Anda di halaman 1dari 2

Melesatkan Waktu

Kenyang rasa perutku tiba-tiba. Membaca pesan singkat abah yang berbunyi “malam ini jasmine
nikah, mau ikut tidak?”
Perutku yang lapar, tanganku yang cekatan memotong-motong batagor yang masih hangat itu
tiba-tiba kehilangan speednya. Mual dan mual saja rasanya. Ya Allah, apa rencanaMu buat
hambaMu ini.

Tenagaku terkuras habis, kelahiran rafa yang premature mau tidak mau membuatku ikut sibuk
bolak balik rumah sakit. Walau statusnya keponakan, tapi mereka sudah seperti anak-anakku
sendiri, dua keponakanku kini tumbuh sehat, yang satu ini lahir mendadak. Urusan kantor
terbengkalai, ketika member kuliah pun aku sering kali menjadi ngantuk, namun melihat si kecil
yang juga sedang berjuang, tenagaku seperti terisi kembali. Rasa laparku yang luar biasa pun
cukup menguras kantong, sehingga kabar pernikahan sepupu dekatku ini pun terlewatkan dari
telingaku
Ya sepupu sekali yang seusia denganku.

Aku khawatir, membludak pertanyaan dan rasa kedua orangtuaku karena aku sendiri hingga kini
masih betah menyendiri. Mereka menganggap aku terlalu pemilih. Karena jika melihat fisikku,
tak mungkin rasanya tidak ada kaum adam yang menolak. Ditambah dengan gelar magister yang
kucapai dalam usia muda, dan kini aku adalah salah satu dosen muda di salah satu PTS ternama
di kotaku.

Entah apa rencana Yang Maha Kuasa ini. Seringkali perasaan muak menyeruak, manakala
banyak yang mencoba menggodaku. Bahkan mahasiswa saja ada yang berani menyatakan rasa
sukanya padaku, ada yang sembunyi-sembunyi, ada yang terang-terangan. Geleng-geleng kepala
saja aku melihat perilaku mereka. Aku menganggap wajar, karena usiaku tidak jauh berbeda
dengan mereka. Bahkan ada mahasiswa yang lebih tua dari usia ku.

Beberapa waktu silam, aku sempat menolak lamaran yang datang padaku, aku belum siap, dan
caranya memperkenalkan diri, tidak sesuai kehendakku, ya, si perfeksionis seperti diriku ini apa
boleh buat. Salah sedikit, tidak akan mencoba lagi.

Beberapa bulan silam, seseorang yang pernah singgah di hatiku, dan bahkan sempat
berkeinginan untuk ta’aruf dengaku pun ternyata telah memilih akhwat lain. Ku kira, Allah akan
mempertemukan aku dengan beliau segera setelah aku menyelesaikan studi S2 ku yang satu kota
dengan beliau. Ternyata aku salah

Beberapa tahun silam, seseorang pun pernah mencoba masuk ke dalam hari-hariku. Beliau
sedang dalam masa studi S2 dan merupakan pegawai di Dinas Pemerintah Provinsi. Karena ego
ia pun tak pelak aku tolak
Banyak hal, banyak hal kawan. Mengapa aku melewatkan orang-orang seperti itu.
Aku bukan sosok pemilih, tapi justru dalam memilih kawan seumur hidup, seleksi itu perlu.
Salah satu seleksi yang pertama, adalah bagaimana hubungannya dengan Allah SWT
Aku juga ingin tahu, seberapa besar cintanya pada Rasullulah SAW
Aku pun ingin, ia mencintai keluarganya, memuja ibunya, dan menghormati ayahnya,
menyayangi saudara saudaranya sepenuh hati
Aku pun juga ingin, ia memiliki kemampuan akademis yang baik, memiliki pekerjaan yang baik
dan benar pula
Aku hanya ingin kelak, mewujudkan impian S3 bersama (calon) imamku
Tapi siapakah dia Ya Allah?
Kemana lagi aku mengadu?
Bahwa hati ini pun sesak jua
Begitu banyak kekurangan dan minus dalam diriku
Yang sadar harus aku revisi, namun, apakah aku belum pantas untuk memiliki seorang imam?

Cerpen Karangan: Rahmi


Blog: Http://susantirahmi.blogspot.com

Ini merupakan cerita pendek karangan Rahmi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus
penulisnya di: Rahmi untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di
terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di
Cerpenmu.com!

Cerpen ini lolos moderasi pada: 2 June, 2014