Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hidrosefalus adalah keadaan dimana terjadi akumulasi CSS yang


berlebihan padasatu atau lebih ventrikel dan ruang subarakhnoid. Hidrosefalus
adalah kesatuan klinik yang dibedakan oleh tiga faktor: peninggian tekanan
intraventrikuler, penambahanvolume CSS, dan dilatasi rongga CS.Secara klinis
peninggian tekanan intraventrikuler, volume CSS, dan ukuranventrikel
menimbulkan kelainan berikut: pembesaran kepala, penonjolan fontanel,separasi
sutura, tanda MacEwen positif, fenomena setting sun, scalp yang
mengkilap,dilatasi vena scalp, strabismus konvergen atau divergen, tangis yang
high pitched, postur opistotonik, dan kegagalan untuk berkembang.Pada
kebanyakan hidrosefalus dini atau ringan, hanya perubahan ringan padasutura,
fontanel, scalp, dan gerak bola mata yang dijumpai. Pada hidrosefalus yang
berkembang lambat, gejala mungkin tidak tampil hingga pasien mulai berjalan,
dimanakeadaan ini dibuktikan dengan langkah berdasar, lebar para paresis,
hemianopia bitemporal, dan retardasi mental.Insiden hidrosefalus antara 0,2- 4
setiap 1000 kelahiran. Insiden hidrosefaluskonginetal adalah 0,5- 1,8 pada tiap
1000 kelahiran dan 11 % - 43 % disebabkan olehstenosis aquaductus serebri.Oleh
karena itu , penulis tertarik untuk mengangkat judul yang berkaitan
denganhidrosefalus ini.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa definisi hidrosefalus?


2. Apa saja anatomi dan fisiologi hidrosefalus?
3. Bagaimana patofisiologi hidrosefalus?
4. Bagaimana etiologi hidrosefalus?
5. Bagaimana klasifikasi dan manisfestasi klinik hidrosefalus?
6. Bagaimana gejala klinis hidrosefalus?
7. Apa saja pemeriksaan dan diagnosis hidrosefalus?
8. Apa saja komplikasi dari hidrosefalus?
9. Bagaimana penatalaksanaan pada hidrosefalus ?
10. Bagaimana prognosis dari hidrosefalus?

1
C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui definisi hidrosefalus.


2. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi hidrosefalus.
3. Untuk mengetahui patofisiologi hidrosefalus.
4. Untuk mengetahui etiologi hidrosefalus.
5. Untuk mengetahui klasifikasi dan manisfestasi klinik dari hidrosefalus.
6. Untuk mengetahui gejala klinis hidrosefalus.
7. Untuk mengetahui pemeriksaan dan diagnosis hidrosefalus.
8. Untuk mengetahui komplikasi dari hidrosefalus.
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan hidrosefalus.
10. Untuk mengetahui prognosis dari hidrosefalus.

D. MANFAAT

Adapun mannfaat dari makalah ini adalah untuk lebih memahami tentang
apa itu penyakit saraf Hidrosefalus. Baik dari penyebab, gejala, dan pengobatan
Hidrosefalus.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Hidrosefalus berasal dari kata hidro yang berarti air dan chepalon yang berarti
kepala. Hidrosefalus merupakan penumpukan cairan serebrospinal (CSS) secara aktif
yang menyebabkan dilatasi sistem ventrikel otak dimana terjadi akumulasi CSS yang
berlebihan pada satu atau lebih ventrikel atau ruang subarachnoid.(Poppy
Wijaya,2006).
Hidrosefalus adalah keadaan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinalis ( CSS ) dengan atau pernah dengan tekanan intra
kronial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan mengalirkan CSS. ( Ilmu
Kesehatan Anak 2 , hal 238 ).
Hidrosefalus adalah akumulasi cairan serebrospinal dalam ventikrel serebral,
ruang subarachnoid atau ruang subdural. ( Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 1
hal 496 ).
Hidrocefalus adalah keadaan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinal (CSS) dengan atau pernah dengan tekanan
intracranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirkan
CSS. Harus dibedakan dengan pengumpulan cairan local tanpa tekanan intrakranial
yang meniggi seperti pada pelebaran ruangan CSS akibat tertimbunnya CSS yang
menempati ruangan, sesudah terjadinya atrofi otak.
(Staf Pengajar Ilmu Kesehatn Anak Fak.Kedokteran UI.Ilmu Kesehatan Anak
jilid:2,hal.874).
Hidrocefalus merupakan pembesaran abnormal dari ventrikel otak yang
disebabkan oleh peningkatan gradien tekanan antara cairan intraventrikel dan otak.
(Rosa M.Sacharin. Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi:2, Hal.285).
Hidrosefalus adalah keadaan patologik otak yang mengakibatkan
bertambahnya CSS dengan atau pernah dengan tekanan intracranial (TIK) yang

3
meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS. (Ngastiyah.
Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Hal 196).
Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinal dengan atau pernah dengan tekanan intrakranial
yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel (Darsono, 2005:209).
Pelebaran ventrikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi dan
absorbsi cairan serebrospinal. Hidrosefalus selalu bersifat sekunder, sebagai akibat
penyakit atau kerusakan otak. Adanya kelainan-kelainan tersebut menyebabkan
kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun (DeVito EE
et al, 2007:328).
Hidrosefalus adalah jenis penyakit yang terjadi akibat gangguan aliran cairan
di dalam otak(cairan serebro spinal).Gangguan itu menyebabkan cairan tersebut
bertambah banyak yang selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya,
khususnya pusat-pusat saraf yang vital.
Hidrosefalus adalah suatu keadaan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinalis, disebabkan baik oleh produksi yang berlebihan
maupun gangguan absorpsi, dengan atau pernah disertai tekanan intrakanial yang
meninggi sehingga terjadi pelebaran ruangan-ruangan tempat aliran cairan
serebrospinalis. (Divisi Neuropediatri Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak – FK
Unair/RSU Dr. Soetomo Surabaya).
Jadi hidrosefalus adalah suatu keadaan patologik otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinal sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat
mengalirnya cairan serebrospinal.

4
B. ANATOMI DAN FISIOLOGI

1.1 Gambar Anatomi bagian bagian otak

Struktur anatomi yang berkaitan dengan hidrosefalus, yaitu bangunan-


bangunan dimana CSS berada.
Sistem ventrikel otak dan kanalis sentralis.
1. Ventrikel lateralis
Ada dua, terletak didalam hemispherii telencephalon.Kedua ventrikel lateralis
berhubungan denga ventrikel III (ventrikel tertius)melalui foramen
interventrikularis (Monro).
2. Ventrikel III (Ventrikel Tertius)
Terletak pada diencephalon.Dinding lateralnya dibentuk oleh thalamus dengan
adhesio interthalamica dan hypothalamus.Recessus opticus dan infundibularis
menonjol ke anterior, danrecessus suprapinealis dan recessus pinealis ke arah
kaudal.Ventrikel III berhubungan dengan ventrikel IV melalui suatu lubangkecil,
yaitu aquaductus Sylvii (aquaductus cerebri).
3. Ventrikel IV (Ventrikel Quartus)
Membentuk ruang berbentuk kubah diatas fossa rhomboidea antara cerebellum dan
medulla serta membentang sepanjangrecessus lateralis pada kedua sisi.Masing-
masing recessusberakhir pada foramen Luschka, muara lateral ventrikel
IV.Padaperlekatan vellum medullare anterior terdapat apertura medianaMagendie.
4. Kanalis sentralis medula oblongata dan medula spinalis

5
Saluran sentral korda spinalis: saluran kecil yang memanjang sepanjang korda
spinalis, dilapisi sel-sel ependimal. Diatas,melanjut ke dalam medula oblongata,
dimana ia membuka kedalam ventrikel IV.
5. Ruang subarakhnoidal
Merupakan ruang yang terletak diantara lapisan arakhnoid dan piamater.

fisiologi cairan cerebro spinalis

1.2 Ventrikel otak, Ventriculi encephali, dan rongga subarachnoidea, Spatium


subarachnoideum, potongan median; dari medial.

a. Pembentukan CSF
Normal CSF diproduksi + 0,35 ml / menit atau 500 ml / hari dengan demikian
CSF di perbaharui setiap 8 jam. Pada anak dengan hidrosefalus, produksi CSF
ternyata berkurang + 0, 30 / menit. CSF di bentuk oleh PPA;
1. Plexus choroideus (yang merupakan bagian terbesar
2. Parenchym otak
3. Arachnoid
b. Sirkulasi CSF
Melalui pemeriksaan radio isotop, ternyata CSF mengalir dari tempat
pembentuknya ke tempat ke tempat absorpsinya. CSF mengalir dari II ventrikel
lateralis melalui sepasang foramen Monro ke dalam ventrikel III, dari sini melalui

6
aquaductus Sylvius menuju ventrikel IV. Melalui satu pasang foramen Lusckha CSF
mengalir cerebello pontine dan cisterna prepontis. Cairan yang keluar dari foramen
Magindie menuju cisterna magna. Dari sini mengalir kesuperior dalam rongga
subarachnoid spinalis dan ke cranial menuju cisterna infra tentorial.Melalui cisterna
di supratentorial dan kedua hemisfere cortex cerebri. Sirkulasi berakhir di sinus
Doramatis di mana terjadi absorbsi melalui villi arachnoid.

