Anda di halaman 1dari 2

Tugas-1a_SKP-I / PAJA-3335 (02).

Tugas-1a_SKP-I / PAJA-3335 (02)_Kasus:


Saudara mahasiswa,
Silahkan Anda menyelesaikan kasus berikut:
PT Cipta Kereta Kencana adalah sebuah persusahaan karoseri kendaraan bermotor yang
berlokasi di kota Malang-Jawa Timur yang berdiri sejak 25 tahun silam. PT Cipta Kencana ini
merupakan perusahaan keluarga yang telah dimiliki secara turun temurun oleh pengusaha
keturunan Tionghoa, yang saat ini dipimpin oleh seorang perempuan muda bernama Bun Sui
Lie.
PT Cipta Kereta Kencana sebagai perusahaan apabila digolongkan ukuran usahanya adalah
termasuk perusahaan karoseri berskala sedang. Domisili PT Cipta Kereta Kencana sebagai
tempat usaha baik work-shop maupun kantor administrasinya tepat berkedudukan di Jl
Duduksampean No 55 -56, Kidul Pasar, Malang.
Perusahaan karoseri kendaraan ini memiliki kapasitas produksi dalam membuat kendaraan
angkutan bus dan truk secara rata-rata sebanyak 5 kendaraan setiap bulannya, dengan nilai
transaksi sebesar Rp 2.000.000.000,- .
Suatu ketika saat PT Cipta Kereta Kencana harus menyelesaikan kendaraan pesanan dari
para costumer-nya,perusahaan tersebut mengalami kesulitan aliran dana tunai (cash-flow) untuk
membeli bahan baku dan upah pekerja sehingga harus mengutang pada sebuah bank
perkreditan di kota yang sama yaitu Bank Meditenan yang beralamat di Pasar Gede Blok 2b,
kota Malang, dengan nilai pinjaman sebesar Rp 1.250.000.000,-.
Seasuai dengan perjanjian perikatan yang telah dibuat antara PT Cipta Kereta Kencana
dengan Bank Meditenan, PT Cipta KeretaKencana harus membayar bunga atas hutangnya
sebagaimana yang telah diperjanjikan sebelumnya dengan jatuh tempo pada Th 2009 kepada
Bank Meditenan sebesar 10% x Rp 1.250.000.000,- = Rp 12.500.000,- . Dalam perjalanannya
PT Cipta Kereta Kencana yang dipimpin oleh Bun Sui Lie ini benar-benar mematuhi ketentuan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 tentang PPh Pasal 23, dengan menyetor 15% atas
bunga kepada Bank Meditenan. Akan tetapi Bun Sui Lie sendiri sebagai pribadi pengusaha
muda yang belum cukup berpengalaman, Ia benar-benar tidak sadar bahwa dirinya ternyata
masih belum memiliki surat ketetapan PKP sehingga tidak memiliki NPWP sejak Ia memimpin
perusahaan karoseri itu, yaitu mulai dari satu setengah tahun silam (18 bulan).
Sebagaimana pada persoalan semula tentang pemungutan pajak 15% atas bunga yang telah
disetorkan oleh Bun Sui Lie sesuai PPh Pasal 23 tersebut, maka menyikapi keadaan ini pihak
Bank Meditenan sangat berkeberatan atas pemungutan pajak atas bunga tersebut - karena
seluruh penghasilan yang diperolehnya semata-mata hanya dari bisnis bunga seperti tersebut di
atas, dan bunga sebesar Rp 1.250.000.000,- itu lebih kecil dari PTKP-nya sendiri dari Bank
Meditenan. Setoran pajak PPh Pasal 23 tersebut dilakukan oleh PT Cipta Kereta Kencana pada
tanggal 5 Desember 2009.
Dari persoalan tersebut di atas, maka Pertama pada tanggal 12 Pebruari 2010 Bank
Meditenan melakukan pengajuan keberatan atas pemungutan pajak yang telah disetor PT
Cipta Kereta Kencana kepada Ditjen Pajak secara tertulis dengan menyatakan alasan-
alasannya. Kedua sebagaimana adanya WP-Badan baik PT Cipta Kencana maupun Bank
Meditenan dalam hal ini telah mempunyai NPWP, kecuali NPWP-Pribadi atas nama Bun Sui Lie
itu. Ketiga, pada Tgl 18 Pebruari 2010 petugas pemeriksa pajak melakukan pemeriksaan
pembukuan Bank Meditenan, yang berakhir ditemukannya kekeliruan dalam pembukuan, yang
ternyata penghasilan yang diperolehnya lebih besar dari PTKP-nya.
Perintah Tugas:
1. Apa akibat yang timbul dari kasus tersebut di atas termasuk persoalan Bun Sui Lie yang
belum memiliki PKP - NPWP-pribadi tersebut?
2. Apa pula akibat yang timbul dari kasus hasil pemeriksaan petugas pajak, yang ternyata
penghasilan Bank Meditemen melebihi PTKP?
3. Bagaimana menyelesaikan masalah pemungutan pajak ini?
Jawab :

1. Akibat yang ditimbulkan dari kasus tersebut menurut pendapat saya tentu Bun Sui Lie harus
mematuhi perjanjian yg telah di buat antara dia dan pihak bank walau dia belum memiliki
PKP – NPWP pribadi
2. Akibat yg ditimbulkan dr persoalan tersebut tentu akan terjadi ketimpangan dalam laporan
keuangan bank tyersebut
3. Untuk meyelesaikan pajak, pihak bank harus membayar pajak sesuai dengan aturan yg
berlaku sekarang ini.