Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR

“Respon Hewan Air Terhadap Suhu pada Ikan Nila (Oreochromis niloticus)”

Oleh:
Riko
(2021611035)

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan Rahmat dan Karunia-
Nya, sehingga penulis dapat merampungkan laporan praktikum ikhtiologi dengan
judul: “Respon Hewan Air Terhadap Suhu pada Ikan Nila (Oreochromis
niloticus)”.
Laporan ini dapat tersusun tak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena
itu penulis berikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya
kepada,
1. Kedua orang tua yang senantiasa mendo’akan penulis dan segala fasilitas
yang mereka berikan
2. Dosen pengampu Okto Supratman, S.Pi.,M.Si. yang menyampaikan materi
dengan baik
3. Asisten dosen Khaerudin dan Hedi Sanjaya yang membimbing penulis
dalam praktikum
4. Teman-teman yang bekerja sama dengan baik pada saat praktikum
Akhir kata penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh
dari kesempurnaan. Karena itu, penulis memohon saran dan kritik yang sifatnya
membangun demi kesempurnaannya dan semoga bermanfaat bagi kita semua.
Aamiin.

Balunijuk, 02 Maret 2018,


penulis

Riko
2021611035

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... 9
DAFTAR GAMBAR ...........................................................................................
BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Tujuan ................................................................................................. 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 3


2.1 Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ...................................................... 3
2.1.1 Definisi Ikan Nila ...................................................................... 3
2.1.2 Klasifikasi ................................................................................. 3
2.1.3 Habitat ....................................................................................... 3

2.2 Suhu Air dan Respirasi pada Ikan Nila ............................................... 4


2.2.1 Suhu........................................................................................... 4
2.2.2 Pernapasan ................................................................................ 5
2.2.3 Alat Pernapasan ........................................................................ 5
2.2.4 Proses Pernapasan Pada Ikan .................................................... 6

2.3 Pengaruh Suhu Terhadap dan Menutup Operculum ............................ 7

BAB III. METODE PENELITIAN .................................................................. 8


3.1 Waktu dan Tempat .............................................................................. 8
3.2 Alat dan Bahan .................................................................................... 8
3.3 Cara Kerja ........................................................................................... 8

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 9


4.1 Hasil .................................................................................................... 9
4.1.1 Hasil Pengamatan Kelompok ..................................................... 9
4.1.2 Rumus/Perhitungan .................................................................... 10
4.2 Pembahasan ......................................................................................... 11
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 13
5.1 Simpulan .............................................................................................. 13
5.2 Saran ..................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan adalah makhluk hidup yang hidup di dalam air dan berdarah
dingin atau poikiloterm artinya dapat menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu
lingkungan atau air dimana ia berada. lkan bernafas terutama dengan
menghirup udara dari air dan menyerap o2 dengan menggunakan insang yang
terdapat pada bagian kanan dan kiri kepalanya. Selain itu, sewaktu-waktu
ikan mengambil udara dari permukaan air, jika udara di dalam air kurang. Zat
yang penting dalampernafasan adalah zat asam yang terdapat dalam udara
biasa atau udara yang lelah bercampur dengan air.
Dalam biologi operculum (Latin untuk "tutupnya kecil telah
digunakan untuk menggambarkan beberapa ciri-ciri anatomi yang berbeda
pada hewan. Pada manusia dan bahkan pada tumbuhan Operculum dari tulang
ikan adalah tulang keras flap yang menutupi dan melindungi itsang Pada
sebagian besar ika di tepi belakang kasar. operculum menandai pembagian
antara kepala dan tubuh.
Operculum terdiri dari empat tulang yang menyatu: yang opercle.
Prcopcrcl interopercle, dan subopercle Tampaknya ini berasal dari celah
insang terpisah meliputi dari elasmobranch ancester dari teleost ikan.
Posterior tepi operculum dilengkapi dengan fleksibel, berusuk struktur yang
bertindak sebagai meterai untuk mencegah aliran air balik selama respirasi.
Morfologi fitur anatomis ini sangat bervariasi antar spesies. Sebagai contoh,
bluegill (Lepomis macrochirus) memiliki dorsal posterior dan berorientasi
ekstensi bulat dengan noda hitam kecil hadir. Pada beberapa spesies, dapat
mendorong operculum air dari rongga buccal melalui insang.
Untuk beberapa ikan operculum sangat penting dalam
mendapatkan oksigen. Ini membuka sebagai menutup mulut, menyebabkan
tekanan di dalam ikan menurun. Air kemudian mengalir menuju tekanan
rendah di insang ikan lamel, memungkinkan beberapa oksigen akan diserap
dari air. Ikan bertulang rawan tidak memiliki operculum. Tanpa operculum.
Metode lain untuk mendapatkan air ke insan yang diperlukan. seperti
ventilasi. Perubahan suhu yang mendadak sering menjadi penyebab kematian

1
ikan. Perubahan yang kecil pada suhu lingkungan akan menyebar dengan
cepat ke seluruh tubuh ikan sebagai efek perpindahan panas melalui kapiler
kulit dan kapiler insang.

