Anda di halaman 1dari 5

NAMA : EGA ARI LESMANA

NIM : 1601025065
JURUSAN : MANAJEMEN
MATKUL : MANAJEMEN OPRASIONAL 2

MATERIAL REQUIREMENT PLANNING


(MRP)

Material Requirement Planning (MRP) adalah suatu teknik yang digunakan untuk
perencanaan dan pengendalian item barang (komponen) yang tergantung (dependent) pada
item ditingkat (level) yang lebih tinggi. MRP pertama kali ditemukan oleh Joseph Orlicky
dari J.I Case Company pada sekitar tahun 1960.
Metode MRP bersifat Computer Oriented Approach yang terdiri dari sekumpulan
prosedur, aturan-aturan keputusan dan seperangkat mekanisme pencatatan yang dirancang
untuk menjabarkan suatu Master Production Schedule (MPS) MRP selalu berkembang sesuai
dengan tuntutan perkembangan teknologi dan tututan terhadap sistem perusahaan. Sampai
saat ini perkembangan
MRP terjadi sampai dengan 4(empat) kali dan tidak tertutup untuk masa yang akan
datang MRP akan berkembang terus.
Ke-empat perkembangan MRP tersebut adalah:
1. Material Requirement Planning (MRP) adalah suatu teknik atau set prosedur yang
sistematis dalam penentuan kuantitas serta waktu dalam proses pengendalian bahan
terhadap komponen-komponen permintaan yang saling bergantung (Dependent
Demand Item)

2. Material Requirement Planning II (MRP II) adalah perluasan dari MRP, lebih dari
sekedar proses penentuan kebutuhan material. Fenomena ini melahirkan konsep baru
yang disebut Perencanaan Sumberdaya Manufactur (MRP II)

3. Material Requirement Planning III (MRP III) adalah perluasan MRP dalam tingkat
akurasi peramalan, permintaan, penggunaan secara tepat dan baik peramalan
permintaan (Forecast Demand), sehingga dapat merubah Master Production Schedule
(MPS).

4. Material Requirement Planning 9000 (MRP 9000) adalah perluasan MRP yang sudah
merupakan tawaran yang benar-benar lengkap dan terintegrasi dengan sistem
management manufacturing, termasuk juga inventory, penjualan, perencanaan,
pembuatan, dan pembelian menggunakan buku besar. MRP adalah lebih dari sekedar
metode proyeksi kebutuhan-kebutuhan akan komponen individual dari suatu produk.
Sistem MRP mempunyai tiga fungsi utama : kontrol tingkat persediaan, penugasan
komponen berdasar prioritas, dan penentuan kebutuhan kapasitas (capacity
requirement) pada tingkat yang lebih detail daripada proses perencanaan.
Elemen-elemen MRP :

1. Penjadwalan Induk (Master scheduling) : Bertujuan untuk menentukan output fungsi


operasi.
2. Bagan Bahan (Bill of Material) : Bahan-bahan apa saja dan berapa kompisisi untuk
suatu produk.
3. Catatan Sediaan (Inventory Record) : Catatan dari akumulasi transaksi sediaan yang
terjadi di perusahaan atau pabrik.
4. Perencanaan Kapasitas (Capacity Planning)
 Suatu cara membuat perencanaan kapasitas, yaitu :
 Rough Cut Capacity Planning, perencanaan kapasitas pemotongan kasar yang
lebih sedikit melakukan kalkulasi.
 Shop Loading, perencanaan yang lebih akurat daripada Rough Cut Capacity
Planning.
5. Pembelian (Purchasing) : Diperluas fungsinya tidak hanya sekedar membeli, tetapi
termasuk juga membangun kepercayaan pemasok.
6. Pengendalian Pengelola Bengkel (Shop-floor Control) : Bertugas untuk
mengendalikan aliran bahan dengan memperhatikan lead time yang ada. Jangan
sampai terjadi penumpukan akibat tidak lancarnya aliran bahan.

A. Proses MRP

Sistem MRP memerlukan syarat pendahuluan dan asumsi-asumsi yang harus dipenuhi.
Bila syarat pendahuluan dan asumsi-asumsi tersebut telah dipenuhi, maka kita bisa mengolah
MRP dengan empat langkah dasar sebagai berikut :

 NETTING (Penghitungan Kebutuhan Bersih). Kebutuhan bersih (NR) dihitung sebagai


nilai dari Kebutuhan Kotor (GR) minus Jadwal Penerimaan (SR) minus Persediaan
Ditangan (OH. Kebutuhan besih dianggap nol bila NR lebih kecil dari atau sama
dengan nol.
 LOTTING (Penentuan Ukuran Lot). LAngkah ini bertujuan menentukan besarnya
pesanan individu yang optimal berdasarkan hasil dari perhitungan kebutuhan bersih.
Metode yang umum dipakai dalam prakteknya adalah Lot-for Lot (L-4-L).

