Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap perpustakaan, baik kecil maupun besar, perlu diatur dan ditata
dengan baik, sehingga pelaksnaan kegiatan kerjanya dapat berjalan dengan efesian
dan efektif, jika suatu perpustakaan memiliki Struktrur Organisasi yang mantap
dan staf/karyawan memiliki kompetensi yang menjadi pensyaratan yang harus
dipengaruhi oleh sumber daya manusia.
Sumber daya manusia atau tenaga kerja perpustakaan yang memiliki
kompetensi memungkinkan setiap jenis pekerjaan dapat dilaksanakan dengan
baik, tepat waktu, tepat sasaran, dan sebanding antara biaya dan hasil yang
diperoleh. Tampa Struktur organisasi yang mantap dan SDM yang memiliki
kompetensi, mustahil suatu Perpustakaan dalam mencapai visi dan misinya
sebagai unsur penunjang pendidikan dalam meujudkan berbagai fungsinya.
Seperti fungsi edukasi (sumber belajar para civitas akademika),fungsi informasi,
rekreasi dll.

1.2 Rumusan masalah


1.2.1 Apa pengertian organisasi perpustakaan?
1.2.2 Apa peran organisasi perpustakaan ?
1.2.3 Bagaimana struktur organisasi perpustakaan?

1.3 Tujuan
1.3.1 Menjelaskan pengertian organisasi perpustakaan.
1.3.2 Menjelaskan peran organisasi perpustakaan.
1.3.3 Menjelaskan struktur organisasi perpustakaan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 ORGANISASI PERPUSTAKAAN

Organisasi atau organization berarti hal mengukur (John M. Echols: 2000,


408). Organisasi terdapat pada sekelompok orang yang bekerja sama untuk tujuan
tertentu. Sehingga bias dikatakan bahwa organisasi adalah sebuah bentuk kerja
sama antara sekelompok orang berdasarkan suatu keterikatan (perjanjian) untuk
mencapai suatu tujuan bersama yang telah ditentukan bersama (Sutanto NS: 2006,
46). Jadi, jika ditemui istlah pengorganisasian, istilah tersebut sebenarnya berasal
dari kata organize yang berarti menciptakan struktur dengan bagian-bagian yang
diintregasikan sedemikian rupa, sehingga hubungan satu dengan yang lainnya
terikat oleh hubungan terhadap keseluruhan (Malayu S.P. Hasibuan: 2003, 18).

Unsure organisasi modern meliputi (1) bentuk atau konfigurasi, yaitu


berbentuk bagian atau skema. Bentuk organisasi, misalnya, jalur atau lini, staf lini
dan staf, fungsional dan organisasi dewan atau panitia. (2) Struktur atau kerangka,
yaitu bentuk pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab. (3) Jabatan-
jabatan, yaitu formasi-formasi jabatan yang harus diisi oleh orang-orang yang
tepat sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. (4) Prinsip-prinsip dan aturan
permainan. Prinsi-prinsip ini penting, disebabkan perlunya konsep kuensi dari
masing-masing individu sebagai anggota dalam tugas dan tanggung jawabnya
dalam menjalankan kegiatan organisasi.

