Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahasa menjadi alat komunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota
masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa berisi gagasan, ide, pikiran, keinginan,
atau perasaan yang ada pada diri si pembicara. Agar apa yang dipikirkan, diinginkan,
atau dirasakannya dapat diterima oleh pendengar atau orang yang diajak bicara,
hendaklah bahasa yang digunakannya dapat mendukung maksud atau pikiran dan
perasaan pembicara secara jelas.

Setiap gagasan, pikiran, atau konsep yang dimiliki seseorang pada praktiknya akan
dituangkan ke dalam bentuk kalimat. Kalimat yang benar (dan juga baik) haruslah
memenuhi persyaratan gramatikal. Artinya, kalimat itu harus disusun berdasarkan
kaidah-kaidah yang berlaku, seperti unsur-unsur penting yang harus dimiliki setiap
kalimat (subjek dan predikat); memerhatikan ejaan yang disempurnakan; serta cara
memilih kata (diksi) yang tepat dalam kalimat. Kalimat yang memenuhi kaidah-
kaidah tersebut jelas akan mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar. Kalimat
yang demikian disebut kalimat efektif.

Kalimat efektif dalam bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda
dengan kalimat lainnya, misalnya, dengan bahasa jurnalistik, bahasa sastra, apalagi
dengan bahasa lisan. Kalimat efektif mampu membuat proses penyampaian dan
penerimaan berlangsung dengan sempurna. Kalimat efektif mampu membuat isi atau
maksud yang disampaikan si pembicara tergambar lengkap dalam pikiran si penerima
(pembaca atau pendengar), seperti apa yang disampaikannya. Hal tersebut terjadi jika
kata-kata yang mendukung kalimat itu sanggup mengungkapkan kandungan gagasan.
Dengan kata lain, hampir setiap kata secara tepat mewakili pikiran dan keinginan si
penulis. Hal ini berarti, bahwa kalimat efektif haruslah secara sadar disusun oleh
penulis/penuturnya untuk mencapai informasi yang maksimal. Jadi, kalimat efektif
adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan, pikiran, dan perasaan dengan
tepat ditinjau dari segi diksi, struktur, dan logikanya. Dengan kata lain, kalimat efektif
selalu berterima secara tata bahasa dan makna. Sebuah kalimat dikatakan efektif
apabila mencapai sasarannya dengan baik sebagai alat komunikasi.
Dilihat dari segi fungsinya, kalimat adalah alat komunikasi. Dilihat dari segi bentuk
dan proses terjadinya, kalimat membentuk suatu struktur atau pola yang terdiri atas
unsur-unsur yang teratur. Kalimat yang polanya salah menurut tata bahasa, jelas tidak
efektif. Namun, kalimat yang menurut tata bahasa betul struktur atau polanya juga
belum tentu efektif.

Di samping harus memenuhi persyaratan diksi atau pemilihan kata yang tepat dan
struktur yang baik, kalimat efektif juga harus memiliki daya nalar yang baik. Nalar
yang baik dari sebuah kalimat dapat dilihat dari sejauh mana kalimat tersebut
mengganggu atau tidaknya pikiran pembaca atau pendengarnya. Kalimat yang
bernalar adalah kalimat yang tidak menganggu pikiran pembaca atau pendengarnya.

1.2 Permasalahan
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif ?
1.2.2 Apa ciri-ciri utama kalimat efektif?

1.3 Tujuan Pembahasan


1.3.1 Agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunakan bahasa Indonesia sehingga
menjadi baik dan benar
1.3.2 Mengetahui apa dan bagaimana penggunaan kalimat efektif dalam berbahasa
1.3.3 Menjaga kemurnian bahasa Indonesia

1.4 Manfaat Pembahasan


1.4.1 Manfaat untuk diri sendiri: agar bisa memahami bagaimana yang dikatakan
dengan kalimat efektif.
1.4.2 Manfaat untuk kelompok: agar kita bisa menjaga budaya Bahasa Indonesia
yang baik dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian kalimat efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan


penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca
secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki
kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca.
Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili pikiran penulis
atau pembicara secara tepat sehingga pendengar/pembaca dapat memahami pikiran
tersebut dengan mudah, jelas dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau
pembicaranya.

