Anda di halaman 1dari 10

Laporan Pratikum ke-4 Hari,tanggal : Kamis, 1 Maret 2018

Teknik Dasar Nekropsi Hewan Dosen Pembimbing : - Dr. drh. Vetnizah Junianto, Phd
- Drh. Heryudianto Vibowo

Sistem Respirasi Pada Ikan

Kelompok 7
Gina Aida Nabilla J3P116024 1.
Nur Fatkhul Ghozi J3P116051 2.
Nurul Oktaviani J3P116053 3.
Faris Mufti Hidayat J3P216079 5.
Edi Sugiarto J3P216101 6.
Imam Lutfi Aziz J3P216104 7.
Ricky Hersade J3P216085 8.
Ramadanti Putri. H J3P216107 9.

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIS VETERINER


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
I. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Sistem pernapasan pada ikan berbeda dari hewan amphibi karena ikan hanya hidup di air
tidak didua alam meskipun amphibi juga memiliki salah satu organ pernapasan yang sama
dengan ikan. Sistem pernapasan ikan bergantung pada suatu organ utama yang disebut insang.
Insang pada ikan berfungsi untuk mengikat oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida sebagai
hasil respirasi. Organ insang juga berhubungan langsung dengan pembuluh darah sehingga
memungkinkan terjadinya pertukaran langsung antara oksigen dan karbon dioksida. Insang pada
ikan terletak di dua sisi tubuh ikan bagian depan. Dapat dikatakan bahwa insang adalah salah
satu dari bagian-bagian tubuh hewan yang penting khususnya pada ikan.

Insang pada ikan dapat menarik oksigen lebih maksimal daripada paru-paru pada sistem
pernapasan pada manusia bahkan jika kadar oksigen dalam air dibawah 21% atau 210ppm.
Insang didesain dengan bentuk dan fungsi yang diadaptasikan untuk hidup dalam air. Insang
terdiri dari filamen-filamen yang langsung terhubung pada air dan didesain agar air dapat terus
masuk dan mengalirkan udara. Tidak seperti paru-paru sebagai alat pernapasan pada manusia
dimana udara yang baru akan masuk setelah sisa udara yang lama dikeluarkan, pada ikan
pertukaran udara berlangsung otomatis tanpa perlu menunggu sisa udara lama dikeluarkan dan
ikan tidak perlu membuang energi untuk proses ini.Hal inilah yang menyebabkan kerja insang
lebih efisien dari fungsi paru-paru manusia.

Ikan bernapas menggunakan insang yang tersusun atas empat pasang lengkung insang.
Masing-masing lengkung memiliki dua baris filamen yang tersusun atas lempengan pipih disebut
dengan lamela. Lamela meningkatkan luas permukaan respirasi yang tersusun atas membran tipis
dan banyak mengandung jaringan kapiler pembuluh darah tepat dibawahnya.

Sebagian besar ikan memiliki insang internal, karena ditutupi oleh operkulum sehingga tak
tampak dari luar. Semua jenis ikan bertulang keras (ikan mas, gurame, dll) memiliki operkulum.
Sedang beberapa ikan memiliki tipe insang eksternal karena tidak memiliki penutup insang
(operkulum) sehingga celah insangnya tampak dari luar, seperti pda hiu, pari.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui sistem repirasi pada ikan serta mengetahui penyakit yang sering terjadi
pada organ respirasi ikan.

1.3 Metode
Metode yang digunakan yaitu metode pengumpulan data sekunder dengan studi literature.
II. Hasil dan Pembahasan

