Anda di halaman 1dari 9

Otonomi Daerah Turunkan Angka Kemiskinan

Senin, 27 April 2009 | 16:42 WIB


Laporan wartawan KOMPAS Adi Sucipto

LAMONGAN, KOMPAS.com - Pada era otonomi daerah, angka kemiskinan di Kabupaten


Lamongan turun drastis sekitar 25 persen. Sesuai data Badan Pusat Statistik jumlah rumah
tangga miskin di Lamongan pada 2005 sebanyak 111.804 rumah tangga menjadi 84.694
rumah tangga miskin pada penghitungan akhir 2008.

Bukan itu saja, dengan otonomi daerah Lamongan juga mampu berinovasi dan mendatangkan
investor untuk berbagai pembangunan termasuk Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan
Lamongan Integrated Shorebase. Menurut Bupati Lamongan Masfuk ,WBL menjadi ikon
wisata Lamongan dan WBL merupakan wujud nyata sinergi positif dari pengelola
pemerintahan daerah bersama unsur masyarakat dan dunia swasta.

Pada peringatan hari ulang tahun Otonomi Daerah (otoda) ke-13 Senin (27/4) Masfuk
mengingatkan fungsi aparat dalam mensukseskan Otoda. Di era otoda, aparatur di daerah
tidak hanya berfungsi sebagai administrator namun dituntut agar bisa menjadi innovator dan
inisiator pembaruan.

Otoda dengan dinamika ekonominya yang sangat tinggi menuntut aparatur di daerah harus
bisa menjadi innovator dan pembaharu bukan sekedar administrator saja. Kalau tidak begitu
maka akan tertinggal dengan daerah lain, katanya.

Menurut Masfuk para aparatur di daerah dengan segala gagasannya harus mampu menguasai
bidang ekonomi dan dunia usaha serta harus mengerti peluang yang ada.

Jika komitmen itu mampu dilaksanakan, sistem otonomi yang dijalankan suatu daerah akan
bekerja seba gaimana mestinya. Pada akhirnya akan mendorong kemajuan dan meningkatkan
daya saing suatu daerah, ujarnya.

Namun tidak bisa dipungkiri proses otoda di Indonesia masih perlu waktu untuk menjadi
sempurna. Namun dia mengajak semua elemen masyarakat Lamongan dengan sadar serta
dilandasi niatan baik untuk terus memantapkan pelaksanaan Otoda. Otoda selayaknya terus
dijalankan dengan sebaik-baiknya agar efektif, efisien, cepat dan tepat dalam realisasinya
untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Ada Kemajuan Berkat Otonomi Daerah
Sudah lebih dari satu dekade otonomi daerah (otda) diterapkan di Indonesia. Selama itu juga,
banyak tantangan yang dihadapi daerah dalam mencapai tujuan final otonomi daerah yaitu
kesejahteraan rakyat. Ada daerah yang berkembang ke arah yang lebih baik, tetapi tidak
sedikit juga daerah yang masih harus berjuang keras memperbaiki daerahnya.

Wakil Presiden (Wapres) Boediono mengatakan, selama lebih dari 12 tahun, ada
kemajuan yang luar biasa di beberapa daerah karena adanya otonomi daerah yang berbasis
pada demokratisasi dan desentralisasi. “Saya melihat ada kemajuan yang cukup luar biasa
pada beberapa daerah otonomi. Meski belum semuanya,” ujar Wapres saat menjadi
pembicara kunci pada puncak Peringatan Hari Otonomi Daerah XV 2011, di Balai Kota
Bogor, Jawa Barat (25/4).

Dalam paparannya terkait pelaksanaan otonomi daerah, Wapres menyoroti isu korupsi
yang belum hilang dari proses penyelenggaraan pemerintahan. “Perlu ada perbaikan-
perbaikan di beberapa sektor, terutama terkait isu korupsi. Untuk itu, pengelolaan keuangan
daerah yang baik bisa menjadi salah satu upaya pencegahan korupsi sehingga esensi otonomi
daerah benar-benar bisa terwujud,” ungkap Wapres. Karena itu, lanjut Wapres, pengelolaan
keuangan yang sehat dan baik oleh setiap pemerintah daerah menjadi mutlak dan penting.

“Bagaimana mengelola keuangan daerah mutlak terus dijaga setertib mungkin. Itu
landasan bagi apapun, termasuk pelayanan publik yang bermuara bagi masyarakat,” ujar
Wapres.

