Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN ANTARA

Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu masalah perkotaan yang dirasakan sangat mendesak untuk


ditangani adalah masalah banjir dan genangan. Banjir dan genangan
sebagai sebuah permasalahan perkotaan mempunyai multiplier effect
yang banyak, seperti permasalahan kesehatan, kerusakan prasarana fisik
terhentinya kegiatan ekonomi, sampai lumpuhnya pelayan umum.

Perubahan fenomena alam akhir-akhir ini dapat sebagai pemicu untuk


terjadinya banjir dan genangan, diantaranya yaitu semakin tingginya
tingkat curah hujan yang terjadi. Hal ini terjadi juga di Kabupaten
Sarolangun, khususnya Kawasan Perkotaan Sarolangun. Kota
Sarolangun terletak di pusat Kabupaten Sarolangun dan merupakan
Ibukota Kabupaten dengan fungsi utama sebagai Perdagangan dan Jasa.
Kota Sarolangun mempunyai topografi yang datar dan bergelombang
serta dilewati oleh dua sungai besar yaitu Batang Tembesi dan Batang
Limun. Morfologi wilayah perkotaan tersebut sangat memungkinkan
memberikan dampak terhadap terjadinya banjir dan genangan. Beberapa
tahun terakhir, bencana banjir dan masalah genangan yang menimpa
Kabupaten Sarolangun khususnya Kota Sarolangun merupakan masalah
yang seakan-akan sudah menjadi masalah permanen. Hal tersebut juga
didukung dengan kondisi geografis Kota Sarolangun itu sendiri.

Tingginya tingkat curah hujan yang terjadi pada akhir-akhir ini juga
membawa persoalan banjir dan genangan yang semakin kompleks,
bertambahnya daerah genangan baru, serta terjadinya genangan dengan
ketinggian yang semakin meningkat serta durasi genangan yang semakin
lama. Hal tersebut didukung dengan saluran drainase yang tidak bisa
mengalirkan air hujan sebagaimana mestinya. Seperti drainase tersumbat

PENDAHULUAN I-1
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

sampah, drainase tidak sesuai dengan standar pelayanan ataupun kurang


tepatnya perencanaan drainase perkotaan yang menjadi acuan dalam
pembuatan sistem drainase yang ada di Kota Sarolangun.

Berbagai kerugian akibat banjir dan genangan telah dapat kita rasakan,
kerusakan prasarana dan utilitas kota telah menelan biaya tidak sedikit,
terganggunya transaksi ekonomi masyarakat dan hilangnya berbagai aset
masyarakat yang dilanda banjir, mewabahnya berbagai sumber penyakit
yang mudah menular, sehingga berdampak terjadinya penurunan tingkat
kesehatan masyarakat akibat banjir. Untuk itu penanganan permasalahan
ini harus segera menjadi issu penting bagi pemerintah Kabupaten
Sarolangun.

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sarolangun pada Tahun 2016


melakukan action plan dalam bentuk program penanggulangan banjir dan
genangan melalui pekerjaan Review Masterplan Drainase Kota
Sarolangun dikarenakan Penyusunan Masterplan Drainase Kota
Sarolangun sebelumnya yang dibuat pada Tahun 2012 perlu dilakukan
revisi, oleh faktor perkembangan ruang kota yang semakin pesat.
Diharapkan dengan pekerjaan di atas dapat tersusun Masterplan Drainase
Kota Sarolangun dan Konsep Desain (DED) yang lebih sesuai dengan
persoalan dan problematika sistem drainase Kota Sarolangun saat ini.
Desain disusun dengan utuh mempertimbangkan kondisi topografi,
klimatologi, demografi penduduk dan terutama memperhatikan kondisi
hidrologi Kota Sarolangun. Kegiatan ini juga merupakan wujud dari
perhatian Pemerintah Kabupaten Sarolangun terhadap upaya peningkatan
kualitas perumahan, permukiman dan perkotaan bagi masyarakat yang
secara tidak langsung meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat.