Organisasi dapat dikatakan sebagai bentuk yang statis dan dinamis. Statis
dalam pengertian bahwa organisasi merupakan wadah untuk menampung semua
kegiatan dalam rangka mencapai tujuan. Dinamis berarti bahwa organisasi adalah
bentuk aktifitas dari aktifitas komponen- komponen yang terlibat secara bersama-
sama dalam gerak langkah yang berirama, kompak dan solid.
2.1.1 PERPUSTAKAAN SEBAGAI UNIT KERJA
Perpustakaan merupakan suatu satuan organisasi, badan atau lembaga.
Satuan unit kerja tersebut dapat berdiri sendiri, tetapi dapat juga merupakan
bagian organisasi di atasnya yang lebih besar. Perpustakaan yang berdiri sendiri
seperti perpustakaan umum, unit pelaksanaan teknis (UPT) perpustakaan pada
universitas, dan perpustakaan nasional. Sedangkan perpustakaan yang merupakan
bagian dari suatu organisasi yang lebih besar seperti perpustakaan khusus
kedinasan yang bergabung yang bergabung dengan suatu lembaga yang
mengoordinasikannya, dan perpustakaan sekolah yang bernaung di bawah
lembaga pendidikan tersebut.
Sebuah perpustakaan sebagai salah satu unit kerja mempunyai unsur-unsur
atau persyaratan sebagai berikut.
 Adanya organisasi;
 Dalam surat pendiriannya harus (setidaknya) tercantum secara jelas tugas,
fungsi, wewenang, tanggung jawab dan struktur organisasinya;
 Surat keputusan itu merupakan landasan hukum konsideran, pertimbangan
tentang pembentukan perpustakaan.
Semua itu dapat dipelajari latar belakangnya dan alas an pembentukan unit
kerja perpustakaan, pedoman untuk menyusun kebutuhan formasi jabatan dan
petugas atau pengisian karyawan, pedoman pengadaan anggaran, serta ruang
lingkup bidang kerjanya.
Berikut beberapa kebutuhan pokok perpustakaan sebagai unit kerja.
1. Gedung (ruangan). Gedung dan ruangan yang memadai dan cukup koleksi
pembaca, layanan, kegiatan pengolahan bahan pustaka dan kegiatan
administrasi. Perpustakaan yang berdiri sendiri biasanya memiliki sebuah
bangunan sendiri, didesain khusus untuk perpustakaan dan dilengkapi
berbagai sarana, prasarana, perabot, dan perlengkapan yang diperlukan, serta
persyaratan-persyaratan yang standar bagi perpustakaan.
Perpustakaan yang merupakan bagian dari suatu unit kerja memiliki ruangan-
ruangan yang memadai, baik untuk menempatkan koleksi, semua inventaris
dan barang yang ada, maupun untuk melayani pengunjung. Yang perlu
dipahami adalah bahwa gedung atau ruangan yang representatif merupakan
daya tarik tersendiri, baik bagi pegawai maupun pemakai perpustakaan.
2. Koleksi bahan pustaka. Koleksi bahan pustaka adalah sejumlah bahanpustaka
yang telah ada di perpustakaan dan sudah diolah (diproses), sehingga siap
dipinjamkan atau digunakan oleh pemakai. Jika standar minimal koleksi telah
ditentukan, tentu selanjutnya adalah bagaimana pengembangannya. Kenapa
perpustakaan lebih dikenal sebagai pusat informasi, pendidikan, penelitian,
dan pengembangan ilmu pengetahuan.
3. Perlengkapan dan perabot. Perlengkapan dan perabot harus dimiliki oleh
perpustakaan, sekurang-kurangnya rak, meja baca, dan kursi untuk pegawai,
lemari penyimpanan bahan pustaka, lemari catalog, sehingga tugas-tugas dan
fungsinya dapat berjalan. Semua perabot dan perlengkapan harus
diorganisasikan dengan baik meliputi perencanaan pengadaan, penyimpanan,
pendistribusian, pemakaian dan perawatannya.semua prose situ merupakan
sebuah sistem yang berjalan secara sistematis dan mekanistis, agar terhindar
dari mismanagement.
4. Mata anggaran atau sumber pembiayaan. Ini merupakan sarana untuk
menjamin tersedianya anggaran pendapatan dan belanja setiap tahun. Mata
anggaran merupakan sumber pembiayaan dan pengembangan perpustakaan.
Semakin besar mata anggaran, semakin membuat perpustakaan leluasa untuk
mengelola dalam rangka memajukan perpustakaan.
5. Tenaga kerja. Tenaga kerja adalah pelaksana kegiatan di perpustakaan.
Tenaga kerja ini meliputi kepala perpustakaan, pejabat fungsional pustakawan,
tenaga teknis perpustakaan, dan tenaga administrasi. Semua tenaga kerja harus
memenuhi persyaratan dan kualifikasi, karena perpustakaan merupakan salah
satu pekerjaan yang bersifat professional-fungsional. Selain dipenuhi
persyaratan tersebut, perpustakaan juga harus memenuhi peraturan perundang-
undangan tentang kepegawaian yang berlaku. Semua tenaga kerja/karyawan
merupakan komponen organisasi yang turut menentukan berkembang tidaknya
sebuah tindakan.
2.2 PERAN ORGANISASI PERPUSTAKAAN
Istilah peran disini adalah kedudukan, posisi, dan tempat perpustakaan
beroperasional. Apakah penting, strategis, sangat menentukan, berpengaruh, atau
hanya sebagai pelengkap saja. Jika memerhatikan konsep dasarnya sebagai pusat
informasi, tentu perpustakaan mendapatkan peran yang cukup strategis ditengah-
tengah masyarakat.

