Anda di halaman 1dari 21
BAB 4 ANALISIS
BAB 4
ANALISIS

4.1

ANALISIS KONDISI PEREKONOMIAN WILAYAH

4.1.1 Analisis Kontribusi dan Pertumbuhan Perekonomian Kabupaten Sarolangun

Kondisi perekonomian Kabupaten Sarolangun jika dilihat berdasarkan sektor dapat diketahui bahwa sektor yang mendominasi adalah sektor pertanian, kemudian diikuti oleh sektor penggalian dan pertambangan baru kemudian sektor bangunan. Sedangkan sektor yang kontribusinya paling rendah terhadap PDRB Kabupaten Sarolangun adalah sektor listrik, gas dan air minum. Jika dilihat dari tahun ke tahun, sejak 2010 sampai 2014 nilai PDRB atas dasar konstan sektor perekonomian di Kabupaten Sarolangun selalu meningkat. Hal ini menunjukan adanya pertumbuhan dari tahun ke tahun.

Tabel IV.1 Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sarolangun Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Sarolangun Tahun 2010-2014 (Juta Rupiah)

   

TAHUN

SEKTOR

2010

2011

2012

2013

2014

Pertanian

1.994.970

2.075.520

2.188.640

2.254.009

2.493.898

Pertambangan dan Penggalian

1.792.540

2.098.390

2.354.080

2.536.438

2.533.876

Industri Pengolahan

256.070

286.270

322.440

359.595

376.539

Listrik,Gas & Air Minum

10.970

11.880

12.190

12.593

12.901

Bangunan

708.760

753.760

842.480

1.042.284

1.316.171

Perdagangan, Hotel & Restoran

365.210

382.630

410.870

436.021

455.072

Pengangkutan dan Komunikasi

463.890

493.370

520.230

545.859

603.262

A N A L I S I S |IV-1

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

   

TAHUN

SEKTOR

2010

2011

2012

2013

2014

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

257.520

286.810

303.980

333.206

345.364

Jasa-Jasa

644.030

675.100

708.310

748.108

807.157

Total

6.493.960

7.063.730

7.663.220

8.268.112

8.944.240

Sumber: Kabupaten Sarolangun Dalam Angka, 2011-2015

Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dengan cara menganalisis perubahan pengerjaan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan pada sektor yang sama diperekonomian yang dijadikan acuan. Pada tabel dibawah diperlihatkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sarolangun periode 2010-2014.

Tabel IV.2 Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sarolangun Tahun 2010-2014 (%)

   

TAHUN

SEKTOR

2010

2011

2012

2013

2014

Pertanian

 

- 4,04

5,45

2,99

10,64

Pertambangan dan Penggalian

 

- 17,06

12,19

7,75

-0,10

Industri Pengolahan

 

- 11,79

12,63

11,52

4,71

Listrik,Gas & Air Minum

 

- 8,30

2,61

3,31

2,45

Bangunan

 

- 6,35

11,77

23,72

26,28

Perdagangan, Hotel & Restoran

 

- 4,77

7,38

6,12

4,37

Pengangkutan dan Komunikasi

 

- 6,35

5,44

4,93

10,52

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

 

- 11,37

5,99

9,61

3,65

Jasa-Jasa

 

- 4,82

4,92

5,62

7,89

Total

 

- 8,77

8,49

7,89

8,18

Sumber: Kabupaten Sarolangun Dalam Angka, 2011-2015

Selama 5 tahun tersebut pertumbuhan PDRB Kabupaten Sarolangun mengalami fluktuasi dimana dari tahun 2011 hingga 2013 terus mengalami penurunan dari 8,77% hingga 7,89% meskipun dari pendapatan terus meningkat. Namun pada tahun 2014 pertumbuhan mulai mengalami peningkatan kembali dari 7,98% meningkat menjadi 8,18%. Jika dilihat dari masing-masing sektor, sektor yang mengalami laju pertumbuhan cukup signifikan dibanding sektor lainnya adalah sektor bangunan dari 6,35% pada tahun 2011 meningkat menjadi 26,28% pada tahun 2014. Sedangkan pada sektor pertambangan dan penggalian dari tahun ke tahun selalu mengalami penurunan dari 17,06% pada tahun 2011 menjadi -0,1% pada tahun 2014. Meski demikian sektor pertambangan dan penggalian masih

A N A L I S I S |IV-2

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

merupakan sektor dengan penyumbang PDRB terbesar kedua setelah sektor pertanian.

4.1.2 Analisis LQ dan Shift Share Kabupaten Sarolangun 2010-2014

Sektor unggulan daerah, pada dasarnya dapat memberikan kontribusi yang besar pada daerah, bukan hanya untuk daerah itu sendiri tapi juga untuk memenuhi kebutuhan daerah lain. Dengan melihat data PDRB maka beberapa sektor unggulan daerah dapat diketahui. Alat analisis Location Quotient (LQ) ini digunakan untuk mengidentifikasi keunggulan komparatif kegiatan ekonomi di Kabupaten Sarolangun dengan membandingkannya terhadap Nasional.

