Anda di halaman 1dari 9

Kelompok 1 A2

ARSITEKTUR BERKELANJUTAN

Arsitektur berkelanjutan adalah arsitektur yang memberikan kontribusi terbesar


terhadap pemanasan global (global warming).Data ASEAN Center for Energy (ACE),
48% pemanasan glbal dihasilkan oleh bangunan.

Untuk mencapai kenyamanan thermal maupun visual dalam bangunan, kondisi


lingkungan internal (temperatur, kelembaban, tingkat iluminasi) dapat diatur tanpa
ataupun dengan menggunakan peralatan teknologi mekanikal elektrikal yang
menggunakan energi dari sumber yang tidak dapat diperbarui.

Bangunan berkelanjutan adalah bangunan yang menggunakan metode konstruksi


yang berkelanjutan dan menggunakan material/bahan bangunan yang
memprioritasnkan kualitas lingkungan, vitalitsa ekonomi dan keuntungan sosial
melalui perancangan bangunan, operasional bangunan, perawatan dan dekonstruksi
lingkungan pada lokasi dimana dilakuakn pembangunan (lingkungan binaan).

Seperti juga pembangunan berkelanjutan yang melihat konsep berkelanjutan dari 3


aspek utama yaitu (1) kemajuan sosial, (2) pertumbuhan ekonomi dan (3)
keseimbangan ekologi, maka arsitektur berkelanjutan pun tidak dapat lepas dari
aspek-aspek tersebut.
Pembangunan berkelanjutan
memerlukan proses integrasi ekonomi dan ekologi mlalui upaya perumusan
paradigma dalam mengelol sumber daya seoptimal mungkin.
Pada tahun 1983, PBB membentuk Komisi Brundtland diketuai oleh Harlem
Brundtland.Komisi Brundtland adalah sebutan bagi Komisi Dunia untuk Lingkungan
dan Perubahan (World Commission of Environment and Development – WCED).
Komisi ini memfokuskan kajian pada 8 area analisis yaitu perspektif tentang
kependudukan, lingkungan dan pembangunan berkelanjutan; energi; industri;
keamanan pangan, pertanian, kehutanan, lingkungan dan pembangunan; pemukiman
manusia; hubungan ekonomi internasional; sistem pendukung untuk pengelolaan
lingkungan; dan kerjasama internasional.
Dua hal penting dalam konsep berkelanjutan ini yaitu kebutuhan (needs) dan generasi
pendatang (future generation) sehingga dalam pembangunan berkelanjutan perlu
diperhatikan :

 Konsep kebutuhan (the concept of needs). Menciptakan kondisi yang menjaga


tepenuhinya kebutuhan hidup yang memadai bagi seluruh masyarakat, dimana
kaum miskin sedunia harus diberi proritas utama.
 Konsep keterbatasan (the concept of limits). Memperhatikan dan menjaga
kapasitas lingkungan untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan akan datang.

Terdapat empat syarat yang harus dipenuhi bagi suatu proses pembangunan yang
berkelanjutan, yaitu :

1. Menempatkan suatu kegiatan dan proyek pembangunan pada lokasi yang


secara ekologis benar.
2. Pemanfaatkan sumber daya terbarukan (renewable resourse) tidak boleh
melebihi potensi lestarinya serta upaya mencari pengganti bagi sumber daya
tak tebarukan.
3. Pembuangan limbah industri dan rumah tangga tidak boleh melebihi kapasitas
asimilasi pencemaran.
4. Perubahan fungsi ekologis tidak boleh melebihi kapasitas daya dukung
lingkungan (carryng capacity).

Efisiensi dalam arsitektur berkelanjutan:

1. Efisiensi penggunaan energi


 Memanfaatkan sinar matahari
 Memanfaatkan penghawaan alami
 Memanfaatkan air hujan
 Konsep efisiensi penggunaan energi seperti pencahayaan

2. Efisiensi penggunaan lahan

 Menggunakan lahan dengan efisien


 Potensi hijau tumbuhan dalam lahan
 Menghargai kehadiran tanaman yang ada di lahan
 Desain terbuka dengan ruang-ruang yang terbuka ke taman
 Dalam perencanaan desain, pertimbangkan berbagai hal

3.Efisiensi penggunaan material

 Memanfaatkan material sisa untuk digunakan dalam pembangunan


 Memanfaatkan material bekas bangunan atau komponen lama yang masih
bisa digunakan
 Menggunakan material yang masih berlimpah
 Penggunaan teknologi dan material terbarukan
 Memanfaatkan potensi terbarukan seperti energi angin, cahaya matahari dan
ir
 Memanfaatkan material baru melalui penemuan baru yang secara global

4.Manajemen limbah

 Membuat sistem dekomposisi limbah organik


 Membuat sistem pengolahan limbah domestik
 Penyumbang kerusakan lingkungan alam terbesar adalah sektor konstruksi
yang secara Global mengonsumsi 50% sumber daya alam,40% energi dan
16% air. Konstruksi juga Menyumbangkan emisi CO2 terbanyak yaitu45%
(Akmal, 2007).

