Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Fraktur tulang wajah dapat menyebabkan gangguan fungsi dan estetika jika
tidak ditatalaksana dengan baik.1 Fraktur nasal merupakan salah satu fraktur yang
sering terjadi dengan persentase sekitar lebih dari 30% dari keseluruhan kasus
fraktur tulang wajah.2 Kejadian fraktur nasal menempati urutan ketiga tersering
setelah fraktur klavikula dan fraktur pergelangan tangan. Struktur hidung yang
menonjol, lunak serta posisi yang berada di sentral menyebabkan angka kejadian
fraktur lebih tinggi.3
Pada fraktur tulang wajah, managemen fase akut yang tepat didasarkan pada
pemeriksaan yang cermat dan teliti. Sebagian fraktur dapat memiliki keluaran
terbaik jika ditatalaksana secara tertunda, namun pada kasus lain dapat menjadi
emergensi dan memerlukan tatalaksana dalam 24 jam pertama setelah trauma.1
Beberapa pilihan dalam tatalaksana fraktur nasal adalah reduksi yang dilakukan
tertutup atau terbuka, dengan penggunaan anestesi lokal atau general.3 Fraktur
nasal merupakan fraktur wajah yang tersering dijumpai. Jika dibiarkan tanpa
dikoreksi, akan menyebabkan perubahan struktur hidung dan jaringan lunak
sehingga akan terjadi perubahan bentuk dan fungsi. Karena itu, ketepatan waktu
terapi akan menurunkan resiko deformitas.4
Pemilihan teknik reduksi yang dilakukan juga didasarkan dengan rentang
waktu terjadinya fraktur. Reduksi tertutup biasanya dilakukan dalam waktu 10
hari setelah terjadinya cedera yang dilakukan dengan anestesi lokal atau topikal.
Teknik yang dilakukan adalah dengan menggunakan instrumen yang tumpul yang
dimasukkan kedalam rongga hidung untuk menempatkan kembali tulang hidung
kembali pada posisinya digaris tengah. Sedangkan reduksi terbuka dilakukan
dengan insisi pada kulit hidung atau garis hidung yang biasanya dilakukan pada
fase lambat yaitu sampai dengan 6 bulan setelah terjadinya trauma. Pada reduksi
fraktur nasal berat dapat dilakukan pemasangan wire atau plat atau dapat
dilakukan osteotomi pada tulang hidung untuk mengembalikan tulang hidung
pada posisi yang diinginkan.4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Anatomi hidung luar disusun oleh beberapa bagian yang terdiri dari pangkal
hidung (bridge), batang hidung (dorsum nasal), puncak hidung (nasal tip), dinding
lateral hidung, kolumela dan ala nasi.2

Gambar 1. Anatomi Hidung

Hidung disusun oleh beberapa komponen, yaitu :


