Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Pemeriksaan Vital Sign

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui ada atu tidaknya pada tanda-tanda vital.
Pemeriksaan ini meliputi :

1.Suhu Tubuh

Pusat pertukaran suhu tubuh terletak pada hypothalamus. Suhu tubuh dipertahankan
konstan dengan mengatur keseimbangan produksi dan pengeluaran panas.
Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan pada oral,rectal,maupun aksila, dengan
menggunakan thermometer air raksa maupun termometer elektrik. Thermometer air
raksa sebainya tidak diguanakan pada mulut, pada apenderita dengan kesadaran
menurun atau setelah minum panas/dingin sebaiknya pemeriksaan ini ditunsa10-15
menit agar suhu minuman tidak mempengaruhi hasil pengukuran. Pengukuran suhu
tubuh pada aksila dapat dilakukan pada pasien dalam keadaan sadar maupun tidak
sadar. Hasil tidak tepat bila terjadi vasokonstriksi pembuluh darah kulit, misalnya:
hipovolemia,syok,suhu sekitar dingin,habis mandi. Suhu rectal merupakan suhu inti
tubuh oleh karena itu merupakan yang paling tepat dibandingan dengan cara
oral,maupun aksila, hanya saja cara ini sulit dan kurang enax bagi penderita. Suhu
rectal 0,4-0,5 lebih tinggi disbanding suhu oral,dan aksila.

Suhu tobuh normal : 36-37°C.

Suhu tubuh : 37-38°C dikatakan subfebril.

Suhu tubuh : >38°C dikatakan febris.

Kenaikan suhu tubuh daoat terjadi akarena : infeksi,reaksi,transfuse,dll

1. Menilai perfusi perifer atau akral


Aliran darah disertai dengan oksihemoglobin yang cukup di pembuluh kapiler
kulit telapak tangan dan kaki menimbulkan warna kemerahan dan bila diraba
terasa hangat dan kering. Keadaan ini menunjjukan perfusi perifer/akral yang

1
normal. Misalnya pada pasien yang syok aliran darah menurun, e kulit Nampak
pucatdan pada perabaan terasa dingin dan basah.
2. Denyut Nadi
Denyut nadi pada keadaan normal sesuai dengan denyut jantng. Dengan
menghitung frekwensi denyut nadi dapat diketahu frekuensi denyut jantung dalam
satu menit. Denyut nadi dapat diraba di Carotis, Radialis, Brachialis, Femoralis,
Popliteal, Dorsalis pedis dan tibialis posterior.
Normalnya 60-100x/menit.
3. Tekanan Darah

Tekanan darah dapat diukur dengan 2 metode :

-Metode Langsung : Dengan cara menusukkan jarum kepenbuluh darah dan


dihubunhkan dengan manometer.

-Metode tidak langsung : Dengan menggunakan sphygmomanometer


(Tensimeter),jika menggunakan metode ini,
ada 2 cara yang dapat anda lakukan:

1. Cara palpasi: dengan cara ini hanya dapat diukur dengan tekana sistolik

2.Auskultasi : dengan cara ini dapat diukur tekanan sistolik maupun


diastoli(tensimeter).

Tinnginya tekanan darah dapat dipengaruhi: emosi,rasa sakit,suhu


sekitar,penggunaan kopi,tembakau,dll. Penderita dikatakan mengidap
hipertsei diatas 160/95.

Tekanan darah normal:

Wanita : 110/70mmHg

Laki-laki:120/80mmHg

4. Pernafasan

Bernafas adalah pergerakan yang tidak disadari dan juga disadari yang diatur oleh
pusat nafas di batang itak dan dilakukan dengan bantuan otot-otot pernafasan. Pada
waktu inspirasi diafragma dan otot-otot interkostalis berkontraksi,memperluas
rongga toraks dan memekarkan paru. Dinding dada akan bergerak keatas, ke depan
dank e lateral, sedangkan diafragma bergerak kebawah. Setelah inspirasi berhenti

2
paru-paru akan mengkerut, diafragma akan kembali keposisi semula. Dihitung
frekuensi pernfasan per menit.

Normal: 12-20x/menit.