Puncak perayaan Hari Otda yang mengambil tema “Dengan Semangat Otonomi Daerah
Kita Tingkatkan Kinerja Pemerintahan Daerah Dalam Pelayanan Publik dan Inovasi Daerah”
ini juga dihadiri Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Direktur Jenderal Otonomi Daerah
Djohermansyah Djohan, Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf, para gubernur, bupati, dan
walikota yang daerahnya mendapat penghargaan sebagai daerah dengan kinerja pemerintahan
terbaik.

Puncak perayaan Hari Otda ini adalah salah satu rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh
Direktorat Jenderal Otonomi Daerah. Sebelumnya telah digelar berbagai kegiatan, antara lain,
rangkaian seminar nasional, peluncuran desain besar penataan daerah, lokakarya, dan
pameran foto 15 tahun perjalan otonomi daerah.
Dampak otonomi daerah pada pendidikan

Salah satu tuntutan masyarakat untuk mereformasi tatanan kenegaraan adalah otonomi
daerah. Tuntutan ini menjadi urgen dan mendesak ketika sebagian anak bangsa sudah mulai
tercerahkan dan sadar setelah ‘dikibuli’ rezim orde baru yang menerapkan pemerintahan
sentralistik-diskriminatif. Selama lebih tiga dasa warsa masyarakat dipangkas hak-haknya,
bahkan nilai-nilai kemanusiaan-pun harus diseragamkan sedemikian rupa dengan dalih
'persatuan dan kesatuan'. Pasca pemerintahan orde baru, pemerintah mulai berusaha
mengakomodasi tuntutan tersebut yang kemudian dikristalisasikan dalam UU No.22 tahun
1999 tentang pemerintahan daerah, dan UU No.25 tahun 1999 tentang perimbangan
keuangan antara pusat dan daerah.
Sesuai dengan pasal 11 ayat (2) terdapat sebelas bidang yang wajib dilaksanakan oleh daerah
kabupaten dan daerah kota, yaitu; pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan,
pertanian, pertambangan, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup,
pertahanan, koperasi dan tenaga kerja. Dalam tataran konsep, otonomisasi terhadap sebelas
bidang tersebut dirasa cukup bagus dan dapat memenuhi tuntutan masyarakat, tetapi langkah
operasionalisasinya akan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru perlu
dipertimbangkan lebih mendalam. Dalam kaitan ini, ada satu bidang yang cukup menarik
untuk dikaji adalah otonomi di bidang pendidikan.
Dengan menyimak isi UU No.22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan UU No. 25
tahun 1999 tentang pereimbangan keuangan antara pemerintahan pusat dan daerah, dapat
disimpulkan bahwa fokus pelaksanaan otonomi daerah adalah di daerah kabupaten dan
daerah kota. Untuk itu sebagaian besar sumber pembiayaan nasional akan dilimpahkan lebih
banyak ke daerah sesuai dengan potensi dan kemampuan perekonomian daerah yang
berbeda-beda, sementara kewenangan pemerintah terbatas dengan dukungan sumber
pembiayaan yang terbatas pula. Sebagai konsekwensinya, maka berdasarkan pasal 7 ayat (2),
Pemerintah, dalam hal ini Departemen pendidikan Nasional, hanya menetapkan kebijakan
perencanaan dan pembangunan nasional secara makro, standarisasi, kontrol kualitas di bidang
pendidikan termasuk kebudayaan yang bersifat nasional. Dengan demikian, dari segi
kewenangan maupun sumber pembiayaan di bidang pendidikan dan kebudayaan, Daerah
kabupaten dan daerah kota akan memegang peranan penting terutama dalam pelaksanaannya.