a. Kulit dan jaringan lunak bagian luar
Ketebalan dari kulit hidung berbeda sesuai regionya. Kulit hidung pada dua
pertiga bagian atas lebih tipis dan mobile, sedangkan pada sepertiga distal
kulit hidung lebih tebal karena dibawahnya terdapat sejumlah kelenjar
sebasea.2,5
b. Kerangka kartilago
Struktur rangka luar dari kompartemen tengah hidung dibentuk oleh
kartilago lateral atas. Kartilago lateral atas membentuk dasar dari tulang
hidung dengan jarak 3-10 mm. Trauma yang menyebabkan gangguan pada
bagian ini menyebabkan deformitas pada hidung. Kartilago yang berbentuk
segitiga menyatu dengan kartilago septum pada garis tengah. Sedangkan
kerangka bagian bawah dibentuk oleh kartilago lateral bawah.2,5
Daerah terlemah dari hidung adalah kerangka kartilago dan pertemuan
antara kartilago lateral bagian atas dengan tulang dan kartilago septum pada
krista maksilaris. Daerah ini merupakan tempat yang tersering mengalami
fraktur atau dislokasi pada fraktur nasal.
c. Kerangka tulang
Kompartemen tulang dan bagian sepertiga atas dari hidung dibentuk oleh
prosesus medial dan posterior dari maksila, yang berartikulasi pada superior
dengan tulang frontal dan pada medial dengan tulang hidung yang
berpasangan yang berlanjut ke medial dan bertemu pada garis tengah.
Sepasang tulang hidung memiliki lekuk dibagian medial yang bertemu
dengan lempeng ethmoid perpendikular dibagian bawah.2
d. Vaskularisasi
Bagian proksimal hidung diperdarahi oleh beberapa arteri yaitu arteri
ethmoidalis anterior, arteri dorsalis nasal dan arteri nasalis eksterna. Puncak
hidung diperdarahi oleh cabang arteri fasialis, yaitu arteri labialis superior
dan arteri angular. Ala nasi diperdarahi oleh arteri nasalis lateral cabang dari
arteri angular, yang beranastomosis dengan arteri kolumela yang merupakan
cabang dari arteri labialis superior.(5)
e. Inervasi
Nervus trigeminus memberikan inervasi sensorik pada hidung bagian luar
melalui cabang optalmika dan maksila. Nervus fasialis memberikan inervasi
motorik untuk otot-otot yang terdapat pada hidung.2

2.2 Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditentukan sesuai jenis
dan luasnya, fraktur dapat terjadi bila tulang mendapatkan tekanan yang lebih
besar dari apa yang dapat diabsorbsinya7. Fraktur nasal adalah setiap retakan atau
patah yang terjadi pada bagian tulang di hidung. Fraktur nasal dapat menyebabkan
terhalangnya jalan pernafasan dan deformitas pada tulang hidung, jenis dan
kerusakan yang timbul tergantung kekuatan, arah dan mekanisme cedera.7

2.3 Epidemiologi
Fraktur nasal merupakan kasus trauma terbanyak pada wajah dan
merupakan kasus fraktur ketiga terbanyak di seluruh tulang penyusun tubuh
manusia.2 Kejadian fraktur nasal sekitar 39%-45% dari seluruh fraktur
maksilofasial yang ditangani oleh dokter telinga hidung dan tenggorokkan (THT)
dan dokter bedah plastik.2 Di Amerika Serikat, kejadian fraktur nasal rata-rata
51.200 per tahun. Fraktur nasal banyak terjadi pada usia 15-40 tahun dan tiga kali
lebih banyak terjadi pada laki-laki. Penyebab fraktur nasal adalah kekerasan
(42,65%), kecelakaan lalu lintas (35,29%), pekerjaan (13,24%) dan terjatuh saat
olahraga (8,82%).8

2.4 Etiologi
Penyebab dari fraktur tulang hidung berkaitan dengan trauma langsung pada
hidung atau muka. Pada trauma muka paling sering terjadi fraktur hidung.
Penyebab utama dari trauma dapat berupa 8
₋ Cedera saat olahraga
₋ Akibat perkelahian
₋ Kecelaaan lalu lintas
₋ Terjatuh
₋ Masalah kelahiran
₋ Kadang dapat iatrogenik

2.5 Patofisiologi
Tulang hidung dan kartilago rentan untuk mengalami fraktur karena
hidung letaknya menonjol dan merupakan bagian sentral dari wajah, sehingga
kurang kuat menghadapi tekanan dari luar. Pola fraktur yang diketahui beragam
tergantung pada kuatnya objek yang menghantam dan kerasnya tulang. Seperti
dengan fraktur wajah yang lain, pasien muda cenderung mengalami fraktur
kominunitiva septum nasal dibandingkan dengan pasien dewasa yang
kebanyakan frakturnya lebih kompleks.8
Daerah terlemah dari hidung adalah kerangka kartilago dan pertemuan
antara kartilago lateral bagian atas dengan tulang dan kartilago septum pada
krista maksilaris. Daerah terlemah merupakan tempat yang tersering mengalami
fraktur atau dislokasi pada fraktur nasal.8
Kekuatan yang besar dari berbagai arah akan menyebabkan tulang
hidung remuk yang ditandai dengan deformitas bentuk C pada septum nasal.
Deformitas bentuk C biasanya dimulai di bagian bawah dorsum nasal dan meluas
ke posterior dan inferior sekitar lamina perpendikularis os ethmoid dan
berakhir di lengkung anterior pada kartilago septum kira-kira 1 cm di atas krista
maksilaris. Kebanyakan deviasi akibat fraktur nasal meliputi juga fraktur pada
kartilago septum nasal.2,8