Efektif mengandung pengertian tepat guna, artinya sesuatu akan berguna jika dipakai
pada sasaran yang tepat. Pengertian efektif dalam kalimat adalah dan ketepatan
penggunaan kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situasi kebahasaan tertentu
pula. Beberapa definisi kalimat efektif menurut beberapa ahli bahasa :
1. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat
komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah
dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu:
2007)
2. Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah
dipahami orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan:2001)
3. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah,
ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
4. Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan
informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi:
2009)
5. Kalimat efektif di pahami sebagai sebuah kalimat yang dapat membantu
menjelaskan sesuatu persoalan secara lebih singkat jelas padat dan mudah di mengerti
serta di artikan. (ARIF HP: 2013)
6. Kalimat efektif adalah kalimat yang baik karena apa yang dipikirkan atau dirasakan
oleh si pembicara (si penulis dalam bahasa tulis) dapat diterima dan dipahami oleh
pendengar (pembaca dalam bahasa tulis) sama benar dengan apa yang dipikirkan atau
dirasakan oleh si penutur atau si penulis (Badudu: 1995)

Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kata kunci dari definisi kalimat efektif
yaitu sesuai kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami. Jadi, kalimat efektif adalah
kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami oleh pendengar
atau pembaca.

Kalimat efektif syarat-syarat sebagai berikut:


1. Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2. Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar
atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.

Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa Indonesia
lama lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata dalam kalimat, yaitu
subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (Ket). Kalimat
bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni subjek dan
predikat. Unsur yang lain (objek, pelengkap, dan keterangan) dalam suatu kalimat
dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir.

1. Subjek (S)
Subjek (S) adalah bagian kalimat menunjukkan pelaku, tokoh, sosok (benda), sesuatu
hal, suatu masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi
oleh jenis kata/frasa benda (nominal), klausa, atau frasa verbal. Untuk lebih jelasnya
perhatikan contoh sebagai berikut ini:
a. Ayahku sedang melukis.
b. Meja direktur besar.
c. Yang berbaju batik dosen saya.
d. Berjalan kaki menyehatkan badan.
e. Membangun jalan layang sangat mahal.
Kata-kata yang dicetak tebal pada kalimat di atas adalah S. Contoh S yang diisi oleh
kata dan frasa benda terdapat pada kalimat (a) dan (b), contoh S yang diisi oleh klausa
terdapat pada kalimat (c), dan contoh S yang diisi oleh frasa verbal terdapat pada
kalimat (d) dan (e).
Dalam bahasa Indonesia, setiap kata, frasa, klausa pembentuk S selalu merujuk pada
benda (konkret atau abstrak). Pada contoh di atas, kendatipun jenis kata yang mengisi
S pada kalimat (c), (d) dan (e) bukan kata benda, namun hakikat fisiknya tetap
merujuk pada benda. Bila kita menunjuk pelaku pada kalimat (c) dan (d),
yang berbaju batik dan berjalan kaki tentulah orang (benda). Demikian
juga membangun jalan layang yang menjadi S pada kalimat (e), secara implisit juga
merujuk pada “hasil membangun” yang tidak lain adalah benda juga. Di samping itu,
kalau diselami lebih dalam, sebenarnya ada nomina yang lesap, pada awal kalimat (c)
sampai (e), yaituorang pada awal kalimat (c) dan kegiatan pada awal kalimat (d) dan
(e).

Selain ciri di atas, S dapat juga dikenali dengan cara bertanya dengan memakai kata
tanya siapa (yang)… atau apa (yang)… kepada P. Kalau ada jawaban yang logis atas
pertanyaan yang diajukan, itulah S. Jika ternyata jawabannya tidak ada dan atau tidak
logis berarti kalimat itu tidak mempunyai S. Inilah contoh “kalimat” yang tidak
mempunyai S karena tidak ada/tidak jelas pelaku atau bendanya.

1. Bagi siswa sekolah dilarang masuk.


2. Di sini melayani obat generic.
3. Memandikan adik di pagi hari.
Contoh (a) sampai (c) belum memenuhi syarat sebagai kalimat karena tidak mempunyai S.
Kalau ditanya kepada P, siapa yang dilarang masuk pada contoh (a) siapa yang melayani
resep pada contoh (b) dan siapa yang memandikan adik pada contoh (c), tidak ada
jawabannya. Kalaupun ada, jawaban itu terasa tidak logis.
2. Predikat (P)

Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam
keadaan bagaimana subjek (pelaku/tokoh atau benda di dalam suatu kalimat). Selain
memberitahu tindakan atau perbuatan subjek (S), P dapat pula menyatakan sifat, situasi,
status, ciri, atau jatidiri S. termasuk juga sebagai P dalam kalimat adalah pernyataan tentang
jumlah sesuatu yang dimiliki oleh S. predikat dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian
besar berkelas verba atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal.
Perhatikan contoh berikut:
1. Kuda meringkik.
2. Ibu sedang tidur siang.
3. Putrinya cantik jelita.
4. Kota Jakarta dalam keadaan aman.
5. Kucingku belang tiga.
6. Robby mahasiswa baru.
7. Rumah Pak Hartawan lima.