A. Analisis LQ Analisis Location Quotient (LQ) bertujuan untuk mengetahui apakah suatu sektor telah dapat memenuhi kebutuhan wilayah itu sendiri (subsisten), apakah kurang atau lebih atau surplus. Sektor yang mengalami surplus adalah sektor yang dikatakan sebagai sektor basis dan memiliki potensi ekspor, sedang sektor yang hanya mampu memenuhi kebutuhan penduduk lokalnya atau kebutuhan bagi wilayahnya sendiri disebut sebagai sektor non-basis. Analisis LQ dilakukan dengan membandingkan sektor di suatu wilayah terhadap lingkup yang lebih luas. Berikut ini adalah hasil perhitungan analisis LQ untuk Kabupaten Sarolangun yang dibandingkan dengan Provinsi Jambi:

Tabel IV.3 Analisis LQ Kabupaten Sarolangun Tahun 2010

   

KABUPATEN

PROVINSI

   

No

SEKTOR

SAROLANGUN

JAMBI

LQ

KETERANGAN

pi/p total

Pi/P total

TAHUN 2010

1

Pertanian

0,307203925

0,26073292

1,178232213

BASIS

2

Pertambangan Dan Penggalian

0,276031882

0,267664183

1,03126193

BASIS

3

Industri Pengolahan

0,039432026

0,114299083

0,344989873

NON BASIS

4

Listrik,Gas & Air Minum

0,001689262

0,002023872

0,834668602

NON BASIS

5

Bangunan

0,109141418

0,058768418

1,857144049

BASIS

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

0,056238412

0,084725619

0,663771044

NON BASIS

7

Pengangkutan Dan Komunikasi

0,071434071

0,072175187

0,989731702

NON BASIS

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

0,03965531

0,047623882

0,832676983

NON BASIS

9

Jasa-Jasa

0,099173694

0,091986837

1,078129185

BASIS

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

A N A L I S I S |IV-3

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

Tabel IV.4 Analisis LQ Kabupaten Sarolangun Tahun 2011

   

KABUPATEN

PROVINSI

   

No

SEKTOR

SAROLANGUN

JAMBI

LQ

KETERANGAN

pi/p total

Pi/P total

TAHUN 2011

1

Pertanian

0,293827765

0,253168844

1,160600021

BASIS

2

Pertambangan dan Penggalian

0,297065431

0,27895544

1,064920731

BASIS

3

Industri Pengolahan

0,040526747

0,11476386

0,353131615

NON BASIS

4

Listrik,Gas & Air Minum

0,001681831

0,002005306

0,8386905

NON BASIS

5

Bangunan

0,106708495

0,057491915

1,856060903

BASIS

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

0,054168265

0,085101703

0,63651212

NON BASIS

7

Pengangkutan dan Komunikasi

0,069845535

0,071295786

0,979658674

NON BASIS

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

0,040603194

0,049016428

0,828358891

NON BASIS

9

Jasa-Jasa

0,095572736

0,088200719

1,083582276

BASIS

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

Tabel IV.5 Analisis LQ Kabupaten Sarolangun Tahun 2012

   

KABUPATEN

PROVINSI

   

No

SEKTOR

SAROLANGUN

JAMBI

LQ

KETERANGAN

pi/p total

Pi/P total

TAHUN 2012

1

Pertanian

0,28560318

0,252635664

1,130494306

BASIS

2

Pertambangan dan Penggalian

0,307192016

0,273348175

1,123812206

BASIS

3

Industri Pengolahan

0,042076307

0,114933025

0,366094145

NON BASIS

4

Listrik,Gas & Air Minum

0,001590715

0,001926145

0,825854298

NON BASIS

5

Bangunan

0,10993812

0,062858284

1,74898378

BASIS

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

0,053615843

0,086555126

0,619441571

NON BASIS

7

Pengangkutan dan Komunikasi

0,067886606

0,071841863

0,944944961

NON BASIS

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

0,039667398

0,049108572

0,80774896

NON BASIS

9

Jasa-Jasa

0,092429814

0,086793145

1,064943708

BASIS

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

Tabel IV.6 Analisis LQ Kabupaten Sarolangun Tahun 2013

   

KABUPATEN

PROVINSI

   

No

SEKTOR

SAROLANGUN

JAMBI

LQ

KETERANGAN

pi/p total

Pi/P total

TAHUN 2013

1

Pertanian

0,27261472

0,251157772

1,085432148

BASIS

2

Pertambangan dan Penggalian

0,306773524

0,26566392

1,154742892

BASIS

3

Industri Pengolahan

0,04349177

0,116365026

0,373752932

NON BASIS

4

Listrik,Gas & Air Minum

0,001523093

0,001866393

0,816062245

NON BASIS

5

Bangunan

0,126060685

0,070302882

1,793108362

BASIS

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

0,052735198

0,087675724

0,601480047

NON BASIS

7

Pengangkutan dan Komunikasi

0,066019743

0,072001961

0,916915905

NON BASIS

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

0,040300122

0,049416461

0,815520184

NON BASIS

A N A L I S I S |IV-4

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

   

KABUPATEN

PROVINSI

   

No

SEKTOR

SAROLANGUN

JAMBI

LQ

KETERANGAN

pi/p total

Pi/P total

TAHUN 2013

9

Jasa-Jasa

0,090481146

0,085549861

1,057642226

BASIS

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

Tabel IV.7 Analisis LQ Kabupaten Sarolangun Tahun 2014

   

KABUPATEN

PROVINSI

   

No

SEKTOR

SAROLANGUN

JAMBI

LQ

KETERANGAN

pi/p total

Pi/P total

TAHUN 2014

1

Pertanian

0,278827217

0,259578096

1,074155411

BASIS

2

Pertambangan dan Penggalian

0,283296976

0,257924552

1,098371495

BASIS

3

Industri Pengolahan

0,042098489

0,113603651

0,370573382

NON BASIS

4

Listrik,Gas & Air Minum

0,001442425

0,001836901

0,785249496

NON BASIS

5

Bangunan

0,147152958

0,071339096

2,062725301

BASIS

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

0,050878721

0,08886133

0,572563126

NON BASIS

7

Pengangkutan dan Komunikasi

0,06744697

0,073111822

0,922517978

NON BASIS

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

0,038613051

0,047680246

0,809833295

NON BASIS

9

Jasa-Jasa

0,090243194

0,086064307

1,048555403

BASIS

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

Dari tabel analisis LQ diatas dapat dilihat bahwa pada kurun waktu 5 tahun yaitu 2010-2014 di Kabupaten Sarolangun terdapat 4 sektor yang menjadi basis karena nilai LQ > 1 yaitu sektor pertanian; sektor pertambangan dan penggalian; sektor bangunan dan sektor jasa-jasa. Sedangkan untuk sektor non- basisnya (LQ < 1) yaitu sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas dan air minum; sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan.

