Anda di halaman 1dari 13

SIKLUS AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perkembangan kegiatan pemerintahan atau dikenal akuntansi sektor publik dan organisasi non-laba
terus meningkat sejalan dengan perkembangan kegiatan pembangunan, globalisasi dan era
informasi. Dalam melaksanakan kegiatan yang semakin rumit, informasi memegang peranan
semakin penting. Salah satu informasi yang dibutuhkan adalah informasi akuntansi sektor publik,
baik untuk tujuan pertanggungjawaban maupun manajerial.

Sebagai mahasiswa jurusan akuntansi, informasi mengenai akuntansi sektor publik sangatlah
penting. Oleh karena itu penulis berusaha menyajikan informasi mengenai akuntansi sektor publik
dalam bentuk makalah yang berjudul “Siklus Akuntansi Sektor Publik”.

Rumusan Masalah

Bagaimana siklus akuntansi sector public?

Bagaimana analisis laporan keuangan sector public?

Apa tujuan akuntansi sector public?

Tujuan Penulisan

Berikut beberapa tujuan yang ingin dicapai penulis dalam menyusun makalah yang berjudul “Siklus
Akuntansi Sektor Publik” sebagai berikut.

Para pembaca dapat memahami ruang lingkup akuntansi sector public.


Agar para pembaca dapat mengetahui bagaimana tahap-tahap siklus akuntansi sector public.

BAB 2

ISI

Pada hakikatnya, orang belum dapat dikatakan paham dalam penyusunan laporan keuangan jika
belum memahami siklus akuntansi. Kenapa? Akuntansi, pada dasarnya, merupakan suatu proses
pengolahan informasi yang menghasilkan keluaran berupa informasi akuntansi, yang salah satu
bentuknya adalah laporan keuangan.

Laporan keuangan adalah hasil akhir dari suatu proses akuntansi, yaitu aktivitas pengumpulan dan
pengolahan data keuangan untuk disajikan dalam bentuk laporan keuangan atau ikhtisar-ikhtisar
lainnya yang dapat digunakan untuk membantu para pemakainya dalam mengambil keputusan.
Penyusunan suatu laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan dan dipertanggung-
jelaskan serta dapat diterima secara umum, didasari pada prinsip akuntansi, prosedur-prosedur,
metode-metode, serta teknik-teknik yang tercakup dalam ruang lingkup akuntansi. Aturan
penyusunan suatu laporan keuangan dapat disebut sebagai siklus akuntansi.

“…..Siklus akuntansi merupakan sistematika pencatatan transaksi keuangan, peringkasannya, dan


pelaporan keuangan….”

Siklus akuntansi merupakan suatu proses penyediaan laporan keuangan organisasi suatu periode
akuntansi tertentu. Siklus akuntansi terbagi menjadi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan selama
periode tersebut, bersumber dari transaksi atau kejadian selanjutnya dimulailah siklus akuntansi
mulai dari penjurnalan transaksi atau kejadian, pemindahbukuan ke dalam buku besar, dan
penyiapan laporan keuangan pada akhir periode. Pekerjaan yang dilakukan pada akhir periode
termasuk mempersiapkan akun untuk mencatat transaksi-transaksi pada periode selanjutnya.
Banyaknya langkah yang harus dilakukan pada akhir periode secara tidak langsung menunjukkan
bahwa sebagian besar pekerjaan dilakukan pada bagian akhir. Walaupun demikian, pencatatan dan
pemindahbukuan selama periode tersebut membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan
pekerjaan di akhir periode.

Proses Pencatatan Siklus Akuntansi

Sekali lagi siklus akuntansi merupakan serangkaian prosedur kegiatan akuntansi dalam suatu
periode, mulai dari pencatatan transaksi pertama sampai dengan penyusunan laporan keuangan dan
penutupan pembukuan secara keseluruhan, dan siap untuk pencatatan transaksi periode
selanjutnya. Alur proses siklus akuntansi dapat dikelompokkan dalam tiga tahap, yaitu:

Tahap-tahap dalam Siklus Akuntansi

Sumber : Bastian: 2006:214

Urutan perancangan komponen siklus akuntansi meliputi:

