Anda di halaman 1dari 34

MTBS

No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP Tanggal Terbit :
Halaman :

PUSKESMAS ALFRIANUS, S.Km


PAKUE UTARA NIP.

1. Pengertian Manajemen terpadu Balita Sakit modul yang menjelaska secara rinci, cara menerapkan
proses keterpaduan pelayanan dalam menangani belita sakit yang datang.
2. Tujuan Sebagai pedoman kerja pelayanan dan pemeriksaan belita sakit.
3. Kebijakan SK Kepala Puskesmas
4. Referensi Buku pedoman manejemen belita sakit tahun 2014
5. Langkah- 1. Pasien (bayi/balita) datang keloket pendaftaran menuju keklinik MTBS untuk di
langkah review, timbang BB, ukur suhu badan, ukur TB, menghitung pernafasan, mengitung
denyut nadi.
2. Petugas MTBS menulis pasien pada buku registrasi MTBS
3. Petugas anamnese :
- Keluhan utama
- Lama sakit
- Pengobatan yang telah diberikan sebelumnya
- Riwayat penyakit lainnya
4. Petugas melakukan pemeriksaan TB, BB, Pernafasan, denyut nadi, status gizi dan
status imunisasi
5. Petugas menulis hasil temuan anamese dan pemeriksaan pasien
6. Petugas MTBS berkolaborasi dengan dokter sesuai dengan jenis penakitnya, serta
pasien dibawah kepoli umum
6. Unit Terkait Dokter
- Gizi
- Kesling
- KIA/ KB

7. Diagram Alir

Pasien Balita Loket Pendaftaran Poli MTBS


Konsultasi Dokter
Rujuk RS Klinik Gizi
di Poli Umum

Apotik KIA / KB

Pasien Pulang
Pencatatan Dan
pelaporan

A) PENDAHULUAN
Semakin majunya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terutama dalam
bidang Kesehatan memberikan dampak terhadap peningkatan usia harapan hidup.
Peningkatan usia harapan hidup terutama kualitas usia lanjut tidak diikuti oleh
peningkatan kualitas kehidupannya, karena secara fisiologis usia lanjut akan mengalami
banyak kemunduran dalam semua aspek kehidupannya. Hal ini dapat mengakibatkan
tingkat produktifitas dan kemandiriannya secara nyata semakin berkurang, karena
kemunduran ini mungkin akan menimbulkan ketergantungan pada orang lain. Namun
harus disadari bahwa manusia menjadi tua bukan suatu hal yang luar biasa, karena proses
ini adalah peristiwa yang alami yang sudah pasti datang pada orang-orang yang berumur
panjang.
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang
kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih
dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008).
Penetapan usia 65 tahun ke atas sebagai awal masa lanjut usia (lansia) dimulai pada
abad ke-19 di negara Jerman. Usia 65 tahun merupakan batas minimal untuk kategori
lansia. Namun, banyak lansia yang masih menganggap dirinya berada pada masa usia
pertengahan. Usia kronologis biasanya tidak memiliki banyak keterkaitan dengan
kenyataan penuaan lansia. Setiap orang menua dengan cara yang berbeda-beda,
berdasarkan waktu dan riwayat hidupnya. Setiap lansia adalah unik, oleh karena itu
perawat harus memberikan pendekatan yang berbeda antara satu lansia dengan lansia
lainnya (Potter & Perry, 2009).
Klasifikasi pada lansia berdasarkan Depkes RI (2003) dalam Maryam dkk (2009)
yang terdiri dari : pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun,
lansia ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih, lansia resiko tinggi ialah seseorang
yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan
masalah kesehatan, lansia potensial ialah lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan
dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa, lansia tidak potensial ialah lansia
yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang
lain.

B) LATAR BELAKANG

Salah satu dampak keberhasilan pembangunan kesehatan adalah terjadinya


penurunan angka kelahiran, angka kesakitan dan angka kematian serta peningkatan
angka harapan hidup penduduk Indonesia. Indonesia termasuk dalam lima besar negara
dengan jumlah lanjut usia terbanyak di dunia. Berdasarkan sensus penduduk pada tahun
2010, jumlah lanjut usia di Indonesia yaitu 18,1 juta jiwa (7,6% dari total penduduk). Pada
tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia menjadi 18,781 juta jiwa dan
diperkirakan pada tahun 2025, jumlahnya akan mancapai 36 juta jiwa.

Lanjut Usia mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat,


berbangsa dan bernegara. Berdasarkan UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
menyebutkan bahwa untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat
dilaksanakan berdasarkan prinsip non diskriminatif, partisipatif dan berkelanjutan.
Dalam undang-undang kesehatan pasal 138 disebutkan bahwa upaya pemeliharaan
kesehatan bagi lanjut usia harus ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan
produktif secara sosial maupun ekonomis.

Meningkatnya jumlah lanjut usia akan menimbulkan berbagai permasalahan yang


kompleks bagi lanjut usia itu sendiri maupun bagi keluarga dan masyarakat.berdasarkan
data Riskedas tahun 2007, 10 penyebab kematian pada umur 65 tahun keatas pada laki-
laki adalah stroke (20,6%), penyakit saluran napas bawah kronik (10,5%), TB (8,9%),
Hipertensi (7,7%), NEC (7,0%), penyakit jantung iskemic (6,9%), penyakit jantung lain
(5,9%), diabetes mellitus (4,9%), penyakit hati (4,4%), pneumonia (3,8%). Pada
perempuan adalah stroke (24,4%),hipertensi (11,2%), NEC (9,6%), penyakit saluran napas
bawah kronik (6,6%), diabetes mellitus (6,0%), penyakit jantung iskemik (6,0%), penyakit
jantung lain (5,9%), TB (5,6%), pneumonia (3,0%), dan penyakit hati (2,2%). Dari data
terlihat penyebab utama kematian pada lanjut usia sudah bergeser ke penyakit
degenerative, sehingga perlu dilakukan upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitative terhadap penyakit tersebut.

