Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

SEMESTER GENAP 2013/2014

KELOMPOK : 6

Widhi Sally S. R

Citra Sylvanite C

Dwita Safitri W

M. Sirdar Albar

I Wayan Windu A S

M. Ramdhan

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL

2014
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bakteri

Tumbuh dalam pengertian umum diartikan sebagai bertambahnya ukuran, sedangkan


berkembang diartikan sebagai bertambahnya kuantitas. Oleh karena itu pertumbuhan
dapat ditunjukkan dengan adanya pertambahan panjang, luas, volume, berat maupun
kandungan tertentu, sedangkan berkembang ditunjukan dengan bertambahnya jumlah
individu dan terbentuknya alat reproduksi. Dengan demikian dari segi ukuran, maka tumbuh
merupakan proses dari pendek menjadi panjang, dari sempit menjadi luas, dari kosong
menjadi berisi, dari ringan menjadi berat, sedangkan berkembang adalah dari sedikit
menjadi banyak.
Kuantitas atau ukuran pertumbuhan mikroorganisme dapat diukur dari [1] segi
pertambahan dimensi satu, misalnya : panjang, diameter, jari-jari, dan jumlah sel ; [2]
segi pertambahan dimensi dua, misalnya : luas, dan [3] segi pertambahan dimensi tiga,
misalnya : volume, berat segar, berat kering. Selain tiga segi tersebut, pertumbuhan juga
dapat diukur dari [4] segi komponen seluler, misalnya : RNA, DNA, dan protein dan [5]
segi kegiatan metabolisme secara langsung, misalnya : kebutuhan oksigen, karbon
dioksida, hasilan gas-gas tertentu dan lain-lain.

Pertumbuhan mikroorganisme dapat ditinjau dari dua sudut, yaitu : pertumbuhan


individu dan pertumbuhan koloni atau pertumbuhan populasi. Pertumbuhan individu
diartikan sebagai bertambahnya ukuran tubuh, sedangkan pertumbuhan populasi diartikan
sebagai bertambahnya kuantitas individu dalam suatu populasi atau bertambahnya ukuran
koloni. Namun demikian pertumbuhan mikroorganisme unisel (bersel tunggal) sulit diukur
dari segi pertambahan panjang, luas, volume, maupun berat, karena pertambahannya
sangat sedikit dan berlangsung sangat cepat (lebih cepat dari satuan waktu
mengukurnya), sehingga untuk mikroorganisme yang demikian satuan pertumbuhan sama
dengan satuan perkembangan. Pertumbuhan fungi multisel (jamur benang) dan
mikroorganisme multisel lainnya dapat ditunjukan dengan cara mengukur panjang garis
tengah (diameter) biakan, luas biakan, dan berat kering biakan. Pertumbuhan bakteri dan
mikroorganisme unisel lainnya dapat ditunjukan dengan cara menghitung jumlah sel setiap
koloninya maupun mengukur kandungan senyawa tertentu yang dihasilkan.
Waktu yang dibutuhkan dari mulai tumbuh sampai berkembang dan menghasilkan
individu baru disebut waktu generasi. Contoh : waktu generasi bakteri E. Coli sekitar 17
menit, artinya dalam 17 menit satu E. Coli menjadi dua atau lebih E. Coli. Untuk
mikroorganisme yang membelah, misalnya bakteri, maka waktu generasi diartikan sebagai
selang waktu yang dibutuhkan untuk membelah diri menjadi dua kali lipat. Beberapa faktor
yang mempengaruhi waktu generasi yaitu :
a) Tahapan pertumbuhan mikroorganisme, misalnya seperti tersebut di atas yang
menyatakan bahwa satu sel bakteri menjadi 2 sel bakteri memerlukan rentang
waktu yang berbeda ketika 128 sel bakteri menjadi 256 sel ;
b) Takson mikroorganisme (jenis, spesies, dll), misalnya bakteri Escherichia coli dalam
saluran pencernakan manusia maupun binatang umumnya mempunyai waktu
generasi 15 - 20 menit sedangkan bakteri lain (misalnya Salmonella typhi)
mempunyai waktu generasi berjam-jam.