1.2 PERMASALAHAN

Adapun permasalahan yang dianggap perlu sebagai dasar pemikiran


terhadap Penyusunan Masterplan Drainase Kawasan Perkotaan
Kecamatan Sarolangun Kabupaten Sarolangun ini adalah sebagai berikut:

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

1. Kondisi eksisting sistem drainase yang ada pada saat ini dirasakan
kurang resprentatif terhadap fungsi dan kegunaan dikarenakan
kerusakan dan kebuntuan sistem drainase kota.
2. Tidak adanya sistem drainase yang dapat dijadikan acuan dalam
penentuan pembangunan Drainase Kawasan Perkotaan Kecamatan
Sarolangun.
3. Kondisi kota yang memiliki topografi yang relatif bervariasi antara 0 –
3% serta sewaktu-waktu dapat tergenang terutama pada wilayah
cekungan atau landai.
4. Kesiapan infrastruktur pada kawasan perkotaan sangat terbatas hal ini
diperkuat pada pola pembuangan drainase kota yang tidak dirancang
sebagai sistem pola pembuangan pada kawasan berkonsep Zonasi
atau pembagian wilayah.
5. Pelaksanaan pembangunan saluran drainase yang tidak mengacu
pada suatu sistem jaringan, karena belum ada outline plan jaringan
drainase.
6. Masih rendahnya pemeliharaan saluran yang dilakukan baik oleh
instansi yang berwewenang maupun masyarakat setempat;
7. Beban saluran yang terlalu besar, sehingga kapasitas saluran yang
ada tidak bisa menampung beban tersebut;
8. Belum adanya PERDA yang mengatur masalah sampah dan limbah
buangan serta kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak
membuang sampah sembarangan terutama di saluran drainase.
9. Perkembangan kota dan terbukanya jalan-jalan baru serta
terbangunnya beberapa kawasan perdagangan dan permukiman yang
menyebabkan banyak lokasi kantong-kantong air beralih fungsi
menjadi kawasan terbangun, menyebabkan kantong-kantong air
sebagai tangkapan hujan telah banyak beralih fungsi sehingga
menyebabkan volume air yang mengalir ke dalam saluran semakin
besar, selain itu adanya endapan lumpur (sedimen) akibat bawaan air
hujan mengakibatkan volume saluran semakin terbatas untuk
mengalirkan air.
1.3 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN
1.3.1 Maksud

Maksud diadakan kegiatan Review Masterplan Drainase Kota


Sarolangun adalah memberikan landasan dan pedoman/acuan bagi
pembangunan dan pengembangan Sistem Drainase Perkotaan yang
terpadu dengan memperhatikan kondisi eksternal dan internalnya.

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

1.3.2 Tujuan

Tujuan dari Kegiatan ini adalah:


1. Memberikan hasil pengamatan terhadap kondisi eksisting sistem
drainase dan pengelolaannya.
2. Mengidentifikasi secara lengkap potensi permasalahan sistem
drainase kota sebagai penyebab banjir dan genagan.
3. Memberikan hasil analisa dan skenario penanganan masalah
banjir dan genangan baik secara konstruktif dan struktural.
4. Memberikan suatu pedoman acuan jangka pendek, jangka
menengah dan jangka panjang terhadap arahan pembangunan
kedepan system drainase perkotaan dengan memperhatikan
perkembangan ruang, pendanaan, operasional dan pemeliharaan.

1.3.3 Sasaran

Sasaran penyusunan adalah :


1. Tersedianya data dan informasi termasuk didalamnya pemetaan
sistem drainase eksisting yang ada di Kota Sarolangun
2. Teridentifikaasi secara lengkap potensi dan permasalahan sistem
drainase perkotaan.
3. Terencananya sistem jaringan drainase di wilayah Kota Sarolangun;
4. Terukurnya daerah tangkapan air di wilayah lokasi kegiatan,
khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mempengaruhi
sistem drainase perkotaan Sarolangun;
5. Tersedianya analisa yang mendetil dan dapat dipertanggungjawabkan
sehingga nantinya dokumen yang dihasilkan dapat digunakan oleh
pemerintah daerah di dalam melakukan pembangunan sistem
drainase.
6. Tersedianya rencana induk system drainase Kota Sarolangun yang
dapat dipergunakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sarolangun
sebagai landasan dalam pengambilan kebijakan terhadap
pelaksanaan program-program pembangunan perkotaan.