C. PATOFISIOLOGI
Hidrocefalus menurut Avril B. Kligmen (1999) terjadi sebagi akibat dari 3
mekanisme yaitu: produksi liguor yang berlebihan, peningkatan resistensi aliran
liguor dan peningkatan tekanan sinus venosa sebagai, konskwensi dari tiga
mekanisme ini adalah peningkatan TIK sebagai upayamempertahankan
keseimbangan sekresi dan observasi berbeda-beda setiap saat selama perkembangan
Hidrocefalus. Dialatasi ini terjadi sebagai akibat dari:
 Kompresi sistem serebrovaskular
 Redistribusi dari liquor serebrospinalis atau cairan ekstra selular atau
keduanya di dalam sistem susunan saraf pusat.
 Perubahan mekanis dari otak
 Efek tekanan denyut liquor cerebrospinalis
 Hilangnya jaringan otak
 Pembesaran volume tengkorak akibat adanya regangan abnormal pada sutura
kranial

CSS dihasilkan oleh plexus choroideus dan mengalir dari ventrikel lateral ke
dalam ventrikel III, dan dari sini melalui aquaductusmasuk ke ventrikel IV. Di sana
cairan ini memasuki spatium liquorserebrospinalis externum melalui foramen lateralis
dan medialis dariventrikel IV. Pengaliran CSS ke dalam sirkulasi vena sebagian
terjadimelalui villi arachnoidea, yang menonjol ke dalam sinus venosus atauke dalam
lacuna laterales; dan sebagian lagi pada tempat keluarnyanervi spinalis, tempat
terjadinya peralihan ke dalam plexus venosusyang padat dan ke dalam selubung-
selubung saraf (suatu jalan kecirculus lymphaticus).

7
Kecepatan pembentukan CSS 0,3-0,4 cc/menit atau antara 0,2-0,5% volume
total per menit dan ada yang menyebut antara 14-38cc/jam. Sekresi total CSS dalam
24 jam adalah sekitar 500-600cc,sedangkan jumblah total CSS adalah 150 cc, berarti
dalam 1 hari terjadi pertukaran atau pembaharuan dari CSS sebanyak 4-5
kali/hari.Pada neonatus jumblah total CSS berkisar 20-50 cc dan akanmeningkat
sesuai usia sampai mencapai 150 cc pada orang dewasa.Hidrosefalus timbul akibat
terjadi ketidak seimbangan antaraproduksi dengan absorpsi dan gangguan sirkulasi
CSS.

SKEMA PATOFISIOLOGI HIDROCEPALUS

8
Hidrocefalus

Kepala membesar CSS Berlebih Peningkatan TIK

Gangguan aliran
Kulit meregang hingga tipis / Mual / muntah darah ke otak
pasien tidak dapat bergerak
atau menggerakkan kepala

Lemas, Nyeri, Perfusi jaringan


lelah,letih serebral tak efektif
Kerusakan
mobilisasi

Penurunan fungsi
neurologis
Resiko terjadi Krisis pada
dekubitus keluarga

Kurang
pengetahuan
Proses perubahan
keluarga cemas

Kurang info

9
PATHWAY
Infeksi

Perdarahan
Perlekatan meningen

Fibrosis
Liptomeninge Kelainan Obliterasi Subasakhnoid
n Kongenital

Hidrocefalus

Kepala CSS Peningkatan TIK


membesar Berlebih

Penekanan Gangguan aliran


saraf lokal darah ke otak

Sekresi prostagladin,
Kulit meregang hingga
bradikinin
tipis / pasien tidak Gangguan
dapat bergerak atau perfusi jaringan
menggerakkan kepala serebral

Nyeri

Saraf tertekan ( N.Vagus,


Kerusakan
glosofaringeal, facialis)
mobilisasi

Mual / muntah
Anoreksia
Imobilasi
Aktivitas
Kekurangan
cairan
Nutrisi kurang
Krisis pada dari kebutuhan
keluarga

Kurang Kecemasan
Kurang info
pengetahua
n
10
D. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya hidrosefalus pada bayi dan anak dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Penyebab bawaan (kongenital):
1) Stenosis akuaduktus silvii (10%)
2) Malformasi Dandy-Walker (2-4%)
3) Malformasi Arnold-Chiari tipe 1 dan 2
4) Agenesis Foramen Monro
5) Toksoplasmosis kongenital
6) Sindroma Bickers-Adams
b. Penyebab dapatan:
1) Tumor (20%), misalnya meduloblastoma, astrositoma, kista, abses atau
hematoma
2) Perdarahan intraventrikular
3) Meningitis bakterial
4) Peningkatan tekanan sinus venosus (akondroplasia, kraniostenosis atau
trombosis venous)
5) Iatrogenik: Hipervitaminosis A dapat menyebabkan peningkatan sekresi
cairan serebrospinal atau meningkatkan permeabilitas sawar darah otak,
sehingga menimbulkan hidrosefalus.

E. KLASIFIKASI DAN MANIFESTASI KLINIS


Terdapat berbagai macam klasifikasi hydrocephalus yang bergantung pada
faktor yang terkait. Klasifikasi hydrocephalus berdasarkan :
1. Gambaran Klinis
a. Hydrocephalus yang manifes (overt hydrocephalus)
merupakan hydrocephalus yang tampak jelas dengan tanda – tanda klinis yang
khas.
b.Hydrocephalus yang tersembunyi (occult hydrocephalus)
merupakan hydrocephalus dengan ukuran kepala yang normal.
2.Waktu pembentukan
a. Hydrocephalus Kongenital merupakan hydrocephalus yang terjadi pada
neonatus atau yang berkembang selama intrauterine.

11
b.Hydrocephalus Infantil merupakan hydrocephalus yang terjadi karena
cedera kepala selama proses kelahiran.
c. Hydrocephalus Akuisita merupakan hydrocephalus yang terjadi selama
masa neonatus atau disebabkan oleh faktor – faktor lain setelah masa
neonatus.
3. Proses terbentuknya
a.Hydrocephalus Akut adalah hydrocephalus yang terjadi secara mendadak
sebagai akibat obstruksi atau gangguan absorbsi CSS.
b. Hydrocephalus Kronik adalah hydrocephalus yang terjadi setelah aliran
serebrospinal mengalami obstruksi beberapa minggu atau bulan atau tahun.
c.Hydrocephalus Subakut adalah hydrocephalus yang terjadi diantara
waktu hydrocephalus akut dan kronik.
4. Sirkulasi cairan serebrospinal
a. Hydrocephalus Komunikans adalah hydrocephalus yang memperlihatkan
adanya hubungan antara CSS system ventrikulus dan CSS dari ruang
subaraknoid
b. Hydrocephalus non – Komunikans berarti terdapat hambatan sirkulasi
cairan serebrospinal dalam sistem ventrikel sendiri

1. Berdasarkan Anatomi / tempat obstruksi CSS


1.1 Hidrosefalus Primer
Hidrosefalus primer merupakan kelainan akumulasi CSS biasanya disertai
dengan kenaikan tekanan intracranial. Hal ini disebabkan oleh :
 Sumbatan aliran CSS (hidrosefalus non-komunitas)
Apabila obstruksinya terdapat terdapat didalam sistem ventrikel sehingga
menghambat aliran bebas dari CSS.Biasanya gangguan yang terjadi pada hidrosefalus
kongenital adalah pada sistem vertikal sehingga terjadi bentuk hidrosefalus non
komunikan.Biasanya diakibatkan obstruksi dalam sistem ventrikuler yang mencegah
bersikulasinya CSS. Kondisi tersebut sering dijumpai pada orang lanjut usia yang
berhubungan dengan malformasi congenital pada system saraf pusat atau diperoleh
dari lesi (space occuping lesion) ataupun bekas luka. Pada klien dewasa dapat terjadi

12
sebagai akibat dari obstruksi lesi pada sistem ventricular atau bentukan jaringan
adhesi atau bekas luka didalam system di dalam system ventricular. Pada klien
dengan garis sutura yang berfungsi atau pada anak–anak dibawah usia 12–18 bulan
dengan tekanan intraranialnya tinggi mencapai ekstrim, tanda–tanda dan gejala–
gejala kenaikan ICP dapat dikenali. Pada anak-anak yang garis suturanya tidak
bergabung terdapat pemisahan / separasi garis sutura dan pembesaran kepala.