1.2 Permasalahan
Bagaimana keadaan pasien terhadap pengaruh perbedaan kondisi dan posisi pasien ?
1. Sebutkan pengertian dari tekanan darah ?
2. Pada pembuluh darah apa sajakah saudara dapat meneriksa denyut nadi?
3. Sebutkan perbedaan antara pengukuran tekanan darah cara palpasiu dengan cara
auskultasi!( dari segi konsep-teori-sarana-prosedur-hasil)
4. Mengapa pemeriksaan tekanan darah dilakukan pada lengan atas kanan?
5. Apakah pemasangan manchet yang terlalu longgar atau terlalu ketat dapat
mempengaruhi hasil pengukuran tekanan dara? Jelaskna!
6. Jelaskna mengenai mekanisme yang mendasari suara-suara konkaff(korotkonkaf
I,II,III,IV,V)?
7. Suara korotkoff IV,V dapat digunakan untuk menentukan tekanan diastolic, mana
yang lebih baik? jelaskan!
8. Apakah ada perbedaan anatar atlet dan non atlet dalam hal pemulihan denyut nadi
dan tekanan darah post exercise(setelah latihan)?!
9. a. Secara teoritis, bagaimanakah pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan
tekanan darah?
b. Apakah hasil pratikum saudara sesuai dengan teori?
c.Apakah hasil pratikum saudara tidak sesuai dengan teori, jelaskan mengapa
demikian?
10. a. Secara teoritis, bagaimanakah pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan
tekanan darah?
b. Apakah hasil pratikum saudara sesuai dengan teori?
c.Apakah hasil pratikum saudara tidak sesuai dengan teori, jelaskan mengapa
demikian?

11. Suhu tubuh dihasilkan oleh apa?

12. Ada berapa macam jenis febris? Sebutkan 2 dan jelaskan masing-masing!

13. Apakah ada pengaruh aktifitas terhadap suhu tubuh? Jelaskan!

14. Sebutkan macam-maca,m type pernafasan dan jelaskan masing-masing!

15. Apakah ada pengaruh aktifitas terhadap ritme pernafasan? Jelaskan!

16. Bilamana diakatakan hypothermia? Apa penyebabnya?

3
1.3 Tujuan pratikum

1. Pemeriksaan suhu tubuh dengan menggunakan thermometer


2. Pemeriksaan pernafasan dgn cara inspeksi
3. Memeriksa denyut nadi dan mengukur tekanan darah
a. Memeriksa denyut nadi secara palpasi
b. Mengukur tekanan darah secara palpasi
c. Mengukur tekanan darah secara auskultasi
4. Mengamati dan mempelajari pengaruh posisi tubuh terhadap suhu tubuh, pernafasan,
denyut nadi dan tekanan darah
5. Mengamati dan mempelajari pengaruh latihan fisik terhadap suhu tubuh,
pernafasan,denyut nadi dan tekanan darah

BAB II

METODE KERJA

2.1 Alat dan Bahan Praktikum

1. Meja periksa / tempat tidur.

4
2. Stopwatch / arloji.

3. Sphygmomanometer (Tensimeter), terdiri dari:

a. Manometer air raksa + klep pembuka penutup.

b. Manchet udara.

c. Selang karet.

d. Pompa udara dari karet + sekrup pembukan penutup.

4. Stethoscope.

5. Bangku latihan fisik.

6. Metronom.

7. Thermometer.

2.2 Tata Kerja Praktikum

Memeriksa denyut nadi dan mengukur tekanan darahMemeriksa denyut nadi secara
palpasi.

a. Pilih salah satu mahasiswa coba ( MC I ).

b. Suruh MC I berbaring terlentang tenang selama 2-3 menit di meja periksa atau tempat
tidur.

c. Letakkan kedua lengan disisi tubuh dengan kedudukan volar.

d. Periksa denyut arteri radialis dextra dengan menggunakan ujung jari II–III–IV yang
diletakkan sejajar satu terhadap yang lain diatas arteri radialis tersebut.

Tentukan:

•Frekuensinya…………………………Jumlah denyut / menit.

