Anda di halaman 1dari 3

KOTA PANGKALPINANG, BANGKA BELITUNG

Suatu kota terbentuk dari masyarakat yang heterogen dan memiliki persamaan –
persamaan, seperti daerah asal, agama ataupun pekerjaan yang kemudian membentuk suatu
perkampungan, dilengkapi oleh fasilitas kota seperti ruang publik, pusat perekonomian,
peribadatan, dan lain-lain. Suatu kota selalu mengalami perkembangan atau sering disebut
morfologi kota.

Morfologi kota merupakan teknik analisis yang dipergunakan untuk mempelajari


pola-pola historis masa lalu dan masa kini dari struktur kota, bentuk, guna lahan dan pola-
polanya. Berkembangnya suatu kawasan, berkaitan dengan struktur sosial, ekonomi dan
budaya sehingga menyebabkan perkembangan dan perubahan fungsi ruang dan menimbulkan
perubahan pada bentuk lingkungan sebagai wadah untuk melakukan kegiatan kehidupannya.

Bentukan lingkungan fisik kota sebagai "urban artifact", merupakan hasil produk
budaya tertentu, di dalamnya terkandung makna atau konsepsi yang dapat digali keberhasilan
dan kegagalan penanganan fisik pada masa lalu.

Kota Pangkalpinang merupakan suatu kota yang terbentuk sejak abad 17 dan telah
memiliki pertambangan timah yang produktif dan telah diditribusikan ke berbagai daerah
bahkan sampai keluar negeri sehingga Pangkalpinang berkembeng menjadi pusat
perdagangan dan pertambangan. Kota Pangkalpinang awalnya terbentuk dari pangkal
pengumpul timah dengan parit-parit timah disekitar Sungai Rangkui. Kampung kecil yang
pada awal mula terbentuknya hanyalah berupa pangkalan (parit) pengumpul timah, daerahnya
berawa-rawa dan dibelah oleh sungai sungai (diantaranya Sungai Rangkui, Sungai
Pedindang) yang dapat dilalui wangkang atau kapal kapal kecil hingga ke muara, terus
tumbuh dan berkembang menjadi kampung besar.

Pemukiman yang terbentuk awalnya pemukiman suku melayu, dan selanjutnya


berkembang pemukiman orang-orang Cina. Pola pemukiman orang-orang Cina ini mulai
mewarnai struktur ruang Kota Pangkalpinang.

Sejarah Pangkal pinang secara mendasar tidak dapat dipisahkan dari pengaruh
kekuasaan kekaisaran Tiongkok di Asia Timur dan perebutan, penguasaan atau eksploitasi
terhadap biji timah oleh berbagai bangsa, sebagai bukti dari kedua hal tersebut dapat dilihat
dari monumen hidup (Living Monument) diantaranya Kelenteng yang tersebar hampir
diseluruh pelosok kota dalam ukuran besar dan kecil sesuai dengan fungsi dan
penggunaannya, bentuk bangunan rumah tinggal berarsitektur vernakuler Cina berikut
dengan penataan pemukiman yang dipisahkan dengan banyaknya gang gang sempit,
tersebarnya makam makam tua orang Cina yang disebut Pendem.

Sejak kedatangan bangsa Belanda ke Pangkalpinang, Kota Pangkalpinang berubah


menjadi kota pertahanan dan berbasis militer. Sejak menjadi ibukota Keresidenan Bangka
dengan Residen pertama A.J.N. Engelenberg (tahun 1913-1918) Pangkalpinang mulai
tumbuh dan berkembang menjadi kota yang ramai dengan segala aktifitasnya. Dan rumah
yang dijadikan sebagai rumah Residen Belanda telah dibangun sebelum tahun 1913 walaupun
masih berbentuk panggung terbuat dari dinding papan dan beratap sirap. Rumah ini
disamping dijadikan sebagai rumah kediaman Residen juga dijadikan sebagai tempat kegiatan
kemasyarakatan dan ini berlanjut hingga sekarang.

Disamping rumah Residen dibangun pula Kantor Keresidenan (kantor sementara


Gubernur sekarang), Gedung pertemuan (Panti Wangka Sekarang), Kantor Polisi (Opas) dan
sarana sarana lainnya seperti alun alun (Lapangan Merdeka), Jalan–jalan raya, Rumah rumah
untuk Karyawan BTW dan dibangun pula taman Wilhemina (sekarang Tamansari), dengan
arsitek Van Ben Benzehorn. Taman ini berfungsi sebagai tempat untuk olahraga, kesenian
serta konservasi karena banyak ditanami dengan pepohonan langka yang rindang, sangat
cocok untuk olahraga dan rekreasi keluarga dan berangin angin (Zich Onspannen). Sebagai
kantor pusat penambangan timah terbesar di dunia, perekonomian masyarakat Pangkalpinang
terasa sangat dinamis ditunjang lagi dengan letaknya yang strategis di lintas internasional.
Pangkalpinang terus berkembang dibangunannya sarana dan prasarana kota seperti rumah
sakit, puast peleburan biji timah, dan pembangunan sumber air baku bersih.

Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu


seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka. Di daerah
ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu
Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti
kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah
diperoleh di sekitar pemukiman. Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian
atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai
fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur, yang berdiri di atas
tiang rumah yang ditanam dalam tanah.

Kini Kota Pangkalpinang telah menjadi kota yang kaya akan kekayaan alam dan
peninggalan sejarahnya. Perekonomian ditopang oleh sektor primer dan sektor sekunder.
Sektor primer meliputi sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian. Sedangkan
pada sektor sekunder yaitu sektor industri pengolahan. Disamping itu juga terdapat tempat
wisata berupa pantai dengan pasirnya yang putih dan kini mulai dikenal oleh seluruh
mayarakat Indonesia, bahkan dunia.