Sebagai unit terdepan dalam pelayanan kesehatan, Puskesmas diharapkan mampu


melakukan upaya-upaya tersebut diatas.Menurut data di UPT Puskesmas Karangmojo II
jumlah usia lanjut tahun 2015 adalah sebagai berikut

Usia Laki-laki Perempuan


45 – 59 tahun 2.384 2.768
60 – 69 tahun 1.065 1.325
≥ 70 tahun 1.124 1.235
Jumlah 4.573 5.328

C) TUJUAN
1) Tujuan Umum
Meningkatakan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai
masa tua yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan masyakat
sesuai
dengan keberadaannya dalam strata kemasyarakatan.
2) Tujuan Khusus
a. Meningkatkan kesadaran pada usia lanjut untuk membina sendiri
kesehatannya.
b. Meningkatkan kemampuan dan peran serta masyarakat termasuk
keluarganya dalam menghayati dan mengatasi kesehatan usia lanjut.
c. Meningkatkan jenis dan jangkauan kesehatan usia lanjut.
d. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut

D) KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


Kegiatan yang dilakukan adalah :
1) Pemeriksaan Kesehatan Usila di tingkat layanan Puskesmas
2) Pembentukan Posyandu Usila
3) Pembinaan Posyandu Usila
4) Skrening Kesehatan Usila
5) Prolanis
6) Senam Usila
7) Refreshing Kader Usila
8) Pencatatan dan pelaporan kegiatan tiap 3 bulan / trimester

E) CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN


1) Pemeriksaan Kesehatan Usila di tingkat layanan Puskesmas
a. Pelayanan kesehatan dasar
b. Pelayanan kesehatan spesifikasi melalui sistem rujukan
2) Pembentukan Posyandu Usila
a. Sosialisasi tentang posyandu usila
b. Pendataan desa/dusun mana yang dianggap perlu dibentuk posyandu usila
dengan bantuan kader
c. Pembentukan kader usila
d. Penjelasan tentang tugas 5 meja di posyandu usila
e. Penjelasan tentang cara membaca dan mengisi KMS usila
f. Penjelasan tentang cara mengukur tekanan darah dan nadi
3) Pembinaan Posyandu Usila
a. Penyuluhan
b. Evaluasi pelaksanaan 5 meja
4) Skrening Kesehatan Usila
a. Pendataan usila sesuai usia dilakukan skrening yang dibantu kader
b. Melakukan skrening pada usila di posyandu dengan alat yang sudah
ditentukan
5) Prolanis
a. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan teratur pada pasien hipertensi
dan diabetes mellitus
b. Melaksanakan kelas edukasi prolanis yang dilaksanakan rutin setiap bulan
satu kali untuk masing-masing kriteria penyakit
6) Senam Usila
Kesegaran jasmani yang dilakukan secara teratur dan disesuaikan dengan
kemampuan usia lanjut serta tetap merasa sehat dan bugar. Dilaksanakan setiap
hari jumat jam 07.30 wib di Puskesmas Karangmojo II
7) Refreshing Kader Usila
Dilakukan satu kali dalam satu tahun bertujuan untuk menyegarkan kader
usila mengenai kesehatan usila dan pelaksanaan posyandu usila.
8) Pencatatan dan pelaporan
Dilakukan tiap 3 bulan sekali oleh kader posyandu ke Puskesmas
Karangmojo II dan petugas usila Puskesmas melakukan rekap data yang
kemudian data tersebut dilaporkan ke Dinas Kesehatan.

F) SASARAN
a) Sasaran pembinaan Secara Langsung
(1) Kelompok usia menjelang usia lanjut ( 45 -54 tahun ) atau dalam virilitas
dalam keluarga maupun masyarakat luas.
(2) Kelompok usia lanjut dalam masa prasenium ( 55 -64 tahun ) dalam
keluarga,organisasi masyarakat usia lanjut dan masyarakat umumnya.
(3) Kelompok usia lanjut dalam masa senescens ( >65 tahun ) dan usia lanjut
dengan resiko tinggi ( lebih dari 70 tahun ) hidup sendiri, terpencil, hidup
dalam panti, penderita penyakit berat, cacat dan lain-lain.
(4) Kader Usila
b) Sasaran Pembinaan Tidak Langsung
(1) Keluarga dimana usia lanjut berada.
(2) Masyarakat luas.

G) EVALUASI PRA PELAKSANAAN PROGRAM


a) Evaluasi target tahun sebelumnya yang sudah tercapai dantarget tahun yang akan
dilaksanakan
b) Evaluasi pelaksanaan 1-2 minggu sebelum pelaksanaan
c) Kegiatan dilaksanakan oleh pelaksanan program usila,drokter umum, dokter gigi,
tim prolanis, dan petugas lain yang ada di wilayah Puskesmas Karangmojo II
d) Semua hasil kegiatan dilaporkan kepada Kepala Puskesmas dilanjutkan ke Dinas
Kesehatan Gunungkidul

H) PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN


Hasil pelaksanaan kegiatan Usila dicatat dalam form laporan yang sudah
disediakan. Laporan program dibuat setelah pelaksanaan kegiatan dan dilaporkan ke
Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul.Evaluasi kegiatan dilakukan dengan melihat
cakupan kegiatan Puskesmas. Kegiatan dilakukan oleh pelaksanan program Usila,dr
umum,dr gigi,tim prolanis dan tenaga kesehatan lain di Puskesmas Karangmojo II.
G) BIAYA
NO Nama Sasaran Volume Lokasi Rincian dana Harga satuan Jumlah total Pelaksanaan
Kegiatan perkegiatan Kegiatan
RENCANA USULAN KEGIATAN ( RUK )
UPAYA KESEHATAN USIA LANJUT
TAHUN 2017

Kebutuhan Sumber daya Sum


Upaya Indikator
No Kegiatan Tujuan Sasaran Target ber
Kesehatan Dana Alat Tenaga keberhasilan
Biaya
A. PERSIAPAN
1. Pertemuan lintas Koordinasi dengan Pemegang Adanya kerja ATK Ka. Pus. Terjalinnya kerja
7 USILA
program program lain program terkait sama lintas Dan staf sama antar program
prog
B. PELAKSANAAN
1. Pendataan Usila Mengetahui jml klp. Semua kelompok 1 x / Br 1 or x 22 Br x Medis dan Semua klp. lansia BOK/
lansia yg ada usila Rp 50.000 = Rp paramedis terdata dan tercatat. APBD
1.100.000

2. Pembinaan kader Kaderisasi Tokoh 1 x / Br 3 or x 1 x 22 Br Makalah, Medis dan Ditiap-tiap dusun BOK/
Usila pelaksana program masyarakat x Rp 50.000 = alat peraga paramedis terbentuk 1 APBD
kelompok usila dimasing-masing Rp 3.300.000 kelompok posyandu
dilapangan. dusun usila.