1.4 RUANG LINGKUP


1.4.1 Lingkup Materi

Lingkup materi dari pekerjaan ini, meliputi:


 Pendahuluan,

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

 Kebijakan regional yang berpengaruh terhadap wilayah perencanaan


dan kajian literature terkait dengan tata cara sistem drainase,
 Menjabarkan karakteristik wilayah perencanaan, yaitu kawasan
perkotaan Sarolangun baik dari segi kondisi fisik dasar, sarana,
prasarana dan juga kondisi saluran drainase yang ada di kawasan,
 Analisis kondisi esisting dan analisis kebutuhan drainase,
 Konsep dan strategi pengembangan drainase

1.4.2 Lingkup Kegiatan

Lingkup kegiatan pekerjaan ini adalah:


1. Menyusun Masterplan Drainase Kota Sarolangun
2. Mengumpulkan semua kajian dan menganalisis semua laporan yang
berhubungan, peta, informasi baik yang berhubungan dengan
kebijakan berskala nasional, regional maupun lokal, strategi dan
rencana untuk drainase perkotaan yang termasuk dalam
pembangunan perkotaan di Kota Sarolangun.
3. Pengumpulan data berupa:
 Pengumpulan peta geografi daerah kerja dan sekitarnya yang
masih terkait.
 Pengumpulan data lahan ruang terbuka.
 Pengumpulan data daerah genangan di Kota Sarolangun
 Data RTRW/RDTR dan data rencana pengembangan kota.
 Mengumpulkan peta sistem drainase, jaringan sungai, jaringan
dan bangunan irigasi dan sistem jaringan jalan yang ada.
 Mengumpulkan data hidrologi (curah hujan)
 Mengumpulkan data hidrolik (muka air banjir, debit saluran).
 Mengumpulkan laporan, informasi atau catatan yang mengenai
banjir atau genangan yang pernah terjadi pada daerah kerja.
 Mengumpulkan laporan-laporan hasil studi yang berkaitan dengan
permasalahan drainase.
 Data dan informasi lainnya yang dianggap perlu.
4. Survei Lapangan, secara garis besar meliputi :
 Sistem drainase maupun badan penerima.
 Identifikasi penyebab genangan, banjir lokal dan sebagainya.

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

5. Mengevaluasi menganalisa dan menyajikan (dilengkapi dengan


gambar) permasalahan drainase dan sumber penyebabnya secara
lengkap dan rinci.
6. Melakukan analisis peta dasar, survey dan investigasi kondisi
lapangan,kondisi sungai dan anak sungai, kondisi bantaran sungai
dan anak sungai dan banjir/genangan air hujan yang berhubungan
dengan drainase.
7. Membuat Jalur air dan luasan daerah tangkapan nya untuk semua
DAS yang melalui Kota Sarolangun.

1.4.3 Lingkup Wilayah

Ruang Lingkup wilayah penyusunan Master Plan Drainase Ibukota


Kecamatan Sarolangun meliputi sebagian wilayah administrasi
Kecamatan Sarolangun dan pada khususnya Kawasan Kota Sarolangun
yang meliputi 6 Kelurahan yaitu :
 Dusun Sarolangun : Luas 14 Km²
 Pasar Sarolangun : Luas 2 Km²
 Sukasari : Luas 1 Km²
 Sarolangun Kembang : Luas 142 Km²
 Aur Gading : Luas 14 Km²
 Gunung Kembang : Luas 142 Km²

Adapun luas Kecamatan Sarolangun adalah 498 Km² dengan kawasan


perkotaannya 315 Km².

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

1.4.4 Lingkup Waktu

Ruang lingkup waktu merupakan jangka waktu berlakunya Masterplan


Drainase Kawasan Perkotaan Sarolangun yaitu selama 25 tahun mulai
dari tahun 2016-2041.

1.5 LANDASAN HUKUM

Dasar Hukum dari Penyusunan Masterplan Drainase Kawasan Perkotaan


Sarolangun adalah:
1. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 32,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4377);
2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan;
3. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992, tentang Perumahan dan
permukiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3469);
4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
5. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);
6. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
7. Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 1993 Tentang Prasarana dan
lalu lintas Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1993
Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3529);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Sumber Daya
Air;