Sektor basis di Kabupaten Sarolangun menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi bagi Kabupaten Sarolangun. Keterkaitan antara sektor basis dan non basis adalah bahwa sektor basis mempengaruhi keadaan sektor non- basisnya. Semakin besar sektor basis, maka sektor non-basis juga akan meningkat. Sektor basis juga dapat menjadi indikator tingkat ekspor suatu wilayah. Semakin besar ekspor, maka pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut juga semakin tinggi. Di Kabupaten Sarolangun sektor basis yang memiliki nilai LQ tertinggi adalah sektor basis bangunan. Untuk sektor non-basis yang memiliki nilai LQ terendah adalah sektor industri pengolahan. Pada kurun waktu 5 tahun (2010-2014) pertumbuhan nilai LQ cukup stagnan, tidak mengalami fluktuasi yang berarti. Hal tersebut dikarenakan penambahan nilai yang cukup stabil.

A N A L I S I S |IV-5

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

B. Analisis Shift Share

Metode ini digunakan untuk mengetahui kinerja perekonomian daerah, pergeseran struktur, posisi relatif sektor-sektor ekonomi dan identifikasi sektor unggul daerah dalam kaitannya dengan perekonomian acuan (wilayah acuan/ wilayah yang lebih luas) dalam dua atau lebih titik waktu. Dalam analisis ini diasumsikan bahwa perubahan produksi/kesempatan kerja dipengaruhi oleh 3 komponen pertumbuhan wilayah. Secara skematik komponen tersebut adalah:

Komponen Pertumbuhan

Nasional

(KPN)

PERTUMBUHAN WILAYAH/SEKTOR EKONOMI

Nasional (KPN) PERTUMBUHAN WILAYAH/SEKTOR EKONOMI Komponen Pertumbuhan Proporsional (KPP) Komponen Pertumbuhan

Komponen Pertumbuhan Proporsional (KPP)

EKONOMI Komponen Pertumbuhan Proporsional (KPP) Komponen Pertumbuhan Pangsa WIlayah (KPPW) Dalam analisis

Komponen Pertumbuhan Pangsa WIlayah (KPPW)

Dalam analisis Shift Share didasarkan pada data PDRB Kabupaten Sarolangun diawal tahun analisis dan akhir tahun analisis, serta digunakan juga perbandingan dengan PDRB Provinsi Jambi.

Tabel IV.8 Data PDRB Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi Awal dan Akhir Tahun Analisis (Juta Rupiah)

   

Kabupaten Sarolangun

Provinsi Jambi

No

Sektor

PDRB 2010

PDRB 2014

PDRB 2010

PDRB 2014

1

Pertanian

1.994.970

2.493.898

23.627.200

31.145.400

2

Pertambangan dan Penggalian

1.792.540

2.533.876

24.255.300

30.947.000

3

Industri Pengolahan

256.070

376.539

10.357.600

13.630.700

4

Listrik,Gas & Air Minum

10.970

12.901

183.400

220.400

5

Bangunan

708.760

1.316.171

5.325.500

8.559.600

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

365.210

455.072

7.677.700

10.662.000

7

Pengangkutan dan Komunikasi

463.890

603.262

6.540.400

8.772.300

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

257.520

345.364

4.315.600

5.720.900

9

Jasa-Jasa

644.030

807.157

8.335.700

10.326.400

A N A L I S I S |IV-6

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

   

Kabupaten Sarolangun

Provinsi Jambi

No

Sektor

PDRB 2010

PDRB 2014

PDRB 2010

PDRB 2014

 

Total

6.493.960

8.944.240

90.618.400

119.984.700

Sumber: PDRB Kabupaten Sarolangun dan PDRB Provinsi Jambi Tahun 2010-2014

Dari data PDRB yang ada maka dapat dilihat hasil perhitungan masing-masing komponen sebagai berikut:

Tabel IV.9 Hasil Perhitungan Data PDRB Kabupaten Sarolangun dan Provinsi Jambi Awal dan Akhir Tahun Analisis

No

SEKTOR

KPN

KPP

KPPW

PE

1

Pertanian

32,41%

-0,59%

-6,81%

25,01%

2

Pertambangan dan Penggalian

32,41%

-4,82%

13,77%

41,36%

3

Industri Pengolahan

32,41%

-0,81%

15,44%

47,05%

4

Listrik,Gas & Air Minum

32,41%

-12,23%

-2,57%

17,61%

5

Bangunan

32,41%

28,32%

24,97%

85,70%

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

32,41%

6,46%

-14,26%

24,61%

7

Pengangkutan dan Komunikasi

32,41%

1,72%

-4,08%

30,04%

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

32,41%

0,16%

1,55%

34,11%

9

Jasa-Jasa

32,41%

-8,52%

1,45%

25,33%

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

Dari hasil perhitungan analisis diatas dapat diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi yang paling besar ada pada sektor Bangunan dengan prosentase 85,70% dimana 32,41% merupakan KPN, 28,32% merupakan KPP dan 24,97% merupakan KPPW. Sedangkan sektor pertumbuhan ekonomi yang paling rendah adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu 24,61%. Berikut adalah interpretasi dari masing-masing komponen:

Tabel IV.10 Interpretasi Komponen KPP

No

Sektor

KPP (-/+)

Keterangan

1

Pertanian

-0,59%

Spealisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat

2

Pertambangan dan Penggalian

-4,82%

Spealisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat

3

Industri Pengolahan

-0,81%

Spealisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat

4

Listrik,Gas & Air Minum

-12,23%

Spealisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat

5

Bangunan

28,32%

Spealisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

6,46%

Spealisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat

A N A L I S I S |IV-7

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

No

Sektor

KPP (-/+)

Keterangan

7

Pengangkutan dan Komunikasi

1,72%

Spealisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

0,16%

Spealisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat

9

Jasa-Jasa

-8,52%

Spealisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

Asumsinya komponen KPP bernilai positif (KPP > 0) pada wilayah/daerah yang berspesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat dan KPP bernilai negatif (KPP < 0) pada wilayah/daerah yang berspesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat. Dari data diatas sektor yang secara nasional mengalami pertumbuhan cepat yaitu sektor bangunan; sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Sedangkan sektor yang pertumbuhannya lambat antara lain sektor pertanian; sektor pertambangan dan penggalian; sektor industri pengolahan; dan sektor listrik, gas dan air minum dan sektor jasa-jasa.