•Iramanya ……………………………..Jumlah denyut / menit.

e. Catatlah data sesuai format : Tabel E.5

5
Mengukur tekanan darah secara palpasi.

a. MC1 tetap berbaring terlentang tenang di meja periksa / tempat tidur.

b. Letakkan lengan yang hendak diukur tekanan darahnya (lengan kanan) disisi tubuh dengan
kedudukan volar.

c. Pasang manset pada lengan atas kanan, sekitar 3 cm diatas fossa cubitti (jangan terlalu
ketat maupun terlalu longgar)

d. Raba serta rasakan denyut arteri radialis dextra

e. Pompakan udara kedalam manset ( menggunakan pompa udara ) sampai denyut arteri
radialis dextra tak teraba.

f. Pompakan terus udara kedalam manset sampai tinggi Hg pada manometer sekitar 20
mmHg lebih tinggi dari titik dimana denyut arteri radialis dextra tak terasa

g. Keluarkan udara dalam manset secara pelan dan berkesinambungan ( dengan memutar
sekrup pada pompa udara berlawanan dengan arah jarum jam ). Catat tinggi Hg pada
manometer dimana arteri radialis pertama kali teraba kembali. Nilai ini menunjukkan
besarnya tekanan sistolik cara palpasi

h. Catat data sesuai format : Tabel E-5

Mengukur tekanan darah secara auskultasi

a. MC I tetap berbaring terlentang tenang diatas meja periksa / tempat tidur dengan manset
tetap terpasang di lengan atas kanan, posisi lengan tetap disisi tubuh dengan kedudukan
volar.

b. Tentukan letak arteria brachialis dextra secara palpasi pada fossa cubiti dan letakkan
stethoscope (bell stethoscope) diatas arteria brachialis dextra tersebut.

6
c. Pompakan udara kedalam manset, maka saudara akan mendengar suara bising arteria
brnchialis dextra melalui stethoscope.

d. Teruskan memompa udara kedalam manset, pada suatu saat suara bising arteria brachialis
dextra akan menghilang

e. Pompakan terus udara kedalam manset sampai tingi Hg pada manometer sekitar 20 mmHg
lebih tinggi dari titik dimana suara bising arteri branchialis dextra telah menghilang

f. Keluarkan udara didalam manset secara pelan dan berkesinambungan, maka saudara
akan mendengar :

1.Suara Korotkoff I. Nilai ini menunjukkan besarnya tekanan sistolik secara


auskultasi.

2.Suara Korotkoff IV dan V. Nilai ini menunjukkan besarnya tekanan diastolic secara
auskultasi.

g. Catat data sesuai format : Tabel E - 5

Mengamati dan mempelajari pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan
darah.

1.a. Pilih satu mahasiswa coba ( MC 2 ). MC 2 boleh sama dengan MC 1 atau mahasiswa lain
dalam kelompok yang bersangkutan

b. Pilih satu mahasiswa yang bertugas memeriksa denyut nadi MC 2 pada arteri radialis
sinistra selama praktikum point D.2

c. Pilih satu mahasiswa yang bertugas mengukur tekanan darah MC 2 pada lengan kanan
secara auskultasi selama praktikum point D.2

d. Pilih satu mahasiswa untuk mencatat data.

2. MC 2 suruh berbaring terlentang tenang selama 2-3 menit, kemudian tentukan frekuensi
dan irama denyut arteria radialis sinistra serta dan tekanan darah pada lengan kanan secara
auakultasi ( masin-masing dikur tiga kali berturut-turut) selanjutnya serta bilang nilai rata-
ratanya.

7
3. MC 2 suruh duduk tenang selama 2-3 menit, kemudian: tentukan frekuensi dan irama
denyut arteria radialis sinistra serta tekanan darah pada lengan kanan secara auskultasi
( masing-masing diukur sebanyak juga kali berturut-turut ) selanjutnya hitung nilai rata-
ratanya.

4. MC 2 suruh berdiri tenang dengan sikap anatomis selama 2-3 menit, kemudian : tentukan
frekuensi, irama denyut arteria radialis sinistra dan tekanan darah pada lengan kanan
secara auskultasi, masing-masing diukur tiga kali berturut-turut, serta hitung nilai rata-
ratanya.

6. Catat data sesuai format : Tabel E-6

Mengamati dan mempelajari pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan tekanan
darah.

