Anda di halaman 1dari 9

Tugas analisa struktur

lanjut

DISUSUN OLEH :

1. Fauzi bintang harahap (150404064)

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
T.A. 2017/2018
I.Judul :
Metode tegangan izin dan metode tegangan ultimate dalam
SNI (baja, beton, dan kayu)
II.Latar Belakang
III.Pokok Pembahasan
A. Metode Tegangan Izin
B. Metode Tegangan Ultimate
C. Desain pada Kontruksi Baja
D. Desain pada Kontruksi Beton
E. Desain pada Kontruksi Kayu
IV.Referensi
II. Latar Belakang
Konstruksi merupakan suatu kegiatan membangun sarana maupun
prasarana. Dalam sebuah bangunan arsitektur atau teknik sipil, sebuah konstruksi
juga dikenal sebagai bangunan atau satuan infrastruktur pada sebuah area atau
pada beberapa area. Secara ringkas konstruksi didefinisikan sebagai objek area
keseluruhan bangunan yang terdiri dari bagian-bagian struktur.
Perencanaan struktur bertujuan untuk menghasilkan suatu struktur yang stabil,
cukup kuat, mampu layak, awet dan memenuhi tujuan-tujuan lainnya seperti ekonomis
dan kemudahan pelaksanaan. Suatu struktur disebut stabil jika tidak mudah terguling,
miring, atau tergeser selama umur rencana bangunan.
Dalam Merencanakan suatu struktur bangunan kita memakai dua metode yaitu :

1. Metode Tegangan Izin


2. Metode Tegangan Ultimate
III. A. Metode Tegangan Izin
Di dalam metode ini, elemen struktur pada bangunan
(pelat/balok/kolom/pondasi) harus direncanakan sedemikian rupa sehingga tegangan
yang timbul akibat beban kerja/layan tidak melampaui tegangan ijin yang telah
ditetapkan.

σmaks ≤ σijin
Tegangan ijin ini ditentukan oleh peraturan bangunan atau spesifikasi (seperti American
Institute of Steel Construction (AISC) Spesification 1978) untuk mendapatkan faktor
keamanan terhadap tercapainya tegangan batas, seperti tegangan leleh minimum atau
tegangan tekuk (buckling). Tegangan yang dihitung akibat beban kerja/layan harus
berada dalam batas elastis, yaitu tegangan sebanding dengan regangan seperti
ditunjukkan pada grafik berwarna hijau pada kurva tegangan-regangan baja di bawah.

Pada metode tegangan kerja (ASD) ini, tegangan ijin disesuaikan ke atas bila kekuatan
plastis merupakan keadaan batas yang sesungguhnya. Jika keadaan batas yang
sesungguhnya adalah ketidak-stabilan tekuk (buckling) atau kelakuan lain yang
mencegah pencapaian regangan leleh awal, maka tegangan ijin harus diturunkan.
B. Metode Tegangan Ultimate
Metode Tegangan Ultimit metode desain yang meninjau kondisi dimana beban
yang bekerja hampir menyebabkan keruntuhan (jauh di atas beban layan, sering disebut
beban ultimate/beban batas). Pendekatan umum berdasarkan faktor daya tahan dan
beban, atau disebut dengan Load Resistance Design Factor (LRFD) ini adalah hasil
penelitian dariAdvisory Task Force yang dipimpin oleh T. V. Galambos. Pada metode ini
diperhitungkan mengenai kekuatan nominal Mn penampang struktur yang dikalikan oleh
faktor pengurangan kapasitas (under-capacity) ϕ, yaitu bilangan yang lebih kecil dar 1,0
untuk memperhitungkan ketidak-pastian dalam besarnya daya tahan (resistance
uncertainties). Selain itu diperhitungkan juga faktor gaya dalam ultimit Mu dengan
kelebihan beban (overload) γ (bilangan yang lebih besar dari 1,0) untuk menghitung
ketidak-pastian dalam analisa struktur dalam menahan beban mati (dead load), beban
hidup (live load), angin (wind), dan gempa (earthquake).