Pertumbuhan mikroorganisme dimulai dari awal pertumbuhan sampai dengan


berakhirnya aktivitas merupakan proses bertahap yang dapat digambarkan sebagai kurve
pertumbuhan. Kurve pertumbuhan umumnya terdiri atas 7 fase pertumbuhan, tetapi yang
utama hanya 4 fase yaitu : lag, eksponensial, stasioner, dan kematian. Kurve pertumbuhan
yang lengkap merupakan gambaran pertumbuhan secara bertahap (fase) sejak awal
pertumbuhan sampai dengan terhenti mengadakan kegiatan. Kurve pertumbuhan
biasanya terbagi dalam 5 fase pertumbuhan, tetapi lebih terinci dalam 7 fase yakni
sebagai berikut :

1. Fase lag disebut juga fase persiapan, fase permulaan, fase adaptasi atau fase
penyesuaian yang merupakan fase pengaturan suatu aktivitas dalam lingkungan
baru. Oleh karena itu selama fase ini pertambahan massa atau pertambahan jumlah
sel belum begitu terjadi, sehingga kurve fase ini umumnya mendatar. Selang waktu
fase lag tergantung kepada kesesuaian pengaturan aktivitas dan lingkungannya.
Semakin sesuai maka selang waktu yang
dibutuhkan semakin cepat.
2. Fase akselerasi merupakan fase setelah adaptasi, sehingga sudah mulai aktivitas
perubahan bentuk maupun pertambahan jumlah dengan kecepatan yang masih
rendah
3. Fase eksponensial atau logaritmik merupakan fase peningkatan aktivitas
perubahan bentuk maupun pertambahan jumlah mencapai kecepatan maksimum
sehingga kurvenya dalam bentuk eksponensial. Peningkatan aktivitas ini harus
diimbangi oleh banyak faktor, antara lain : faktor biologis, misalnya : bentuk dan
sifat mikroorganisme terhadap lingkungan yang ada, asosiasi kehidupan diantara
organisme yang bersangkutan dan faktor non-biologis, misalnya : kandungan hara
di dalam medium kultur, suhu, kadar oksigen, cahaya, bahan kimia dan lain-lain.
Jika faktor-faktor di atas optimal, maka peningkatan kurve akan tampak tajam atau
semakin membentuk sudut tumpul terhadap garis horizontal (waktu)
4. Fase retardasi atau pengurangan merupakan fase dimana penambahan aktivitas
sudah mulai berkurang atau menurun yang diakibatkan karena beberapa faktor,
misalnya : berkurangnya sumber hara, terbentuknya senyawa penghambat, dan lain
sebagainya.
5. Fase stasioner merupakan fase terjadinya keseimbangan penambahan
aktivitas dan penurunan aktivitas atau dalam pertumbuhan koloni terjadi
keseimbangan antara yang mati dengan penambahan individu. Oleh karena itu fase
ini membentuk kurve datar. Fase ini juga diakibatkan karena sumber hara yang
semakin berkurang, terbentuknya senyawa penghambat, dan faktor lingkungan yang
mulai tidak menguntungkan.
6. Fase kematian merupakan fase mulai terhentinya aktivitas atau dalam
pertumbuhan koloni terjadi kematian yang mulai melebihi bertambahnya individu.
7. Fase kematian logaritmik merupakan fase peningkatan kematian yang semakin
meningkat sehingga kurve menunjukan garis menurun

Pada kenyataannya bahwa gambaran kurve pertumbuhan mikroorganisme tidak linear


seperti yang dijelaskan di atas jika faktor-faktor lingkungan yang menyertainya tidak
memenuhi persyaratan. Beberapa penyimpangan yang sering terjadi, misalnya : fase lag
yang terlalu lama karena faktor lingkungan kurang mendukung, tanpa fase lag karena
pemindahan ke lingkungan yang identik, fase eksponensial berulang-ulang karena medium
kultur kontinyu, dan lain sebagainya.

Pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor biotik


maupun faktor abiotik. Faktor biotik ada yang dari dalam dan ada faktor biotik dari
lingkungan. Faktor biotik dari dalam menyangkut : bentuk mikroorganisme, sifat
mikroorganisme terutama di dalam kehidupannya apakah mempunyai respon yang
tinggi atau rendah terhadap perubahan lingkungan, kemampuan menyesuaikan diri
(adaptasi). Faktor lingkungan biotik berhubungan dengan keberadaan organisme lain
didalam lingkungan hidup mikroorganisme yang bersangkutan. Faktor abiotik meliputi
susunan dan jumlah senyawa yang dibutuhkan di dalam medium kultur, lingkungan fisik
(suhu, kelembaban, cahaya), keberadaan senyawa-senyawa lain yang dapat bersifat toksik,
penghambat, atau pemacu, baik yang berasal dari lingkungaan maupun yang dihasilkan
sendiri.

Pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor biotik maupun abiotik.
1) Faktor biotik
A. Interaksi dalam satu populasi mikroba
Interaksi antar jasad dalam satu populasi yang sama ada dua macam,
yaitu interaksipositif maupun negatif. Interaksi positif menyebabkan
meningkatnya kecepatan pertumbuhan sebagai efek sampingnya.
Meningkatnya kepadatan populasi, secara teoritis meningkatkan kecepatan
pertumbuhan. Interaksi positif disebut juga kooperasi. Sebagai contoh adalah
pertumbuhan satu sel mikroba menjadi koloni atau pertumbuhan pada fase
lag (fase adaptasi). Interaksi negatif menyebabkan turunnya kecepatan
pertumbuhan dengan meningkatnya kepadatan populasi. Misalnya populasi
mikroba yang ditumbuhkan dalam substrat terbatas, atauadanya produk
metabolik yang meracun. Interaksi negatif disebut juga kompetisi. Sebagai
contoh jamur Fusarium dan Verticillium pada tanah sawah, dapat
menghasilkan asam lemak dan H2S yang bersifat beracun.

B. Interaksi antar berbagai macam populasi mikroba


Apabila dua populasi yang berbeda berasosiasi, maka akan timbul
berbagai macam interaksi. Interaksi tersebut menimbulkan pengaruh positif,
negatif, ataupun tidak ada pengaruh antar populasi mikroba yang satu
dengan yang lain. Nama masing-masing interaksi adalah sebagai berikut:
a. Netralisme
Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling
mempengaruhi. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi
yang sangat rendah atau secara fisik dipisahkan
dalammikrohabitat, serta populasi yang keluar dari habitat
alamiahnya. Sebagai contoh interaksi antaramikroba allocthonous
(nonindigenous) dengan mikroba autochthonous (indigenous),
dan antarmikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan
populasinya sangat rendah. Netralisme juga terjadi pada keadaan
mikroba tidak aktif, misal dalam keadaan kering beku, atau fase
istirahat (spora, kista).

b. Komensalisme
Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu
populasi diuntungkantetapi populasi lain tidak terpengaruh.
Contohnya adalah:
 Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi
sistein. Sistein dapatdigunakan oleh Legionella
pneumophila.
 Desulfo vibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi
anaerobik Methanobacterium.
c. Sinergisme
Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu
kemampuan untuk dapatmelakukan perubahan kimia tertentu di
dalam substrat. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih
dalam keperluan nutrisi bersama, maka disebut sintropisme.
Sintropisme sangatpenting dalam peruraian bahan organik tanah,
atau proses pembersihan air secara alami.

d. Mutualisme (Simbiosis)
Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang
keduanya saling tergantung dan sama-sama mendapat
keuntungan. Mutualisme sering disebut juga simbiosis. Simbiosis
bersifat sangat spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota
simbiosis tidak dapatdigantikan tempatnya oleh spesies lain yang
mirip. Contohnya adalah Bakteri Rhizobium sp. yanghidup pada
bintil akar tanaman kacang-kacangan. Contoh lain adalah Lichenes
(Lichens), yang merupakan simbiosis antara algae sianobakteria
dengan fungi. Algae (phycobiont) sebagai produsen yang dapat
menggunakan energi cahaya untuk menghasilkan senyawa
organik. Senyawaorganik dapat digunakan oleh fungi (mycobiont),
dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung) dan
transport nutrien/mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk
algae.

