Anda di halaman 1dari 8

HASIL DISKUSI BIOFARMASI

SEDIAAN PARENTERAL

1. Nurul fadilla (15020150175)


Jelaskan faktor fisiologi pada aliran darah yang mempengaruhi penyerapan perkutan ?
Jawaban
Aliran Darah
Perubahan debit darah ke dalam kulit secara nyata akan mengubah
kecepatan penembusan molekul. Pada sebagian besar obat obatan, lapisan tanduk
merupakan faktor penentu pada proses penyerapan dan debit darah selalu cukup
untuk menyebabkan senyawa menyetarakan diri dalam perjalanannya. Namun, bila
kulit luka atau bila dipakai cara iontoforesis untuk zat aktif maka jumlah zat aktip
yang menembus akan lebih banyak dan peranan debit darah merupakan faktor yang
menentukan. Demikian pula bila kapasitas penyerapan oleh darah sedikit atau
hiperemi yang disebabkan pemakaian senyawa ester nikotinat, maka akan terjadi
peningkatan penembusan. Akhimya, penyempitan pembuluih darah sebagai akibat
pemakaian setempat dari kortikosteroida akan mengurangi kapasitas alir dari darah,
menyebabkan pembentukan suatu timbunan (efek depo) pada lapisan kulit dan
akan mengganggu penyerapan senyawa yang bersangkutan.
2. Indah Purnama Sari (15020150160)
Bagaimana sediaan dapat terabsorbsi dikuit ?
Jawaban :
Kulit terdiri daro tiga lapisan yaitu lapisan epidermis, dermis, hypodermis atau
subkutan Lapisan epidermis terdiri dari beberapa lapisan yaitu : stratum corneum,
lucidum, granulosum, Malpighi, germinativum.
Absorpsi perkutan melibatkan difusi pasif dari zat melalui kulit. Molekul dapat
menggunakan dua rute difusi untuk menembus kulit normal, rute appendageal
(transapendageal) dan rute epidermal
Proses perjalanan obat dari sediaan transdermal menuju sirkulasi sistemik
dimulai dari disolusi obat, tahapan difusi dan partisi, pembentukan depot obat,
metabolisme dan pengambilan melalui kapiler dan vasklator. Namun, absorpsi perkutan
suatu obat secara umum dihasilkan dari penetrasi obat langsung melalui stratum
korneum. Setelah melalui stratum korneum, molekul obat dapat melintasi jaringan
epidermal yang lebih dalam melalui difusi pasif dan memasuki dermis. Jika obat
mecapai pembuluh darah pada lapisan dermal obat dapat masuk kedalam sirkulasi
sistemik
3. Muhammad Ali Hanafi (15020150239)
Dari penjelasannya Cuma dijelaskan mengenai proses penyerapan dari sedian lotion,
pertanyaan saya, tolong jelaskan bagaimana penyerapan sediaan topical selain dari
lotion
Jawaban :
1. Bedak kocok
Bedak kocok adalah suatu campuran air yang di dalamnya ditambahkan
komponen bedak dengan bahan perekat seperti gliserin. Bedak kocok ini ditujukan
agar zat aktif dapat diaplikasikan secara luas di atas permukaan kulit dan berkontak
lebih lama dari pada bentuk sediaan bedak serta berpenetrasi kelapisan kulit.
2. Pasta
Pasta ialah campuran salep dan bedak sehingga komponen pasta terdiri dari
bahan untuk salep misalnya vaselin dan bahan bedak seperti talcum, oxydum
zincicum. Pasta merupakan salep padat, kaku yang tidak meleleh pada suhu tubuh
dan berfungsi sebagai lapisan pelindung pada bagian yang diolesi. Efek pasta lebih
melekat dibandingkan salep, mempunyai daya penetrasi dan daya maserasi lebih
rendah dari salep.
3. Gel
Gel merupakan sediaan setengah padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat
dari partikel organik dan anorganik. Gel dikelompokkan ke dalam gel fase tunggal
dan fase ganda. Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organic yang tersebar
dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan antara molekul
besar yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat dari makromolekul
sintetik (misalnya karbomer) atau dari gom alam (seperti tragakan). Karbomer
membuat gel menjadi sangat jernih dan halus. Gel fase ganda yaitu gel yang terdiri
dari jaringan partikel yang terpisah misalnya gel alumunium hidroksida. Gel ini
merupakan suatu suspensi yang terdiri dari alumunium hidroksida yang tidak larut
dan alumunium oksida hidrat. Sediaan ini berbentuk kental, berwarna putih, yang
efektif untuk menetralkan asam klorida dalam lambung. Gel segera mencair jika
berkontak dengan kulit dan membentuk satu lapisan. Absorpsi pada kulit lebih baik
dari pada krim.
4. Krim
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Formulasi krim
ada dua, yaitu sebagai emulsi air dalam minyak (W/O), misalnya cold cream, dan
minyak dalam air (O/W) vanishing cream , Krim ini bersifat ambifi lik artinya
berkhasiat sebagai W/O atau O/W. Krim dipakai pada kelainan yang kering, superfi
