Anda di halaman 1dari 56

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam dunia kerja sumber daya manusia (SDM) merupakan unsur yang
sangat penting. Maju tidaknya suatu perusahaan bergantung pada kualitas sumber
daya manusia perusahaan tersebut. Sumber daya manusia yang akan terjun di
dunia kerja dituntut untuk memiliki kualitas sesuai dengan kebutuhan dan bidang-
nya sebelum menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Sumber daya manusia
yang akan terjun ke dunia kerja harus mengetahui dan mempelajari terlebih dulu
tentang dunia kerja sebagai bekal untuk menjalani pekerjaan yang sebenarnya,
sehingga tuntutan untuk bisa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas
dapat terpenuhi.
Melihat semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini,
metode pengajaran,pendidikan,dan materi juga harus ditingkatkan. Untuk itu
Politeknik Negeri Malang menetapkan kurikulum yang fleksibel dan mampu
mengakomodasi perkembangan yang ada. Salah satunya dengan memberikan
mata kuliah praktek kerja lapangan pada mahasiswa.Dengan ini, mahasiswa
dituntut untuk mengetahui dan menghayati pekerjaan dilapangan. Mahasiswa juga
dituntut memiliki keterampilan dan kemampuan menerapkan ilmu yang dimiliki.
Politeknik Negeri Malang sebagai salah satu lembaga pendidikan di
Indonesia yang memiliki sistem pendidikan yang menitik-beratkan pada praktek,
yang diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang terampil, profesional dan
siap kerja sebagai ahli madya di bidangnya. Politeknik Negeri Malang mempunyai
program kegiatan praktek kerja lapangan (PKL) untuk menambah pengetahuan
dan mengembangkan keterampilan sesuai bidang yang ada, khususnya di jurusan
elektro dengan konsentrasi bidang elektronika, sehingga para lulusan Politeknik
Negeri Malang akan mendapatkan bekal pengetahuan dan ketrampilan serta
mampu menjadi lulusan yang terampil, profesional dan siap kerja.
Kerjasama dan jalur komunikasi yang baik antara perguruan tinggi,industrii
nstansi pemerintah dan swasta sangat dibutuhkan untuk mencapai hasil yang opti
mal dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kerjasama ini dapat
dilaksanakan dalam bentuk pertukaran informasi antara masing masing pihak

1
POLITEKNIK NEGERI MALANG
tentang korelasi antara ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi dan penggunaan
ilmu di dunia industri.
Berdasarkan uraian di atas, maka kami memilih Perusahaan PT.SASA
INTI yang bertempat di Jl. Raya Gending Probolinggo 67272 Jawa Timur, Indone
sia sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan praktek kerja lapangan (PKL)
dengan harapan agar pihak PT. SASA INTI bersedia memberikan arahan,bimbing
an, dan pengetahuan agar kami dapat mengaplikasikan disiplin ilmu sesuai dengan
konsentrasi yang sedang kami tekuni saat ini yaitu di bidang Instrumen.

1.2 Maksud praktek kerja lapangan (PKL)


Maksud dari praktek kerja lapanganadalah sebagai kurikulum wajib yang
harus dilaksanakan oleh mahasiswa program studi teknik elektronika Politeknik.
Mahasiswa diharapkan dapat menambah wawasan serta pengetahuan tentang
dunia kerja dan mampu untuk beradaptasi dan interaksi dengan baik disuatu
perusahaan selama mengikuti kegiataan praktek kerja lapangan. Selain itu
mahasiswa juga diharapkan mendapatkan relasi-relasi dari pihak perusahaan
supaya mahasiswa lebih mudah untuk bersosialisasi dengan dunia luar selain
dunia pendidikan.
1.2.1 Bagi Mahasiswa
1. Mendapatkan pengalaman dunia kerja di bidang pemasaran.
2. Menguji kemampuan pribadi baik dari segi disiplin ilmu maupun
sosialisasi hidup bermasyarakat.
3. Menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman untuk terjun ke
dalam masyarakat terutama di lingkungan dunia kerja.
4. Dapat menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk
menyesuaikan diri dalam lingkungan kerjanya di masa mendatang.
1.2.2 Bagi Jurusan Elektro
1. Mendapatkan masukan untuk mengevaluasi sejauh mana kurikulum yang
telah diterapkan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
2. Untuk memperkenalkan instansi pendidikan Jurusan Elektro, Prodi
Elektronika, Politeknik Negeri Malang kepada PT. SASA INTI.

2
POLITEKNIK NEGERI MALANG
1.2.3 Bagi Perusahaan
1. Sarana untuk mengetahui kualitas pendidikan di Politeknik khususnya
Jurusan Elektro Prodi Elektronika.
2. Membantu menyelesaikan pekerjaan yang ada di PT. SASA INTI tempat
mahasiswa melakukan PKL.
3. Sarana untuk menjembatani hubungan kerjasama antara PT. SASA INTI
dengan Polinema di masa yang akan datang, khususnya mengenai
recruitment tenaga kerja.
1.3 Tujuan praktek kerja lapangan
Dalam melaksanakan praktek kerja lapangan ini kami mempunyai 2 tujuan
yaitu:
A. Tujuan Umum
1. Memperdalam dan memperjelas pelaksanaan teori dan praktik yang
diperoleh selama kuliah ke dalam dunia kerja sesungguhnya.
2. Memantapkan kemampuan praktik dalam penguasaan peralatan
industri.
3. Berlatih untuk membiasakan diri terhadap situasi kerja sebenarnya
terutama yang berkenaan dengan sikap disiplin kerja yang profesional.
4. Memperluas pegetahuan tentang wawasan kerja.
5. Mampu menyerap dan bersosialisasi dengan dunia kerja secara utuh,
sekaligus dapat mengetahui dan memahami sistem kerja di dunia
industri.
6. Untuk mengaplikasikan sekaligus melakukan koreksi dalam kajian
keilmuan dan tanggap terhadap kemajuan teknologi.
7. Berlatih bekerja secara profesional dan mematuhi disiplin waktu
sesuai dengan pembagian waktu yang telah ditentukan oleh pimpinan.
8. Mengambil manfaat praktek kerja lapangan sebagai bekal apabila
bekerja di dunia industri nantinya.
9. Membiasakan diri mampu mengantisipasi masalah yang terjadi
sekaligus memberikan solusi terhadap pemeahan masalah tersebut.
10. Memperkokoh hubungan baik antara Politeknik Negeri Malang dan
dunia kerja atau industri, sehingga diharapkan mahasiswa dari

3
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Politeknik Negeri Malang mempunyai kemampuan yang lebih dan
benar-benar sesuai dengan lapangan kerja atau industri sebenarnya.
B. Tujuan Khusus
1. Mengetahui alur proses produksi MNG ( Mono Natrium Glutamat) di
PT. SASA INTI Gending-Probolinggo.
2. Mempelajari dan memahami prinsip kerja alat-alat instrumentasi yang
di gunakan dalam proses produksi MNG ( Mono Natrium Glutamat )
di PT. SASA INTI Gending-Probolinggo.

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah dalam penyusunan laporan ini adalah:
1. Mengetahui kegunaan instrumentasi pada water chiller dan cooling
tower di PT SASA INTI GENDING.
2. Mengatahui sistem kerja dan pemeliharaan instrumentasi pada water
chiller dan cooling tower di PT SASA INTI GENDING.

1.5 Metodologi
Setelah melaksanakan praktek kerja lapangan, mahasiswa dituntut dan
diwajibkan untuk menyusun laporan. Laporan tersebut berisi hal-hal yang
dipelajari selama pratek kerja lapangan di perusahaan. Untuk keperluan tersebut,
dilakukan pengumpulan data untuk dibahas dalam laporan ini. Metode yang
digunakan dalam praktek kerja lapangankali ini adalah :
1. Observasi Lapangan
Yaitu mengadakan pengamatan langsung terhadap situasi yang
sesungguhnya dimana observasi dilakukan sesuai jadwal yang telah
ditentukan oleh pihak PT. SASA INTI Gending-Probolinggo.
2. Metode Wawancara
Dengan melakukan wawancara langsung kepada orang-orang
lapangan dan orang-orang yang berhubungan langsung dengan proses
praktek kerja lapangan untuk mendapatkan keterangan dan penjelasan
yang lebih mendetail tentang kegiatan dan peralatan-peralatan yang ada di
PT. SASA INTI Gending-Probolinggo.

4
POLITEKNIK NEGERI MALANG
3. Studi Literatur
Yaitu menggunakan literature sebagai pedoman dalam pelaksanaan
tugas di perusahaan maupun dalam penyusunan laporan. Metode ini
dilakukan dengan mencari sumber-sumber data dan informasi
diperpustakaan mengenai permasalahan yang berhubungan dengan
pembahasan, sehingga dengan penelitian ke perpustakaan ini diperoleh
secara teori mengenai permasalahan yang dibahas.

5
POLITEKNIK NEGERI MALANG
BAB II
RUANG LINGKUP PERUSAHAAN

2.1 Nama Perusahaan


PT.SASA INTI Gending-Probolinggo.

