Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PEMULIAAN HEWAN

BREEDING UNGGAS

Oleh:
Ridha Avicena Ila Salsabila 165130107111024
Pramiswari R. 165130101111028
Dhanti Kusumaningdiah 165130101111026
Rizki Ainun Najib 165130101111015
Setiawan Surya Paku A 165130100111012
Renalda Kurnia E 165130101111018
Zarzarotin Mafaza 165130100111022
M. Zuliono D. R. P 165130100111015
Muhamad Ferian 165130107111022
Chintya Devy P. 165130101111008
Shintya Nindhysari 165130107111009
Rahmatul Laili Hanifah 165130101111032

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Negara Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Seiring dengan
naiknya pendapatan perkapita penduduk Indonesia, meningkat pula kebutuhan akan protein
hewani. Masyarakat semakin menyadari akan pentingnya protein hewani bagi pertumbuhan
jaringan tubuh. Salah satu sumber protein adalah daging ayam broiler. Ditinjau dari nilai
gizinya, daging ayam broiler tidak kalah dibandingkan dengan daging dari ternak lain. Selain
itu daging ayam broiler mudah didapatkan dan harganya relatif murah, karena pemeliharaan
ayam broiler relatif singkat yaitu 35 hari (solikhin, 2011)
Unggas merupakan salah satu dari sumber protein yang terjangkau. Peternakan unggas
menurut Hestina ( 2011) prospek untuk peternakan setiap tahunnya akan meningkat hal itu
dapat di lihat dari konsumsi per kapita yang semakin meningkat tiap tahunnya. Salah satu
unggas misalnya ayam broiler, ayam ini mudah untuk pemeliharaannya Ayam broiler adalah
salah satu jenis ternak ayam yang mudah dipelihara, paling cepat pertumbuhannya, dan murah
biaya pemeliharaannya. Selain itu juga daging ayam broiler pemasarannya mudah
(Simatupang, 2004)
Pemeliharaan ayam broiler terbagi menjadi dua periode yaitu periode brooding dan
periode finisher. Pemeliharaan itu sendiri adalah suatu kegiatan tata laksana peternakan secara
keseluruhan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Periode brooding yaitu periode
pemeliharaan sejak DOC (Day Old Chicken) datang sampai ayam dilepas dari pemanas. Lalu
periode yang ke dua yaitu periode finisher yaitu pemeliharaan sejak dari dilepasnya induk
buatan sampai ayam dipanen. Pemeliharaan periode brooding sampai finisher dapat
berlangsung dalam waktu 6-9 minggu. Periode brooding dan finisher saling berkaitan
(Simatupang, 2004)
Hanya sebagian kecil dari peternakan rakyat yang sudah menerapkan manajemen
pemeliharaan yang sesuai dan diikuti dengan penerapan teknologi. Ini merupakan salah satu
hambatan dalam peningkatan populasi ayam broiler. Padahal jika kita lihat, Indonesia memiliki
kondisi lingkungan yang baik untuk pengembangan ayam broiler, terutama temperatur luar
yang lebih rendah dibandingkan dengan temperatur tubuh ayam. Sehingga peluang
pemeliharaan ayam broiler di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Melalui kegiatan magang
Manajemen Pemeliharaan Ayam Broiler di UD Hadi PS ini, diharapkan akan diketahui cara
pemeliharaan ayam mulai dari DOC sampai finisher, peralatan yang digunakan, pemberian
pakan,vaksinasi dan sistem perkandangan sehingga pada akhirnya dapat diterapkan di lapangan
(solikhin, 2011)

1.2 Tujuan
Mengetahui fungsi dari recording dalam sebuah peternakan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Ternak Unggas


