Anda di halaman 1dari 6

LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumber daya


alamyang melimpah, baik itu sumber daya alam hayati maupun sumber daya alam non-
hayati. Sumber daya mineral merupakan salah satu jenis sumber daya non-hayati.Sumber
daya mineral yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam baik dari segikualitas maupun
kuantitasnya. Endapan bahan galian pada umumnya tersebar secaratidak merata di dalam
kulit bumi. Sumber daya mineral tersebut antara lain: minyak bumi, emas, batu
bara,perak,timah,dan lain-lain.

Sumber daya mineral yang berupa endapan bahan galian memiliki sifat
khususdibandingkan dengan sumber daya lain yaitu biasanya disebut wasting assets
ataudiusahakan ditambang, maka bahan galian tersebut tidak akan “tumbuh” atau tidak
dapat diperbaharui kembali. Dengan kata lain industri pertambangan merupakan
industridasar tanpa daur, oleh karena itu di dalam mengusahakan industri pertambangan
akan selalu berhadapan dengan sesuatu yang serba terbatas, baik lokasi, jenis,
jumlahmaupun mutu materialnya.

Keterbatasan tersebut ditambah lagi dengan usahameningkatkan keselamatan kerja


serta menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan demikian dalam mengelola
sumberdaya mineral diperlukan penerapan sistempenambangan yang sesuai dan tepat,
baik ditinjau dari segi teknik maupun ekonomis,agar perolehannya dapat optimal.
PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan Lingkungan Dalam Pembangunan Pertambangan Energi

Masalah-masalah lingkungan dalam pembangunan lahan pertambangan dapat


dijelaskan dalam berbagai macam hal. Berikut ini adalah maslah lingkungan dalam
pembangunan lahan pertambangan:

1. Menurut jenis yang dihasilkan di Indonesia terdapat antara lain pertambangan minyak
dan gas bumi, logam-logam mineral antara lain seperti timah putih, emas, nikel,
tembaga, mangan, air raksa, besi, belerang, dan lain-lain dan bahan-bahan organik
seperti batubara, batu-batu berharga seperti intan, dan lain- lain.
2. Pembangunan dan pengelolaan pertambangan perlu diserasikan dengan bidang energi
dan bahan bakar serta dengan pengolahan wilayah, disertai dengan peningkatan
pengawasan yang menyeluruh.
3. Pengembangan dan pemanfaatan energi perlu secara bijaksana baik itu untuk keperluan
ekspor maupun penggunaan sendiri di dalam negeri serta kemampuan penyediaan
energi secara strategis dalam jangka panjang. Sebab minyak bumi sumber utama
pemakaian energi yang penggunaannya terus meningkat, sedangkan jumlah
persediaannya terbatas. Karena itu perlu adanya pengembangan sumber-sumber energi
lainnya seperti batu bara, tenaga air, tenaga air, tenaga panas bumi, tenaga matahari,
tenaga nuklir, dan sebagainya.
4. Pencemaran lingkungan sebagai akibat pengelolaan pertambangan umumnya
disebabkan oleh faktor kimia, faktor fisik, faktor biologis. Pencemaran lingkungan ini
biasanya lebih dari pada diluar pertambangan. Keadaan tanah, air dan udara setempat
di tambang mempunyai pengarhu yang timbal balik dengan lingkunganya. Sebagai
contoh misalnya pencemaran lingkungan oleh CO sangat dipengaruhi oleh keaneka
ragaman udara, pencemaran oleh tekanan panas tergantung keadaan suhu, kelembaban
dan aliran udara setempat.
5. Melihat ruang lingkup pembangunan pertambangan yang sangat luas, yaitu mulai dari
pemetaan, eksplorasi, eksploitasi sumber energi dan mineral serta penelitian deposit
bahan galian, pengolahan hasil tambang dan mungkin sampai penggunaan bahan
tambang yang mengakibatkan gangguan pad lingkungan, maka perlua adanya
perhatian dan pengendalian terhadap bahaya pencemaran lingkungan dan perubahan
keseimbangan ekosistem, agar sektor yang sangat vital untuk pembangunan ini dapat
dipertahankan kelestariannya.
6. Dalam pertambangan dan pengolahan minyak bumi misalnya mulai eksplorasi,
eksploitasi, produksi, pemurnian, pengolahan, pengangkutan, serta kemudian
menjualnyatidak lepas dari bahaya seperti bahaya kebakaran, pengotoran terhadap
lingkungan oleh bahan-bahan minyak yang mengakibatkan kerusakan flora dan fauna,
pencemaran akibat penggunaan bahan-bahan kimia dan keluarnya gas-gas/uap-uap ke
udara pada proses pemurnian dan pengolahan.

2.2 Penyehatan Lingkungan Pertambangan, Pencemaran dan Penyakit-penyakit yang


Mungkin Timbul

Upaya yang dilakukan dengan berbagai metode seperti ameliorasi, penggunaan bahan
organik, penggunaan mikroorganisme, dan penanaman covercrop.

1. Ameliorasi/remediasi lahan

Upaya pemberian masukan berupa kapur atau bahan organik ke atas permukaan
lahan atau ke dalam lubang tanam dengan tujuan untuk memperbaiki sifatfisika,
kimiawi dan biologi tanah.

2. Penggunaan Bahan Organik

Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks yang


sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi
maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia
heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan berada didalamnya.

