Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH BIMBINGAN KONSELING

KESULITAN BELAJAR
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas limpahan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah “KESULITAN BELAJAR” ini.
Penulis juga menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
memberi motivasi dan dorongan dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah yang akan datang.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya
dan pembaca pada umumnya.

Semarang, 2 Juni 2016

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ..............................................................................................


Kata Pengantar ................................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang.......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................... 2
C. Tujuan ....................................................................................... 2
D. Manfaat ..................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 4
A. Pengertian Kesulitan Belajar .................................................... 4
B. Jenis-Jenis Kesulitan Belajar .................................................... 4
C. Faktor-Faktor Penyebab Kesulitan Belajar .............................. 11
D. Gejala Kesulitan Belajar ........................................................... 17
E. Diagnosa Kesulitan Belajar ...................................................... 18
F. Cara Menanggulangi Kesulitan Belajar.................................... 19
G. Contoh Kasus............................................................................ 21
BAB III PENUTUP ...................................................................................... 25
A. Kesimpulan ................................................................................ 25
B. Saran .......................................................................................... 26
Daftar Pustaka .................................................................................................. 27

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Belajar merupakan semua aktivitas mental ataupun psikis yang dilakukan
oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda
antara sebelum dan sesudah belajar, serta diiringi oleh peningkatan kualitas dan
kuantitas pengetahuan manusia itu sendiri. Belajar dapat diperoleh melalui
lembaga pendidikan formal dan nonformal. Belajar dapat dilakukan mulai dari
keluarga sebagai lingkungan terdekat kemudian di lembaga pendidikan
nonformal seperti bimbingan belajar, kelompok belajar maupun taman kanak-
kanak. Lembaga pendidikan nonformal lainnya yang biasanya mengiringi
lembaga pendidikan formal adalah kursus, les, pelatihan, dll. Sedangkan
pendidikan formal yang umum di Indonesia adalah sekolah, yang terdiri dari
sekolah dasar, sekolah menengah (bawah dan atas/kejuruan) serta perguruan
tinggi, dimana didalamnya terjadi kegiatan belajar mengajar yang melibatkan
interaksi antara guru dan siswa. Sebagai siswa belajar merupakan suatu
kebutuhan yang biasanya menjadi sebuah kewajiban. Tujuan belajar siswa
sendiri adalah untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang tercantum
melalui hasil belajar yang optimal sesuai dengan kecerdasan intelektual yang
dimilikinya.
Biasanya kemampuan siswa dalam belajar sering dikaitkan dengan
kemampuan intelektualnya. Pengukuran kemampuan intelektual ini
ditunjukkan oleh hasil tes IQ (Intelligence Quotient) atau kecerdasan
intelektual. Kecerdasan intelektual disini biasanya dibagi kedalam tiga
golongan. Pertama siswa dengan kemampuan diatas rata-rata yaitu siswa yang
memiliki hasil tes IQ lebih dari 110, yang kedua siswa dengan kemampuan
rata-rata normal yaitu siswa yang biasanya memiliki rentang IQ antara 90
sampai dengan 109, dan yang terakhir yaitu siswa dengan kemampuan rata-rata
rendah atau kemampuan rendah yaitu siswa dengan IQ kurang dari 90.

1
Dalam kenyataannya, ada siswa dengan kecerdasan intelektual diatas
rata-rata/rata-rata tinggi namun tidak menunjukkan prestasi yang memuaskan
yang sesuai dengan kemampuannya yang diharapkan dalam belajar. Kemudian
ada siswa yang mendapatkan kesempatan yang baik dalam belajar, dengan
kemampuan yang cukup baik, namun tidak menunjukkan prestasi yang cukup
baik dalam belajar. Dan ada pula siswa yang sangat bersungguh-sungguh
dalam belajar dengan kemampuan yang kurang dan prestasi belajarnya tetap
saja kurang. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hambatan dan masalah
dalam proses belajar siswa itu sendiri, baik dalam prosesnya di sekolah maupun
di rumah. Oleh karena itu, untuk dapat memperoleh hasil belajar yang
memuaskan dari setiap siswa, guru selaku pendidik dituntut untuk selalu dapat
memberikan dorongan/motivasi kepada siswanya dan meberikan solusi
terhadap permasalahan belajar yang dihadapi siswanya tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasrkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat
diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian kesulitan belajar?
2. Apa saja jenis-jenis kesulitan belajar?
3. Apa saja faktor-faktor penyebab kesulitan belajar?
4. Bagaimana gejala-gejala kesulitan belajar?
5. Bagaimana cara mendiagnosa kesulitan belajar?
6. Bagaimana cara menanggulangi kesulitan belajar?

C. TUJUAN
Tujuan pembuatan makalah ini diantaranya adalah :
1. Mengetahui pengertian kesulitan belajar.
2. Mengetahui jenis-jenis kesulitan belajar.
3. Mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan belajar.
4. Mengetahui gejala-gejala kesulitan belajar.
5. Mengetahui cara mendiagnosa kesulitan belajar.

2
6. Mengetahui cara menanggulangi kesulitan belajar.