 Gangguan absorpsi CSS pada vili arachnoid (jarang)


Apabila obstruksinya terdapat pada rongga subaracnoid, sehingga terdapat
aliran bebas CSS dalam sistem ventrikel sampai ke tempat sumbatan.Jenis ini tidak
terdapat obstruksi pada aliran CSS tetapi villus arachnoid untuk mengabsorbsi CSS
terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional.Umumnya terdapat
pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya villus arachnoid dengan
darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien memperkembangkan
tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP).
Jenis ini tidak terdapat obstruksi pada aliran CSS tetapi villus arachnoid untuk
mengabsorbsi CSS terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit atau malfungsional.
Umumnya terdapat pada orang dewasa, biasanya disebabkan karena dipenuhinya
villus arachnoid dengan darah sesudah terjadinya hemmorhage subarachnoid (klien
memperkembangkan tanda dan gejala – gejala peningkatan ICP)

 Produk CSS berlebihan oleh neoplasma pleksus koroid (sangat jarang)


Di tandai pembesaran sister basilar dan fentrikel disertai dengan kompresi
jaringan serebral, dapat terjadi atrofi serebral. Tekanan intrakranial biasanya normal,
gejala – gejala dan tanda – tanda lainnya meliputi ; dimentia, ataxic gait, incontinentia
urine. Kelainan ini berhubungan dengan cedera kepala, hemmorhage serebral atau
thrombosis, mengitis; pada beberapa kasus (Kelompok umur 60 – 70 tahun) ada
kemingkinan ditemukan hubungan tersebut.
Hidrosefalus sekunder
Pada hidrosefalus sekunder atau hidrosefalus kompensatori peningkatan volume CSS
terjadi setelah hilangnya jaringan otak, misalnya infark atau atrofi serebral, yang

13
karenanya secara keseluruhan tidak ditemukan peningkatan baik volume intracranial
maupun tekanan intracranial.

1.2 Berdasarkan Etiologinya


1.2.1 Hidrosefalus Obstruktif
Hidrosefalus obstruktif adalah akumulasi berlebihan CSS di dalam
ventrikel disebabkan obstruksi terhadap aliran CSS yang melalui sistem
ventrikel.(Kaye, 2005).
Pada hydrosefalus obstruktif, yang terjadi lebih sering daripada 8
jenis yang lain, cairan cerebrospinal dari ventrikel tidak dapat mencapai
rongga subarachnoid karena terdapat obstruksi pada salah satu atau kedua
foramen interventricular, aquaductus cerebrum atau pada muara keluar
dari ventrikel keempat. Hambatan pada setiap tempat ini dengan cepat
menimbulkan dilatasi pada satu atau lebih ventrikel. Produksi cairan
cerebrospinal terus berlanjut dan pada tahap obstruksi yang akut, mungkin
terdapat aliran cerebrospinal transependim. Girus-girus memipih pada
bagian dalam tengkorak. Jika tengkorak masih lentur, seperti pada
kebanyakan anak di bawah usia 2 tahun, maka kepala dapat membesar

Penyebab Hydrocephalus Obstruktif:


a. Obstruksi ventrikel lateral oleh tumor, misalnya glioma pada basal
ganglia, thalamic glioma.
b. Obstruksi ventrikel ketiga, karena kista koloid dari ventrikel ke-3
atau glioma dari ventrikel ke-3.
c. Oklusi dari aquaduktus Sylvius (baik Stenosis primer atau
sekunder karena tumor).
d. Obstruksi ventrikel keempat karena tumor Fosa posterior ,
misalnya medulloblastoma, ependymoma, akustik Neuroma
( Fallon, 2010)

1.2.2 Hidrosefalus kongenital


Hidrosefalus kongenital terjadi sekitar 1 per 1000 kelahiran dan
kadang-kadang sangat jelas berupa kepala bayi yang besar sehingga
mengganggu persalinan. Bentuk yang lebih berat dapat di diagnosis

14
antenatal dengan pemeriksaan ultrasonografi. Malformasi kongenital,
misalnya malformasi Arnold-Chiari, merupakan penyebab terjadinya
hidrosefalus kongenital. Beberapa kasus pada pria diakibatkan oleh
gangguan yang di dapat, misalnya infeksi virus yang mempengaruhi baik
pria maupun wanita.

1. Stenosis akuaduktus serebri

1.3 Stenosis Akuaduktus Serebri

Mempunyai berbagai penyebab. Kebanyakan disebabkan oleh infeksi atau perdarahan


selama kehidupan fetal; stenosis kongenital sejati adalah sangat jarang.
(Toxoplasma/T.gondii, Rubella/German measles, X-linked hidrosefalus).

2. Sindrom Dandy-Walker

15
1.4 Sindrom Dandy-Walker

Malformasi ini melibatkan 2-4% bayi baru lahir dengan hidrosefalus.


Etiologinya tidak diketahui. Malformasi ini berupa ekspansi kistik ventrikel IV dan
hipoplasia vermis serebelum. Hidrosefalus yang terjadi diakibatkan oleh hubungan
antara dilatasi ventrikel IV dan rongga subarachnoid yang tidak adekuat; dan hal ini
dapat tampil pada saat lahir, namun 80% kasusnya biasanya tampak dalam 3 bulan
pertama. Kasus semacam ini sering terjadi bersamaan dengan anomali lainnya seperti
agenesis korpus kalosum, labiopalatoskhisis, anomali okuler, anomali jantung, dan
sebagainya

3. Malformasi Arnold-Chiari

16
1.1 Malformasi Arnold-Chiari

Anomali kongenital yang jarang dimana 2 bagian otak yaitu batang otak dan
cerebelum mengalami perpanjangan dari ukuran normal dan menonjol keluar menuju
canalis spinalis

4. Aneurisma vena Galeni

1.6 A.gambar dari MRI dan B.Gambar dari Fluoroskopi


Kerusakan vaskuler yang terjadi pada saat kelahiran, tetapi secara normal tidak dapat
dideteksi sampai anak berusia beberapa bulan. Hal ini terjadi karena vena Galen
mengalir di atas akuaduktus Sylvii, menggembung dan membentuk kantong
aneurisma. Seringkali menyebabkan hidrosefalus.

5. Hidrancephaly
Suatu kondisi dimana hemisfer otak tidak ada dan diganti dengan kantong CSS.
1.2.3 Hidrosefalus didapat

17
Hidrosefalus yang didapat dapat terjadi dari lesi apapun yang
menghambat aliran CSS.Perluasan lesi pada fosa posterios umumnya mudah
menyebabkan terjadinya hidrosefalus, karena ventrikel keempat dan
aqueduktus mudah tersumbat.Beberapa lesi dapat menyebabkan sumbatan
yang intermiten, terutama kista koloid dari ventrikel ketiga yang dapat
menutup total foramen Monro.Hidrosefalus obstruktif sering disebabkan oleh
organisasi bekuan darah atau eksudat radang dalam jalur CSS setelah
terjadinya perdarahan atau meningitis.Hidrosefalus tekanan intermiten berasal
dari absorpsi CSS yang cacat pada vili arachnoid.

1. Stenosis akuaduktus serebri (setelah infeksi atau perdarahan)


infeksi oleh bakteri Meningitis , menyebabkan radang pada selaput
(meningen) di sekitar otak dan spinal cord. Hidrosefalus berkembang ketika jaringan
parut dari infeksi meningen menghambat aliran CSS dalam ruang subarachnoid, yang
melalui akuaduktus pada sistem ventrikel atau mempengaruhi penyerapan CSS dalam
villi arachnoid. Jika saat itu tidak mendapat pengobatan, bakteri meningitis dapat
menyebabkan kematian dalam beberapa hari. Tanda-tanda dan gejala meningitis
meliputi demam, sakit kepala, panas tinggi, kehilangan nafsu makan, kaku kuduk.
Pada kasus yang ekstrim, gejala meningitis ditunjukkan dengan muntah dan kejang.
Dapat diobati dengan antibiotik dosis tinggi.

2. Herniasi tentorial akibat tumor supratentorial

3. Hematoma Intraventrikuler

18
1.7 hasil CT Scan Hematoma Intraventrikuler

Jika cukup berat dapat mempengaruhi ventrikel, mengakibatkan darah


mengalir dalam jaringan otak sekitar dan mengakibatkan perubahan neurologis.
Kemungkinan hidrosefalus berkembang sisebabkan oleh penyumbatan atau
penurunan kemampuan otak untuk menyerap CSS.

4. Tumor (ventrikel, regio vinialis, fosa posterior)


Sebagian besar tumor otak dialami oleh anak-anak pada usia 5-10 tahun. 70%
tumor ini terjadi dibagian belakang otak yang disebut fosa posterior. Jenis lain dari
tumor otak yang dapat menyebabkan hidrosefalus adalah tumor intraventrikuler dan
kasus yang sering terjadi adalah tumor plexus choroideus (termasuk papiloma dan
carsinoma). Tumor yang berada di bagian belakang otak sebagian besar akan
menyumbat aliran CSS yang keluar dari ventrikel IV. Pada banyak kasus, cara terbaik
untuk mengobati hidrosefalus yang berhubungan dengan tumor adalah
menghilangkan tumor penyebab sumbatan.