Ternak unggas merupakan jenis-jenis yang dibudidayakan untuk tujuan produksi
sebagai penghasil pangan sumber protein hewani bagi masyarakat dan memiliki nilai
ekonomis bagi manusia yang memeliharanya. Beberapa jenis memberikan keuntungan
antaralain adalah ayam, itik, kalkun, merpati, dan puyuh. Unggas mempunyai keistimewaan
dibandingkan dengan ternak lainnya yaitu unggas dapat diproduksi secara masal dalam
waktu yang singkat, sehingga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pangan (Yuwanta,
2011).
Salah satu jenis ternak unggas yaitu peternakan ayam Pedaging (Broiler) yang
merupakan ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam
waktu relatif singkat (5 sampai 7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting
sebagai sumber protein hewani asal ternak. Pengertian Ayam Broiler adalah istilah yang
biasa dipakai untuk menyebut ayam hasil budidaya teknologi peternakan yang memiliki
karakteristik ekonomi dengan ciri khas pertumbuhan yang cepat, sebagai penghasil daging
dengan konversi pakan rendah dan siap dipotong pada usia yang relatif muda. Pada
umumnya broiler ini siap panen pada usia 28 sampai 45 hari dengan berat badan 1,2 sampai
1,9 kg/ekor (Azis, 2010).
Ayam Broiler adalah jenis ayam ras unggul hasil persilangan antara bangsa ayam
cornish dari Inggris dengan ayam white play mounth Rock dari Ameirka. Ayam broiler
adalah ayam pedaging yang dipelihara hingga 6 sampai 13 minggu dengan bobot hidup
dapat mencapai 1,5 kg pada umur 6 minggu. Pemeliharaan ayam ras pedaging/broiler
terkadang terkendala oleh tidak stabilnya nafsu makan ayam yang bisa disebabkan oleh
berbagai faktor, mulai dari stres, perubahan cuaca, dan lain-lain (Rasyaf, 2008).

2.2 Sistem Perkandangan


Kandang merupakan suatu lingkungan unggas untuk hidup dan bereproduksi.
Kandang didesain senyaman mungkin untuk unggas sendiri karena berpengaruh terhadap
kesehatan dan hasil produksi yang maksimal. Prinsip dasar pembuatan kendang perlu
diperhatikan faktor sirkulasi udara di peternakan, kandang yang cukup sinar matahari di
pagi hari ( tetapi tidak sepanjang waktu harus terkena sinar matahari ), permukaan lahan
peternakan, dan sistem perkandangannya dibangun dengan sistem terbuka yang bertujuan
untuk mendapatkan udara semaksimal mungkin sehingga suasana kandang segar dan
nyaman bagi unggas itu. Kandang yang lebih dari satu dengan umur yang sama maka
kumpulan kandang tersebut disebut satu flock ( Aziz dkk,2010 ).

2.3 Pakan
Pemberian pakan unggas harus diberikan setiap hari sesuai dengan kebutuhan
ayam, baik secara kuantitatif maupun kualitasnya. Ayam membutuhkan setidaknnya 40
senyawa kimia esensial yang harus ada dalam ransum ayam. Senyawa kimia tersebut harus
dalam jumlah yang cukup dalam perbandingan optimum satu terhadap lainnya dan dalam
bentuk yang mudah di dapat untuk merangsang pertumbuhan laju maksimum, produksi
telur. Apabila hal tersebut kurang di perhatikan oleh peternak maka pertumbuhan ayam,
produksi akan turun dan ayam akan mudah terserang penyakit ( Rasyaf, 2008 ).

