Anda di halaman 1dari 11

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Difenhidramin
Difenhidramin merupakan generasi pertama obat antihistamin. Dalam proses
terapi difenhidramin termasuk kategori antidot, reaksi hipersensitivitas, antihistamin dan
sedatif. Memiliki sinonim Diphenhydramine HCl dan digunakan untuk mengatasi gejala
alergi pernapasan dan alergi kulit, memberi efek mengantuk bagi orang yang sulit tidur,
mencegah mabuk perjalanan dan sebagai antitusif, anti mual dan anestesi topikal.

2-(diphenylmethoxy)-N,N-dimethylethanamine
Diphenhydramine Hydrochloride.
Berat molekul 291,82.

Difenhidramin merupakan amine stabil dan cepat diserap pada pemberian secara
oral, dengan konsentrasi darah puncak terjadi pada 2-4 jam. Di dalam tubuh dapat
terdistribusi meluas dan dapat dengan segera memasuki system pusat saraf, sehingga
dapat menimbulkan efek sedasi dengan onset maksimum 1-3 jam. Diphenhydramine
memiliki waktu kerja/durasi selama 4-7 jam. Obat tersebut memiliki waktu paruh
eliminasi 2-8 jam dan 13,5 jam pada pasien geriatri. Bioavailabilitas pada pemakaian oral
mencapai 40%-60% dan sekitar 78% terikat pada protein. Sebagian besar obat ini
dimetabolisme dalam hati dan mengalami first-pass efect, namun beberapa dimetabolisme
dalam paru-paru dan system ginjal, kemudian diekskresikan lewat urin.
Difenhidramin ini memblokir aksi histamin, yaitu suatu zat dalam tubuh yang
menyebabkan gejala alergi. Difenhidramin menghambat pelepasan histamin (H1) dan
asetilkolin (menghilangkan ingus saat flu). Hal ini memberi efek seperti peningkatan
kontraksi otot polos vaskular, sehingga mengurangi kemerahan, hipertermia dan edema
yang terjadi selama reaksi peradangan. Difenhidramin menghalangi reseptor H1 pada
perifer nociceptors sehingga mengurangi sensitisasi dan akibatnya dapat mengurangi
gatal yang berhubungan dengan reaksi alergi. Memberikan respon yang menyebabkan
efek fisiologis primer atau sekunder atau kedua-duanya. Efek primer untuk mengatasi
gejala-gejala alergi dan penekanan susunan saraf pusat (efek sekunder).
Kerja antihistaminika H1 akan meniadakan secara kompetitif kerja histamin pada
reseptor H1, dan tidak mempengaruhi histamin yang ditimbulkan akibat kerja pada
reseptor H2. Reseptor H1 terdapat di saluran pencernaan, pembuluh darah, dan saluran
pernapasan. Difenhidramin bekerja sebagai agen antikolinergik (memblok jalannya
impuls-impuls yang melalui saraf parasimpatik), spasmolitik, anestetika lokal dan
mempunyai efek sedatif terhadap sistem saraf pusat.

a. Cara Kerja Difenhidramin


Difenhidramin memiliki dua cara kerja di dalam tubuh yaitu sebagai:
- Kerja Antikolinoseptor, Kebanyakan antagonis H1, terutama dari subgrup
etanolamin dan etilendiamin, mempunyai efek seperti atropin yang bermakna atas
reseptor muskarinik perifer. Kerja ini mungkin bertanggung jawab bagi beberapa
(bukan pasti) manfaat yang dilaporkan bagi rinore nonalergi tetapi bisa juga
menyebabkan retensio urina dan kaburnya penglihatan.
- Anstesi Lokal, Sebagian besar antagonis H1 merupakan anestesi lokal yang
efektif. Ia menghambat saluran natrium pada membran yang dapat dirangsang
dengan cara yang sama seperti prokain dan lidokain. Sebernarnya difenhidramin dan
prometazin lebih kuat sebagai anestesi lokal daripada prokain. Kadang- kadang
dipakai untuk menimbulkan anestesi lokal pada penderita yang alergi terhadap
obat anestesi lokal konvensional