Gambar: Penulangan hidung

Fraktur nasal lateral merupakan yang paling sering dijumpai pada


fraktur nasal. Fraktur nasal lateral akan menyebabkan penekanan pada hidung
ipsilateral yang biasanya meliputi setengah tulang hidung bagian bawah, prosesus
nasi maksilaris dan bagian tepi piriformis. Trauma lain yang sering dihubungkan
dengan fraktur nasal adalah fraktur frontalis, ethmoid dan tulang lakrimalis,
fraktur nasoorbital ethmoid; fraktur dinding orbita; fraktur lamina kribriformis;
fraktur sinus frontalis dan fraktur maksila Le Fort I, II, dan III. 9

2.6 Klasifikasi
Murray melaporkan bahwa kebanyakan deviasi akibat fraktur nasal
meliputi juga fraktur pada kartilago septum nasal. Fraktur nasal lateral merupakan
yang paling sering dijumpai pada fraktur nasal. Fraktur nasal lateral akan
menyebabkan penekanan pada hidung ipsilateral yang biasanya meliputi setengah
tulang hidung bagian bawah, prosesus nasomaksilaris dan bagian tepi piriformis.
Trauma nasal yang dihasilkan dari suatu pukulan bervariasi tergantung pada 10:
A. Usia pasien yang sangat berpengaruh pada fleksibilitas jaringan dalam
meredam energi dari pukulan
B. Besarnya tenaga pukulan, arah pukulan dimana akan menentukan bagian
nasal yang rusak. Kondisi dari obyek yang menyebabkan trauma nasal
dan trauma jaringan lunak yang umum terjadi meliputi: laserasi,
ekimosis, hematom di luar dan di dalam rongga hidung. Trauma pada
kerangka hidung meliputi fraktur (putusnya hubungan, lebih sering
pada usia lanjut), dislokasi (pada anak-anak), dan fraktur dislokasi.
Trauma dislokasi dapat mengenai artikulasi kerangka hidung luar atau
pada septum nasi.
C. Waktu kejadian
Trauma lain yang sering dihubungkan dengan fraktur nasal adalah fraktur
frontalis, ethmoid dan tulang lakrimalis, fraktur nasoorbital ethmoid;
fraktur dinding orbita; fraktur lamina kribriformis; fraktur sinus frontalis
dan fraktur maksila Le Fort I, II, dan III.2,6

Terdapat beberapa jenis fraktur nasal antara lain :


A. Fraktur lateral
Adalah kasus yang paling sering terjadi, dimana fraktur hanya terjadi
pada salah satu sisi saja, kerusakan yang ditimbulkan tidak begitu
parah.

Gambar 5. Fraktur lateral10


B. Fraktur bilateral
Merupakan salah satu jenis fraktur yang juga paling sering terjadi
selain fraktur lateral, biasanya disertai dislokasi septum nasal atau
terputusnya tulang nasal dengan tulang maksilaris.
Gambar 6. Fraktur bilateral7

C. Fraktur direct frontal


Yaitu fraktur os nasal dan os frontal sehingga menyebabkan desakan
dan pelebaran pada dorsum nasalis. Pada fraktur jenis ini pasien akan
terganggu suaranya.