5. Abses / Granuloma
6. Kista Arachnoid

19
1.8 terdapat Kista Arachnoid di ruang subarachnoid

Kista adalah kantung lunak atau lubang tertutup yang berisi cairan. Jika
terdapat kista arachnoid maka kantung berisi CSS dan dilapisi dengan jaringan pada
membran arachnoid. Kista biasanya ditemukan pada anak-anak dan berada pada
ventrikel otak atau
pada ruang subarachnoid. Kista subarachnoid dapat menyebabkan hidrosefalus non
komunikans dengan cara menyumbat aliran CSS dalam ventrikel khususnya ventrikel
III. Berdasarkan lokasi kista, dokter bedah saraf dapat menghilangkan dinding kista
dan mengeringkan cairan kista. Jika kista terdapat pada tempat yang tidak dapat
dioperasi
(dekat batang otak), dokter dapat memasang shunt untuk mengalirkan cairan agar bisa
diserap. Hal ini akan menghentikan pertumbuhan kista dan melindungi batang otak.

Manifestasi Klinis
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat
ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS (Darsono, 2005). Gejala-
gejala yang menonjol merupakan refleksi adanya hipertensi intrakranial. Manifestasi
klinis dari hidrosefalus pada anak dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu :
1. Awitan hidrosefalus terjadi pada masa neonatus
Meliputi pembesaran kepala abnormal, gambaran tetap hidrosefalus
kongenital dan pada masa bayi. Lingkaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40

20
cm, dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama
kehidupan. Kranium terdistensi dalam semua arah, tetapi terutama pada daerah
frontal. Tampak dorsum nasi lebih besar dari biasa. Fontanella terbuka dan tegang,
sutura masih terbuka bebas. Tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis. Vena-vena di
sisi samping kepala tampak melebar dan berkelok. (Peter Paul Rickham, 2003)
2. Awitan hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak
Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi
hipertensi intrakranial. Lokasi nyeri kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan
penglihatan ganda (diplopia) dan jarang diikuti penurunan visus. Secara umum gejala
yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrosefalus di bawah usia dua tahun
adalah pembesaran abnormal yang progresif dari ukuran kepala. Makrokrania
mengesankan sebagai salah satu tanda bila ukuran lingkar kepala lebih besar dari dua
deviasi standar di atas ukuran normal. Makrokrania biasanya disertai empat gejala
hipertensi intrakranial lainnya yaitu:
1. Fontanel anterior yang sangat tegang.
2. Sutura kranium tampak atau teraba melebar.
3. Kulit kepala licin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol.
4. Fenomena ‘matahari tenggelam’ (sunset phenomenon).
5. Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih besar
dibandingkan dengan bayi. Gejalanya mencakup: nyeri kepala, muntah,
gangguan kesadaran, gangguan okulomotor, dan pada kasus yang telah lanjut
ada gejala gangguan batang otak akibat herniasi tonsiler (bradikardia, aritmia
respirasi). (Darsono, 2005:213)

F. GEJALA KLINIS HIDROSEFALUS


1. Bayi
Pada bayi, kepala dengan mudah membesar sehingga akan didapatkan gejala :
a. Kepala makin membesar
b. Vena-vena kepala prominen
c. Ubun-ubun melebar dan tegang
d. Sutura melebar

21
e. “Cracked-pot sign”, yaitu bunyi seperti pot kembang yang retak atau buah
semangka pada perkusi kepala
f. Perkembangan motorik terlambat
g. Perkembangan mental terlambat
h. Tonus otot meningkat, hiperrefleksi (refleks lutut/akiles)
i. “Cerebral cry”, yaitu tangisan pendek, bernada tinggi dan bergetar
j. Nistagmus horisontal
k. “Sunset phenomena”, yaitu bola mata terdorong ke bawah oleh tekanan
dan penipisan tulang tulang supraorbita, sklera tampak di atas iris,
sehingga iris seakan-akan seperti matahari yang akan terbenam.
2. Anak:
Bila sutura kranialis sudah menutup, terjadi tanda-tanda kenaikan tekanan
intrakranial:
a. Muntah proyektil
b. Nyeri kepala
c. Kejang
d. Kesadaran menurun
e. Papiledema

G. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS

 Pemeriksaan fisik:
a. Pengukuran lingkaran kepala secara berkala. Pengukuran ini penting untuk
melihat pembesaran kepala yang progresif atau lebih dari normal
b. Transiluminasi
 Pemeriksaan darah:
a. Tidak ada pemeriksaan darah khusus untuk hidrosefalus
 Pemeriksaan cairan serebrospinal:
Analisa cairan serebrospinal pada hidrosefalus akibat perdarahan atau
meningitis untuk mengetahui kadar protein dan menyingkirkan kemungkinan
ada infeksi sisa
 Pemeriksaan radiologi:
a. X-foto kepala: tampak kranium yang membesar atau sutura yang melebar.
b. USG kepala: dilakukan bila ubun-ubun besar belum menutup.
c. CT Scan kepala: untuk mengetahui adanya pelebaran ventrikel dan
sekaligus mengevaluasi struktur-struktur intraserebral lainnya
Diagnosa Banding

22
· Bayi sehat
· Ciri keluarga (“familial feature”)
· Megaensefali
· Hidranensefali
· Tumor otak
· Cairan subdural (”subdural effusion”)

H. KOMPLIKASI DAN PENGOBATAN


KOMPLIKASI:
1. Peningkatan TIK
2. Infeksi malfungsi pirau
3. Keterlambatan perkembangan kognitif, psikososial, dan fisik
4. IQ menurun
5. Hernia serebri
6. Kejang
7. Renjatan
PENGOBATAN:
1. Terapi (Penanganan Sementara)

a. Terapi medikamentosa
Ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui upaya
mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upayameningkatkan
resorpsinya. Dapat dicoba pada pasien yang tidak gawat, terutama pada pusat-
pusatkesehatan dimana sarana bedah sarf tidak ada.
Obat yang sering digunakan adalah:
1. Asetasolamid
Cara pemberian dan dosis; Per oral 2-3 x 125mg/hari, dosis ini dapat
ditingkatkan sampai maksimal1.200 mg/hari
2. Furosemid
Cara pemberian dan dosis; Per oral, 1,2 mg/kgBB 1x/hari atau injeksi
iv 0,6 mg/kgBB/hari
Bila tidak ada perubahan setelah satu minggu pasien diprogramkanuntuk
operasi.

b. Lumbal pungsi berulang (serial lumbar puncture)


Mekanisme pungsi lumbal berulang dalam hal menghentikan
progresivitas hidrosefalus belum diketahui secara pasti. Padapungsi lumbal

23
berulang akan terjadi penurunan tekanan CSSsecara intermiten yang
memungkinkan absorpsi CSS oleh vili arakhnoidalis akan lebih mudah.
Indikasi :
umumnya dikerjakan pada hidrosefalus komunikan terutama pada
hidrosefalus yang terjadi setelah perdarahansubarakhnoid, periventrikular-
intraventrikular dan meningitis TBC.Diindikasikan juga pada hidrosefalus
komunikan dimana shunttidak bisa dikerjakan atau kemungkinan akan terjadi
herniasi(impending herniation)
Cara:
a. LP dikerjakan dengan memakai jarum ukuran 22, pada interspace L2-3 atau
L3-4 dan CSS dibiarkan mengalir di bawahpengaruh gaya gravitasi.
b. LP dihentikan jika aliran CSS terhenti. Tetapi ada juga yang memakai cara
setiap LP CSS dikeluarkan 3-5 ml.
c. Mula-mula LP dilakukan setiap hari, jika CSS yang keluar kurang dari 5 ml,
LP diperjarang (2-3 hari).
d. Dilakukan evaluasi dengan pemeriksaan CT scan kepala setiap minggu.
e. LP dihentikan jika ukuran ventrikel menetap pada pemeriksaan CT scan 3
minggu berturut-turut.
f. Tindakan ini dianggap gagal jika :
 Dilatasi ventrikel menetap
 Cortical mantel makin tipis
 Pada lokasi lumbal punksi terjadi sikatriks
 ilatasi ventrikel yang progresif
Komplikasi : herniasi transtentorial atau tonsiler, infeksi, hipoproteinemia dan
gangguan elektrolit.

2. Terapi Operasi
Operasi biasanya langsung dikerjakan pada penderita
hidrosefalus.Pada penderita gawat yang menunggu operasi biasanya diberikan
Mannitol per infus 0,5-2 g/kgBB/hari yang diberikan dalam jangkawaktu 10-
30 menit.
2.2 “Third Ventrikulostomi”/Ventrikel III (Penanganan Alternatif)
Lewat kraniotom, ventrikel III dibuka melalui daerah khiasma
optikum, dengan bantuan endoskopi.Selanjutnya dibuatlubang sehingga CSS
dari ventrikel III dapat mengalir keluar.