2.4 Pemeliharaan Unggas


2.4.1 Pemeliharaan Fase Starter
Sebelum pemeliharaan dilakukan, ada baiknya dilakukan sanitasi kandang
yang akan digunakan serta penataan segala peralatan pakan dan minum untuk unggas
fase starter dan perlu disiapkan pemanas yang mirip dengan suhu indukan. Untuk
penanganan unggas fase starter dapat diberikan vaksinasi, pemberian vitamin dan
antibiotic, menimbang bobot badan awal dan pemberian pakan dan minum untuk
unggas fase starter ( Bahrul,2014 ).
2.4.2 Pemeliharaan Fase Grower
Fase pertumbuhan unggas berumur 6-14 minggu. Pada umur 14-20 minggu
pertumbuhannya sudah menurun tetapi fase perkembangan naik. Ada beberapa
metode pembatasan ransum pada saat fase pertumbuhan agar ayam tidak terlalu
gemuk, diataranya dengan
a. Mengurangi jumlah ransum yang diberikan
b. Membatasi waktu pemberian ransum
c. Sebaliknya apabila pada umur 12 minggu masih terlalu berat, maka pembatasan
pemberian ransum harus terus dilanjutkan sehingga pada saat mencapai dewasa
kelamin berat badan yang dianjurkan dapat tercapai.
d. Berat badan yang dianjurkan untuk ayam tipe ringan pada saat mencapai dewasa
kelamin yaitu sekitar 1,5 kg dan untuk ayam tipe medium 1,8 kg ± 10%. Untuk
mengetahui berat badan tidak perlu semuanya ditimbang tetapi cukup mengambil
contoh 10% dari jumlah ayam yang ada. Dari hasil penimbangan ini kita dapat
menduga apakah ayam yang kita pelihara terlalu gemuk/tidak ( Bahrul,2014 ).

2.4.4 Pemeliharaan Fase Layer


Pemeliharaan fase ini, unggas seharusnya diberi perlakuan semaksimal
mungkin agar produk yang dihasilkan maksimal. Ayam dimasukkan kedalam kandang
layer ketika berumur 67 hari – 85 hari. Melebihi umur tersebut, ayam dapat
dikonsumsi. Pemberian pakan ayam layer di lakukan 2 kali dalam sehari yaitu pagi
jam 07.00 dan siang jam 14.00, manajemen kesehatan ayam layer yang di lakukan
setiap hari yaitu selalu mengadakan kontrol terhadap kandang, pengontrolan kandang
di lakukan dengan cara mengelilingi kandang dan mengecek feses ayam, feses yang
encer dan berwarna kehijauan di beri antibiotik dengan dosis pengobatan.
Penyemprotan kandang dengan desinfektan di lakukan berkala tiga hari sekali. Selain
dari pada itu untuk menjaga ayam agar selalu dalam kedaan sehat pemberian vitamin
dan antibiotik dosis pencegahan selalu di berikan secara bergantian ( Bahrul,2014 ).
BAB III
PEMBAHASAN

2.1 Recording
Recording adalah suatu usaha yang dikerjakan oleh peternak untuk mencatat gagal atau
berhasilnya suatu usaha peternakan. Di bidang usaha peternakan program ini diterapkan hampir
pada semua sektor usaha ternak mulai ternak unggas (layer, broiler, penetasan), ternak potong
(sapi perah, sapi potong, kambing dan domba), dan aneka ternak seperti kelinci dan lainnya.
Mengingat manfaat dan pentingnya program ini maka masalah ini perlu diangkat walaupun
sudah banyak tulisan yang serupa dengan harapan artikel ini menjadi bahan pelengkap dari
artikel yang sudah ada.
Banyak faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan. Faktor tersebut kalau
dikelompokkan akan mengerucut menjadi tiga faktor utama yaitu faktor pakan, bibit dan
manajemen pemeliharaan (lingkungan). Faktor bibit, pakan, dan manajemen pemeliharaan,
semuanya saling terkait mendukung keberhasilan usaha sehingga tidak bisa mengabaikan salah
satunya. Dan cukup menjadi salah satu cermin manajemen yang baik adalah adanya catatan
produksi baik catatan produksi harian atau bulanan yang tertib.
Apa saja yang perlu pencatatan? Dalam usaha peternakan banyak sekali komponen
recording yang harusnya mendapat perhatian antara lain : jumlah populasi, jumlah pemberian
pakan, jumlah produksi harian yang dihasilkan, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, tingkat
kematian (mortalitas) ternak yang dipelihara, penyakit yang menyerang, riwayat kesehatan
(medical record), obat yang dibutuhkan, vaksinasi yang dibutuhkan dan masih banyak lainnya.
Intinya semakin banyak pencatatan yang dilakukan akan semakin baik manajemen usaha yang
di jalankan. Perlu diperhatikan juga bahwa recording yang dilakukan juga harus mudah
dipahami oleh penggunanya
Kegunaan recording :
1. Mengetahui jumlah populasi akhir. Ini perlu karena bagaimanapun letak
keuntungan ditentukan oleh jumlah populasi akhir. Dengan diketahuinya populasi
akhir kita juga akan mengetahui jumlah ternak yang mati, hilang, dan sebagainya
selama masa pemeliharaan
2. Untuk bahan pertimbangan dalam penilaian tata laksana yang sedang dilaksanakan.
Seperti tingkat pertambahan berat badan (PBB), Feed Consumtion Rate (FCR),
jumlah produksi, kesehatan ternak
3. Sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan sehari-hari
4. Sebagai langkah awal dalam menyusun rencana jangka panjang
5. Bagi pemerintah berguna untuk penyusunan kebijakan dalam bidang peternakan
seperti apakah diperlukan import untuk pemenuhan kebutuhan sehingga produksi
tetap seimbang
6. Mempermudah peternak melakukan evaluasi, mengontrol dan memprediksi tingkat
keberhasilan usaha
7. Bagi perguruan tinggi data recording bisa sebagai bahan penelitian