D. MANFAAT
Manfaat dari penulisan makalah ini antara lain :
1. Mengingkatkan pengetahuan masyarakat pada umumnya dan mahasiswa
pada khususnya tentang kesuliatan belajar.
2. Memberikan wawasan kepada masyarakat dan mahasiswa tentang jenis-
jenis kesulitan belajar.
3. Memberikan wawasan tentang faktor-faktor penyebab kesuliatan belajar.
4. Memberikan wawasan tentang gejala-gejala kesulitan belajar.
5. Meningkatkan pengetahuan masyarakat dan mahasiswa tentang cara
mendiagnosa kesulitan belajar.
6. Meningkatkan pengetahuan tentang cara menanggulangi kesulitan belajar.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KESULITAN BELAJAR


Kesulitan adalah keadaan yang sulit, dalam kesulitan dan dalam
kesusahan. Dalam hal ini, berarti kesulitan mengandung makna sulit berbuat
sesuatu, yang berarti suatu kondisi yang memperlihatkan ciri-ciri hambatan
dalam kegiatan untuk mencapai suatu tujuan. Belajar adalah proses yang aktif,
belajar adalah mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu.
Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui
berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami
sesuatu. Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku individu dari hasil
pengalaman dan latihan. Perubahan tingkah laku tersebut, baik dalam aspek
pengetahuannya (kognitif), keterampilannya (psikomotor), maupun sikapnya
(afektif).
Kesulitan yang dimaksud dalam kajian ini adalah kesulitan belajar yang
berarti kesulitan pada aktivitas belajar. Kesulitan belajar (Warkitri ddk. 1990:8)
dalam muhammadkhoirulroziqin.blogspot (2013) adalah terdapatnya suatu
jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang
diperoleh. Sementara itu Siti Mardiyanti dkk. (1994:4-5) dalam
muhammadkhoirulroziqin.blogspot (2013) menganggap kesulitan belajar
sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan
tertentu untuk mencapai hasil belajar. Jadi kesulitan belajar adalah adanya
hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar sehingga prestasi akademik
yang diperoleh belum sesuai dengan prestasi akademik yang diharapkan.

B. JENIS-JENIS KESULITAN BELAJAR


1. Learning disability (Ketidakmampuan Belajar)
Diantara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus
ini ialah sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan
belajar). Hal ini mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar

4
atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi
intelektualnya. Kesulitan belajar tersebut terdiri atas:
a. Disleksia (dyslexia) yakni ketidakmampuan belajar membaca.
Membaca merupakan aktivitas audiovisual untuk memperoleh
makna dari symbol berupa huruf atau kata. Aktivitas ini meliputi dua
proses, yakni proses decording, juga dikenal dengan istilah membaca
teknis, dan proses pemahaman. Membaca teknis adalah proses
pemahaman atas hubungan antar huruf dan bunyi atau
menerjemaahkan kata-kata tercetak menjadi bahasa lisan atau
sejenisnya. Kesulitan membaca ini menjadi penyebab utama
kegagalan anak di sekolah. Hal ini dapat dipahami, karena membaca
merupakan salah satu bidang akademik dasar, selain menulis dan
menghitung.
Kesulitan membaca juga menyebabkan anak merasa rendah
diri, untuk termotivasi belajar, dan sering juga mengakibatkan
timbulnya perilaku menyimpang pada anak. Hal ini terjadi karena
dalam masyarakat yang semakin maju, kemampuan membaca
merupakan kebutuhan, karena sebagian informasi disajikan dalam
bentuk tertulis dan hanya dapat diperoleh melalui membaca. Kesulitan
belajar membaca sering disebut disleksia. Kesulitan belajar membaca
yang berat disebut aleksia. Kemampuan membaca tidak hanya
merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi
juga untuk meningkatkan keterampilan kerja dan memungkinkan
orang untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat secara
bersama. Ada dua tipe disleksia, yaitu disleksia auditoris dan disleksia
visual.
Anak yang memiliki keterlambatan kemampuan membaca,
mengalami kesulitan dalam mengartikan atau mengenali struktur kata-
kata (misalnya huruf atau suara yang seharusnya tidak diucapkan,
sisipan, penggantian atau kebalikan) atau memahaminya (misalnya,
memahami fakta-fakta dasar, gagasan, utama, urutan peristiwa, atau

5
topik sebuah bacaan). Mereka juga mengalami kesulitan lain seperti
cepat melupakan apa yang telah dibacanya.
b. Disgrafia (dysgraphia) yakni ketidakmampuan belajar menulis.
Kesulitan belajar menulis disebut juga sisgrafia, kesulitan
belajar menulis yang berat disebut arafia. Ada tiga jenis pelajaran
menulis, yaitu menulis permulaan, mengeja atau dikte, dan menulis
ekspresif. Kegunaan kemampuan menulis bagi seorang siswa adalah
untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas
sekolah. Oleh karena itu, kesulitan belajar menulis hendaknya
dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan
bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan
di sekolah.
Tujuan utama pengajaran menulis adalah keterbacaan, untuk
dapat mengkomunikasikan pikiran dalam bentuk tertulis. Kesulitan
menulis yang dialami anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor,
misalnya gangguan motorik, gangguan emosi, gangguan persepsi
visual, atau gangguan ingatan. Gangguan gerak halus dapat
menganggu keterampilan menulis, misalnya seorang anak mungkin
mengerti ejaan suatu kata, tetapi ia tidak dapat menulis secara jelas
atau mengikuti kecepatan gurunya, hal ini dapat berakibat pada
penguasaan bidang studi akademik lain.
c. Diskalkulia (dyscalculia) yakni ketidakmampuan belajar matematika.
Berhitung adalah salah satu cabang matematika, ilmu hitung
adalah suatu bahasa yang digunakan untuk menjelaskan hubungan
antara berbagai proyek, kejadian, dan waktu. Ada orang yang
beranggapan bahwa berhitung sama dengan matematika. Anggapan
semacam ini tidak sepenuhnya keliru karena hampir semua cabang
matematika yang menurut Moris kline (1981) berjumlah delapan
puluh cabang besar selalu ada berhitung.
Kesulitan belajar berhitung disebut juga diskalkulia. Kesulitan
belajar berhitung yang berat disebut akalkulia. Ada tiga elemen