sial. Krim memiliki kelebihan dibandingkan salep karena nyaman, dapat dipakai di
daerah lipatan dan kulit berambut.
4. Dwi Novrianty Busaeri (15020150163)
Jelaskan masing-masing fungsi dari kulit ?
Jawaban :
1. Melindungi Tubuh Manusia
Kulit merupakan garis depan pertahanan tubuh manusia dari patogen, zat kimia,
sinar matahari, dan gangguan fisik. Kulit merupakan pembatas antara bagian dalam
tubuh dengan lingkungan luar. Lingkungan luar sesungguhnya sangat berbahaya
karena patogen (bakteri penyebab penyakit) bisa menyebar lewat udara atau
permukaan benda. Selain itu, kulit juga dapat melindungi tubuh dari goresan benda
tajam. Pada kulit terdapat sel. Langerhans merupakan bagian dari sistem
pertahanan tubuh spesifik. pH kulit yang berada di antara 5 sampai 6,5 juga dapat
mencegah tumbuhnya jamur dan infeksi.
2. Sebagai Alat Perangsang
Kulit memiliki banyak reseptor pada lapisan dermis dan subkutaneus yang
berfungsi untuk mengetahui rangsangan dari lingkungan luar. Rangsangan tersebut
dapat berupa panas, dingin, sentuhan, tekanan, getaran, dan nyeri. Rangsangan
tersebut dikirim dan diolah oleh sistem saraf pada manusia dan menghasilkan
sebuah respon.
3. Pengatur Suhu Tubuh (Termoregulasi)
Kulit mengandung darah lebih banyak dari yang diperlukan yang dapat
mengatur energi yang hilang karena radiasi, konveksi, dan konduksi. Suhu tubuh
normal adalah 36,6 sampai 37,2 derajat celcius. Jika suhu lingkungan panas,
pembuluh darah akan melebar (vasodilatasi) untuk meningkatkan perfusi dan
pendinginan tubuh. Sedangkan jika suhu lingkungan dingin, pembuluh darah akan
menyempit (vasokonstriksi) untuk menurunkan aliran darah pada kulit dan menjaga
panas tubuh.
4. Mengatur Penguapan
Kulit memiliki pembatas yang relatif kering dan semi impermeabel untuk
mengatur kehilangan cairan. Kehilangan fungsi ini dapat menyebabkan tubuh
banyak kehilangan cairan (dehidrasi) akibat pembakaran yang terjadi di dalam
tubuh.
5. Komunikasi
Orang lain dapat melihat kulit kita dan dapat menilai suasana hati (mood), dan
kondisi fisik hanya dari lekuk kulit kita. Emosi manusia juga dapat terlihat jelas
karena pada kulit terdapat pembuluh darah dan otot.
6. Keindahan
Lekuk kulit dan kerutan kulit juga dapat menentukan persepsi orang lain apakah
kita cantik/tampan atau tidak.
7. Penyimpanan
Kulit dapat bertindak sebagai tempat penyimpanan lipid (lemak) dan air dalam
lapisan subkutaneus. Lemak pada kulit dapat dijadikan cadangan energi.
8. Sintesis
Kulit dapat mensintesis vitamin D dengan bantuan paparan sinar UV pada kulit.
Vitamin D sangat bermanfaat untuk pertumbuhan tulang karena dapat membantu
penyerapan kalsium ke pembuluh darah. Sintesis vitamin D dilakukan dengan
mengaktivasi prekusor 7-dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet.
Enzim di hati dan ginjal memodifikasi prekusor dan menghasilkan calcitriol
(vitamin D aktif).
9. Ekskresi
Kulit merupakan salah satu dari empat sistem ekskresi pada manusia. Kulit
mengekskresi keringat di kelenjar keringat yang mengandung urea walaupun
kadarnya hanya 1/130 kadar urea pada urine. Selain urea, keringat juga
mengandung asam urat, amonia, dan NaCl (garam). Kulit mengeluarkan sekitar 1
liter keringat setiap hari melalui pori-pori kulit. Keringat yang keluar pada kulit juga
berfungsi sebagai pengatur suhu.
10. Absorpsi (Penyerapan)
Sel kulit yang berada di bagian paling luar sampai kedalaman 0,25–0,4 mm bisa
mendapatkan suplai oksigen dari lingkungan luar tubuh. Meskipun tidak sebanyak
yang diterima dari darah. Obat-obatan seperti kortison juga dapat masuk melalui
kulit dengan salep atau perekat. Beberapa jenis zat juga dapat masuk ke dalam kulit
seperti vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin K, aseton, merkuri, oksigen, dan
karbon dioksida. Kulit juga menjadi jalur masuk bagi beberapa organisme.
Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh ketebalan kulit, hidrasi, kelembaban,
dan metabolisme. Absorpsi lebih banyak berlangsung melalui celah antarsel
daripada melalui muara saluran kelenjar.
11. Penahan Air
Kulit dapat menjadi penahan air sehingga nutrisi penting tidak bisa tercuci
keluar dari tubuh. Kulit juga mempunyai lapisan sebum untuk mengurangi
penguapan air secara berlebihan.
12. Mendukung Gerakan dan Pertumbuhan
Kulit juga dapat mendukung berbagai gerakan yang dilakukan manusia dan
pertumbuhan pada manusia. Itu dikarenakan sifat kulit sangat elastis dan sel kulit
dapat berkembang seiring pertumbuhan tubuh.
HASIL DISKUSI BIOFARMASI