1. a. Pilih satu mahasiswa coba MC 3. MC 3 boleh sama dengan MC 2 atau mahasiswa lain
dalam kelompok yang bersangkutan

b. Pilih satu mahasiswa yang bertugas memeriksa denyut nadi MC 3 pada arteri radialis
sinistra selama praktikum point D.3

c. Pilih salah satu mahasiswa yang bertugas mengukur tekanan darah MC 3 pada lengan
kanan secara auskultasi selama praktikum point D.3

d. Pilih satu mahasiswa untuk mengukur data 1. MC 3 suruh duduk tenang selama 2-3
menit kemudian : periksa denyut nadi arteria radialis sinistra serta dan tekanan darah
pada lengan kanan secara auskultasi, ( masing-masing diperiksa atau diukur tiga kali
berturut-turut )

2.Dengan manset tetap terpasang dengan lengan atas kanan, MC 3 melakukan latihan fisik
secara : “ Step test ( naik turun bangku )” 20 kali permenit selama duamenit dengan
dipandu oleh irama metronom yang disetting pada frekuensi 80 ketukan permenit.

3.Setelah step test berakhir, MC 3 suruh segera duduk, ukurlah frekuensi nadi serta tekanan
darahnya masing-masing satu kali saja

8
4.Teruskan mengukur frekunsi nadi dan tekanan darah dengan interval 2 menit ( menit ke-
3…..menit ke 6……menit ke 9…….dan seterusnya ) sampai nilainya kembali seperti
keadaan sebelum latihan. Catatan : Untuk setiap saat atau interval pengukuran denyut nadi
dan tekanan darah hanya diukur satu kali

5. Catat data sesuai format : table E-7

BAB III

HASIL PRAKTIKUM

3.1 Data (Hasil) Praktikum

Tabel E.1 Data pemeriksaan suhu tubuh posisi berbaring

Mahasiswa coba 1 Pemeriksa Suhu tubuh aksiler (ºC)

9
Daniel David 36,2

Mahasiswa coba 2 Pemeriksa Suhu tubuh aksiler (ºC)


Dita Febri 37,5

Tabel E.2 Data pemeriksaan suhu tubuh setelah beraktifitas

Mahasiswa coba 1 Pemeriksa Suhu tubuh aksiler (ºC)


a. 5 menit pertama 37,2
b. 5 menit kedua
Daniel 37
c. 5 menit ketiga
36,5

Mahasiswa coba 2 Pemeriksa Suhu tubuh aksiler (ºC)


a. 5 menit pertama 37,8
b. 5 menit kedua
Dita 37,6
c. 5 menit ketiga
37,4

Grafik pemeriksaan suhu tubuh setelah beraktifitas

10
Tabel E.3 Data pemeriksaan posisi berbaring

Mahasiswa coba 1 Pemeriksa RR (x/menit) Irama


Daniel Febri 23 Teratur

Mahasiswa coba 2 Pemeriksa RR (x/menit) Irama


Dita Febri 18 Teratur

Tabel E.4 Data pemeriksaan pernafasan setelah aktifitas

Mahasiswa coba 1 Pemeriksa RR (x/menit) Irama


Daniel a. 1 menit pertama 38 Teratur
b. 2 menit kedua
28 Teratur
c. 3 menit ketiga
20 Teratur

Mahasiswa coba 2 Pemeriksa RR (x/menit) Irama


Dita a. 1 menit pertama 38 Teratur
b. 2 menit kedua
30 Teratur
c. 3 menit ketiga
23 Teratur

Grafik pemeriksaan posisi berbaring

Tabel E.5 Data denyut nadi dan tekanan darah

11
Mahasiswa Pemeriksa Denyut nadi Tekanan Sistole Tekanan Tekanan
Coba (palpasi) sistole diastole
(auskultasi) (auskultasi)
Daniel David 64 112 110 70
Panji 56 110 110 70
Dita 64 110 110 70
Febri 60 115 110 70

Grafik denyut nadi dan tekanan darah MC1

Mahasiswa Pemeriksa Denyut nadi Tekanan Sistole Tekanan Tekanan


Coba (palpasi) sistole diastole

12
(auskultasi) (auskultasi)
Dita David 76 110 112 70
Panji 68 110 112 70
Daniel 72 110 111 70
Febri 80 108 110 70