Memang, baik tidaknya perpustakaan itu tergantung bagaimana


kinerjanya. Artinya, apakah perpustakaan itu professional dalam pengelolaannya,
loyal dalam pencapaian visi dan misinya, dan sebagainya, sehingga perpustakaan
itu benar-benar menjadi pusat informasi. Karena kinerja atau performa akan
menentukan citra perpustakaan dimata masyarakat. Jika kinerjanya baik, tentu
secara berangsur-angsur citranya akan terangkat. Masyarakat akan memberi
penilaian berdasarkan nilai manfaat yang mereka dapatkan. Jika mereka merasa
senang, puas, mendapat layanan yang baik, dan memperolah informasi yang
diperlukan dengan cepat dan tepat, tentu masyarakat akan memberikan nilai yang
positif. Penilaian masyarakat bebas, tidak mengikat dan tidak dapat dipaksakan
karena sifatnya subjektif.

Dari kacamata yang lebih luas, peran perpustakaan dapat dianggap sebagai
agen perubahan, pembangunan, dan agen budaya dan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Perubahan selalu terjadi dari waktu ke waktu sesuai
dengan perubahan zaman, dan juga seiring dengan sifat manusia yang selalu ingin
tahu, eksplorer, dan berbudaya.

2.3 STRUKTUR ORGANISASI PERPUSTAKAAN

Organisasi adalah kerangka tugas termasuk pelaksaan-pelaksanaanya


yang di susun untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Organisasi itu
dapat diwujudkan dalam bentuk bagan yang di sebut struktur organisasi. Jadi
struktur organisasi menunjukan kepada kita kelompok-kelompok
pekerjaan/tugas serta kaitanya dengan pengaturan sumber dya/pekerja, agar
ugas itu terlaksanakan dengan baik.
Struktur organisasi perpustakaan akan menggambarkan struktur tata
pembagian kerja dan struktur, tata hubungan kerja di perpustakaan. Oleh karena
itu, struktur organisasi perpustakaan setidaknya mencakup tiga hal: (1) struktur
atau kerangka, (2) kelompok orang-orang tertentu, dan (3) sistem.

Setiap perpustakaan merupakan sebuah organisasi, baik yang berdiri


sendiri maupun bagian dari organisasi yang mengoordinasikan. Perpustakaan yag
berdiri sendiri biasanya adalah perpustakaan besar dalam pengertian koleksinya
banyak, jumlah karyawannya banyak, ruang lingkup layanannya luas, dan dana
yang dimilikinya besar. Perpustakaan seperti ini tentu mempunyai struktur
organisasi. Misalnya, perpustakaan kabupaten atau kota, perpustakaan provinsi,
perpustakaan universitas, dan perpustakaan nasional. Sementara yang dapat
digabungkan dengan lembaa induknya atau merupakan bagian dari suatu
organisasi adalah perpustakaan yang kecil.

Sebuah perpustakaan seperti Perpustakaan Nasional, Badan Perpustakaan


Provinsi, dan Perpustakaan Perguruan Tinggi, tentu mempunyai volume pekerjaan
yang besar karena harus melayani masyarakat yang cukup luas.

Struktur organisasi merupakan bentuk atau figur yang akan


menggambarkan beberapa hal (Sutarno, NS: 2003, 57) sebagaimana disebutkan
berikut:

1. Formasi Jabatan
Yaitu pos-pos jabatan yang harus diisi dengan orang-orang yang tepat dan
diberikan batasan ruang lingkup pekerjaan. Misalnya, Kepala, Deputi, Bagian,
Subbagian, Seksi. Formasi jabatan tersebut harus diisi secara proporsional dan
disesuaikan dengan kemampuan dan keprofesionalan personil. Dengan
demikian, diharapkan tidak adanya rangkap pekerjaan atau hal-hal yang
tercecer tak tertangani sebagaimana mestinya.

