Anda di halaman 1dari 11

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

“ SOSIALISASI PADA LANSIA : RANGE OF MOTION (ROM)


EXERCISE “

A. Latar Belakang
Terapi aktifitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas
yang dilakukan perawat kepada kelompok lansia yang mempunyai masalah
keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi dan kelompok
digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika
interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan dan menjadi
laboratorium tempat lansia melatih perilaku baru yang adaptif untuk
memperbaiki perilaku yang maladaptif. Panti Sosial Tresna Werdha budi
mulia 3 ruang Kutilang belum mempunyai kegiatan rutin untuk lansia yang
berhubungan dengan kegiatan fisik seperti senam ataupun kegiatan lainnya,
sehingga kondisi tersebut bisa faktor penyebab penurunan derajat kesehatan
pada lansia yang menjadi binaan rukun ibu, seperti timbulnya resiko
kekakuan sendiakibat kurangnya latihan aktifitas pada lansia, dan
kemungkinan permasalahan-permasalahan lain yang bisa timbul pada lansia
di PSTW budi mulia 3 ruang Kutilang. Dari hasil pengkajian dimana dari 22
orang terdapat 15 orang nilai Katz indeks didapatkan nilai B-C, dan nilai
Barthel indeksnya < 110.
Berdasarkan pernyataan diatas, maka kami tertarik untuk melakukan terapi
aktivitas kelompok (TAK) yaitu sosialisasi pada lansia dengan cara melatih
Range Of Motion (ROM) Exercise.

B. Topik
Latihan Rentang Gerak Aktif - Pasif (ROM Exercise)

C. Tujuan Pelaksanaan
1. Tujuan Umum :Setelah mengikuti TAK, klien dapat meningkatkan
kemampuan dalam melatih rentang gerak dan melaksanakan secara
rutin latihan yang sudah diberikan.
2. Tujuan Khusus :
a. Klien mampu mengikuti latihan rentang gerak yang diberikan terapis
b. Klien mampu memberikan umpan balik yang positif
c. Klien mampu mengidentifikasi manfaat kegiatan yang dilakukan

D. Metode
Metode yang digunakan dalam TAK ini adalah sosial therapeutic
modelin terpersonal yang didasari pada kognitif, afektif dan psikomotor.

E. Media
Tape Recorder

F. Sasaran
Klien di PSTW Budi Mulia 3 ruang Kutilang

G. Waktu dan Tempat


Hari/Tanggal : Selasa, 20 Maret 2018
Waktu : 30 Menit, (Pukul 15.30 – 16.00 WIB)
Tempat : PSTW Budi Mulia 3 Jakarta Selatan
Jumlah WBS : 10 orang

H. Uraian Struktur kelompok Pengorganisasian dan uraian tugas therapis :


1. Leader
Tugas :
a. Merencanakan, mengontrol dan mengatur jalannya TAK
b. Membuka acara
c. Memimpin jalannya TAK
d. Menjelaskan tujuan TAK
e. Memperkenalkan anggota TAK
f. Mengatur jalannya TAK
g. Menetapkan jalannya tata tertib
h. Dapat mengambil keputusan dengan tepat dan dapat menyimpulkan hasil
TAK pada kelompok terapi tersebut
i. Menutup jalannya TAK

2. Co Leader Tugas :
a. Membantu tugas leader.
b. Mengambil alih posisi leader jika terjadi bloking.
c. Menjadi motivator.
d. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader.
e. Mengingatkan leader bila diskusi menyimpang.
f. Mengingatkan lamanya waktu pelaksanan.
g. Bersama leader memberi contoh kerja sama yang baik

3. Fasilitator Tugas :
a. Membantu meluruskan dan menjelaskan tugas yang harus dilakukan
kliensebagai peserta TAK.
b. Mendampingi peserta diskusi.
c. Memotivasi peserta biar aktif dalam TAK.
d. Menjadi contoh bagi klien selama kegiatan

4. Observer Tugas :
a. Mengamati dan mencatat respon klien selama kegiatan.
b. Mengidentifikasi motivasi strategi untuk kelompok berikutnya.
c. Mencatat hasil dari diskusi.
d. Memberikan tanggapan terhadap jalannya kegiatan.

I. Tata Tertib
Adapun tata tertib untuk pelaksanaan TAK adalah sebagai berikut:
1. Peserta bersedia mengikuti TAK.
2. Peserta wajib hadir 5 menit sebelum TAK dimulai.
3. Anggota wajib memberi tahu leader jika tidak hadir.
4. Peserta berpakaian rapi dan sudah mandi.
5. Jika ada klien yang ada meninggalkan kelompok harus meminta izin
kepadatherapis.
6. Lama kegiatan 60 menit.
7. Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.
8. Klien tidak boleh makan dan minum selama kegiatan
9. Jika ada klien yang mengacaukan jalannya TAK maka tersebut dikeluarkan
dari TAK