6
pelajaran berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen
tersebut adalah konsep, komputasi, dan pemecahan masalah. Seperti
halnya bahasa, berhitung yang merupakan bagian dari matematika
adalah sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, seperti halnya
kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung hendaknya dideteksi dan
ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak
dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Kesulitan belajar berhitung merupakan jenis kesulitan belajar
terbanyak disamping membaca. Padahal seperti halnya keterampilan
membaca, keterampilan menghitung merupakan sarana yang sangat
penting untuk menguasai bidang studi lainnya.
Namun demikian, siswa yang mengalami sindrom-sindrom di
atas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal
bahkan di antaranya ada yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Oleh karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-
sindrom tadi mungkin hanya disebabkan oleh adanya minmal brain
dysfunction, yaitu gangguan ringan pada otak (Lask,1985 : Reber
1988) dalam yuninuraeniyna.blogspot (2015).
Ciri-ciri learning disabilities:
1) Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan
membaca.
2) Lambat dalam mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi
pengucaannya.
3) Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang
membutuhkan daya ingat.
4) Implusif yaitu bertindak tanpa difikir dahulu.
5) Sulit berkosentrasi.
Penyebab learning disabilities:
1) Faktor keturunan (genetik) dan gangguan koordinasi pada otak.

7
2) Kira-kira 14 area di otak berfungsi saat membaca,
ketidakmampuan dalam belajar disebabkan karena ada gangguan
diarea otaknya.
2. Underachiever
Semiawan (1997:209) dalam fitrika1127.blogspot (2012)
menyebutkan ”underachievement adalah kinerja yang secara signifikan
berada di bawah potensinya”. Makmun (2001: 274) dalam
fitrika1127.blogspot (2012) juga mengungkapkan bahwa yang dimaksud
”underachiever adalah mereka yang prestasinya ternyata lebih rendah dari
apa yang diperkirakan berdasar hasil tes kemampuan belajarnya”. Jadi
underachiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki
tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi
belajarnya tergolong rendah.
Contoh : Siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan
tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun
prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
a. Ciri-ciri under achiever:
1) Prestasi tidak konsisten: kadang bagus, kadang tidak.
2) Tidak menyelesaikan pekerjaan rumah (PR).
3) Rendah diri.
4) Takut gagal (atau sukses).
5) Takut menghadapi ulangan.
6) Tidak punya inisiatif.
7) Malas, bahkan depresi.
b. Penyebab underachiever
Penyebab underachiever, Butler-Por (dalam oxfordbrooks
.ac.uk, 2006) menyatakan bahwa underachievement bukan
disebabkan karena ketidakmampuan untuk melakukan suatu dengan
lebih baik, tetapi karena pilihan-pilihan yang dilakukan dengan sadar
atau tidak sadar.

8
3. Slow learner (Lambat Belajar)
Pengertian slow learner atau disebut juga slow learning menurut
para ahli diantaranya pertama menurut Chaplin ( 2005 : 468) dalam
gesangprasaja-k5113034-plbuns13.blogspot (2013) Slow learning yaitu
suatu istilah nonteknis yang dengan berbagai cara dikenakan pada anak-
anak yang sedikit terbelakang secara mental, atau yang berkembang lebih
lambat daripada kecepatan normal. Sedangkan menurut Burton (dalam
Sudrajat : 2008) ) dalam gesangprasaja-k5113034-plbuns13.blogspot
(2013) Slow learning adalah anak dengan tingkat penguasaan materi yang
rendah, padahal materi tersebut merupakan prasyarat bagi kelanjutan di
pelajaran selanjutnya, sehingga mereka sering harus mengulang. Jadi pada
intinya slow learner atau slow learning adalah siswa yang lambat dalam
proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama
dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi
intelektual yang sama.
Ciri-ciri/karakteristik dari individu yang mengalami slow learning :
a. Fungsi kemampuan di bawah rata-rata pada umumnya.
b. Memiliki kecanggungan dalam kemampuan menjalin hubungan
intrapersonal.
c. Memiliki kesulitan dalam melakukan perintah yang bertahap.
d. Tidak memiliki tujuan dalam menjalani kehidupannya
e. Memiliki berbagai kesulitan internal seperti; keterampilan
mengorganisasikan, kesulitan transfer belajar, dan menyimpulkan
infromasi.
f. Memiliki skor yang rendah dengan konsisten dalam beberapa tes.
g. Memiliki pandangan mengenai dirinya yang buruk.
h. Mengerjakan segalanya secara lambat.
i. Lambat dalam penguasaan terhadap sesuatu.

9
Penyebab slow learning:
a. Kemiskinan
Kemiskinan merupakan faktor utama dari slow learning di
negara berkembang. Kemiskinan menyababkan banyak kekurangan
mental dan moral yang pada akhirnya mempengaruhi performa siswa.
Seperti ungkapan “di badan yang sehat terdapat pikiran yang sehat”.
b. Faktor emosional
Semua anak pasti mengalami permasalahan emosional, tetapi
slow learner mengalami permasalahan yang serius dan untuk waktu
yang lama sehingga sangat mengganggu proses belajar mereka.
Permasalahan emosional ini berakibat pada prestasi akademis yang
rendah, hubungan interpersonal yang tidak baik, dan harga diri yang
rendah. Bagian penting dalam perkembangan personal, sosial dan
emosional adalah konsep diri dan harga diri.
c. Faktor pribadi
Faktor pribadi meliputi kelainan bentuk fisik (deformity),
kondisi patologi/penyakit badan, dan kekurangan penglihatan,
pendengaran dan percakapan dapat mengarah pada slow learning.
Faktor pribadi juga meliputi penyakit yang lama atau ketidakhadiran
di sekolah untuk waktu yan lama ddan kurangnya kepercayaan diri.
Ketika mereka lama tidak masuk sekolah tentu saja mereka akan
tertinggal dari teman mereka. Hal ini pada akhirnya mempengaruhi
kepercayaan diri mereka dan menciptakan kondisi yang mengarah
pada slow learning.
4. Learning Disorder (Kekacauan Belajar)
Learning Disorder yaitu keadaan dimana proses belajar seseorang
terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya,
yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan
tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons
yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah
dari potensi yang dimilikinya.