b. Indikasi
Di dalam tubuh difenhidramin memiliki berbagai indikasi antara lain yaitu :
- Reaksi Alergi: Obat antihistamin H1 sering merupakan obat pertama yang dipakai
untuk mencegah reaksi alergi atau untuk mengobati gejalanya. Pada rinitis alrgika
atau urtikaria, tempaat histamin merupakan zat perantara utama, antagonis H1
merupakan obat ini pilihan dan sering efektif.
- Mabuk dan Gangguan Keseimbangan: Skopolamin dan antagonis H1 tertentu
merupakan obat terefektif yang tersedia untuk mencegah mabuk. Obat
antihistamin dengan kemampuan terbesar untuk pemakaian ini adalah difenhidramin
dan prometazin.
- Mual dan Muntah pada Kehamilan: Beberapa obat antagonis H1 tealah diselidiki
bagi kemungkinan penggunaan untuk mengobati “morning sickness”. Turunan
piperzin telah ditolak bagi poenggunaan seperti itu sewaktu terbukti mempunyai
efek teratogenik pada rodensia. Doksilamin, suatu antagonis H1 etanolamin, telah
dipromosikan untuk kegunaan ini sebagai suatu komponen bendectin, suatu obat
resep yang juga mengandung piridoksin. (Katzung, 2004)

c. Kontra indikasi
Kontra indikasi dari difenhidramin di dalam tubuh yaitu :

- Hipersensitif terhadap difenhidramin atau komponen lain dari formulasi; asthma


akut karena aktivitas antikolinergik antagonis H1 dapat mengentalkan sekresi
bronkial pada saluran pernapasan sehingga memperberat serangan asma akut,

- Pada bayi baru lahir karena potensial menyebabkan kejang atau menstimulasi
SSPparadoksikal.

d. Efek Samping
Efek samping yang ditimbulkan dari difenhidramin yaitu :
- Sedasi.
- Gangguan pada lambung-usus
- Efek anti muskarinik.

- Hipotensi, lemah otot, telinga berdenging tanpa rangsang dari luar, euphoria
(keadaan emosi yang gembira berlebihan), sakit kepala.
- Perangsangan saraf pusat.
- Reaksi alergi.
- Kelainan Darah

e. Perhatian
Difenhidramin tidak dapat digunakan pada pasien yang memilki :
- Glaukoma sudut tertutup.
- Kehamilan.
- Retensi urin, pembesaran prostat.
- Pasien dengan lesi fokal pada korteks serebral.
- Hindari mengendarai kendaraan atau mengoperasikan mesin.
- Sensitifitas silang terhadap obat-obat yang berkaitan.

Interaksi obat : alkohol, depressan susunan saraf pusat, antikolinergik, obat-obat


penghambat mono amin oksidase.

f. Hal yang perlu diperhatikan


Hal-hal yang harus diperhatikan setelah mengkonsumsi atau menggunakan difenhidramin
yaitu :

- Obat ini menyebabkan mengantuk. Jika menggunakan obat ini, jangan


mengemudikan kendaraan atau menjalankan mesin.
- Jangan digunakan bersama obat influenza yang mengandung antihistamin.

- Agar dikonsultasikan dengan dokter atau unit pelayanan kesehatan terlebih dahulu
apabila digunakan pada :
1. penderita asma, karena dapat mengurangi sekresi dan mengentalkan dahak.
2. wanita hamil, menyusui dan anak<6 tahun.

4.2 Penentuan Kadar Difenhidramin


Penentuan kadar difenhidramin pada obat batuk sirup ini menggunakan metode
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) yaitu merupakan teknik pemisahan yang diterima
secara luas untuk analisis bahan obat, baik dalam bulk atau dalam sediaan farmasetik, serta
obat dalam cairan biologis. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dikembangkan pada akhir
tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an

Penggunaan Kromatografi cair kinerja tinggi dapat menentukan besarnya kadar difenhidramin
dalam obat batuk sirup, yang apabila tidak sesuai dengan persyaratan yang terdapat dalam
farmakope akan menyebabkan efek negatif bagi konsumen seperti pusing, mual, mengantuk dan
lain-lain. Oleh karena itu diperlukan metode yang sesuai agar mendapat kan hasil yang akurat.
Walaupun disadari biaya yang dibutuhkan untuk analisis dengan KCKT sangat mahal, namun
metoda ini tetap dipilih untuk digunakan menganalisis 277 jenis obat / bahan obat karena
hasil analisis yang memiliki akurasi dan presisi yang tinggi, serta waktu analisis yang cepat.
Kromatografi merupakan teknik analisis yang paling sering digunakan dalam analisis
sediaan farmasetik. Suatu pemahaman terhadap parameter-parameter yang berpengaruh
terhadap kinerja kromatografi akan meningkatkan sistem kromatografi sehingga akan dicapai
suatu pemisahan yang baik. (Rohman, 2009)