3. Pembinaan Meningkatkan Kelompok usila 1 x / Br 3 or x 1 x 22 Br Makalah, Medis dan Kelompok usila BOK/
Kelompok Usila peran serta klp. yang telah didata x Rp 50.000 = alat peraga paramedis dapat memelihara APBD
Serta status Rp 3.300.000 keseha-tannya
kesehatannya secara kolektif

4. Pelayanan Memberikan Usila yang 4 x / Ds / th 4 or x 4 Ds x 12 Obat,sa- Medis dan Kelompok usila BOK/
Kesehatan Usila pelayan kesehatan mempu-nyai x Rp 50.000 = rana kes paramedis dapat ADD
Resti pada usila resti masalah Rp 9.600.000,- lain mempertahankan
kesehatan kebugarannya.
C. EVALUASI
1. Pelaporan dan Mencatat dan Semua kegiatan Semua hasil 1 rim hvs x Rp ATK Pet.Gilut Adanya data kes. APBD
pencatatan melaporkan hasil yang telah kegiatan 35.000. Gigi dan mulut
kegiatan dilaksanakan tercatat dan
dilaporkan
2. Monitoring Mengetahui hasil Hasil kegiatan Semua Ka.Pus. Pencapaian sesuai
kegiatan kegiatan program kegiatan target.
terawasi
JUMLAH RENCANA ANGGARAN PROGRAM USILA Rp. 17.335.000,-
JADWAL KEGIATAN PROGRAM USILA
UPT PUSKESMAS KARANGMOJO II
TAHUN 2016

Nama Kegiatan Sasaran Bulan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
SOP
S PEMERIKSAAN KESEHATAN MATA
P PUSKESMAS
No. Dokumen : 445/1.1.5.2/SPO/KI/2016
O
No. Revisi :
Tanggal Terbit : 5 Desember 2016
Halaman : 1/2
dr.ABIMAYU
PUSKESMAS
NIP 19700526 200501 1
KUMAI
011
6. Pengertian . Suatu pemeriksaan yang di lakukan untuk mengetahui adanya gangguan
kesehatan mata.

7. Tujuan Mengidentifikasi jenis gangguan kesehatan mata untuk mencegah serta


menentukan terapi/pengobatan, penanganan lebih lanjut dan sebagai dasar
untuk melakukan rujukan ke pelayanan kesehatan rujukan / Rumah Sakit
sesuai Standar.
Sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pemeriksaan Mata sesuai
standar
I) Kebijakan Keputusan Pimpinan Puskesmas Kumai Nomor: 445/1.2.5.10b/SK/KI/2016
Tentang Mekanisme Penyelenggaraan Pelayanan dan Upaya Puskesmas.
J) Referensi
K) Langkah- Standar Tenaga
langkah Dokter : 1 orang
Perawat : 1 orang
1. ANAMNESA
 Menyapa pasien dengan ramah, sambil menatap mata pasien dengan lembut
dan mengucapkan salam
 Bila kunjungan yang pertama perlu menanyakan identitas pasien :Nama ,
umur, alamat rumah, pekerjaan.
 Bila kunjungan ulang, maka jawaban pasien dicocokkan dengan kartu status
pasien
 Bertanya dengan ramah dan hati-hati tentang
Riwayat Penyakit :
 Tentukan masalah yang mendorong klien untuk mencari bantuan
kesehatan.
 Tanyakan pada klien adakah kelopak mata yang turun menutup terus
menerus, Nyeri mata, foto phobia (kerentaan terhadap cahaya) rasa
seperti terbakar pada mata, gatal, air mata, kotoran mata yang
berlebihan, diplopia (pandangan ganda), pandangan kabur , perasaan
adanya ‘’ film ‘’ diatas lapang penglihatan, mengambang (titik hitam
kecil yang tampak menghilang pada lapang penglihatan), cahaya
kilatan, lingkaran hitam (halo) di seputar cahaya.
 Tentukan apakah klien mempunyai riwayat penyakit mata, trauma
pada mata, diabetes, hipertensi, atau masalah visual
 Tentukan apakah ada riwayat keluarga dengan gangguan mata,
meliputi gloukoma atau retinitis pigmentosa
 Kaji riwayat pekerjaan klien mengenai aktivitas kerja yang
memerlukan kerja tertutup, kerja yang melibatkan computer, atau
aktivitas seperti pengelas, terpajan langsung dengan bahan kimia yang
membuat resiko cedera mata.
 Tanyakan pada klien apakah memakai kaca mata, atau lensa kontak
atau tidak
 Tentukan tanggal terakhir klien memeriksakan mata.
 Kaji obat obatan yang sudah di pakai termasuk tetes mata.

2. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan dengan cara :
KETAJAMAN PENGLIHATAN
Tahap I
i. Lakukan pemeriksaan sekilas dengan meminta klien membaca surat
kabar/majalah.Pastikan pencahayaan cukup. Klien berkacamata
seharusnya memakai kecamatanya selama tahap pemreksaan ini.
Perhatikan cara klien memegang lembaran yang dibaca dari matanya.
ii. Pastikan klien tidak buta huruf. Mintalah klien agar membaca dengan
keras untuk memastikan bahwa klien tidak buta huruf. Bila klien
menghadapi kesulitan lanjutkan pengujian ke tahap II
Tahap II
i. Untuk pemeriksaan yang akurat gunakan lembar pemeriksaan Snellen.
Pastikan bahwa lembaran pemeriksa benar benar diterangi. Buat klien
berdiri 20 kaki (6,1 m) jauhnya dari lembar Snellen atau duduk di kursi
pengujian yang telah terpasang khusus bersebrangan dengan layar
periksa
ii. Minta klien untuk membaca huruf huruf pada layar dimulai dari garis
yang mana saja, pertama dengan kedua mata terbuka dan kemudian
dengan satu mataterpisah (mata lainnya ditutupi)
iii. Selalu menguji pertanma kali tanpa kacamata. Kemudian bila memakai
kacamata jarak jauh, ulangi pengujian. Tentukan baris terkecil dimana
klien dapat membaca seluruh huruf dengan benar baca ketajaman untuk
garis tersebut.
iv. Bila klien tidak bisa membaca, gunakan kartu ‘’E’’ dan tentukan arah
tangan huruf ‘’E ‘’ . Pada anak kecil, gunakan lembaran dengan
gambaran obyek yang dikenal. Catat nilai ketajaman penglihatan untuk
masing masing mata dan kedua mata dalam dua nilai :
 Pembilang adalah jarak dari lembar pemeriksaan ke klien dalam
ukuran kaki.
 Penyebut adalah nomor standar untuk garis tersebut pada lembar
pemeriksa ( contoh : 20/80 ). Nomor standar ini adalah jarak
dimana mata normal dapat membaca baris tersebut.
Tahap III
i. Uji masing-masing mata dengan klien membaca kartu indek dengan
menutupi satu mata bergiliran
ii. Jangan menggunakan tangan untuk menutupi mata
iii. Minta klien dengan gangguan penglihatan parah untuk menghitung jari
jari yang diacungkan kurang lebih satu kaki ( 30 cm ) dari wajah klien.
iv. Bila klien gagal dalam kedua tes tersebut, sinari mata klien dengan senter
kecil dan kemudian padamkan cahayanya . Tanyakan apakah klien
melihat cahaya.
Hasil Normal :
 Nilai normal ketajaman penglihatan adalah 20/20
 Catat, apabila ketajaman penglihatan diukur dengan kacamata
perbaikan atau lensa kontak ( cc ) atau tanpa perbaikan ( sc ).
Penyimpangan dari Normal :
Nilai ketajaman penglihatan 20/200 dianggap buta total