Selanjutnya adalah interpretasi komponen KPPW adalah sebagai berikut:

Tabel IV.11 Interpretasi Komponen KPPW

No

Sektor

KPPW (-/+)

Keterangan

1

Pertanian

-6,81%

Tidak mempunyai daya saing

2

Pertambangan dan Penggalian

13,77%

Mempunyai daya saing

3

Industri Pengolahan

15,44%

Mempunyai daya saing

4

Listrik,Gas & Air Minum

-2,57%

Tidak mempunyai daya saing

5

Bangunan

24,97%

Mempunyai daya saing

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

-14,26%

Tidak mempunyai daya saing

7

Pengangkutan dan Komunikasi

-4,08%

Tidak mempunyai daya saing

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

1,55%

Mempunyai daya saing

9

Jasa-Jasa

1,45%

Mempunyai daya saing

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

Asumsinya KPPW bernilai positif (KPPW > 0) pada sektor yang mempunyai keunggulan komparatif (comparative advantage) di wilayah /daerah tersebut (disebut juga sebagai keuntungan lokasional) dan KPPW bernilai negatif (KPPW < 0) pada sektor yang tidak mempunyai keunggulan komparatif / tidak dapat bersaing. Dari data diatas dapat diketahui sektor-sektor yang mempunyai

A N A L I S I S |IV-8

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

keunggulan lokasional dimana sektor tersebut mempunyai daya saing dan juga sektor yang tidak punya keunggulan dan tidak dapat bersaing.

Sektor yang mempunyai daya saing tersebut antara lain sektor pertambangan dan penggalian; sektor industri penggolahan; sektor bangunan; sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Sedangkan sektor yang tidak mempunyai daya saing antara lain sektor pertanian; sektor listrik, gas dan air minum; sektor perdagangan, hotel dan restoran; dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Selanjutnya interpretasi pergeseran bersih (PB) sebagai berikut:

Tabel IV.12 Interpretasi Komponen PB

No

Sektor

PB (-/+)

Keterangan

1

Pertanian

-7,40%

MUNDUR

2

Pertambangan dan Penggalian

8,95%

PROGRESIF

3

Industri Pengolahan

14,64%

PROGRESIF

4

Listrik,Gas & Air Minum

-14,80%

MUNDUR

5

Bangunan

53,29%

PROGRESIF

6

Perdagangan, Hotel &Restoran

-7,80%

MUNDUR

7

Pengangkutan dan Komunikasi

-2,36%

MUNDUR

8

Keuangan,Persewaan &Jasa Perusahaan

1,71%

PROGRESIF

9

Jasa-Jasa

-7,08%

MUNDUR

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

Asumsinya yaitu jika PB ≥ 0 sektor tersebut progresif dan jika PB < 0 sektor tersebut mundur. Dari data diatas maka dapat diketahui sektor-sektor apa saja yang progresif dan sektor-sektor yang mundur. Sektor yang progresif antara lain sektor pertambangan dan penggalian; sektor industri pengolahan; sektor bangunan dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Sedangkan sektor yang tergolong mundur adalah sektor pertanian; sektor listrik gas dan air minum; sektor perdagangan hotel dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi; dan sektor jasa-jasa.

C. Analisis Sektor Ekonomi Unggulan (LQ dan SS)

Analisis sektor ekonomi unggulan adalah mengidentifikasi sektor-sektor yang menjadi prioritas utama dalam pengembangan ekonomi wilayah atau kota. Untuk memudahkan pengidentifikasian dapat digunakan kuadran prioritas

A N A L I S I S |IV-9

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

yang menunjukkan sektor unggulan, sektor berkembang, sektor potensial dan sektor terbelakang.

BERKEMBANG

PB > 0

UNGGULAN

 Industri Pengolahan  Pertambangan dan Penggalian  Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan  Bangunan
 Industri Pengolahan
 Pertambangan dan
Penggalian
 Keuangan,
Persewaan
dan
Jasa Perusahaan
 Bangunan
Prioritas:
1. Pertambangan dan
Penggalian
2. Bangunan
3. Pertanian
4. Jasa-jasa

Pertanian

Jasa- Jasa

POTENSIAL

LQ < 1

LQ > 1

Listrik, Gas dan Air Minum

Perdagangan, Hotel dan Restoran

Pengangkutan dan Komunikasi

TERBELAKANG

PB < 0

Sumber: Hasil Analisis Tim Penyusun, 2016

Sektor Unggulan adalah sektor yang mempunyai LQ ≥ 1 dan PB ≥ 0. Sektor ini merupakan sektor basis dengan kinerja progresif, dan terletak di koordinat kanan atas. Pada Kabupaten Sarolangun yang merupakan sektor unggulan adalah sektor pertambangan dan penggalian dan sektor bangunan;

Sektor Potensial adalah sektor yang mempunyai LQ ≥ 1 dan PB < 0. Sektor ini merupakan sektor basis dengan kinerja mundur, dan terletak di koordinat kanan bawah. Pada Kabupaten Sarolangun yang merupakan sektor potensial adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa;

Sektor Berkembang adalah sektor yang mempunyai LQ < 1 dan PB > 0. Sektor ini merupakan sektor non basis dengan kinerja progresif, dan terletak di koordinat kiri atas. Pada Kabupaten Sarolangun yang merupakan sektor berkembang adalah industry pengolahan dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan;

A N A L I S I S |IV-10

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

Sektor Terbelakang/ mundur adalah sektor yang mempunyai LQ < 1 dan PB < 0. Sektor ini merupakan sektor non basis dengan kriteria mundur dan terletak di koordinat kiri bawah. Pada Kabupaten Sarolangun yang merupakan sektor terbelakang adalah sektor listrik, gas dan air minum, sektor perdagangan, hotel dan restroan dan sektor pengangkutan dan komunikasi.