Urutan siklus akuntansi menunjukkan posisi strategis dari chart of account (bagan
perkiraan/daftar akun). Untuk dapat menyediakan data, setiap transaksi perlu diklasifikasikan,
diringkas, dan kemudian disajikan dalam bentuk laporan. Mulai dari kegiatan pencatatan sampai
dengan penyajian disebut proses akuntansi yang terdiri dari beberapa kegiatan sebagai berikut:

Pencatatan dan

PenggolonganBukti-bukti pembukuan dicatat dalam buku jurnal. Transaksi-transaksi yang sama yang
sering terjadi dicatat dalam buku jurnal khusus.Peringkasan/

pengikhtisaranTransaksi-transaksi yang sudah dicatat dan digolongkan dalam buku jurnal, setiap
bulan atau periode tertentu diringkas dan dibukukan dalam rekening-rekening buku
besar.Penyajian/

PelaporanData akuntansi yang tercatat dalam rekening-rekening buku besar akan disajikan dalam
bentuk laporan keuangan yaitu neraca, laporan surplus defisit, laporan arus kas dan laporan
perubahan ekuitas. Penyerderhanaan pekerjaan penyusunan laporan keuangan biasanya dilakukan
melalui neraca lajur (kertas kerja).
Proses akuntansi ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Bukti-bukti pembukuan dicatat dalam buku jurnal setiap terjadi transaksi secara kronologis.
Tembusan bukti-bukti pembukuan dibukukan ke dalam buku pembantu setiap terjadi transaksi.
Setiap bulan atau periode tertentu, buku jurnal dijumlah dan dibukukan ke akun-akun dalam buku
besar. Setiap akhir periode dari buku besar disusun laporan-laporan keuangan. Sistem akuntansi
yang baik dapat memastikan berjalannya proses penyusunan laporan keuangan, seperti:

Bukti-bukti pembukuan, yang merupakan catatan pertama dari setiap transaksi dan digunakan
sebagai dasar pencatatan dalam buku jurnal.

Buku-buku jurnal, sering disebut dengan buku catatan pertama, merupakan buku yang digunakan
untuk mencatat transaksi-transaksi sesuai dengan tanggal terjadinya (kronologis), dan sumber
pencatatannya berasal dari bukti-bukti pembukuan. Apabila suatu transaksi yang sama sering terjadi,
biasanya dibuatkan buku jurnal khusus yang digunakan untuk mencatat suatu jenis transaksi
tertentu seperti jurnal pengeluaran kas, dan lain-lain.

Akun-akun, buku besar, dan catatan yang ada dalam buku jurnal akan dipindahkan ke dalam akun-
akun yang sesuai. Akun-akun ini disusun dalam format yang akan memudahkan penyusunan laporan
keuangan. Kumpulan dari akun-akun ini disebut sebagai buku besar. Akun-akun dalam buku besar ini
bisa diklasifikasikan menjadi kelompok akun riil, nominal, dan campuran.

Akun riil adalah akun-akun aktiva, kewajiban, dan ekuitas yang merupakan pos-pos neraca, sehingga
akun-akun riil itu merupakan akun-akun neraca. Akun nominal adalah akun-akun pendapatan, biaya,
dan surplus/defisit yang merupakan pos-pos dalam laporan surplus/defisit, sehingga akun-akun
nominal itu merupakan akun surplus/defisit.

Akun campuran adalah akun-akun yang saldonya mengandung unsur-unsur akun riil dan nominal.
Setiap akhir periode, akun-akun campuran ini perlu dianalisis dan dipisahkan menjadi akun riil dan
nominal. Contoh akun-akun campuran adalah akun pembantu kantor yang didalamnya terdiri dari
jumlah bahan pembantu yang digunakan dan persediaan bahan pembantu.

Proses Pencatatan Siklus Akuntansi Sektor Publik


Ketika melakukan pencatatan akuntansi, basis akuntansi dan fokus pengukuran merupakan duahal
yang penting. Basis akuntansi menentukan kapan transaksi dan peristiwa yang terjadi diakuiatau
dicatat, sedangkan fokus pengukuran menentukan aset atau kewajiban apa saja yang akandiakui
dalam neraca. Kedua hal ini juga saling berkaitan. Ketika basis kas dipilih, maka transaksi dicatat
pada saat kas diterima dan dibayarkan sehingga hanya akun kas dan ekuitas yang dilaporkan dalam
Neraca. Lain halnya ketika basis akrual yang digunakan, transaksi akan dicatat jika secara
ekonomi telah terjadi, tanpa harus menunggu kas diterima atau dibayarkan.Akibatnya, dengan basis
akrual ini, akun-akun yang dilaporkan dalam Neraca tidak sebatas akunkas saja, namun semua
sumber daya yang dimiliki, utang, dan ekuitas.Keunggulan penggunaan basis akrual ini adalah
informasi yang disajikan dalam Neraca akan lebih komprehensif karena mempresentasikan seluruh
sumber daya yang dimiliki entitas.