Sebagai dampak otonomisasi di atas, terdapat beberapa permasalahan yang perlu


dipertimbangkan lebih mendalam, yaitu yang terkait dengan; kepentingan nasional, mutu
pendidikan, efesiensi pengelolaan, pemerataan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas.
Pertama, Dalam skala nasional pemerintah mempunyai beberapa kepentingan antara lain
sejalan dengan isu wajib belajar (Wajar) dan sebagai upaya mewujudkan salah satu tujuan
nasional "mencerdaskan kehidupan bangsa" (Pembukaan UUD 1945), demikian juga seperti
yang tertuanmg dalam pasal 31 ayat 1 UUD 1945 tentang hak mendapatkan pengajaran.
Persoalannya, bagaimana melalui otonomi daerah, yang besarnya potensi dan sumber
pembiayaan berbeda, dapat menjamin agar tiap-tiap negara memperoleh hak pengajaran. atau
bagaimana dengan otonomi daerah tersebut dapat menjamin bahwa Wajib Belajar pendidikan
dasar sembilan tahun dapat dituntaskan di semua daerah kabupaten/kota dalam waktu yang
relatif sama. Isu lainnya adalah pembentukan "national character building", bahwa otonomi
daerah dilaksanakan dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia, yang diharapkan
warga negara tetap mengetahui hak dan kewajibannya serta memiliki juwa patriotisme,
religius, cinta tanah air, dan seterusnya. Persoalannya, bagaimana pendidikan dapat
mengamankan program pendidikan dengan memberikan peluang kreatifitas dalam keragaman
daerah, tetapi semuanya mengarah secara sentripetal ke kepentingan nasional melalui muatan
yang sama dalam upaya ke arah pembentukan "national character building" tersebut.
Kedua, peningkatan mutu. Bahwa salah satu dasar pemikiran yang melandasi lahirnya
undang-undang pemerintah daerah 1999 adalah untuk menghadapi tantangan persaingan
global. dengan demikian mutu pendidikan diharapkan tidak hanya memenuhi standar
nasional tetapi juga perlu memenuhi standar internasional. Persoalannya, bahwa otonomi
pendidikan sepenuhnya dilakukan oleh Daerah Kabupaten/Kota yang kualitas sumberdaya,
prasarana, dan kemampuan pembiayaannya bisa sangat berbeda, dalam konteks ini
pendidikan di satu sisi berhasil meningkatkan aspirasi pendidikan masyarakat, namun di sisi
lain mutu pendidikan merosot karena sumber dana untuk mendukungnya terbatas.
Ketiga, efesiensi pengelolaan. bahwa otonomi daerah diharapkan dapat meningkatkan
efesiensi pengelolaan dan efesiensi dalam pengalokasian anggaran. Hal ini bisa terjadi
sebaliknya. pengalaman di beberapa negara menunjukkan bahwa dengan otonomi daerah
biaya operasional pendidikan justru meningkat, hal ini disebabkan antara lain karena
bertambahnya struktur organisasi daerah sehingga memerlukan personil yang lebih besar,
terlebih lagi jika ditambah dengan kualitas personil yang tidak profesional. Indonesia yang
selama 32 tahun menganut sistem pengelolaan yang sangat sentralistik akan mempunyai
problem efesiensi pengelolaan seperti tersebut di atas.
Keempat, pemerataan. Pelaksanaan otonomi pendidikan diharapkan dapat meningkatkan
aspirasi masyarakat yang diperkirakan juga akan meningkatnya pemerataan memperoleh
kesempatan pendidikan. tetapi ini akan dibayar mahal dengan semakin tingginya jarak antar
daerah dalam pemerataan akan fasilitas pendidikan yang akhirnya akan mendorong
meningkatnya kepincangan dalam mutu hasil pendidikan. tanpa intervensi pengelolaan,
anggota masyarakat dari daerah kabupaten/kota yang kaya dengan jumlah penduduk sedikit
akan dapat menikmati fasilitas pendidikan yang jauh lebih baik dari anggota masyarakat dari
daerah yang miskin. Dan apabila kesempatan pendidikan ini juga mempengaruhi kesempatan
untuk memperoleh penghasilan, maka dalam jangka panjang akan berpotensi meningkatnya
jurang kesenjangan ekonomi antar daerah.
Kelima, peranserta masyarakat. Bahwa salah satru tujuan UU Pemerintah Daerah adalah
untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas, meningkatkan
peranserta masyarakat, dan seterusnya. Peranserta masyarakat dalam pendidikan dapat berupa
perorangan, kelompok atau lembaga industri. Dalam kerangka otonomi daerah,
kecenderungan peranserta tersebut menjadi terbatas pada lingkup daerah kabupaten/kota yang
bersangkutan, dengan demikian pada masyarakat yang kaya, penyelenggaraan pendidikan di
daerah didukung selain dari peranserta orang tua juga oleh masyarakat sehingga memperoleh
sumber dana yang relatif baik, dan sebaliknya untuk daerah yang miskin. sebab itu tanpa
intervensi kebijakan nasional yang dapat menerapkan subsidi silang, peranserta masyarakat
dalam sistem desentralisasi akan dapat menjurus memperlebar jurang ketimpangan
pemerataan fasilitas pendidikan, yang akhirnya juga akan memperlebar jurang kesenjangan
ekonomi antar daerah.
Keenam, akuntabilitas. Bahwa melalui otonomi pengambilan keputusan yang menyangkut
pelaksanaan layanan jasa pendidikan akan semakin mendekati masyarakat yang dilayaninya
(klien) sehingga akuntabilitas layanan tersebut bergeser dari yang lebih berorientasi kepada
kepentingan pemerintah pusat kepada akuntabilitas yang lebih berorientasi kepada
kepentingan masyarakat. Ini menuntut lebih besar partisipasi masyarakat dan orang tua dalam
pengambilan keputusan tentang pelaksanaan pendidikan di daerah.
Keenam permasalahan tersebut perlu dipertimbangkan lebih mendalam. Paling tidak,
sebelum benar-benar otonomisasi itu dijalankan dan sebelas bidang di atas diserahkan
sepenuhnya pada daerah, maka perlu dilakukan pengkondisian lebih dulu dengan
memperhatikan sumber dana dan sumber daya yang dimiliki masing-masing daerah. Setelah
dianggap mampu menjalankan otonomi, maka kebijakan tersebut dapat diberlakukan
sepenuhnya.
Bagi lembaga-lembaga pendidikan agama, otonomisasi di atas, tidak memberi imbas yang
terlalu jauh, karena kebanyakan dari lembaga-lembaga pendidikan agama tersebut adalah
berstatus swasta yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan menjadi bagian dari
masyarakat itu sendiri, sehingga eksistensi lembaga itu tetap akan dapat dipertahankan,
bahkan lembaga ini akan cepat berkembang pesat karena potensi yang dimiliki masyarakat
akan lebih banyak diarahkan ke lembaga ini. berbeda dengan sekolah-sekolah negeri yang
tingkat ketergantungannya sangat tinggi kepada pemerintah sehingga lembaga inilah yang
sebenarnya perlu diwaspadai eksistensinya ketika diberlakukan otomisasi tersebut.
Demikianlah, jika otonomisasi ini benar-benar dapat diwujudkan dan tiap-tiap daerah dapat
menjalankan kebijakan tersebut, maka akan memberikan arti positif bagi pengembangan
lembaga pendidikan, karena dengan diberikannya kewenangan dan tanggung jawab untuk
mengurusnya, dimungkinkan akan tumbuh kreatifitas, sikap kompetitif, sikap kemandirian
yang tinggi, dan seterusnya. Disampng itu lembaga bersangkutan akan lebih berhati-hati dan
profesional dalam penyelenggaraanya karena mereka langsung diawasi oleh masyarakat.
Pendidikan & Otonomi Daerah
GLOBAL competitiveness menuntut penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Kemajuan suatu
negara dapat diukur dari tingkat pendidikan masyarakatnya. Peran guru sangat strategis dalam proses
pendidikan yang berorientasi pada mutu. Adagium yang menyatakan "tidak ada kurikulum yang baik
atau buruk, yang ada hanya guru yang kompeten dan tidak", masih tetap relevan.