4.2 ANALISIS ISU STRATEGIS

Analisis isu-isu strategis merupakan bagian penting dan sangat menentukan dalam proses penyusunan rencana pembangunan daerah untuk melengkapi tahapan- tahapan yang telah dilakukan sebelumnya. Identifikasi isu yang tepat dan bersifat stretagis meningkatkan akseptabilitas prioritas pembangunan, dapat dioperasionalkan dan secara moral dan etika birokratis dapat dipertanggung- jawabkan. Isu strategis merupakan salah satu pengayaan analisis lingkungan eksternal terhadap proses perencanaan. Jika dinamika eksternal khususnya selama 5 (lima) tahun yang akan datang diidentifikasi dengan baik, maka pemerintah daerah akan dapat mempertahankan atau meningkatkan pelayanan pada masyarakat.

Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas (daerah/masyarakat) dimasa datang. Suatu kondisi/ kejadian yang menjadi isu strategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya dalam hal tidak dimanfaatkan akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

Berdasarkan pada kondisi saat ini, beberapa permasalahan investasi daerah terkait dengan isu strategis nasional yang dihadapi oleh Kabupaten Sarolangun adalah:

1. Prosedur perijinan investasi yang panjang dan mahal Prosedur yang panjang dan berbelit tidak hanya mengakibatkan ekonomi biaya tinggi tetapi juga menghilangkan peluang usaha yang seharusnya dapat dimanfaatkan baik untuk kepentingan perusahaan maupun untuk kepentingan nasional seperti dalam bentuk penciptaan lapangan kerja. Demikian juga yang terjadi di Kabupaten Sarolangun, belum adanya Badan Penanaman Modal (saat ini masih menjadi satu kesatuan dengan Badan Perencanaan Pembangunan

A N A L I S I S |IV-11

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

Daerah) menjadi faktor utama yang menambah lama pengurusan penanaman modal di Kabupaten Sarolangun.

2. Rendahnya kepastian hukum Rendahnya kepastian hukum tercermin dari banyaknya tumpang tindih kebijakan antar pusat dan daerah dan antar sektor. Belum mantapnya pelaksanaan program desentralisasi mengakibatkan kesimpangsiuran kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah dalam kebijakan investasi. Disamping itu juga terdapat keragaman yang besar dari kebijakan investasi antar daerah. Kesemuanya ini mengakibatkan ketidakjelasan kebijakan investasi nasional yang pada gilirannya akan menurunkan minat investasi.

3. Lemahnya insentif investasi Pemerintah daerah dinilai relatif tertinggal dalam menyusun insentif investasi, termasuk insentif perpajakan, dalam menarik penanaman modal di Indonesia. Meskipun dengan tingkat pajak progresif yang diperkirakan relatif sama dengan negara-negara lain, sistem perpajakan di Indonesia kurang memberi kelonggaran-kelonggaran perpajakan dalam upaya mendorong investasi.

4. Kualitas SDM rendah dan terbatasnya infrastruktur Kurang bergairahnya iklim investasi di Kabupaten Sarolangun juga disebabkan oleh keterbatasan dari daya saing produksi (supply side) dan kapasitas dari sistem dan jaringan infrastruktur karena sebagian besar dalam keadaan rusak. Pengembangan manufaktur yang belum berbasis pada kemampuan penguasaan teknologi dan masih relatif rendahnya kemampuan SDM tenaga kerjanya memiliki implikasi yang tidak ringan. Sementara itu, keterbatasan kapasitas infrastruktur berpengaruh pada peningkatan biaya distribusi yang pada gilirannya justru memperburuk daya saing produk-produknya.

4.3 ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS

Langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan analisis SWOT terkait potensi di Kabupaten Sarolangun adalah melakukan Analisis Lingkungan Strategis terhadap faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal sebagai berikut :

A N A L I S I S |IV-12

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

4.3.1 Lingkungan Internal

Secara internal Kabupaten Sarolangun memiliki objek dan daya tarik investasi yang apabila dikaji lebih mendalam akan melahirkan suatu potensi yang berarti kekuatan serta kendala-kendala yang berarti kelemahan. Berdasarkan hasil kajian, kekuatan dan kelemahan internal terakit investasi adalah:

a. Faktor Kekuatan (Strength)

1. Kondisi sumber daya alam sangat mendukung untuk peningkatan investasi khususnya yang berbasis perkebunan dan pertambangan

2. Kualitas sarana transportasi jalan cukup memadai untuk menunjang sirkulasi barang baik bahan baku maupun distribusi produk

3. Secara kuantitas tenaga kerja cukup memadai untuk mensupplay kebutuhan tenaga kerja bagi investasi baru

4. Adanya komitmen pemerintah daerah untuk mempermudah perijinan investasi

5. Jumlah lembaga keuangan cukup memadai

6. Laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB cukup stabil dan cenderung meningkat

b. Faktor Kelemahan (Weakness)