Grafik denyut nadi dan tekanan darah MC2

Tabel E.6 Data pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan darah

Mahasiswa coba 1

Posisi tubuh Denyut nadi Tekanan sistolik Tekanan diastol


(auskultasi) (auskultasi)
Berbaring terlentang 1. 64 1. 110 1. 70
2. 56 2. 110 2. 70
3. 60 3. 110 3. 70
Rata-rata = 60 Rata-rata = 110 Rata-rata = 70
Duduk 1. 68 1. 104 1. 66
2. 64 2. 100 2. 69
3. 72 3. 100 3. 70
Rata-rata = 68 Rata-rata = 101 Rata-rata = 68
Berdiri 1. 76 1. 106 1. 64
2. 56 2. 108 2. 64
3. 80 3. 110 3. 70
Rata-rata = 71 Rata-rata = 108 Rata-rata = 66

13
Grafik pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan darah MC1

Mahasiswa coba 2

Posisi tubuh Denyut nadi Tekanan sistolik Tekanan distolik


(auskultasi) (auskultasi)
Berbaring terlentang 1. 76 1. 112 1. 70
2. 68 2. 112 2. 70
3. 72 3. 110 3. 70
Rata-rata = 72 Rata-rata = 111 Rata-rata = 70
Duduk 1. 80 1. 102 1. 68
2. 68 2. 104 2. 70
3. 92 3. 110 3. 70
Rata-rata = 80 Rata-rata = 105 Rata-rata = 69
Berdiri 1. 84 1. 110 1. 70
2. 72 2. 112 2. 70
3. 80 3. 100 3. 70
Rata-rata = 79 Rata-rata = 107 Rata-rata = 70

Grafik pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan darah MC2

14
Tabel E.7 Pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah

Mahasiswa coba 1

Waktu Denyut nadi Tekanan sistolik Tekanan diastolik


(auskultasi) (auskultasi)
Pra latihan 1. 68 1. 104 1. 66
2. 64 2. 104 2. 69
3. 72 3. 100 3. 70
Rata-rata = 68 Rata-rata = 101 Rata-rata = 68
Pasca Menit ke 1 126 132 80
latihan
Pasca Menit ke 3 106 132 74
latihan
Pasca Menit ke 5 95 120 82
latihan
Pasca Menit ke 7 80 120 78
latihan

15
Grafik Pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah MC1

Mahasiswa coba 2

Waktu Denyut nadi Tekanan sistolik Tekanan diastolik


(auskultasi) (auskultasi)
Pra latihan 1. 80 1. 102 1. 68
2. 68 2. 104 2. 70
3. 92 3. 110 3. 70

16
Rata-rata = 80 Rata-rata = 105 Rata-rata = 69

Pasca Menit ke 1 120 120 60


latihan
Pasca Menit ke 3 104 120 70
latihan
Pasca Menit ke 5 96 110 70
latihan
Pasca Menit ke 7 90 110 70
latihan

Grafik Pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan tekanan darah MC2

17
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Diskusi Hasil Praktikum

Dalam pemeriksaan vital sign keadaan pasien sangan mempengaruhi hasil yang
didapatkan saat pemeriksaan. Termasuk kondisi fisiologi tubuh pasien dan posisi pasien saat
dilakukan pemeriksaan vital sign.

4.2 Diskusi jawaban Pertanyaan

1. Sebutkan pengertian dari tekanan darah?

Tekanan darahadalah kecepatan aliran persatuan luas dinding pada pembuluh darah yang
diberikan oleh cairan darah mengalir.

2. Pada pembuluh darah apa sajakah saudara dapat memeriksa dengut nadi?

- Radialis, Brachialis, Karotis (dalam percobaan ini tidak diukur)


- Arteri Radialis Sinistra
- Arteri Brachialis Sinistra

3. Sebutkan perbedaan antara pengukuran tekanan darah cara palpasi dengan cara auskultasi!

18
 Cara palpasi: dengan cara ini hanya dapat mengukur tekanan darah sistolik saja. Hasil
yang didapat apabila menggunakan cara ini kurang akurat bila dibandingkan dengan
pengukuran secara auskultasiyaitu lebih rendah.
 Cara auskultasi: dengan cara ini kita dapat mengukur tekanan darah sitolik dan
tekanan darah diastilik. Selain itu hasil yang didapat apabila menggunakan cara ini
lebih akuratdibandingkan menggunakan pengukuran secara palpasi.