Ikan merupakan salah satu hewan yang memiliki sistem pernapasan berbeda daripada
makhluk lainnya. Hewan vertebrata telah memiliki sistem sirkulasi yang fungsinya antara lain
untuk mengangkut gas O2 dari tempat penangkapan gas menuju jaringan dan mengangkut gas
buangan CO2 dari sel-sel jaringan ke tempat pengeluarannya. Ikan bernapas menggunakan
insang. Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis berwarna merah muda dan selalu lembab.
Bagian luar insang berhubungan dengan air, sedangkan bagian dalam berhubungan erat dengan
kapiler-kapiler darah.
Pada ikan bertulan sejati, insangnya dilengkapi dengan tutup insang. Sedangkan pada
insang bertulang rawan indangnya tidak mempunyai tutup. Insang tidak hanya berfungsi sebagai
alat pernapasan, tetapi juga berfungsi sebagai alat ekskresi garam, penyaring makanan, alat
pertukaran ion dan osmoregulator. Berikut bagian-bagian penyusun insang:
1. Tutup insang (Operculum) berfungsi melindungi bagian kepala dan mengatur
mekanisme aliran air sewaktu bernapas
2. Membrane brankiostega berfungsi sebagai katup pada waktu air masuk ke dalam rongga
mulut
3. Lengkung insang berfungsi sebagai tempat melekatnya tulang tapis insang dan daun
insang
4. Tulang tapis insang berfungsi dalam sistem pencernaan untuk mencegah keluarnya
organisme makanan melalui celah insang
5. Lembaran insang berfungsi dalam sistem pernapasan dan peredaran darah
6. Tapis insang berfungsi menjaga agar tidak ada benda asing yang masuk ke dalam rongga
insang

Gambar 1. Bagian-bagian insang


Beberapa jenis ikan memiliki labirin yang merupakan rongga-rongga tak teratur. Labirin ini
berfungsi menyimpan cadangan O2 sehingga ikan tahan pada kondisi yang kekuraangan O 2.
Contoh ikan yang mempunyai labirin adalah ikan gabus dan ikan lele. Selain labirin ikan
memiliki gelembung renang yang terletak di dekat punggung dan berfungsi untuk menyimpan
oksigen serta membantu gerakan ikan naik turun.
Selain insang atau paru-paru, beberapa jenis ikan memiliki alat pernapasan tambahan yang
dapat mengambil oksigen secara langsung dari udara. Contoh alat pernapasan tambahan pada
ikan:
- Arborescent organ pada ikan Lele Clarias sps, merupakan insang tambahan berbentuk
pohon di bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga, berfungsi mengambil oksigen
dari atas permukaan air.
- Kulit merupakan alat pernapasan tambahan pada ikan Blodok Periopthalmus dan
Boleopthalmus, di samping itu penutup insang yang berkembang berlipat-lipat dan
bagian dalamnya terdapat banyak pembuluh darah.
- Labirinth merupakan alat pernapasan tambahan pada ikan Betok Anabas testudineus
Ikan-ikan yang memiliki alat pernapasan tambahan mampu bertahan hidup dalam kondisi
hypoxia, bahkan anoxia.
- Divertikula merupakan alat pernapasan tambahan pada ikan gabus.

Gambar 2. (A) Labirin (B) Insang


Gambar 3. Proses respirasi ikan
Mekanisme pernapasan pada ikan diatur oleh mulut dan insang. Dalam mekanisme
pernapasan ikan terdapat 2 fase, yaitu:
1. Fase inspirasi ikan
Gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup insang tetap menempel pada
tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar, sebaliknya celah belakang insang
tertutup. Akibatnya, tekanan udara dalam rongga mulut lebih kecil daripada tekanan
udara luar. Celah mulut membuka sehingga terjadi aliran air ke dalam rongga mulut. O2
dan air masuk ke dalam insang, kemudian O 2 diikat oleh kapiler darah untuk dibawa ke
jaringan-jaringan yang membutuhkan.
2. Fase ekspirasi ikan
Setelah air masuk ke dalam rongga mulut, celah mulut menutup. Insang kembali
ke kedudukan semula diikuti membukanya celah insang. Air dalam mulit mengalir
melalui celah-celah insang dan menyentuh lembaran-lembaran insang. Pada tempat ini
terjadi pertukaran udara pernapasan. Darah melepaskan CO 2 ke dalam air dan mengikat
O2 dari air.
Penyakit yang dapat menyerang system respirasi ikan yaitu :
1. KHV (Koi Herpes Virus)
Koi HerpesVirus (KHV) adalah virus yang menginfeksi ikan mas dan koi dan
berasosiasi dengan kematin massal (Hedrick et al 2000). Virus ini pertama kali
teridentifikasi pada tahun 1998 sebagai penyebab kematian massal ikan koi baik stadia
juvenil maupun dewasa yang dibudidayakan Israel, Amerika Serikat dan Jerman (Hedrick
et al 1999; Betzinger et al 1999). KHV masuk ke Indonesia pada tahun 2002 melalui
perdagangan ikan lintas negara (Sunarto et al 2005). Penyakit ini ditandai dengan adanya
lesi pada insang (Fishpathogens 2014)
Gambar 4. Lesi pada insang
Virus KHV menginfeksi dan masuk ke dalam tubuh ikan melalui insang dan akan
menyebabkan nekrosis (Disyon et al 2005). Penyebaran penyakit ini sangat cepat, dari
insang virus akan dengan cepat ditransfer ke ginjal dan menyebabkan nefritis interstisial
parah. Cara penularan penyakit ini adalah kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi,
lendir ikan yang terinfeksi dan air.

