Anda di halaman 1dari 4

F.

ANALISIS DATA

1. Sampel + NaCl ------------> endapan putih

• Ag⁺ + Cl- → AgCl ↓ putih

• Pb²⁺ +2Cl- → PbCl2 ↓ putih

• PbCl2(s) + H2O --------------> Pb²+ + Cl-

2. Filtrat A + K2CrO4 → endapan kuning

• Pb²+ + CrO4²- → PbCrO4 ↓ kuning

• Pb²+ + SO₄²- → PbSO4 ↓ putih

3. Filtrat B + NaOH endapan coklat

 Fe³+ + 3NaOH → Fe(OH)3 ↓ coklat + 3Na+

 Mn²+ + 2NaOH → MnO(OH)2 ↓ coklat + 3Na+

 Mn²+ + 2OH- → Mn(OH)2 ↓ putih

 Mn(OH)2 ↓ putih + O2 + H2O → MnO(OH)2 ↓ coklat + 2OH-

 ⁺ 3 2 2 ↓ putih + 2NH4+

 Mn²+ + 6NH4+ → [Mn(NH3)6]²+ + 6H+

 Fe³+ + 3NH3 + 3H2O → Fe(OH)3 ↓ coklat + 3NH4+

Mn² + 2NH + 2H O Mn(OH)

4. Filtrat C + HNO ----------> endapan putih

Filtrat C + NH3 -------------> endapan putih

• Al(OH)3 + OH- → [Al(OH)4-]

• Al³+ + 3NH3 + 3H2O → Al(OH)3 ↓ putih + 3NH4+

• Al(OH)3 + 3H+ Al³+ + 3H2O

G. PEMBAHASAN

Analisis kation merupakan pendekatan yang sistematis. Umumnya dapat dilakukan dengan 2 cara
yaitu pemisahan dan identifikasi. Pemisahan dilakukan dengan cara mengendapkan suatu kelompok
kation dari larutannya. Kelompok kation yang mengendap dipisahkan dari larutan dengan cara
sentrifus dan menuangkan filtratnya ke tabung uji yang lain. Larutan yang masih berisi sebagian
besar kation kemudian diendapkan kembali membentuk kelompok kation baru. Jika dalam kelompok
kation yang terendapkan masih berisi beberapa kation maka kation-kation tersebut dipisahkan lagi
menjadi kelompok kation yang lebih kecil, sehingga pada akhirnya dapat dilakukan uji spesifik untuk
satu kation. Pada praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat memisahkan dan mengidentifikasi
kation-kation dalam sampel. Kation-kation yang digunakan dalam percobaan ini, tidak ditentukan
jenis-jenis kation apa saja yang digunakan, sebab kation yang digunakan tergabung dalam larutan
sampel. Dari larutan sampel tersebut, kita bisa mengidentifikasi jenis-jenis kation apa saja yang ada
dalam larutan sampel.

Pada percobaan pertama yaitu sampel yang ditambahkan larutan NaCl kemudian terbentuk
endapan, endapan yang terbentuk adalah endapan berwarna putih. Dari hasil pengamatan dapat
diketahui bahwa kation dalam endapan itu adalah Ag⁺ dan Pb²⁺. Kation dalam endapan tersebut
merupakan kation golongan I yang mengendap sebagai garam klorida yang berwarna putih karena
bereaksi dengan NaCl 1 M. Reaksi yang terjadi yaitu :

Endapan PbCl2 akan larut dengan kenaikkan suhu. Kenaikkan suhu umumnya dapat memperbesar
kelarutan endapan kecuali pada beberapa endapan, seperti kalsium sulfat, berlaku sebaliknya.
Perbedaan kelarutan karena suhu ini dapat digunakan sebagai dasar pemisahan kation. Oleh karena
itu, PbCl2 dapat dipisahkan dari kation yang lain dengan menambahkan H2O panas kemudian
mensentrifus dan memisahkannya dari larutan. Adanya filtrat Pb²⁺ dapat diidentifikasi dengan
penambahan K2CrO4 membentuk endapan kuning atau dengan H2SO4 membentuk endapan yang
berwarna putih. Reaksi yang terjadi yaitu :