Di negara berkembang recording belum banyak di lakukan karena beberapa hal :


1. Rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh peternak
2. Kurangnya perhatian peternak terhadap sistem recording
3. Sedikitnya jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak
4. Belum menjalankan program pemuliaan ternak
Recording yang baik adalah recording yang data-datanya dapat dipertanggung
jawabkan dan dapat dipercaya serta selalu aktual tiap hari. Recording akan mempermudah
membuat keputusan yang tepat untuk program selanjutnya. Nah, sudah waktunya kita sedikit
professional dalam mengelola usaha kita.
Banyak cara dan bentuk pencatatan yang sangat bervariasi ber-dasarkan kebutuhan dan
selera peternak sendiri. Begitu beraneka ragamnya pencatatan dari yang sulit sampai dengan
yang paling sederhana, tetapi kesemuanya itu yang penting adalah bentuk yang sederhana,
tetapi jelas bentuk mana yang dapat memenuhi kebutuhan yang pokok dan mudah dimengerti
baik oleh peternak, petugas maupun pendatang/tamu serta mudah dilaksanakan.

2.2 Seleksi
Seleksi dalam usaha peternakan broiler dapat diartikan memilih ternak broiler sesuai
dengan tingkat pertumbuhannya, lalu dipisahkan satu dengan yang lainya. Tujuan seleksi
adalah untuk membedakan broiler yang pertumbuhannya baik dan kurang baik. Jika ditemui
broiler dengan pertumbuhan kurang baik, broiler tersebut harus diberi perlakuan tertentu,
misalnya pemberian pakan atau vitamin sehingga laju pertumbuhannya meningkat. Selain itu,
seleksi dilakukan agar keseragaman ayam yang telah diseleksi akan membatasi persaingan
dalam mendapatkan pakan sehingga semua ayam mendapatkan pakan secara proporsional.
Seleksi paling efektif dilakukan pada saat vaksinasi sebab pada saat itu pertumbuhan ayam
sudah bisa diketahui.
Seleksi merupakan salah satu cara perbaikan mutu genetik dengan mempertahankan
kemurnian ternak, yang pelaksanaannya akan efektif apabila telah diketahui parameter genetik
berupa nilai pemuliaan (breeding value). Nilai pemuliaan menunjukkan nilai genetik ternak
kedudukannya relatif di dalam populasinya. Pemilihan ternak untuk dibudidayakan didasarkan
pada ternak yang memiliki nilai pemuliaan di atas rata-rata populasinya. Seleksi merupakan
upaya peningkatan mutu genetik ternak dengan mempertahankan kemurniannya. Seleksi ternak
akan menghasilkan keputusan yang akurat apabila berdasarkan pada nilai pemuliaan. Hal ini
disebabkan nilai pemuliaan menunjukkan potensi gewnetik ternak kedudukannya relatif di
dalam populasi. Nilai pemuliaannya yang sebenarnya sulit diketahui dan kita hanya menduga
nilai tersebut berdasarkan catatan fenotipik. Keakuratan dalam pendugaan nilai pemuliaan
dapat memberikan pengambilan keputusan yang tepat untuk melakukan seleksi puyuh.