10
Contoh : Siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate,
tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar
menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
5. Learning Disfunction
Merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa
tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak
menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat indra, atau
gangguan psikologis lainnya.
Contoh : Siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat
cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih
bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley
dengan baik.

C. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR


Masalah-masalah belajar baik intern maupun ekstern dapat dikaji dari
dimensi guru maupun dimensi siswa, sedangkan dikaji dari tahapannya,
masalah belajar dapat terjadi pada waktu sebelum belajar, selama proses belajar
dan sesudahnya, sedangkan dari dimensi guru, masalah belajar dapat terjadi
sebelum kegiatan belajar, selama proses belajar dan evaluasi hasil belajar.
Masalahnya sering kali berkaitan dengan pengorganisasian belajar.
1. Faktor Internal
a. Ciri Khas/Karakteristik Siswa
Dapat dilihat dari kesediaan siswa untuk mencatat pelajaran,
mempersiapkan buku, alat-alat tulis atau hal-hal yang diperlukan.
Namun, bila siswa tidak memiliki minat untuk belajar, maka siswa
tersebut cenderung mengabaikan kesiapan belajar.
b. Sikap terhadap Belajar
Sikap merupakan kemampuan memberiakan penilaian tentang
sesuatu yang membawa diri sesuai dengan penilaian, adanya penilaian
tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak,
atau mengabaikan. Sikap siswa dalam proses belajar, terutama sekali

11
ketika memulai kegiatan belajar merupakan bagian penting untuk
diperhatikan karena aktivitas belajar siswa banyak ditentukan oleh
sikap siswa ketika akan memulai kegiatan belajar. Namun, bila lebih
dominan sikap menolak sebelum belajar maka siswa cenderung
kurang memperhatikan atau mengikuti kegiatan belajar.
c. Motivasi Belajar
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong
terjadinya proses belajar. Oleh karena itu, motivasi belajar pada diri
siswa perlu diperkuat terus menerus agar siswa memiliki motivasi
belajar yang kuat, hal tersebut dapat dilakukan dengan menciptakan
suasana/tempat belajar yang menggembirakan. Di dalam aktivitas
belajar, motivasi individu dimanfestasikan dalam bentuk ketahanan
atau ketekunan dalam belajar, kesungguhan dalam menyimak,
mengerjakan tugas dan sebagainya. Umumnya kurang mampu untuk
belajar lebih lama, karena kurangnya kesungguhan di dalam
mengerjakan tugas. Oleh karena itu, rendahnya motivasi merupakan
masalah dalam belajar yang memberikan dampak bagi tercapainya
hasil belajar yang diharapkan.
d. Konsentrasi Belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan
perhatian pada pelajaran. Untuk memperkuat perhatian pada
pembelajaran, guru perlu menggunakan bermacam-macam strategi
belajar-mengajar, dan memperhitungkan waktu belajar serta selingan
istirahat. Kesulitan berkonsentrasi merupakan indikator adanya
masalah belajar yang dihadapi siswa, karena hal itu akan menjadi
kendala di dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan. Untuk
membantu siswa agar dapat berkonsentrasi dalam belajar tentu
memerlukan waktu yang cukup lama, di samping menuntut
ketelatenan guru.

12
e. Mengelola Bahan Ajar
Mengolah bahan ajar merupakan kemampuan siswa untuk
menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi
bermakna bagi siswa itu sendiri, baik bahan ajar berupa pengetahuan,
nilai kesusilaan, nilai agama, nilai kesenian ataupun keterampilan
mental dan jasmani. Siswa yang mengalami kesulitan di dalam
mengelola bahan, maka berarti ada kendala pembelajaran yang
dihadapi siswa yang membutuhkan bantuan guru. Bantuan guru
tersebut hendaknya dapat mendorong siswa agar memiliki
kemampuan sendiri untuk terus mengelola bahan belajar, karena
konstruksi berarti merupakan suatu proses yang berlangsung secara
dinamis.
f. Menyimpan Perolehan Hasil Belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan
menyimpan isi pesan dan cara memperoleh pesan. Kemampuan
menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek dan
waktu yang lama.Kemampuan menyimpan dalam waktu pendek
berarti hasil belajar cepat dilupakan, kemampuan menyimpan dalam
waktu lama berarti hasil belajar tetap dimiliki siswa.
g. Kemampuan Berprestasi atau Unjuk Hasil Belajar
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan
suatu puncak proses belajar. Dalam belajar pada ranah kognitif ada
gejala lupa. Lupa merukan peristiwa biasa, meskipun demikian dapat
dikurangi. Lupapada ranah kognitif umumnya berlawanan dengan
mengingat. Pesan yang dilupakan belum tentu berarti hilang dari
ingatan. Kadang kala siswa memerlukan waktu untuk membangkitkan
kembali pesan yang terlupakan.
h. Rasa Percaya Diri
Salah satu kondisi psikologis seseorang yang berpengaruh
terhadap aktivitas fisik dan mental dalam proses pembelajaran adalah
rasa percaya diri. Rasa percaya diri umumnya muncul ketika