Pada percobaan kedua yaitu filtrat B ditambahkan dengan larutan NaOH berlebih dan terbentuk
endapan coklat. Kemungkinan kation dalam endapan tersebut yaitu Fe³⁺ dan Mn²⁺. Saat larutan dari
filtrat B ditambahkan dengan NaOH, kation Fe³⁺ bereaksi dengan NaOH dan menyebabkan
mengendapnya kation Fe³⁺ sebagai hidroksidanya Fe(OH)3 ↓ coklat. Selanjutnya pada penambahan
NH3 berlebih + HNO3, terbentuk endapan coklat merah seperti gelatin Fe(OH)3. Apabila kedalam
endapan tersebut ditambahkan NaOH berlebih, menyebabkan endapannya menjadi tidak larut. Hal
tersebut dikarenakan NaOH yang bersifat basa kuat sehingga sulit bereaksi dengan Fe(OH)3 dan
mengakibatkan endapan tidak larut. Kelarutan bergantung juga pada sifat dan konsentrasi bahan
lain yang ada dalam campuran larutan itu. Bahan lain tersebut dikenal dengan ion sekutu dan ion
asing. Umumnya kelarutan endapan berkurang dengan adanya ion sekutu yang berlebih dan dalam
praktiknya ini dilakukan dengan memberikan konsentrasi pereaksi yang berlebih. Tetapi
penambahan pereaksi berlebih ini pada beberapa senyawa memberikan efek yang sebaliknya yaitu
melarutkan endapan. Hal ini terjadi karena adanya pembentukkan kompleks yang dapat larut
dengan ion sekutu tersebut. Sedangkan adanya ion asing menyebabkan kelarutan endapan menjadi
sedikit bertambah, kecuali jika terjadi reaksi kimia antara endapan dengan ion asing. Penambahan
ion asing seperti penambahan asam atau basa kuat dan ligan dapat menyebabkan endapan menjadi
larut kembali. Sedangkan pada Mn²⁺ terbentuk endapan MnO(OH)2 yang berwarna coklat bila
ditambahkan dengan NaOH berlebih. Pada dasarnya, Mn²⁺ bila ditambahkan NaOH (tanpa berlebih)
akan membentuk endapan putih Mn(OH)2, dan jika ditambahkan lagi dengan NaOH berlebih,
endapan menjadi tidak larut. Namun, dengan adanya udara bebas menyebabkan Mn(OH)2 teroksida
dengan cepat membentuk endapan coklat MnO(OH)2. Selanjutnya pada penambahan NH3 berlebih +
HNO3, endapan MnO(OH)2menjadi larut, diakibatkan konsentrasi pereaksi yang berlebih.

Pada percobaan ketiga yaitu filtrat C ditambahkan dengan NH3 dan HNO3 membentuk endapan
putih, sehingga kemungkinan kation yang ada yaitu Al³⁺. Pada penambahan NH3 terbentuk endapan
Al(OH)3 berwarna putih. Hidroksida aluminium ini bersifat amfoter sehingga dapat larut dalam
NaOH. Jika NaOH ditambahkan pada hidroksida aluminium, maka hidroksida selanjutnya dari kation
tersebut akan terbentuk. Tetapi aluminium yang bersifat amfoter akan larut membentuk kompleks
Al(OH)4⁻. Pada penambahan HNO3 dalam filtrat C terdapat kation Al³⁺ dan apabila ditambahkan
NH3 terbentuk endapan putih Al(OH)3.

Jadi, dari hasil pengamatan yang dilakukan dapat diketahui kation-kation yang ada dalam sampel
yang digunakan yaitu Ag⁺, Pb²⁺, Fe³⁺, Mn²⁺, dan Al³⁺.

H. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan, analisis data, dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :

1. Endapan PbCl₂ akan larut dalam air panas karena memiliki kelarutan yang tinggi.

2. Reaksi spesifik ion Ag⁺ + Cl⁻ → AgCl(s) putih.

3. Reaksi spesifik ion Pb²⁺ + Cl⁻ → PbCl₂(s) putih.

4. Reaksi spesifik ion Fe³⁺ + 3OH⁻ → Fe(OH)3(s) coklat.

5. Reaksi spesifik ion Mn²⁺ + 2OH⁻ MnO(OH)2(s) coklat.

6. Pb²⁺ dapat diidentifikasi dengan K2CrO4 membentuk endapan berwarna kuning, karena
terbentuk PbCrO4 setelah sebelumnya diidentifikasi dengan NaCl yang membentuk endapan
putih PbCl2 ↓.

7. Fe³⁺ dapat diidentifikasi dengan NaOH membentuk endapan Fe(OH)3 yang berwarna coklat.

8. Pada endapan-endapan tertentu dapat dipengaruhi oleh kenaikan suhu. Kenaikkan suhu
umumnya dapat memperbesar kelarutan endapan kecuali pada beberapa endapan.

9. Al(OH)3 bersifat amfoter sehingga dapat larut dalam NaOH membentuk kompleks. Reaksi
yang terjadi adalah :

10. Kelarutan dalam suatu endapan dapat dipengaruhi oleh sifat dan konsentrasi bahan yang
ada dalam campuran larutan itu. Kelarutan endapan berkurang dengan adanya pereaksi
yang berlebih. Namun, dalam beberapa senyawa terjadi sebaliknya yaitu dapat melarutkan
endapan.
11. Dari percobaan yang dilakukan, dapat diketahui kation-kation yang terdapat dalam larutan
sampel yang digunakan yaitu Ag⁺, Pb²⁺, Fe³⁺, Mn²⁺, dan Al³⁺.

DAFTAR PUSTAKA

Cokrosarjiwanto. 1997. Kimia Analitik Kualitatif I. Yogyakarta : UNY Press.

Keenan, dkk. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

Masterlon, W.L. 1990. Analisa Kualitatif. http ://www.Chemistry.co.id.Pdf.

Didownload pada tanggal 15 November 2010, pukul 09.30 WITA.

Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro. Jakarta: PT. Kalman
Pusaka.