4.3 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)


Analisis senyawa obat baik dalam bahan bulk, dalam sediaan farmasi, maupun
dalam cairan biologis dengan metode kromatografi dapat ditilik balik pada awal tahun
1920-an. Pada tahun 1955-an, metode kromatografi kertas secara menaik (ascending) dan
menurun (descending) telah muncul pada berbagai Farmakope untuk analisis produk-
produk obat. Edisi Farmakope lanjut mulai menggunakan metide kromatografi cair
kinerja tinggi (KCKT) dan kromatografi gas (KG) untuk analisis obat. Saat ini, metode
kromatografi merupakan metode utama yang digunakan untuk analisis obat dalam
Farmakope.

Kromatografi merupakan suatu proses pemisahan yang mana analit-analit dalam sampel
terdistribusi antara 2 fase, yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam dapat berupa bahan padat
atau porus dalam bentuk molekul kecil, atau dalam bentuk cairan yang dilapiskan pada
pendukung padat atau dilapiskan pada dinding kolom. Fase gerak dapat berupa gas atau cairan.
Jika gas digunakan sebagai fase gerak, maka proses nya dikenal sebagai kromatografi gas. Dalam
kromatografi cair dan kromatigrafi lapis tipis, fase gerak yang digunakan selalu cair. (Rohman,
2009)

4.3 Kegunaan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)


Kegunaan umum Kromatografi Cair Kinerja Tinggi adalah untuk : pemisahan sejumlah
senyawa organik, anorganik, maupun senyawa biologis, analisis ketidakmurnian (impurities),
analisis senyawa-senyawa tidak mudah menguap (non-volatil), penentuan molekul-molekul
netral, ionik, mauoun zwitter ion, isolasi dan poemurnian senyawa, pemisahan senyawa-
senyawa dalam jumlah sekelumit (trace elements), dan jumlah bayak, dan dalam skala proses
industri. KCKT merupakan metode yang tidak dekstruktif dan dapat digunakan baik untuk
analisis kualitatif maupun kuantitatif.

KCKT paling sering digunakan untuk : menetapkan kadar senyawa-senyawa tertentu seperti
asam-asam amino, asam-asam nukleat, dan protein-protein dalam cairan fisiologis, menentukan
kadar senyawa-senyawa aktif obat, produk hasil samping proses sintetis, atau produk-produk
degradasi dalam sediaan farmasi, memonitor sampel- sampoel yang berasal dari lingkungan,
memurnikan senyawa dalam suatu campuran, memisahkan polimer dan menentukan distribusi
berat molekulnya dalam suatu campuran, kontrol kulitas, dan mengikuti jalannya raksi sintetis.
(Rohman, 2009)

4.4 Kelebihan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)


Kromatografi Cair Kinerja Tinggi mempunyai banyak keuntungan jika dibandingkan dengan
Kromatografi Gas tradisional, yaitu :

a. Kecepatan
Waktu analisis yang kurang dari satu jam merupakan hal yang lazim. Banyak analisis
dapat dilakukan dalam 15-30 menit. Memang, untuk analisis yang tidak rumit, dapat dicapai
waktu analisis kurang dari 15 menit.
b. Daya Pisah
Berbeda dengan Kromatografi Gas, kromatografi cair mempunyai dua fase tempat
terjadinya antaraksi. Pada Kromatografi Gas, gas yang mengalir berantaraksi sedikit dengan
linarut, pemisahan tercapai terutama karena antaraksi dengan fase diam.