2. Garis Komunikasi, Perintah dan Laporan, dan Kerjasama


Dalam organisasi yang sehat jalannya harus komunikasi tidak hanya satu arah,
tetapi paling tidak ada dua arah, yaitu perintah dan laporan. Disamping itu,
juga digambarkan juga bentuk jaringan kerja sama antara masing-masing
satuan tugas dan gugus tugas. Komunikasi yang lancar akan berpengaruh
terhadap kelancaran pelaksanaan tugas dan meminimalisasi hambatan yang
terjadi. Oleh karena itu, suatu system informasi manajemen didalam didalam
perpustakaan perlu dikembangkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami.

3. Tugas, Wewenang, dan Tanggung Jawab

Salah satu prinsip organisasi adalah pembagian tugas, wewenang, dan


tanggung jawab. Dasar pemikirannya adalah jika pekerjaan mampu dikerjakan
oleh satu orang atau bidang saja, tentu tidak perlu membentuk organisasi.
Tetapi jika pekerjaan membutuhkan orang lain dan membutuhkan manajemen
dan koordinasi, diperlukan organisasi yang di dalamnya ada pembagian tugas,
wewenang, dan tanggung jawab. Namun demikian, kesemuanya itu harus
ditunjang oleh fasilitas yang diperlukan, dan dilandasi asas keadilan. Sehingga
satu orang atau bagian tidak iri dengan orang dan bagian lain. Tidak terkecuali
perpustakaan yang merupakan suatu unit kerja, di dalamnya harus ada
koordinasi yang mengarah pada pembagian tugas, wewenang dan tanggung
jawab tersebut.
4. Kebutuhan Pegawai
Sebuah perpustakaan yang sehat harus diisi dengan pegawai yang memadai
dan memenuhi semua criteria yang dipersyaratkan. Pegawai-pegawai tersebut
untuk mengisi seluruh formasi dan menjalankan semua tugas dan fungsinya
masing-masing. Jadi, pengisian pegawai ini tergantung pada kebutuhan
formasi yang tersedia.
5. Komponen Kepengurusan Perpustakaan
Komponen yang diperlukan untuk mengisi struktur organisasi perpustakaan
yang paling urgen mencakup hal berikut:
a. Kepala/pemimpin perpustakaan dan pemimpin unit kerja di dalamnya.
b. Pustakawan yang ada pada instansi pemerintah atau PNS disebut sebagi
pejabat fungsional pustakawan, sedangkan pada lembaga swasta cukup
disebut pustakawan.
c. Pegawai pelaksana teknis kepustakawanan untuk membantu pustakawan.
d. Pegawai tata usaha atau kesekretariatan (administrasi).
Tugas dan kegiatan perpustakaan dikelompokan dan dibagikan kepada
keempat struktur jabatan tersebut. Hal itu berlaku untuk semua jenis perustakaan.
Sementara volume, jumlah dan jenis kegiatan dan pekerjaan sangat tergantung
kepada besar atau kecilnya perpustakaan, dalam arti bagi perpustakaan yang
memerlukan struktur organisasi yang kecil dan tugas-tugas pekerjaannya
disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam hal ini, dapat diambil sebuah contoh
perpustakaan sekolah. Mungkin dalam suatu perpustakaan sekolah pekerjaan
dapat dilakukan oleh dua atau tiga orang saja, karena biasanya koleksi yang ada
terbatas pada buku-buku pelajaran dan fiksi yang tidak banyak, kapasitasnya
kecil, begitu juga penggunanya tidak banyak. Maka keempat kelompok jabatan
tersebut dapat dikembangkan.