Dengan berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) akhir-akhir ini,


program seleksi dapat diperbaiki dengan penggunaan teknik molekuler melalui material DNA.
Penggunaan penanda genetik kaitannya dengan seleksi yang dikenal sebagai MAS (Marker
Assisted Selection), menyebabkan proses seleksi dapat dipercepat, sehingga sangat berguna di
dalam ketepatan dan kecepatan seleksi. Dengan memanfaatkan keragaman tersebut dapat
dilakukan upaya perbaikan mutu genetik melalui seleksi divergen berat badan puyuh dan
deteksi polimorfisme gen GH hasil PCR-RFLP (enzim Msp I). Hasil penelitian yang telah
dilakukan ditemukan adanya polimorfisme gen GH yang diharapkan dapat dimanfaatkan
sebagai penanda dalam percepatan seleksi divergen berat badan.

Pengembangbiakan ternak ayam dan itik lokal dilaksanakan dengan ketentuan


sebagai berikut :

1. Ayam lokal
Rumpun ayam lokal yang dikembangkan diutamakan ayam yang telah
ditetapkan atau dilepas oleh Menteri Pertanian antara lain : ayam KUB, ayam
Sentul, ayam Gaok, ayam Kedu atau ayam lokal spesifik daerah.
2. Itik Lokal
Rumpun itik lokal yang dikembangkan diutamakan itik yang telah ditetapkan
atau dilepas oleh Menteri Pertanian antara lain : itik Master, itik Mojosari, itik
Alabio, itik Tegal, itik Kerinci, itik Pitalah, itik Rambon, itik Bayang, itik
Pegagan, itik Talang Benih, itik Magelang ataupun itik lokal Spesifik daerah
seperti : itik Cihateup, itik Turi, itik Bali.

Unggas lokal yang dikembangbiakan dianjurkan adalah rumpun asli/lokal yang


berpotensi sebagai penghasil daging dan telur. Tatacara Pengembangbiakan:

1. Sistem Perkawinan
Perkawinan antara jantan dan betina dilakukan secara alami dengan
perbandingan 1 : 5 (untuk pembibitan) 1 : 10 (untuk pengembangbiakan).
2. Penanganan Telur Tetas dan Penetasan
Penanganan telur tetas dan penetasan pada unggas dilakukan sebagai berikut:
a. Telur yang akan ditetaskan hendaknya diperoleh dari induk dengan mutu
produksi yang baik;
b. Sebelum ditetaskan, telur diseleksi sesuai persyaratan untuk telur tetas
berdasarkan bobot minimal 36 gram/butir (ayam lokal) dan 42 gram/butir (itik
lokal), bentuk telur oval, dan kondisi fisik kerabang halus dan tidak retak,
kemudian disimpan pada suhu ruangan yang sejuk paling lama 7 hari.
c. Penetasan dilakukan dengan mesin tetas yang kapasitasnya disesuaikan
dengan kebutuhan.

3. Penanganan DOC
Penanganan DOC pada pembibitan ayam lokal yang baik dilakukan sebagai berikut
:
a. Anak ayam dikeluarkan dari mesin tetas setelah bulu kering;
b. Anak ayam yang tidak memenuhi syarat kualitas disingkirkan;
c. Anak ayam yang akan dijual/dikeluarkan dari tempat pembibitan harus
sudah divaksin Marek’s ;
d. Segera setelah menetas anak ayam dipelihara dalam indukan dengan fasilitas
cukup ruang, suhu, pakan dan air minum, pada umur <3 hari dilakukan
vaksinasi ND, yang diulang pada umur 3 minggu;
e. Pengeluaran bibit DOC harus disertai dengan catatan program vaksinasi
yang telah dan seharusnya dilakukan dikemudian hari.