PEMERIKSAAN LAPANG PENGLIHATAN

Pemeriksaan lapang penglihatan dengan cara :

i. Buat klien duduk atau berdiri 2 kaki 60 cm jauhnya, berhadapan dengan


petugas sejajar ketinggian mata.
ii. Minta klien untuk menutupi atau melapisi dengan perlahan satu mata
menggunakan kartu indeks dan menatap mata petugas berlawanan arah
–contoh mata kiri klien, mata kanan petugas-
iii. Tutup atau lapisi mata petugas yang berlawanan dengan mata klien
sehingga lapang penglihatan petugas tidak bertumpang tindih dengan
lapangan penglihatan klien.
iv. Gerakkan jari dengan jarak sebanding panjang lengan diluar lapang
penglihatan.
v. Minta klien untuk mengatakannya bila melihat jari petugas.
vi. Perlahan tarik jari petugas mendekat. Jari selalu dijaga tetap di tengah
anatara petugas dan klien.
vii. Ulangi prosedur pada sisi yang lain, atas dan bawah. Selalu harus
membandingkan titik dimana petugas melihat jari tersebut memasuki
lapang penglihatan petugas dan titik di mana klien melihatnya.
viii. Ulangi prosedur dengan ke empat arah pada mata lainnya.
Bila klien melihat jari sedikit lebih lama dari petugas, klien mengalami
penyempitan lapang penglihatan. PEMERIKSAAN VISUS
Pemeriksaan visus dengan cara :
I. Kartu diletakkan pada jarak 5 atau 6 meter dari pasien dengan posisi
lebih tinggi atau sejajar dengan mata pasien.
Bila jarak 5 meter, maka visus normal akan bernilai 5/5 artinya mata
normal dapat melihat pada jarak 5 meter, pasien juga dapat melihat pada
jarak 5 meter. Bila berjarak 6 m, berarti visus normalnya 6/6. Satuan
selain meter ada kaki = 20/20, ada juga log (logaritma).
II. Pastikan cahaya harus cukup
III. Bila ingin memeriksa visus mata kanan, maka mata kiri harus ditutup
dan pasien diminta membaca kartu.
IV. Cara menilai visus dari hasil membaca kartu :

a) Bila pasien dapat membaca kartu pada baris dengan visus 5/5 atau 6/6,
maka tidak usah membaca pada baris berikutnya => visus normal

b) Bila pasien tidak dapat membaca kartu pada baris tertentu di atas visus
normal, cek pada 1 baris tersebut

i. Bila cuma tidak bisa membaca 1 huruf, berarti visusnya


terletak pada baris tersebut dengan false 1.

ii. Bila tidak dapat membaca 2, berarti visusnya terletak pada


baris tersebut dengan false 2.

iii. Bila tidak dapat membaca lebih dari setengah jumlah huruf
yang ada, berarti visusnya berada di baris tepat di atas
baris yang tidak dapat dibaca.

iv. Bila tidak dapat membaca satu baris, berarti visusnya


terdapat pada baris di atasnya.

c) Bila terdapat penurunan visus, maka cek dengan menggunakan pinhole


(alat untuk memfokuskan titik pada penglihatan pasien)
d) Bila visus tetap berkurang => berarti bukan kelainan refraksi.
e) Bila visus menjadi lebih baik dari sebelumnya => berarti merupakan
kelainan refraksi

PEMERIKSAAN TONOMETER

Pemeriksaan tonometer dengan cara :

Menggunakan Tonometer dari Schiotz.


i. Klien diminta tidur terlentang di tempat tidur.
ii. Mata penderita terlebih dulu ditetesi dengan larutan anestesi lokal- pantokain
0,5%, masing-masing 1 tetes. Ditunggu sampai klien tidak merasa perih.
iii. Kelopak mata klien dibuka dengan telunjuk dan ibu jari –jangan tertekan bola
mata pasien-
iv. Pasien diminta meletakkan ibu jari tangannya di depan matanya atau pasien
melihat ke langit-langit ruang pemeriksaan.
v. Tonometer diletakkan dengan perlahan-lahan dan hati-hati diatas cornea
penderita.
vi. Setelah telapak tonometri menunjukkan angka yang tetap,dibaca nilai tekanan
pada skala busur schiotz yang berantara 0-15
vii. Misalnya menunjukkan angka 5 dengan beban 5.5, maka tekanan bola matanya
ialah 5/5.5. lalu carilah tabel konversi yang selalu ada pada setiap tonometer.
Misssalnya untuk 5/5.5 akan terdapat angka konversi 15.0 mmHg.
viii. Apabila dengan beban 5.5 jarum skala tidak bergerak atau bergerak Cuma
sedikit, misalnya hanya pada angka 1-2, maka gantilah beban tonometer dengan
beban 7.5. apabila dengan beban ini angka skala menunjukkan angka 4, maka
tekanan bola mata ialah 4/7.5. lalu bacalah tabel konversi untuk mendapatkan
angka untuk itu.
1. Tekanan bola mata yang disebut normal ialah yang berkisar antara 15-22mmHg.
Jika tekanan bola mata di bawah 10 mmHg, maka berarti rendah dan bila diatas 25
mmHg berati tinggi. DIAGNOSA
Dari hasil pemeriksaan didapatkan diagnosa :
 Katarak sesuai SOP
 Kelainan Refraksi sesuai SOP
 Glaukoma sesuai SOP
 Konjungtivitis sesuai SOP
 Xerofthalmia sesuai SOP
 Buta Warna sesuai SOP

4. PENATALAKSANAAN
 Penatalaksanaan Katarak sesuai SOP
 Penatalaksanaan Kelainan Refraksi sesuai SOP
 Penatalaksanaan Glaukoma sesuai SOP
 Penatalaksanaan Konjungtivitis sesuai SOP
 Penatalaksanaan Xerofthalmia sesuai SOP
 Penatalaksanaan Buta Warna sesuai SOP

5. KONSELING
 Konseling Katarak sesuai SOP
 Konseling Kelainan Refraksi sesuai SOP
 Konseling Glaukoma sesuai SOP
 Konseling Konjungtivitis sesuai SOP
 Konseling Xerofthalmia sesuai SOP
 Konseling Buta Warna sesuai SOP