2.2 Denah Perusahaan

Gambar 2.1 Denah PT.SASA INTI Gending

6
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2.3 Visi,Misi dan Goal Perusahaan
VISI
Menjadi Perusahaaan yang menghasilkan produk bermutu, aman, halal,
serta tetap menjaga kelestarian lingkungan.
 MISI
Mengutamakan keselamatan kerja, melaksanakan sistem produksi bersih,
aman, efisien serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
 GOAL
Kelangsungan hidup perusahaan dengan daya saing tinggi.
2.4 Sejarah Perusahaan
PT Sasa Inti merupakan salah satu produsen Mono Natrium Glutamat
(MNG) di Indonesia. MNG yang diproduksi PT Sasa Inti dijual di pasar dalam
negeri maupun di pasar luar negeri. Saat ini ekspor MNG dilakukan dengan tujuan
negara-negara di Eropa, Asia dan Afrika.
Perusahaan ini berawal dari pembangunan pabrik PT Sasa Fermentasi yang
berlokasi di Gedangan - Sidoarjo - Jawa Timur pada bulan Pebruari 1968. Pabrik
ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Bapak Mohammad Noer pada tanggal
09 Juni 1969. Teknologi yang digunakan dibeli dari Wei Chuan Taiwan. Bahan
baku asam glutamat dan bahan pembantu masih diimpor dari luar negeri.
Pada tahun 1973 didirikan pabrik PT Sasa Inti yang berlokasi di Gending -
Probolinggo, diatas tanah seluas 11,3 hektar. Pabrik ini menggunakan teknologi
fermentasi asam glutamat yang dibeli dari Ve Wong Taiwan. Peresmian dilakukan
pada tanggal 30 Agustus 1975 oleh Gubernur Jawa Timur Bapak Mohammad
Noer dan Kepala Daerah Tingkat II Probolinggo Bapak Kolonel Soenyoto. Pabrik
ini menghasilkan MNG, Asam Glutamat (Dry Glutamic Acid / Dry GA) dan
pupuk cair (Liquid Fertilizer / LF). Bahan baku utama berupa tetes tebu sebagian
besar dipenuhi dari dalam negeri. Proses produksi secara keseluruhan sejak pabrik
beroperasi pada tahun 1975 sampai saat ini ditangani oleh putra-putri Indonesia.
Pada tahun 2001 dibangun plant baru yaitu Plant New Drying System
(NDS). Plant ini dibangun untuk menghasilkan produk MNG dengan persyaratan
yang lebih ketat. Plant ini mulai beroperasi pada tahun 2002.

7
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Pada tahun 2008 dibangun Plant baru di lokasi PT Sasa Inti - Gending
Probolinggo yaitu Packing. Tujuan dari dibangunnya plant ini untuk memindahka
n proses pengemasan yang semula berada di PT Sasa Inti - Gedangan Sidoarjo.
Per Maret 2010 secara keseluruhan proses pengemasan yang ada di PT Sasa
Inti - Gedangan dipindah ke PT Sasa Inti - Gending.
Perbaikan mutu produk dan peningkatan kapasitas produksi Pabrik PT Sasa
Inti - Gending dilakukan secara terus menerus. Luas area pabrik sampai saat ini
bertambah menjadi kurang lebih 30 hektar. Berbagai riset dan pengembangan juga
dilakukan secara terus menerus dengan orientasi untuk menghasilkan produk yang
halal, bersih serta memenuhi kualifikasi produk untuk pasar ekspor.
Per tanggal 01 Pebruari 2011 istilah MSG diganti menjadi MNG ( Mono
Natrium Glutamate )

8
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2.5 Struktur Organisasi Manajemen Perusahaan

Fermentasi
Divisi
Proses
Isolasi &Pemurnian

Human Resource
Divisi

HR & GA
General Affair

Electrical Instrument

Wakil Wakil
Presiden Pimpinan
Pimpinan
Divisi
Presiden Engineering& Utility
Direktur Direktur Pabrik Pabrik Teknik

Mechanical &
Maintenance
Packing
Divisi

Packing
Polycello

Logistic & Warehouse

LF. Sales

Purchasing

Technical
Development
Safety Health
&eEnvironment
QC / QA

PPC

Sekretaris

Finance

Information
Technology
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Manajemen PT.SASA INTI Gending

9
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2.6 Proses pembuatan MNG (Mononatrium Glutamat) di PT SASA INTI
GENDING
2.6.1 Diagram alir proses pembuatan MNG

Gambar 2.3 Diagram alir proses pembuatan MNG PT.SASA INTI Gending

2.7 Unit – unit pada PT SASA INTI GENDING

2.7.1 DGL
a. Unit pada DGL
DGL terdiri dari 3 unit, yaitu :
1. Unit Dekalsium
Prinsip kerja :Menghilangkan atau mengurangi kadar Ca
(Calsium) yang ada pada tetes dengan menambahkan H2SO4 dan

10
POLITEKNIK NEGERI MALANG
menghilangkan unsur pengotor serta lumpur, sehingga larutan
menjadi lebih murni yang disebut dengan Light Liquid 2 (LL2).
2. Unit Glukose
Prinsip kerja
 Hidrolisa tapioka menjadi glukosa secara enzymatic.
 Enzim yang digunakan yaitu :
1. Enzim liquifikasi (α-amilase) : mengubah > 10 unit
gula/satuan monosakarida menjadi 3-10 unit gula/satuan
monosakarida.
2. Enzim sakarifikasi (gluko amilase) : mengubah 3-10 unit
gula/satuan monosakarida menjadi monosakarida (glukosa).
3. Unit Amoniak
Prinsip Kerja :Menampung atau menyimpan amoniak yang akan
digunakan untuk proses berikutnya (Plant Fermentasi dan Isolasi).
Terdapat 6 tangki penampung amoniak dengan kapasitas masing -
masing tangki 40 ton.
b. Hasil Tiap Unit
Tabel 2.1 Hasil Tiap Unit pada DGL
Unit Hasil

Dekalsium LL2
Glukose Glukosa
Amoniak Amoniak

2.7.2 Fermentasi
Prinsip KerjaAdanya aktifitas bakteri yang mengubah glukosa
menjadi asam glutamat (Thin Broth).
1. Proses Sterilisasi Bahan Baku
Proses sterilisasi bahan dilakukan dengan mencampurkan
terlebih dahulu bahan-bahan yang dibutuhkan dengan komposisi
tertentu pada suhu ± 120°C.

11
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2. Proses Pengembangbiakan Bakteri
Proses pengembangbiakan bakteri dilakukan di Lab Kultur dan
di Plant Fermentasi. Strain bakteri induk dikembangbiakan,
dikumpulkan dan disimpan untuk dikirim ke Plant Fermentasi.
Kemudian di Plant Fermentasi dikembangbiakan lagi untuk
digunakan sebagai seed pada Main Fermentor. Sampling dilakukan
untuk mengamati kontaminan selama proses pengembangbiakan.
Apabila pada saat pengamatan terdapat kontaminan, maka inokulum
tersebut akan ditangani sesuai dengan Instruksi Kerja.
3. Proses Produksi (Main Fermentor)
Menginokulasikan seed dengan menambahkan bahan baku yang
telah disterilkan.
2.7.3 Isolasi
Terdapat 3 tahapan utama, yaitu :
1. Evaporasi (Pemekatan)
Larutan asam glutamat (Thin Broth) dipekatkan dengan
menggunakan evaporator.
2. Kristalisasi (Pengkristalan)
Larutan asam glutamat yang telah pekat, dikristalkan pada reaktor
membentuk kristal α pada kondisi asam dengan menambahkan HCl &
H2SO4. Selanjutnya proses transformasi kristal α menjadi kristal β
dengan penambahan NaOH 26% dan ML (Mother Liquor) serta soft
water.
3. Separasi (Pemisahan)
Hasil proses kristalisasi dipisahkan sehingga terbentuk kristal asam
glutamat basah (Pre Neutralizer Liquor) dan cairan tanpa kristal asam
glutamat (GlutamatMother). Cairan tersebut dimanfaatkan sebagai
bahan baku pembuatan pupuk cair “Saritana” di LF Proses.
4. Netralisasi
Menetralkan Pre Neutralizer Liquor dengan menambahkan NaOH
yang selanjutnya ditampung di tangki penampung Neutralizer Liquor
(NL).

12
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2.7.4 Pemurnian
1. Dekolorisasi
Menghilangkan atau menurunkan warna NL menjadi lebih jernih
dengan penambahan active carbon.
2. Kristalisasi MNG
Proses kristalisasi di PMR I terjadi secara batch dengan Vacuum
Crystallizer dan secaracontinue di PMR II dengan Continous
Crystallizer. Kemudian dikeringkan dengan udara panas pada Rotary
Dryer.
3. Separasi (Pemisahan)
Kristal MNG dipisahkan berdasarkan ukuran / jenisnya.
2.7.5 Packing
Prinsip Kerja MNG dikemas berdasarkan ukuran yang telah
ditentukan untuk tiap pieces atau kemasan untuk pemasaran di dalam
dan di luar negeri.
2.8 Kebijakan MUTU
PT Sasa Inti adalah produsen MNG yang berkualitas dan pupuk cair
sebagai produk samping.
 Perusahaan berkomitmen untuk menyediakan produk bermutu, aman dan
halal serta menjamin proses yang menghasilkan produk yang memuaskan
pelanggan dan ramah lingkungan.
 Memenuhi persyaratan Perundangan Pemerintah dan institusi / lembaga
untuk produk pangan yang aman dan higienis
 Melibatkan karyawan dalam bertanggung jawab terhadap kualitas dan
keamanan produk (Food Safety)
 Menetapkan, mengevaluasi, meningkatkan dan meninjau sasaran dan target
Ketepatan waktu penyampaian produk pada konsumen sesuai perjanjian.