Sayangnya, basis akrual sepenuhnya ini belum bisa diterapkan oleh semua entitas akuntansi.Entitas
pemerintah merupakan entitas yang memiliki karakteristik unik dalam basis akuntansinya.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 yang mengatur StandarAkuntansi
Pemerintahan (SAP), basis akuntansi yang digunakan entitas pemerintah adalah basis kas menuju
akrual (cash toward accrual ). Dengan basis ini, aset, kewajiban, dan ekuitas dana dicatat dengan
berbasis akrual sedangkan komponen Laporan Realisasi Anggaran seperti pendapatan, belanja, dan
pembiayaan dicatat dengan basis kas. Konsekuensi dari penggunaan basis kas menuju akrual ini
adalah dibutuhkannya penggunaan jurnal korolari. Untuk
memudahkan pemahaman, penulis akan memberikan bagai- mana jurnal korolari ini digunakan.

Contoh pertama, misalnya terjadi transaksi pembelian kendaraan senilai 100.000.000 secara
tunai. Karena segala pengeluaran yang melibatkan kas harus disajikan dalam Laporan Realisasi
Anggaran dengan basis kas, maka transaksi ini akan dicatat dengan cara:

Dr. Belanja Kendaraan Rp100.000.000

Cr. Kas Rp 100.000.000

Belanja kendaraan merupakan akun nominal yang akan disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran,
sedangkan kas merupakan akun riil yang akan disajikan dalam Neraca. Akibatnya,apabila hanya
jurnal tersebut yang dibuat, maka hanya akun kas yang disajikan sebagai bagianaktiva Neraca.
Padahal, menurut SAP, Neraca pemerintah harus disajikan dengan basis akrualatau
memperesentasikan semua sumber daya yang dimiliki dan tidak terbatas kas saja. Karena itulah,
dibutuhkan jurnal tambahan yaitu jurnal korolari sebagai solusi penerapan basis kasmenuju akrual
ini. Masih mengacu pada transaksi di atas, maka pencatatan yang sebaiknya adalah:
Dr. Belanja Kendaraan Rp. 100.000.000

Cr. Kas Rp. 100.000.000

Jurnal Korolari:

Dr. Kendaraan Rp. 100.000.000

Cr. Ekuitas dana yang diinvestasikan dalam aset tetap Rp. 100.000.000

Dengan adanya jurnal korolari, belanja kendaraan telah sesuai dicatat dengan basis kas dan disajikan
dalam Laporan Realisasi Anggaran. Disisi lain, Neraca telah disajikan dengan basis akrual
karena mempresentasikan semua sumber daya yang dimiliki dimana akun yang disajikandalam
Neraca tidak hanya kas dan ekuitas dana, tetapi juga aset tetap seperti kendaraan.

Contoh lain, misalnya Pemerintah Daerah melakukan pinjaman kepada Pemerintah Pusat
sebesar Rp 50.000.000 yang akan jatuh tempo dalam lima tahun mendatang dengan bunga pinjaman
10% per tahun. Pembayaran bunga dilakukan setiap tahun pada tanggal 15 januari. Jurnal yang
akandibuat pada akhir tahun berdasarkan basis akrual adalah pengakuan utang bunga yaitu sebesar
Rp5.000.000 (10%*Rp50.000.000). Jurnalnya sebagai berikut:

Jurnal Korolari:

Dr. Ekuitas dana yang harus disediakan untuk pembayaranbungaRp 5.000.000

Cr. Utang bunga Rp 5.000.000

Sedangkan jurnal yang dibuat ketika pembayaran bunga (15 Januari) adalah:

Dr. Belanja bunga Rp 5.000.000


Cr. Kas Rp 5.000.000

Dr. Utang bunga Rp 5.000.000

Cr. Ekuitas dana yang harus disediakan untuk pembayaran bunga Rp 5.000.000

Pencatatan transaksi tersebut telah sesuai dengan SAP karena telah menyajikan akun Neraca dengan
basis akrual dan menyajikan akun Laporan Reliasasi Anggaran dengan basis kas.Maka dapat
disimpulkan, jurnal korolari ini penting supaya transaksi yang melibatkan akun riilselain kas bisa
tetap disajikan dalam Neraca dan disisi lain komponen Laporan RealisasiAnggaran seperti
pendapatan, belanja, dan pembiayaan tetap dapat pula disajikan.