13
seseorang akan melakukan atau terlibat di dalam suatu aktivitas
tertentu di mana pikirannya terarah untuk mencapai sesuatu hasil yang
diinginkannya. Hal-hal ini bukan merupakan bagian terpisah dari
proses belajar, akan tetapi merupakan tanggung jawab yang harus
diwujudkan guru bersamaan dengan proses pembelajaran yang
dilaksanakan.
Rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri,
bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri
dapat timbul berkat adanya pengakuan dan lingkungan. Dalam proses
belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian
perwujudan diri yang diakui oleh guru dan rekan sejawat siswa. Makin
sering berhasil menyelesaikan tugas, maka semakin memperoleh
pengakuan umum, dan selanjutnya rasa percaya diri semakin kuat,
begitupun sebaliknya.
i. Kebiasaan Belajar
Adalah perilaku belajar seseorang yang telah tertanam dalam
waktu yang relatif lama sehingga memberikan ciri dalam aktivitas
belajar yang dilakukan. Ada beberapa bentuk kebiasaan belajar yang
sering dijumpai seperti, belajar tidak teratur, daya tahan rendah,
belajar hanya menjelang ulangan atau ujian, tidak memiliki catatan
yang lengkap, sering datang terlambat, dan lain-lain
j. Tingkat Kecerdasan Rendah
Walaupun tingkat kecerdasan seorang siswa bkanlah nilai mutlak
dan berubah-ubah, hal ini tetap saja dapat menjadi salah satu faktor
penentu keberhasilan belajar. Tingkat kecerdasan atau kemampuan
dasar yang rendah bisa menjadi salah satu penyebab kesulitan belajar
pada diri siswa.
k. Kesehatan, Gangguan Fungsi Alat Indera, dan Alat Perseptual
Kondisi tubuh yang sakit, kurang gizi dan vitamin dapat
menyebabkan kurang maksimalnya proses belajar. Begitupun jika
terjadi gangguan pada fungsi alat indera, seperti gangguan penglihatan

14
dan pendengaran yang dapat secara langsung menjadi penyebab
terjadinya keslitan dalam belajar. Hal yang sama juga dapat terjadi
jika terdapat gangguan dalam proses penafsiran pesan di otak (alat
perseptual).
l. Cita-Cita Siswa
Cita-cita merupakan motivasi intrinsik yang ada dalam diri
setiap siswa, serta cenderung berbeda-beda antara siswa satu dengan
siswa lainnya sesuai dengan keinginan atau naluri pribadinya.
Walaupun demikian, tetapi tidak jarang siswa hanya berperilaku ikut-
ikutan. Sebagai ilustrasi, siswa ikut-ikutan berkelahi ataupun merokok
sebagai tanda jantan, atau berbuat jagoan dengan melawan aturan.
Dengan perilaku tersebut, siswa beranggapan bahwa ia telah
menempuh perjalanan mencapai cita-cita untuk terkenal di lingkungan
siswa sekota.
2. Faktor Eksternal
a. Guru
Guru harus mengembangkan strategi pembelajaran yang tidak
hanya menyampaikan informasi, melainkan juga mendorong para
siswa untuk belajar secara bebas dalam batas-batas yang ditentukan.
Bila dalam proses pembelajaran, guru mampu mengaktualisasikan
tugas-tugas guru dengan baik, mampu memotivasi, membimbing dan
memberi kesempatan secara luas untuk memperoleh pengalaman,
maka siswa akan mendapat dukungan yang kuat untuk mencapai hasil
belajar yang diharapkan, namun jika guru tidak dapat
melaksanakannya, siswa akan mengalami masalah yang dapat
menghambat pencapaian hasil belajar mereka.
Menurut Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah,
terutama guru. Guru yang akrab dengan murid, menghargai usaha-
usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau murid
menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan sukses
dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan diri

15
dalam diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang
memiliki penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya,
sehingga murid-muridnya juga akan memiliki penilaian diri yang
positif.
Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid,
kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa
kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar
atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami
kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-
benar memperhatikan peserta didiknya. Belmon dan Morolla
menyimpulkan dari hasil penelitiannya, bahwa anak-anak yang
berasal dari keluarga yang banyak jumlah anak, mempunyai
keterampilan intelektual lebih rendah daripada anak-anak yang
berasal dari keluarga yang jumlah anaknya sedikit.
b. Keluarga (Rumah)
Masalah-masalah dalam keluarga dapat menyita pikiran dan
konsentrasi anak untuk fokus dalam belajar, beberapa diantaranya
adalah;
1) Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis.
2) Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya
3) Keadaan ekonomi.
4) Harapan orang tua yang terlalu tinggi
5) Orang tua yang pilih kasih
c. Lingkungan Sosial (Teman Sebaya)
Lingkungan sosial dapat memberi dampak positif dan negatif
terhadap siswa. Tidak sedikit siswa yang mengalami peningkatan
hasil belajar karena pengaruh teman sebayanya yang mampu memberi
motivasi kepadanya untuk belajar.

16
d. Kurikulum Sekolah
Kurikulum merupakan panduan yang dijadikan guru sebagai
rangka atau acuan untuk mengembangkan proses pembelajaran.
Seluruh aktivitas pembelajaran, maka dipastikan kurikulum tidak
akan mampu memenuhi tuntunan perubahan di mana perubahan
kurikulum pada sisi lain juga menimbulkan masalah, yaitu :
1) Tujuan yang akan dicapai berubah
2) Isi pendidikan berubah
3) Kegiatan belajar mengajar berubah
4) Evaluasi belajar
e. Sarana dan Prasarana
Ketersediaan prasarana dan sarana pembelajaran berdampak
pada terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif. Terjadinya
kemudahan bagi siswa untuk mendapatkan informasi dan sumber
belajar yang pada gilirannya dapat mendorong berkembangnya
motivasi untuk mencapai hasil belajar yang lebih baik. Oleh karena
itu sarana dan prasarana menjadi bagian yang penting untuk
tercapainya upaya mendukung terwujudnya proses pembelajaran yang
diharapkan.