Untuk kegiatan kesekretariatan di perpustakan kabupaten/kota


dikelompokan ke dalam bidang atau bagian kepegawaian, bagian keuangan,
bagian perlengkapan, bagian kerumahtanggaan, dan lain sebagainya. Selanjutnya,
tiap-tiap bagian dapat dibagi lagi kedalam seksi, subseksi, subbagian dan
seterusnya. Layanan dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, antara lain,
layanan anak-anak, layanan remaja dan dewasa, layanan referensi, layanan
sirkulasi, layanan keliling, layanan bercerita, promosi pemasyarakatan,
administrasi keanggotaan dan lain sebagainya.

2.3.1 PERPUSTAKAAN DALAM STRUKTUR ORGANISASI SEKOLAH

Dalam usaha mencapai tujuan pendidikan, di samping kurikulum, metoda


dan mengajar , susunan organisasi sekolah mempunyai peranan yang besar. Suatu
organisasi yang baik mmemungkinkan adanya pembagian kerja yang efektif,
sehingga tiap orang atau bagianya dapat melaksanakan tugasnya semaksimal-
maksimalnya.

Dalam garis besarnya pada setiap sekolah terdapat dua macam urusan
yaitu:
1. Urusan pendidikan dan pengajaran yang mengelola, mengevaluasi, dan
mengembangkan pendidikan dan pengajaran siswa-siswa didalam maupun
diluar sekolah.
a. Perpustakaan sekolah
b. Labolaturium
c. Bimbingan dan penyuluhan
d. Bidang-bidang studi sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
e. Kegiatan ekstrakulikuler
2. Urusan tata usaha yang mengelola tat usaha siswa, personil, keuangan, ruang,
sarana belajar, laporan dan sebainya.

Dengan uraian tadi teryata bahwa perpustakaan sekolah dimasukkan


dimasukkan dalam urusan pendidikan dan pengajaran bukan dalam urusan tat
usaha, dan mempunyai kedudukan yang sejajar pendidikan dan pengajaran
lainnya. Perpustakaan sekolah dalam pengerian modern mempunyai peranan yang
sangat penting dalam proses belajar-mengajar.

2.3.2 STRUKTUR ORGANISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Dalam garis besarnya kegiatan perpustakaan sekolah dapat dibagi menjadi


dua bagian yakni:

1. Pengelolaan, yang bersifat teknis perpustakaan, meliputi kegiatan-


kegiatan pengadaan, inventerisasi, klasifikasi, katalogisasi,
penyelesaian dan penyusunan koleksi, yang terdiri ats buku-buku,
bahan-bahan pandang dengar dan bahan-bahan lainnya.
2. Pelayanan yang meliputi pelayanan sirkulasi, pelayanan referensi,
pelayanan membaca, jam perpustakaan dalam rangka proses belajar
mengajar, bagi siswa maupun guru dan pegawai lainnya.
Perpustakaan sekolah perlu direncanakan secara kompreensif.
Programtersebut dapat disusun dengan menggunakan prinsip-prinsip Manajemen
Berdasarkan Sasaran (MBS). MBS atau yang lebih dikenal dengan nama
Management By Objectives (MBO) adalah salah satu teknis dalam perencanaan
program. Untuk menyusun program penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah
dengan teknis MBS, terdapat empat criteria yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Menyebutkan “SIAPA” yang bertanggung jawab untuk melaksanakan
program itu.
2. Menyebutkan “KEGIATAN APA” yang akan dilakukan.
3. Menyebutkan “SASARAN” atau “HASIL” yang dapat diukur dan ingin
dicapai.
4. Menyebutkan “BATAS WAKTU” yang pasti, kapan sasaran itu akan
dicapai.
Secara singkat, program menurut pendekatan MBS, menguraikan
“SIAPA” melakukan “KEGIATAN APA” dengan “SASARAN/ HASIL” terukur
apa yang ingin dicapai, serta “KAPAN” hasil itu akan dicapai.
Keberhasilan penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah tergantung juga pada
penyusunan organisasi dan manajemennya. Untuk itu, perlu disusun organisasi
perpustakaan secara sistematis sebagai berikut.
1. Unsur BP 3 : Unsur mitra kerja
2. Penanggung jawab : Kepala Sekolah
3. Pelaksana harian : Guru yang ditunjuk/ ditugaskan sebagi pengelola.

