Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN KONSEP DIRI: DEFISIT PERAWATAN DIRI

Koordinator Mata Kuliah: Ermawati Dalami, S.Kp, M.Kes


Dosen Pembimbing: Lailatul Fadilah, S.Kep, Ners, M.Kep

Disusun Oleh : Tingkat II DlV

1. Arti Aryaningtyas 8. Ikroyanah


2. Aulia Zulfa Mufida 9. Riri Andriani
3. Eka Trisnawati 10. Rista Safitri
4. Holau Hatina 11. Roihatul Jannah
5. Iin Suharni 12. Siti Hanifah
6. Ika Trianingsih 13. Siti Nur Khofifah
7. Ike Gusiswanti

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN
TAHUN 2016/2017
LAPORAN PENDAHULUAN

1. MASALAH UTAMA
Defisit Perawatan Diri

2. PROSES TERJADINYA MASALAH


A. Pengertian
Kurangnya perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi akibat
adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas
perawatan diri menurun. Kurang perawatan diri tampak dari ketidakmampuan merawat
kebersihan diri diantaranya mandi, makan dan minum secara mandiri, berhias secara
mandiri, dan toileting (Buang Air Besar[BAB]/Buang Air Kecil[BAK]).
Defisit perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam
memenuhi kebutuhannya guna mempertahankan hidupnya, kesehatannya dan
kesejahteraannya sesuai dengan kondisi kesehatannya. Klien dinyatakan terganggu
perawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan dirinya. (Aziz R., 2003)

B. Etiologi
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000), penyebab kurang perawatan diri adalah
kelelahan fisik dan penurunan kesadaran. Menurut Depkes (2000), penyebab kurang
perawatan diri adalah :
a. Faktor prediposisi
1) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan
inisiatif terganggu.
2) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.
3) Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.

2
4) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi
lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
b. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presipitasi defisit perawatan diri adalah kuang penurunan
motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami
individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.

Menurut Depkes (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah :

a) Body Image. Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan


diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan
kebersihan dirinya.
b) Praktik Sosial. Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka
kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c) Status Sosial Ekonomi. Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun,
pasta gigi, skat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
d) Pengetahuan. Pengetahuan Personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang
baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus
ia harus menjaga kebersihan kakinya.
e) Budaya. Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
f) Kebiasaan seseorang. Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti penggunaan sabun, shampo dan lai-lain.
g) Kondisi fisik atau psikis. Pada keadaan tertentu/sakit kemampuan untuk merawat diri
berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.

C. Jenis-jenis Defisit Perawatan Diri


Menurut Nanda-I (2012), jenis perawatan diri terdiri dari :
a. Defisit perawatn diri: mandi;
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan mandi/beraktivitas
perawatan diri untuk diri sendiri.
b. Defisit perawatan diri: berpakaian;
Hambatan kemampuan untuk melakukan atau meyelesaikan aktivitas berpakaian dan
berhias untuk diri sendiri.

3
c. Defisit pearawatan diri: makan;
Hamabtan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas makan sendiri.
d. Defisit perawatan diri: eliminasi;
e. Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas eliminasi
sendiri.

D. Tanda dan gejala


Adapun tanda dan gejala defisit perawatan diri menurut Fitria (2009) adalah sebagai
berikut :
a. Mandi/hygiene
Klien mengalami ketidakmamouan dalam membersihkan badan, memperoleh atau
mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi, mendapatkan
perlengkapan mandi, mengeringkan tubuh, serta masuk dan keluar kamar mandi.
b. Berpakaian/berhias
Klien mempunyai kelemahan dalam meletakkan atau mengambil potongan pakaian,
menanggalkan pakaian, serta memperoleh atau menukar pakaian. Klien juga
memiliki ketidakmampuan untuk mengenakan pakaian dalam, memilih pakaian,
menggunakan alat tambahan, menggunakan kancing tarik, melepaskan pakaian,
menggunakan kaos kaki, mempertahankan penampilan pada tingkat yang
memuaskan, mengambil pakaian dan mengenakan sepatu.
c. Makan
Klien mempunyai ketidakmampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan
makanan, menangani perkakas, mengunyah makanan, menggunakan alat tambahan,
membuka container, memanipulasi makanan dalam mulut, mengmbil makanan dari
wadah lalu memasukannya ke mulut, melengkapi makanan, mencerna makanan
menurut cara yang diterima masyarakat, mengambil cangkir atau gelas, serta
mencerna cukup makanan dengan aman.
d. Eliminasi
Klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam mendapatkan jamban atau
kamar kecil, susuk atau bangkit dari jamban, memanipulasi pakaian atau toileting,
membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan tepat dan menyiram toilet atau kamar
kecil.