2) Faktor abiotik
a. Konsentrasi nutrien
Konsentrasi nutrien sangat menentukan kecepatan transport nutrien ke
dalam sel. Pada konsentrasi rendah transport lebih sulit dilakukan sehingga
mepengaruhi ketersediaan nutrien di dalam sel.
b. Temperatur
Temperatur mempengaruhi pertumbuhan mikroba karena enzim yang
menjalankan metabolisme sangat peka terhadap temperatur. Faktor
terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan makhluk hidup. Suhu rendah
memperlambat metabolisme sel, suhu tinggi meningkatkan taraf kehidupan
sel. Tapi masing-masing mikroba mempunyai batas suhu maksimum dan
minimum untuk pertumbuhan. Hal ini disebabkan di bawah suhu minimum
atau di atas suhu maksimum aktivitas enzim akan berhenti, bahkan pada
suhu terlalu tinggi akan terjadi denaturasi (penghancuran enzim). Pada
umumnya bakteri pada suhu 250-300C. Pada suhu 1000C bakteri akan mati.
Berdasarkan temperatur minimum, optimum dan maksimumnya
mikrobadapat digolongkan kedalam 3 kelompok yaitu:
 Mikroba termofilik (politermik): yaitu bakteri yang mampu tumbuh
dengan batas temperature minimum dan maksimum antara 400C
sampai 800C sedangkan temperature optimumnya 550C sampai 650C.
 Mikroba mesofilik (mesotermik): yaitu bakteri yang mampu tumbuh
dengan batas temperatur antara 50C sampai 600C sedangkan
temperature optimumnya antara 250C sampai 400C.
 Mikroba psikrofil (oligotermik): yaitu bakteri yang mampu tumbuh
pada temperature antara 00C sampai 300C, sedangkan untuk
temperature optimumnya antara 100C sampai 200C.

c. pH
Enzim transpor elektron dan sistem transpor nutrien pada membran sel
mikroba sangat peka terhadap pH. Nilai pH pada suatu media sangat
mempengaruhi jasad renik/mikroba. Bakteri memiliki pH optimum 6,5-7,5;
dimana pH di bawah 6,5 atau di atas 7,5 bakteri tidak dapat tumbuh dengan
baik kecualibakteri asam asetat (<5 dan >8,5).Berdasarkan pH minimum,
optimum dan maksimum untuk pertumbuhannya, mikroba digolongkan
kedalam:
1) Mikroba asidofilik: pH antara 2,0-5,0
2) Mikroba mesofilik: pH antara 5,5-8,0
3) Mikroba alkalifilik: pH antara 8,4- 9,5

d. Tekanan osmosis
Konsentrasi zat terlarut akan menentukan tekanan osmosis suatu
larutan. Semakin tinggi konsentrasi zat terlarut maka semakin tinggi pula
tekanan osmosis larutan tersebut, demikian pula sebaliknya. Tekanan
osmosis mempengaruhi sel mikroba karena berkaitan dengan ketersediaan
air bagi sel mikroba. Mikroba yang tahan dengan tekanan osmosis tinggi
disebut dengan mikroba osmofilik. Pada umumnya bakteri membutuhkan
media isotonik, jika menggunakan media hipertonikbakteri tersebut akan
mengkerut akibat air yang tertarik keluar. Kemudian bila larutan media
hipotonik, cairan akan masuk ke dalam dan menyebabkan sel mengembung
serta plasmolisis (akan pecah). Bakteri yang suka kadar garam tinggi disebut
bakteri halofilik. Bakteri ini tidak memiliki dinding sel peptidoglikan.