2. Bengkak insang (Myxosporeasis)


Myxosporeasis atau myxobolusis merupakan penyakit parasit yang disebabkan
yang disebabkan Myxobolus sp. Myxosporeasis masuk ke Indonesia sejak tahun 1952 di
Jawa Tengah dan membunuh ribuan benih ikan mas (Djajaredja et al 1982). Menurut
Pramono dan Syakuri (2008), ikan yang terinfeksi akan menunjukkan gejala klinis nodul
berwarna putih kemerahan pada insang yang berisi kumpulan dari ribuan spora. Gejala
lain yang terlihat adalah operkulum yang tidak dapat menutup apabila terinfeksi berat
(Hoole et al 2001).

Gambar 5a. Infeksi ringan Gambar 5b. Infeksi berat


Pada gambar 5a belum menunjukkan pembengkakan, namun sudah terlihat nodul
kecil pada insang. Sedangkan gambar 5b sudah terjadi pembengkakan akibat banyaknya
nodul. Selain itu insang terlihat pucat. Pucatnya warna insang Bisa disebabkan oleh
terjadinya akumulasi darah akibat kapiler darah dan sinus insang pecah (Chavda et al
2010). Dampak dari kerusakan tersebut akan menyebabkan occlusion pada sirkulasi
brachia, nekrosis dan tidak berfungsinya pernafasan (Sugianti et al 2005). Selain itu,
keberadaan nodul pada insang akan membuat ikan kehilanhan keseimbangan dan
mengakibatkan ikan berenang secara spiral mulai dari dasar hingga ke permukaan
perairan.

3. Dactylogyrus sp (Cacing Insang)


Parasit ini termasuk cacing tingkat rendah (Trematoda). Dactylogyrus sp sering
menyerang pada bagian insang ikan air tawar, payau dan laut. Trematoda jenis
monogenean ini berbentuk pipih, pada ujungnya dilengkapi alat yang berfungsi sebagai
pengait dan penghisap darah.

Gambar 9. Gambaran mikroskopis Cacing Dactylogyrus sp


Siklus hidup cacing Dactylogyrus sp ini tidak memerlukan perantara atau dalam
kata lain secara langsung seluruh fase hidupnya sebagai parasit. Fase infektif cacing ini
adalah fase onkomirasidium. Cacing dewasa melepaskan telur ke air kemudian telur
menetas menjadi larva berbulu getar (onkomirasidium) yang berenang bebas hingga
menemukan inang. Waktu telur menjadi dewas tergantung keadaan suhu. Suhu yang lebih
rendah akan memperlambat proses pendewasaan dari beberapa minggu hingga beberapa
bulan.
Gambar 10. Siklus Hidup Dactylogyrus sp
Dactylogyrus. Sp lebih senang menyerang bagian insang. Gejala klinis yang
timbul berupa warna tubuh pucat, nafsu makan menurun, frekuensi pernafasan
meningkat, lendir berlebih, berkumpul dekat dengan saluran air, insang pucat dan
membengkak. Gejala lain yaitu ikan akan menggosok-gosokan tubuhnya ke dasar kolam
atau benda keras lainnya. Bagian operculum akan terbuka lebih lebar akibat
pembengkakkan. Kematian biasanya disebabkan oleh pembusukan insang dan kulit.