1.2 Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah yaitu mengetahui
perubahan suhu panas dan dingin media air terhadap membuka dan menutup
operculum benih ikan Nila (Oreochromis niloticus) yang secara tidak
langsung mengetahui laju pernafasan pada ikan nila.

2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

2.1.1 Definisi Ikan Nila

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang


memiliki bentuk tubuh pipih dan berwarna kehitaman. Spesies tersebut
mempunyai garis vertikal berwarna hijau kebiruan. Pada sirip ekor terdapat
garis melintang yang ujungnya berwarna kemerah-merahan (Ghufran,
2009). Warna tubuh yang dimiliki ikan nila adalah hitam keabu-abuan pada
bagian punggungnya dan semakin terang pada bagian perut ke bawah
(Cholik, 2005). Ikan nila juga memiliki mata yang besar dan menonjol
(Wiryanta et al, 2010). Spesies tersebut memiliki linea lateralis (gurat sisi)
yang terputus menjadi dua bagian. Bagian pertama terletak dari atas sirip
dada hingga hingga tubuh, dan bagian kedua terletak dari tubuh hingga ekor.
Jenis sisik yang dimiliki spesies tersebut adalah ctenoid (Cholik, 2005).

2.1.2 Klasifikasi
Saanin (1984), menjelaskan bahwa taksonomi ikan nila adalah
sebagai berikut : Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Ordo : Perciformes
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

2.1.3 Habitat
Habitat ikan nila adalah perairan tawar, seperti s
ungai danau, waduk, dan rawarawa, tetapi karena toleransinya yang luas
terhadap salinitas (euryhaline) sehingga dapat pula hidup dengan baik di air
payau (Ghufran, 2009). Ikan Tutup insang (operculum) Sirip punggung
(dorsal fin) Mata Mulut Sirip dada (pectoral fin) Sirip perut (ventral fin)

3
Sirip anal (anal fin) Sirip ekor (caudal fin) 11 nila merupakan ikan yang
dapat beradaptasi dengan baik di berbagai habitat. Spesies ini telah banyak
ditemukan mampu hidup di segala macam air, mulai dari sungai, danau, dan
saluran irigasi. Meskipun tergolong ke dalam ikan air tawar, namun spesies
ini dapat beradaptasi dengan kondisi perairan payau (Cholik, 2005).

2.2 Suhu Air dan Respirasi Pada Ikan Nila

2.2.1 Suhu

Suhu adalah derajat panas atau dinginnya suatu benda. Suhu


merupakan kondisi yang paling penting dan berpengaruh terhadap suatu
organisme. Suhu mempunyai peranan yang penting dalam aktivitas biologis
organime, baik hewan maupun tumbuhan. Ini terutama disebabkan karena
suhu mempengaruhi kecepatan reaksi kimiawi dalam tubuh dan sekaligus
menentukan kegiatan metabolik, misalnya dalam hal respirasi. Seperti
halnya dengan faktor lainnya, suhu mempunyai rentang yang dapat ditolerir
oleh setiap jenis organisme. Masalah ini dijelaskan dalam kajian ekologi
yaitu Hukum Toleransi Shelford" dengan alat yang relatif sederhana ( lar,
2011).
Dalam rangka menyesuaikan diri dengan lingkungannya, hewan
memiliki toleransi dan resistensi pada kisaran tertentu dari variasi
lingkungan. Kemampuan mentolerir variable lingkungan ini erat kaitannya
dengan faktor genetik dan sejarah hidup sebelumnya. Kisaran ekstrim dari
variable lingkungan yang menyebabkan kematian bagi organisme disebut
zone lethal. Kisaran intermedier dimana suatu organisme masih dapat hidup
disebut zone t Ikan a melakukan mekanisme homeostasi yaitu dengan
berusaha untuk membuat keadaan stabil sebagai akibat adanya perubahan
variabel lingkungan. Mekanisme homeostasis ini terjadi pada tingkat sel
yaitu dengan pengaturan metabolisme sel, pengontrolan permeabilitas
membran sel dan pembuangan sisa metabolisme. Suhu ekstrim, perbedaan
osmotik yang tinggi, racun, infeksi dan atau stimulasi sosial dapat
menyebabkan stress pada ikan (Rondi, 2011).