Gerakan reformasi di Indonesia, secara umum menuntut diterapkannya prinsip demokrasi,


desentralisasi, keadilan, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Dalam hubungannya dengan pendidikan, prinsip-prinsip tersebut akan memberikan
dampak yang mendasar pada kandungan, proses, dan manajemen sistem pendidikan. Konsep
demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan yang dituangkan dalam UU Sisdiknas 2003 Bab III
tentang Prinsip Penyelenggaraan Pendidikan (Pasal 4) disebutkan bahwa pendidikan diselenggarakan
secara demokratis dan berkeadilan, serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa (ayat 1). Karena pendidikan
diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat (ayat 3), serta dengan memberdayakan semua komponen masyarakat,
melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Demokratisasi pendidikan hampir muskil terbentuk, bila perlakuan terhadap guru belum sepadan.
Kehadiran Undang-undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, merupakan harapan
memperoleh keadilan berprofesi. Tujuan sertifikasi pada akhirnya diharapkan berdampak pada
peningkatan mutu pendidikan. Dengan demikian, kebijakan tersebut diharapkan dapat direalisasikan
sebagaimana tertuang dalam dokumen tertulis. Tidak perlu ada keraguan atau kepura-puraan dalam
menjalankan kebijakan ini.
Otonomi Daerah Berikan Solusi Untuk Mendorong
Kemajuan Daerah
SEMARANG – Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Gamawan Fauzi mengungkapkan
bahwa kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sampai sejauh ini telah berjalan dengan
baik, dan mendorong penyelenggaraan pemerintahan daerah yang lebih dinamis, serta
mengembangkan partisipasi rakyat.