1. Belum optimalnya promosi penanaman modal sehingga potensi investasi masih belum terpublikasi secara luas

2. Belum optimalnya pelayanan perijinan investasi

3. Kualitas SDM tenaga kerja belum optimal dalam menunjang peningkatan investasi

4. Lemahnya fungsi koordinasi antar dan inter instansi

5. Kondisi keamanan daerah masih kurang kondusif sehingga investor masih ragu untuk berinvestasi

6. Belum optimalnya pemanfaatan sarana promosi investasi baik berupa media cetak maupun media yang berbasis teknologi informasi

7. Jaringan pemasaran yang masih terbatas

8. Teknologi yang digunakan untuk mengelola bahan baku masih sederhana

9. Akasesibilitas di kawasan perkebunan masih belum memadai sehingga menghambat distribusi hasil perkebunan

10. Lemahnya penerapan sanksi bagi pelanggar pajak dan retribusi

A N A L I S I S |IV-13

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

4.3.2 Lingkungan Eksternal

Faktor eksternal menyediakan berbagai peluang dalam upaya untuk mewujudkan visi dan misi peningkatan investasi yang telah ditetapkan di Kabupaten Sarolangun. Selain itu juga terdapat tantangan dari faktor eksternal yang dapat menghambat upaya merealisasikan misi peningkatan investasi. Berdasarkan hasil kajian, peluang dan tantangan eksternal terakit investasi adalah:

a. Faktor Peluang (Opportunity)

1. Adanya kebijakan nasional yang memprioritaskan peningkatan investasi

untuk pengembangan perekonomian

2. Adanya dukungan Pemerintah Provinsi Jambi melalui Bappeda bidang Penanaman Modal untuk mempromosikan potensi investasi daerah Kabupaten/ Kota

3. Adanya Bandar Udara di Kabupaten Bungo sehingga mempermudah aksesibilitas ke Kabupaten Sarolangun

4. Adanya rencana pembangunan jalan ke daerah tertinggal

b. Faktor Tantangan (Treath)

1. Adanya perdagangan bebas sehingga persaingan usaha sangat ketat

2. Adanya persaingan daerah untuk menarik investasi

3. Adanya keterkaitan antara perijinan investai daerah dengan kewenangan perijinan investasi provinsi dan nasional sehingga memperpanjang rantai

perijinan

4. Rendahnya minat investor dalam bidang agribisnis dibandingkan dengan bidang industri dan perdagangan

Tabel IV.13 Matriks IFAS/IFE Potensi di Kab. Sarolangun

No

FAKTOR-FAKTOR KEKUATAN

Bobot

Rating

Score

1

Kondisi sumber daya alam sangat mendukung untuk peningkatan investasi khususnya yang berbasis perkebunan dan pertambangan

0,12

4

0,48

2

Kualitas sarana transportasi jalan cukup memadai untuk menunjang sirkulasi barang baik bahan baku maupun distribusi produk

0,08

4

0,32

3

Secara kuantitas tenaga kerja cukup memadai untuk mensupplay kebutuhan tenaga kerja bagi investasi baru

0,07

3

0,21

4

Adanya komitmen pemerintah daerah untuk mempermudah perijinan investasi

0,08

4

0,32

A N A L I S I S |IV-14

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

No

FAKTOR-FAKTOR KEKUATAN

 

Bobot

 

Rating

 

Score

5

Jumlah lembaga keuangan cukup memadai

 

0,05

 

3

 

0,15

6

Laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB cukup stabil dan cenderung meningkat

0,04

 

3

 

0,12

Jumlah Kekuatan

 

0,44

   

1,6

No

FAKTOR-FAKTOR KELEMAHAN

 

Bobot

 

Rating

 

Score

1

Belum optimalnya promosi penanaman modal sehingga potensi investasi masih belum terpublikasi secara luas

0,1

 

4

 

0,4

2

Belum optimalnya pelayanan perijinan investasi

 

0,08

 

4

 

0,32

3

Kualitas SDM tenaga kerja belum optimal dalam menunjang peningkatan investasi

0,03

 

3

 

0,09

4

Lemahnya fungsi koordinasi antar dan inter instansi

 

0,05

 

4

 

0,2

 

Belum optimalnya pemanfaatan sarana promosi investasi

0,05

   

0,2

5

baik berupa media cetak maupun media yang berbasis teknologi informasi

 

4

6

Kondisi keamanan daerah masih kurang kondusif sehingga investor masih ragu untuk berinvestasi

0,1

 

4

 

0,4

7

Jaringan pemasaran yang masih terbatas

 

0,04

 

3

 

0,12

8

Teknologi yang digunakan untuk mengelola bahan baku masih sederhana

0,03

 

3

 

0,09

9

Akasesibilitas di kawasan perkebunan masih belum memadai sehingga menghambat distribusi hasil perkebunan

0,03

 

3

 

0,09

10

Lemahnya

penerapan

sanksi

bagi

pelanggar

pajak

dan

0,05

 

4

 

0,2

retribusi

   

Jumlah Kelemahan

 

0,56

   

2,11

JUMLAH LINGKUNGAN INTERNAL

 

1

   

Sumber : AnalisisTim Penyusun dan Kajian Strategi Peningkatan Investasi di Kab.Sarolangun, 2016

 

Tabel IV.14 Matriks EFAS/EFE Potensi di Kab. Sarolangun

 

No

FAKTOR-FAKTOR PELUANG

   

Bobot

Rating

Score

1

Adanya kebijakan nasional yang memprioritaskan peningkatan investasi untuk pengembangan perekonomian

 

0,15

4

0,6

 

Adanya dukungan Pemerintah Provinsi Jambi melalui

     

2

Bappeda bidang Penanaman Modal untuk mempromosikan potensi investasi daerah Kabupaten/ Kota

 

0,12

4

0,48

3

Adanya Bandar Udara di Kabupaten Bungo sehingga mempermudah aksesibilitas ke Kabupaten Sarolangun

