Anda di halaman 1dari 2

25

BAB IV

PEMBAHASAN

Sectio Caesaria merupakan proses melahirkan janin, plasenta dan


selaput ketuban melalui dinding perut dengan cara membuat irisan pada dinding
perut dan rahim. Sectio Caesaria dapat dilaksanakan bila ibu sudah tidak dapat
melahirkan melalui proses alami. Operasi dilakukan dengan tujuan agar
keselamatan ibu dan bayi dapat tertangani dengan baik. Oleh karena itu banyak
pasien yang percaya, bahwa melahirkan dengan operasi caesar akan lebih baik
bagi ibu dan bayi daripada proses melahirkan secara normal. Namun demikian,
operasi ini tetap memiliki beberapa risiko terutama pada ibu dengan riwayat
sectio caesaria pada proses melahirkan sebelumnya (Cuningham, F garry, 2011).
Pada hari rabu tanggal 17-08-2016, pukul 02.30 Wita. Ny. F melahirkan
dengan cara sectio caesaria atas indikasi BSC 1 kali. Pada pukul 03.00 wita Ny.
F di pindahkan ke ruangan nifas II untuk perawatan selanjutnya. Pada pukul
08.30 wita dilakukan pengkajian data subjektif dan data objektif. Dari hasil
anamesa ibu mengatakan sudah melahirkan + 6 jam yang lalu dengan cara SC,
mengeluh perut bagian bawahnya masih merasakan nyeri pada luka bekas
operasi dan nyerinya akan hilang apabila di bawa istirahat dan keluhan itu di
rasakan 2 jam setelah operasi. Dari hasil pemeriksaan data objektif di dapatkan,
keadaan umum ibu baik, TD : 100/70 mmHg, N : 82 x/mnt, T : 36,5 0C, R : 22
x/mnt. Pemeriksaan fisik di dapatkan, mamae : terdapat hyperpigmentasi pada
areola mamae, puting susu menonjol dan pengeluaran Klostrum (-), Abdomen :
TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik, terdapat luka tertutup dengan
perban, keadaan perban bersih tidak ada darah dan tidak ada terlihat tanda-
tanda infeksi, Genetalia : terdapat pengeluaran darah berwarna merah segar
dalam jumlah normal dan terpasang kateter (400 cc). Dari hasil pemeriksaan
tersebut maka dapat di tegakkan diagnosa yaitu P 3A1 post sectio caesaria atas
indikasi BSC 6 jam yang lalu. Maka di lakukan penatalksanaan seperti KIE
tentang nyeri post op SC, teknik mobilisasi, pemenuhan nutrisi dan menjelaskan
cara perawatan payudara agar kolostrum bisa keluar dan produksi ASI banyak
yang bertujuan untuk merangsang kontraksi uterus agar tidak terjadi perdarahan
dan nutrisi bayi dapat terpenuhi, serta berkolaborasi dengan dokter dalam
26

pemberian terapi seperti, Infus RL : D5, 30 tpm drip oxcytosin 1 ampul, infus
Paracetamol 1 botol 30 tpm, Injeksi ceftriaxone 2 x 1 gr (obat antibiotik).
Pada hari sabtu tanggal 20-08-2016, ibu mengatakan tidak ada keluhan
dan dari hasil pemeriksaan di dapatkan Keadaan Umum : Baik, Kesadaran :
Compos mentis , TD: 100/80 mmHg, T : 36,8˚C, R : 22x/m, N : 80x/m, Infus :
sudah di lepas, Mamae : puting susu menonjol dan pengeluaran Klostrum (+),
Abdomen : TFU 3 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik, terdapat luka bekas
operasi yang tertutup dengan perban, keadaan perban bersih tidak ada darah
dan tidak ada terlihat tanda-tanda infeksi, Genetalia : terdapat pengeluaran
darah berwarna merah kecoklatan dalam jumlah sedikit. Dari hasil pemeriksaan
tersebut maka dapat di tegakkan diagnosa yaitu P3A1 post SC atas indikasi BCS
Hari ke-3. Setelah dilakukan perawatan selama 4 hari keadaan ny F semakin
membaik dan ny F di perbolehkan untuk pulang. Sebelum pulang ny F diberikan
KIE tentang perawatan tali pusat, tanda bahaya pada masa nifas, tanda bahaya
yang mungkin terjadi kepada bayi, serta menganjurkan ibu untuk
mengimunisasikan bayinya dan berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian
terapi untuk pulang yaitu, PO cefadroxil 500 mg 3 x 1 (antibiotic), Asam
mefenamat 3x500 gram (anti nyeri) dan SF 2 x 1 (obat tambah darah), serta
menganjurkan ny F untuk melakukan kontor ulang pada 1 minggu setelah keluar
dari RS atau apabila ada keluhan.
Dalam kasus Post Sectio Caesar pada Ny. F yang saya ambil tidak
tampak suatu kejanggalan antara teori dan kenyataan. Dalam memberikan
Asuhan kebidanan pada pasien Ny. F dibutuhkan pengawasan dan perawatan
yang baik dan dengan mendapatkan dukungan serta kerjasama antara pasien,
keluarga dan tim kesehatan, secara kooperatif, sehingga pasien Ny. F
keadaannya menjadi lebih baik.