4
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu
(temperatur) ataupun perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari bahasa
Latin thermo yang berarti bahang dan meter yang berarti untuk mengukur.
Prinsip kerja termometer ada bermacam-macam, yang paling umum
digunakan adalah termometer air raksa.

2.2.2 Pernapasan
Pernapasan adalah proses pengikatan oksigen dan pengeluaran
karbondioksida oleh darah melalui permukaan alat pernapasan. Proses
pengikatan oksigen tersebut dipengaruhi struktur alat pernapasan, juga
dipengaruhi perbedaan tekanan parsial 02 antara perairan dengan darah.
Perbedaan tersebut menyebabkan gas-gas berdifusi ke dalam darah atau
keluar melalui alat pernapasan.

2.2.3 Alat Pernapasan

1. Insang

Pada hampir semua ikan, insang merupakan komponen penting


dalam pertukaran gas Insang terbentuk dari lengkungan tulan g rawan yang
mengeras, dengan beberapa tilamen insang di dalamnya. Tiap-tiap filamen
insang terdiri atas banyak lamella yang merupakan tempat pertukaran gas.
Struktur lamella terdiri atas sel-sel epitel yang tipis pada bagian luar,
membran dasar. dan sel-sel tiang sebagai penyangga pada bagian dalam
Pinggiran lamella yang tidak menempel pada lengkung insang sangat tipis,
ditutupi oleh epitelium dan mengandung jaringan pembuluh darah kapiler.
Jumlah dan ukuran lamella sangat besar variasinya, tergantung tingkah laku
ikan.

2) Paru-paru

Paru-paru merupakan derivat gelembung renang. Pada ikan paru


Australia Neocaratodus, paru-paru terletak di sebelah atas saluran
pencernaan tetapi duktus pneumatikusnya terbuka ke arah bagian bawah
dinding lambung. Sebaliknya, ikan paru Afrika Protopterus sepasang paru-

5
parunya terletak di sebelah bawah saluran pencernaan Baik ikan paru
Australia maupun Afrika memiliki keharusan menghirup oksigen dari udara.
Karena itu, alat pernapasan tambahan selain insang atau paru-paru. beberapa
jenis ikan memiliki alat pernapasan tambahan yang dapat mengambil
oksigen secara langsung dari udara. Contoh alat pernapasan tambahan pada
ikan:
1. Arborescent, organ pada ikan Lele Clarias sps. merupakan insang
tambahan berbentuk pohon di bagian atas lengkung insang kedua dan
ketiga, berfungsi
2. Kulit, merupakan alat pernapasan tambahan pada ikan Blodok
Periopthalmus dan Boleopthalmus, di samping itu penutup insang yang
berkembang berlipat-lipat dan bagian dalamnya terdapat banyak pembuluh
darah.
3. Labirinth, merupakan alat pernapasan tambahan pada ikan Betok Anabas
testudineus Ikan-ikan yang memiliki alat pernapasan tambahan mampu
bertahan hidup dalam kondisi hypoxia, bahkan anoxia
4. Divertikula, merupakan alat pernapasan tambahan pada ikan gabus.

2.2.4 Proses Pernapasan Pada Ikan


Proses pernapasan pada ikan ada 3 tahap yaitu
1. Ventilasi Insang Proses penggantian air yang mengalir ke permukaan
lamela insang dengan mengalirkan air dari media hidupnya (air) ke
rongga insang melalui rongga mulut, biasa disebut inhale (pemasukan)
dan sebaliknya exhale (pengeluaran)
2. Difusi O2 dan CO2, antara air dan darah yang terjadi di lamela insang.
3. Pengangkutan O2, dari insang ke lingkungan intrasel dan co dari
lingkungan intrasel ke insang. Ketersediaan O2 dalam air sangat sedikit,
oleh karena itu O2 disebut sebagai faktor pembatas, karena daya larut O2
dalam air kandungan O2 dalam air rendah maka ikan dan kecil. Apabila
organisme akuatik lain harus memompa air dalam jumlah tertentu
kepermukaan insang untuk mendapatkan O2 yang cukup agar kecepatan
metabolismenya stabil.