 

0,1

4

0,4

4

Adanya rencana pembangunan jalan ke daerah tertinggal

   

0,09

3

0,27

   

Jumlah Peluang

   

0,46

 

1,75

No

 

FAKTOR-FAKTOR TANTANGAN

   

Bobot

Rating

Score

1

Adanya perdagangan bebas sehingga persaingan usaha sangat ketat

 

0,15

4

0,6

2

Adanya persaingan daerah untuk menarik investasi

   

0,13

4

0,52

A N A L I S I S |IV-15

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

No

FAKTOR-FAKTOR TANTANGAN

Bobot

Rating

Score

3

Adanya keterkaitan antara perijinan investai daerah dengan kewenangan perijinan investasi provinsi dan nasional sehingga memperpanjang rantai perijinan

0,12

4

0,48

4

Rendahnya minat investor dalam bidang agribisnis dibandingkan dengan bidang industri dan perdagangan

0,14

4

0,56

 

Jumlah Tantangan

0,54

 

2,16

 

JUMLAH LINGKUNGAN EKSTERNAL

1

   

Sumber : AnalisisTim Penyusun dan Kajian Strategi Peningkatan Investasi di Kab.Sarolangun, 2016

4.4 ANALISIS SWOT

Berdasarkan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan pada lingkungan internal dan faktor-faktor peluang dan tantangan pada lingkungan eksternal, selanjutnya dilakukan analisis keterkaitan diantara keempat faktor tersebut dengan melihat pada gambar berikut:

S-O

W-O

3.35

3,86

S-T

W-T

3,76

4,27

Berdasarkan pada hasil penjumlahan S-O, S-T, W-O, dan W-T diatas terlihat bahwa hasil penjumlahan paling tinggi adalah antara Weakness dan Threat yaitu 4,27. Hal ini menunjukkan bahwa faktor kelemahan dan tantangan merupakan prioritas utama yang digunakan untuk arahan dalam pengembangan kawasan dimana memperkecil kelemahan yang ada untuk menghindari tantangan.

Tujuan dari adanya pembobotan antara Strength, Weaknes, Opportunity and Threat adalah agar mengetahui arahan yang menjadi prioritas pengembangan utama mana yang menghasilkan dampak positif paling besar dalam menanggulangi permasalahan dan mendorong pengembangan investasi. Selanjutnya dilakukan analisis keterkaitan diantara keempat faktor tersebut dengan menggunakan analisis keterkaitan SWOT (Strength, Weaknes, Opportunity and Threat). Dari hasil Analisis SWOT akan diperoleh strategi-strategi yaitu Strategi S-O, S-T , W-O dan W-T. Dari hasil analisis SWOT tersebut diperoleh sejumlah strategi, yaitu :

A N A L I S I S |IV-16

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

1. Strategi S-O,“Aggressive Oriented”, memaksimalkan kekuatan untuk memaksimalkan peluang

2. Strategi S-T,“Diversification Oriented” ,memaksimalkan kekuatan untuk meminimalkan ancaman.

3. Strategi W-O,“TurnAround Oriented”, meminimalkan kelemahan untuk memaksimalkan peluang.

4. Strategi W-T,“Defensive Oriented”, meminimalkan kelemahan untuk meminimalkan ancaman.

Strategi-strategi tersebut akan dapat menjelaskan pemikiran-pemikiran secara koseptual, analitis, realistis, rasional dan komprehensif mengenai berbagai langkah yang diperlukan dalam rangka mengembangkan Investasi di Kabupaten Sarolangun, langkah-langkah tersebut harus konsisten dengan strategi-strategi yang telah ditetapkan.

A N A L I S I S |IV-17

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

Tabel IV.15 Matriks Analisis SWOT (Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats) Terkait dengan Faktor-Faktor Kekuatan

 

LINGKUNGAN EKSTERNAL

 

Faktor-Faktor Peluang

 

Faktor-Faktor Tantangan

   

Adanya kebijakan nasional

yang

1

Adanya perdagangan bebas sehingga persaingan usaha sangat ketat

1

memprioritaskan peningkatan investasi untuk pengembangan perekonomian

 

Adanya dukungan Pemerintah Provinsi Jambi

2

Adanya persaingan daerah untuk menarik investasi

2

melalui Bappeda bidang Penanaman Modal untuk mempromosikan potensi investasi daerah Kabupaten/ Kota

 

Adanya Bandar Udara di Kabupaten Bungo

3

Adanya keterkaitan antara perijinan investai daerah dengan kewenangan perijinan investasi provinsi dan nasional sehingga memperpanjang rantai perijinan

3

sehingga mempermudah aksesibilitas ke Kabupaten Sarolangun

4

Adanya rencana pembangunan jalan ke daerah tertinggal

4

Rendahnya minat investor dalam bidang agribisnis dibandingkan dengan bidang industri dan perdagangan

LINGKUNGAN INTERNAL

 

Faktor-Faktor Kekuatan

 

STRATEGI S - O (Gunakan Kekuatan untukk memanfaatkan Peluang)

 

STRATEGI S - T (Gunakan Kekuatan untukk menghindari Tantangan)

1

Kondisi sumber daya alam sangat mendukung untuk peningkatan investasi khususnya yang berbasis perkebunan dan pertambangan

Mempromosikan potensi investasi melalui kerjasama dengan Bappeda baik tingkat provinsi maupun nasional

Meningkatkan daya saing dalam meraih investor dengan mengembangkan inovasi - inovasi dalam mempromosikan potensi investasi

2

Kualitas sarana transportasi jalan cukup memadai untuk menunjang sirkulasi barang baik bahan baku maupun distribusi produk

Mengimplementasikan komitmen dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan investasi secara