B
M Gambar 11. Insang ikan yang terserang Dactylogyrus. Sp
A) Larva Dewasa yang menempel pada insang, B) terdapat bintik putih pada insang

Dalam keadaan serius insang akan rusak dan operkulum ikan tidak tertutup
dengan sempurna mengakibatkan kesulitan bernafas. Mukosa insang berwarna gelap
menutupi insang sehingga insang tampak seperti tertutup lumpur. Kulit berwarna gelap,
ada yang menginfeksi pada kulit, dan sirip terdapat bintik-bintik putih. Pada infeksi berat
ikan diam di dasar kolam dan lama kelamaan akan mati.

III.Simpulan
Sistem pernapasan ikan bergantung pada suatu organ utama yang disebut insang.
Insang berfungsi untuk mengikat oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida sebagai
hasil respirasi. Beberapa penyakit dapat menyerang organ sistem respirasi ikan antara
lain,
 Koi Herpes Virus (KHV) adalahvirus yang menginfeksi ikan mas dan koi
 Myxosporeasis atau myxobolusis merupakan penyakit parasit yang disebabkan
Myxobolus sp.
 Dactylogyrus. sp sering menyerang insang ikan air tawar, payau dan laut

DAFTAR PUSTAKA
Bretzinger A, Fischer-Scherl, Oumouma T, Hoffman MR, Truyen U. 1999. Mass Mortalities in
Koi,, Cyprinus carpio, Associated with Gill and Skin Disease. Bulletin Europe
Association. Fish Phatology. Vol 19.
Chavda DS, Bhatt RA, Sreepada, Sheth A. 2010. Phatogenicity of Myxobolus Infection and Its
Effect on Protein Expression in Catlacatla in Central Gujarat Region. Journal of Cell
and Tissue Research. Vol 10 (1): 2157-2164.
Djajadiredja R, Panjaitan TH, Rukyani A, Sarono A, Satyani D, Supriadi H. 1982. Fish
Quarantine and Fish Disease in Southeast Asia. Report of a workshop 7-10 December
1982 held in Jakarta. 19-21p.
Fishpathogens. 2014. KHV - Koi Herpesvirus. [Diakses pada 2018 Feb 26]. Tersedia pada:
https://fishpathogens.net/pathogen/khv-koi-herpesvirus
Hedrick RP, Marty GD, Nordhausen RW, Kebus MJ, Bercovier H, Eldar A. 1999. A Harpesvirus
Associated with Mass Mortality of Juvenil and Adult Koi Cyprinus carpio. Fish Health
Section. American Fisheries Society.
Hedrick RP, Gilad O, Yun S, Spangenberg JV, Marty GD, Nordhause RW, Kebus MJ, Bercovier
H, Eldar A. 2000. A Herpesvirus Associated with Mass Mortality of Juvenil and Adult
Koi, a Strain of Common Carp. J. Aquat. Anim. Health. Vol 12.
Hoole D, Buckle D, Burgess P, Wellby I. 2001. Disease of Carp and Other Cyprinid Fishes.
Fishing New Books. UK Hal. 74-77.
Mustain. 2012. Sistem Respirasi pada Ikan. Fakultas Budidaya Perikanan dan Kelautan.
Universitas Muhammadiyah Perikanan Pontianak. Pontianak.
Merck Veterinary Manual. Merck Sharp & Dohme Corp. Web. 06 May 2012. Merck.
"Furunculosis - The Disease." Merck Animal Health. Merck Sharp & Dohme Corp.
(diunduh pada 20 Februari 2018).
Pramono T, Syakuri H. 2008. Infeksi Parasit pada Permukaan Tubuh Ikan Nilem (Osteochilus
hasellti) yang diperdagangkan di PPI Purbalingga. Ilmiah Perikanan. 3(2). Yogyakarta:
UIN Sunan Kalijaga.
Sugianti B, Tarumingkeng RC, Coto Z, Hardjanto. 2005. Pemanfaatan Tumbuhan Obat
Tradisional dalam Pengendalian Penyakit Ikan. Makalah Pribadi Falsafah Sains (PPS-
702). Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Sunarto A, Cameron A. 2005. Epidemiology and Control of Koi Herpesvirus in Indonesia.
Procedings of the 11th International Symposium on Veterinary Epidemiology and
Economis.
Triastuti, J., L. Sulmartiwi dan Y. Dhamayanti. 2009.Ichtyologi .Surabaya:Fakultas Perikanan

dan Kelautan Universitas Airlangga.