4. Mengapa pemeriksaan tekanan darah dilakukan pada lengan atas kanan?

Karena lengan atas kanan lebih jauh dari jantung dibandingkan lengan kiri,sehingga
mengurangi kebisingan dan akhirnya kita lebih tepat menentukan tekanan darah sistol dan
diastol dari lengan atas kanan.

5. apakah pemasangan manchet yang terlalu longgar atau terlalu dapat mempengaruhi hasil
pengukuran tekanan darah? Jelaskan!

Iya berpengaruh, jika pemasangan manchet terlalu longgar maka bunyi terdengar lemah
dan menghasilkan tekanan darah tinggi. Sedangkan jika pemasangan manchet terlalu ketat
maka tekanan yang didapat terlalu besar sehingga suara korotkoff kadang tidak terdengan
menghasilkan tekanan darah menjadi lebih dari seharusnya.

6. jelaskan mengenai mekanisme yang mendasari suara-suara korotkoff (Korotkoff I,II,III, IV,
dan V)!

 Bunyi korotkoff I
Kontraksi venrikel mula-mula menyebabkan aliran balik darah secara tiba-tiba
mengenai katub jantung A-V. katub menutup dan mencembung kearah atrium sampai
korda tendinea secara tiba-tiba menghentikan pencembungan ini. Elastisitas korda
tendinea dan katub yang tegang kemudian akan mendorong darah bergerak kembali
ke ventrikrl-ventrikelyang bersangkutan.
Peristiwa ini menyebabkan darah dan dinding ventrikel serta katub yang tegang
bergetar dan menimbulkan turbulensi getaran dalam darah. Getaran kemudian
merambat melalui jaringan di dekatnya ke dinding dada sehingga terdengar sebagai
bunyi Korotkoff I dengan menggunakan stethoscope.
 Bunyi Korotkoff II
Ditimbulkan oleh penutupan katub semilunaris yang tiba-tiba pada akhir systole.
Ketika katub semilunaris menutup, katub ini menonjol ke arah ventrikel dan regangan
elastic katub akan melentingkan darah kembali ke arteri. Menyebabkan pantulan yang

19
membolak-balikkan darah antara dinding ventrikel dalam waktu singkat. Getaran
yang terjadi didinding arteri kemudian dihantarkan terutama disepanjang arteri.
 Bunyi Korotkoff III
Bunyinya lemah dan bergemuruh dan terdengar pada awal sepertiga bagian tengah
diastole. Terjadi karena osilasi darah yang bolak-balik antara dinding-dinding
ventrikel yang dicetuskan oleh masuknya darah dari atrium. Frekuensi bunyi ini
biasanya sangat rendah, sehingga telinga tidak dapat mendengarkannya namun bunyi
seringkali dapat direkam pada fonokardiogram.
 BUnyi Korotkoff IV
Bunyi ini timbul saat atrium berkontreksi yang disebabkan oleh meluncurnya darah
kedalam ventrikel sehingga menimbulkan getaran seperti yang terjadi pada bunyi
jantung yang ke III.
 Bunyi Korotkoff V
Digunakan untuk mengukur tekanan diastolic.

7. Suara Korotkoff IV dan V dapat digunakan untuk menentukan tekanan diastolic. Mana
yang lebih baik? Jelaskan!

Korotkoff V lebih baik, karena korotkoff V adalah suara terakhir yang didaptkan dari
pemompaan tekanan darah. Korotkoff IV nyaris tidak terdengar, Korotkoff V terdengar
lebih jelas meskipun pelan.

8. Apakah ada perbedaan antara atlet dan non-atlet dalam hal pemulihan denyut nadi dan
tekanan darah post exercise? Jelaskan!

Ada perbedaan, pada atlet pemulihan denyut nadi dan tekanan darah jauh lebih cepat
dibandingkan dengan non atlet, hal ini disebabkan karena jantung atlet lebih tebal dan
lebih kuat sehingga denyut nadinya lebih stabil.

9. a. Secara teoritis, bagaimanakah pengaruh posisi tubuh terhadap denyut nadi dan tekanan
darah?