e. Oksigen (O2)
Banyak mikroba yang tidak dapat tumbuh bila tidak tersedia O2 tetapi
ada pula mikroba yang mampu tumbuh bila terdapat O2 bebas. Berdasarkan
keperluan atas O2, maka mikroba ada yang bersifat aerob, anaerob, anaerob
fakultatif serta aerofil. Berdasarkan kebutuhan oksigen, dibagi 3 kelompok,
yaitu
1) Aerob
Mikroba yang termasuk aerob selalu membutuhkan oksigen untuk
pertumbuhannya karena energi diperoleh dari “respirasi aerobik”
(adanya oksigen). Contoh: capang, chamir & bakteri

2) Anaerob
Mikroba yang termasuk golongan ini tidak memerlukan oksigen
karena jika ada oksigen bakteri akan mati/terhambat.
Contoh:Clostridium botulinum.

3) Anaerob Fakultatif
Mikroba yang termasuk golongan ini bisa tumbuh dengan adanya
oksigen atau tanpa oksigen. Bakteri dapat bersifat aerob/anaerob
karena bakteri mempunyai suatu enzim yang tergolong flavo
proteinyang dapat bereaksi dengan oksigen membentuk senyawa
beracun yaitu H2O2 & radikal bebas (O2). Bakteri ini juga mempunyai
enzim Superoksida Dismutasi (SD) yang menangkal radikal bebas
tersebut dan enzim katalase yang menghambat sehingga dihasilkan
senyawa tidak beracun.

f. Senyawa toksik
Ion-ion logam berat seperti Hg, Cu, Zn, Li, Pb walaupun pada keadaan
yang sangat rendah akan bersifat toksis terhadap mikroba karena ion-ion
logam berat akan bereaksi dengan gugusan senyawa selnya.

g. Radiasi
Cahaya mempunyai daya merusak kepada sel mikroba yang tidak
mempunyai pigmen fotosintesis. Jika energi radiasi diabsorpsi oleh mikrioba
akan menyebabkan terjadinya ionisasi komponen sel.

h. Bahan antimikroba
Antimikroba merupakan salah satu contoh bakteriosida (bahan
pembunuh bakteri). Bahan antimikroba ada yang memiliki spektrum luas
tetapi ada pula yang memiliki spektrum sempit. Efektifitas kerja dari zat
antimikroba dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain: ukuran dan
volume populasi mikroba, kadar air, panas, konsentrasi antimikroba, pH dan
kandungan bahan organik.
Kehadiran zat antimikroba akan dapat mengawali terjadinya
perubahan-perubahan yang menyebabkan kematian sel tersebut
diantaranya:
1) Kerusakan pada dinding sel
Struktur dinding sel dapat dirusak dengan cara menghambat
pembentukkannya atau mengubahnya setelah selesai dibentuk.
2) Perubahan permeabilitas sel
Membran sitoplasma mengatur keluar masuknya baha-bahan
tertentu ke dalam sel serta memelihara integritas komponen-
komponen seluler. Kerusakan pada membrane ini akan
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau menyebabkan
kematian sel.

3) Perubahan protein dan asam nukleat


Kelangsungan hidup sel sangat tergantung pada molekul-molekul
protein dan asam nukleat. Suatu kondisi/substansi yang mengubah
keadaan ini seperti mendenaturasi protein dan asam nukleat dapat
merusak sel tanpa dapat diperbaiki lagi. Suhu tinggi dan konsentrasi
pekat beberapa zat kimia dapat mengakibatka koagulasi (denaturasi)
irreversible (tidak dapat balik) komponen-komponen seluler yang
penting.
4) Penghambatan kerja enzim
Sejumlah enzim yang ada di dalam sel merupakan sasaran bagi
bekerjanya suatu penghambat. Banyak zat kimia yang dapat
mengganggu reaksi biokimiawi. Penghambatan ini dapat
mengakibatkan terganggunya metabolisme sehingga sel akan mati.