Penyelenggaraan atau berpartisipasi secara berkala dalam even-even promosi investasi baik regional

berkelanjutan

 

promosi maupun nasional

3

Secara kuantitas tenaga kerja cukup memadai untuk mensupplay kebutuhan tenaga kerja bagi investasi baru

Pengembangan faktor pendukung investasi dengan terus meningkatkan kualitas sarana transformasi, listrik, telepon dan sebagainya

Memberikan kemudahan dan kecepatan dalam proses pelayanan perijinan investasi

A N A L I S I S |IV-18

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

 

Faktor-Faktor Kekuatan

STRATEGI S - O (Gunakan Kekuatan untukk memanfaatkan Peluang)

STRATEGI S - T (Gunakan Kekuatan untukk menghindari Tantangan)

4

Adanya komitmen pemerintah daerah untuk mempermudah perijinan investasi

Meningkatkan peran kelembagaan dalam menunjang investasi baik lembaga keuangan,

Meningkatkan kualitas media promosi baik cetak, media, elektronik maupun internet

organisasi maupun asosiasi

5

Jumlah lembaga keuangan cukup memadai

Pengembangan kualitas SDM dengan berbagai pelatihan ketrampilan sehingga tidak hanya

 

memadai dalam aspek kuantitas tetapi juga berdaya saing dalam aspek kualitas untuk menunjang peningkatan investasi

6

Laju pertumbuhan ekonomi dan PDRB cukup stabil dan cenderung meningkat

   

Sumber : AnalisisTim Penyusun dan Kajian Strategi Peningkatan Investasi di Kab.Sarolangun, 2016

A N A L I S I S |IV-19

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

Tabel IV.16 Matriks Analisis SWOT (Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats) Terkait dengan Faktor-Faktor Kekuatan

 

LINGKUNGAN EKSTERNAL

 

Faktor-Faktor Peluang

 

Faktor-Faktor Tantangan

   

Adanya kebijakan nasional

yang

1

Adanya perdagangan bebas sehingga persaingan usaha sangat ketat

1

memprioritaskan peningkatan investasi untuk pengembangan perekonomian

 

Adanya dukungan Pemerintah Provinsi Jambi

2

Adanya persaingan daerah untuk menarik investasi

2

melalui Bappeda bidang Penanaman Modal untuk mempromosikan potensi investasi daerah Kabupaten/ Kota

 

Adanya Bandar Udara di Kabupaten Bungo

3

Adanya keterkaitan antara perijinan investai daerah dengan kewenangan perijinan investasi provinsi dan nasional sehingga memperpanjang rantai perijinan

3

sehingga mempermudah aksesibilitas ke Kabupaten Sarolangun

4

Adanya rencana pembangunan jalan ke daerah tertinggal

4

Rendahnya minat investor dalam bidang agribisnis dibandingkan dengan bidang industri dan perdagangan

LINGKUNGAN INTERNAL

 
 

Faktor-Faktor Kelemahan

   

STRATEGI W - O (Tanggulangi Kelemahan dengan memanfaatkan Peluang)

 

STRATEGI W - T (Perkecil Kelemahan untukk menghindari Tantangan)

1

Belum optimalnya promosi penanaman modal sehingga potensi investasi masih belum terpublikasi secara luas

Meningkatkan pelayanan perijinan secara prima dengan ditunjang dengan penggunaan teknologi informasi

Penyelenggaraan event-event investasi baik berupa temu bisnis maupun temu kemitraan secara berkala

2

Belum

optimalnya

pelayanan

perijinan

Meningkatkan aksesibilitas khususnya terhadap lokasi sumber bahan baku dan sentra produksi

Peningkatan kerjasama dengan berbagai pihak baik dengan swasta dan pemerintah

investasi

3

Kualitas SDM tenaga kerja belum optimal dalam menunjang peningkatan investasi

Meningkatkan promosi investasi melalui berbagai media baik cetak, elektronik maupun internet.

Meningkatkan pelayanan dan fasilitas investasi secara berkelanjutan

4

Lemahnya fungsi koordinasi antar dan inter instansi

Menyediakan website yang menyediakan informasi potensi di Kabupaten Sarolangun sehingga memudahkan investor untuk mendapat informasi

Meningkatkan kualitas informasi mengenai ketersediaan bahan baku dan tenaga kerja

A N A L I S I S |IV-20

LAPORAN AKHIR PENYUSUNAN PETA JALAN (ROAD MAP) PENANAMAN MODAL

KABUPATEN SAROLANGUN

 

Faktor-Faktor Kelemahan

STRATEGI W - O (Tanggulangi Kelemahan dengan memanfaatkan Peluang)

 

STRATEGI W - T (Perkecil Kelemahan untukk menghindari Tantangan)

5

Belum optimalnya pemanfaatan sarana promosi investasi baik berupa media cetak maupun media yang berbasis teknologi informasi

Memberikan jaminan keamanan usaha bagi investor melalui kerjasama dengan pihak kepolisian dan juga forkompinda

Meningkatkan SDM petugas yang memberi layanan perijinan investasi

6

Kondisi keamanan daerah masih kurang kondusif sehingga investor masih ragu untuk berinvestasi

Memberikan kepastian hukum dengan membentuk peraturan tentang investasi

Melakukan study banding pelayanan investasi dengan daerah lain yang lebih maju

7

Jaringan pemasaran yang masih terbatas

Membentuk

kebijakan

yang

berkaitan

dengan

 

kejelasan prosedur dan juga tarif

 

8

Teknologi yang digunakan untuk mengelola bahan baku masih sederhana

   

9

Akasesibilitas di kawasan perkebunan masih belum memadai sehingga menghambat distribusi hasil perkebunan

   

10

Lemahnya penerapan sanksi bagi pelanggar pajak dan retribusi

   

Sumber : AnalisisTim Penyusun dan Kajian Strategi Peningkatan Investasi di Kab.Sarolangun, 2016

A N A L I S I S |IV-21