Anda di halaman 1dari 7

Prarancangan Pabrik Margarin dari Palm Oil – Minyak Sawit

dengan Kapasitas 20.000 ton/tahun

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkembang. Setiap warga negara wajib
melaksanakan pembangunan di segala bidang, salah satunya adalah pembangunan
di sektor ekonomi. Pembangunan subsektor industri ditujukan untuk memperkokoh
struktur ekonomi nasional dengan keterkaitan yang kuat dan saling mendukung
antar sektor, meningkatkan daya tahan perekonomian nasional, memperluas
lapangan kerja dan kesempatan usaha sekaligus mendorong berkembangnya
kegiatan berbagai sektor pembangunan lainnya.

Di antara subsektor industri yang pembangunannya berkembang dengan


pesat adalah subsektor industri pangan. Hal ini terjadi karena kebutuhan akan
barang-barang hasil industri pangan terus meningkat sejalan dengan perkembangan
pembangunan itu sendiri. Salah satu jenis produksi industri pangan yang dibutuhkan
dan pemakainya terus meningkat akibat permintaan semakin banyak adalah industri
margarin.

Maraknya pembangunan pabrik-pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi


Crude Palm Oil (CPO) di Indonesia merupakan salah satu aset besar untuk
mengimbangi peningkatan margarin di Indonesia. Untuk mengimbangi konsumsi
tersebut, maka perlu didirikan pabrik margarin. Untuk itu dilakukan kelayakan dari
pabrik margarin. Prarancangan pabrik margarin dari Palm Oil – Minyak Sawit
didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi kebutuhan akan margarin di dalam negeri yang terus
meningkat.
2. Tersedianya bahan baku yang diperlukan di dalam negeri, sehingga bahan baku
ini dapat dipenuhi dengan harga relatif murah.
3. Turut serta dalam usaha pemerintah membuka kesempatan kerja, khususnya
bagi masyarakat setempat.

1
Prarancangan Pabrik Margarin dari Palm Oil – Minyak Sawit
dengan Kapasitas 20.000 ton/tahun

Pemilihan lokasi pabrik didasarkan pada pertimbangan beberapa faktor


yang memberikan keuntungan atas pendirian pabrik ini, baik dari sisi ekonomis
maupun teknis. Dari faktor-faktor tersebut, Kecamatan Rungkut, Surabaya
dipilih sebagai lokasi untuk mendirikan pabrik ini karena di sini terdapat
kawasan industri, yaitu Surabaya Industrial Estate Rungkut. Beberapa faktor
yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan Kecamatan Rungkut, Surabaya
tersebut adalah:
1. Penyediaan bahan baku
Lokasi pabrik sebaiknya dekat dengan penyediaan bahan baku dan target
pemasaran produk untuk menghemat biaya transportasi. Sumber bahan baku
yaitu RBDPO (Refined, Bleached, Deodorized Palm Oil) diperoleh dari PT.
Global Interinti Industri, Surabaya dan soybean oil yang diperoleh dari CV
PACIFIC INDOCHEM yang terletak di Jawa Timur.. Oleh sebab itulah, dipilih
lokasi pabrik margarin di Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER), Jawa
Timur agar mudah dalam mendatangkan bahan baku RBDPO.
2. Pemasaran
Margarin merupakan bahan yang terkenal dalam bidang pangan untuk
memperbaiki tekstur dan menambah cita rasa, dan juga sering digunakan sebagai
bahan tambahan makanan. Oleh karena itu, pendirian pabrik di Kecamatan
Rungkut, Surabaya dipilih karena di daerah ini dekat dengan pusat kota sehingga
produk dapat langsung didistribusikan ke konsumen. Kebanyakan pasar dari
produk pangan ada di Pulau Jawa, begitu pula margarin. Berlokasi di
Kotamadya Surabaya, kota terbesar ke-2 di Indonesia, kawasan ini sangat
strategis karena banyak terdapat fasilitas transportasi, seperti kemudahan akses
ke Pelabuhan Tanjung Perak, Bandara Udara Juanda, terdapat jalur kereta api,
serta adanya jalan darat yang memadai pula, guna mempermudah
pendistribusian produk ke kota lain.
3. Ketersediaan energi dan air
Operasi pabrik membutuhkan air untuk berbagai keperluan seperti proses
dan keperluan umum serta perkantoran. Oleh karena itu, lokasi pabrik sebaiknya
dekat dengan sumber air seperti sungai. Sumber air untuk pabrik ini diperoleh
dari Sungai Brantas. Selain itu pabrik juga membutuhkan sumber energi listrik
2
Prarancangan Pabrik Margarin dari Palm Oil – Minyak Sawit
dengan Kapasitas 20.000 ton/tahun