24
2.3 Operasi pintas/”Shunting”
Operasi pintas bertujuan mambuat saluran baru antara aliran likuor
dengan kavitas drainase. pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah
rongga peritoneum. baisanya cairan cerebrospinalis di drainase dari ventrikel,
namun kadang ada hidrosefalus komunikans ada yang didrain rongga
subarakhnoid lumbar. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca
operasi, yaitu pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan
pemantauan. kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. infeksi pada
shunt meningkatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan
bahkan kematian.
Ada 2 macam :
1. Eksternal
CSS dialirkan dari ventrikel ke luar tubuh, dan bersifat hanya sementara. Misalnya:
pungsi lumbal yang berulang-ulang untuk terapi hidrosefalus tekanan normal.

2. Internal
a. CSS dialirkan dari ventrikel ke dalam anggota tubuh lain.
~Ventrikulo-Sisternal, CSS dialirkan ke sisterna magna (Thor- Kjeldsen)
~Ventrikulo-Atrial, CSS dialirkan ke atrium kanan.
~Ventrikulo-Sinus, CSS dialirkan ke sinus sagitalis superior
~Ventrikulo-Bronkhial, CSS dialirkan ke Bronkhus
~Ventrikulo-Mediastinal, CSS dialirkan ke mediastinum
~Ventrikulo-Peritoneal, CSS dialirkan ke rongga peritoneum
b. “Lumbo Peritoneal Shunt”
CSS dialirkan dari Resessus Spinalis Lumbalis ke rongga peritoneum dengan operasi
terbuka ataudengan jarum Touhy secara perkutan.
Komplikasi Shunting :
 Infeksi
 Hematoma subdural
 Obstruksi
 Keadaan CSS yang rendah
 Asites
 Kraniosinostosis

25
2.0 Operasi pintas “Shunting”
I. PENATALAKSANAAN

1. Farmakologi
Mengurangi volume cairan serebrospinalis:
a. Acetazolamide 25 mg/KgBB/hari PO dibagi dalam 3 dosis. Dosis dapat
dinaikkan 25 mg/KgBB/hari (Maksimal 100 mg/KgBB/hari)
b. Furosemide 1 mg/KgBB/hari PO dibagi dalam 3-4 dosis
Catatan: Lakukan pemeriksaan serum elektrolit secara berkala untuk
mencegah terjadinya efek samping. Bila ada tanda-tanda infeksi, beri
antibiotika sesuai kuman penyebab.
2. Terapi
a. Terapi medikamentosa
Obat-obatan yang sering dipakai untuk terapi ini adalah:
- Asetasolamid

26
Cara pemberian dan dosis: Per oral, 2-3 x 125 mg/hari. Dosis ini dapat
ditingkatkan maksimal 1.200 mg/hari.
- Furosemid
Cara pemberian dan dosis: Per oral 1,2 mg/kg BB 1x/hari atau injeksi IV 0,6
mg/kg BB/hati. Bila tidak ada perubahan setelah satu minggu pasien diprogramkan
untuk operasi.
1. Terapi pintas / “Shunting”
Ada 2 macam:
- Eksternal
CSS dialirkan dari ventrikel ke dunia luar, dan bersifat hanya sementara.
Misalnya: pungsi lumbal yang berulang-ulang untuk terapi hidrosefalus tekanan
normal.
- Internal
a. CSS dialirkan dari ventrikel ke dalam anggota tubuh lain
a) Ventrikulo-Sisternal, CSS dialirkan ke sisterna magna (Thor-Kjeldsen)
b) Ventrikulo-Atrial, CSS dialirkan ke sinus sagitalis superior
c) Ventrikulo-Bronkhial, CSS dialirkan ke Bronhus.
d) Ventrikulo-Mediastinal, CSS dialirkan ke mediastinum
e) Ventrikulo-Peritoneal, CSS dialirkan ke rongga peritoneum.
b. “Lumbo Peritoneal Shunt”
CSS dialirkan dari Resessus Spinalis Lumbalis ke rongga peritoneum dengan
operasi terbuka atau dengan jarum Touhy secara perkutan.
Teknik Shunting
1) Sebuah kateter ventrikular dimasukkan melalui kornu oksipitalis atau kornu
frontalis, ujungnya ditempatkan setinggi foramen Monroe.
2) Suatu reservoir yang memungkinkan aspirasi dari CSS untuk dilakukan
analisis.
3) Sebuah katup yang terdapat dalam sistem Shunting ini, baik yang terletak
proksimal dengan tipe bola atau diafragma (Hakim, Pudenz, Pitz, Holter)

27
maupun yang terletak di distal dengan katup berbentuk celah (Pudenz). Katup
akan membuka pada tekanan yang berkisar antara 5-150 mm, H2O.
4) Ventriculo-Atrial Shunt. Ujung distal kateter dimasukkan ke dalam atrium
kanan jantung melalui v. jugularis interna (dengan thorax ujung distal
setinggi 6/7).x-ray
5) Ventriculo-Peritneal Shunt
a. Slang silastik ditanam dalam lapisan subkutan
b. Ujung distal kateter ditempatkan dalam ruang peritoneum.
Pada anak-anak dengan kumparan silang yang banyak, memungkinkan tidak
diperlukan adanya revisi walaupun badan anak tumbuh memanjang.
Komplikasi yang sering terjadi pada shunting: infeksi, hematom subdural, obstruksi,
keadaan CSS yang rendah, ascites akibat CSS, kraniosinostosis.

J. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


Proses asuhan keperawatan pada klien dengan hidrosefalus di awali dengan
pengkajian, diagnosis, dan intervensi keperawatan.
I. PENGKAJIAN
1.1 Anamnesa
1) Pengumpulan data : nama, usia, jenis kelamin, suku/bangsa, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat.
2) Kaji Riwayat penyakit / keluhan utama
Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda,
perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer.
3) Kaji Riwayat Perkembangan
Kelahiran : Prematur. Pada waktu lahir menangis keras atau tidak. Apakah
pernah terjatuh dengan kepala terbentur.
Keluhan sakit perut.
1.2 Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi :
- Anak dapat melihat keatas atau tidak.

28
- Adanya Pembesaran kepala.
- Dahi menonjol dan mengkilat. Serta pembuluh darah terlihat jelas.
2) Palpasi :
- Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
- Fontanela : fontanela tegang keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
3) Pemeriksaan Mata :
- Akomodasi.
- Gerakan bola mata.
- Luas lapang pandang
- Konvergensi.
Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas.
Stabismus, nystaqmus, atropi optic.
1.2 Observasi Tanda –tanda vital
Didapatkan data – data sebagai berikut :
- Peningkatan sistole tekanan darah.
- Penurunan nadi / Bradicardia.
- Peningkatan frekwensi pernapasan.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Pada pasien anak dengan Hydrocephalus diagnosa yang dapat muncul, yaitu :
1. Perfusi jaringan serebral tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
tekanan intrakranial.
2. Potensial terhadap perubahan integritas kulit kepala berhubungan dengan
ketidak mampuan bayi dalam mengerakan kepala akibat peningkatan ukuran
dan berat kepala
3. Potensial komplikasi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan
akumulasi cairan serebrospinal.
4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tua tentang penyakit
anaknya.

III. INTERVENSI KEPERAWATAN

29
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
I Perfusi Perfusi jaringan Mandiri Mandiri
jaringan serebral adequat, 1. Kaji data dasar 1. Pengkajian yang
serebral dengan kriteria : neurologis. dilakukan sesering
tidak efektif tekanan systole 2. Observasi TTV. mungkin akan
berhubunga dan diastole 3. Tentukan posisi memberikan data
n dengan dalam rentang anak : tinggikan guna menentukan
peningkatan yang diharapkan, kepala. perubahan keadaan
tekanan tidak ada tanda- 4. Anjurkan anak neurologis anak yang
intrakranial. tanda dan orang tua berhubungan dengan
peningkatan untuk ICP Bila hal itu
intrakranial mengurangi terjadi akan
(tidak lebih dari aktivitas yang menunjukkan bahwa
15mmHg) dan dapat menaikkan anak sudah
tingkat tekanan menunjukkan
kesadaran intrakranial atau gangguan ICP yang
membaik. intra abdominal, bermakna.
misal: mengejan 2. Pengkajian tanda-
saat BAB, tanda vital yang
menarik nafas, sesering mungkin
membalikkan akan membantu
badan, batuk. mendeteksi tanda-
Kolaborasi tanda dini dari ICP
1. Kolaborasi (seperti takikardia,
dengan fluktuasi tekanan
dokter untuk darah, dan pernafasan
pemberian cheyne-stokes)
analgetik. 3. Peninggian kepala di
Edukasi tempat tidur
1. Instruksikan memungkinkan
keluarga terjadinya gravitasi
untuk untuk peningkatan
mengobserva aliran darak serebral,
si kulit jika akan membantu
ada isi atau penurunan ICP.
laserasi 4. Dengan aktivitas
yang berlebih anak
akan berisiko
mengalami
peningktan TIK.

Kolaborasi

30
1. Pemberian analgetik
untuk mengurasi
nyeri akibat TIK
Edukasi
1. Keluarga dapat
berpatisipasi dalam
perawatan anak
dengan hidrosefalus

1.