D. GEJALA KESULITAN BELAJAR


Gejala atau tanda-tanda siswa yang mengalami kesulitan belajar
diantaranya :
1. Menunjukkan prestasi yang rendah/dibawah rata-rata yang dicapai oleh
kelompok kelas.
2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia
berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
3. Lambat melaksanakan tugas-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan
kawan-kawannya dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal
latihan.

17
4. Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura
dusta.
5. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, misalnya mudah tersinggung,
murung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih.

E. DIAGNOSA KESULITAN BELAJAR


Mendiagnosis adalah proses pemeriksaan terhadap suatu gejala yang tidak
beres. Diagnosis masalah belajar dilakukan jika guru menandai atau
mengidentifikasi adanya kesulitan belajar pada muridnya. Diagnosis masalah
belajar dilakukan secara sistematis dan terarah dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi Adanya Masalah Belajar.
Untuk mengidentifikasi masalah belajar diperlukan seperangkat
keterampilan khusus, sebab kemampuan mengidentifikasi yang
berdasarkan naluri belakang kurang efektif. Gejala-gejala munculnya
masalah belajar dapat diamati dalam berbagai bentuk, biasanya muncul
dalam bentuk perubahan perilaku yang menyimpang atau dalam
menurunnya hasil belajar. Perilaku yang menyimpang juga muncul dalam
berbagi bentuk seperti: suka mengganggu teman, merusak alat-alat
pembelajaran dan lain sebagainya.
2. Menelaah Atau Menetapkan Status Siswa
Penelaahan dan penetapan status murid dilakukan dengan cara:
a. Menetapkan tujuan khusus yang diharapkan dari murid
b. Menetapkan tingkat ketercapaian tujuan khusus oleh murid dengan
menggunakan teknik dan alat yang tepat.
c. Menetapkan pola pencapaian murid, yaitu seberapa jauh ia berbeda dari
tujuan yang ditetapkan itu.
3. Memperkirakan Sebab Terjadinya Masalah Belajar
Membuat perkiraan yang tepat adalah suatu perbuatan yang
kompleks yang keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor.

18
Beberapa prinsip yang harus diingat dalam memperkirakan sebab
terjadinya masalah belajar:
a. Gejala yang sama dapat ditimbulkan oleh sebab yang berbeda
b. Sebab yang sama dapat menimbulkan gejala yang berbeda
c. Berbagai penyebab dapat berinteraksi yang dapat menimbulkan gejala
masalah yang makin kompleks.

F. CARA MENANGGULANGI KESULITAN BELAJAR


Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menanggulangi kesulitan
belajar diantaranya adalah:
1. Perhatikan Mood
Untuk mengenal mood anak, seorang ibu harus mengenal karakter
dan kebiasaan belajar anak. Apakah anak belajar dengan senang hati atau
dalam keadaan kesal. Jika belajar dalam suasana hati yang senang, maka
apa yang akan dipelajari lebih cepat ditangkap. Bila saat belajar, ia merasa
kesal, coba untuk mencari tahu penyebab munculnya rasa kesal itu.
Apakah karena pelajaran yang sulit atau karena konsentrasi yang pecah.
Nah di sini tugas orangtua untuk menyenangkan hati si anak.
2. Siapkan Ruang Belajar
Kesulitan belajar anak bisa juga karena tempat yang tersedia tidak
memadai. Karena itu, coba sediakan tempat belajar untuk anak. Selain itu,
saat mengajari anak ini, bisa melakukannya dengan menularkan cara
belajar yang baik. Misalnya bercerita kepada anak tentang bagaimana
dahulu ibunya menyelesaikan mata pelajaran yang dianggap sulit.
Biasanya anak cepat larut dengan cerita ibunya sehingga ia mencoba
mencocok-cocokkan dengan apa yang dijalaninya sekarang.
3. Komunikasi
Masa kecil kita, pelajaran yang disukai tergantung bagaimana cara
guru itu mengajar. Tidak bisa dipungkiri perhatian terhadap mata
pelajaran, tentu ada kaitan dengan cara guru mengajar di kelas. Sempatkan
juga waktu dan dengarkan anak-anak bercerita tentang bagaimana cara

19
guru mereka mengajar di sekolah. Jika, anak aktif maka banyak sekali
cerita yang lahir termasuk bagaimana guru kelas memperhatikan baju, ikat
rambut, dan sepatunya. Khusus soal komunikasi ini, biarkan anak-anak
bercerita tentang gurunya. Sejak dini biasakan anak berperilaku sportif dan
pandai menyampaikan pendapatnya.
4. Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami
kesulitan belajar:
a. Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang
diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun
khusus dalam bidang studi
b. Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic”
kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan
kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
c. Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
d. Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar
mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan
tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha
mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check
list.
e. Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali
kelas,dan guru pembimbing.
5. Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya.
Dilakukan dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi
tertentu, seperti catatan keterlambatan penyelesaian tugas, ketidakhadiran,
kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.
6. Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami
berbagai kesulitan.
7. Memperkirakan alternatif pertolongan
Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat
mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif).