dan bahan bakar. Suplai listrik industri diperoleh dari PLN area pelayanan
Surabaya Selatan, Rayon Rungkut. Minyak bakar (diesel oil) diperoleh dari PT.
Pertamina (Persero) Surabaya.
4. Ketersediaan tenaga kerja
Tenaga kerja merupakan pelaku dari proses produksi. Ketersediaan tenaga
kerja yang terampil dan terdidik akan memperlancar jalannya proses produksi.
Didaerah Jawa Timur terdapat perguruan tinggi, akademi, dan sekolah
keterampilan lainnya yang dapat mencukupi kebutuhan tenaga kerja.
5. Kondisi geografis dan sosial
Kondisi geografis sangat berpengaruh terhadap kelangsungan produksi suatu
pabrik. Lokasi pabrik sebaiknya terletak di daerah yang relatif aman dari
gangguan bencana alam seperti banjir, gempa bumi, dan lain-lain. Loaksi
pendirian pabrik hendaknya juga memperhatikan kondisi sosial masyarakat
sekitar. Kebijakan pemerintah juga turut mempengaruhi lokasi pabrik yang
dipilih.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan kapasitas pabrik, yaitu
data ekspor-impor margarin, data konsumsi margarin, data produksi margarin, dan
ketersediaan bahan baku. Selain itu, data kapasitas pabrik margarin yang telah
berdiri di Indonesia juga dibutuhkan sebagai dasar acuan bahwa pada kapasitas
tertentu, pabrik tersebut masih dapat berjalan dengan baik dan masih mendapat
profit.

B. Tinjauan Pustaka
1. Proses-proses Pembuatan Margarin
Margarine merupakan emulsi water in oil dengan kadar 65-85%
minyak, 14-35% air, yang terbuat dari minyak nabati. Komponen lain yang
terdapat dalam margarine adalah lemak, garam, vitamin A, pengawet, pewarna,
dan emulsifier (Hasenhuettl & Hartel, 1997). Beberapa produk margarin yang
banyak digunakan adalah table margarine, industrial margarine, dan pastry
margarine. Palm oil merupakan sumber lemak yang sudah umum digunakan
dalam proses pembuatan margarin. Agar diperoleh solid content dan tekstur
margarin yang lebih baik, maka palm oil dapat dimodifikasi dengan beberapa
3
Prarancangan Pabrik Margarin dari Palm Oil – Minyak Sawit
dengan Kapasitas 20.000 ton/tahun

proses. Dalam mengolah palm oil terdapat beberapa proses yang dapat
digunakan, yaitu :
a. Proses Hidrogenasi
Proses hidrogenasi merupakan proses pengolahan minyak/lemak
dengan cara adisi hidrogen ke ikatan rangkap pada rantai karbon asam
lemak dengan bantuan katalisator, mengubah asam lemak tidak jenuh
menjadi asam lemak jenuh. Reaksi hidrogenasi membentuk asam lemak
trans. Terdapat dua jenis reaksi hidrogenasi, yaitu hidrogenasi total dan
hidrogenasi parsial.
Katalis yang paling sering digunakan adalah nikel dibandingkan
dengan katalis lain seperti palladium, platina, dan copper chromite. Hal ini
dikarenakan katalis nikel lebih ekonomis dan lebih efisien.
Reaksi hidrogenasi biasanya berlangsung pada tekanan 1.0-1.5 bar,
suhu 180 oC-190 oC selama 40-60 menit.
Contoh reaksi hidrogenasi:
(1)
(Pangajuanto, T. 2009)
b. Proses Transesterifikasi
Proses interesterifikasi merupakan proses perubahan struktur atau
susunan dari asam-asam lemak pada molekul trigliserida. Perubahan
struktur atau susunan ini dapat terjadi secara acak maupun tidak,
tergantung dari kondisi prosesnya. Reaksi ini tidak mengubah sifat dari
asam lemak, namun mengubah sifat dari lemak/minyak karena susunan
trigliserida yang berbeda dengan yang sebelumnya.
Proses perubahan susunan asam lemak dalam transesterifikasi terdiri
dari tiga tipe reaksi:
i. Reaksi asidolisis adalah reaksi antara ester dengan asam lemak.
Contoh reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
(2)
ii. Reaksi alkoholisis adalah reaksi antara lemak dengan alcohol.
(3)

4
Prarancangan Pabrik Margarin dari Palm Oil – Minyak Sawit
dengan Kapasitas 20.000 ton/tahun

iii. Reaksi interesterifikasi adalah reaksi pertukaran ester antara


trigliserida yang sama atau berbeda. Reaksi ini dapat meningkatkan
sifat fisis lemak, misalnya titik leleh. Contoh aplikasinya adalah pada
pembuatan margarin.
(4)
(Adnan, H. 2011)

Berdasarkan katalis yang digunakan, proses interesterifikasi terbagi


menjadi dua, yaitu interesterifikasi kimia dan interesterifikasi enzimatis.
Katalis kimia yang biasanya digunakan adalah NaOH, KOH, NaOCH.
Sedangkan katalis enzim yang biasa digunakan adalah lipase (Wikipedia,
2015).
Dari kedua proses pengolahan palm oil tersebut, dapat diketahui
kelebihan serta kekurangan dari masing-masing reaksi. Kelebihan dan
kekurangan kedua proses tersebut tercantum pada tabel berikut (Ketaren, S.
1986).