Gambar 7. Fraktur direct frontal7

D. Fraktur comminuted
Adalah fraktur kompleks yang terdiri dari beberapa fragmen. Fraktur
ini akan menimbulkan deformitas dari hidung yang tampak jelas.
Gambar 8. Fraktur comminuted, 1: tulang hidung, 2: frontal dan 3 septum
nasi7

Terdapat berbagai klasifikasi mengenai fraktur nasal yang telah dibuat, yaitu
A. Menurut Stranc dan Roberston, arah asal trauma akan mempengaruhi
beratnya kerusakan pada tulang hidung dan septum. Klasifikasi ini hanya
berdasarkan pemeriksaan fisik tanpa pemeriksaan radiologis.6
 Tipe I : Fraktur ini menyebabkan terjadinya avulsi kartilago lateral
atas, dislokasi posterior septum dan ala nasal.
 Tipe II : Fraktur ini menyebabkan deviasi dorsum nasi dan juga
menyebabkan tulang hidung menjadi datar.
 Tipe III : Fraktur pada tulang hidung dan juga menyebabkan
kerusakan pada mata dan struktur intrakranial.
B. Menurut Harrison, fraktur nasi dibagi menjadi 3 berdasarkan beratnya
dan juga penatalaksanaannya:7
- Kelas I : Pada keadaan ini terdjadi fraktur depres hidung tanpa
melibatkan septum nasi.
- Kelas II : Fraktur yang terjadi menyebabkan fraktur
komunitiva,sehingga deviasi semakin jelas. Khasnya pada fraktur ini
akan tampak gambaran seperti huruf C.
- Kelas III : Fraktur ini disebut juga fraktur naso orbito etmoidalis (NOE)
C. Menurut Hwang, fraktiur nasal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:7
- Tipe I : Fraktur sederhana tanpa deviasi
- Tipe II : Fraktur sederhana dengan deviasi
IIA : Unilateral
IIAs : Unilateral dengan fraktur septum nasi
IIB : Bilateral
IIBs : Bilateral dengan fraktur septum nasi
- Tipe III : Fraktur communited
D. Menurut Michael, fraktur nasal dapat diklasifikasikan berdasarkan
beratnya dan kerusakan pada septum nasi8
- Tipe I : Fraktur sederhana tanpa deviasi, jika terjadi fraktur unilateral
atau bilateral tanpa menyebabkan pergeseran pada garis tengah
- Tipe II : Fraktur sederhana dengan deviasi, jika terjadi fraktur unilateral
atau bilateral dan menyebabkan pergeseran pada garis tengah
- Tipe III : Fraktur communited, jika terjadi fraktur bilateral yang
menyebabkan septum tidak lurus tetapi tidak menyebabkan pergeseran
garis tengah
- Tipe IV : Deviasi tulang hidung dan fraktur septum nasi , jika terjadi
fraktur bilateral yang menyebabkan septum tidak lurus dan
menyebabkan pergeseran garis tengah dan juga terjadi fraktur septum
nasi ataupun dislokasi septum nasi.
- Tipe V : Fraktur kompleks nasal dan septum nasi, jika terjadi fraktur
dan juga menyebabkan laserasi pada jaringan serta saddle nose.
E. Menurut Samuel, yang memodifikasi klasifikasi fraktur nasal yang telah
dibuat oleh Murray, fraktur nasal dapat diklasifikasikan menjadi:8