3. Penanaman Cover Crop

Tanaman kacang-kacangan penutup tanah/ Cover Crop adalah setiap tanaman


tahunan, dua tahunan, atau tahunan tumbuh sebagai monokultur (satu jenis tanaman
tumbuh bersama-sama) atau polikultur (beberapa jenis tanaman tumbuh bersama-
sama), untuk memperbaiki berbagai kondisi yang terkait dengan pertanian
berkelanjutan.

4. Pemanfaatan Mikroorganisme

Fungi atau jamur merupakan salah satu mikroorganisme yang secara umum
mendominasi (hidup) dalam ekosistem tanah. Mikroorganisme ini dicirikan dengan
miselium berbenang yang tersusun dari hifa individual. Saat ini beberapa jenis fungi
telah dimanfaatkan untuk mengembalikan kualitas/kesuburan tanah. Hal ini karena
secara umum fungi mampu menguraikan bahan organik dan membantu proses
mineralisasi di dalam tanah, sehingga mineral yang dilepas akan diambil oleh
tanaman.

Penambangan dapat menyebabkan kecelakaan-kecelakaan yang serius seperti


kebakaran-kebakaran, ledakan-ledakan, atau lorong-lorong galian yang rubuh yang
dapat menimbulkan dampak pada orang-orang yang bermukim di komunitas sekitar
tambang.Dampak dan bahaya yang mengancam kesehatan masih juga dirasakan di
tempat-tempat bekas daerah yang pernah ditambang, karena orang-orang dapat
terpapar limbah tambang dan bahan-bahan kimia yang masih melekat di tanah dan di
air.Pertambangan mengancam kesehatan dengan berbagai cara:

1 Debu, tumpahan bahan kimia, asap-asap yang beracun, logam- logam berat dan
radiasi dapat meracuni penambang dan menyebabkan gangguan kesehatan sepanjang
hidup mereka. Kerusakan paru-paru yang diakibatkan debu dari batuan dan mineral
adalah suatu masalah kesehatan yang banyak ditemukan. Debu yang paling berbahaya
datang dari batubara, yang menyebabkan penyakit paru-paru hitam (black lung
diseases).Di samping itu debu dari silika menyebabkan silikosis (silicosis) Gejala-
gejala paru-paru yang rusak. Debu dari pertambangan dapat membuat sulit
bernapas.Jumlah debu yang banyak menyebabkan paru-paru dipenuhi cairan dan
membengkak.
2 Mengangkat peralatan berat dan bekerja dengan posisi tubuh yang janggal dapat
menyebabkan luka-luka pada tangan, kaki, dan punggung.
3 Penggunaan bor batu dan mesin-mesin vibrasi dapat menyebabkan kerusakan
pada urat syaraf serta peredaran darah, dan dapat menimbulkan kehilangan rasa,
kemudian jika ada infeksi yang sangat berbahaya seperti gangrene, bisa
mengakibatkan kematian.
4 Bunyi yang keras dan konstan dari peralatan dapat menyebabkan masalah
pendengaran, termasuk kehilangan pendengaran.
5 Jam kerja yang lama di bawah tanah dengan cahaya yang redup dapat merusak
penglihatan.
6 Bekerja di kondisi yang panas terik tanpa minum air yang cukup dapat
menyebabkan stres kepanasan.Gejala-gejala dari stres kepanasan berupa pusing-
pusing, lemah, dan detak jantung yang cepat, kehausan yang sangat, dan jatuh
pingsan.
7 Pencemaran air dan penggunaan sumberdaya air berlebihan dapat menyebabkan
banyak masalah-masalah kesehatan
8 Lahan dan tanah menjadi rusak, menyebabkan kesulitan pangan dan kelaparan
9 Pencemaran udara dari pembangkit listrik dan pabrik-pabrik peleburan yang
dibangun dekat dengan daerah pertambangan dapat menyebabkan penyakit-penyakit
yang serius.

PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Kegiatan pertambangan membawa dampak buruk bagi lingkungan perairan


akibat penggunaan senyawa logam berat merkuri (Hg). Merkuri dapat terakumulasi
dalam tubuh organisme yang hidup di perairan dan bersifat toksik atau mematikan
pada konsentrasi tertentu. Selain itu pencemaran lingkungan perairan akibat kegiatan
pertambangan secara nyata berpengaruh terhadap perekonomian nelayan. Merkuri
yang mencemari perairan berpotensi menurunkan kualitas dan produktifitas perairan
sehingga mengurangi hasil tangkapan nelayan. Solusi untuk mengatasi dampak
pencemaran perairan oleh kegiatan penambangan terbagi dari sisi ekologi dan
ekonomi. Dari sisi ekologi berupa pembangunan bendungan serta Instalasi Pengolah
Limbah (IPAL). Sedangkan dari sisi ekonomi, khususnya bagi nelayan, dapat
dilakukan dengan penerapan strategi pertahanan hidup substitutif.

3.2 Saran

Kegiatan pertambangan di Indonesia harus dipantau secara ketat untuk


menghindari adanya penambangan ilegal yang seringkali mengabaikan dampak
negatif yang timbul pascapenambangan. Setiap industri penambangan perlu
melakukan recovery terhadap lingkungan pada tahap pascaoperasi kegiatan
penambangan agar dampak yang merugikan dapat ditekan.