PENDAHULUAN I-7
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

11. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2010 tentang Bentuk dan


Tata Cara Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 118, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5160);
12. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993, tentang
Garis Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, daerah
Penguasaan sungai dan bekas sungai;
13. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan;
14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata
Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata
Ruang di Daerah.
15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 Tentang
Pedoman Perencanaan Kawasan Perkotaan.
16. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor
327/KPTS/M/2002 Tentang Penetapan Enam Pedoman Bidang
Penataan Ruang.
17. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor
375/KPTS/M/2004 Tanggal 19 Oktober 2004 Tentang Penetapan
Ruas-ruas jalan dalam Jaringan Jalan Primer Menurut Peranannya
sebagai Jalan Arteri, Jalan Kolektor 1, Jalan Kolektor 2 dan Jalan
Kolektor 3.
18. SK SNI T-06-1990-F tentang Tata Cara Perencanaan Teknik Sumur
Resapan Air Hujan untuk Lahan Pekarangan;
19. SK SNI S-14-1990-F tentang Spesifikasi Sumur Resapan Air Hujan
untuk Lahan Pekarangan;
20. SK SNI T-07-1990-F tentang Cara Perencanaan Umum Drainase
Perkotaan;
21. Peraturan Daerah Provinsi Jambi Nomor 10 Tahun 2012 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jambi Tahun 2012-2032;
22. Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 02 Tahun 2014
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sarolangun Tahun
2014-2034;
23. Peraturan Daerah Kabupaten Sarolangun Nomor 08 Tahun 2006
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kabupaten
Sarolangun Tahun 2006-2025 (Lembaran Daerah Kabupaten
Sarolangun Tahun 2006 Nomor 08 Seri E Nomor 04);

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

1.6 METODE PENDEKATAN

Berdasarkan buku jilid 1A Tata cara penyusunan rencana induk sistem


dainase perkotaan yang dikeluarkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum
Direktorat Jenderal Cipta Karya maka dibuatlah metodologi penyusunan
laporan Masterplan Drainase Kota Sarolangun yaitu :

A Tahap Persiapan
Kegiatan persiapan ini terbagi 2 bagian yaitu persiapan dasar dan
desk studi.
1) Persiapan dasar, merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
mempertajam serta mendudukan rencana serta metoda
pelaksanaan pekerjaan yang riil akan dilaksanakan. Kegiatan
persiapan dasar ini lebih ditekankan pada koordinasi intern
dengan pemberi kerja untuk memperoleh kesepatan tentang :
 Metoda dan rencana kerja
 Rencana pelaksanaan survei

2) Desk Studi, adalah kegiatan pengkajian berbagai kebijakan makro


yang terkait dengan wilayah perencanaan dalam rangka
memberikan pemahaman tentang kondisi makro yang terkait
dengan wilayah perencanaan.

B Tahap Pengumpulan Data


Kegiatan pengumpulan data/ survey bertujuan untuk mendapatkan
gambaran nyata kondisi wilayah perencanaan, sehingga diharapkan
rencana yang akan dihasilkan nantinya sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan dari wilayah perencanaan.Tahap pengumpulan data disini
meliputi pengumpulan data primer dan data sekunder.

1 Pengumpulan Data Primer

Data Primer adalah data-data dan fakta eksisting yang berkaitan


dengan lokasi perancangan. Survey primer dilakukan untuk
mendapatkan data terbaru/terkini langsung dari lapangan. Metode
untuk pengumpulan data primer ada yaitu Metode observasi
Lapangan.
2 Pengumpulan Data Sekunder

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

Pengumpulan didapatkan dari studi kebijakan dan studi pustaka.


Kegiatan pengumpulan data sekunder tentang kondisi kawasan
perencanaan melalui survei instansional dan studi literatur sebagai
berikut :

a. Metoda Instansional
Pengumpulan data-data atau dokumen terkait kebijakan dan
rencana kawasan perkotaan Sarolangun. Instansi yang dituju
yaitu:
 Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
 Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
 Badan Pusat Statistik

b. Metoda Literatur
Metoda literatur berguna untuk memperkaya pemahaman
terhadap konteks tentang Masterplan Drainase Perkotaan dan
pengetahuan serta alternatif pemecahan untuk peremajaan
kota. Sumber literatur dapat diperoleh dari: studi-studi terdahulu
yang pernah dilakukan di dalam pengembangan kawasan
perkotaan Sarolangun.

C Tahap Inventarisasi Kondisi Sistem Drainase Eksisting

Inventarisasi kondisi sistem drainase eksisting dilakukan dengan


langkah-langkah sebagai berikut:
1. Buat peta pembagian sistem, sub-sistem drainase berdasarkan
peta topografi dan kondisi aktual di lapangan.
2. Susun besaran daerah pengaliran (catchment area dalam Ha)
saluran, sungai, menjadi sub-sub sistem daerah pengaliran.
3. Hitung panjang saluran (dalam “m”) dan nama badan air
penerimanya dari setiap saluran yang ada.
4. Inventarisir semua komponen sistem drainase, baik saluran
maupun bangunan pendukungnya, jika data tidak tersedia, ukur
dimensi saluran dan/atau segmen saluran, serta bangunan lainnya.
5. Lakukan cek lapangan untuk memastikan kondisi yang ada sesuai
dengan data.