- Tipe I : Cedera jaringan lunak sekitar hidung
- Tipe IIa : Fraktur sederhana unilateral tanpa deviasi
- Tipe IIb : Fraktur sederhana bilateral dengan deviasi
- Tipe III : Fraktur sederhana disertai deviasi
- Tipe IV : Fraktur communited tertutup
- Tipe V : Fraktur communited terbuka atau termasuk fratur tipe II-
IV tetapi disertai dengan kebocoran cairan serebrospinal, hematom
septum nasi, obstruksi jalan nafas, deviasi berat dan termasuk fraktur
Naso-orbito-etmoidalis.
2.7 Diagnosis
Diagnosis fraktur tulang hidung dapat dilakukan dengan inspeksi, palpasi
dan pemeriksaan hidung bagian dalam dilakukan dengan rinoskopi anterior,
biasanya ditandai dengan pembengkakan mukosa hidung terdapatnya bekuan dan
kemungkinan ada robekan pada mukosa septum, hematoma septum, dislokasi atau
deviasi pada septum.3
Pemeriksaan penunjang berupa foto tulang nasal, foto sinusparanasal posisi
Water dan bila perlu dapat dilakukan pemindaian dengan CT scan. CT scan
berguna untuk melihat fraktur hidung dan kemungkinan terdapatnya fraktur
penyerta lainnya.3
Pasien harus selalu diperiksa terhadap adanya hematoma septal akibat
fraktur, yang bila tidak terdeteksi dapat berlanjut menjadi abses yang kemudian
terjadi absorbsi kartilago septum dan terjadi deformitas hidung pelana (saddle
nose) yang berat.4
a. Anamnesis
Rentang waktu antara trauma dan konsultasi dengan dokter sangatlah
penting untuk penatalaksanaan pasien. Sangatlah penting untuk menentukan
waktu trauma dan menentukan arah dan besarnya kekuatan dari benturan.
Sebagai contoh, trauma dari arah frontal bisa menekan dorsum nasal, dan
menyebabkan fraktur nasal. Pada kebanyakan pasien yang mengalami
trauma akibat olahraga, trauma nasal yang terjadi berulang dan terus
menerus, dan deformitas hidung akan menyebabkan sulit menilai antara
trauma lama dan trauma baru sehingga akan mempengaruhi terapi yang
diberikan. Informasi mengenai keluhan hidung sebelumnya dan bentuk
hidung sebelumnya juga sangat berguna. Keluhan utama yang sering
dijumpai adalah epistaksis, deformitas hidung, obstruksi hidung dan
anosmia.4
b. Pemeriksaan fisik
Kebanyakan fraktur nasal adalah pelengkap trauma seperti trauma akibat
dihantam atau terdorong. Sepanjang penilaian awal dokter harus menjamin
bahwa jalan napas pasien aman dan ventilasi terbuka dengan sewajarnya.
Fraktur nasal sering dihubungkan dengan trauma pada kepala dan leher yang
bisa mempengaruhi patennya trakea. Fraktur nasal ditandai dengan laserasi
pada hidung, epistaksis akibat robeknya membran mukosa. Jaringan lunak
hidung akan nampak ekimosis dan udem yang terjadi dalam waktu singkat
beberapa jam setelah trauma dan cenderung nampak di bawah tulang hidung
dan kemudian menyebar ke kelopak mata atas dan bawah.5