6. PENCATATAN DAN PELAPORAN


 Pencatatan dan pelaporan Katarak sesuai SOP
 Pencatatan dan pelaporan Kelainan Refraksi sesuai SOP
 Pencatatan dan pelaporan Glaukoma sesuai SOP
 Pencatatan dan pelaporan Konjungtivitis sesuai SOP
 Pencatatan dan pelaporan Xerofthalmia sesuai SOP
 Pencatatan dan pelaporan Buta Warna sesuai SOP

8. Bagan Alur

7. Hal-hal yang
perlu
diperhatikan
8. Unit Terkait Loket, Apotek, Bagian Gizi,Poli Gigi, Poli Anak
9. Dokumen
Terkait
10. Rekam
Historis No. Yang dirubah Isi Perubahan Tanggal
Perubahan Diberlakukan
SOP
S PEMERIKSAAN KATARAK

P
No. Dokumen : 445/1.1.5.2/SPO/KI/2016
O No. Revisi :
Tanggal Terbit : 5 Desember 2016
Halaman : 1/2
dr.ABIMAYU
PUSKESMAS
NIP 19700526 200501 1
KUMAI
011
8. Pengertian Pemeriksaan gangguan penglihatan yang disebabkan perubahan lensa mata yang
seharusnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh, akibatnya obyek yang dilihat
menjadi kabur dan menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas ( Katarak).
9. Tujuan Sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pemeriksaan katarak sesuai standar
10. Kebijakan Keputusan Pimpinan Puskesmas Kumai Nomor: 445/1.2.5.10b/SK/KI/2016 Tentang
Mekanisme Penyelenggaraan Pelayanan dan Upaya Puskesmas.
11. Referensi
12. Langkah- Standar Tenaga
langkah Dokter :1 orang
Perawat : 1 orang
1.Sarana Non Medis :
a. Ruang Pemeriksaan
 Ukuran minimal 4 m x 4 m²
 Ventilasi dan pencahayaan yang cukup
 Ruangan bersih dan rapi
 Wastafel dengan air yang mengalir, dilengkapi dengan sabun cair serta
handuk tangan yang bersih / disposible tissue
b. Mebelair
 Meja kursi satu set untuk pemeriksa dan pasien serta pengantar
c. Lain lain
 Tempat sampah medis dan non medis masing masing 1 buah
 Buku register pasien
 Status / lembar rekam medis
 Informed Consent
 Kertas resep
 Blanko permintaan laboratorium
 Alat tulis menulis
 Formulir rujukan

2.Sarana Medis :
 Stetoskop dan tensimeter
 Pinhole (cakram berlubang)
 Snellen chart
 Penutup 1 mata (okluder)
 Senter
 APD

Prosedur Tetap
1) Anamnesa
2) Pemeriksaan
3) Diagnosa
4) Penatalaksanaan
5) Konseling
6) Pencatatan dan pelaporan
1) ANAMNESA
1. Menyapa pasien dengan ramah, sambil menatap mata pasien dengan lembut dan
mengucapkan salam
2. Bila kunjungan yang pertama perlu menanyakan identitas pasien :Nama , umur,
alamat rumah, pekerjaan.
3. Bila kunjungan ulang, maka jawaban pasien dicocokkan dengan kartu status pasien
4. Bertanya dengan ramah dan hati-hati tentang
Riwayat penyakit :
 Apa gejala yang paling dirasakan sehingga bapak/ibu,Sdr/Sdri datang
kesini? ” (menanyakan riwayat penyakit utama).
 Kapan pertama kali timbul keluhan ?
 Apakah keluhan ini timbul pertama kali atau sudah berulang ?
 Apakah ada riwayat trauma pada mata, atau terkena debu, binatang,
cairan, dll ?
 Apakah ada keluhan/penyakit lain yang diderita (ex:DM,HT,dll) dan
riwayat penyakit sebelumnya ?
 Adakah riwayat alergi (debu,asap kendaraan,udara,makanan/minuman,
alergi obat,dll)
 Apakah sudah pernah berobat atau sudah minum obat- obatan tertentu ?
( riwayat pengobatan sebelumnya )
 Apakah timbul gangguan penurunan penglihatan ?
 Spesifik Katarak :
 Apakah ada penurunan penglihatan/ pandangan buram, kabur,
seperti tertutup kabut / berasap bahkan pada siang hari ?
 Apakah peka terhadap sinar atau cahaya ?
 Apakah terjadi diplobia/melihat dobel pada satu mata ?
 Apakah ada nyeri pada mata ?(biasanya pada katarak tidak disertai
nyeri kecuali terdapat komplikasi lain)
 Kapan mulai terjadi kekeruhan lensa, sejak usia ?(untuk mengetahui
jenis Katarak)
 Apakah ada riwayat trauma atau riwayat penyakit lain ? (Untuk
mengetahui jenis Katarak)

2) PEMERIKSAAN

a) Pemeriksaan Fisik

 Pada saat pertama kali bertemu dengan pasien , kita melihat dan menilai keadaan
umum pasien, apakah pasien kelihatan sakit, lemah, pucat, atau tampak sehat, dan
bagaimana pasien datang apakah bisa berjalan sendiri atau dibantu keluarga untuk
menilai fungsi penglihatan.
 Melihat keadaan mata pasien, apakah mata tampak merah, adanya secret/kotoran,
sembab, ada benjolan apa tidak, lensa mata keruh apa tidak, apakah pada sklera
tampak bersih,warna konjungtiva,dan apakah tampak tanda-tanda abnormal di
bandingkan mata sehat.
Perhatikan :
 Lensa Perhatikan kejenihannya. Normal jernih, kalau keruh suspek katarak.
 Cairan mata ( Normal, bertambah, berkurang) Untuk menentukan stadium katarak
 Iris (Normal atau terdorong, tremulans ) Untuk menentukan stadium katarak
 Bilik mata depan ( Normal, dangkal ) Untuk menentukan stadium katarak
 Sudut bilik mata ( Normal, sempit, terbuka ) Untuk menentukan stadium katarak
b) Pemeriksaan fungsi Penglihatan
Lakukan pemeriksaan visus sesuai SOP pemeriksaan mata

c) Pemeriksaan Stadium Katarak

 Lakukan Pemeriksaan selanjutnya apabila ada indikasi katarak, yaitu : Dari


anamnesa diketahui adanya penurunan fungsi penglihatan ( mata buram ,redup,
berkabut termasuk saat siang hari, diplobia, peka terhadap sinar, dll)