J. Strategi Pelaksanaan
1. Fase perkenalan 5 menit
a. Therapis mempersiapkan lingkungan dan selanjutnya mengatur posisi.
b. Mengucapkan salam.
c. Memperkenalkan anggota yang hadir.
d. Therapis menjelaskan tujuan TAK.
e. Menjelaskan topik yang akan dibahas.
f. Membuat kontrak waktu.
g. Membacakan tata tertib
2. Fase kerja 45 menit
a. Season 1
Menjelaskan materi tentang Latihan Rentang Gerak
(Pengertian,Tujuan dan Manfaat)
b. Season 2
1) Hidupkan tape recorder (music)
2) Memberikan contoh gerakan - gerakan latihan rentang gerak aktif –
pasif, sebagai berikut :
a) Abduksi : gerakan menjauhi garis tubuh
b) Aduksi : gerakan mendekati garis tubuh
c) Fleksi : membengkokkan sendi sehingga sudut dari sendi tidak ada
lagi.
d) Ekstensi : gerakan kembali dari posisi fleksi
e) Rotasi : gerakan membalik atau menggerakkan suatu bagian tubuh
pada porosnya
f) Dorsofleksi : gerakan yang memfleksikan/ membengkokkan
lengankearah belakang kearah tubuh/ kaki ke arah tungkai.
g) Fleksi palmar : gerakan yang memfleksikan/ membengkokkan
lengandalam kearah telapak tangan
h) Fleksi plantar : gerakan yang memfleksikan/ membengkokkan
kakidalam kea rah telapak kaki
i) Pronasi : rotasi lengan atas sehingga telapak tangan ke bawah
j) Supinasi : rotasi lengan atas sehingga telapak tangan ke atas
k) Oposisi : mempertemukan ujung jari pada lengan yang sama
l) Inverse : gerakan memutar telapak kaki kearah dalam
m) Eversi : gerakan memutar telapak kaki kearah luar
n) Bersama – sama melakukan gerakan latihan rentang gerak aktif –
pasif
o) Klien melakukan latihan rentang gerak aktif – pasif tanpa diberikan
contoh
p) Berikan reward berupa tepukan tangan kepada semua peserta
c. Fase terminasi 10 menit
1) Leader memberikan kesempatan kepada klien untuk beristirahat
sejenak.
2) Leader meminta tanggapan dari klien terhadap kegiatan yang
telahdilakukan.
3) Therapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti kegiatan TAK
tersebut.
4) Menyimpulkan kegiatan yang telah dilakukan dan memotivasi
anggotakelompok untuk mengikuti kegiatan lainnya yang positif.
5) Obsever memberikan tanggapan terhadap jalannya TAK.
6) Menutup acara.

K. Setting Tempat
1. Klien dan therapis duduk bersama membentuk setengan lingkaran
2. Ruangan nyaman dan tenang
L. Landasan Teori
1. Konsep dasar lansia Lanjut usia merupakan kelanjuatan dari usia dewasa
(Dra.Ny.Jos Psikologdari UI). Seseorang dapat dikatakan jompo atau lanjut
usia setelah 55 tahun tidakmempunyai nafkah sendiri untuk keperluan
hidupnya sehari-hari dan menerimanafkah dari orang lain (UU.No IV tahun
1965 ). Menua adalah satu proses yangmenghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaikidiri atau mengganti diri dan
mempertahankan sruktur dan fungsi normalnyasehingga tidak dapat
bertahan terhadap jejas ( termasuk infeksi dalam memperbaiki
kerusakan yang diderita ( konstantinides tahun 1994 ).
SistemMuskoloskeletal adalah berkaitan dengan atau terdiri dari
langkah dan otot ( Dorlan 1998 Hal.690 ).

2. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Akibat Proses Penuaan


Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-
perubahanyang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus
menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang
berhasil maka timbulnya berbagai masalah. Hurclock (1979) seperti dikutip
oleh Munandar Ashar Sunyoto(1994) menyebutkan masalah-masalah yang
menyertai lansia yaitu :
a. Ketidak berdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang
lain.
b. Ketidak pastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam
pola hidupnya.
c. Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang
telahmeninggal atau pindah.
d. Mengembangan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang
bertambahbanyak.
e. Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa.
3. Perubahan – perubahan yang terjadi pada lansia lainnya pada sistem tubuh.
a. Sistem Kardiovaskuler Terjadi penurunan curah jantung, penurunan
kemampuan merespon stress, frekuensi jantung dan volume tidak
meningkat dengan kebutuhan maksimal, kecepatan pemulihan jantung
lebih lambat, peningkatan tekanan darah.
b. Sistem Pernafasan Terjadi peningkatan volume residual paru,
penurunan kapasitasvital, penurunan pertukaran gas dan kapasitas
difusi, penurunan efisiensi batuk.
c. Sistem Integumen Penurunan perlindungan terhadap trauma dan
pajanan matahari, penurunan perlindungan terhadap suhu yang ekstrim,
berkurangnya sekresi minyak alami dan keringat.
d. Sistem Reproduksi Wanita mengalami penyempitan dan penurunan
elastisitas vagina, penurunan sekresi vagina, sedangkan Pria pengalami
penurunan ukuran penis dan testis. Pria dan wanita sama-sama
mengalami respon seksual yang melambat.
e. Sistem Muskuloskeletal Kehilangan kepadatan tulang, kehilangan
ukuran dan kekuatan otot, degenerasi tulang rawan sendi.
f. Sistem Gastrointestinal Penurunan salivasi, kesulitan menelan
makanan, perlambatan pengosongan esopagus dan lambung, penurunan
motilitas gastrointestinal.
g. Sistem Syaraf Penurunan kecepatan konduksi syaraf, cepat bingung saat
sakit fisikdan kehilangan orientasi lingkungan, penurunan sirkulasi
serebral (pingsan,kehilangan keseinbangan).
h. Sistem Indra Khusus
Penglihatan : berkurangnya kemampuan memusatkan pada benda dekat,
ketidak mampuan menerima cahaya yang menyebabkan, kesulitan
menyesuaikan terhadap perubahan intensitas cahaya, penurunan
kemampuan membedakan warna.
Pendengaran : penurunan kemampuan untuk mendengarkan suara dengan
frekuensi tinggi.
Kecap dan penghidu : penurunan kemampuan terhadap pengecapan dan
penciuman.
i. Perubahan Kondisi Mental
Pada umumnya lansia mengalami penurunan fungsi kognitif dan
psikomotor. Perubahan mental ini erat kaitannnya dengan perubahan
fisik,keadaan kesehatan, tingkat pendidikan, serta situasi lingkungan.
Adapunfaktor yang mempengaruhi perubahan tersebut adalah:
1). Pertama- tama perubahan fisik, khususnya organ perasa
2) Kesehatan umum
3) Tingkat pendidikan
4) Keturunan
5) Lingkungan
6) Gangguan saraf panca indra

j. Perubahan Psikososial
Masalah- masalah ini serta reaksi individu terhadapnya akan sangat
beragam, tergantung pada kepribadian individu yang bersangkutan. Pada
saat ini orang yang telah menjalani kehidupannya dengan bekerja
mendadak diharapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun.
Perubahan mendadak dalam kehidupan rutin barang tentu membuat
mereka merasa kurang melakukan kegiatan yang berguna antara lain:
1) Minat
2) Isolasi dan kesepian
3) Iman

k. Perubahan Kognitif Perubahan fungsi kognitif diantaranya :


1) Kemunduran umumnya terjadi pada tugas- tugas yang
membutuhkankecepatan dan tugas yang memerlukan memori
jangka pendek.
2) Kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran.
3) Kemampuan verbal dalam bidang vokabular (kosa kata) akan
menetap bila tidak ada penyakit.
l. Perubahan Spiritual
1) Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam
kehidupannya (Maslow, 1970)
2) Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaan
3) Perkembangan spiritual dapat dicapai pada tingkat ini adalah berfikir
dan bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai dan
keadilan

M. Konsep R.O.M
1. Pengertian
Range of Motion (ROM) adalah gerakan yang dalam keadaan normal
dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan. (Suratun, 2008). Latihan
ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan bantuan
perawat setiap-setiap gerakan. Indikasi latihan pasif adalah pasien
semikoma dan tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak
mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan
mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis ekstermitas
total (suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini berguna untuk
menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan
otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan
menggerakkan kaki pasien. Latihan ROM aktif adalah Perawat
memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan
pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi
normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta
sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif. Latihan rentang
gerak dapat aktif (klien menggerakan semua sendinya dengan rentang
gerak tanpa bantuan), aktif (klien tidak dapat menggerakan setiapsendi
dengan rentang gerak), atau berada di antaranya. Rencana keperawatan
harus meliputi menggerakan ekstremitas klien dengan rentang
gerak penuh.
Latihan rentang gerak pasif harus dimulai segera pada
kemampuan klien menggerakan ekstremitas atau sendi menghilang.
Pergerakan dilakukan dengan perlahan dan lembut dan tidak menyebabkan
nyeri. Perawat jangan memaksakan sendi melebihi kemampuannya. Setiap
gerakan harus diulang 5 kali setiap bagian. (Perry & Potter, 2005).

2. Tujuan ROM
a. Mempertahankan atau memelihara kekuatan otot
b. Memelihara mobilitas persendian
c. Merangsang sirkulasi darah
d. Mencegah kelainan bentuk
e. Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan

3. Prinsip Dasar Latihan ROM


a. ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari.
b. ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien
c. Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur
pasien,diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.
d. Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari,
lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.
e. ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-
bagian yang di curigai mengalami proses penyakit.
f. Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau
perawatan rutin telah di lakukan.

4. Manfaat ROM
a. Memperbaiki tonus otot
b. Meningkatkan mobilisasi sendi
c. Memperbaiki toleransi otot untuk latihan
d. Meningkatkan massa otot
N. Penutup
Demikian proposal ini kami susun atas perhatian dan dukungannya kami
ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan proposal ini bermanfaat bagi yang
membacanya.