STUDI BIOFARMASETIK SEDIAAN MELALUI KULIT

1. Adisti Qama (15020150158)


Jelaskan proses LDA dari intradermal, intramuskular, intravena dan subkutan. Brikan
contoh obatnya ?
Jawaban
a. Intradermal (ID) : Penyuntikan ke Kulit dibawah Epidermis.
Pada pemberian obat secara intradermal biasanya untuk tes kulit (seperti
skrining tuberculin dan tes alergi). Karena obat bersifat poten, maka obat
disuntikkan ke kulit di mana aliran darah tidak banyak sehingga obat diserap
perlahan-lahan. Cairan yang disuntikkan biasanya dalam jumlah yang sangat kecil
0,1-0,5 cc. Obat yang sering diberikan dengan cara injeksi intradermal adalah
kostrikosteroid dan tes mantoux
2. Subkutan (Sub-Q) : Penyuntikan ke Jaringan tepat di bawah Lapisan Dermis
Kulit.
Injeksi di bawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak
merangsang dan melarut baik dalam air atau minyak. Efeknya tidak secepat injeksi
intramuscular atau intravena. Mudah dilakukan sendiri, misalnya insulin pada
penyakit gula. Tempat yang paling tepat untuk melakukan injeksi subkutan meliputi
area vaskular di sekitar bagian luar lengan atas, abdomen dari batas bawah kosta
sampai krista iliaka, dan bagian anterior paha. Tempat yang paling sering
direkomendasikan untuk injeksi heparin ialah abdomen. Tempat yang lain meliputi
daerah scapula di punggung atas dan daerah ventral atas atau gloteus dorsal. Tempat
yang dipilih ini harus bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang,
dan otot atau saraf besar dibawahnya. Obat yang diberikan melalui rute SC hanya
obat dosis kecil yang larut dalam air (0,5 sampai 1 ml). Jaringan SC sensitif terhadap
larutan yang mengiritasi dan obat dalam volume besar. Kumpulan obat dalam
jaringan dapat menimbulkan abses steril yang tak tampak seperti gumpalan yang
mengeras dan nyeri di bawah kulit.contoh obat yaitu insulin.
3. Intramuskular (IM) : Penyuntikan terhadap otot.
Pemberian obt secara intramuscular memiliki laju penyerapan obat yang lebih
cepat karena daerah ini memiliki jaringan pembuluh darah yang banyak terdapat di
otot. Bahaya kerusakan jaringan berkurang ketika obat memasuki otot yang dalam
tetapi bila tidak berhati-hati ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh
darah. Dengan injeksi di dalam otot yang terlarut berlangsung dalam waktu 10-30
menit. Guna memperlambat reabsorbsi dengan maksud memperpanjag kerja obat,
seringkali digunakan larutan atau suspensi dalam minyak, umpamanya suspensi
penisilin dan hormone kelamin. Tempat injeksi umumnya dipilih pada otot pantat
yang tidak banyak memiliki pembuluh dan saraf. Cairan yang digunakan biasanya
dalam jumlah kecil, antara 0,5-10 cc. Obat yang sering diinjeksikan cara im
: metoclopramide, codein, suntikan KB, macam2 vaksin
4. Intravena (IV): Penyuntiksn ke Dalam Pembuluh Vena.
Memasukkan sejumlah zat/cairan ke dalam sistem peredaran darah melalui vena
dengan jarum suntik. Injeksi dalam pembuluh darah menghasilkan efek tercepat
dalam waktu 18 detik, yaitu waktu satu peredaran darah, obat sudah tersebar ke
seluruh jaringan. Tetapi, lama kerja obat biasanya hanya singkat. Cara ini digunakan
untuk mencapai penakaran yang tepat dan dapat dipercaya, atau efek yang sangat