Dalam kaitannya dengan anggaran APBN maupun APBD, perencanaan manajerial, serta proses
pengawasan dalam entitas pemerintah dengan sistem akuntansi dapat digambarkan dalam bagan
alir dibawah ini. Bagan alir itu merupakan perpaduan antara sistem pengendalian manajemen
entitas pemerintah dengan sistem akuntansinya.

C. Analisis Keuangan Laporan Keuangan Sektor Publik

Laporan keuangan sektor publik merupakan representasi posisi keuangan dari transaksi-transaksi
yang dilakukan oleh suatu entitas sektor publik. Tujuan umum pelaporan keuangan adalah untuk
memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan arus kas dari suatu entitas yang
berguna bagi sejumlah besar pemakai (wide range users) dalam membuat dan mengevaluasi
keputusan mengenai alokasi sumber daya yang dibutuhkan oleh suatu entitas dalam aktivitasnya
untuk mencapai tujuan.

Komponen – Komponen Laporan Keuangan Sektor Publik

Laporan keuangan terdiri dari:

(a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA);


(b) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (Laporan Perubahan SAL);

(c) Neraca;

(d) Laporan Operasional (LO);

(e) Laporan Arus Kas (LAK);

(f) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE);

(g) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Tujuan Dan Fungsi Laporan Keuangan Sektor Publik

Secara umum, tujuan dan fungsi laporan keuangan sektor publik adalah :

Untuk memberikan informasi yang digunakan dalam pembuatan keputusan ekonomi,sosial, dan
politik serta sebagai bukti pertanggungjawaban (accontability) dan pengelolaan (stewardship).

Untuk memberikan informasi yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan
organisasional. Laporan keuangan untuk mendukung pembuatan keputusan ekonomi, sosial, dan
politik tersebut meliputi informasi yang digunakan untuk :

a. membandingkan kinerja keuangan aktual dengan yang dianggarkan

b. menilai kondisi keuangan dan hasil-hasil operasi

c. membantu menentukan tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang terkait dengan
masalah keuangan lainnya
d. membantu dalam mengevaluasi efisiensi dan efektivitas.

Govermental Accounting Standards Board (GASB) dalam Concepts Statement No. 1 tentang
Objectives of Finacial Reporting menyatakan bahwa akuntabilitas merupakan dasar dari pelaporan
keuangan di pemerintah. Akuntabilitas merupakan tujuan tertinggi pelaporan keuangan pemerintah.
GASB menjelaskan keterkaitan akuntabilitas dan pelaporan keuangan sebagai berikut :

…Accountability requires governments to answer to the citizenry to justify the raising of


publicresources and the purpose for which they are used. Governmental accountability is based on
the belief that the citizenry has a “right to know,” a right to receive openly declared facts that may
lead to public debate by the citizens and their elected representatives. Financial reporting plays a
major role in fulfilling government’s duty to be publicly accountable in a democratic society

(par.56).

Laporan keuangan sebagai sumber informasi financial memiliki pengaruh yang sangat besar
terhadap kualitas keputusan yang dihasilkan. Laporan keuangan merupakan tindakan pragmatis,
oleh karena itu laporan keuangan pemerintah harus dievaluasi dalam hal manfaat laporan tersebut
terhadap kualitas keputusan yang dihasilkan serta mudah tidaknya laporankeuangan tersebut oleh
pemakai. Dalam konteks akuntansi sector public, jenis informasi yang diberikan untuk pengambilan
keputusan adalah terbatas pada informasi yang bersifat financial saja, sedangkan informasi financial
itu sendiri adalah informasi yang diukur dengan satuan moneter. Secara rinci tujuan akuntansi dan
laporan keuangan organisasi pemerintah adalah :

1 Memberikan informasi keuangan untuk menemukan dan memprediksi aliran kas, saldoneraca, dan
kebutuhan sumber daya financial jangka pendek unit pemerintah.