Kata-kata yang dicetak tebal dalam kalimat di atas adalah P. katameringkik pada kalimat (a)
memberitahukan perbuatan kuda. Kelompok katasedang tidur siang pada kalimat (b)
memberitahukan melakukan apa ibu,cantik jelita pada kalimat (c) memberitahukan
bagaimana putrinya, dalamkeadaan aman pada kalimat (d) memberitahukan situasi kota
Jakarta, belang tiga pada kalimat (e) memberitahukan ciri kucingku, mahasiswa baru pada
kalimat (f) memberitahukan status Robby, dan lima pada kalimat (g) memberitahukan jumlah
rumah Pak Hartawan.

Berikut ini contoh kalimat yang tidak memiliki P karena tidak ada kata-kata menunjuk pada
perbuatan, sifat, keadaan, ciri, atau status pelaku atau bendanya.

a. Adik saya yang gendut lagi lucu itu.

b. Kantor kami yang terletak di Jln. Gatot Subroto.

c. Bandung yang terkenal kota kembang.

Walaupun contoh (a), (b), (c) ditulis persis seperti lazimnya kalimat normal, yaitu diawali
dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, namun di dalamnya tidak ada satu kata
pun yang berfungsi sebagai P. Tidak ada jawaban atas pertanyaan melakukan apa adik yang
gendut lagi lucu (pelaku) pada contoh (a), tidak ada jawaban atas pertanyaan kenapa atau ada
apa dengan kantor di Jalan Gatot Subroto dan Bandung terkenal sebagai kota kembang itu
pada contoh (b) dan (c). karena tidak ada informasi tentang tindakan, sifat, atau hal lain yang
dituntut oleh P, maka contoh (a), (b), (c) tidak mengandung P. Karena itu, rangkaian kata-
kata yang cukup panjang pada contoh (a), (b), (c) itu belum merupakan kalimat, melainkan
baru merupakan kelompok kata atau frasa.
3. Objek (O)
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. objek pada umumnya diisi oleh nomina,
frasa nominal, atau klausa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu
verba yang menuntut wajib hadirnya O, seperi pad contoh di bawah ini.

1. Nurul menimang …
2. Arsitek merancang …
3. Juru masak menggoreng …
Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh tersebut adalah P yang
menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P pada ketiga kalimat itulah yang
dinamakan objek.
Jika P diisi oleh verba intransitif, O tidak diperlukan. Itulah sebabnya sifat O dalam kalimat
dikatakan tidak wajib hadir. Verba intransitive mandi, rusak, pulang yang menjadi P dalam
contoh berikut tidak menuntut untuk dilengkapi.
1. Nenek mandi.
2. Komputerku rusak.
3. Tamunya pulang.
Objek dalam kalimat aktif dapat berubah menjadi S jika kalimatnya dipasifkan. Perhatikan
contoh kalimat berikut yang letak O-nya di belakang dan ubahan posisinya bila kalimatnya
dipasifkan.

1) Martina Hingis mengalahkan Yayuk Basuki (O)


2) Yayuk Basuki (S) dikalahkan oleh Martina Hingis.
1) Orang itu menipu adik saya (O)
2) Adik saya (S) ditipu oleh oran itu.

4. Pelengkap (pel)
Pelengkap (P) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. letak Pelengkap
umumnya di belakang P yang berupa verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh O, dan jenis
kata yang mengisi Pel dan O juga sama, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau
klausa. Namun, antara Pel dan O terdapat perbedaan. Perhatikan cnntoh di bawah ini:

1. Ketua MPR membacakan Pancasila.


S P O
2. Banyak orpospol berlandaskan Pancasila.
S P Pel

Kedua kalimat aktif (a) dan (b) yang Pel dan O-nya sama-sama diisi oleh
nomina Pancasila, jika hendak dipasifkan ternyata yang bisa hanya kalimat (a) yang
menempatkan Pancasila sebagai O. Ubahan kalimat (a) menjadi kalimat pasif adalah sebagai
berikut:
Pancasila dibacakan oleh ketua MPR.
S P O

Posisi Pancasila sebagai Pel pada kalimat (b) tidak bisa dipindah ke depan menjadi S
dalam kalimat pasif. Contoh berikut adalah kalimat yang tidak gramatikal.
Pancasila dilandasi oleh banyak orsospol.