Mu ≤ Ø.Mn
Pada metode LRFD, yang dipertimbangkan adalah kondisi di ambang keruntuhan. Beban
yang digunakan adalah beban ultimate, dan tahanan yang digunakan mendekati
tahanan nominal.
C. Design Konstruksi Baja
Dalam perhitungan struktur baja ada beberapa metode yang dalam perencanaan
yaitu, diantaranya:

– Metode AISC ASD (Allowable Stress Design)


– Metode AISC LRFD (Load Resistance Factor Design)

Perencanaan struktur baja berdasarkan LRFD (SNI 03-1729-2002) harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut,

R = tahanannominal
n

Ø = faktortahanan

γi = faktorbeban

Q =beban mati, beban hidup, beban angin, dan gempa.


i

Kombinasi Beban ASD D = dead load


• 1.0D + 1.0L L = live load
• 0.75D + 0.75L + 0.75W W = wind load
• 0.75D + 0.75L + 0.75E E = earthquake load

Kombinasi Beban LRFD


• 1.4D D = dead load
• 1.2D + 1.6L L = live load
• 1.2D + 1.6W + 0.5L W = wind load
• 1.2D ± 1.0E + 0.5L E = earthquake load
• 0.9D ± (1.6W or 1.0E)

Defleksi ASD dan LRFD D = dead load


L = live load
• 1.0D + 1.0L W = wind load
• 1.0D + 1.0L + 1.0W E = earthquake load Gaya dan
• 1.0D + 1.0L + 1.0E Tegangan
ASD = tegangan yang terjadi akibat beban, akan dibandingkan dan
dikontrol dengan nilai tegangan
yang dijin, yakni tegangan ijin

LRFD = Gaya dan moment yang terjadi akan dibandingkan dengan gaya ijin dan
moment kapasitas yang diijinkan

D. Design Konstruksi Beton

Metode – metode desain

Ada dua metode desain beton bertulang yang telah digunakan sejak lama
1. Metode desain berdasarkan tegangan yang bekerja (Working Stress Method)
adalah metode desain yang memfokuskan pada beban-beban dalam keadaan
layan. Metode ini didasarkan pada tegangan-tegangan yang disebabkan oleh
beban layan (tanpa factor beban) tidak boleh melebihi tegangan ijin (tegangan
batas dibagi oleh factor keamanan/safety factor)
2. Metode desain berdasarkan kekuatan (Strength Design Method) adalah metode
desain yang meninjau kondisi dimana beban yang bekerja hamper menyebabkan
keruntuhan (jauh du atas beban layan, sering disebut beban ulrimate/beban
batas). Secara konsep, metode desain berdasarkan kekuatan diakui lebih rasional
dalam mencapai keamanan struktur.
Dalam metode desain berdasarkan kekuatan, cara yang digunakan untuk mencapai
tingkat keamanan ada dua yaitu :
1. Menggunakan factor-faktor pembebanan yang biasanya nilainya lebih besar dari
satu untuk menambah beban-beban layan
2. Mengalikan kekuatan nominal dari penampang dengan factor reduksi kekuatan
yang biasanya harganya lebih kecil dari satu

Kuat Rencana > Kuat Perlu


E. Design Konstruksi Kayu
Untuk kayu yang sama, tegangan ijin akan berbeda bila mutu kayu berbeda serta sifat
pembebanannya berbeda. Lima macam tegangan ijin kayu yang dibedakan menurut
gaya yang bekerja dan arah bekerjanya gaya:

Faktor Reduksi :

1. Tegangan-tegangan ijin pada table diatas, berlaku untuk kayu mutu “A”,
konstruksi terlindung & menerima pembeban tetap.
2. Kayu mutu “B” berlaku factor reduksi 0,75.
3. Konstruksi yang selalu terendam dalam air atau konstruksi tidak terlindung dan
kadar lengas selalu tinggi, berlaku factor 2/3.
4. Untuk konstruksi yang tidak terlindung tetapi kayu dapat mongering dengan
cepat, berlaku factor 5/6
5. Untuk Konstruksi yang memikul beban tetap dan bahan tidak tetap atau beban
angina, berlaku factor 5/4
IV. Refrensi

1. http://indraadnan92.blogspot.co.id/2011/08/konstruksi-kayu.html
2. http://irwan-adrs25.blogspot.co.id/2014/12/perencanaan-dan-desain-beton-
bertulang.html
3. http://duniatekniksipil.web.id/1929/apa-beda-asd-dan-lrfd/
4. http://amriwidiangga.blogspot.co.id/2013/02/metode-perencanaan-asd-plastis-
dan-lrfd.html
5. https://tosimasipil.blogspot.co.id/2013/10/struktur-baja-i.html
6. sni-03-1729-2000-baja
7. sni-1729-2015-struktur-baja-mengacu-aisc-2010
8. Tegangan-ijin-btg-tarik-02032015.pdf