Anda di halaman 1dari 4

Hipertensi Kronik

Definisi
Hipertensi kronik dalam kehamilan ialah hipertensi yang didapatkan sebelum timbulnya
kehamilan. Apabila tidak diketahui adanya hipertensi sebelum kehamilan, maka hipertensi
kronik didefinisikan bila didapatkan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan darah
diastolik ≥ 90 mmHg sebelum umur kehamilan 20 minggu. (Saifuddin, A.B, 2014)

Etiologi Hipertensi Kronik


Hipertensi kronik dapat disebabkan primer: idiopatik: 90% dan sekunder: 10 %,
berhubungan dengan penyakit ginjal, vaskular kolagen, endokrin, dan pembuluh darah.
(Saifuddin, A.B, 2014)

Diagnosis hipertensi kronik pada kehamilan


Diagnosis hipertensi kronik ialah bila didapatkan hipertensi yang telah timbul sebelum
kehamilan, atau timbul hipertensi < 20 minggu umur kehamilan.
Ciri-ciri hipertensi kronik :
- Umur ibu relatif tua diatas 35 tahun
- Tekanan darah sangat tinggi
- Umumnya multipara
- Umumnya ditemukan kelainan jantung, ginjal dan diabetes mellitus
- Obesitas
- Penggunaan obat-obat antihipertensi sebelum kehamilan
- Hipertensi yang menetap pasca persalinan. (Saifuddin, A.B, 2014)

Dampak hipertensi kronik pada kehamilan


- Dampak pada ibu
Bila perempuan hamil mendapat monoterapi untuk hipertensinya, dan
hipertensi dapat terkendali, maka hipertensi kronik tidak berpengaruh buruk pada
kehamilan, meski tetap mempunyai risiko terjadinya solusio plasenta ataupun
superimposed preeklampsia.
Hipertensi kronik yang diperberat oleh kehamilan akan memberi tanda (a)
kenaikan mendadak tekanan darah, yang akhirnya disusul proteinuria dan (b) tekanan
darah sistolik >200 mmHg diastolik >130 mmHg, dengan akibat segera terjadi
oliguria dan gangguan ginjal.
Pernyulit hipertensi kronik pada kehamilan ialah (a) solusio plasenta : risiko
terjadinya solusio plasenta 2-3 kali pada hipertensi kronik dan (b) superimposed
preeklampsia.(1)
- Dampak pada janin
Dampak hipertensi kronik pada janin ialah pertumbuhan janin terhambat atau
fetal growth restriction, intra uterine growth restriction : IUGR. Insiden fetal growth
restriction berbanding langsung dengan derajat hipertensi yang disebabkan
menurunnya perfusi uteroplasenta, sehingga menimbulkan insufisiensi plasenta.
Dampak lain pada janin ialan peningkatan persalinan preterm. (Saifuddin, A.B, 2014)

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan khusus berupa ekokardiografi, pemeriksaan mata dan pemeriksaan USG
ginjal. Pemeriksaan laboratorium lain ialah fungsi ginjal, fungsi hepar, Hb, hematokrit dam
trombosit. (Saifuddin, A.B, 2014)

Pengelolaan pada kehamilan


Tujuan pengelolaan hipertensi kronik dalam kehamilan adalah meminimalkan atau
mencegah dampak buruk pada ibu ataupun janin akibat hipertensinya sendiri ataupun akibat
obat-obat antihipertensi. Secara umum ini berarti mencegah terjadinya hipertensi yang ringan
menjadi lebih berat, yang dapat dicapai dengan cara farmakologik atau perubahan pola hidup:
diet, merokok, alkohol, dan substance abuse. (Saifuddin, A.B, 2014)
Terapi hipertensi kronik berat hanya mempertimbangkan keselamatan ibu, tanpa
memandang status kehamilan. Hal ini untuk menghindari terjadinya CVA, infark miokard
serta disfungsi jantung dan ginjal. (Saifuddin, A.B, 2014)
Antihipertensi diberikan:
- Sedini mungkin pada batas tekanan darah dianggap hipertensi, yaitu pada stage I
hipertensi tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg, tekanan diastolik ≥ 90 mmHg
- bila terjadi disfungsi end organ.