2.9 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


1. Safety Induction (Pengenalan Keamanan/ Perlindungan)
Safety induction merupakan kegiatan safety yang diberikan kepada
pekerja baru, Tamu/ Pengunjung/ Pekerja Kontraktor atau pihak-pihak
yang perlu mengetahui tentang safety.
13
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2. Tujuan
a. Untuk memperkenalkan secara singkat bagaimana sesungguhnya
PT.Sasa Inti Gending kepada para Tamu/ Pengunjung.
b. Untuk memberi penjelasan mengenai peraturan di PT. Sasa Inti
Gending yang berhubungan dengan Keselamatan, Kesehatan Kerja dan
Lingkungan (K3L) sehingga para Tamu/ Pengunjung dapat mengerti
dan mentaati peraturan tersebut.
c. Menjelaskan masalah Emergency (Keadaan Darurat) dan
penangananya, Alat Pelindung Diri, serta tindakan pencegahan terhadap
bahaya untuk mengurangi resiko kecelakaan yang mungkin terjadi
kepada para Tamu/ Pengunjung.
3. Prosedur Tamu/ Pengunjung/ Pekerja Kontraktor :
a. Tamu / pengunjung / pekerja kontraktor wajib melapor ke Security
menyerahkan KTP / SIM / ID yang sah dan mengisi identitas diri serta
tujuan dalam formulir pengunjung, sebelum memasuki lokasi kerja /
area PT. Sasa Inti Gending.
b. Semua tamu / pengunjung/ pekerja kontraktor wajib mengikuti
pelatihan berupa safety induction, pengenalan peraturan perusahaan dan
instruksi kerja, sebelum memasuki lingkungan PT. Sasa Inti Gending.
4. Peraturan dasar di PT SASA INTI GENDING semua pekerja / Tamu
Pengunjung / Pekerja kontraktor, wajib :
a. Berpakaian rapi dan sopan.
b. Selalu mengenakan kartu visitor
c. Bersedia meninggalkan Handphone, Kamera, dan peralatan elektronika
lainnya pada loker tamu saat akan memasuki area produksi (khusus
zona Merah).
d. Mematuhi rambu-rambu K3L dan rambu-rambu larangan.
e. Memperhatikan Petunjuk Keselamatan / Keadaan Darurat
f. Wajib memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dan lengkap
pada area yang telah ditentukan.
g. Turut menjaga kebersihan ruangan

14
POLITEKNIK NEGERI MALANG
h. Setiap Karyawan harus mempelajari lokasi dan tipe alat pemadam api
secara umum dan Tim Tanggap Darurat secara khususnya.
5. Larangan di PT SASA INTI GENDING:
a. Dilarang keras merokok di area pabrik dan kantor PT. Sasa Inti
Gending.
b. Dilarang mengkonsumsi minuman keras, membawa senjata tajam dan
senjata api, memakai obat terlarang dan perjudian di lokasi PT. Sasa
Inti Gending.
c. Membuang sampah sembarangan.
d. Dilarang buang air kecil/ besar, meludah, membuang dahak atau ingus
kecuali di toilet.
e. Memotret apapun yang ada dilingkungan pabrik tanpa seijin Pihak
Management PT. Sasa Inti Gending.
f. Dilarang melintas area/ jalan ketika ada tanda larangan (Rambu K3).
g. Dilarang masuk ke area/ wilayah kerja bagian lain tanpa ada
kepentingan dan didampingi petugas yang berwenang
6. Tata Tertib untuk kendaraan bermotor, wajib :
a. Parkir pada tempat yang telah ditentukan dan patuhi marka parkir.
b. Dahulukan alat angkut produksi (Truk Expedisi, forklift, dll) jika
sedang beroperasi.
c. Bongkar muat pada tempat yang telah ditentukan dan roda ban harus di
ganjal serta rem tangan harus diaktifkan.
d. Setiap sepeda motor dan mobil yang masuk atau keluar area PT. Sasa
Inti Gending bersedia untuk dilakukan pemeriksaan/geledah.Setiap
barang yang masuk atau keluar harus disertai dengan bukti surat jalan.
7. Tanggap darurat (emergency)
Pengertian Keadaan Darurat (Emergency)
Keadaan sulit yang tidak diduga yang memerlukan penanggulangan
segera supaya tidak terjadi kecelakaan.
 Ruang Lingkup
a. Kebakaran yang gagal dipadamkan regu pemadam kebakaran
Perusahaan.

15
POLITEKNIK NEGERI MALANG
b. Peledakan.
c. Kebocoran gas/cairan/material berbahaya yang tidak dapat diatasi
dalam waktu singkat.
d. Keracunan.
e. Bencana Alam.
f. Ancaman Bom.
g. Demonstrasi / Unjuk Rasa.
h. Huru-hara.
8. Jika terjadi keadaan Darurat
a. Pelajari rute evakuasi dan arah jalan keluar
b. Tetap tenang dan tidak panik.
c. Informasikan kepada petugas Tanggap Darurat apabila ada rekan yang
masih tertinggal/terperangkap/terluka.
d. Tetap di area aman hingga ada instruksi lanjutan dari petugas
berwenang
9. Insiden Keselamatan dan kesehatan kerja
a. Pengertian
Kejadian yang berkaitan dengan pekerjaan dimana cedera, penyakit
akibat kerja (PAK) ataupun kefatalan (kematian) dapat terjadi
(termasuk insiden ialah keadaan darurat).
b. Kecelakaan Kerja
Insiden yang menyebabkan cedera, penyakit akibat kerja (PAK)
ataupun kefatalan (kematian).
c. Nearmiss (hampir celaka)
Insiden yang tidak menyebabkan cedera, penyakit akibat kerja
(PAK) ataupun kefatalan (kematian).

16
POLITEKNIK NEGERI MALANG
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Landasan teori
3.1.1 Programmable Logic Controller (PLC)
Sebuah PLC (Programmable Logic Controller) adalah sebuah alat yang
digunakan untuk menggantikan rangkaian sederetan relay yang ada pada
sistem kontrol konvensional. PLC bekerja dengan cara mengamati masukan
(melalui sensor), kemudian melakukan proses dan melakukan tindakan sesuai
yang dibutuhkan, berupa menghidupkan atau mematikan keluaran. Program
yang digunakan adalah berupa ladder diagram yang kemudian harus
dijalankan oleh PLC. Dengan kata lain PLC menentukan aksi apa yang harus
dilakukan pada instrument keluaran yang berkaitan dengan status suatu
ukuran atau besaran yang diamati. Proses yang di kontrol ini dapat berupa
regulasi variabel secara kontinyu seperti pada sistem - sistem servo, atau
hanya melibatkan kontrol dua keadaan (on/off) saja, tetapi dilakukan secara
berulang-ulang seperti umum dijumpai pada mesin pengeboran, sistem
konveyor dan lain sebagainya. PLC secara bahasa berarti pengontrol logika
yang dapat diprogram, tetapi pada kenyataannya, PLC secara fungsional tidak
lagi terbatas pada fungsi-fungsi logika saja. Sebuah PLC dewasa ini juga
dapat melakukan perhitungan-perhitungan aritmatika yang relatif kompleks,
fungsi komunikasi, dokumentasi dan lain sebagainya. PLC banyak digunakan
pada aplikasi-aplikasi industri, misalnya pada proses pengepakan, perakitan
otomatis dan lain-lain. Hampir semua aplikasi kontrol listrik membutuhkan
PLC. Alasan utama perancangan PLC adalah untuk menghilangkan beban
ongkos perawatan dan penggantian sistem kontrol mesin berbasis relay.
Adapun ciri atau karateristik PLC memiliki beberapa aspek sebagai berikut :
a. PLC sebenarnya suatu sistem berbasis mikroprosesor yang memiliki
fungsi - fungsi dan fasilitas utama dari sebuah mikro computer.
b. PLC diprogram melalui programming unit yang bisa berupa terminal
komputer dengan VDU (Video Display Unit) dan keyboard atau
dengan terminal portabel 7 khusus (mirip kalkulator dengan tampilan
LCD). Pada saat ini PLC dapat di program melalui PC.

17
POLITEKNIK NEGERI MALANG
c. PLC mengontrol suatu alat berdasarkan status masukan/keluaran suatu
alat dan program. Sehingga pengertian PLC yang awalnya berfungsi
menggantikan peran relay.
3.1.2 Transformator
adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan mengubah energi
listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian listrik yang lain,
melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi-
elektromagnet. Transformatordigunakan secara luas, baik dalam bidang
tenaga listrik maupun elektronika.
Penggunaan transformator dalam sistem tenaga memungkinkan
terpilihnya tegangan yang sesuai, dan ekonomis untuk tiap-tiap keperluan
misalnya kebutuhan tegangan tinggi dalam pengiriman daya listrik jarak jauh.
Dalam bidang elektronika, transformator digunakan antara lain sebagai
gandengan impedansi antara sumber dan beban; untuk memisahkan satu
rangkain dari rangkaian yang lain; dan untuk menghambat arus searah
melalukan atau mengalirkan arus bolak-balik. Berdasarkan frekuensi,
transformator dapat dikelompokkan menjadi:
 Frekuensi daya, 50 sampai 60Hz
 Frekuensi pendengaran, 50Hz sampai 20kHz
 Frekuensi radio, diatas 30kHz.
Dalam bidang tenaga listrik pemakaian transformator dikelompokkan
menjadi:
 Transformatror daya
 Transformatror distribusi
 Transformatror pengukuran, yang terdiri dari atas transformator arus
dan Transformator tegangan.
3.1.3 RTD
RTD yang merupakan singkatan dari Resistance Temperature Detector
adalah sensor suhu yang pengukurannya menggunakan prinsip perubahan
resistansi atau hambatan listrik logam yang dipengaruhi oleh perubahan suhu.
RTD adalah salah satu sensor suhu yang paling banyak digunakan dalam
otomatisasi dan proses kontrol.