Mandiri Mandiri
1. Kaji kulit kepala 1. untuk memantau
setiap 2 jam dan keadaan integumen
monitor terhadap kulit secara dini.
area yang tertekan 2. Linen dapat
Tidak terjadi 3. Hindari tidak menyerap keringat
Potensial gangguan adanya linen pada sehingga kulit tetap
terhadap integritas kulit tempat tidur kering
perubahan dengan kriteria : 4. Baringkan kepala 3. Untuk mengurangi
integritas Kulit utuh, pada bantal karet tekanan yang
kulit kepala bersih dan busa atau menyebabkan stess
berhubunga kering. menggunakan mekanik.
n dengan tempat tidur air jika Kolaborasi
ketidak mungkin. 1. Jaringan akan mudah
II Kolaborasi nekrosis bila kalori
mampuan
bayi dalam 1. Kolaborasi dan protein kurang
mengerakan dengan ahli gizi Edukasi
kepala dengan berikan 1. Untuk meningkatkan
akibat nutrisi sesuai sirkulasi kulit
peningkatan kebutuhan.
ukuran dan Edukasi
berat kepala 1. Instruksikan
pada keluarga
pasien agar
mengubah posisi
tidur setiap 2
jam sekali

31
Mandiri Mandiri
1. Observasi ketat 1. Untuk mengetahui
tanda-tanda secara dini
peningkatan TIK peningkatan TIK
2. Tentukan skala 2. Penurunan
coma keasadaran
3. Hindari menandakakan
pemasangan adanya peningkatan
infus dikepala TIK
Tidak terjadi4. Hindari sedasi 3. Mencegah terjadi
peningkatan TIK 5. Jangan sekali- infeksi sistemik
dengan kali memijat 4. Karena tingkat
kriteria :Tanda atau memopa kesadaran merupakan
vital normal, shunt untuk indikator
pola nafas memeriksa peningkatan TIK
Potensial
efektif, reflek fungsinya 5. Dapat mengakibatan
komplikasi
cahaya Kolaborasi sumbatan sehingga
peningkatan 1. Berkolaborasi
positif,tidak terjdi nyeri kepala
tekanan dengan dokter
tejadi gangguan karena peningkatan
intrakranial untuk melakukan
III kesadaran, tidak CSS atau obtruksi
b/d pembedahan,
muntah dan tidak pada ujung kateter
akumulasi untuk mengurangi
kejang. diperitonial
cairan peningkatan.
Kolaborasi
serebrospin Edukasi 1. Dengan dilakukan
al. 1. Ajari keluarga pembedahan,
mengenai tanda- diharapkan cairan
tanda cerebrospinal
peningkatan berkurang, sehingga
TIK. TIK menurun, tidak
terjadi penekanan pada
lobus oksipitalis dan
tidak terjadi
pembesaran pada
kepala.
Edukasi
1. Keluarga dapat
berpatisipasi dalam
perawatan anak
dengan hidrosefalus.

IV. Ansietas Mandiri Mandiri


berhubunga Keluarga 1. Jelaskan secara 1. Pengetahuan dapat
n dengan menerima rinci tentang kondisi mempersiapkan keluarga
kurang keadaan penderita, prosedur, dalam merawat penderita.
pengetahua anaknya, mampu terapi dan 2. Keluarga dapat

32
menjelaskan prognosanya. menerima seluruh
keadaan 2. Ulangi penjelasan informasi agar tidak
penderita dengan tersebut bila perlu menimbulkan salah
kriteria : dengan contoh bila persepsi
n orang tua
Keluarga keluarga belum 3. Untuk menghindari
(situasi
berpartisipasi mengerti salah persepsi
krisis)
dalam merawat 3. Klarifikasi 4. Keluarga dapat
tentang
anaknya dan kesalahan asumsi mengemukakan
penyakit
secra verbal dan misskonsepsi perasaannya.
anaknya.
keluarga dapat 4. Berikan
mengerti tentang kesempatan
penyakit keluarga untuk
anaknya. bertanya.

33
BAB III
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS KLIEN
A. Nama : An. Bi Tanggal Mrs : 31- 04 – 2001
Umur : 9 Tahun Sumber Informasi : Keluarga
Jenis Kelamin : Laki – Laki Keluarga Terdekat : Ibu
Alamat : Kedung Adem , Diagnosa : Hidrocephalus
Bojonegoro No. Reg : 10051110
Pendidikan : TK
Pekerjaan :-
B. Alasan Dirawat :Ada Benjolan /Pembesaran Di Daerah Dahi, Kepala Terasa
Sakit Di Bagian Belakang Kepala, Lalu Muntah-Muntah.
C. Keluhan Utama Sebelumnya : Mata Terasa Kabur Kemudian Tidak Bisa
Melihat Total.

II. RIWAYAT KEPERAWATAN (NURSING HISTORY)


A. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Klien sering menderita sakit batuk pilek dan badan panas.Riwayat penyakit
asma tidak ada
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Mula –mula klien mengeluh badan terasa panas dan sakit kepala kemudian
pandangan terasa kabur disertai muntah-muntah. Sakit dibagian belakang
kepala kemudian timbul pembesaran pada daerah dahi yang makin lama makin
membesar. Klien pernah berobat ke RSDS kemudian disarankan untuk
dioperasi tetapi keluarga menolak oleh karena alasan biaya, pada tahun 1998 (4
tahun yang lalu). Sejak 1 tahun yang lalu klien sulit untuk berjalan.
C. Riwayat Kesehatan Keluarga
Anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti yang dialami oleh
klien.

34
III. OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Klien tampak lemah, terpasang infus RL – 14 tts/m, posisi tidur terlentang
dengan kepala ditinggikan 30 º.
2. Tanda-tanda vital
Suhu : 36 º C (axilla) ; Nadi : 100 x/m, teratur, kuat ; Tekanan Darah : 110/60
mmHg , lengan kanan, klien berbaring ; RR : 20 x/m, teratur.
3. Body System
 Pernapasan (B1=Breathing)
Hidung: tidak ada secret, perdarahan.
Trachea : tidak ada deviasi.
Nyeri, retraksi dada, dyspnea, cyanosis, : tidak ada.
Suara napas : vesikuler.
Bentuk dada : simetris.
 Cardiovaskuler ( B2=Bleeding)
Klien mengeluh sakit kepala.
Suara jantung : S1 S2 tunggal.
Edema : tidak ada
 Persyarafan (B3=Brain)
Kesadaran : compos mentis.
GCS : E = 4 V= 5 M= 6
Total nilai : 15
Kepala : tampak ada pembesaran pada daerah dahi dan bentuk
kepala agak membesar.
Wajah : tampak sunset phenomena.
Mata : sclera : putih ; conjunctiva : merah muda ; pupil:
isokor ; reflek cahaya : -/-
Refleks: Babinski +/+, Chad +/+, HT -/-, PM -/-.
Motorik 5 5 BPR KPR

35
BNR
5 5 TPR APR
 Perkemihan – Eliminasi Uri (B4=Bladder)
Produksi urine : ± 1500 ml/hari , frekuensi :sering dengan bantuan,
warna : kuning muda, Tidak ada masalah.
 Pencernaan – Eliminasi Alvi (B5=Bowel)
Mulut dan tengorok : tidak ada kelainan.
Abdomen : datar, tidak ada distensi.
BAB : kebiasaan 1 x/hari, sudah 4 hari tidak ada
 Tulang-Otot-Integumen (B6=Bone)
Kemampuan pergerakan sendi : bebas.
Parese : ya
Paralise : tidak
Hemiparese : tidak
Ekstremitas atas : tidak ada kelainan.
Ekstremitas bawah : terdapat kelemahan pada kedua tungkai bawah.
Tulang belakang : tidak ada kelainan.
Kulit : tidak ada kelainan
Akral : hangat.
Turgor : baik
4. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan Darah (31-5-2001)
Hb : 13,3
Eritrosit: 8,8
HCT : 36,9 %
SGOT : 19
Urea-N: 12
Kreatinin serum: 0,27
APTT : 30,7/35,1
PTT : 10,3/8,8

36
 Terapi
Infus RL:D5% : 2:1 --- /hari
Injeksi Cimetidine 3 x ½ ampul
Injeksi Dexamethasone 4 x1/2 ampul
Injeksi Tramadol 3 x ½ ampu
Diet : TKTP
 Rencana Operasi VP- Shunt.
alasan kunjungan: Nyeri Kepala hebat disertai muntah – muntah, kaki
kiri terasa lemah, penglihatan kabur.
Keluhan utama saat ini (dikaji) : Nyeri pada daerah belakang telinga
(tempat pemasangan shunt) , telinga berdenging
Keluhan Tambahan : Sudah 4 hari tidak BAB, Kaki kanan terasa
lemah dan sulit digerakan., Sering terbangun karena nyeri., Batuk dan
ada lendir, Kalau batuk terasa nyeri.
1. Faktor pencetus : Bila bekerja terutama mengangkat benda berat
2. Lama keluhan : 2 minggu sebelum MRS
3. Timbulnya keluhan : bertahap
4. Faktor yang memperberat : Sesak napas yang munculnya kadang -
kadang. Nyeri bertamabah kalau batuk (saat ini)
5. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya : sendiri : Pergi ke RS
Kediri
6. Diagnosa medik : Hydrocephalus post VP Shunt (19 April 2001)
5. Riwayat kesehatan yang lalu
1. Penyakit yang pernah dialami
 kanak-kanak , panas, batuk, pilek
 Kecelakaan : Tidak ada riwayat Trauma melahirkan ataupun kecelakaan
lainnya.
 Klien belum pernah dirawat sebelumnya, di RSUD Dr. Soetomo,. Pasien
rujukan dari RS Kediri.
 Operasi : Dipasang