Hal lain yang membedakan Pel dan O adalah jenis pengisinya. Selain diisi oleh nomina dan
frasa nominal, Pelengkap dapat juga diisi oleh frasa adjectival dan frasa preposisional.
Di samping itu, letak Pelengkap tidak selalu persis di belakang P. Apabila dalam kalimatnya
terdapat O, letak pel adalah di belakang O sehingga urutan penulisan bagian kalimat menjadi
S-P-O-Pel. Berikut adalah beberapa contoh pelengkap dalam kalimat.

1. Sutardji membacakan pengagumnya puisi kontemporer.


2. Mayang mendongengkan Rayhan Cerita si Kancil.
3. Sekretaris itu mengambilkan atasannya air minum.
4. Annisa mengirimi kakeknya kopiah bludru.
5. Pamanku membelikan anaknya rumah mungil.

5. Keterangan (ket)
Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal mengenai bagian
kalimat yang lainnya. Unsur Ket dapat berfungsi menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya
bersifat bebas, dapat di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa
nominal, frasa preporsisional, adverbia, atau klausa.
Berdasarkan maknanya, terdapat bermacam-macam Ket dalam kalimat. Para ahli membagi
keterangan atas Sembilan macam (Hasan Alwi dkk, 1998:366) yaitu seperti yang tertera pada
tabel di bawah ini.

2.2 Ciri-ciri utama kalimat efektif

Kalimat efektif mempunyai empat ciri, yaitu:

1. Kelogisan
2. Kepaduan
3. Kesejajaran
4. Kehematan

Secara rinci butir-butir tersebut akan diuraikan satu per satu sebagai berikut.

1. Kelogisan

Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh
akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku. Kalimat efektif harus
mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus
memiliki hubungan yang logis/masuk akal. Ketidaklogisan bisa terjadi karena isi
kalimat atau struktur kalimat yang dibangun. struktur kalimat yang dimaksud
adalah penggunaan unsur gramatikal yang tidak tepat dan penggunaan kata
penghubung yang tidak logis
Contoh :
Waktu dan tempat saya persilakan.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda
mati yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;
Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.

Terdapat dua kata penghubung dalam bahasa Indonesia, yaitu kata penghubung intrakalimat
dan kata penghubung antarkalimat. Intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak
kalimat dengan induk kalimat atau sebaliknya. Contohnya, karena, dan, sehingga, atau,
Walaupun, seperti, Jika, sedangkan, dan melainkan.
Antarkalimat ialah kata yang menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang
lainnya. Contoh: Jadi, Pertama Oleh karena itu, Kedua, Namun, Kesimpulannya, Kemudian,
Selanjutnya.

2. Kepaduan

Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat
itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
a.Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak
simetris. Oleh karena itu, kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
Misalnya:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah
terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak keluar
dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab

b.Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam
kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
Contoh:
Surat itu saya sudah baca.
Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.
Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal.
Seharusnya kalimat itu berbentuk
Surat itu sudah saya baca.
Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang
antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Perhatikan kalimat ini :
Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
Seharusnya:
Mereka membicarakan kehendak rakyat.
Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.
3. Kesejajaran

Agar kalimat yang Anda buat terlihat rapi dan bermakna sama, kesejajaran dalam kalimat
diperlukan. Kesejajaran adalah penggunaan bentuk-bentuk yang sama pada kata-kata yang
berparalel. Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata
kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu
menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan
predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.
Kalimat itu harus diubah :
1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan
2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam
kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama
menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang
penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat (a) tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat
terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki
dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
Kalimat (b) tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama
bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan
baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok,
pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.

Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam
kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama
menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
a. Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
b.Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang
penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat (a) tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat
terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki
dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
Kalimat (b) tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama
bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan
baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan
penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Contoh lain:
-Maskapai tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan dokumen, kerusakan barang,
busuknya makanan, dan jika hewan yang diletakkan di dalam bagasi tiba-tiba mati.