5) Penghambatan sintesis DNA, RNA, dan protein


DNA, RNA, dan protein memegang peranan yang sangat penting di
dalam proses kehidupan sel. Dengan hadirnya zat antimikroba
tersebut maka akan terjadi gangguan pada pembentukan dan fungsi
dari DNA, RNA, dan protein tersebut sehingga dapat mengakibatkan
kerusakan pada sel.
i. Zat Hara

Untuk pertumbuhan dibutuhkan zat hara, yaitu:


 Nitrogen
Pada umumnya bakteri tidak dapat menggunakan nitrogen bebas,
tetapi harus dalam bentuk garam nitrogen. N2diperlukan sebagai
bahan dasar untuk protein, as.nukleat, dan vitamin. Dalam media
bahan yang mengandung nitrogen berupa NH4Cl & “N” nya adalah
“N” anorganik, seperti NaNO3 (N anorganik). Pepton (N organik).

 Carbon
Sebagai sumber energi, karbon digunakan sebagai gula (sukrosa,
laktosa, maltosa), pati dan glikogen. Untuk dapat menggunakan
sumber karbon ini, bakteri menguraikan menjadi molekul-molekul
yang kecil, kemudian digunakan untuk bahan dasar protein, peptida,
dan nukleatida.

 Vitamin & Faktor Pertumbuhan


Vitamin ini berfungsi sebagai koenzim. Vitamin yang diperlukan oleh
bakteri, seperti:Riboflavin, As.Pentotenat, Tiamin, As.Nikotenat, &
Brotin. Vitamin sebagai koenzim/bagian lain dari bahan dasar sel.
Koenzim berkaitan dengan protein (sel koenzim adalah bagian aktif
dari energi yang berkaitan dengan bagian protein dari energi
tersebut). Selain vitamin, bakteri juga memerlukan faktor
pertumbuhan, seperti pemula (prekursor), protein, atau bahan
lainnya. Yang tersedia dari faktor pertumbuhan adalah bahan kimia
yang diperlukan bakteri. Senyawa kimia seperti As.Fimelat (pemula
untuk biotin), Beta alanin (pemula dari As.Pantotenat), purin/pirimidin
(untuk sintesa as.nukleat)
 Air
Bakteri memerlukan air sebanyak 80%, sehingga air diperlukan untuk
pertumbuhan dan pembiakan bakteri. Air yang digunakan dalam
pembuatan media adalah aquadest, karena air dalam keran
mengandung bahan organik/anorganik yang selalu tidak sama dengan
yang dibutuhkan bakteri.

MEDIA PERTUMBUHAN BAKTERI


Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, memperbanyak jumlah, menguji
sifat-sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba, dimana dalam proses pembuatannya
harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada
media. Berikut ini beberapa media yang sering digunakan secara umum dalam mikrobiologi.
1. Lactose Broth
Lactose broth digunakan sebagai media untuk mendeteksi kehadiran koliform dalam
air, makanan, dan produk susu, sebagai kaldu pemerkaya (pre-enrichment broth)
untuk Salmonellae dan dalam mempelajari fermentasi laktosa oleh bakteri pada
umumnya. Pepton dan ekstrak beef menyediakan nutrien esensial untuk
memetabolisme bakteri. Laktosa menyediakan sumber karbohidrat yang dapat
difermentasi untuk organisme koliform. Pertumbuhan dengan pembentukan gas
adalah presumptive test untuk koliform. Lactose broth dibuat dengan komposisi
0,3% ekstrak beef; 0,5% pepton; dan 0,5% laktosa.