 Dari pemeriksaan Inspeksi ditemukan kekeruhan lensa

 Dari pemeriksaan Visus diperoleh adanya penurunan ketajaman penglihatan bukan


karena kelainan refraksi

 Lakukan Shadow Test untuk mengetahui Stadium Katarak, dengan cara sebagai
berikut :
Untuk melihat lensa lebih jelas bisa memakai obat tetes yang berisi midriatill yang
fungsinya untuk midriasis pupil, jadi lensanya bisa lebih mudah dilihat
 Pasien diminta melihat lurus ke depan
 Lalu pemeriksa menyenteri mata pasien pada sudut 45 0 dari samping, dari
bayangan iris.
 Nanti ada bayangan yang dibiaskan dari humor aquosus.
 Katarak matur : lensa lebih cembung karena menyerap cairan lebih
banyak,bayangan iris pada lensa terlihat kecil dan letaknya dekat terhadap
pupil, shadow test (-) ; katarak imatur: lensa masih kecil,terdapat bayangan
iris pada lensa terlihat besar dan letaknya jauh terhadap pupil, shadow test
(+)

3) PENEGAKAN DIAGNOSA
Dari Anamnesa dan Pemeriksaan dapat ditegakan Diagnosa Katarak sesuai dengan jenis
dan stadium Katarak
A. Menurut Jenisnya :
 Katarak Kongenital apabila kekeruhan lensa mata timbul pada saat pembentukan
lensa, Sudah terdapat pada saat bayi baru lahir
 Katarak Senile apabila keluhan lensa yang terdapat pada usia diatas 50 tahun
 Katarak Juvenile apabila mulai terbentuknya saat usia kurang dari 9 tahun dan
lebih dari 3 bulan biasanya merupakan lanjutan katarak kongenital
 Katarak komplikata apabila Katarak terjadi akibat komplikasi dari penyakit lain
seperti penyakit sistemik, dan trauma
B. Menurut Stadiumnya :
 Stadium insipien Dimana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi lensa
 Stadium imatur Lensa yang degeneratif mulai menyerap cairan mata ke dalam
lensa sehingga lensa menjadi cembung
 Stadium matur merupakan proses degenerasi lanjut lensa , terjadi kekeruhan
seluruh lensa
 Stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan korteks lensa
dapat mencair sehingga nucleus lensa tenggelam dalam korteks lensa ( katarak
Morgagni)
PERBEDAAN KARAKTERISTIK KATARAK UNTUK MENEGAKAN DIAGNOSA
SESUAI HASIL PEMERIKSAAN
INSIPIEN IMATUR MATUR HIPERMATUR

KEKERUHAN RINGAN SEBAGIAN SELURUH MASIF

CAIRAN NORMAL BERTAMBAH NORMAL BERKURANG


LENSA MATA

IRIS NORMAL TERDORONG NORMAL TREMULANS

BILIK MATA NORMAL DANGKAL NORMAL DALAM


DEPAN

SUDUT BILIK NORMAL SEMPIT NORMAL TERBUKA


MATA

SHADOW (-) (+) (-) +/-


TEST

VISUS (+) < << <<<

PENYULIT (-) GLAUKOMA (-) UVEITIS+


GLAUKOMA

4) PENATALAKSANAAN
Setelah ditegakan diagnosa Katarak maka lakukan rujukan ke pelayanan kesehatan
rujukan / Rumah Sakit sesuai SOP untuk penanganan lebih lanjut.

5) KONSELING
 Sarankan pada penderita rutin kontrol ke Rumah Sakit atau dokter spesialis mata
untuk melakukan pengecekan retina serta ketajaman visual secara berkala.
 Sarankan kepada penderita untuk selalu menggunakan sunglass saat beraktivitas
diluar ruangan, hindari paparan sinar matahari langsung, dan cahaya yang terlalu
terang.
 Sarankan kepada penderita untuk tidak merokok serta jangan mengkonsumsi
minuman beralkohol.
 Anjurkan penderita makan makanan bergizi yang mengandung vitamin A, C, E,
dan protein seperti buah dan sayur berwarna terang, beras merah, kacang-
kacangan, sereal, minyak canola serta ikan.
 Hindari makanan yang terlalu banyak mengandung lemak dan garam.

6) PENCATATAN DAN PELAPORAN


 Setiap orang yang datang berobat ke Puskesmas dimasukan ke register
harian dan simphustronik
 Setiap orang yang datang ke Puskesmas dengan keluhan gangguan
kesehatan indra dimasukan dalam register harian program kesehatan indra
 Laporan dari Pengelola program kesehatan Indra Puskesmas ke Dinas
Kesehatan Kabupaten Magetan dilakukan setiap Tribulan ( Tiga bulan ) dan
diambil dari register harian program kesehatan Indra.

9. Bagan Alir

11. Hal-hal Di Tdk di Tdk


N
yang perlu Aspek yg dinilai lakukan lakukan Kompeten Kompete
o
diperhatika n
PERSIAPAN ALAT:
n A. 1. Bollpoint
2. Kms Lansia
B. TAHAP KERJA :
1. Memilih KMS sesuai jenis kelamin
2. Mengisi nomor KMS
3. Mengisi register kartu rawat jalan
Puskesmas/Puskesmas Pembantu
4. Mengisi kolom identitas yang
tersedia pada halaman
KMSmeliputi : nama,tgl
pendaftaran,jeniskelamin,umur,aga
ma,
alamat,pendidikan,pekerjaan,status,
tinggal dengan
5. Menuliskan Indeks Masa
Tubuh( IMT), Tekanan Darah,
Berat Badan dan Tinggi Badan
pada grafik

12. Unit
Terkait
13. Dokumen
Terkait
14. Rekam
Historis No. Yang dirubah Isi Perubahan Tanggal
Perubahan Diberlakukan
SOP
S PENANGANAN ISPA (PNEUMONIA)
P
No. Dokumen : 445/1.1.5.2/SPO/KI/2016
O
No. Revisi :
Tanggal Terbit : 5 Desember 2016
Halaman : 1/2
dr.ABIMAYU
PUSKESMAS
NIP 19700526 200501 1
KUMAI
011

PENGERTIAN Suatu pemeriksaan yang dilakukan pada pasien yang datang ke Puskesmas
sehingga diketahui penyakitnya

TUJUAN Untuk menentukan diagnosa dan pemberian terapi pada balita sakit

KEBIJAKSANA Sebagai acuan penerapan langkah – langkah melakukan penanganan atau


AN perawatan sehingga pasien mendapat pelayanan sesuai harapan

REFERENSI Sistem Manajemen Mutu ISO 90001-2008

STANDAR Dokter, Bidan dan Perawat


TENAGA
1. SARANA NON MEDIS
STANDAR a. Meja 1-2 buah
b. Kursi 2-4 buah
SARANA DAN
c. Tempat tidur 1 buah
PRASARANA d. Blanko resep
e. Blanko rujukan
f. Wastafel dengan kran mengalir dan sabun cuci tangan
g. Tissue (lap tangan)
h. Kartu status anak
i. Computer
j. MTBS