Kalau digambar dalam bentuk bagan struktur organisasi seperti berikut ini.
KEPALA SEKOLAH
Selaku
Penanggung Jawab

BP. 3/ Komite Sekolah


GURU
Selaku
Pelaksanaan Harian

PELAKSANA TEKNIS PELAKSANA LAYANAN


 Pengadaan  Sirkulasi
 Pengolahan  Refensi
 Perawatan  Bimbingan
 Kliping  A.V
 Dll.  Dll.
Contoh Struktur Organisasi Perpustakaan Sekolah
Kepala Perpustakaan

Bag. Teknis Bag. Katalog Bag. pelayanan Bag.


Administrasi

Bag. Bag. Sirkulasi


Prosessing

Bag. Rebiding Bag. Statistik

Masing-masing unsur merupakan rangkaian kesatuan yang mempunyai


tugas berbeda-beda. Tugas-tugasnya adalah sebagai berikut.
1. Penanggung Jawab:
a. Merencanakan dan mengembangkan program perpustakaan serta
mengawasi seluruh kegiatan administrasi Perpustakaan Sekolah.
b. Bekerja sama dengan Dewan Guru BP.3 (komite sekolah) sebagai
tenaga administrasi dalam meningkatkan proses belajar mengajar di
Sekolah melalui Perpustakaan.
c. Merumuskan kebijakan pengadaan dan pengolahan bahan pustaka serta
pelayananperpustakaan.
d. Bekerja sama dan membina hubungan baik dengan perpustakaan
lainnya.
2. Petugas Pelaksanaan Harian (Guru):
a. Melaksanakan pekerjaan ketatausahaan Perpustakaan Sekolah.
b. Menilai dan menyeleksi bahan pustaka dalam rangka pembinaan
koleksi/ bahan pustaka.
c. Mengolah bahan pustaka menurut system yang berlaku (katalogisasi
dan klasifikasi).
d. Memberikan bimbingan cara-cara menggunakan koleksi/ bahan pustaka
secara baik.
e. Memberikan layanan referensi dan penelusuran informasi kepada para
pemakai jasa perpustakaan.
f. Memberi layanan peminjaman dan pengembalian koleksi.
g. Menyediakan layanan bimbingan membaca dalam meningkatkan minat
baca murid.
h. Melakukan pemantulan, membuat penilaian, serta melakukan
pengendalian dan penyusunan laporan.
i. Sebagai pelaksana harian yang bertanggung jawab kepada kepala
sekolah.
Keberhasilan penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah sebagian tergantung
pada pengelolanya. Tersedianya tenaga pengelola yang terampil serta berdedikasi
tinggi dalam jumlah yangmemadai memungkinkan berhasilnya penyelenggaraan
Perpustakaan Sekolah.
Pengelola Perpustakaan Sekolah adalah seorang guru yang ditugaskan
oleh kepala sekolah dan tugasnya bukan sekadar menjaga buku tetapi seluruh
kegiatan perpustakaan harus dapat dilaksanakannya seperti seorang pustakawan.
Untuk menjadi pustakawan perlu memenuhi persyaratan tertentu, antaralain:
menguasai kurikulum sekolah dengan kegiatan perpustakaan. Guru pustakawan
hendaknya mampu menyebarluaskan misi dan pencapaian tugas perpustakaan
serta membina dan meningkatkan minat baca peserta didik.
Tenaga pengelola harus mengikuti segala kegiatan-kegiatan seperti kursus/
penataran, seminar, lokakarya dan pelatihan di bidang bidang perpustakaan.
Tenaga Perpustakaan Sekolah sebagai unit kerja di sekolah mempunyai
pekerjaan yang dapat dibedakan, sebagai berikut:
1. Pekerjaan yang bersifat profesi, yaitu pekerjaan teknis perpustakaan yang
hanya dapat dikerjakan oleh petugas yang telah mendapat pengetahuan
tentang perpustakaan.
2. Pekerjaan non profesi/ nonteknis, yaitu pekerjaan yang dapat dikerjakan
oleh petugas biasa.
Ada empat kelompok pekerjaan di perpustakaan sekolah, yaitu:
a. Kelompok pekerjaan manajemen (pengelola/ pustakawan) seperti
membuat perencanaan, pengorganisasian, pengoordinasian, dan
pengawasan terhadap seluruh kegiatan Perpustakaan Sekolah.
b. Kelompok pekerjaan teknis, meliputi:
 Pengadaan dan pembinaan koleksi
 Pengolahan bahan pustaka
 Klasifikasi/ katalogisasi
 Pelabelan
 Pengarsipan dan pemberkasan
 Inventarisasi
 Penjilidan
 Perawatan koleksi, dll.
c. Kelompok pekerjaan layanan, meliputi:
 Layanan sirkulasi
 Layanan referensi
 Pembinaan dan bimbingan minat baca
 Perlombaan mnat baca, dll.
d. Kelompok pekerjaan ketatausahaan, meliputi:
 Surat menyurat
 Rumah tangga
 Keuangan, dll.