KONSEP ARSITEKTUR BERKELANJUTAN


1. Bangunan Hemat Energi

Bangunan hemat energi dalam dunia arsitektur adalah meninimalkan penggunaan


energi tanpa membatasi atau merubah fungsi bangunan, kenyamanan, maupun
produktivitas penghuninya. Hemat energi adalah suatu kondisi dimana energi
dikonsumsi secara hemat atau minimal tanpa harus mengorbankan kenyamanan fisik
manusia. Konsep bangunan hemat energi terdiri dari beberapa komponen, yakni
sebagai berikut:

 Meminimalkan perolehan panas matahari


 Orientasi bangunan utara-selatan
 Organisasi ruang : Aktivitas terdapat pada ruang utama yang diletakkan di
tengah bangunan, diapit oleh ruang-ruang penunjang atau service di sisi Timur-
Barat.
 Memaksimalkan pelepasan panas bangunan kemudian menghindari radiasi
matahari masuk ke dalam bangunan.
 Memanfaatkan radiasi matahari secara tidak langsung untuk menerangi ruang
dalam bangunan.
 Mengoptimalkan ventilasi silang untuk bangunan non-AC.
 Hindari pemanasan permukaan tanah sekitar bangunan

2. Efisiensi Penggunaan Lahan


 Lahan yang semakin sempit, mahal dan berharga tidak harus digunakan
seluruhnya untuk bangunan, karena sebaiknya selalu adalahan hijau dan
penunjang keberlanjutan potensilahan.
 Menggunakan seperlunya lahan yang ada, tidak semua lahan harus dijadikan
bangunan, atau ditutupi dengan bangunan, karena dengan demikian lahan
yang ada tidak memiliki cukup laha nhijau dan taman. Menggunakan lahan
secara efisien, kompak dan terpadu.
 Potensi hijau tumbuhan dalam lahan dapat digantikan atau dimaksimalkan
dengan berbagai inovasi, misalnya pembuatan atap diatas bangunan.
 Menghargai kehadiran tanaman yangada di lahan, dengan tidak mudah
menebang pohon-pohon, sehingga tumbuhan yang ada dapat menjadi bagian
untuk berbagi dengan bangunan.
 Desain terbuka dengan ruang-ruang yang terbuka ke taman (sesuai dengan
fleksibilitas buka-tutup yang direncanakan sebelumnya) dapat menjadi inovasi
untuk mengintegrasikan luar dan dalam bangunan, memberikan fleksibilitas
ruang yang lebih besar.
 Dalam perencanaan desain, pertimbangkan berbagai hal yang dapat menjadi
tolak ukur dalam menggunakan berbagai potensi lahan, misalnya; berapa luas
dan banyak ruang yang diperlukan.
 Dimana letak lahan (di kota atau di desa) dan bagaimana konsekuensinya
terhadap desain, bentuk site dan pengaruhnya terhadap desain ruang-ruang,
berapa banyak potensi cahaya dan penghawaan alami yang dapat digunakan.

3. Efisiensi Penggunaan Material

 Memanfaatkan material sisa untuk digunakan juga dalam pembangunan,


sehingga tidak membuang material, misalnya kayu sisa bekisting dapat
digunakan untuk bagian lain bangunan.
 Memanfaatkan material bekas untuk bangunan, komponen lama yang masih
bisa digunakan, misalnya sisa bongkaran bangunan lama.
 Menggunakan material yang masih berlimpah maupun yang jarang ditemui
dengan sebaik-baiknya, terutama untuk material yang semakin jarang seperti
kayu.

4.Penggunaan Teknologi dan Material

 Memanfaatkan potensi energi terbarukan seperti energi angin, cahaya


matahari dan air untuk menghasilkan energi listrik domestik untuk rumah
tangga dan bangunan lain secara independen. Memanfaatkan material baru
melalui penemuan baru yang secara global dapat membuka kesempatan
menggunakan material terbarukan yang cepat diproduksi, murah dan terbuka
terhadap inovasi, misalnya bambu.
KONSEP RUMAH HEMAT ENERGI

OSLO, (PRLM).- Bangunan beratap miring ini dirancang oleh Research Centre on
Zero Emission Buildings dari Norwegia dan perusahaan arsitektur Snøhetta, rumah
ramah lingkungan (ecohome) yang mampu menghasilkan tiga kali lebih banyak energi
daripada yang dibutuhkan.