20
G. CONTOH KASUS
A adalah seorang siswa kelas XII IPA di SMA X. Berdasarkan data
latihan ujian nasional yang sudah dilaksanakan selama 3 kali, A selalu
dinyatakan gagal dalam ujian nasional, sementara ujian nasional tinggal kurang
dari 2 bulan lagi pelaksanaannya. Dan berdasarkan analisa hasil latihan ujian
nasional, A mengalami kegagalan pada mata pelajaran bahasa inggris dimana
nilainya selalu tidak mencapai standart kelulusan.
A beragama Islam, hobby bermain sepakbola dan bercita-cita menjadi
pemain sepak bola yang handal. Menurutnya pekerjaan seberat apapun akan
terasa ringan bila dikerjakan. A berasal dari keluarga yang cukup mampu,
ayahnya lulusan S1 dan bekerja sebagai PNS dan ibunya lulusan SMA dan
bekerja sebagai ibu rumah tangga. Diluar kegiatan sekolah, A rajin mengikuti
sekolah sepakbola dan kursus mata pelajaran. Ia cukup berprestasi dibidang
sepak bola, ia pernah meraih juara 2 kompetisi sepak bola sekabupaten,
menjadi best player dalam kompetisi sepak bola, juara turnamen futsal antar
SMP se provinsi dan menjadi top scorer dalam kompetisi tersebut. Selain
memiliki bakat dibidang sepak bola A juga memiliki kelebihan dibidang
menyanyi. A memiliki kekurangan dalam memahami bahasa asing (Inggris),
bersifat egois dan keras kepala.
Dalam kasus ini, data yang digunakan adalah laporan hasil latihan ujian
nasional, raport dari kelas 1, SKHU SMP dan hasil wawancara. Berdasarkan
laporan hasil Latihan Ujian Nasional yang sudah diselenggarakan 3 kali, siswa
mengalami kesuitan belajar dalam pelajaran Bahasa Inggris. Selain mata
pelaajaran tersebut, sebenarnya siswa juga mengalami kesulitan di bidang
bahasa Indonesia. Namun untuk bahasa Indonesia masih bisa mencukupi
standard kelulusan, sedangkan untuk bahasa inggris sangat jauh dari standadr
kelulusan.
Dugaan awal, siswa memang mengalami kesulitan dalam pemahaman
bahasa. Kemampuan lingustik siswa dinilai kurang berkembang. Melihat
kemampuannya di mata pelajaran yang lain yang cukup memuaskan,
kemungkinan A juga mengalami Underachiever di mata pelajaran tersebut.

21
Siswa merupakan anak yang tergolong berada di atas rata-rata kelas.
Hanya saja, memang sejak kelas IX niai bahasa Inggrisnya selalu kurang. Hal
ini bisa ditemukan berdasarkan raport siswa sejak kelas X. Selain mata
pelajaran bahasa Inggris, siswa memiliki prestasi akademik yang tergolong
tinggi. Hanya saja memang untuk Bahasa Inggris sejak awal dia mengalami
prestasi yang tergolong sedang bahkan bawah.
Berdasarkan wawancara dengan guru mata pelajaran Bahasa Inggris
kelas XII, siswa hanya diam saja saat mengikuti pelajaran. Siswa yang duduk
di bangku dibelakang terkadang jarang ter cover oleh guru mata pelajaran. Hal
ini sangat bertolak belakang dengan laporan dari guru mata pelajaran yang lain.
Rata-rata mereka menuturkan bahwa siswa tergolong cukup aktif di
kelas,sering bertanya bila merasa tidak jelas dan aktif maju ke depan
mengerjakan tugas.
Namun kecuali sejak kelas IX hal ini juga bisa ditemui dalam SKHU
yang siswa lampirkan saat pendaftaran masuk SMA. Berdasarkan SKHU,
dengan jumlah 40.75, dan rata-rata 8.15, siswa tergolong anak yang padai.
Hanya saja nilai Bahasa nggrisnya tergolong pas-pasan(6,00). Hal tersebut bisa
dibilang sangat disayangkan karena jika prestasinya bisa lebih baik pasti akan
lebih membangganggakan.
Ketika dilakukan wawancara dengan siswa, salah satu hal penting yang
dia katakan adalah merasa takut dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Dia
mengalami sedikit traumatik dengan guru mata pelajaran tersebut. Siswa
memiliki pengalaman buruk dengan guru bahasa Inggris saat dia SMP.
Terlebih dia pernah dihukum gara-gara bermain bola dikelas.
Selain itu, hal ini diperkuat dengan hasil wawancara pada seorang
teman siswa sejak dia SMP. Walaupun mereka tidak sekelas, namun mereka
sering berkumpul bersama karena sama-sama hoby ermain sepak bola d an
mereka anggota tim sepak bola SMP. Dari wawancara dengan temannya,
memang Rohman memiliki pengalaman buruk dengan guru Bahasa Inggris.
Kasusnya bermain bola dikelas diketahui hampir semua siswa SMP karea
mereka di hukum di tengah lapangan sekolah.

22
Berdasarkan analisis dari data-data yang ada maka ada beberapa hal
yang diduga menyebabkan kesulitan belajar pada pelajaran bahasa inggris yang
dialami oleh A. Faktor internalnya yaitu A mengalami traumatis terhadap
pelajaran bahasa inggris yang disebabkan pengalaman buruk saat SMP.
Sedangkan faktor eksternalnya adalah guru bahasa inggris SMA dia dianggap
juga tegas dan menakutkan sehingga dia teringat akan pengalaman masa
lalunya.
Untuk sementara, disimpulkan bahwa memang siswa mengalami
kekurangan/kesulitan dalam memahami pelajaran bahasa inggris. Bisa dilihat
dari daftar nilai rapotnya yang memang sangat minim untuk nilai bahasa
Inggris. Melihat kemampuannya di mata pelajaran yang lain yang cukup
memuaskan, kemungkinan A juga mengalami Underachiever di mata pelajaran
tersebut.
Dan dari wawancara awal siswa mengalami traumatis terhadap
matapelajaranbahasa inggris. Dia memiliki pengalaman buruk dengan guru
bahasa inggris SMP nya. Hal ini diperkuat dengan guru bahasa inggris SMA
yang juga tegas walaupun tidak seperti yang dia alami saat SMP.
Prediksi, siswa masih bisa disembuhkan. Langkah yang sementara bisa
diambil adalah melakukan konseling lebih lanjut dengan siswa. Harus
dilakukan proses konseling untuk mengurangi rasa trauma yang dia miliki
karena hal ini sangat mendasar terkait pelayanan yang akan dilakukan lebih
lanjut.
Siswa diberikan guru pelajaran bahasa Inggris yang lain, dan khusus
menangani siswa tersebut dalam persiapan ujian nasonal, atau siswa diminta
untuk mengikuti bimbingan belajar diluar sekolah.
Selain itu untuk mengatasi permasalahan trauma/pemikiran siswa yang
tidak beralasan tentang guru bahasa inggris yang galak, maka diberikan terapi
yaitu Rational Emotive Teraphy. Terapi ini menitik beratkan pada keyakinan
irasional klien. Dalam kasus Rohman, irational belief yang dialami adalah guru
Bahasa Inggris adalah kejam. Sebagai anticedent(penyebab) adalah siswa
memiliki pengalaman buruk terhadap guru bahasa inggris saat masih SMP. Hal