2.3.2 ANGGARAN

Agar perpustakaan dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya, diperlukan


pembiayaan yang cukup, seperti untuk pengadaan dan pembinaan koleksi dan
pengadaan peralatan. Umumnya dana untuk perpustakaan sekolah sulit di dapat.
Namun, hal ini harus tetap di upayakan agar kelang sungan perpustakaan dapat
terjamin. Dengan pengelolaan yang baik, anggaran perpustakaan sekolah dapat
dihimpun dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.
1. Pengertian dan Sumber
Untuk menyelengarakan perpustakaan sekolah sehingga dapat berfungsi
dalam proses belajar mengaja, diperlikan tersedianya anggaran khusus
perpustakaan, karena tanpa anggaran khusus itu perpustakaan sekolahtidak
mungkin dapt dipelihara dan dikembangkan dengan baik.
Dalam garis besarnya anggran untuk perpustakaan dapat dibedakan
menjadi dua bagian, yakni anggaran pemelihaaan dan anggaran
pengembangan.
Pemeliharaan meliputi biaya-biaya untuk kepeluan administrasi dan
perbaikan buku, sedang pengembangan mencangkup
pengadaan/pengembangan koleksi seperti buku, surat kabar dan majalah
Sumber anggaran penyenggaraan perpustakaan sekolah dapt berasal dari
pemerintah atau dari BP3 usaha-usaha yang lain yang syah.
2. Pengunaan anggran
Anggaran yang tersedia hendaknya dipergunakan secara efisien dan efektif
berdasrkan perencanaan yang masak. Sebagai pedoman pegeloaan angaran
itu,dibwah ini dicantumkan salah satu bentuk pengelolaan yang di kemukaan
dalam buku “school librarienste manual”sebagai berikut:
Keperluan Prosentasi
Buku 60%
Surat Kabar dan Majalah 20%
Perbaikan buku 15%
Administrasi 5%
3. Jumlah Anggaran
Jumlah anggaran keseluruhan tergantung antara lain dari:
 Jumlah murid dan guru
 Jumlah buku yang direncanakan
 Pelayanan
 Kualitas koleksi
 Tenaga pengelola

BAB III

PENUTUP
3.1 KESIMPULAN

Organisasi adalah kerangka tugas termasuk pelaksaan-pelaksanaanya yang


di susun untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Organisasi itu dapat
diwujudkan dalam bentuk bagan yang di sebut struktur organisasi. Jadi struktur
organisasi menunjukan kepada kita kelompok-kelompok pekerjaan/tugas serta
kaitanya dengan pengaturan sumber daya/pekerja, agar ugas itu terlaksanakan
dengan baik.

Struktur organisasi perpustakaan akan menggambarkan struktur tata


pembagian kerja dan struktur, tata hubungan kerja di perpustakaan. Oleh karena
itu, struktur organisasi perpustakaan setidaknya mencakup tiga hal: (1) struktur
atau kerangka, (2) kelompok orang-orang tertentu, dan (3) sistem

3.2 SARAN

Dalam menyusun struktur organisasi suatu perpustakaan, hendaknya


disusun disusun secara profesional dengan pertimbangan kepentingan
lembaga, bukan kepentingan pribadi. Hendaknya tidak menempatkan staf di
perpustakaan yang tidak memiliki kompetensi dibidang kepustakawanan.