2. EMBA (Eosin Methylene Blue Agar)


Media Eosin Methylene Blue mempunyai keistimewaan mengandung laktosa dan
berfungsi untuk memilah mikroba yang memfermentasikan laktosa seperti S. aureus,
P. aerugenosa, danSalmonella. Mikroba yang memfermentasi laktosa menghasilkan
koloni dengan inti berwarna gelap dengan kilap logam. Sedangkan mikroba lain yang
dapat tumbuh koloninya tidak berwarna. Adanya eosin dan metilen blue membantu
mempertajam perbedaan tersebut. Namun demikian, jika media ini digunakan pada
tahap awal karena kuman lain juga tumbuh terutama P. Aerugenosa dan Salmonella
sp dapat menimbulkan keraguan. Bagaiamanapun media ini sangat baik untuk
mengkonfirmasi bahwa kontaminan tersebut adalah E.coli. Agar EMB (levine)
merupakan media padat yang dapat digunakan untuk menentukan jenis bakteri coli
dengan memberikan hasil positif dalam tabung. EMB yang menggunakan eosin dan
metilin bklue sebagai indikator memberikan perbedaan yang nyata antara koloni
yang meragikan laktosa dan yang tidak. Medium tersebut mengandung sukrosa
karena kemempuan bakteri koli yang lebih cepat meragikan sukrosa daripada
laktosa. Untuk mengetahui jumlah bakteri coli umumnya digunakan tabel Hopkins
yang lebih dikenal dengan nama MPN (most probable number) atau tabel JPT
(jumlah perkiraan terdekat), tabel tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan
jumlah bakteri coli dalam 100 ml dan 0,1 ml contoh air.

3. Nutrient Agar
Nutrien agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA juga
digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif,
dalam artian mikroorganisme heterotrof. Media ini merupakan media sederhana
yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. Na merupakan salah satu media
yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage,
produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji
bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni.
Untuk komposisi nutrien adar adalah eksrak beef 10 g, pepton 10 g, NaCl 5 g, air
desitilat 1.000 ml dan 15 g agar/L. Agar dilarutkan dengan komposisi lain dan
disterilisasi dengan autoklaf pada 121°C selama 15 menit. Kemudian siapkan wadah
sesuai yang dibutuhkan.

4. Nutrient Broth
Nutrient broth merupakan media untuk mikroorganisme yang berbentuk cair. Intinya
sama dengan nutrient agar. Nutrient broth dibuat dengan cara sebagai berikut:
a. Larutkan 5 g pepton dalam 850 ml air distilasi/akuades.
b. Larutkan 3 g ekstrak daging dalam larutan yang dibuat pada langkah pertama.
c. Atur pH sampai 7,0.
d. Beri air distilasi sebanyak 1.000 ml.
e. Sterilisasi dengan autoklaf.
5. MRSA (deMann Rogosa Sharpe Agar)
MRSA merupakan media yang diperkenalkan oleh De Mann, Rogosa, dan Shape
(1960) untuk memperkaya, menumbuhkan, dan mengisolasi jenis Lactobacillus dari
seluruh jenis bahan. MRS agar mengandung polysorbat, asetat, magnesium, dan
mangan yang diketahui untuk beraksi/bertindak sebagai faktor pertumbuhan
bagi Lactobacillus, sebaik nutrien diperkaya MRS agar tidak sangat selektif, sehingga
ada kemungkinan Pediococcus dan jenis Leuconostoc serta jenis bakteri lain dapat
tumbuh.

6. Trypticase Soy Broth (TSB)


TSB adalah media broth diperkaya untuk tujuan umum, untuk isolasi, dan
penumbuhan bermacam mikroorganisme. Media ini banyak digunakan untuk isolasi
bakteri dari spesimen laboratorium dan akan mendukung pertumbuhan mayoritas
bakteri patogen. Media TSB mengandung kasein dan pepton kedelai yang
menyediakan asam amino dan substansi nitrogen lainnya yang membuatnya menjadi
media bernutrisi untuk bermacam mikroorganisme. Dekstrosa adalah sumber energi
dan natrium klorida mempertahankan kesetimbangan osmotik. Dikalium fosfat
ditambahkan sebagai buffer untuk mempertahankan pH. Plate Count Agar (PCA)
PCA digunakan sebagai medium untuk mikroba aerobik dengan inokulasi di atas
permukaan. PCA dibuat dengan melarutkan semua bahan (casein enzymic
hydrolisate, yeast extract, dextrose, agar) hingga membentuk suspensi 22,5 g/L
kemudian disterilisasi pada autoklaf (15 menit pada suhu 121°C). Media PCA ini baik
untuk pertumbuhan total mikroba (semua jenis mikroba) karena di dalamnya
mengandung komposisi casein enzymic hydrolisate yang menyediakan asam amino
dan substansi nitrogen komplek lainnya serta ekstrak yeast mensuplai vitamin B
kompleks.