c. Kepekaan
Detektor serapan UV yang biasa dipakai dalam KCKT dapat mendeteksi berbagai jenis
senyawa dalam jumlah nanogram (10-9g). Detektor fluoresensi dan elektrokimia dapat
mendeteksi dalam jumlah pikogram (10-12-)

d. Kolom yang dapat dipakai kembali


Berbeda dengan Kromatografi Cair klasik, kolom KCKT dapat dipakai kembali. Banyak
analisis dapat dilakukan pada kolom yang sama sebelum kolom itu harus diganti. Akan
tetapi, kolom tersebut turun mutunya, laju penurunan mutu itu bergantung pada jenis
cuplikan yang disuntikkan, kemurnian pelarut dan jenis pelarut yang dipakai.

e. Molekul besar dan ion


Secara khusus senyawa jenis ini tak dapat dipisahkan dengan KG karena keatsiriannya
rendah. KG biasanya menggunakan senyawa turunannya untuk menganalisis ion. KCKT
dalam ragam ekslusi dan pertukaran ion ideal untuk menganalisis molekul besar dan ion.

f. Mudah memperoleh kembali cuplikan


Sebagian besar detektor yang dipakai pada KCKT tidak merusak sehingga komponen
cuplikan dapat dikumpulkan dengan mudah ketika mereka melewati detektor. Biasanya
pelarut dihilangkan dengan mudah dengan cara penguapan, kecuali pada pertukaran ion
yang memerlukan tatakerja khusus. (Johnson, 1991)

4.5 Komponen-komponen Penting dari Kromatografi Cair Kinerja Tinggi


a. Wadah Fase gerak dan Fase gerak
Wadah fase gerak harus bersih dan lembam (inert). Wadah pelarut kosong ataupun labu
laboratorium dapat digunakan sebagai wadah fase gerak. Wadah ini biasanya dapat
menampung fase gerak antara 1 sampai 2 liter pelarut.
Fase gerak atau eluen biasanya terdiri atas campuran pelarut yang dapat bercampur yang
secara keseluruhan berperan dalam daya elusi dan resolusi. Daya elusi dan resolusi ini
ditentukan oleh polaritas keseluruhan pelarut, polaritas fase diam, dan sifat komponen-
komponen sampel. Untuk fase normal (fase diam lebih polar daripada fase gerak),
kemampuan elusi meningkat dengan meningkatnya polaritas pelarut. Sementara untuk
fase terbalik (fase diam kurang polar daripada fase gerak), kemampuan elusi menurun
dengan meningkatnya polaritas pelarut.

Fase gerak sebelum digunakan harus disaring terlebih dahulu untuk menghindari
partikel-partikel kecil ini. Selain itu, adanya gas dalam fase gerak juga harus dihilangkan,
sebab adanya gas akan berkumpul dengan komponen lain terutama di pompa dan detektor
sehingga akan mengacaukan analisis.

Elusi dapat dilakukan dengan cara isokratik (komposisi fase gerak tetap selama
elusi) atau dengan cara bergradien (komposisi fase gerak berubah-ubah selama elusi)
yang analog dengan pemrograman suhu pada kromatografi gas. Elusi bergradien digunakan
untuk meningkatkan resolusi campuran yang kompleks terutama jika sampel mempunyai
kisaran polaritas yang luas.

Fase gerak yang paling sering digunakan untuk pemisahan dengan fase terbalik
adalah campuran larutan bufer dengan metanol atau campuran air dengan asetonitril.
Untuk pemisahan dengan fase normal, fase gerak yang paling sering digunakan adalah
campuran pelarut-pelarut hidrokarbon dengan pelarut yang terklorisasi atau menggunakan
pelarut-pelarut jenis alkohol. Pemisahan dengan fase normal ini kurang umum dibanding
dengan fase terbalik.

b. Pompa
Pompa yang cocok digunakan untuk HPLC adalah pompa yang mempunyai syarat
sebagaimana syarat wadah pelarut yakni: pompa harus inert terhadap fase gerak. Bahan

yang umum dipakai untuk pompa adalah gelas, baja tahan karat, Teflon, dan batu nilam.
Pompa yang digunakan sebaiknya mampu memberikan tekanan sampai 5000 psi dan
mampu mengalirkan fase gerak dengan kecepatan alir 3 mL/menit. Untuk tujuan
preparatif, pompa yang digunakan harus mampu mengalirkan fase gerak dengan
kecepatan 20 mL/menit.