2 Memberikan informasi keuangan untuk menentukan dan memprediksi kondisi ekonomisuatu unit
pemerintahan dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya.

3 Memberikan informasi keuangan untuk memonitor kinerja, kesesuiannya denganperaturan


perundang-undangan, kontrak yang telah di sepakati, dan ketentuan lain yangdi syaratkan.
4 Memberikan informasi untuk perencanaan dan penganggaran, serta untuk memprediksipengaruh
akuisisi dan alokasi sumber daya terhadap pencapaian tujuan operasional.

5 Memberikan informasi untuk mengevaluasi kinerja manajerial dan operasional.

Perencanaan dan Penganggaran

Anggaran merupakan alat perencanaan sekaligus alat pengendalian pemerintah. Anggaran sebagai
alat perencanaan mengindikasikan target yang harus dicapai oleh pemerintah, sedangkan anggaran
sebagai alat pengendalian mengindikasikan alokasi sumber dana yang di setujui legislatif untuk
dibelanjakan. Proses penganggaran sector public melibatkan partisipasi banyak pihak, sehingga
informasi financial sangat diperlukan agar public dapat mengevaluasi anggaran yang diajukan
pemerintah. Membuat anggaran membutuhkan pertimbangan-pertimbangan teknis akuntansi yang
matang. Dalam membuat anggaran, akuntansi dibutuhkan terutama untuk mengestimasi biaya
program dan memprediksi kondisi ekonomi pemerintah dan perubahan-perubahan yang akan
terjadi. Informasi akuntansi sangat membantu dalam pemilihan program yang efektif sesuai dengan
kemampuan ekonomi pemerintah.

Kinerja Manajerial dan Organisasional

Kinerja pemerintah tidak dapat dinilai berdasarkan laba yang diperoleh, karena organisasi
pemerintah bukan entitas bisnis yang mencari laba. Mungkin saja pemerintah memiliki program atau
aktivitas yang dari program tersebut dihasilkan pendapatan yang lebih besar dari biayanya, sehingga
pemerintah mengalami surplus atas program tersebut. Akan tetapi, surplus yang diperoleh tidak
berarrti menunjukkan kinerja unit pemerintah yang bagus sebab harus dilihat juga apakah surplus
tersebut karena tariff yang terlalu tinggi yang dibebankan kepada public, termasuk tingkat kualitas
pelayanan yang diberikan apakah sudah memadai. Laba bukan merupakan ukuran yang relevan bagi
unit pemerintah. Akuntansi sector public berfungsi untuk memfasilitasi terciptanya alat ukur kinerja
sector public yang memadai. Ukuran kinerja sector public dapat berupa biaya program, efisiensi, dan
efektivitas program. Akuntan sector public bertanggung jawab untuk menetapkan biaya program
dan menghitung tingkatefisiensi dan efektivitas program. Pengukuran efisiensi memerlukan
informasi biaya, sehingga biaya pelayanan dapat dijadikan sebagai salah satu ukuran kinerja. Selain
informasi biaya, pengukuran efisiensi memerlukan penghitungan output atau hasil. Akan tetapi,
output pada sector public lebih banyak berupa intangible output , sehingga pengukuran efisiensi
sering mengalami kesulitan. Ukuran kinerja yang kemudian dikembangkan adalah pengukurane
fektivitas. Karena sulitanya mengukur secara tepat kinerja di sector public, maka analisis terakhir
adalah dengan mempertimbangkan seberapa jauh suatu program dan pelayanan memenuhi
kebutuhan masyarakat relative terhadap biaya yang dikeluarkan.
Pemakai Laporan Keuangan Sektor Publik Dan Kepentingannya

Pada bahasan ini akan dilakukan pengklasifikasian pengguna laporan keuangan dan kebutuhan
masing-masing kelompok pengguna laporan keuangan sector public tersebut. Drebin et al. (1981)
mengidentifikasikan terdapat sepuluh kelompok pemakai laporan keuangan. Lebih lanjut Drebin
menjelaskan keterkaitan antar kelompok pemakai laporan keuangan tersebut dan menjelaskan
kebutuhannya. Kesepuluh kelompok pamakai laporan keuangan tersebut adalah:

1. Pembayar pajak (taxpayers)

2. Pemberi dana bantuan (grantors)

3. Investor

4. Pengguna jasa (fee-paying service recipients)

5. Karyawan/pegawai6. Pemasok (vendor)

7. Dewan legislatif

8. Manajemen

9. Pemilih (voters)

10. Badan pengawas (oversight bodies)

Pengklasifikasian tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa pembayar pajak, pemberi dana
bantuan, investor, dan pembayar jasa pelayanan merupakan sumber penyedia keuangan organisasi;
karyawan dan pemasok merupakan penyedia tenaga kerja dan sumber daya material; dewan
legislative dan manajemen membuat keputusan alokasi sumber daya; dan aktivitas mereka semua
diawasi oleh pemilih dan badan pengawas, termasuk level pemerintahan yanglebih tinggi.