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

6. Catat permasalahan utama yang terjadi pada masing-masing


saluran, segmen saluran dan bangunan lainya beserta foto
kondisinya.

D Tahap Analisis

Analisis yang dilakukan meliputi hal-hal sebagai berikut:


1. Analisis kondisi eksisting yaitu:
 Analisis kapasitas sistem drainase eksisting: kapasitas saluran,
segmen saluran, dan bangunan pendukungnya.
 Bandingkan analisis pada point a) dengan kapasitas rencana
(awal); jika kapasitas eksisting lebih besar atau sama dengan
kapasitas awal, maka komponen sistem drainase yang
bersangkutan masih aman, sebaliknya perlu dilakukan
tindakan.

2. Analisis kebutuhan:
 Tentukan rencana saluran sesuai topografi dan rencana tata
guna lahan dan/atau tata ruang. Dalam penataan jaringan
saluran drainase diusahakan sebanyak mungkin mengikuti pola
eksisting dan alur alam. Kembangkan sistem gravitasi, sistem
pompa hanya dipakai kalau tidak ada alternatif lain.
 Tentukan kala ulang pada masing-masing saluran dan/atau
segmen saluran sesuai dengan klasifikasi kota dan orde
saluran.
 Analisis hujan kawasan dan intensitas hujan sesuai dengan
kala ulang yang diperlukan.
 Hitung debit rencana masing-masing saluran dan/atau segmen
saluran dengan metode yang sesuai, untuk sistem pompa
dan/atau sistem polder perlu dihitung hidrograf banjir.
 Analisis perbedaan antara kebutuhan dan kondisi yang ada.
Apabila kapasitas saluran existing lebih besar atau sama
dengan debit rencana, maka saluran yang ada dapat
digunakan. Apabila saluran existing lebih kecil dari rencana,
maka saluran tersebut perlu ada tindakan.
 Tindakan yang dilakukan diarahkan untuk penurunan debit,
dengan mengimplementasikan fasilitas pemanenan air hujan.

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

Jika dengan tindakan ini kapasitas saluran masih lebih kecil


dari debit yang akan terjadi, baru dilakukan peningkatan
kapasitas.

3. Analisa Solusi
Dari peta genangan, kemudian dibuat beberapa alternatif
pemecahan atau solusi dan dipilih satu alternatif yang paling
efisien dan efektif. Alternatif itu yang dijadikan dasar untuk
perencanaan detail dan penyusunan program tahunan.

E Tahap Penyusunan Sistem Drainase Perkotaan Sarolangun

Menyusun usulan sistem drainase perkotaan dilaksanakan dengan


langkah-langkah sebagai berikut:

1. Susun pola aliran dan sistem drainase kota dengan alternatif


sistem. Alternatif sistem yang dimaksud adalah beberapa alternatif
yang diambil untuk memecahkan masalah genangan dalam satu
lokasi. Dipilih alternatif yang paling efisien dan efektif untuk
mengatasi genangan dalam lokasi tersebut demikian pula untuk
lokasi genangan lainnya. Jaringan drainase hasil alternatif dan
jaringan drainase lainnya yang baik yang dapat mengatasi
genangan dalam kota, sehingga tak ada genangan untuk kala
ulang tertentu disebut pola aliran sistem drainase kota.
2. Buat urutan prioritas sub sistem drainase. Dari pola aliran sistem
drainase seperti nomor 1 di atas, kemudian disusun prioritas sub-
sistemnya berdasarkan kebutuhan daerah masing-masing.
3. Tentukan debit rencana (m3/detik) dari masing-masing saluran.
Debit masing-masing saluran telah dihitung pada saat
menganalisis kebutuhan.
4. Rencanakan bentuk-bentuk penampang dan bangunan
pelengkapnya pada masing-masing saluran. Sebaiknya dalam
perencanaan baru atau normalisasi digunakan penampang
ekonomis, sedangkan untuk pekerjaan rehabilitasi digunakan
bentuk profil lama dengan dimensi yang berbeda.
5. Tentukan luas lahan yang akan dibebaskan. Untuk pekerjaan
baru, lebar lahan yang dibebaskan tergantung dari lebar atas
saluran, ditambah lebar tanggul apabila ada tanggul dan ditambah

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

lebar jalan inspeksi di kiri kanan saluran, tergantung kebutuhan


dan luas lahan yang dibebaskan, lebar lahan yang dibebaskan kali
panjang saluran. Untuk pekerjaan normalisasi, lebar yang
dibebaskan dikurangi lebar atas saluran yang ada.
6. Perkirakan besar biaya ganti rugi lahan. Apabila lahan yang akan
dibebaskan telah diketahui, maka harga satuan besarnya ganti
rugi dapat diperkirakan, biasanya oleh tim yang dibentuk oleh
Pemda setempat berdasarkan peraturan yang berlaku.