Obat antihipertensi
Jenis antihipertensi yang digunakan pada hipertensi kronik, ialah :
- α-Metildopa
Suatu α2 - reseptor agonis
Dosis awal 500 mg 3 x per hari, maksimal 3 gram per hari
- Calcium channel blockers
Nifedipin: dosis bervariasi antara 30 - 90 mg per hari.
- Diuretik thiazide
Tidak diberikan karena akan mengganggu volume plasma sehingga mengganggu aliran
darah utero-plasenta. (Saifuddin, A.B, 2014)

Evaluasi janin
Untuk mengetahui apakah terjadi insufisiensi plasenta akut atau kronik, perlu dilakukan
Non stress test dan pemeriksaan ultrasonografi bila curiga terjadinya fetal growth restriction
atau terjadi superimposed preeklampsia. (Saifuddin, A.B, 2014)

Pencegahan
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tanda-tanda dini
preeklampsia, dalam hal ini harus dilakukan penanganan preeklampsia tersebut. Walaupun
preeklampsia tidak dapat dicegah seutuhnya, namun frekuensi preeklampsia dapat dikurangi
dengan pemberian pengetahuan dan pengawasan yang baik pada ibu hamil.(4)
Pengetahuan yang diberikan berupa tentang manfaat diet dan istirahat yang berguna
dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring, dalam hal ini yaitu dengan
mengurangi pekerjaan sehari-hari dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet
tinggi protein dan rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak
berlebihan sangat dianjurkan. Mengenal secara dini preeklampsia dan merawat penderita
tanpa memberikan diuretika dan obat antihipertensi merupakan manfaat dari pencegahan
melalui pemeriksaan antenatal yang baik. (Saifuddin, A.B, 2014)

Sumber : Saifuddin, A.B., Rachimhadhi, T., Winknjosastro, G.H.,. 2014. Ilmu Kebidanan
Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Step 2 ASA
1. Mengapa pasien mengeluhkan kaki bengkak sejak 5 hari yang lalu?
a. Edema pada kehamilan mempunyai banyak interpetasi
- 40 % : Edema dijumpai pada kehamilan normal.
- 60 % : Hipertensi dalam kehamilan.
- 80 % : Pada hipertensi pada kehamilan dan proteinuria.
b. Klasifikasi edema
- Ekstremitas bawah (lokalisata)
- Seluruh tubuh (inkaserata)
- Edema fisiologis : kehamilan normal
- Edema patologis : edema inkaserat dan kenaikan berat badan yang cepat.
c. Edema selalu di temukan berbagai kondisi kehamilan.
1. Edema akibat tekanan vena pada kompresi pertumbuhan janin, sehingga akan
menurunnya arus balik darah vena, dan vena cava inferior terkompresi oleh
pertumbuhan janin menyebabkan penurunan arus balik sehingga akumulasi cairan
pada bagian bawah tubuh.
2. Edema akibat gravitasi, wanita hamil berdiri dalam waktu lama pada efek
gravitasi menimbulkan peningkatan tekanan pada vena, memyebabkan vena
melebar dan kapasitasnya meningkat, efek gravitasi juga menyababkan tekanan
hidrostatik dari ruang intersitial dan intravaskular serta tekanan onkotik
interstitium menimbulkan permeabilitas meningkat, sehingga filtrasi berelbihan
menimbulkan cairan keluar.
3. Edema akibat persalinan lama.
4. Edema akibat hipertensi dalam kehamilan, hipertensi dalam kehamilan merupakan
komplikasi yang serius pada trimester 1 dan trimester 2. Hipertensi ini terjadi
akibat kombinasi meningkatnya curah jantung dan total peripheral resisten.

Sumber : Sumber : Saifuddin, A.B., Rachimhadhi, T., Winknjosastro, G.H.,. 2014. Ilmu
Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.