18
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 3.1 RTD
Pada tipe elemen wire-wound atau tipe standar, RTD terbuat dari kawat
yang tahan korosi, yang dililitkan pada bahan keramik atau kaca, yang
kemudian ditutup dengan selubung probe sebagai pelindung. Selubung probe
ini biasanya terbuat dari logam inconel (logam dari paduan besi, chrom, dan
nikel). Inconel dipilih sebagai selubung dari RTD karena tahan korosi
dan Ketika ditempatkan dalam medium cair atau gas, selubung inconel cepat
dalam mencapai suhu medium tersebut. Antara kawat RTD dan selubung juga
terdapat keramik (porselen isolator) sebagai pencegah hubung pendek antara
kawat platina dan selubung pelindung. Perhatikan gambar dibawah ini.

Gambar 3.2. jenis kawat RTD


Sedangkan jenis logam untuk kawat dari RTD umumnya adalah platina.
Kawat RTD biasanya juga terbuat dari tembaga dan nikel. Namun platina
adalah bahan yang paling umum digunakan, karena memiliki tingkat akurasi
yang lebih baik dan rentang suhu yang lebih luas.

19
POLITEKNIK NEGERI MALANG
 prinsip kerja RTD
Ketika suhu elemen RTD meningkat, maka resistansi elemen
tersebut juga akan meningkat. Dengan kata lain, kenaikan suhu logam
yang menjadi elemen resistor RTD berbanding lurus dengan resistansinya.
elemen RTD biasanya ditentukan sesuai dengan resistansi mereka dalam
ohm pada nol derajat celcius (0⁰ C). Spesifikasi RTD yang paling umum
adalah 100 Ω (RTD PT100), yang berarti bahwa pada suhu 0⁰ C, elemen
RTD harus menunjukkan nilai resistansi 100 Ω.
Dalam prakteknya, arus listrik akan mengalir melalui elemen RTD
(elemen resistor) yang terletak pada tempat atau daerah yang mana
suhunya akan diukur. Nilai resistansi dari RTD kemudian akan diukur oleh
instrumen alat ukur, yang kemudian memberikan hasil bacaan dalam suhu
yang tepat, pembacaan suhu ini didasarkan pada karakteristik resistansi
yang diketahui dari RTD.
 Elemen sensor RTD mempunyai dua tipe konfigurasi yang paling
umum, yaitu :
1. Wire-wound
Seperti yang dijelaskan pada sebelumnya, wire-wound merupakan
tipe elemen yang terdiri dari kumparan kawat logam (platina) yang
melilit keramik atau kaca, yang ditempatkan atau ditutup dengan
selubung probe sebagai pelindung.

Gambar 3.3 wire wound


2. Thin-film
Thin-film merupakan tipe elemen RTD yang terdiri dari lapisan
bahan resistif yang sangat tipis (umumnya platina), yang diletakkan
pada substrat keramik yang kemudian dilapisi dengan epoxy atau kaca
sebagai segel atau pelindungnya.

20
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 3.4 thin-film
 RTD memiliki 3 macam konfigurasi koneksi kabel yaitu: 2 wire, 3 wire,
dan 4 wire RTD.
Sama halnya seperti platina, Tembaga (kabel) juga memiliki nilai
resistansi. Resistansi sepanjang kabel tembaga ini dapat berdampak pada
pengukuran resistansi yang dilakukan oleh instrumen alat ukur.
RTD 2 kabel (2 wire) praktis tidak memiliki perhitungan resistansi
yang terkait dengan kabel tembaga, sehingga mengurangi keakuratan
pengukuran elemen sensor suhu RTD. Akibatnya RTD 2 wire umumnya
hanya digunakan untuk kebutuhan pengukuran suhu perkiraan saja.
RTD 3 kabel (3 wire) adalah spesifikasi yang paling umum yang biasa
digunakan pada aplikasi-aplikasi di industri. RTD 3 wire menggunakan
rangkaian pengukuran jembatan wheatstone untuk mengkompensasi nilai
resistansi kabel. Perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 3.5 RTD 3 kabel


Dalam konfigurasi RTD 3 wire ini, kabel “A” dan “B” harus
memiliki kedekatan atau panjang yang sama. Panjang kabel ini sangat
berarti karena tujuan dari jembatan wheatstone adalah untuk membuat
impedansi dari kabel A dan B. Dan kabel C berfungsi sebagai pembawa
arus yang sangat kecil.

21
POLITEKNIK NEGERI MALANG
RTD 4 kabel (4 wire) adalah konfigurasi yang paling akurat dari yang
lainnya. Karena dalam RTD 4 kabel ini dapat sepenuhnya
mengkompensasi resistansi dari kabel, tanpa perlu memberikan perhatian
khusus pada panjang masing – masing kabel.Kelebihan dan kekurangan
RTD bila dibandingkan dengan termokopel :
 Rentang pengukuran: RTD dapat mengukur suhu hingga 1000⁰ C,
akan tetapi sulit mendapatkan pengukuran yang akurat dari RTD
dengan suhu diatas 400⁰ C. Termokopel dapat mengukur suhu sampai
1700⁰ C. Umumnya RTD digunakan pada suhu dibawah 850⁰ C, dan
bila suhu diatas 850⁰ C biasanya menggunakan termokopel.
Pengukuran suhu di industri biasanya 200⁰ C sampai 400⁰ C, sehingga
RTD mungkin menjadi pilihan terbaik dalam kisaran suhu tersebut.
 Waktu respon (response time): RTD mempunyai respon yang cepat
terhadap perubahan suhu akan tetapi kemampuan termokopel dalam
merespon suhu jauh lebih cepat.
 Getaran (vibration): termokopel tidak terpengaruh terhadap getaran,
sedangkan RTD terpengaruh bila ada getaran atau goncangan,
sehingga bila RTD diperlukan maka RTD thin-film biasa digunakan
karena RTD thin-film lebih tahan terhadap getaran bila dibandingkan
dengan RTD standar.
 Pemanasan sendiri (self-heating): sebuah RTD terdiri dari kawat atau
pelapis yang sangat halus dan membutuhkan tegangan dari power
supply, sedangkan termokopel tidak memerlukan. Meskipun arus yang
diperlukan hanya sekitar 1 mA sampai 10 mA, hal ini dapat
menyebabkan elemen platina RTD “memanas”. Sehingga
mempengaruhi tingkat akurasi pengukuran. Hal ini mungkin terjadi
bila kabel ekstensi panjang digunakan, sehingga daya yang lebih besar
mungkin diperlukan untuk mengatasi hambatan atau resistansi kabel,
dan hal ini mengakibatkan masalah pemanasan sendiri (self-heating)
meningkat.

22
POLITEKNIK NEGERI MALANG
 Akurasi pengukuran: secara umum RTD lebih akurat daripada
termokopel. RTD menghasilkan akurasi hingga 0,1⁰ C sedangkan
termokopel hanya 1⁰ C.
 Stabilitas: stabilitas jangka panjang dari RTD sangat baik, yang berarti
pembacaan yang akan berulang dan stabil dalam waktu yang lama.
Sedangkan termokopel cenderung tidak stabil karena EMF yang
dihasilkan oleh termokopel dapat berubah dari waktu ke waktu karena
oksidasi, korosi, dan perubahan lain dalam sifat metalurgi dari elemen
sensor atau penginderaan.
 Harga: meskipun ini bukan masalah teknis tapi mungkin ini penting,
termokopel memiliki harga yang jauh lebih murah daripada RTD.

3.1.4 Valve
control valve adalah suatu jenis elemen pengendali akhir atau final
control elemenyang paling umum digunakan untuk memanipulasi proses laju
aliran fluida. Kata control valvedapat juga di artikan bahwa prinsip
kerjanya bisa secara otomatis maupun manual. Suatu proses aliran
fluida pada control valvebekerja tidak hanya pada posisi menutup secara
penuh (fully closed) atau membuka secara penuh (fully opened) tetapi dapat
juga dikendalikan melalui manipulated variableatau input dari suatu proses
yang dapat dimanipulasi atau diubah-ubah untuk mengatur besaran bukaan
valve agar proses variabel selalu sama dengan set point yang di kehendaki.
A.Tipe Control Valve
1. Globe Valve
Pada pembahasan ini adalah control valve dengan tipe globe.
Dinamakan globe valvedikarenakan bentuk alirannya yang menyerupai
globe/bola. Valvetipe globe ini paling populerdi pakai pada sistem
pengendalian proses dikarenakan rangeability(jangkauan yang luas)
serta dapat mengontrol aliran fluida proses secara akurat. Tipe globe
control valve pada umumnya terdiri dari dua jenis, yaitu single-
seated(dudukan tunggal) dan double-seated(dudukan ganda). Pada tipe
double-seated, aliran fluida proses dipecah menjadi dua bagian,
sehingga pressure dropdimasing-masing bagian hanya setengah dari
23
POLITEKNIK NEGERI MALANG
pressure dropdi antara inlet-oulet. Hal ini sangat menguntungkan karena
dapat mengurangi terjadinya korosi akibat fluida proses yang mengalir
secara kontinyu. Globe control valve adalah salah satu tipe yang paling
banyak di gunakan pada suatu proses area industri, baik di industri
migas dan petrochemical.
2. Aktuator
Aktuator/penggerak pada control valveadalah perangkat
elektromekanik yang menghasilkan daya gerakan baik menggunakan
sistem pneumatik(perangkat kompresi berbasis udara atau nitrogen),
hidrolik (berbasis bahan cair seperti oli) 10 maupun secara elektrik yang
fungsinya untuk menutup atau membuka laju aliran fluida dalam valve.
3. Solenoid valve
adalah gabungan antara sistem elektrik dan mekanis (katup
elektromekanis) yang terpasang pada sistem control valveberfungsi
mengendalikan tekanan udara yang masuk ke aktuator. Arus yang di
gunakan secara umum adalah arus searah/DC (direct current) yaitu 24
VDC.
B. Konsep Kerja Control Valve
Control valve terdiri dari beberapa komponen-komponen yang
menjadi satu kesatua denganfungsi yang berbeda. Bodi valve yang
terdapat trim berfungsi untuk mengatur jumlah aliran fluida. Aktuator
berfungsi menggerakan batang valve/Stem untuk membuka atau
menutup aliran dengan menggunakan sinyal I/P (current to pneumatic)
4 – 20 mA menjadi sinyal 3 – 15 psi. Positioner yang bekerja
menggunakan sinyal 4-20 mA berfungi membaca pergerakan batang
katup untuk bukaan atau menutup sebagian aliran fluidakerja yang telah
ditentukan.
1. Karakteristik Aliran Control Valve
Karakteristik aliran sebuah control valve adalah hubungan antara
laju aliran melalui pembukaan (opening) valve dengan variasi rentang
dari 0-100%. Karakter aliran yang melekat pada sebuah control valve
mengacu pada pengamatan secara terus menerus penurunan tekanan