F Tahap Penyusunan Penanganan Prioritas

Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun usulan prioritas


adalah sebagai berikut:
1. Susun tabel skala prioritas berdasarkan parameter. Jumlahkan
nilai semua parameter untuk masing-masing sub sistem drainase
atau komponen drainase yang dinilai.
2. Urutkan jumlah nilai pada masing-masing sub sistem drainase
atau komponen drainase dari nilai tertinggi ke nilai terendah. Nilai
tertinggi menempati prioritas pertama dan nilai terendah
menempati prioritas terakhir.
3. Susun kegiatan berdasarkan hasil penilaian pada point 2) menjadi
tahapan mendesak (5 tahun), menengah (10 tahun), dan panjang
(25 tahun), kemudian disusun jangka waktu pelaksanaannya:
jadwal tahunan, jangka pendek 5 tahun, menengah 10 tahun dan
jangka panjang 25 tahun.

G Tahap Penyusunan Pembiayaan

Menyusun usulan biaya meliputi hal sebagai berikut :


1. Hitungan besaran biaya pembangunan yang dibutuhkan untuk
seluruh pembangunan atau perbaikan sistem drainase yang
diusulkan sesuai tahapan. Harga satuan yang digunakan untuk

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

biaya pembangunan atau perbaikan sistem drainsae harus sesuai


dengan Surat Keputusan Kepala Daerah setempat pada tahun
yang berjalan.
2. Susun rencana sumber-sumber pembiayaan yang diharapkan.
Dalam item pekerjaan pembangunan atau perbaikan harus
dicantumkan sumber dana yang akan diinvestasikan, misalnya
sumber dana dari : APBN, APBD, Pembiayaan Luar Negeri,
Pinjaman Luar Negeri/Loan dan hibah.
3. Hitung besaran biaya operasi dan pemeliharaan seluruh sistem
drainase pertahun. Biasanya biaya operasi dan pemeliharaan
diambil 10% dari biaya pembangunannya.
4. Identifikasi besaran biaya yang dapat ditanggung oleh
masyarakat, swasta atau instansi lain. Untuk mengidentifikasi
biaya yang akan ditanggung oleh masyarakat perlu ada diskusi
dan koordinasi dengan pemakai fasilitas yang dibangun oleh
Pemerintah Pusat maupun Daerah. Fasilitas mana yang akan
ditanggung pemeliharaannya oleh masyarakat. Koordinasi ini
sebaiknya dilaksanakan pada tahap perencanaan dan dilanjutkan
pada tahap pelaksanaan, selanjutnya masyarakat menerima O&M
fasilitas tersebut.
5. Usulkan kegiatan untuk meningkatkan sumber pembiayaan.
Sumber pembiayaan untuk pembangunan fasilitas drainase
umumnya disediakan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemda,
swasta berkenan turut membiayai pembangunan fasilitas drainase
hanya pada daerah-daerah khusus misalnya real estate atau
pengembang. Mereka membangun fasilitas drainase pada
daerahnya sendiri atas izin Pemda dan mengalirkannya ke
fasilitas milik Pemda di luar lokasi mereka. Untuk meningkatkan
sumber pembiayaan fasilitas drainase sebaiknya melibatkan
pengembang atau real estate atau instansi lain baik swasta
maupun pemerintah yang mempunyai masalah dengan fasilitas
drainase.

H Tahap Penyusunan Jadwal Kegiatan Pembangunan Sistem Drainase

Membuat jadwal kegiatan pembangunan sistem drainase dilakukan


sebagai berikut:

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

1. Tentukan jadwal prioritas zona yang akan ditangani. Pada setiap


daerah penentuan prioritas zona berbeda-beda, tergantung dari
kondisi daerahnya memberikan bobot pada parameter genangan.
Ada daerah yang memberikan bobot yang lebih besar pada
parameter ekonomi dan daerah lain parameter transportasi dan
seterusnya.
2. Tentukan zona sistem drainase yang akan dikerjakan.
Pelaksanaan fisik zona sistem drainase sebaiknya dari hilir
menuju ke hulu.
3. Tentukan waktu pembuatan studi kelayakan. Pembuatan studi
kelayakan biasanya dilaksanakan bersamaan dengan pembuatan
master plan drainase dan terutama pada daerah atau zona yang
memiliki prioritas pertama.
4. Tentukan waktu pembuatan rencana teknik. Rencana teknik atau
rencana detail biasanya dilaksanakan bersamaan dengan studi
kelayakan dan pada zona atau daerah yang memilik prioritas
pertama.
5. Tentukan waktu pelaksanaan pembangunan fisik. Pelaksanaan
pembangunan fisik biasanya dilaksanakan setahun setelah
rencana detail selesai. Jadwal pelaksanaan pekerjaan fisik
sebaiknya menggunakan microsoft project, agar waktu dan
kegiatannya dapat dikendalikan dengan seksama sehingga jadwal
pelaksanaan dapat selesai tepat waktu.
6. Tentukan waktu kegiatan operasional dan pemeliharaan dimulai.
Waktu kegiatan operasional dan pemeliharaan sesuai dengan
kontrak, setelah selesai pembangunan fisiknya dan masih menjadi
tanggung jawab pelaksana/kontraktor yang melaksanakan
pekerjaan tersebut. Setelah selesai masa operasional dan
pemeliharaan, operasional dan pemeliharaan menjadi tanggung
jawab Pemda.
I Tahap Penyusunan Kelembagaan

Untuk mendukung pengembangan sistem drainase perkotaan perlu


diusulkan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Usulkan bentuk kelembagaan:
a. Usulkan instansi yang berwenang menangani sistem drainase.
Pada saat menyusun master plan drainase atau out line plan

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

drainase biasanya diusulkan instansi yang akan menangani


operasional dan pemeliharaan drainase. Tergantung dari jenis
kota dan Pemdanya, memilih dinas atau instansi mana yang
akan bertanggungjawab atas O&M drainase dan biasanya
Pemda merujuk kepada Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia mengenai Pemerintahan Daerah.
b. Usulkan peningkatan fungsi organisasi pengelola. Sebelum
mengusulkan peningkatan fungsi organisasi pengelola
drainase, sebaiknya konsultan mengadakan survei lebih dahulu
kepada instansi atau dinas yang terkait yang mengelola
drainase dan dinas lain yang ada hubungannya dengan
drainase dan berkoordinasi dengan Bappeda setempat dan
juga mengadakan perbandingan dengan Pemda lainnya
mengenai pengelolaan drainase. Konsultan harus mempelajari
dengan seksama untuk:
 Kota metropolitan apakah perlu membentuk dinas baru
atau memperkuat dinas yang ada dengan menambah sub-
dinas drainase, yang fungsinya khusus menangani
drainase.
 Kota besar apakah perlu membentuk dinas baru atau
memperkuat dinas yang ada dengan menambah sub-dinas
drainase, yang fungsinya khusus menangani drainase.
 Kota sedang dan kecil tidak perlu membentuk dinas baru,
cukup memperkuat dinas yang ada dengan menambah
sub-dinas drainase pada dinas yang terkait yang ada
hubungannya dengan drainase.
c. Usulkan jumlah personil dan uraian tugas dari masing-masing
satuan organisasi. Pengusulan jumlah personil sebanding
dengan peningkatan organisasi demikian pula dengan uraian
tugas masing-masing personil harus jelas, sehingga personil
dapat melakukan tugas dengan mantap dan tidak terjadi
dualisme.
d. Usulkan koordinasi kegiatan pembangunan prasarana dan
sarana kota lainnya. Perlu ada koordinasi antara dinas yang
menangani drainase dengan dinas lainnya, misalnya dengan
dinas yang menangani persampahan, dengan dinas yang
menangani pertamanan dan keindahan kota dan dinas lainnya

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

yang ada dalam Pemda. Koordinasi dipimpin oleh Tim yang


dibentuk oleh Pemda atau Bappeda setempat.
e. Usulkan koordinasi dengan dinas atau balai yang menangani
sungai-sungai yang melalui kota. Perlu ada koordinasi antara
dinas atau balai yang menangani operasi dan pemeliharaan
sungai dengan dinas yang menangai drainase kota (misalnya
Balai Besar Wilayah Sungai Brantas dengan dinas Pematusan
Kota Surabaya).