Pada kalimat tersebut, terdapat kata-kata yang tidak berparalel dan harus disejajarkan, yaitu
kata kehilangan, kerusakan, busuknya dan mati. Seharusnya, dua kata tersebut menjadi
kebusukan dan kematian. Dengan demikian kalimat itu dapat diperbaiki menjadi

Maskapai tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan dokumen, kerusakan barang,


kebusukan makanan, dan kematian hewan.

-Berdasarkan rencana di bidang kesepakatan energi, negara-negara yang tergabung dalam


EAS akan memingkatkan efisiensi energi dan meluaskan sistem energi terbaru. energi akan
Selama dua minggu para ahi di bidang kesepakatan mengadakan seminar di pusat
pembinaan dam pelatihan energi.

-Tinggginya harga-harga kebutuhan pokok, hilangnya kepercayaan masyarakat di bidang


ekonomi dan politik, dan banyaknya pengangguran merupakan kesulitan yang harus
dihadapi oleh bangsa Indonesia.

-Perbaikan sanitasi dapat mengangkatkan manusia dari kemiskinan meningkatkan


produktivitas, mendorongkan pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan kerja
4. Kehematan

Kehematan adalah adanya hubungan jumlah kata yang digunakan dengan luasnya jangkauan
makna yang diacu. Sebuah kalimat dikatakan hemat bukan karena jumlah katanya sedikit,
sebaliknya dikatakan tidak hemat karena jumlah katanya terlalu banyak Yang utama adalah
seberapa banyakkah kata yang bermanfaat bagi pembaca atau pendengar. Kehematan dalam
kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap
tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah
kejelasan kalimat. Penghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang
memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
a. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Perhatikan contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.
b. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada
hiponimi kata.
Perhatikan contoh:
Ia memakai baju warna merah.
Di mana engkau menangkap burung pipit itu?
Kata merah sudah mencakupi kata warna.
Kata pipit sudah mencakupi kata burung.
Kalimat itu dapat diubah menjadi
Ia memakai baju merah.
Di mana engkau menangkap pipit itu?
c. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu
kalimat.
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
Dia hanya membawa badannya saja.
Sejak dari pagi dia bermenung.
Kata naik bersinonim dengan ke atas.
Kata turun bersinonim dengan ke bawah.
Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi
Dia hanya membawa badannya.
Sejak pagi dia bermenung.
d. Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk
jamak.
Misalnya:
Bentuk tidak baku : para tamu-tamu, beberapa orang-orang
bentuk baku : para tamu, beberapa orang.

Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang
berlebih. Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.

Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya.

Pemakaian kata bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar, anyelir,
dan melati terkandung makna bunga.
Kalimat yang benar adalah:
Mawar,anyelir, dan melati sangat disukainya.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan
penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat dipahami oleh pendengar/pembaca
secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang memiliki
kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada pendengar atau pembaca.
Unsur-unsur dalam kalimat efektif, ialah: subjek (S), predikat (P), objek (O),
pelengkap (Pel) dan keterangan (Ket). Ciri utama kalimat efektif adalah kelogisan,
kepaduan, kesejajaran dan kehematan.

3.2 Saran

Pentingnya dalam berkomunikasi memahami penggunaan kalimat efektif, agar


informasi yang berjalan cepat selaras antara gagasan yang disampaikan oleh pihak pertama
dapat diterima dengan “utuh” oleh pihak kedua. Makalah ini dapat diperbaiki lagi segala
kekurangan dan kelemahannya.
DAFTAR PUSTAKA

Baidudu, J.S. 1995. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar IV. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama

Fuad, Muhammad dkk. 2005. Penggunaan Bahasa Indonesia Laras Ilmiah. Bandar
Lampung: Penerbit Universitas Lampung.

Kuntarto, Niknik M. 2011. Cermat dalam Berbahasa Teliti dalam Berpikir. Jakarta: Mitra
Wacana Media.

Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Kalimat Efektif (Diksi, Struktur, Logika). Bandung: Refika
Aditama.

Razak, Abdul. 1985. Kalimat Efektif. Jakarta: Gramedia.

https://sarahfaradita.wordpress.com/2015/12/01/makalah-bahasa-indonesia-kalimat-efektif/
Diakses tanggal 14 Maret 2018 pukul 13.40

http://kalimatefektif2013.blogspot.co.id/ Diakses tanggal 14 Maret 2018 pukul 14.00