24
POLITEKNIK NEGERI MALANG
melalui valve. Menetapkan suatu karakteristik aliran berarti satu
peralatan digunakan untukmendapatkan variasi penurunan tekanan
terhadap aliran yang berhubungan dengan perubahan 33 sistem lainnya.
Diperlukannya karakteristik aliran bertujuan untuk menyeragamkan
secara keseluruhan keseimbangan control loopselama rentang yang
diharapkan terhadap kaitannya dengan kondisi operasi. Dalam memilih
karakteristik aliran diperlukan untuk menyeragamkan suatu sistem yang
di syaratkan pada sebuah analisis dinamis terhadap control loop.
Analisis proses harus terlebih dulu di lakukan, agar panduan pemilihan
karakteristik aliran yang akan di pilih menjadi akurat. Control valve
pada umumnya memiliki 3 (tiga) karakteristik aliranyang ideal, yaitu
Quick Opening, Linear dan Equal
Percentage,dimana aliran yang melalui sebuah valve adalah
sebanding dengan luasan dari bukaan dan akar kuadrat dari penurunan
tekanan yang terjadi pada valve.
3.1.5 Motor listrik 3 fasa
Motor AC 3 phase bekerja dengan memanfaatkan perbedaan fasa
sumber untuk menimbulkan gaya putar pada rotornya. Jika pada motor AC 1
phase untuk menghasilkan beda phase diperlukan penambahan komponen
Kapasitor, pada motor 3 phase perbedaan phase sudah didapat langsung dari
sumber seperti terlihat pada gambar arus 3 phase berikut ini:

Gambar 3.6 Grafik arus 3 fasa

25
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Pada gambar di atas, arus 3 phase memiliki perbedaan phase 60 derajat
antar phasenya. Dengan perbedaan ini, maka penambahan kapasitor tidak
diperlukan.
A.Konstruksi Motor Listrik 3 Fasa
Motor induksi tiga fasa memiliki dua komponen dasar yaitu stator dan
rotor, bagian rotor dipisahkan dengan bagian stator oleh celah udara yang
sempit (air gap) dengan jarak antara 0,4 mm sampai 4 mm. Tipe dari
motor induksi tiga fasa berdasarkan lilitan pada rotor dibagi menjadi dua
macam yaitu rotor belitan (wound rotor) adalah tipe motor induksi yang
memiliki rotor terbuat dari lilitan yang sama dengan lilitan statornya dan
rotor.
sangkar tupai (Squirrel-cage rotor) yaitu tipe motor induksi dimana
konstruksi rotor tersusun oleh beberapa batangan logam yang dimasukkan
melewati slot-slot yang ada pada rotor motor induksi, kemudian setiap
bagian disatukan oleh cincin sehingga membuat batangan logam terhubung
singkat dengan batangan logam yang lain.

Gambar 3.7 Konstruksi Motor Listrik 3 Fasa


B.Prinsip Kerja Motor Listrik 3 Fasa
Apabila sumber tegangan 3 fase dipasang pada kumparan stator, akan
timbul medan putar dengan kecepatan seperti rumus berikut :
Ns = 120 f/P dimana:
Ns = Kecepatan Putar
f = Frekuensi Sumber
P = Kutub motor

26
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Medan putar stator tersebut akan memotong batang konduktor pada
rotor. Akibatnya pada batang konduktor dari rotor akan timbul GGL
induksi. Karena batang konduktor merupakan rangkaian yang tertutup
maka GGL akan menghasilkan arus (I). Adanya arus (I) di d alam medan
magnet akan menimbulkan gaya (F) pada rotor. Bila kopel mula yan g
dihasilkan oleh gaya (F) pada rotor cukup besar untuk memikul kopel
beban, rotor akan berputar searah dengan medan putar stator. GGL induksi
timbul karena terpoton gn ya batang konduktor (rotor) oleh medan putar
stator. Artinya agar GGL induksi tersebut timbul, diperlukan adanya
perbedaan relatif antara kecepatan medan putar stator (ns) dengan
kecepatan berputar rotor (nr).Perbedaan kecepatan antara nr dan ns disebut
slip (s), dinyatakan dengan S= (ns- nr)/ ns Bila nr = ns, GGL induksi tidak
akan timbul dan arus tidak mengalir pada batang konduktor (rotor), dengan
demikian tidak dihasilkan kopel. Dilihat dari cara kerjanya, motor induksi
disebut juga sebagai motor tak serempak atau asinkron.
C.Hubungan antara beban, kecepatan dan torsi (torque)
hubungan antara torque - kecepatan dengan arus pada motor induksi 3
phase:
• Motor mulai menyala ternyata terdapat arus start yang tinggi akan
tetapi torque-nya rendah.
• Saat motor mencapai 80% dari kecepatan penuh, torque-nya
mencapai titik tertinggi dan arusnya mulai
menurun.
• Pada saat motor sudah mencapai kecepatan penuh, atau kecepatan
sinkron, arus torque dan stator turun ke nol.
3.1.6 Pompa dan sistem pemompaan
Sistim pemompaan bertanggung jawab terhadap hampir 20% kebutuhan
energi listrik dunia dan penggunaan energi dalam operasi pabrik industri
tertentu berkisar 25-50% (US DOE, 2004).
Pompa memiliki dua kegunaan utama:
 Memindahkan cairan dari satu tempat ke tempat lainnya (misalnyaair
dari aquifer bawah tanah ke tangki penyimpan air).

27
POLITEKNIK NEGERI MALANG
 Mensirkulasikan cairan sekitar sistim ( misalnyaair pendingin atau
pelumasyang melewati mesin- mesin dan peralatan).
Komponen utama sistim pemompaan adalah:
 Pompa( beberapa jenis pompa dijelaskan dalam bagian 2).
 Mesin penggerak: motor listrik,mesin diesel atau sistim udara.
 Pemipaan, digunakan untuk membawa fluida.
 Kran, digunakan untuk mengendalikan aliran dalam sistim.
 Sambu ngan, pengendalian dan instrumentasi lainnya.
 Peralatan pengguna akhir, yang memiliki berbagai persyaratan.

Gambar 3.8. Sistim Pemompaan dalam sebuah Industri (US DOE,


2001)
3.1.6.1 Karakteristik sistem pemompaan
1. Tahanan sistem: head
Tekanan diperlukan untuk memompa cairan melewati
sistim pada laju tertentu. Tekanan ini harus cukup tinggi untuk
mengatasi tahanan sistim, yang juga disebut “ head” . Headtotal
merupakan jumlah dari headstatik dan head gesekan / friksi :
a) Headstatik
Headstatik merupakan perbedaan tinggi antara sumber
dan tujuan dari cairan yang dipompakan. Headstatik merupa-
kan aliran yang independen. Headstatik pada tekanan tertentu
tergantung pada berat cairan dan dapat dihitung dengan
persamaan berikut:

28
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Head (dalam feet) = Tekanan (psi) X 2,31
Specific gravity

Headstatik terdiri dari :


 Head hisapan statis (hS): dihasilkan dari pengangkatan
cairan relatif terhadap garis pusat pompa. hS nilainya
positif jika ketinggian cairan diatas garis pusat pompa, dan
negatif jika ketinggian cairan berada dibawah garis pusat
pompa (juga disebut “ pengangkat hisapan ” ).
 Head pembuangan statis (hd): jarak vertikal antara garis
pusat pompa dan permukaan cairan dalam tangki tujuan..
b) Head gesekan/ friksi (hf)
Ini merupakan kehilangan yang diperlukan untuk
mengatasi tahanan untuk mengalir dalam pipa dan
sambungan-sambungan. Head ini tergantung pada ukuran,
kondisi dan jenis pipa, jumlah dan jenis sambungan, debit
aliran, dan sifat dari cairan. Head gesekan/ friksi sebanding
dengan kwadrat debit aliran. Loop tertutup sistim sirkulasi
hanya menampilkan head gesekan/ friksi (bukan head
statik). Dalam hampir kebanyakan kasus, head total sistim
merupakan gabungan antara head statik dan head gesekan.
2. Kurva kinerja pompa
Head dan debit aliran menentukan kinerja sebuah pompa
yang secara grafis ditunjukkan dalam Gambar 3.9 sebagai
kurva kinerja atau kurva karakteristik pompa Gambar memper-
lihatkan kurva pompa sentrifugal dimana head secara perlahan
turun dengan meningkatnya aliran.
Dengan meningkatnya tahanan sistim, head juga akan
naik. Hal ini pada gilirannya akan menyebabkan debit aliran
berkurang dan akhirnya mencapai nol. Debit aliran nol hanya
dapat diterima untuk jangka pendek tanpa menyebabkan
pompa terbakar.