2. Usulkan kebutuhan aspek hukum dan peraturan. Konsultan dalam


menyusun master plan drainase atau outline plan drainase perlu
mengusulkan kebutuhan aspek hukum dan peraturan antara lain:
a. Peraturan Daerah yang melarang warga membuang sampah ke
dalam saluran drainase (apabila belum ada) beserta sanksinya.
b. Peraturan Daerah yang mewajibkan warga membangun rumah
berhadapan dengan saluran drainase serta sanksinya.
c. Peraturan Bupati atau Walikota mengenai garis sempadan
saluran drainase.
d. Peraturan Bupati atau Walikota mengenai sumur resapan pada
pembangunan rumah.
e. Peraturan Bupati atau Walikota mengenai sumur resapan pada
pembangunan saluran primer.
f. Peraturan Bupati atau Walikota mengenai penyedian bak
sampah pada jalan-jalan tertentu, fasilitas umum, taman kota
dan lainnya.

3. Usulkan mekanisme dan peningkatan partisipasi masyarakat dan


swasta. Konsultan dalam menyusun master plan drainase atau out
line plan drainase perlu menyiapkan mekanisme dan peningkatan
partisipasi masyarakat dan swasta yang dalam hal ini harus
tertuang dalam KAK (Kerangka Acuan Kerja) antara lain:
a. Pada penyusunan Laporan Pendahuluan tokoh masyarakat
diikutsertakan dalam diskusi dan survei, agar masyarakat tahu
sejak awal rencana pembangunan sistem drainase.
b. Pada diskusi Laporan Pendahuluan diikutsertakan dinas yang
terkait masalah drainase dan tokoh masyarakat setempat untuk
memperoleh masukan untuk suksesnya perencanaan drainase.

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

c. Pada diskusi Laporan Akhir diikutsertakan dinas yang terkait


masalah drainase dan tokoh masyarakat setempat serta Badan
Pertanahan Nasional setempat, Bappeda dan Dinas Tata Kota
mengenai lahan yang terkena pembebasan untuk jalur drainase
dan masalah lainnya sebagai masukan untuk suksesnya
perencanaan drainase.
d. Pada pelaksanaan fisik di lapangan masyarakat telah
mengetahui rencana jaringan drainase ini, sehingga
pelaksanaan fisiknya tidak mengalami kesulitan dalam
pembebasan tanahnya.

4. Usul Tim pembebasan tanah dapat dibentuk setahun sebelum


pelaksanaan fisik dimulai. Tim dibentuk oleh Pemda setempat
berdasarkan ketentuan yang berlaku dengan mengikutsertakan
tokoh masyarakat setempat mengenai penetapan harga ganti rugi
tanah dan bangunan berdasarkan hak kepemilikan tanah dan
bangunan. Kesepakatan Tim mengenai harga ganti rugi tanah dan
bangunan sebagai dasar untuk pelaksanaan fisik pembebasan di
lapangan.

1.7 SISTEMATIKA PENYAJIAN

Untuk mensistematisir dan memudahkan dalam kegiatan penyusunan


Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun, maka sistem
pembahasannya terbagi menjadi sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

PENDAHULUAN I-19
LAPORAN AKHIR
Review Masterplan Drainase Kota Sarolangun

Pada bab ini berisi latar belakang, permasalahan, maksud,


tujuan dan sasaran, ruang lingkup, landasan hukum, metode
pelaksanaan dan sistematika pelaporan.

BAB II KAJIAN KEBIJAKAN DAN LITERATUR


Pada bab ini membahas tentang Kebijakan Pengembangan
Tata Ruang Kota Sarolangun khususnya Bagian Wilayah
Pembangunan Kota, agar konsep perencanaan sistem sarana
prasarana perkotaan dapat disesuaikan dengan arahan
kebijakan yang ada. Selain itu juga membahas kajian literatur
tentang perencanaan sistem drainase.

BAB III GAMBARAN UMUM KAWASAN PERENCANAAN

Pada bab ini menjelaskan tentang gambaran kondisi wilayah


kawasan perkotaan Kecamatan Sarolangun dan gambaran
saluran drainase pada masing-masing kelurahan di kawasan
perkotaan Sarolangun

BAB IV ANALISIS DAN EVALUASI SALURAN DRAINASE

Pada bab ini menjelaskan tentang analisis kondisi eksisting,


analisis kebutuhan yang meliputi rencana saluran, analisis
hujan kawasan, dan analisis solusi.

BAB V KONSEP DAN RENCANA


Pada bab ini menjelaskan tentang konsep penanganan
drainase perkotaan di Kota Sarolangun yang ramah
lingkungan (ecodrainage).

PENDAHULUAN I-19