4
Menurut Depkes (2000), tanda dan gejala kien dengan defisit perawatan diri adalah :
a. Fisik
1) Badan bau, pakaian kotor;
2) Rambut dan kulit kotor;
3) Kuku panjang dan kotor;
4) Gigi koto disertai bau mulut;
5) Penampilan tidak rapi.
b. Psikologis
1) Malas, tidak inisiatif;
2) Menarik diri, isolasi diri;
3) Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
c. Sosial
1) Interaksi kurang;
2) Kegiatan kurang;
3) Tidak mampu berperilaku sesuai norma;
4) Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarag tempat, gosok gigi dan
mandi tidak mampu mandiri.

E. Batasan Karakteristik
Menurut Nanda-I (2012), batasan karakteristik klien dengan defisit perawatan diri
adalah :
a. Defisit perawatan diri: mandi;
1) Ketidakmampuan untuk mengakses kamar mandi
2) Ketidakmampuan mengeringkan tubuh
3) Ketidakmampuan mengambil perlengkapan kamar mandi
4) Ketidakmampuan menjangkau sumber air
5) Ketidakmampuan mengatur air mandi
6) Ketidakmampuan membasuh tubuh
b. Defisit perawatan diri: berpakaian;
1) Ketidakmampuan mengancing pakaian
2) Ketidakmampuan mendapatkan pakaian
3) Ketidakmampuan mengenakan atribut pakaian
4) Ketidakmampuan mengenakan sepatu

5
5) Ketidakmampuan mengenakan kaus kaki
6) Ketidakmampuan melepaskan atribut pakaian
7) Ketidakmampuan melepas sepatu
8) Ketidakmampuan melepas kaus kaki
9) Hambatan memilih pakaian
10) Hambatan mempertahankan penampilan yang memuaskan
11) Hambatan mengambil pakaian
12) Hambatan mengenakan pakaian pada bagian tubuh bawah
13) Hambatan mengenakan pakaian pada bagian tubuh atas
14) Hambatan memasang sepatu
15) Hambatan memasang kaus kaki
16) Hambatan melepaskan pakaian
17) Hambatan melepas sepatu
18) Hambatan melepas kaus kaki
19) Hambatan menggunakan alat bantu
20) Hambatan menggunakan resleting

c. Defisit perawatan diri: makan;


1) Ketidakmampuan mengambil makanan dan memasukan ke mulut
2) Ketidakmampuan menguyah makanan
3) Ketidakmampuan menghabiskan makanan
4) Ketidakmampuan menempatkan makanan ke perlengkapan makan
5) Ketidakmampuan menggunakan perlengkapan makan
6) Ketidakmampuan memakan makanan dalam cara yang dapat
diterima secara sosial
7) Ketidakmampuan memakan makan dengan aman
8) Ketidakmampuan memakan makanan dalam jumlah memadai
9) Ketidakmampuan memanipulasi makanan dalam mulut
10) Ketidakmampuan membuka wadah makanan
11) Ketidakmampuan mengambil gelas dan cangkir
12) Ketidakmampuan memakan makanan untuk dimakan
13) Ketidakmampuan menelan makanan
14) Ketidakmampuan menggunakan alat bantu

6
d. Defisit perawatan diri: eliminasi;
1) Ketidakmampuan melakukan hygiene eliminasi yang tepat
2) Ketidakmampuan menyiram toilet atau kursi buang air
(commode)
3) Ketidakmampuan naik ke toilet atau commode
4) Ketidakmampuan memanipulasi pakaian untuk eliminasi
5) Ketidakmampuan berdiri dari toilet atau commode
6) Ketidakmampuan untuk duduk di toilet atau commode

F. Dampak Masalah Defisit Perawatan Diri


a. Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya
kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah:
gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan
telinga, gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak Psikososial
Masalah yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan
rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri. Aktualisasi
diri, dan gangguan interaksi sosial.

3. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Data yang biasa ditemukan dalam Defisit Perawatan Diri adalah :
1) Data subjektif :
a. Pasien merasa lemah
b. Malas untuk beraktivitas
c. Merasa tidak berdaya
2) Data objektif :
a. Rambut kotor, acak-acakan
b. Badan dan pakaian kotor dan bau
c. Mulut dan gigi bau
d. Kulit kusam dan kotor
e. Kuku panjang dan tidak terawat

7
b. Mekanisme koping :
1) Regresi
2) Penyangkalan
3) Isolasi sosial, menarik diri
4) Intelektualisasi

Format/data fokus pengkajian pada klien dengan Defisit Perawatan Diri

(Keliat dan Akemat, 2009)

a. Status Mental
1. Penampilan
[ ] Tidak rapi
[ ] Penggunaan pakaian tidak sesuai
[ ] Cara berpakaian tidak seperti biasanya
Jelaskan ...........................................................................................................
Masalah Keperawatan .....................................................................................
a. Kebutuhan Sehari-hari
1. Kebersihan diri
[ ] Bantuan minimal [ ] Bantuan total
2. Makan
[ ] Bantuan minimal [ ] Bantuan total
3. BAB/BAK
[ ] Bantuan minimal [ ] Bantuan total
4. Berpakaian/ berhias
[ ] Bantuan minimal [ ] Bantuan total
Jelaskan ...........................................................................................................
Masalah Keperawatan .....................................................................................

8
4. MASALAH KEPERAWATAN & DATA YANG PERLU DIKAJI

Masalah Keperawatan Data Yang Perlu Dikaji


Defisit Perawatan Diri Subjektif :
Klien mengatakan merasa lemah, malas untuk beraktivitas,
dan merasa tidak berdaya

Objektif :
Klien terlihat :
- Rambut kotor, acak-acakan
- Badan dan pakaian kotor dan bau
- Mulut dan gigi bau
- Kulit kusam dan kotor
- Kuku panjang dan tidak terawat

5. POHON MASALAH

Defisit Perawatan Diri


Effect

Menurunnya motivasi dalam


perawatan diri
Core Problem

Causa

9
6. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Defisit perawatan diri

7. RENCANATINDAKAN KEPERAWATAN

No Rencana Tindakan Keperawatan Rasional


1. SP 1: Pengenalanan formasi tentang
1. Menjelaskan pentingnya kebersihan kebersihan diri dapat meningkatkan
diri kemampuan pasienu ntuk kebersihan diri
2. Menjelaskan cara menjaga secaraman diri
kebersihan diri
3. Membantu pasien mempraktikan
cara menjaga kebersihan diri
4. Menganjurkan pasien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian
2. SP 2: Meningkatkan kebersihan dan kerapian
pasien
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan
harian pasien
2. Menjelaskan cara berdandan
3. Membantu pasien dalam
mempraktikkan cara berdandan
4. Menganjurkan klien memasukan
latihan kemampuan keempat
ke dalam jadwal harian
3. SP 3: Memenuhi kebutuhan makan secara
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan baika kan memperbaiki pola makan
harian pasien pasien
2. Menjelaskan cara makan yang
baik
3. Membantu pasien mempraktikan
cara makan yang baik
4. Menganjurkan pasien
memasukkan dalam jadwal

10
kegiatan harian

4. SP 4: Meningkatkan kemampuan pasien dalam


1. Mengevaluasi jadwal kegiatan melakukan kegiatan eliminasi sehari-hari
harian pasien
2. Menjelaskan cara eliminasi yang
baik
3. Membantu pasien mempraktikan
cara eliminasi yang baik
4. Menganjurkan klien memasukan
latihan kemampuan ketiga
ke dalam jadwal harian

11
DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti, Mukhripah dan Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika
Aditama

12