Gambar 3. Deviasi pada hidung yang berbentuk C

Deformitas hidung seperti deviasi septum atau depresi dorsum nasal yang
sangat khas, deformitas yang terjadi sebelum trauma sering menyebabkan
kekeliruan pada trauma baru. Pemeriksaan yang teliti pada septum nasal
sangatlah penting untuk menentukan antara deviasi septum dan hematom
septi, yang merupakan indikasi absolut untuk drainase bedah segera.
Sangatlah penting untuk memastikan diagnosa pasien dengan fraktur,
terutama yang meliputi tulang ethmoid. Fraktur tulang ethmoid biasanya
terjadi pada pasien dengan fraktur nasal fragmental berat dengan tulang
piramid hidung telah terdorong ke belakang ke dalam labirin ethmoid,
disertai remuk dan melebar, menghasilkan telekantus, sering dengan
rusaknya ligamen kantus medial, apparatus lakrimalis dan lamina
kribriformis, yang menyebabkan rhinorrhea cerebrospinalis.5,6
Pada pemeriksaan fisis dengan palpasi ditemukan krepitasi akibat emfisema
subkutan, teraba lekukan tulang hidung dan tulang menjadi irregular. Pada
pasien dengan hematom septi tampak area berwarna putih mengkilat atau
ungu yang nampak berubah-ubah pada satu atau kedua sisi septum nasal.
Keterlambatan dalam mengidentifikasi dan penanganan akan menyebabkan
deformitas bentuk pelana, yang membutuhkan penanganan bedah segera.
Pemeriksaan dalam harus didukung dengan pencahayaan, anestesi, dan
semprot hidung vasokonstriktor. Spekulum hidung dan lampu kepala akan
memperluas lapangan pandang. Pada pemeriksaan dalam akan nampak
bekuan darah atau deformitas septum nasal.6
c. Pemeriksaan radiologis
Jika tidak dicurigai adanya fraktur nasal komplikasi, radiografi jarang
diindikasikan. Karena pada kenyataannya kurang sensitif dan spesifik,
sehingga hanya diindikasikan jika ditemukan keraguan dalam mendiagnosa.
Radiografi tidak mampu untuk mengidentifikasi kelainan pada kartilago dan
ahli klinis sering salah dalam menginterpretasikan sutura normal sebagi
fraktur yang disertai dengan pemindahan posisi. Bagaimanapun, ketika
ditemukan gejala klinis seperti rhinorrhea cerebrospinalis, gangguan
pergerakan ekstraokular atau maloklusi. CT-scan dapat diindikasikan untuk
menilai fraktur wajah atau mandibular.6

Gambar 4. Foto x-ray fraktur nasal


Gambar 5. CT scan potongan koronal dan aksial pada fraktur nasal

2.8 Tatalaksana
Tujuan penanganan dari fraktur nasal adalah:
₋ Mengembalikan penampilan secara memuaskan
₋ Mengembalikan patensi jalan nafas hidung
₋ Menempatkan kembali septum pada garis tengah
₋ Menjaga keutuhan rongga hidung
₋ Mencegah sumbatan setelah operasi, perforasi septum, retraksi kolumela,
perubahan bentuk punggung hidung
₋ Mencegah gangguan pertumbuhan hidung 11
Penatalaksanaan fraktur nasal berdasarkan atas gejala klinis, perubahan
fungsional dan bentuk hidung, oleh karena itu pemeriksaan fisik dengan
dekongestan nasal dibutuhkan. Dekongestan berguna untuk mengurangi
pembengkakan mukosa. Jika terjadi hematoma septal evakuasi harus dilakukan
segera dengan drainase untuk meminimalisasikan resiko infeksi dan nekrosis
akibat tekanan. Fraktur nasal hampir selalu disertai dengan epistaksis sehingga
pemasangan tampon hidung adalah prosedur yang paling sering dilakukan untuk
menghentikan perdarahan setelah gagal dengan vasokonstriktor topikal. Tampon
dimasukkan langsung pada area perdarahan untuk memberikan efek penekanan.
Tampon biasanya diangkat setelah 2-5 hari, dan pada saat yang sama dapat
dilakukan reduksi.11
Idealnya, reduksi fraktur nasal dapat dilakukan dalam 48-72 jam setelah
terjadinya cedera, atau pada fase lambat pada sekitar hari ke 10-14 setelah cedera.
Batas waktu ini berkaitan dengan edema jaringan post trauma yang menyulitkan
evaluasi untuk menilai deviasi nasal. Setelah lebih dari 14 hari, tulang akan sangat
sulit digerakkan untuk reduksi secara manual karena sudah terbentuk skar jaringan
fibrin pada garis fraktur. Pada kasus ini, disarankan untuk menunggu beberapa
bulan hingga fraktur sembuh sempurna sebelum memulai proses perbaikan dari
fraktur. Pada trauma hidung berat yang menimbulkan cedera yang lebih signifikan
seperti fraktur terbuka atau fraktur yang berhubungan dengan wajah bagian tengah
mungkin membutuhkan tatalaksana bedah yang segera.8
Terdapat berbagai algoritma dalam penatalksanaan fraktur nasal tergantung
dari klasifikasi yang digunakan.