7. APDA
Media APDA berfungsi untuk menumbuhkan dan menghitung jumlah khamir dan
yeast yang terdapat dalam suatu sampel. Khamir dan yeast akan tumbuh dengan
optimal pada media yang sesuai. Adanya asam tartarat dan pH rendah maka
pertumbuhan bakteri terhambat. APDA dibuat dengan merebus kentang selama 1
jam/45 menit, agar dilelehkan dalam 500 ml air. Campurkan ekstrak kentang dalam
agar lalu ditambahkan glukosa dan diaduk rata. Pada APDA jadi ini juga ditambah
asam tartarat.

8. Potato Dextrose Agar (PDA)


PDA digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dapat
juga digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk
makanan. PDA mengandung sumber karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri
dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa sehingga baik untuk pertumbuhan kapang
dan khamir tetapi kurang baik untuk pertumbuhan bakteri. Cara membuat PDA
adalah mensuspensikan 39 g media dalam 1 liter air yang telah didestilasi. campur
dan panaskan serta aduk. Didihkan selama 1 menit untuk melarutkan media secara
sempurna. Sterilisasi pada suhu 121°C selama 15 menit. Dinginkan hingga suhu 40-
45°C dan tuang dalam cawan petri dengan pH akhir 5,6+0,2.

9. VRBA (Violet Red Bile Agar)


VRBA dapat digunakan untuk perhitungan kelompok bakteri Enterobactericeae. Agar
VRBA mengandung violet kristal yang bersifat basa, sedangkan sel mikroba bersifat
asam. Bila kondisi terlalu basa maka sel akan mati. Dengan VRBA dapat dihitung
jumlah bakteri E.coli. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat VRBA adalah
yeast ekstrak, pepton, NaCl, empedu, glukosa, neutral red, kristal violet, agar).
Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan 1 liter air yang telah didestilasi.
Panaskan hingga mendidih sampai larut sempurna. Dinginkan hingga 50-60°C.
Pindahkan dalam tabung sesuai kebutuhan, pH akhir adalah 7,4. Campuran garam
bile dan kristal violet menghambat bakteri gram positif. Yeast ekstrak menyediakan
vitamin B-kompleks yang mendukung pertumbuhan bakteri. Laktosa merupakan
sumber karbohidrat. Neutral red sebagai indikator pH. Agar merupakan agen
pemadat.
10. PGYA
Media ini berfungsi untuk isolasi, enumerasi, dan menumbuhkan sel khamir. Dengan
adanya dekstrosa yang terkandung dalam media ini, PGYA dapat digunakan untuk
mengidentifikasi mikroba terutama sel khamir. Untuk membuatnya, semua bahan
dicampur dengan ditambah CaCO3 terlebih dahulu sebanyak 0,5 g lalu dilarutkan
dengan akuades. Kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan disumbat dengan
kapas lalu disterilisasi pada suhu 121°C selama 15 menit.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.geocities.ws/bpurnomo51/mik_files/mik4.pdf

http://biologi-news.blogspot.com/2011/01/pertumbuhan-bakteri.html

http://www.katsanakes.com/2012/08/faktor-yang-dibutuhkan-untuk.html

http://sumbawanews.com/situsku/go/url/57247/faktor-pertumbuhan-bakteri-heterotrof-

katsanakes.html

http://eprints.uny.ac.id/9261/3/BAB%202%20-%2008308144008.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196805091994031-

KUSNADI/BUKU_COMMON_TEXT_MIKROBIOLOGI,_Kusnadi,dkk/BAB_IV_PERTU

MB.BAKTERI.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23260/4/Chapter%20II.pdf

http://dunia-mikro.blogspot.com/2008/08/media-pertumbuhan-mikroorganisme.html