Dibangun di Larvick, Norwegia, sebuah purwarupa dari rumah masa depan, memiliki
atap seluas 150 meter persegi yang ditutupi panel surya untuk menghasilkan listrik.

Atap ini dimiringkan tepat pada 19 derajat menghadap ke arah tenggara untuk
memastikan dapat menangkap sinar matahari sebanyak mungkin dan juga
menggabungkan panel surya termal untuk memanaskan air dan pengumpul air hujan
untuk kebutuhan toilet dan kebun.

Jendela juga dirancang untuk menangkap sinar matahari sebanyak mungkin untuk
membantu menjaga rumah tetap hangat.

Para desainer mengklaim bahwa rumah ini menghasilkan 19.200 kWh listrik dari panel
surya setiap tahunnya, sedangkan kolektor surya yang digunakan untuk memanaskan
air mengumpulkan lebih 4.000 kWh per tahun. Secara total menghasilkan energi yang
cukup untuk merebus ketel 185.600 kali.

KONSEP RUMAH SEHAT


Rumah yang baik dibuat dengan memperhatikan berbagai komponen penting yang
mempengaruhi sebuah rumah. Beberapa unsur penting seperti pencahayaan, tata
ruang, konsep pintu, jendela, dan ventilasi, sumber air, konsep sanitasi (sampah,
limbah rumah tangga, kamar mandi, WC) dll. harus diperhatikan untuk menciptakan
rumah dengan kriteria sehat.

Jendela dan ventilasi adalah bagian yang sangat penting untuk menciptakan rumah
yang sehat. Jendela dan ventilasi mengatur tata pencahayaan dan mengatur keluar
masuknya udara. Arah datangnya cahaya matahari harus diperhatikan untuk
mengatur panas dan cahaya yang masuk kedalam rumah. Ventilasi disesuaikan
dengan ukuran ruangan yang ada. Semakin besar ukuran jendela dan ventilasi akan
memperbesar penghilangan panas dan masuknya udara.

Pengaturan ruang juga menjadi hal pokok dalam pembuatan rumah sehat. Letak
ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan kamar mandi harus diperhatikan. Peletakan
kamar mandi yang berdekatan dengan ruang makan harus dihindari. Jika tidak
memungkinkan untuk meletakkan kamar mandi bersebrangan dengan ruang makan
(karena areal lahan pembuatan rumah yang minim), maka pengaturan ventilasi kamar
mandi harus dibuat sebaik mungkin. Sirkulasi udara harus langsung dari luar rumah
artinya, ventilasi berbatasan dengan lingkungan luar rumah.

Pembuatan rumah yang sehat harus memperhatikan kondisi geografis areal yang
akan dibuat rumah. ketersediaan air bersih harus diperhatikan. Selain itu rumah sehat
juga harus memperhatikan sanitasi. Letak pembuangan sampah harus diperhatikan,
sebaiknya sejauh mungkin dari rumah dan tidak mengganggu kenyamanan kita. WC
dan pembuangan limbah rumah tangga harus dibuat dengan baik agar tidak
mencemari lingkungan. Selain itu hal penting yang perlu diingat adalah jarak dengan
sumur atau sumber air minimal 10 m. mengapa demikian? hal ini dikarenakan zat-zat
kimia dan organisme mikroskopik biasanya masih banyak terdapat disekitar
penampungan WC dan pembuangan limbah rumah tangga.

Rumah sehat juga harus memperhatikan faktor biologi lingkungan sekitar rumah.
Sebaiknya tanam beberapa pohon yang perakarannya tidak merusak bangunan
sebagai penyedia kebutuhan oksigen dirumah kita. Selain itu dengan menanam
pohon lingkungan rumah juga menjadi asri, teduh.

KONSTRUKSI ARSITEKTUR BERKELANJUTAN


Bangunan hijau (juga dikenal sebagai konstruksi hijau atau bangunan berkelanjutan)
mengarah pada struktur dan pemakaian proses yang bertanggung jawab terhadap
lingkungan dan hemat sumber daya sepanjang siklus hidup bangunan tersebut, mulai
dari pemilihan tempat sampai desain, konstruksi, operasi, perawatan, renovasi, dan
peruntuhan. Praktik ini memperluas dan melengkapi desain bangunan klasik dalam
hal ekonomi, utilitas, durabilitas, dan kenyamanan.