Gambar 6. Algoritma tatalaksana fraktur nasal menurut Michael


Gambar 7. Algoritma tatalaksana fraktur nasal menurut Samuel

Untuk fraktur nasal yang tidak disertai dengan perpindahan fragmen tulang,
penanganan bedah tidak dibutuhkan karena akan sembuh dengan spontan.
Deformitas akibat fraktur nasal sering dijumpai dan membutuhkan reduksi dengan
fiksasi adekuat untuk memperbaiki posisi hidung.9
a. Teknik reduksi tertutup
Reduksi tertutup adalah tindakan yang dianjurkan pada fraktur hidung akut
yang sederhana dan unilateral. Teknik ini merupakan satu teknik pengobatan
yang digunakan untuk mengurangi fraktur nasal yang baru terjadi. Namun,
pada kasus tertentu tindakan reduksi terbuka di ruang operasi kadang
diperlukan. Penggunaan analgesia lokal yang baik, dapat memberikan hasil
yang sempurna pada tindakan reduksi fraktur tulang hidung. Jika tindakan
reduksi tidak sempurna maka fraktur tulang hidung tetap saja pada posisi
yang tidak normal. Tindakan reduksi ini dikerjakan 1-2 jam sesudah trauma,
dimana pada waktu tersebut edema yang terjadi mungkin sangat sedikit.
Namun demikian tindakan reduksi secara lokal masih dapat dilakukan
sampai 14 hari sesudah trauma. 9
Deformitas hidung yang minimal akibat fraktur dapat direposisi dengan
tindakan yang sederhana. Reposisi dilakukan dengan cunam Walsham. Pada
penggunaan cunam Walsham ini, satu sisinya dimasukkan ke dalam kavum
nasi sedangkan sisi yang lain di luar hidung dia atas kulit yang diproteksi
dengan selang karet. Tindakan manipulasi dilakukan dengan kontrol palpasi
jari.9

Gambar 8. Teknik reduksi tertutup

Jika terdapat deviasi piramid hidung karena dislokasi karena dislokasi


tulang hidung, cunam Asch digunakan dengan cara memasukkan masing-
masing sisi (blade) ke dalam kedua rongga hidung sambil menekan septum
dengan kedua sisi forsep. Sesudah fraktur dikembalikan pada posisi semula
dilakukan pemasangan tampon di dalam rongga hidung. Tampon yang
dipasang dapat ditambah dengan antibiotik.10
Perdarahan yang timbul selama tindakan akan berhenti, sesudah
pemasangan tampon pada kedua rongga hidung. Fiksasi luar (gips)
dilakukan dengan menggunakan beberapa lapis gips yang dibentuk dari
huruf T dan dipertahankan hingga 10-14 hari.10
b. Teknik reduksi terbuka
Teknik reduksi terbuka diindikasikan untuk:
₋ Ketika operasi telah ditunda selama lebih dari 3 minggu setelah trauma.
₋ Fraktur nasal berat yang meluas sampai ethmoid. Dimana sangat nyata
₋ adanya fragmentasi tulang sering dengan kerusakan ligamentum kantus
medial dan apparatus lakrimalis. Reposisi dan perbaikan hanya mungkin
dengan reduksi terbuka dan harus segera dilakukan.
Reduksi terbuka juga dapat dilakukan pada kasus dimana teknik manipulasi
reduksi tertutup telah dilakukan dan gagal. Pada teknik reduksi terbuka
harus dilakukan insisi pada interkartilago. Gunting Knapp disisipkan di
antara insisi interkartilago dan lapisan kulit beserta jaringan subkutan yang
terpisah dari permukaan luar dari kartilago lateral atas, dengan melalui
kombinasi antara gerakan memperluas dan memotong. 10
BAB III
PENUTUP

Fraktur hidung merupakan kejadian fraktur yang paling sering terjadi pada
trauma yang mengakibatkan fraktur pada tulang wajah. Angka kejadiannya
mencapai 40% dari seluruh kejadian. Penyebab dari fraktur tulang hidung meliputi
cedera saat olahraga, akibat perkelahian, kecelakaan lalu lintas, terjatuh, mabuk,
masalah kelahiran dan kadang iatrogenik. Tulang hidung dan kartilago rentan
untuk mengalami fraktur karena hidung letaknya menonjol dan merupakan bagian
sentral dari wajah,sehingga kurang kuat menghadapi tekanan dari luar.