Posisi tubuh sangat mempengaruhi denyut nadi dan tekan darah seseorang. Hal ini
karena peningkatan curah jantung menjadi hala dasar untuk menyediakan sejumlah
besar oksigen dan zat makanan lain yang dibutuhkan oleh otot-ototyang bekerja.
Karena itulah denyut nadi dan tekanan darah pada posisi berdiri > posisi duduk >
berbaring.

b. Apakah hasil praktikum saudara sesuai dengan teori?

20
Hasil praktikum kami tidak sesuai dengan teori.

c. apabila hasil praktikum saudara tidak sesuai dengan teori, jelaskan mengapa demikian?

Karena terjadi kesalahan pada saat pemeriksaan denyut nadi dan tekanan darah
mahasiswa coba melakukan melakukan aktifitas lain, sehingga hasil yang didapat tidak
sesuai dengan teori.

10. a. Secara teoritis bagaimanakah pengaruh latihan fisik terhadap denyut nadi dan tekanan
darah?

Semakin lama latihan fisik ,denyut nadi semakin kencang dan cepat serta tidak stabil.
Tekanan darah pun menjadi naik .dan setelah beristirahat beberapa menit tekanan
darah dan denyut nadi kembali pada semula atau kembali normal.

b. apakah hasil praktikum saudara sesuai dengan teori.

Hasil percobaan kami sesuai dengan teori.

11. Suhu tubuh dihasilkan oleh apa?

1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR) di semua sel tubuh.

2. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk kontraksi


ototakibatmenggigil).

3. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian kecil


hormon lain, misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron).

4. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan rangsangan


simpatis pada sel.

5. Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu


sendiri terutama bila temperatur menurun.

12. Ada berapa macam jenis febris? Sebutkan dan jelaskan masing-masing!

 Ada 2 macam yaitu subfebris dan Febris

21
 Sub febris/ febril/ pireksia adalah ukuran suhu tubuh pada 37-38 Cdan febris adalah
ukuran suhu tubuh berada diatas 38 C.

13. Apakah ada pengaruh aktivitas terhadap suhu tubuh? Jelaskan!

Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan


antarakomponen otot / organ yang menghasilkan energy termal. Latihan (aktivitas) dapat
meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3-40,0 C.

14. sebutkan macam-macam tipe pernafasan dan jelaskan masing-masing!

 Pernafasan abdomino-torakal: Pernafasan abdominal lebih dominan dibandingkan


toraks, yaitu dengan gerakan naik turunnya diafragma untuk memperbesar atau
memperkecil rongga dada.
 Pernafasan torako-abdominal: pernafasan toraks lebih dominan dibandingkan dengan
abdomen, yaitu dengan depresi dan elevasi tulang iga untuk memperbesar atau
memperkecil diameter antero-posterior rongga dada.

15. Apakah ada pengaruh aktifitas terhadap ritme pernafasan? Jelaskan!

Ada, pada saat beristirahat, misalnya berbaring, ritme pernafasan agak pelan dan regular,
sedangkan biasanya setelah beraktifitas, setelah berlari ritme pernafasan menjadi lebih
cepat dan irregular. Pada nafas tidak efektif yaitu pertukaran udara inspirasi dan ekspirasi
tidak kuat.

16. Bilamana diakatakan hypothermia? Apa penyebabnya?

Dikatakan hipotermia dimana suhu tubuh berada dibawah 35 C. Hipotermia adalah suatu
keadaaan dimana tubuh merasa sangat kedinginan. Setelah panas dipermukaan tubuh
hilang maka akan terjadi pendinginan pada jaringan dalam dan organ tubuh. Hipotermia
adalah kondisi dimana tubuh kita mengalami penurunan suhu inti ( suhu organ dalam ).

22
KEPUSTAKAAN

Guyton, Arthur C. 1997 : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed 9. EGC : Jakarta

Burnside, John W. 1995 : Adams Diagnosis Fisik ed 17. EGC : Jakarta

Newman, W.A. 2009 : Dorland’s Pocket Medical Dictionary 28th International Edition.
Saunders Elsevier: Philadelphia

Jonathan Gleadle. At a Glace ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK. Jakarta:


Erlangga. 2003. H: 21

Jonathan Gleadle. At a Glace FISIOLOGI. Jakarta: Erlangga. 2003. H: 45

23