2. SARANA MEDIS
a. Stetoskop
b. Thermometer
c. Soundtimer
d. Timbangan
e. Alcohol 70%
f. Kassa steril
g. Tempat sampah medis dan nom medis
1. Anamnesa
PROSEDUR 2. Pemeriksaan
3. Penegakkan diagnose
TETAP
4. Pengobatan dan rujukan
5. Penyuluhan kepada orang tua
1. ANAMNESA
CARA a. Identitas pasien
b. Tanya apakah anak menderita batuk dan atau sukar bernapas, lama
MELAKSANAK
batuk
AN TIAP c. Tanya apakah anak 2 bulan - <5 tahun tidak bias minum atau menetek;
KEGIATAN apakah bayi <2 bulan kurang bisa minum atau menetek
d. Tanya apakah anak demam, berapa lama
e. Tanya apakah anak kejang

2. PEMERIKSAAN
Anak harus tenang dan dipangku ibu atau ditidurkan ditempat pemeriksaan
a. Frekwensi pernafasan yaitu dengan menghitung tarikan nafas pada
gerakan dinding dada dan melihatnya dengan hitungan waktu permenit
berapa kali
b. Apakah ada tarikan dinding dada/tarikan dinding dada kedalam dengan
cara melihat dinding dada bagian bawah pada celah intercosta dan
diamati apakah terjadi pada saat inspirasi
c. Apakah ada pernafasan cuping hidung : lihat pada cuping hidung yaitu
gerakan cuping hidung pada ekspirasi dan inspirasi
d. Mengukur suhu badan : dengan memakai thermometer, dimana
sebelumnya thermometer harus dibersihkan dengan kapas alcohol pada
ujungnya setelah itu digerak-gerakkan sampai air raksa pada titik 0, baru
diletakkan menempel pada ketiak dan dipertahankan selama 5 menit
setelah itu dilepas dan dilihat dengan sejajar dengan mata dan suhu
dicatat kemudian ujung thermometer dibersihkan dengan alcohol dan
diletakkan pada tempatnya
e. Apakah ada wheezing/stridor : dengan meletakkan stetoskop pada
dinding dada dan akan terdengar bunyi ngik pada waktu inspirasi itulah
suara wheezing. Begitu juga dengan stridor juga meletakkan stetoskop
pada dinding dada dan akan terdengar suara nafas berbunyi ksosok –
krosok
f. Ukuran berat badan yaitu dengan timbangan bayi, untuk anak>2 tahun
yaitu dengan timbangan injak

3. PENEGAKAN DIAGNOSA
a. Umur < 2 bulan
Bila :
 nafas cepat>60x / menit
 Tarikan dinding dada kuat
Maka itu adalah pneumonia berat
Bila :
 nafas <60x / menit
 Tarikan dinding dada negative
Maka bukan pneumonia
b. Umur 2 bulan <5 tahun
Bila ada tarikan dinding dada kedalam (bila ada wheezing berulang-
ulang)
Maka itu adalah Pneumonia Berat
Bila :
 2 bulan < 12 bulan : ≥ 50 x /menit
 12 bulan < 5 tahun : ≥ 40 x/menit
Maka itu adalah Pneumonia
Bila tarikan dinding dada kedalam negative
 Nafas cepat negative
 12 bulan < 5 tahun < 40x/menit
 1 -<5 tahun < 40x/menit
Maka itu Bukan Pneumonia

4. PENGOBATAN DAN RUJUKAN


A. < 2 bulan
1. Pneumonia berat
 Rujuk ke Rumah Sakit
 Antibiotic yaitu kotrimoksasol 1/8 tab
 Wheezing ada : obati dengan salbutamol <10 kg →½ tablet W-19
kg →1 tab
2. Bukan Pneumonia
 Nasihat dan perawatan di rumah
 Jaga agar tidak kedinginan dengan cara diberi selimut
 ASI teruskan dan lebih sering
 Bersihkan sumbatan hidung dan kapas lidi dimasukkan pada
lubang hidung untuk membersihkan lendirnya
 Anjuran kontol bila
 Nafas cepat
 Sulit bernafas
 Sulit minum
 Kejang – kejang
B. 2 bulan < 5 tahun
1. Pneumonia berat
 Rujuk ke RS
 Antibiotic dengan kotrimoksasol
 2-6 bln ¼ tablet
 6 bulan – 3 tahun ½ tablet
 3 – 5 tahun 1 tablet
Wheezing ada →obati dengan salbukanol
 < 10 kg : ½ tablet
 10-19 kg → 1 tablet
2. Pneumonia
 Nasihat dan perawatan di rumah
 Antibiotic selama 5 hari yaitu dengan kotrimoksasol
 2 bln – 6 bln ¼ tab
 6 bln – 3 th ½ tab
 3 th – 5 th 1 tab
 Anjuran control 2 hari/lebih cepat bila keadaan memburuk
 Demam →obati dengan paracetamol
 2 bln – 6 bln ¼ tab
 6 bln – 3 th ½ tab
 3 th – 5 th 1 tab
 Kompres dengan air biasa yang ditaruh pada baskom dengan
memakai saputangan handuk yang dikompreskan pada dahi anak
sebelumnya diperas lebih dulu
3. Bukan Pneumonia
 Batuk >30 hari →rujuk
 Bila ada penyakit lain →obati sesuai dengan penyakitnya
 Nasehat untuk perawatan dirumah kemudian ibu diberi penjelasan
yang cukup jelas dan dimengerti oleh ibu. Dan ucapkan terima kasih
karena ibu sudah merawat anaknya dan ucapan semoga lekas
sembuh dan control kembali

5. PENYULUHAN KEPADA IBU BALITA


Menjelaskan pada ibu/pengantar (nafas sesak cepat, sulit minum, sakit
parah, kejang)
a. Anjuran control 2 hari kemudian pada anak dengan pneumonia
b. Kembali bila keadaan memburuk
c. Cara pemberian obat
d. Cara pengobatan / perawatan dirumah (makan cukup, bersihkan
hidung, minum lebih banyak dan obat – obatan )
e. Menjaga makanan yang semakin memperparah penyakit missal
gorengan dan es
f. Hindari merokok dalam ruangan
Loket,Klinik Umum,
Unit Terkait
Tim Mutu Puskesmas
Koordinator Pelayanan Puskesmas
Loket,Klinik Umum,
Distribusi
Tim Mutu Puskesmas
Koordinator Pelayanan Puskesmas

Rekaman
Historis

N Halaman Yang dirumah Perubahan Diperlakukan


O tgl.