37
2. Alergi : Tidak ada riwayat Alergi
3. Imunisasi : Imunisasi Lengkap
4. Kebiasaan : tidak merokok, minum teh
5. Obat-obatan : Tidak biasa mengkonsumsi obat - obatan
6. Pola nutrisi :
 Frekwensi makan : 3 kali sehari ( Di rumah sakit klien makan 3 Kali
sehari diselingi snack)
 Berat badan : 52 kg (Sebelumnya tidak pernah ditimbang)
 Tinggi badan : 160 cm
 Jenis makanan : nasi, sayur, lauk, buah
 Makanan yang disukai : semua makanan suka
 Makanan yang tidak diskai : tidak ada
 Makanan pantang : Tidak ada
 Nafsu makan : sedang
 Perubahan berat badan 6 bulan terakhir : Tidak pernah menimbang berta
badan
7. Pola eliminasi :
 Buang air besar, Frekuensi : 2 x sehari Waktunya tidak tentu
Dirumah sakit sudah 4 hari belum BAB
 Penggunaan pencahar : tidak ada
 Buang air kecil
 Frekuensi : 4-5 Kali sehari (di rumah), Warna : kuning
Di Rumah sakit : Terpasang katheter.
 Pola tidur dan istirahat
Waktu tidur (jam) : 21.00 sampai 06.00 Wib, Lama tidur/hari : 8 jam,
Kebiasaan pengantar tidur : tidak ada, kebiasaan tidur : memakai bantal
lebih dari tiga kesulitan dalam hal tidur : ( X) menjelang tidur
Dirumah sakit :

38
Klien sulit tidur dan istirahat karena nyeri, Waktu tidur malam sering
terbangun karena nyeri
8. Pola aktifitas dan latihan
 Kegiatan dalam pekerjaan : Berdiri
 Olah raga
 Jenis : Jalan kaki
 Freakuensi : tidak tentu
 Kegiatan di waktu luang : Tidak ada
 Kesulitan dalam hal :(X) mudah merasa lelah
Di rumah Sakit : Aktivitas sementara dikurangi, Klien juga mengeluh
takut melaksanakan aktivitas, menggerakan tubuhnya karena kalau
bergerak terasanya nyeri.
9. Pola bekerja
 Jenis pekerjaan : Tidak tetap
 Jumlah jam kerja : Tidak tentu
 Jadwal kerja : Tidak teratur
 Lain-lain (sebutkan) : tidak ada

IV. RIWAYAT KELUAGA


Genogram
.

Tidak ada riwayat penyakit keturunan dalam keluarga


Riwayat lingkunganKebersihan : kurang
 Bahaya : tidak ada

39
 Polusi : jalan besar dan tempat sampah
Aspek Psikososial
1. Pola pikir dan persepsi
 Alat bantu yang digunakan : Tidak Ada
 Kesulitan yang dialami : sering pusing
2. Persepsi diri
 Hal yang amat dipikirkan saat ini : apakah penyakitnya dapat sembuh/tidak ?
 Harapan setelah menjalani perawatan : ingin merubah semua kebiasaan yang
dapat mengganggu kesehatannya.
 Perubahan yang dirasa setelah sakit : semua kebiasaan dibatasi
3. Suasana hati : cemas, pasrah dengan penyakitnya
Renyang perhatian : sangat rentang
4. Hubungan/komunikasi
 Bicara : jelas, Bahasa utama : Indonesia Bahasa daerah : Jawa
 Tempat tinggal : Dengan orang tua
 Kehidupan keluarga :
 adat yang dianut : Jawa
 pembuatan keputusan : Diskusi dengan keluarga
 pola komunikasi : baik
 keuangan : Cukup
 kesulitan dalam keluarga : -
 Yang dilakukan jika stres : (X) memecahkan masalah (X) lain-lain : marah
1. Kebiasaan seksual
 Gangguan kebiasaan seksual disebabkan kondisi sebagai berikut :
( X) fertilitas (X) Libido (X) ereksi
 Pemahaman terhadap fungsi seksual : kurang terbuka.
2. Pertahanan koping
 Pengambilan keputusan : (X) sendiri (X) dibantu oleh Keluarga
 Yang disukai tentang diri sendiri : Tidak banyak mengeluh

40
 Yang ingin dirubah dari kehidupan : Pola kebiasaan yang kurang
menguntungkan.
 Apa yang dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman : membantu dalam
pelayanan perawatan
3. Sistem nilai dan kepercayaan
 Siapa atau apa sumber kekuatan : Tuhan dan keluarga
 Apakah agama, kepercayaan, Tuhan penting buat anda ? (X) Ya
 Kegiatan agama atau kepercayaan yang dilakukan (macam dan
frekuensi)sebutkan : Pengajian 1 kali seminggu.
 Kegiatan agama atau kepercayaan yang ingin dilakukan selama di rumah
sakit, sebutkan : sholat lima waktu.
4. Tingkat perkembangan
Usia : 20 thn Karakteristik : Dewasa

V. PENGKAJIAN FISIK
Kepala, mata, kuping, hidung, dan tenggorokan
Kepala :
Bentuk bulat lonjong
Keluhan yang berhubungan : pusing
Ada Luka Operasi tertutup Kassa pada daerah tulang mastoideus.
Mata :
Ukuran pupil : isokor : - Reaksi terhadap cahaya : baik, akomodasi :
baik, bentuk: simetris, Konjungtiva : anemis, Fungsi penglihatan : Kabur
melihat jauh, Tanda-tanda radang : tidak ada, Pemeriksaan mata terakhir : Tidak
pernah memeriksakan mata , operasi : tidak, Kaca mata : Tidak lensa kotak :
tidak.
Hidung :
Reaksi alergi : tidak, cara mengatasinya : tidak, pernah mengalami flu : pernah,
bagaimana frekuensinya dalam setahun : 3 X setahun, sinus : - , perdarahan :
tidak ada

41
Mulut dan tenggorokan:
Gigi geligi : Kesulitan/gangguan pembicaraan : tidak, kesulitan menelan : tidak,
pemeriksaan gigi terakhir : tidak pernah.
Pernafasan :
Suara paru : whezing (-), Sonor (+), pola napas : teratur, Batuk (+), sputum :
(+), nyeri : (-), kemampuan melakukan aktifitas : terbatas, Batuk darah : (-), Ro
terakhir : 17 April 2001 Hasil : Multi Nodul pada kedua paru (metastase
sekunder)
Sirkulasi:
Nadi perifer : baik, Capilary refilling : lebih dari 2 detik, Distensi vena
jugularis : - , Suara jantung : aritmia (-), Suara jantung tambahan : (-), Irama
jantung (monitor) : (-), Nyeri :(-), Edema : (-), Palpitasi : (-), Baal : (+),
Perubahan warna kulit : icterus/pucat, Clubbing : (-), Keadaan ektremitas : Baik
, Syncope : (-), Rasa pusing : (+), Monitoring hemodinamika : CVP: tidak
dipasang.
Nutrisi:
Jenis diet : Tingi kalori, Tinggi protein, rendah garam, , nafsu sedang , rasa
mual : kadang-kadang, muntah , intake cairan : Peroral 1000 cc/24 jam
Eliminasi:
Pola rutin : b.a.b. penggunaan laksantia : (-), Colostomy : (-), Ileostomy :(-),
Konstipasi: (-)
Diare :(-)
Pola rutin : b.a.k. Inkontinensia : (-), Infeksi : ginjal, Hematuria :(-), Cateter :
(-), Urine out put : 1900 cc/24 jam
Reproduksi
Kehamilan :(-), Perdarahan :(-), Pemeriksaan Pap smear terakhir :(-), Hasil:(-),
Keputihan : (-), Pemeriksaan sendiri: (-), Prostat : normal, Penggunaan kateter :
(-)
Neurologis