Tabel 1.2 Kelebihan dan Kekurangan Proses Hidrogenasi dengan Proses


Interesterifikasi Kimia dan Enzimatis
Jenis Proses Kelebihan Kekurangan
1. Hidrogenasi 1. Prosesnya telah banyak 1. Menghasilkan lemak
diaplikasikan di skala trans.
industri.
2. Prosesnya cukup singkat
dan mudah dikontrol.
3. Minyak lebih stabil
terhadap proses
oksidasi, sehingga tahan
disimpan dalam jangka
waktu lama.
2. Interesterifikasi dengan 1. Tidak menghasilkan 1. Prosesnya masih dalam

5
Prarancangan Pabrik Margarin dari Palm Oil – Minyak Sawit
dengan Kapasitas 20.000 ton/tahun

katalis kimia lemak trans. skala lab.


2. Beberapa katalis kimia
sangat reaktif sehingga
butuh fasilitas
keamanan yang mahal.
3. Limbah kimia dapat
mencemari lingkungan.
4. Butuh pengontrolan
secara fisik dikarenakan
reaksinya berlangsung
secara acak.
5. Menghasilkan reaksi
samping.
3. Interesterifikasi dengan 1. Enzim dapat digunakan 1. Prosesnya masih dalam
katalis enzim berulang-ulang. skala lab.
2. Dapat menggunakan
sistem batch atau
kontinyu.
3. Tidak menghasilkan
lemak trans.
4. Tidak menghasilkan
reaksi samping

2. Pemilihan Proses

Berdasarkan uraian singkat proses, kelebihan, dan kekurangan dari


proses hidrogenasi dan interesterifikasi, baik interesterifikasi dengan kimia
maupun enzim yang telah diuraikan di Tabel 2, maka dipilih proses
interesterifikasi dengan enzim. Tujuan utama dipilih proses interesterifikasi
adalah agar diperoleh produk margarin yang bebas lemak trans. Kebanyakan
6
Prarancangan Pabrik Margarin dari Palm Oil – Minyak Sawit
dengan Kapasitas 20.000 ton/tahun

produk margarin yang dihasilkan dari pabrik-pabrik di Indonesia masih


mengandung kadar lemak trans yang tinggi. Hasil penelitian menyatakan bahwa
makanan yang mengandung lemak trans tidak baik untuk kesehatan. Akumulasi
yang terjadi pada konsentrasi tertentu dalam darah akan meningkatkan risiko
penyakit jantung koroner. Oleh karena itu, produk margarin dari pabrik yang
akan dirancang ini diinginkan tidak mengandung lemak trans. Proses pengolahan
dengan interesterifikasi secara enzimatis menjadi alternatif menggantikan proses
hidrogenasi untuk menghindari terbentuknya lemak trans. Bahan baku yang
digunakan adalah Palm Stearin dan Soybean Oil dengan perbandingan
komposisi 70:30. Palm Stearin merupakan hasil fraksinasi RBDPO (Refined
Bleached Deodorized Palm Oil). Kedua bahan baku ini kemudian direaksikan
dengan bantuan katalis lipozyme dalam reaktor fixed bed R-01 pada 1 atm dan 70
o
C. Hasil reaksi dalam reaktor disebut margarine oil. Margarine oil ini
kemudian diolah untuk menjadi produk margarin dengan menambahankan
bahan-bahan penunjang, yaitu bumbu fasa minyak (zat pengemulsi lecithin,
monogliserida, vit A-β-carotene) dan fasa air (NaCl, natrium benzoat, milk
powder, air)

3. Kegunaan Produk

Dalam bidang pangan, penggunaan margarin telah dikenal secara luas


terutama dalam pemanggangan roti (baking) dan pembuatan kue kering
(cooking) yang bertujuan memperbaiki tekstur dan menambah cita rasa pangan.
Margarin juga digunakan sebagai bahan pelapis misalnya pada roti yang bersifat
plastis dan akan segera mencair di dalam mulut (Winarno, 1991). Margarin yang
diproduksi adalah margarin yang bebas lemak trans. Sebagai pengganti minyak
goreng, penggunaan margarin akan membuat konsumen terhindar dari resiko
kolestrol.