Peluang Usaha Ayam Broiler


Selanjutnya, seleksi dilaksanakan bertahap dan sudah harus selesai pada akhir periode
brooding. Seleksi dilakukan dengan cara menyekat kandang menjadi beberapa bagian sesuai
dengan ukuran ayam. Culling dapat diartikan “memusnahkan” ayam-ayam yang secara teknis
tidak dapat tumbuh dengan baik dan malah menghambur-hamburkan pakan. Bahkan, jika terus
dipelihara, dapat memicu timbulnya penyakit tertentu yang dapat berakibat fatal. Terkadang,
peternak merasa “sayang kalau dibuang atau kasihan” sehingga ayam tersebut ditempatkan di
pojok kandang. Padahal, itu adalah bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Solusi yang
lebih bijak adalah mengeluarkan ayam bermasalah tersebut jauh dari area kandang dan
dipelihara oleh orang lain yang sama sekali tidak terlibat dengan usaha peternakan broiler.
Berikut adalah kriteria ayam yang di-culling.
a) Ciri-ciri fisik meliputi lemah, lesu, dehidrasi, red hock, cacat (paruh/ kaki), wet vent
(kotoran menempel dan tampak basah di sekitardubur), gasping (megap-megap), serta
tortikolis (kepala berputar).
b) Dari standar berat badannya. Culling dapat dilakukan mulai empat hari (saat
vaksinasi tetes) sampai maksimal 10 hari bila berat badannya sangat ekstrim, yakni
20—25% di bawah standar.

2.3 Metode

Melakukan seleksi untuk menentukan ternak mana yang dapat dipilih untuk
bereproduksi berdasarkan keunggulannya dan disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan
manusia. Strategi pemuliaan ayam untuk memperoleh bibit yan gbaik, salah satunya dengan
melakukan seleksi. Pada ayam kampung misalnya, seleksi yang dilakukan sangat tepat
mengingat variasi genetik maupun fenotipe ayam kampung cukup tinggi. Keakuratan seleksi
salah satunya ditentukan oleh kriteria dan intensitas seleksi.

Cross breeding/persilangan
Persilangan adalah perkawinan antara ternak ayam jantan dengan ayam betina dari rumpun
yang berbeda. Persilangan dilakukan agar hasil persilangannya lebih unggul dari rumpun
murninya.
Persyaratan pelaksanaan persilangan adalah :
1. Menggunakan rumpun pada kondisi populasi aman dan/atau terkendali.
2. Menggunakan rumpun/galur ayam murni yang mempunyai spesifikasi jelas.
3. Untuk menghasilkan final stock, dilakukan persilangan 1 (satu) tahap dari rumpun
berbeda. Untuk pembentukan rumpun/galur baru : (a) dilakukan persilangan pada 2
(dua) rumpun/galur yang berbeda dan dilaksanakan minimal empat generasi dengan
perkawinan interse-nya stabil; (b) dilakukan persilangan tiga atau lebih rumpun/galur
yang berbeda, dilaksanakan hingga mencapai kestabilan genetik dan performa produksi
stabil.
4. Melakukan pencatatan pada setiap pelaksanaan persilangan.
5. Menjamin kelestarian sumber daya genetik ayam lokal.
Langkah-langkah pelaksanaan persilangan sebagai berikut:
1. Menetapkan tujuan persilangan yaitu untuk mendapatkan final stock atau galur baru
dengan tujuan untuk menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dari tetua asalnya,
2. Melakukan identifikasi dari rumpun/galur murni yang akan disilangkan
3. Melakukan persilangan antar rumpun/galur yang berbeda dengan pola perkawinan yang
jelas dan benar,
4. Melakukan pengembangbiakan hasil silangan untuk disebarluaskan di luar wilayah
pemurnian,
5. Melakukan pengendalian dalam pemanfaatan ayam lokal murni yang digunakan untuk
menjadi tetua dalam melaksanakan program persilangan untuk mencegah pengurasan
populasi bibit ayam

