahir. Informasi yang lengkap kepada ibu tentang resiko dan manfaat ASI

Untuk mengurangi resiko penularan, ibu dengan HIV positif bisa memberikan susu formula pengganti
ASI, kepada bayinya. Namun, pemberian susu formula harus sesuai dengan persyaratan AFASS dari
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu Acceptable = mudah diterima, Feasible = mudah dilakukan,
Affordable = harga terjangkau, Sustainable = berkelanjutan, dan Safe = aman penggunaannyaPada
daerah tertentu di mana pemberian susu formula tidak memenuhi persyaratan AFASS, ibu HIV positif
harus mendapatkan konseling jika memilih untuk memberikan ASI eksklusif.

2.4.7 PENATALAKSANAANYA
· Penghisapan lendir bayi tidak boleh dilakukan dengan penghisap mulut, melainkan dengan
suction penghisap lendir yang dihubungkan dengan mesin penghisap.

· Perlakukan bayi seperti individu yang tidak terinfeksi.

· Pencegahan infeksi harus dilakukan agar bayi terhindar dari transmisi infeksi dari ibu ke bayi.

· Ibu bayi harus diberitahu agar menghindari bayinya terkena sekresi tubuhnya.

· Pemilihan makanan bayi harus didahului dengan konseling tentang risiko penularan HIV melalui
ASI. Konseling diberikan sejak perawatan antenatal atau sebelum persalinan. Pengambilan keputusan
oleh ibu dilakukan setelah mendapat informasi secara lengkap. Pilihan apapun yang diambil oleh ibu
harus didukung.

· Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak tidak berhenti setelah ibu melahirkan. Ibu akan
hidup dengan HIV di tubuhnya. Ia membutuhkan dukungan psikologis, sosial dan perawatan sepanjang
waktu. Hal ini terutama karena si ibu akan menghadapi masalah stigma dan diskriminasi masyarakat
terhadap ODHA. Faktor kerahasiaan status HIV ibu dan bayi sangat penting dijaga. Dukungan juga harus
diberikan kepada anak dan keluarganya. Dengan dukungan psikososial yang baik, ibu dengan HIV akan
bersikap optimis dan bersemangat mengisi kehidupannya. Diharapkan ia akan bertindak bijak dan positif
untuk senantiasa menjaga kesehatan diri dan anaknya, serta berperilaku sehat agar tidak terjadi
penularan HIV dari dirinya ke orang lain.

· dengan pemberian obat-obat ARV, maka daya tahan tubuh anak dapat meningkat dan mereka
dapat tumbuh dan berkembang seperti anak normal lainnya.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Hipoglikemia (hypo+glic+emia) merupakan konsentrasi glukosa dalam darah berkurangnya secara


abnormal yang dapat menimbulkan gemetaran, keringat dan sakit
kepala apabila kronik dan berat,dapat menyebabkan manifestasisusunan saraf pusat
Tetanus Neonatorum merupakan tetanus yang terjadi pada bayi yang dapat disebabkan adanya infeksi
melalui tali pusat yang tidak bersih

AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dan kelainan ringan dalam respon imun
tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan dengan berbagai infeksi
yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi

3.2 SARAN

Resum kondisi bayi pasca persalinan harus dilakukan dengan baik. Ketidak akuratan dalam proses
pengkajian dapat menyebabkan tidak diketahuinya kelainan dan resiko kelainan pada bayi.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
2011. Pedoman nasional pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan
RI.

Nursalam.2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Penerbit Salemba
Medika.

Fauziah, Afroh dan Sudarti.2012. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak.Yogyakarta:
Nuha Medika

Cunningham, F. Gary, dkk. 2005. Obstetri Williams, Edisi 21. Jakarta:EGC.

Deslidel, hajjah. 2011. Buku ajar Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta : EGC

Hidayat, Aziz Alimul A. 2008. Pengantar Ilmu keperawatan Anak 1. Jakarta : Salemba Medika

Maryunani, Anik. 2011. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta : TIM