29
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Head

Aliran

Gambar 3.9. Kurva Kinerja sebuah Pompa

3. Titik operasi pompa


Debit aliran pada head tertentu disebut titik tugas. Kurva
kinerja pompa terbuat dari banyak titik-titik tugas. Titik
operasi pompa ditentukan oleh perpotongan kurva sistim
dengan kurva pompa sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar
3.10.

Kurva kinerja pompa

Titik
operasi
Head pompa
Kurva
Sistim

Head statik

Gambar 3.10. Titik operasi pompa (us doe, 2001)

4. Kinerja hisapan pompa (NPSH)


Kavitasi atau penguapan adalah pembentukan gelembung
dibagian dalam pompa. Hal ini dapat terjadi manakala tekanan
statik fluida setempat menjadi lebih rendah dari tekanan uap
cairan (pada suhu sebenarnya). Kemungkinan penyebabnya
adalah jika fluida semakin cepat dalam kran pengendali atau
disekitar impeler pompa.

30
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Penguapan itu sendiri tidak menyebabkan kerusakan. Walau
demikian, bila kecepatan berkurang dan tekanan bertambah, uap
akan menguap dan jatuh. Hal ini memiliki tiga pengaruh yang
tidak dikehendaki:
 Erosi permukaan baling-baling, terutama jika memompa
cairan berbasis air. 
 Meningkatnya kebisingan dan getaran, mengakibatkan
umur sil dan bearing menjadi lebih pendek.
 Menyumbat sebagian lintasan impeler, yang menurunkan
kinerja pompa dan dalam kasus yang ekstrim dapat
menyebabkan kehilangan head total. 
Head Hisapan Positif Netto Tersedia / Net Positive Suction
Head Available (NPSHA) menandakan jumlah hhisapan
pompa yang melebihi tekanan uap cairan, dan merupakan
karakteristik rancangan sistim. NPSH yang diperlukan
(NPSHR) adalah hisapan pompa yang diperlukan untuk
menghindari kavitasi, dan merupakan karakteristik rancangan
pompa.
3.1.6.2

3.2 Pembahasan
3.2.1 Water chiller
Chiller adalah mesin refrigerasi yang memiliki fungsi utama
mendinginkan air pada sisi evaporatornya. Air dingin yang dihasilkan
selanjutnya didistribusikan ke mesin penukar kalor ( FCU / Fan Coil Unit ).
Pada sistem pendinginan ini dikenal beberapa jenis chiller berdasarkan
kompressor dan kondensornya. Lebih jauh mengenai apa dan bagaimana

31
POLITEKNIK NEGERI MALANG
sistem tersebut bekerja mari kita lanjutkan pada pembahasa cara kerja chiller
pada sistem pendingin.
3.2.1.1 Cara kerja chiller
Membahas lebih lanjut tentang cara kerja chliller mari kita
lihat pada uraian berikut. Penarikan panas atau kalor dimulai pada
evaporator. Heat Exchanger disini adalah sebuah pipa yang ada
pipa lain didalamnya, berfungsi untuk mengalirkan air pada pipa
besar sedangkan pip didalamnya berfungsi mengalirkan udara
atau refrigeran. Seperti yang terlihat pada gambar dibawah:

Gambar 3.8 Pipa Exchanger Chiller

Pada bagian Heat Exchanger seperti diatas berlangsung


proses pertukaran kalor antara refrigeran yang dengan air. Kalor
dari air ditarik ke refrigeran sehingga setelah melewati Heat
exchanger menyebabkan air didalamnya menjadi semakin dingin.
Air yang sudah menjadi dingin tersebut lalu diteruskan
mengalir ke AHU (Air Handling Unit) yang berfungsi untuk
menjadikan udara menjadi dingin. AHU terdiri dari Heat
exchanger yaitu pipa dengan kisi-kisi yang mempunyai fungsi
utama mendinginkan air dan udara dengan proses pertukaran
antara kedua komponen. tersebut sehingga menghasilkan suhu
tertentu sesuai yang di inginkan.

32
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 3.9 siklus chiller

Air yang dalam kondisi dingin ini akan melewati AHU


kemudian suhunya akan naik karena pertukaran kalor dari udara,
kemudian air tersebut diteruskan kembali ke chiller untuk di
dinginkan lagi. Begitulah seterusnya cara kerja
chiller ini berulang-ulang sehingga dapat membantu
mendinginkan udara misalnya pada sistem pendingin ruangan
atau Air Conditioner.

3.2.1.2 Jenis-Jenis Chiller berdasarkan kompresor


1. Kompresor Piston (Reciprocating compressor)
a. Kompresor piston kerja tunggal
Kopresor piston kerja tunggal adalah kompresor yang
memanfaat-kan perpindahan piston, kompresor jenis ini
menggunakan piston yang didorong oleh poros engkol
(crankshaft) untuk memampatkan udara/ gas. Udara akan
masuk ke silinder kompresi ketika piston bergerak pada
posisi awal dan udara akan keluar saat piston/torak bergerak
pada posisi akhir/depan.

33
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 3.10 Piston tunggal
b. Kompresor piston kerja ganda
Kompresor piston kerja ganda beroperasi sama persis
dengan kerja tunggal, hanya saja yang menjadi perbedaan
adalah pada kompresor kerja ganda, silinder kompresi
memiliki port inlet dan outlet pada kedua sisinya. Sehingga
meningkatkan kinerja kompresor dan menghasilkan udara
bertekanan yang lebih tinggi dari pada kerja tunggal.

Gambar 3.11 Piston ganda


c. Kompresor diafragma
34
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Kompresor diafragma adalah jenis klasik dari
kompresor piston, dan mempunyai kesamaan dengan
kompresor piston, hanya yang membedakan adalah, jika
pada kompresor piston menggunakan piston untuk
memampatkan udara, pada kompresor diafragma
menggunakan membran fleksible atau difragma.

Gambar 3.12 Kompresor diafragma

2. kompresor Kisar (Rotary compressor)


a. Kompresor screw (Rotary screw compressor)
Kompresor screw merupakan jenis kompresor dengan
mekanisme putar perpindahan positif, yang umumnya
digunakan untuk mengganti kompresor piston, bila
diperlukan udara bertekanan tinggi dengan volume yang
lebih besar.

35
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 3.13 Kompresor screw
b. Kompresor Sentrifugal (Centrifugal compressor)
Kompresor sentrifugal merupakan kompresor yang
memanfaatkan gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh impeller
untuk mempercepat aliran fluida udara (gaya kinetik), yang
kemudian diubah menjadi peningkatan potensi tekanan (menjadi
gaya tekan) dengan memperlambat aliran melalui diffuser.
3.2.1.3 Jenis-jenis chiller pendinginan kondensornya :
1. Air Cooler
Mesin refrigerasi dengan pendinginan udara (air cooled
chiller), pada prinsipnya hampir sama dengan split duct AC,
tetapi dalam ukuran besar. Unit mesin ini pada umumnya
berada diatas atap beton dari sebuah bangunan.

Gambar 3.14 air cool chiller

36
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Komponen utama dari 1 unit ACC adalah 2 kompresor
atau lebih, dengan katup ekspansi dan evaporator berada dalam
unit utama, termasuk kondensornya. Evaporator mendinginkan
air dan air dingin disirkulasi kesetiap tingkat melalui alat
pengatur udara (air handling unit) atau disingkat AHU. Dari
AHU dengan blower besar menyalurkan udara dingin, yang
diperoleh dari hembusan melalui pipa-pipa aliran air dingin
unit utama diatas, keruangan yang akan dikondisikan. Udara
dingin yang masuk kedalam ruangan dari AHU ini diatur
dengan diffuser yang ada disetiap ruangan, Atau kadang-
kadang dengan pipa-pipa langsung keruangan melalui alat
kipas koil (Fan coil unit) atau disingkat FCU.
Dalam desain gedung, bila menggunakan air cooled chiller
perlu diperhatikan lokasi dan luas atap beton untuk
penempatan unit-unit chillernya. Yang sering kurang
diperhatikan dalam desain atap untuk air cooled chiller adalah
akses untuk pemeliharaan unit tersebut. Ada kalanya terjadi
perubahan desain dari water cooled chiller ke air cooled
chiller, karena terutama masalah waktu instalasi ataupun
keadaan air setempat. Tetapi perubahan seperti itu pada
akhirnya berakibat fatal terhadap konstruksi air cooled chiller
tersebut yang mengambil ruang (space) apa adanya.
2. Water Cooler

Gambar 3.15 Mesin water cooler chiler (trane)

37
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Mesin refrigerasi dengan pendinginan air (water cooled
chiller), pada prinsipnya hampir sama dengan Mesin refrigerasi
pendinginan udara (air cooled chiller) dalam distribusi udara
dingin melalui AHU atau FCU. Perbedaan utamanya adalah
pendinginan refrigerannya, bukan dengan udara, tetapi dengan
air, dimana airnya didinginkan melalui menara air atau cooling
tower. Mesin refrigerasi dengan pendinginan air, pada umumnya
ditempatkan dalam lantai bawah (basement) suatu bangunan.
Dalam desain yang perlu diperhatikan adalah ventilasi keruangan
chiller harus dihitung dengan baik, agar ruangan tersebut jangan
menjadi “neraka” bagi pengerjanya.
Sama halnya dengan Mesin refrigerasi pedinginan udara,
refrigeran dari kompresor ditekan melalui katup ekspansi masuk
berembun dalam alat evaporator. Evaporator mendinginkan air
dan air dingin disirkulasi kesetiap tingkat melalui alat pengatur
udara (air handling unit) atau disingkat AHU. Dari AHU dengan
blower besar menyalurkan udara dingin, yang diperoleh dari
hembusan melalui pipa-pipa aliran air dingin unit utama diatas,
keruangan yang akan dikondisikan. Udara dingin yang masuk
kedalam ruangan dari AHU ini diatur dengan diffuser yang ada
disetiap ruangan, Atau kadang-kadang dengan pipa-pipa
langsung keruangan melalui alat kipas koil (Fan coil unit) atau
disingkat FCU.
Pendinginan air melalui menara air (cooling tower), dalam
desain gedung perlu diperhatikan aliran udara yang diperoleh dari
kipas udara. Aliran udara dan aliran air didalam menara pendingin
ini dapat berlawanan arah (counter flow), arah melintang (cross
flow), aliran paralel (paralel flow) aliran melalui dek atau aliran
pancar.