42
Tingkat kesadaran : compas mentis, Orientasi : baik, Koordinasi : kurang, Pola
tingkah laku : masih dalam batas normal, Riwayat epilepsi/kejang/parkinson :
(-), Refleks: baik, kekuatan menggenggam: Baik , Pergerakan ekstremitas :
terbatas
Muskuloskeletal
Nyeri : sendi (+), Pola latihan gerak : berkurang, Kekakuan : tidak ada,
Kelemahan pada kaki kanan
Kulit
Warna : pucat/icterus, Turgor : menurun, integritas : dalam batas normal.
Data Laboratorium
23/4/2001 :
 ABGS : pH : 7,429 : PCO2 ; 32,3 : PO2 : 76,6 : HCO3 : 20,9 : BE : 3,4
 DL : Leukosit : 12,5 : Hb : 9,4 : HCT : 28,9 : SGOT : 24 : K+ : 2,39, Na+ : 138
CT Scan : Ada massa didaerah Occipital, Abses Cerebri dan Hidrocephalus.
Pengobatan
Ulsikur : 4 X 1 ampul, Cimetidine 3 X 1 amputl, Kalmethasone : 3 X 1 Ampul,
IVFD D5 : RL 1 : 2
Persepsi klien trhadap penyakitnya
Penyakit yang diderita dapat sembuh.
Kesan perawat terhadap klien
Klien nampak gelisah karena proses penyakitnya

43
ANALISA DATA
Karakteristik Data Kemungkinan Masalah
Penyebab
Data subyektif ; Klien Mengatakan nyeri Tekanan Pada Kulit Nyeri
pada daerah dekat yang dilakukan shunt
telinganya, Mengatakan
nyerinya pada skala 7.
Data Obyektif : Klien meringis, sering
memejamkan matanya, Kadang – kadang
memegang tempat dialkukan pemasangan
shunt, Nadi 104 kali/menit, berkeringat. RR
26 kali/menit,
Data Subyektif :Klien mengatakan kurang Kurangnya intake Kurang Volume
minum karena tidak merasa peroral Cairan
haus, sering berkeringat
Data Obyektif : Suhu 38,5 oC, Nadi 104
Kali/menit, mukosa membran lembab
Data Subyektif : Klien mengatakan sudah Imobilisasi Konstipasi
empat hari sejak MRS belum pernah BAB
Data Obyektif : Klien Imobilisasi,
Auskultasi bising usus menurun
Data Subyektif :Klien mengatakan ia cemas Perubahan Status Cemas
dengan penyakitnya, Kesehatan
Bertanya apakah
penyakitnya dapat sembuh
atau tidak
Data Obyektif :Ekspresi wajah menunjukkan
kecemasan, Nadi 104
kali/menit, RR 26
kali/menit, Keringat dingin
Data Subyektif : Klien mengeluh lemah, Sulit Kelemahan Gangguan
mengangkat atau menggerakan kaki kiri Aktivitas Fisik
Data Obyektif : Klien hanya tidur di tempat
tidur, Aktivitas dibantu
Data Subyektif : Klien Mengeluh Nyeri Pada Infiltrasi Bakteri Infeksi
tempat dilakukan Shunt melalui Shunt
Data Obyektif : Ada Luka di daera tulang
mastoideus, dan Perut,
Klien kadang memegang
balutan karena, Nyeri
Data Subyektif : Klien Mengatakan sering Nyeri Gangguan
terbangun waktu tidur Pemenuhhan
karena nyeri, Tidak merasa kebutuhan tidur
puas kalau tidur
Data Obyektif : Ekspresi Loyo, Sering
menguap

44
Data Subyektif : Imobilisasi Kontraktur dan
Klien mengatakan takut merubah posisi tidur Kerusakan
karena nyeri Integritas Kulit
Data Obyektif
Klien tidur pada satu posisi ( Terlentang)

45
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama : An. B.I Dx medis : Hydrocephalus
DIAGNOSA
KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI
Gangguan aktifitas fisik Setelah diberikan Kaji kekuatan Mengevaluasi status sensori Mengkaji kekuatan
sehubungan dengan penjelasan dan motorik kaki klien. motorik klien untuk motorik kaki klien.
kelemahan . demonstrasi gerakan menyesuaikan dengan
Data Subyektif : selama 30 menit klien latihan yang akan diberikan
Klien mengeluh lemah, dapat : menghindari injuri.
Sulit mengangkat atau  mengikuti gerakan
menggerakan kaki kiri yang diajarkan. Jelaskan pada klien Klien akan dapat diajak Menjelaskan pada
Data Obyektif : tentang pergerakan bekerja sama dalam klien tentang
Klien hanya tidur di Kriteria : tubuh secara anatomis melakukan latihan pergerakan tubuh
tempat tidur, Aktivitas  Klien dapat untuk menjaga stamina pergerakan. secara anatomis
dibantu melakukan gerakan untuk menjaga
sesuai anatomis. Bantu pergerakan stamina
 Melakukan latihan secara bertahap secara Gerakan bertahap untuk
tanpa ragu secara pasif kemudian mencegah peregangan Membantu
pasif dan aktif. meningkat yang mendadak dan perlukaan pergerakan secara
dilakukan secara aktif. pada otot bertahap secara
pasif kemudian
Kolaborasi meningkat yang
Unit Rehabilitasi Membantu perencanaan dilakukan secara
Medis, fisiotherapis klien dan imple-mentasi aktif.
program latihan dan
mengidentifikasi Kolaborasi
perkembangan fungsi tubuh Unit Rehabilitasi
serta kemandirian klien. Medis,
fisiotherapis

46
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama : An. B.I Dx medis : Hydrocephalus
DIAGNOSA
KEPERAWATAN TU J UAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI
Resiko infeksi Infeksi tidak Kaji keadaan luka Untuk mengetahui Mengkaji Keadaan
sehubungan dengan terjadi. (kontinyuitas dari kulit) tanda-tanda infeksi. Luka
infiltrasi bakteri melalui terhadap adanya : edema,
tempat pemasangan Kriteria : rubor, dolor, fungsio laesa.
infus.  Tidak ada tanda Rawat daerah penusukan Mencegah kontaminasi
Data Subyektif : - infeksi. infus dengan menggunakan dan kemungkinan
Data Obyektif : tehnik aseptik dan antiseptik infeksi silang. Menganjurkan Klien
Terpasang infus pada agar Tidak
kaki kanan. Kolaborasi : memegang /
Pemeriksaan darah : leukosit Leukosit yang menyentuh lukanya
meningkat berarti
Jagalah selalu kebersihan dan terjadi infeksi. Merawat luka dengan
kerapihan tempat tidur menggunakan tehnik
Mencegah resiko aseptik dan antiseptik
Anjurkan untuk terjadinya infeksi
mengkonsumsi makanan silang Memonitor
yang tinggi protein Pemeriksaan darah :
Protein berfungsi leukosit
untuk meningkatkan
pertahanan tubuh Menjaga selalu
kebersihan dan
kerapihan tempat tidur

Menganjurkan untuk
mengkonsumsi
makanan yang tinggi
protein

47
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama : An. B.I
Dx medis : Hydrocephalus
DIAGNOSA
KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI
Gangguan eliminasi tinja Klien dapat buang air Auskultasi bising usus, Bising usus menandakan Mengauskultasi
(konstipasi) sehubungan besar dengan lancar catat lokasi dan usus berfungsi normal. bising usus.
dengan kurangnya dalam waktu 1 hari karakteristik.
aktifitas (immobilisasi) setelah diberikan Peristaltik menghilang Mengobservasi
Data Subyektif : tindakan Observasi distensi pada distensi abdomen / distensi abdomen
Klien mengatakan sudah abdomen bila bising usus meningkat bila terjadi bila bising usus
empat hari sejak MRS Kriteria : menurun atau tidak ada. gangguan usus. menurun atau tidak
belum pernah BAB  Perut tidak ada.
Data Obyektif : kembung.
Klien Imobilisasi,  Tinja lunak Anjurkan untuk makan Makanan tinggi serat
Auskultasi bising usus  B.a.b teratur 1-2 x tinggi serat, banyak menjadikan tinja lunak, Menganjurkan
menurun sehari minum dan makan buah- banyak minum untuk makan tinggi
 Bising usus normal buahan. mengurangi penyerapan serat, banyak
(+) 3 - 4 kali dalam pada tinja. minum dan makan
1 menit. buah-buahan.
Anjurkan Klien Untuk Aktivitas untuk
Mobilisasi secara merangsang peristaltik
bertahap di tempat tidur Usus Melakukan latihan
aktif dan pasif di
tempat tidur

48
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/89510684/makalah-hidrosefalus
https://www.scribd.com/document/.../Makalah-Askep-Pada-Anak-Hidrosefalus
https://www.academia.edu/7705167/Hidrosefalus
https://last3arthtree.files.wordpress.com/2009/02/hidrosefalus.pdf
http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2015/08/hidrosefalus-pada-anak-
dan-dewasa.pdf
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/e4/Intracerebral_hemorrhage.j
pg
http://img.medscape.com/fullsize/migrated/518/170/nf518170.fig1.gif
http://www.marmaramedicaljournal.org/images/figure_MMJ_354_0.jpg
https://www.sonoworld.com/images/FetusItemImages/article-
images/central_nervous_system/vein_galen_7478._files/image145.jpg
https://bedahsarafmuda.files.wordpress.com/2013/04/dandy-walker-1.jpg