Hak Dan Kebutuhan Pemakai Laporan Keuangan

Pada dasarnya masyarakat (publik) memiliki hak dasar terhadap pemerintah, yaitu :

a. Hak untuk mengetahui (right to know), yaitu : suatu kebijakan dan keputusan tertentu

b. Hak untuk diberi informasi (right to be informed) yang meliputi hak untuk diberi penjelasansecara
terbuka atas permasalahan-permasalahan tertentu yang menjadi perdebatan publik.

c. Hak untuk didengar aspirasinya (right to be heard and to be listen to).

Laporan keuangan pemerintah merupakan hak publik yang harus diberikan oleh pemerintah, baik
pusat maupun daerah. Hak publik atas informasi keuangan muncul sebagai konsekuensi konsep
pertanggungjawaban publik. Pertanggungjawaban publik mensyaratkan organisasi publik untuk
memberikan laporan keuangan sebagai bukti pertanggungjawaban dan pengelolaan (accountability
& stewardship). Setiap pemakai laporan memiliki kebutuhan dan kepentingan yang berbeda – beda
terrhadap informasi keuangan yang diberikan oleh pemerintah. Bahkan di antara kelompok pemakai
laporan keuangan tersebut dapat timbul konflik kepentingan. Laporan keuangan pemerintah
disediakan untuk memberi informasi kepada berbagai kelompok pemakai, meskipunsetiap kelompok
pemakai memiliki kebutuhan informasi yang berbeda – beda. Kebutuhan informasi pemakai laporan
keuangan pemerintah tersebut dapat diringkas sebagai berikut :

1. Masyarakat pengguna pelayanan publik membutuhkan informasi atas biaya, harga, dankualitas
pelayanan yang diberikan.

2. Masyarakat pembayar pajak dan pemberi bantuan ingin mengetahui keberadaan danpenggunaan
dana yang telah diberikan. Publik ingin mengetahui apakah pemerintah melakukan ketaatan fiskal
dan ketaatan pada peraturan perundangan atas pengeluaran – pengeluaran yang dilakukan.
3. Kreditor dan investor membutuhkan informasi untuk menghiitung tingkat risiko, likuiditas, dan
solvabilitas.

4. Parlemen dan kelompok politik memerlukan informasi keuangan untuk melakukan


fungsipengawasan, mencegah terjadinya laporan yang bias atas kondisi keuangan pemerintah, dan
penyelewengan keuangan negara.

5. Manajer publik membutuhkan informasi akuntansi sebagai komponen sistem informasi


manajemen untuk membantu perencanaan dan pengendalian organisasi, pengukuran kinerja, dan
membandingkan kinerja organisasi antar kurun waktu dan dengan organisasi lain yang sejenis.

6. Pegawai membutuhkan informasi atas gaji dan manajemen kompensasi.

BAB 3

PENUTUP

Siklus akuntansi merupakan suatu proses penyediaan laporan keuangan organisasi suatu periode
akuntansi tertentu. Siklus akuntansi terbagi menjadi pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan selama
periode tersebut, bersumber dari transaksi atau kejadian selanjutnya dimulailah siklus akuntansi
mulai dari penjurnalan transaksi atau kejadian, pemindahbukuan ke dalam buku besar, dan
penyiapan laporan keuangan pada akhir periode. Pekerjaan yang dilakukan pada akhir periode
termasuk mempersiapkan akun untuk mencatat transaksi-transaksi pada periode selanjutnya.
Banyaknya langkah yang harus dilakukan pada akhir periode secara tidak langsung menunjukkan
bahwa sebagian besar pekerjaan dilakukan pada bagian akhir. Walaupun demikian, pencatatan dan
pemindahbukuan selama periode tersebut membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan
pekerjaan di akhir periode.