38
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 3.16 Water Cool Chiller System
3. Absorpsi Chiller
Salah satu cara tertua untuk melakukan pendinginan suatu
ruangan secara mekanis adalah absorption technology. Keliha-
tan tak masuk akal dengan membakar sesuatu untuk menghasil
-kan pendinginan, tetapi hal itu yang terjadi dalam suatu chiller
absorpsi.
Teknologi absorbs ini sebenarnya mudah pengoperasian-
nya maupun pemeliharaannya, tetapi pada masa kini teknologi
ini mulai hampir tidak digunakan karena tidak fleksibel
penggunaannya.

Gambar 3.17 Siklus Absorpsi Chiller

39
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Refrigeran yang digunakan oleh chiller jenis ini adalah
sebenarnya air, karena perubahan fase yang terjadi dan yang
memberi dampak pendinginan adalah melalui media air. Fluide
kedua yang mengatur proses ini adalah garam, yang dikatakan
sebagai Litium Bromida (lithium bromide). Panas dibutuhkan
untuk memisahkan kedua fluida ini, yang kemudian
dipertemukan kembali dalam lingkungan yang hampir vakum.
Air ini mengalami perubahan fase pada waktu dicampur
kembali dengan garam pada suhu yang sangat rendah. (pada
tekanan atmosfir yang normal, air menguap pada suhu 212F,
dalam suatu alat absorbsi, air menguap cukup dingin untuk
menghasilkan air dingin pada 46F.
Karena suhu air dingin yang dihasilkan oleh chiller
absorbsi paling rendah adalah 46F, maka chiller jenis ini tidak
dapat digunakan dalam penerapan refrigerasi dengan suhu
rendah.
Peralatan tata udara dengan Sistem absorbsi ini
sebenarnya sangat efisien dan pemeliharaanya mudah, tetapi
bila ada kerusakan pada peralatan ini perbaikannya
memerlukan waktu lama dan biaya yang besar. Bahkan untuk
kerusakan tertentu, maka seluruh unit tidak dapat difungsikan
kembali. Ini menyebabkan penggunaan peralatan
pengkondisian udara dengan sistem absorbsi ini kurang
diminati.
Pendingin penyerapan mendinginkan air menggunakan
energi yang disediakan oleh sumber panas.Mereka berbeda
dari konvensional system (kompresi uap) pendinginan dalam
dua cara.Proses penyerapan termokimia di alam, sebagai lawan
mekanik.Juga, pendingin penyerapan beredar air sebagai
pendingin bukan chlorofluorocarbons atau chlorofluorocarbons
hidro (CFC atau HCFC, yang juga dikenal sebagai Freon).

40
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Sistem chiller penyerapan standar menggunakan air,
sebagai pendingin, dan bromida lithium, sebagai penyerap,
dalam siklus.Bromida lithium memiliki afinitas yang tinggi
untuk air.Proses ini berlangsung dalam ruang hampa,
memungkinkan refrigerant (air) mendidih pada suhu yang
lebih rendah dan tekanan daripada biasanya akan, membantu
untuk mentransfer panas dari satu tempat ke tempat lain.
Perumahan berukuran unit-unit kecil menggunakan
amonia sebagai refrigeran, dan air sebagai penyerap.

4. Peralatan Pilihan
Pendingin penyerapan bisa dipecat langsung maupun tidak
langsung, dan dapat tunggal-efek atau efek ganda.Pendingin
langsung dipecat menggunakan panas dari sumber lain,
sedangkan pendingin langsung dipecat menggunakan kompor
gas alam untuk daya siklus.Efek ganda pendingin mendaur
ulang beberapa limbah panas yang dihasilkan selama siklus,
dan dengan demikian lebih efisien per unit input
panas;Efisiensi ini datang pada biaya yang membutuhkan input
panas seperti uap atau gas alam.
Ukuran peralatan berkisar dari 4,5 ton pendinginan hingga
beberapa ratus ton pendinginan.

5. Chiller Absorpsi
Efek siklus penyerapan tunggal menggunakan air sebagai
pendingin dan bromida lithium sebagai penyerap. Ini adalah
afinitas kuat bahwa dua zat tersebut memiliki satu sama lain
yang membuat pekerjaan siklus. Komponen yang ada di mesin
absorpsi chiller (york) sebagaii berikut :

41
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 3.18 Mesin absorpsi chiller (york)
a. Evaporator
Bergeraknya cairan pendingin dari kondensor dalam shell
atas sampai ke evaporator dalam shell yang lebih rendah dan
disemprotkan di atas bundel tabung evaporator. Karena vakum
ekstrim dari shell yang lebih rendah [6 mm Hg (0,8 kPa)
tekanan absolut], cairan pendingin mendidih pada sekitar 39 °
F (4 ° C), menciptakan efek pendingin. (Vakum ini diciptakan
oleh tindakan higroskopis - bromida afinitas lithium yang kuat
memiliki air - di Absorber langsung di bawah.).
b. Kondensor
Uap refrigeran bermigrasi melalui eliminator kabut dengan
bundel tabung kondensor. Uap refrigeran mengembun pada
tabung. Panas dihapus oleh air pendingin yang bergerak
melalui bagian dalam tabung. Sebagai refrigeran mengembun,
itu terkumpul dalam palungan di bagian bawah kondensor.
c. Compresor
Compressor adalah alat untuk mengkompressikan uap
refrigerant bertekanan rendah dari evaporator ke kondenser me
-njadi uap refrigerant gas bertekanan tinggi dimana uap ini
sudah membawaka lor/panas dari evaporator. Dimana pada
unit ini compressor yang digunakan model Screw compressor
yang terdiri dari screw male danfemale.
Persentase atau kapasitas compressor bisa bermodulating
dari 40% sampai 100%,tergantung dari persentase yang diingin
kan sesuai dengan beban dari load yang ada. Alat untuk merna-
ikkan kapasitas dari compressor ini adalah Slide Valve yang
42
POLITEKNIK NEGERI MALANG
berada di dalam compressor itu sendiri. Slide valve bekerja
berdasarkan tekanan oli yang di atur oleh solenoid valve
Male load/ unload.

3.2.1.4 Siklus termodinamika dalam teknik pendingin


1. Siklus Kompresi Uap
Sistem pendingin siklus kompresi uap merupakan daur
yang terbanyak digunakan dalam daur refrigerasi, pada daur ini
terjadi proses kompresi (1 ke 2), pengembunan( 2 ke 3),
ekspansi (3 ke 4) dan penguapan (4 ke 1), seperti pada gambar.
3.19 :

G
a
m
b
ar
3.
19 Diagram alir komoresi uap

Kompresi mengisap uap refrigeran dari sisi keluar


evaporator, tekanan dan temperatur diusahakan tetap rendah
agar refrigeran senantiasa berada dalam fase gas. Didalam
kompresor, uap refrigeran ditekan (dikompresi) sehingga
tekanan dan temperatur tinggi. Energi yang diperlukan untuk
kompresi diberikan oleh motor listrik atau penggerak mula
43
POLITEKNIK NEGERI MALANG
lainnya. Jadi, dalam proses kompresi energi diberikan kepada
uap refrigeran. Pada waktu uap refrigeran dihisap masuk ke
dalam kompresor, temperatur masih rendah akan tetapi selama
proses kompresi berlangsung, temperatur dan tekanan naik.
Setelah proses kompresi, uap refrigeran (fluida kerja)
mengalami proses kondensasi pada kondensor. Uap refrigeran
yang bertekanan dan bertemperatur tinggi pada akhir kompresi
dapat dicairkan dengan media pendinginnya fluida air atau
udara. Dengan kata lain, uap refrigeran memberikan panasnya
(kalor laten pengembunan) kepada air pendingin atau udara
pendingin melalui dinding kondensor. Karena air atau udara
pendingin menyerap panas dari refrigeran, maka
temperaturnya menjadi lebih tinggi pada waktu keluar dari
kondensor. Selama refrigeran mengalami perubahan dari fase
gas (uap) ke fase cair, tekanan dan temperatur konstan, oleh
karena itu pada proses ini refrigeran mengeluarkan energi
dalam bentuk panas.
Untuk menurunkan tekanan refrigeran cair dari kondensor
dipergunakan katup ekspansi atau pipa kapiler. Melalui katup
ekspansi, refrigeran mengalami proses evaporasi, yaitu proses
penguapan cairan refrigeran pada tekanan dan temperatur
rendah, proses ini terjadi pada evaporator. Selama proses
evaporasi refrigeran memerlukan atau mengambil energi dalam
bentuk panas dari lingkungan atau sekelilingnya, sehingga
temperatur sekeliling turun dan terjadi proses pendinginan.
Untuk memahami proses-proses yang terjadi dalam mesin
pendingin komprsi uap, diperlukan pemahaman terhadap siklus
termodinamika yang digunakan. Pembahasan diawali dengan
daur Carnot yang merupakan daur ideal hingga daur kompresi
uap nyata.