Meski teknologi baru terus dikembangkan untuk melengkapi praktik penciptaan


struktur hijau saat ini, tujuan utamanya adalah bahwa bangunan hijau dirancang untuk
mengurangi dampak lingkungan bangunan terhadap kesehatan manusia dan
lingkungan alami dengan:

Menggunakan energi, air, dan sumber daya lain secara efisien


Melindungi kesehatan penghuni dan meningkatkan produktivitas karyawan
Mengurangi limbah, polusi dan degradasi lingkungan
Ada konsep sejenis bernama bangunan alami yang biasanya berukuran lebih kecil
dan cenderung fokus pada penggunaan bahan alami yang tersedia di daerah
sekitarnya. Konsep yang lain yaitu desain berkelanjutan dan arsitektur hijau.
Keberlanjutan dapat diartikan sebagai memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa
mengurangi kemampuan generasi masa depan memenuhi kebutuhan
mereka.Bangunan hijau tidak secara khusus menangani masalah pembaharuan
rumah yang sudah ada.

Laporan U.S. General Services Administration tahun 2009 menemukan 12 bangunan


yang dirancang secara berkelanjutan membutuhkan biaya yang lebih sedikit untuk
beroperasi dan memiliki performa energi yang sangat baik. Selain itu, penghuni lebih
puas dengan keseluruhan bangunan ini dibandingkan dengan di bangunan komersial
biasa.

Konsep Strategi Desain Berkelanjutan UIA dapat dijabarkan kedalam 9 point;


 Dimulai dengan tahap awal pekerjaan proyek yang melibatkan seluruh pihak :
klien, desainer, insinyur, pemerintah, kontraktor, pemilik, pengguna, dan
komunitas;
 Analisa dan Manajemen seluruhnya dari Daur Hidup Bangunan, yaitu
mengintegrasikan semua aspek dalam konstruksi dan penggunaan dimasa
depan;
 Optimalisasi desain yang efisien, energi terbarukan, teknologi modern dan
ramah lingkungan harus menjadi satu kesatuan;
 Kesadaran bahwa proyek arsitektur dan konstruksi tersebut merupakan sistem
interaktif yang kompleks dan terkait pada lingkungan sekitar yang lebih luas
yang bisa mencakup warisan sejarah, kebudayaan, dan sosial
masyarakat; Penerapan “material bangunan yang sehat”, yaitu untuk
menciptakan bangunan yang sehat, tata guna lahan yang seimbang, kesan
estetik dan inspiratif, serta memberikan keyakinan ke masyarakat;
 Upaya untuk mengurangi “carbon imprint”, mengurangi penggunaan material
berbahaya yang berdampak terhadap aktivitas pengguna;
 Upaya untuk meningkatkan kualitas hidup, kesetaraan baik lokal maupun
global, memajukan kesejahteraan ekonomi, serta menyediakan kesempatan-
kesempatan untuk kegiatan bersama masyarakat;
 Populasi urban tergantung pada sistem desa-kota yang terintergrasi, saling
terkait untuk keberlangsungan hidup seperti fasilitas publik (air, udara, rumah,
pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dll;
 Mendukung pernyataan UNESCO mengenai keberagaman budaya umat
manusia sebagai sumber pertukaran, penemuan, kreativitas yang sangat
diperlukan oleh manusia.
 Selanjutnya, konsep-konsep di atas dapat diterjemahkan bahwa pendekatan
“Sustainable Architecture” perlu diterapkan secara menyeluruh dengan melihat
seluruh daur hidup dari bangunan tersebut. Dan penerapannya harus secara
komprehensif dari maerial, dan penghijauan lingkungan. (Dari berbagai sumber
oleh: Iden Wildensyah)

REFERENSI:
http://dhea-architect.blogspot.co.id/2013/03/arsitektur-berkelanjutan.html
http://repository.petra.ac.id/15546/1/20110428-Gunawan_T-
Desain_Arsitektur_Berkelanjutan.pdf
https://clararchita77.wordpress.com/konstruksi-bangunan-berkelanjutan/
http://www.ilmusipil.com/konstruksi-berkelanjutan
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/modul/article/view/5376
http://www.pikiran-rakyat.com/node/311242
https://rarastrianaputri.wordpress.com/2015/01/06/konstruksi-bangunan-
berkelanjutan/