PEMBENTUKAN GRAND PARENT STOCK


Untuk mendapatkan struktur pembibitan yang jelas dalam pembentukan Grand Parent Stock
paling tidak harus ibentuk dari 4 pure line. Dua pure line galur jantan dan dua pure line galur
betina. Dalam hal ini ayam KUB adalah salah satu galur betina pure line dengan keunggulan
produksi telur tinggi, galur lainnya untuk pure line jantan adalah dapat dipilih ayam Sentul dan
Gaok yang mempunyai bobot badan yang tinggi, serta calon pure line betina lainnya yang
mempunyai prospek produksi telur yang bagus yaitu ayam Merawang. Pemilihan galur-galur
tersebut didasarkan pada penampilan performannya dan jarak genetik dari keempat galur
tersebut.

Grand parent stock (GPS)

Pada setiap pembentukan galur murni (pure line) dilakukan seleksi yang terus menerus seperti
pada contoh, pemurnian ayam lokal di atas. Setiap Galur murni mempunyai ciri spesifik yang
khas, misalnya galur produksi telur untuk galur betina (female line) dan galur pertumbuhan
cepat untuk galur pejantan (male line). Pembentukan galur murni (pure line) dapat dilakukan
dari rumpun yang sama (within lines selection) ataupun rumpun yang berbeda. Reciprocal
recurrent selection dapat dilakukan untuk mendapatkan GPS dengan:
1. Line cross breeding/linecrossing (between line within breed crossing)
2. Kombinasi hasil persilangan dengan performans terbaik

Produk akhir dari pembentukan GPS, adalah hasil dari persilangan 4 galur yang berbeda (4-
way-crossing), dengan produk GP untuk menghasilkan pure line dan PS untuk menghasilkan
ybrid.
DAFTAR PUSTAKA
Azis, A., F. Manin, dan Afriani. 2010. Penampilan produksi ayam broiler yang diberi
Bacillus circulans dan Bacillus sp. selama periode pemulihan setelah pembatasan
ransum. Med. Pet. 33: 12-17.

Bahrul, S. 2014. Pilihan Peternak Ayam Ras Petelur Terhadap Pemeliharaan Fase Grower
Atau Fase Layer Di Kecamatan Mattirobulu Kabupaten Pinrang (skripsi). Fakultas
Peternakan, Universitas Hasanuddin:Makassar.

Kementerian Pertanian.2016. PEDOMAN PELAKSANAAN PENGEMBANGAN


BUDIDAYA UNGGAS LOKAL. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan.

Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sartika, Tike. 2012. Ketersediaan Sumberdaya Genetik Ayam Lokal dan Strategi
Pengembangannya untuk Pembentukan Parent dan Grand Parent Stock. Workshop
Nasional Unggas Lokal.

Setiati,Ning. 2012. ESTIMASI NILAI BREEDING BERAT BADAN DAN PRODUKSI


TELUR PUYUH (COTURNIX COTURNIX JAPONICA) BERDASARKAN
POLIMORFISME GEN GH. Semarang.

Simatupang, Pantjar. 2004. Dukungan Kebijakan dalam Pengembangan Agribisnis


Peternakan Memasuki Perdagangan Bebas. Puslitbang Peternakan, Badan Litbang
Pertanian.

Solikhin, huda. 2011. Manajemen Pemeliharaan Ayam Broiler di Peternakan UD Hadi


PS Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo. Fakuktas Pertanian Universitas Sebelas
Maret Surakarta.

Yuwanta, Z. 2011. Meningkatkan Produksi Ayam Ras Pedaging. Agromedia Pustaka Utama.
Jakarta.