6
2.3 Pengaruh Suhu Terhadap Membuka dan Menutup operculum
Ikan beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi fisiologi ikan
salah satunya berhubungan dengan system respirasi. Pada adaptasi ini terlihat
dari gerakan operculum ikan. Adapatasi ini dipengaruhi oleh temperature dan
keadaan lingkungannya. Kenaikan suhu pada suatu perairan menyebabkan
kelarutan oksigen atau dissolve oxygen (DO) di peraiaran tersebut akan
menurun, sehingga kebutuhan organisme air terhadap oksigen semakin
bertambah dengan pergerakan operculum yang semakin cepat, penurunan
suhu pada suatu perairan dapat menyebabkan kelarutan oksigen dalam
perairan itu meningkat sehingga kebutuhan organisme dalam air terhadap
oksigen semakin berkurang, hal ini menyebabkan jarangnya frekuensi
membuka serta menutupnya operculum pada ikan tersebut (Yulianto,201 l).

7
III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, 02 Maret 2018 jam 08.00-
09.30 WIB. Bertempat di Laboratrium Perikanan, Fakultas Pertanian, Perikanan
dan Biologi. Universitas Bangka Belitung.

3.2 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Ikan Nila


(Oreochromis niloticus) dan es batu. Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam
praktikum ini adalah akuarium, aerator, thermometer, timbangan digital, ember,
heater, lap atau tisu dan stopwatch.

3.3 Prosedur Kerja


Adapun langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini yaitu cara
pertama disiapkan 2 buah toples sebagai tempat uji perlakuan, cara kedua dipilih
perlakuan 3 pada suhu 15◦C, cara ketiga masing-masing akuarium diisi air kurang
lebih 3 liter, kemudian diukur menggunakan termometer, cara keempat untuk
mendinginkan suhu ditambahkan es batu untuk mencapai suhu sesuai perlakuan,
cara kelima dimasukkan 3 ekor ikan nila pada masing-masing akuarium, terlebih
dahulu ditimbang bobot awal (Wo) dengan menggunakan timbangan digital, cara
keenam diupayakan suhu dalam toples sesuai dengan perlakuan, cara ketujuh
diamati tingkah laku ikan tiap 10 menit, dan dicatat hewan uji yang diamati
selama percobaan dan terakhir ditimbang bobot akhir dan jumlah ikan yang
hidup dari hewan uji tiap perlakuan pada akhir praktikum

8
V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Dari hasil percobaan dan pengamatan yang telah dilaksanankan maka


dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut

1. Pada suhu yang berbeda dapat dipastikan bahwa aktivitas operculumnya juga
berbeda.

2. Kandungan oksigen pada suhu-suhu tertentu berbeda hal ini berpengaruh


terhadap aktivitas membuka dan menutupnya operculum ikan. Dari data yang di
dapat terlihat bahwa penurunnan suhu membuat percepatan membuka dan
menutupnya operculum lebih sedikit. Hal ini berarti kandungan oksigen lebih
banyak pada air dengan suhu yang rendah. Namun demikian ikan lebih efektif
hidup pada suhu kamar karena suplai oksigen relatif stabil.

3. Ketika ikan sedang dalam keadaan stress maka akan mempengaruhi aktivitas
membuka dan menutupnya operculum menjadi lebih cepat

4. Pada suhu kamar kandungan oksigen lebih alami sehingga kegiatan membuka
dan menutupnya lebih stabil

5.2 Saran

Untuk mendapatkan keakuratan disarankan dalam menghitung


operculum ikan, ikan dibuat tenang sehingga tidak mengganggu laju dari
pernapasan itu sendiri.

13
DAFTAR PUSTAKA

http://12121.hostinguk.com/beaker. JPG Diakses 08 Maret 2018 pukul 00.21 WIB


http://biofahriya.blogspot.com/2012/06/pengaruh-suhu-terhadap-membuka dan.
html diakses 08 Maret 2018 pukul 00.21 WIB
http://digilib.itb.ac.id/gdl. php? mod browse&op read&id jbptitbpp-gdl-
qoriaturro-25751 diakses 08 Maret 2018 pukul 00.30 WIB
http://ikhsanfaturohman.blogspot.com/2010 lpengaruh-suhu-terhadap-membuka-
dan. Html diakses 08 Maret 2018 pukul 00.30 WIB
http://www.erma co jp/product/waterbath.html diakses 08 Maret 2018 pukul 21:47
WIB
http://www.scribd.com/doc/35386449/Laporan-Praktikum-Pengaruh-suhu
Terhadap-Gerak-Operkulum-Pada-Ikan diakses 08 Maret 2018 pukul 23.00
WIB
http://www.interaktv.com/fishanat/operculum.html Biology Base, Fish Anatomy
[Http://www.interaktv.com/fishanat operculum.html Biology Base, Ikan Anatomi

14