23
ini berlanjut ketika dia SMA. Siswa merasa bahwa guru bahasa Inggrisnya di
SMA tidak jauh berbeda dengan saat dia SMP. Memang sang guru sedikit tegas
namun tidak galak seperti yang dibayangkan oleh siswa. Sedang sebagai
consequence adalah penurunan minat belajar bahassa Inggris.
Terapi yang dilakukan adalah mengggali seberapa jauh keyakinan
siswa tentang guru bahasa Inggris yang kejam. Selanjutnya diberikan keyakina
baru tentang guru bahasa Inggris di SMA tidak sama dengan saat di SMP. Hal
ini bisa dilakukan dengan menunjukkan kebaikan-kebaikan guru bahasa
Inggris. Tidak harus dengan guru disokolah, justru lebih baik dengan guru
bahasa Inggris diluar sekolah. Sekaligus sebagai penunjang program yang
pertama, seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

24
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Kesulitan belajar adalah adanya hambatan tertentu untuk mencapai hasil
belajar sehingga prestasi akademik yang diperoleh belum sesuai dengan
prestasi akademik yang diharapkan.
2. Ada lima jenis kesulitan belajar diantaranya yaitu Learning Disability
(Ketidakmampuan Belajar), Underachiever, Slow Learner (Lambat
Belajar), Learning Disorder (Kekacauan Belajar), Learning Disfunction.
3. Kesulitan belajar yang dialami siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tersebut diantaranya
adalah ciri khas/karakteristik siswa, sikap terhadap belajar, motivasi
belajar, konsentrasi belajar, mengelola bahan ajar, menyimpan perolehan
hasil belajar, kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar, rasa percaya
diri, kebiasaan belajar, tingkat kecerdasan rendah, kesehatan, gangguan
fungsi alat indera, dan alat perseptual, serta cita-cita siswa. Kemudian
faktor eksternalnya adalah guru, keluarga (rumah), lingkungan sosial
(teman sebaya), kurikulum sekolah serta sarana dan prasarana).
4. Siswa yang mengalami kesulitan belajar akan menunjukkan bebrapa gejala
seperti menunjukkan prestasi yang rendah/dibawah rata-rata yang dicapai
oleh kelompok kelas, hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha
yang dilakukan, dan lain-lain.
5. Ada tiga cara dalam mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami siswa
yaitu mengidentifikasi adanya masalah belajar, menelaah atau menetapkan
status siswa, dan memperkirakan sebab terjadinya masalah belajar.
6. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menanggulangi atau
mengatasi kesulitan belajar yaitu perhatikan mood, siapkan ruang belajar,
komunikasi, mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami

25
kesulitan belajar, mengalokasikan letaknya kesulitan atau
permasalahannya, melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang
menyebabkan mengalami berbagai kesulitan, dan memperkirakan
alternatif pertolongan.

B. SARAN
Hambatan bukan hal yang jarang dalam setiap proses pembelajaran.
Karena itu, seorang guru sebaiknya mampu mengidentifikasi masalah dan
memberikan solusi terhadap masalah-masalah belajar yang dialami oleh
siswanya agar peroses belajar mengajar tetap berjalan dengan lancar dan tujuan
pembelajaran dapat dicapai dengan baik.

26
DAFTAR PUSTAKA

Khoirulroziqin, Muhammad. 2013. “definisi kesulitan belajar”. (Online).


http://muhammadkhoirulroziqin.blogspot.co.id/2013/04/definisi-kesulitan-
belajar.html (Diakses pada 02 Juni 2016 pukul 19.17 WIB).
Nur Aeni, Yuni. 2015. “Konsep Dasar Diagnostik Kesulitan Belajar (Definisi dan
Prosedur atau Langkah-Langkah Diagnostik Kesulitan Belajar)”. (Online)
http://yuninuraeniyna.blogspot.co.id/2015/06/konsep-dasar-diagnostik-
kesulitan.html (Diakses pada 02 Juni 2016 pukul 19.42 WIB).
Fitrika. 2012. “Underachiever”. (Online). http://fitrika1127.blogspot.co.id/2012/
05/uncerachiever.html (Diakses pada 02 Juni 2016 pukul 20.22 WIB).
Jati, Gesang. (2013). “Definisi Slow Learner atau Lamban Belajar”. (Online).
http://gesangprasaja-k5113034-plbuns13.blogspot.co.id/2013/11/definisi-
slow-learner.html (Diakses pada 02 Juni 2016 pukul 20.45 WIB).
Awaliya, dkk. 2015. Bimbingan Konseling. Semarang: Pusat Pengembangan
MKU-MKDK-LP3 Universitas Negeri Semarang.

27