Ketepatan waktu dalam mendiagnosa kejadian fraktur hidung sangat


berperan dalam mencapai penyembuhan yang optimal dan estetika yang baik.
Maka pengenalan atas gejala klinis harus dimiliki oleh dokter untuk melakukan
penatalaksanaan selanjutnya. Gejala klinis dari fraktur hidung yang sering
dijumpai adalah epistakis, deformitas hidung, obstruksi hidung dan anosmia.
Adapun pemeriksaan fisik yang ditemukan dapat berupa deviasi septum, depresi
septum nasi, dan epistakis. Untuk memastikan diagnosa dapat ditunjang dengan
pencitraan seperti foto X-ray hidung dan CT scan hidung.

Penanganan dari fraktur hidung secara konservatif, pasien dengan


pendarahan hebat, biasanya dikontrol dengan pemberian vasokonstriktor topikal.
Antibiotik diberikan untuk mengurangi resiko infeksi dan komplikasi yang dapat
menimbulkan kematian. Analgetik untuk mengurangi rasa nyeri dan memberikan
rasa nyaman pada pasien. Adapun pada fraktur hidung sederhana maupun
kominutiva yang disertai dengan deviasi septum dan deformitas harus dilakukan
tindakan operatif yang terdiri dari teknik reduksi tertutup dan reduksi terbuka.
Komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur hidung meliputi heatoma septum,
fraktur dinding orbita, fraktur septum nasal dan fraktur lamina kribiformis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Chouinard AF. Troulis MJ. Lahey ET. The acute management of facial
fractures. Curr Trauma Rep 2016;2:55-65.
2. Fedok FG. Ondik MP. Preston TW. Goldenberg D. Management of trauma
to the nasal bones and septum. Rhinology and facial plastic surgery:
Elsevier; 2009. p. 793-9.
3. Young PA. Stucker FJ. Management of the crooked nose deformity.
Rhinology and facial plastic surgery: Elsevier; 2009. p. 769-79.
4. Immersan S. Alexander A. White WM. Nasal and sinus trauma.
Encyclopedia of Otolaryngology, Head and Neck Surgery. 2013:1729-42.
5. Kenyon G. Nasal anatomy and analysis. Otorhinolaryngology Clinics: An
International Journal. 2013;5(1):34-42.
6. Reksoprawiro S. Wijayahadi Y. Bisono. Susanto I. Sudjatmiko G. dkk.
Kepala dan leher In: Sjamjuhidajat R, editor. Buku Ajar Ilmu Bedah.
Jakarta: EGC; 2013.
7. Kelley BP, Downey CR, Stal S. Evaluation and reduction of nasal trauma.
Seminars in plastic surgery. 2010; 24(4). 339-46.
8. Rubinstein B, Strong B. Management of nasal fracture. Arch Fam
Med. 2000;9:738-42.
9. R.Sjamsuhidajat, Wim De Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Fraktur Tulang
Hidung. Edisi ke 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;2005.h.338.
10. Ondik MP, Lipinski L, Dezfoli S, Fedok FG. The treatment of nasal
fracture: a changing paradigm. Arch Facial Plast Surg. 2009;11(5):296-
302
11. Lalwani AK. Current Diagnosis dan Treatment : Otolaryngology Head and
Neck Surgery. Edisi ke-2. USA; McGraw-Hill Medical;2007.Chapter 11