Pelaksana Mutu Baku

pet
uga per
Uraian Prosedur dok apot Kelengkapan Waktu Output Ket
px s aw
ter ek
loke at
t

1. Pasien ambil
nomor
antrian

2. Petugas loket
memanggil
sesuai nomor
antrian dan
memasukkan
ke dalam
computer
sambil
menyerahkan
status pasien

3 Pasien masuk
ke BP/KIA
N Halaman Yang dirumah Perubahan Diperlakukan
O tgl.

dan
dianamnesa
(tensi, suhu,
RR, nadi)
sesuai
keluhan oleh
perawat

4 Setelah
dilakukan
anamnesa
sesuai
keluhan
kemudian
dikonsulkan
oleh dokter
dan
dilakukan
pemeriksaan
fisik
kemudian
dokter
memberikan
resep obat
untuk
diserahkan ke
apotek. Jika
perlu rujuk
ke RS.

5 Apotek
menerima
resep dari
dokter sesuai
indikasi
pasien dan
menyerahkan
obat ke
pasien
tersebut.

6 Setelah
menerima
obat dari
N Halaman Yang dirumah Perubahan Diperlakukan
O tgl.

apotek pasien
pulang.

SOP
S PENANGANAN DIARE
P
O No. Dokumen : 445/1.1.5.2/SPO/KI/2016
No. Revisi :
Tanggal Terbit : 5 Desember 2016
Halaman : 1/2

PUSKESMAS dr.ABIMAYU
KUMAI NIP 19700526 200501 1 011

PENGERTIAN Salah satu elemen yang sangat penting untuk mendapat gambaran dan
informasi program pengendalian penyakit ISPA
1. Mendapatkan informasi hasil pelaksanaan program P2 ISPA
TUJUAN
2. Menidentifikasi masalah
3. Mengetahui keberhasilan program

KEBIJAKSANA Sebagai pedoman petugas dalam pencatatan dan pelaporan P2 ISPA


AN
1. Buku pedoman tatalaksana pneumonia balita Depkes RI Tahun 2007
REFERENSI
2. Buku pedoman pengendalian penyakit infeksi salpuran pencernaan akut
Depkes RI Tahun 2009

STANDAR Perawat dan Bidan


TENAGA
1. Ballpoint
STANDAR
2. Register harian P2 ISPA
SARANA DAN
PRASARANA
Mencatat dan melaporkan setiap penderita ISPA yang mengarah ke Pneumonia
Prosedur Tetap
yang datang ke puskesmas
1. Setiap balita yang batuk dan atau kesukaran bernapas yang datang berobat
Cara
ke puskesmas dimasukkan ke register harian program P2 ISPA yang
Melaksanakan
merupakan rekapitulasi ISPA Balita
Tiap Kegiatan
2. Laporan bulanan program P2 ISPA diambil dari register harian program P2
ISPA
3. Px yang terdiagnosa Pneumonia kemudian dikunjungi (Care Seeking) oleh
petugas kesehatan untuk diketahui keadaan/kondisi pasien selanjutnya
4. Petugas menulis hasil keadaan umum pasien yang sekarang. Apabila belum
ada perubahan, memotivasi pasien dan keluarga untuk berobat kembali ke
Puskesmas
5. Petugas mendokumentasikan kegiatan tersebut

Unit Terkait

Distribusi

Rekaman
Historis

NO Halaman Yang dirumah Perubahan Diperlakukan tgl.

Pelaksana Mutu Baku

Uraian Prosedur Ket


Keleng Waktu Output
kapan

1. Petugas kesehatan
mencari data pasien
yang terdiagnosa
pneumonia dalam
buku register

2. Petugas mengunjungi
(Care Seeking) ke
rumah pasien yang
terdiagnosa
pneumonia tersebut

3 Petugas melakukan
pemeriksaan dan
melihat keadaan
umum pasien, jika
belum ada perubahan
memotivasi pasien dan
keluarga untuk segera
berobat ke puskesmas
Pelaksana Mutu Baku

Uraian Prosedur Ket


Keleng Waktu Output
kapan

4 Petugas mencatat hasil


kunjungan dan
mendokumentasikan
hasil kegiatan tersebut

SOP
S PENCATATAN & PELAPORAN
P No. Dokumen : 445/1.1.5.2/SPO/KI/2016
No. Revisi :
O
Tanggal Terbit : 5 Desember 2016
Halaman : 1/2
PUSKESMAS dr.ABIMAYU
KUMAI NIP 19700526 200501 1 011
Salah satu elemen yang sangat penting untuk mendapat gambaran dan
PENGERTIAN
informasi program pengendalian penyakit diare
1. Mendapatkan informasi hasil pelaksanaan program P2 diare
TUJUAN
2. Menidentifikasi masalah
3. Mengetahui keberhasilan program

KEBIJAKSANA Nomor SK ………………………


AN

REFERENSI Sistem Manajemen Mutu ISO 90001-2008


Petugas adalah 1 orang paramedis yang berkompeten
Standar Tenaga
1. Ballpoint
Standar Sarana
2. Register harian P2 diare
dan Prasarana
Persiapan petugas
Prosedur Tetap
1. Setiap orang yang mengalami diare datang berobat ke puskesmas
Cara
dimasukkan ke register harian program P2 diare
Melaksanakan
2. Laporan bulanan program P2 diare diambil dari register harian program P2
Tiap Kegiatan
diare
3. Petugas kesehatan memberikan penyuluhan kepada kader posyandu baik
balita maupun posyandu lansia tentang penanganan kasus diare
4. Selain memberikan penyuluhan, petugas kesehatan juga memberikan oralit
di posyandu balita maupun posyandu lansia jika sewaktu-waktu ada
penderita diare disekitarnya
5. Petugas kesehatan mengevaluasi hasil laporan dari kader tentang kasus diare
di posyandunya masing-masing
6. Petugas kesehatan mencatat hasil laporan dan mendokumentasikan hasil
kegiatan tersebut

Unit Terkait

Distribusi

Rekaman
Historis

NO Halaman Yang dirumah Perubahan Diperlakukan tgl.


Pelaksana Mutu Baku

Uraian Prosedur Ket


Keleng Waktu Output
kapan

1. Petugas kesehatan
memberikan penyuluhan
kepada kader posyandu
balita dan posyandu lansia
tentang penanganan kasus
diare

2. Petugas memberikan oralit


di setiap posyandu balita
dan lansia jika sewaktu-
waktu ada penderita diare

3 Petugas mengevaluasi hasil


laporan diare dari kader
balita dan lansia

4 Petugas mencatat hasil


dan mendokumentasikan
kegiatan tersebut.