cepat dan kuat.. Efek zat yang diberikan akan sangat cepat menyebar ke seluruh
bagian tubuh penderita, karena langsung masuk ke pembuluh darah. Contoh obat
yang digunakan antibiotik
5. Muchlishah (15020150165)
Jelaskan kenapa harus ditentukan pHnya pada sediaan parenteral ?
Jawaban :
Sediaan parenteral merupakan sediaan steril yang biasanya diberikan melalui beberapa
rute pemberian seperti intravena, intraspinal, intramuskular, subkutan dan intradermal.
Nah, kenapa harus ditentukan pHnya karena contohnya pada pemberian secara
intramuskuler apabila obat disuntikkan obat akan masuk ke pembuluh darah
disekitarnya secara difusi pasif kemudian masuk ke dalam sirukulasi. Cara ini sesuai
dengan bahan obat baik itu bersifat lipofilik maupun hidrofilik. Pemberian secara
intramuskuler ini dapat diterima dalam bentuk sediaan larutan, suspensi atau emulsi.
Nah, penentuan pH dilakukan apabila bentuk sediaannya berupa larutan. Jadi harus
dintentukan terlebih dahulu pH larutannya.
Kemudian, untuk sediaan parenteral dibutuhkan sediaan yang isotonis. Dimana pada
sediaan isotonis konsentrasi dari zat aktif harus sama dengan pH yang sesuai dengan
fisiologis tubuh. Penentuan pH juga dapat disesuaikan dengan keadaan stabil dari zat
aktif agar tidak terjadi inkompatibilitas.
6. Nisra Azis (15020150161)
Kenapa sediaan parenteral dapat memberikan respon alergi ?
Jawaban :
Respon alergi biasa dialami oleh pasien karena adanya kerugian dari sediaan
parenteral yaitu dapat menyebabkan resiko alergi apabila sediaan tidak steril atau
pengerjaannya yang tidak steril. Adanya kontaminasi dari mikroba yang
mengakibatkan sediaan tidak steril dan disuntuikan ketubuh pasien sehingga dapat
menyebabkan alergi. Atau bisa juga terjadi karena pasien yang tidak cocok terhadap
suatu bahan dari sediaan parenteral maka bahan tersebut akan cepat terabsorpsi ke
dalam tubuh dan memberikan respon alergi dengan cepat.
7. Marsellawaty chandra pakaya (15020150159)
Bagaimana uji pirogen untuk evaluasi biofarmasi sediaan parenteral ?
Jawaban :
Pirogen merupakan substansi yang mampu menyebabkan demam terutama dari
bakteri gram negatif yang terdiri atas suatu senyawa kompleks lipopilisakarida.
Uji pirogenitas adalah uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah suatu sediaan
uji bebas pirogen atau tidak dengan maksud untuk membatasi resiko reaksi demam
yang dapat diterima oleh pasien apabila diinjeksi dengan suatu sediaan farmasi.
Alat dan pengencer. Alat suntik, jarum dan alat kaca dibebas pirogenkan dengan
pemanasan pada suhu 250oC selama tidak kurang dari 30 menit atau dengan cara
lain sesuai dengan perlakuan semua pengencer dan larutan untuk pencuci dan
pembilas alat suntik dengan cara sedemikian rupa yang dapat menjamin alat
tersebut steril dan bebas pirogen. Lakukan uji pirogen terhadap pengencer dan
larutan pencuci dan pembilas secara berkala. Ukur suhu awal kelinci secara
seksama. Setelah itu kelinci tidak diberi makan tetapi tetap diberi minum dalam
jangka waktu tertentu, ukur suhu tubuh kelinci secara berkala selama 48 jam selama
2 minggu setelah digunakan untuk uji pirogen bila menunjukkan kenaikkan suhu
max 0,60 derajat atau lebih.