“Otonomi daerah telah memberikan solusi untuk mendorong kemajuan pembangunan daerah,
dimana daerah diberikan kesempatan yang luas untuk mengembangkan kreativitas dan
inovasinya,” ujar Mendagri dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Wakil Gubernur Jawa
Tengah Dra. Hj. Rustriningsih, MSi pada upacara peringatan Hari Otonomi Daerah Ke-15, di
Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (25/4).

Mendagari berharap peringatan Hari Otonomi Daerah ke-15 ini sebagai momentum untuk
mengevaluasi kinerja yang telah dicapai, sehingga dapat terus memperbaiki penyelenggaraan
otonomi daerah, yang lebih berkualitas dalam pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat
di masa depan.

Sejarah perjalanan otonomi daerah di Indonesia sudah sangat panjang, mulai sejak
diterapkannya kebijakan desentralisasi Zaman Kolonial Belanda tahun 1903 hingga hadirnya
UU Nomor 32 Tahun 2004. “Banyak kemajuan yang telah dicapai, namun harus kita sadari
juga bahwa masih banyak pula yang perlu dibenahi dalam penyelenggaraan pemerintahan
daerah,” ujarnya.

Perkembangan jumlah daerah otonom dalam sepuluh tahun terakhir ini tumbuh dengan pesat.
Terjadi penambahan sebanyak 205 daerah otonom baru, yang terdiri atas 7 provinsi, 164
kabupaten, dan 34 kota.
Pada satu sisi, peningkatan jumlah daerah otonom ini menunjukkan adanya kemajuan dalam
pelaksanaan politik desentralisasi. Namun pertumbuhan jumlah tersebut, tentunya harus
diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan publik di masing-masing daerah.

Untuk itu, pemerintah daerah diharapkan agar dapat mempedomani berbagai regulasi yang
telah disusun, antara lain PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota,
untuk meminimalisir tumpang tindih tugas dan wewenang penyelenggaraan pemerintahan
daerah. Pemerintah Daerah juga sangat perlu untuk memahami dan melaksanakan Peraturan
Pemerintah Nomor 65 Tahun 2006 tentang Pedoman Penerapan Standar Pelayanan Minimal.

Pemerintah daerah diminta untuk menjaga kualitas pelayanan publik, dengan menerapkan
Standar Pelayanan Minimal sebagai parameter kinerja pelayanan dasar, sehingga dapat
memberikan kepastian kualitas pelayanan bagi masyarakat, serta memberikan ruang bagi
mereka untuk ikut berpartisipasi.

Pemerintah daerah juga wajib melakukan evaluasi secara objektif terhadap capaian kinerja
pelayanan publik secara lebih komprehensif, melalui penyusunan Evaluasi Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah yang tepat waktu, sehingga hasilnya dapat menjadi masukan guna
memperbaiki berbagai kekurangan dan kelemahan yang ada.

Dari aspek dukungan regulasi, juga sangat perlu dilakukan penyelarasan seluruh ketentuan
dan peraturan yang telah dikeluarkan sesuai dengan UUD 1945, sehingga terbangun hierarki
dan tertib penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik dari tingkat pusat hingga ke daerah.

Masih terjadinya tumpang tindih aturan, serta bertentangan dengan kepentingan umum dan
perundang-undangan yang lebih tinggi, perlu terus dibenahi agar terwujud sinergi dan
harmonisasi antara Pusat, daerah hingga seluruh komponen pemerintah di tingkat paling
bawah sekalipun.

Semua pihak perlu mengesampingkan egoisme sektoral yang ada, agar proses pendelegasian
wewenang yang menjadi tugas pokok otonomi daerah, dapat berjalan sebagaimana mestinya,
serta menjadi instrumen untuk mewujudkan esensi semangat otonomi, yaitu meningkatkan
kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Rustriningsih juga menyampaikan prestasi Jawa
Tengah dalam pelaksanaan Otonomi Daerah se-Indonesia. Provinsi Jawa Tengah termasuk
dalam urutan tiga besar setelah Sulawesi Utara di urutan pertama dan Sulawesi Selatan di
urutan kedua, yang diusulkan untuk menerima penghargaan tingkat nasional.

Dalam penilaian Otonomi Daerah, Provinsi Jawa Tengah juga menyertakan Kabupaten
Sragen dan Kota Semarang untuk penghargaan sepuluh besar penilaian pelaksanaan Otonomi
Daerah Kabupaten/Kota se Indonesia.

Peringatan kali ini mengusung tema : “Dengan Semangat Otonomi Daerah Kita Tingkatkan
Kinerja Pemerintahan Daerah, dengan Pelayanan Publik dan Inovasi Daerah”.