Tujuan penggunaan pompa atau sistem penghantaran fase gerak adalah untuk
menjamin proses penghantaran fase gerak berlangsung secara tepat, reprodusibel,
konstan, dan bebas dari gangguan. Ada 2 jenis pompa dalam HPLC yaitu: pompa dengan
tekanan konstan, dan pompa dengan aliran fase gerak yang konstan. Tipe pompa dengan
aliran fase gerak yang konstan sejauh ini lebih umum dibandingkan dengan tipe pompa
dengan tekanan konstan.
c. Tempat Penyuntikan sampel
Sampel-sampel cair dan larutan disuntikkan secara langsung ke dalam fase gerak
yang mengalir di bawah tekanan menuju kolom menggunakan alat penyuntik yang terbuat
dari tembaga tahan karat dan katup teflon yang dilengkapi dengan keluk sampel (sample
loop) internal atau eksternal.

Posisi pada saat memuat sampel Posisi pada saat menyuntik sampel

d. Kolom
Ada 2 jenis kolom pada HPLC yaitu kolom konvensional dan kolom mikrobor.
Kolom merupakan bagian HPLC yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya
proses pemisahan solut/analit.

Kolom mikrobor mempunyai 3 keuntungan yang utama dibanding dengan kolom


konvensional, yakni:

• Konsumsi fase gerak kolom mikrobor hanya 80% atau lebih kecil dibanding
dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase
gerak lebih lambat (10 -100 μl/menit).

• Adanya aliran fase gerak yang lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal
jika digabung dengan spektrometer massa.
• Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solut lebih pekat, karenanya
jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas misal sampel klinis.

Meskipun demikian, dalam prakteknya, kolom mikrobor ini tidak setahan kolom
konvensional dan kurang bermanfaat untuk analisis rutin.

Kebanyakan fase diam pada HPLC berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi,
silika yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan
silika adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH).
Silika dapat dimodifikasi secara kimiawi dengan menggunakan reagen-reagen seperti
klorosilan. Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan gugus silanol dan menggantinya dengan
gugus-gugus fungsional yang lain.
Oktadesil silika (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan
karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang,
maupun tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi lebih sesuai untuk solut yang
polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih cocok sebagai pengganti
silika yang tidak dimodifikasi. Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu
retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan.
e. Detektor

Detektor pada KCKT dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal


(yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat
selektif) seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa; dan golongan
detektor yang spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif,
seperti detektor UV-Vis, detektor fluoresensi, dan elektrokimia.
Idealnya, suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel.

2. Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar
yang sangat kecil.
3. Stabil dalam pengopersiannya.

4. Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran


pita.
5. Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran
yang luas (kisaran dinamis linier).

6. Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak.
(Rohman, 2009)

4.6 Jenis Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)


Pemisahan dengan KCKT dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya
lebih polar dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika fase diamnya kurang
non polar dibanding dengan fase geraknya). Berdasarkan pada kedua pemisahan ini,
sering kali KCKT dikelompokkan menjadi KCKT fase normal dan KCKT fase terbalik.
Selain klasifikasi di atas, KCKT juga dapat dikelompokkan berdasarkan pada sifat fase diam
dan atau berdasarkan pada mekanisme sorpsi solut. Pada penentuan kadar difenhidramin ini
digunakan kromatografi cair kinerja tinggi jenis kromatografi fase terikat. Kebanyakan fase
diam kromatografi ini adalah silika yang dimodifikasi secara kimiawi atau fase terikat.
Sejauh ini yang digunakan untuk memodifikasi silika adalah hidrokarbon-hidrokarbon non-
polar seperti dengan oktadesilsilana, oktasilana, atau dengan fenil. Fase diam yang paling
populer digunakan adalah oktadesilsilan (ODS atau C18) dan kebanyakan pemisahannya
adalah fase terbalik. Sebagai fase gerak adalah campuran metanol atau asetonitril dengan
air atau dengan larutan bufer. Untuk solut yang bersifat asam lemah atau basa lemah,
peranan pH sangat krusial karena kalau pH fase gerak tidak diatur maka solut akan
mengalami ionisasi atau protonasi. Terbentuknya spesies yang terionisasi ini
menyebabkan ikatannya dengan fase diam menjadi lebih lemah dibanding jika solut
dalam bentuk spesies yang tidak terionisasi karenanya spesies yang mengalami ionisasi
akan terelusi lebih cepat.