B. Karakteristik Dasar Sistem MRP


Manajemen persediaan system MRP memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Perhatian terhadap kapan dibutuhkan

Integrasi pemikiran antara fungsi pengawasan produksi dan manajemen prsediaan


mengakibatkan pergeseran perhatian terhadap kapan dibutuhkan ketimbang perhatian
langsung terhadap kapan melakukan pemesanan.

2. Perhatian terhadap prioritas pemesanan

Adanya kesadaran bahwa semua pesanan konsumen tidak memiliki prioritas yang
sama.

3. Penundaan pengiriman permintaan

Konsekuensi dari prioritas pesanan menghasilkan konsep penundaan pengiriman yaitu


menunda produksi atau pesanan terhadap item yang telah dijadwal, untuk memaksimumkan
keseluruhan operasi.

4. Fungsi integrasi

Pengawasan produksi dan manajemen persediaan dipandang sebagai fungsi yang


terintegrasi.

C. Arus Informasi Sistem MRP


1. Master Production Schedule (MPS)

MPS merupakan ringkasan skedul produksi produk jadi untuk periode mendatang yang
dirancang berdasarkan pesanan pelanggan atau ramalan permintaan. System MRP
mengasumsikan bahwa pesanan yang dicatat dalam MPS adalah pasti, kendatipun hanya
merupakan ramalan.

2. Bill Of Material (BOM)

BOM merupakan rangkaian struktur semua komponen yang digunakan untuk


memproduksi barang jadi sesuai dengan MPS. Secara spesifik struktur BOM tidak saja berisi
komposisi komponen, tetapi juga memuat langkah penyeledaian produk jadi. Tanpa adanya
struktur BOM sangat mustahil untuk dapat melaksanakan system MRP.

3. Infentory Master File (IMF)


Terdiri dari semua catatan tentang persediaan produk jadi, komponen dan sub-
komponen lainnya, baik yang sedang dipesan maupun persediaan pengaman.

D. Faktor Kesulitan Dalam MRP

Terdapat lima factor yang mempengaruhi tingkat kesulitan dalam proses MRP, yaitu:

1. Struktur Produk

Semakin rumit struktur produk, akan membuat perhitungan MRP semakin rumit pula.
Struktur produk yang komleks terutama kearah vertical, akan membuat proses penentuan
kebutuhan bersih, penentuan jumlah pesanan optimal, penentuan saat yang tepat melakukan
pasanan, dan penentuan kebutuhan kotor menjadi berulang-ulang.

2. Ukuran Lot

Jika dilihat dari cara pendekatan masalah, terdapat dua aliran dalam penentuan ukuran
lot yaitu, a) pendekatan period dan 2) level by level

3. Tenggang Waktu

Perbedaan dalam tenggang waktu akan menambah kerumitan dalam proses MRP. Oleh
karena itu kita dihadapkan pada masalah penentuan saat paling awal dan saat paling lambat
suatu komponen harus selesai atau disebut dengan lintasan kritis.

4. Perubahan Kebutuhan

MRP dirancang untuk menjadi suatu system yang peka terhadap perubahan baik
perubahan dari luar (permintaa) maupun perubahan dari dalam (kapasitas). Kepekaan ini
bukanlah tidak menimbulkan masalah, perubahan kebutuhan produk akhir tidak hanya
mempengaruhi rencana pemesanan, tetapi juga mempengaruhi jumlah kebutuhan yang
diinginkan.

5. Komponen Yang Bersifat Umum (Communality)

Adanya komponen yang bersifat umum (dibutuhkan lebih dari satu induk item) akan
menimbulkan kesulitan apabila komponen umum tersebut berada pada level yang berbeda.
Sehingga diperlukan tingkat ketelitian yang tinggi, baik dalam jumlah maupun waktu
pelaksanaan pemesanan.

E. Kemampuan Sistem MRP


Ada empat kemampuan yang menjadi ciri utama dari system MRP, yaitu:

 Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat.

Maksudnya adalah menentukan secara tepat “ kapan” suatu pekerjaan harus


diselesaikan atau “ kapan” material harus tersedia untuk memenuhi permintaan atas produk
akhir yang sudah direncanakan pada jadwal induk produksi.

 Membentuk kebutuhan minimal untuk setiap item

Dengan diketahuinya kebutuhan akan produk jadi, MRP dapat menentukan secara
tepat system penjadwalan (berdasarkan prioritas) untuk memenuhi semua kebutuhan minimal
setiap item komponen.

 Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan

Maksudnya adalah memberikan indikasi kapan pemesanan atau pembatalan terhadap


pesanan harus dilakukan, baik pemesanan yang diperoleh dari luar atau dibuat sendiri.

 Mentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu jadwal yang sudah
direncanakan

Apabila kapasitas yang ada tidak mampu memenuhi pesanan yang dijadwalkan pada
waktu yang diinginkan, maka MRP dapat memberikan indikasi untuk melakukan rencana
penjadwalan ulang dengan menentukan prioritas pesanan yang realistis.

Refrensi

http://go-phelz.blogspot.co.id/2011/01/perencanaan-kebutuhan-bahan-mrp.html