2. Daur Carnot

44
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Daur Carnot adalah daur reversibel yang didefinisikan
oleh dua proses isotermal dan dua proses isotropik. Karena
proses reversibel adalah adiabatik, maka perpindahan panas
hanya terjadi pada proses isotermal. Dari kajian
termodinamika, daur Carnot dikenal sebagai mesin kalor
Carnot yang yang menerima energi kalor dalam temperatur
tingg, sebagian diubah menjadi kerja dan sisanya dikeluarkan
sebagai kalor pada temperatur rendah. Apabila daur mesin
kalor Carnot dibalik, maka proses akan berlangsung dengan
pengambilan panas dari daerah yang bertemperatur rendah ke
daerah yang bertemparatur tinggi.

Gambar 3.20 Daur refrigenerasi carnot

3. Daur kompresi uap ideal

45
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Apabila daur Carnot diterapkan pada daur kompresi uap,
maka seluruh proses akan terjadi dalam fase campuran. Untuk
itu fluida kerja yang masuk kompresor diusahakan tidak
berupa campuran, yang tujuannya adalah untuk mencegah
kerusakan.
Pada daur Carnot ekspansi isotropik terjadi pada turbin,
daya yang dihasilkan digunakan untuk menggerakkan
kompresor. Dalam hal ini mengalami suatu kesulitan tehnis,
maka untuk memperbaikinya digunakan katup ekspansi atau
pipa kapiler,dengan demikian proses berlangsung pada entalpi
konstan.

Gambar 3.21 Daur kompresi uap ideal

Dari gambar 3.21 diatas dapat dijelaskan bahwa; (1-2)


kompresi adiabatik dan reversibel, dari uap jenuh menuju
tekanan konstan. (2-3) pelepasan kalor reversibel pada tekanan
konstan, menyebabkan penurunan panas lanjut dan
pengembunan refrigerasi. (3-4) ekspansi irreversibel pada
entalpi konstan, dari cairan jenuh menuju tekanan evaporator.
(4-1) penambahan kalor reversibel pada tekanan tetap, yang
menyebabkan penguapan menuju uap jenuh.

4. Daur kompresi uap nyata


Daur kompresi uap nyata mengalami pengurangan
efisiensi dibandingkan dengan daur standar. Pada daur
kompresi uap nyata proses kompresi berlangsung tidak
isentropik, selama fluida kerja melewati evaporator dan
46
POLITEKNIK NEGERI MALANG
kondensor mengalami penurunan tekanan. Fluida kerja
mendinginkan kondensor dalam keadaan sub.dingin, dan
meninggalkan evaporator dalam keadaan panas lanjut.
Penyimpangan daur kompresi uap nyata dari daur uap
ideal dapat diperhatikan pada gambar 3.22. Pada daur
kompresi uap nyata proses kompresi berlangsung tidak
isentropik, hal ini disebabkan adanya kerugian mekanis dan
pengaruh temperatur lingkungan selama proses kompresi.
Gesekan dan belokan pipa, menyebabkan penurunan tekanan
di dalam alat penukar kalor (heat exchanger), sebagai
akibatnya kompresi dari titik 􀁮dan titik 􀁮memerlukan lebih
banyak kerja dibandingkan dengan daur ideal (standar).

- standar dan siklus nyata

Gambar 3.22 Perbandingan antara siklus kompresi uap standar


dan siklus nyata.

Untuk menjamin seluruh refrigeran dalam keadaan cair


sewaktu memasuki alat ekspansi,diusahakan refrigeran mening
galkan kondensor dalam keadaan sub.dingin. Kondisi panas
lanjut refrigeran yang meninggalkan evaporator disarankan
untuk mencegah kerusakan kompresor akibat terisapnya
cairan.

5. Siklus absorbsi

47
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Sistem absorbsi merupakan pendahulu sistem kompresi
uap dalam abad ke-19 dan kemudian terus dikembangkan
sampai kepada penggunaan domestik, serta instalasi industri
kimia dan proses. Pada dasarnya hampir sama dalam beberapa
hal dengan siklus kompresi uap. Sebuah siklus refrigeran
beroperasi dengan kondensor, katup ekspansi dan evaporator
seperti gambar dibawah ini :

Gambar 3.23 Metode pengubahan uap tekanan rendah menjadi


uap tekanan tinggidalam sebuah sistem refrigerasi.

Uap tekanan rendah dari evaporator dapat ditransformasi-


kan menjadi uap tekanan tinggi dan dialirkan ke kondensor.
Sistem kompresi uap menggunakan kompresor untuk
keperluan tersebut. Pertama-tama sistem absorbsi menyerap
uap tekanan rendah ke dalam suatu zat cair penyerap. Yang
dimaksud dengan proses absorbsi adalah konversi dari uap
menjadi cair karena proses ini sama dengan kondensasi, maka
selama proses berjalan kalor dilepaskan. Tahap berikutnya
adalah menaikkan tekanan zat cair dengan pompa dan yang
terakhir membebaskan uap dari zat cair penyerap dengan
permberian kalor.

48
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 3.24 Komponen utama Sistem refrigerasi absorbsi

Pada gambar 3.24 diatas dapat dijelaskan siklus absorbsi,


yaitu kondensor dan evaporator serta kerja kompresi yang
dilakukan oleh sistem berada disebelah kanan diagram. Uap
tekanan rendah dari evaporator diserap oleh larutan cairan
dalam absorber. Jika proses absorbsi ini dilakukan secara
adiabatik, temperatur larutan naik dan akhirnya absorbs.
uap akan berhenti. Untuk mengekalkan proses absorbsi,
absorber didinginkan oleh udara atau air yang kemudian
melepaskan kalor ke udara bebas. Pompa menerima zat cair
tekanan rendah dari absorber, meningkatkan tekanan zat cair
dan mengirimkan zat cair ke generator. Di dalam generator,
kalor dari suatu sumber temperatur tinggi melepaskan uap
yang telah diserap oleh larutan. Larutan cairan dikembalikan
ke absorber melalui katup trotel yang maksudnya adalah untuk
menurunkan tekanan yang tujuannya untuk menjaga beda
tekanan antara generator dan absorber. Pola aliran kalor ke dan
dari empat komponen penukar kalor pada siklus absorbsi
adalah sebagai berikut : temperatur tinggi masuk ke generator
sedangkan kalor bertemperatur rendah dari bahan yang
didinginkan masuk kedalam evaporator. Pelepasan kalor dari
siklus terjadi pada absorber dan kondensor pada temperatur
tertentu sehingga kalor dapat dibuang ke atmosfir.

3.1.7 Cooling tower

49
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Cooling tower berfungsi sebagai pendingin pada wather chiller dengan
media yang digunakan adalah air yang dikontakkan langsung dengan udara.
Udara tersebut disirkulasikan akan menghasilkan air dingin dari proses
tersebut air dingin ditampung pada pipa besar (header) setelah itu dikirim
menuju proses fermentasi sesuai kebutuhan, temperature yang dibutuhkan
pada proses fermentasi antara 10ºC-15ºC. Air panas yang keluar dari proses
fermentasi dikirimkan kembali ke cooling tower melalui pipa, Air panas
tersebut diproses kembali oleh colling tower kemudian udara panas
dilepaskan ke udara melalui fan(kipas)..selain itu cooling tower juga digunakan
sebagai pendingin pada compressor dan turbin di PT SASA INTI.
Cooling Tower sendiri terdiri dari casing Cooling Tower,Motor Blower
,headaer (pipa) dan Water Filler (sirip – sirip pendingin air). Berikut gambar
Cooling tower dengan system kerjanya:

Gambar 3.25 Cooling tower

50
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Gambar 3.26 Proses pendinginan air dengan cooling tower

Dari gambar 3.26 diatas menunjukkan sistem kerja cooling tower yaitu:

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari hasil Pelaksanaan praktek kerja lapangan (PKL) di PT. SASA
INTI Gending-Probolinggo dapat disimpulkan:
1. PT. SASA INTI merupakan salah satu produsen Mono Natrium Glutamat
(MNG) di Indonesia.MNG yang diproduksi PT Sasa Inti dijual di pasar
dalam negeri maupun di pasar luar negeri dengan tujuan negara-negara di
Eropa, Asia dan Afrika.
51
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2. Chiller adalah mesin refrigerasi yang memiliki fungsi utama
mendinginkan air pada sisi evaporatornya. Air dingin yang dihasilkan
selanjutnya didistribusikan ke mesin penukar kalor ( FCU / Fan Coil Unit
). Pada sistem pendinginan
3. Cooling tower berfungsi sebagai pendingin pada wather chiller dengan
media yang digunakan adalah air yang dikontakkan langsung dengan
udara.
4. Suhu yang dibutuhkan untuk proses isolasi adalah 5ºC - 7ºC yang
disuplay dari water chiller.
5. Suhu yang dibutuhkan untuk proses fermentasi adalah 10ºC - 15ºC yang
di suplay dari cooling tower.
4.2 Saran
Agar mesin water chiller bekerja secara optimal , maka di lakukan
perawatan . salah satu yang dil lakukan perawatan adalah pembersihan pada
filter agar air yang masuk ke dalam mesin tetap bersih .

52
POLITEKNIK NEGERI MALANG
DAFTAR PUSTAKA

American Council for Energy Efficiency Economy. www.aceee.org

Bureau of Energy Efficiency, Ministry of Power, India. 2004. Pumps and


Pumping Systems.

In: Energy Efficiency in Electrical Utilities, chapter 6.

53
POLITEKNIK NEGERI MALANG
LAMPIRAN

Penjelasan sirkulasi udara dan air di cooling tower

Kegiatan kebersihan di GT

54
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Pengenalan suply listrik dari pln

Pengecekan beban puncak pada gardu induk di PT SASA INTI

55
POLITEKNIK NEGERI MALANG
Mengecek dan mengontrol distribusi listrik di NDR

Foto bersama pengawas di water chiller

56
POLITEKNIK NEGERI MALANG