Anda di halaman 1dari 5

Nama : Isni Nur Sadrina Tanggal : 20 September 2016

NPM : 1506675913 Paraf Asisten :

Kelompok :8

Baterai
I. Outline
1.1 Definisi dan struktur (analisis)
1.2 Bahayanya bagi lingkungan
1.3 Komponen-komponen penting

II. Pembahasan
1.1 Definisi dan struktur
Baterai didefenisikan sebagai suatu alat yang dapat mengubah langsung energi
kimia menjadi energi listrik melalui proses elektrokimia. Sel baterai adalah unit terkecil
dari suatu sistem proses elektrokimia yang terdiri dari elektroda, elektrolit, separator,
wadah dan current colector/ terminal.
Berdasarkan kemampuannya untuk dikosongkan (dischargerd) dan diisi ulang
(recharged), baterai dibagi menjadi dua, yaitu baterai primer dan baterai sekunder.
Kemampuan atau ketidakmampuan sebuah baterai untuk diisi ulang terletak pada reaksi
kimiawi dalam baterai tersebut.

1. Baterai Primer
Baterai primer adalah baterai yang tidak dapat diisi ulang. Setelah kapasitas
baterai habis (fully discharged), baterai tidak dapat dipakai kembali. Baterai jenis ini pada
umumnya memberikan tegangan 1,5 Volt dan terdiri dari berbagai jenis ukuran seperti
AAA (sangat kecil), AA (kecil) dan C (medium) dan D (besar). Disamping itu, terdapat
juga Baterai Primer (sekali pakai) yang berbentuk kotak dengan tegangan 6 Volt ataupun
9 Volt. Jenis-jenis Baterai yang tergolong dalam Kategori Baterai Primer (sekali Pakai /
Single use) diantaranya adalah Baterai Zinc-Carbon (Seng-Karbon), Baterai Alkaline
(Alkali), Baterai Lithium, Baterai Silver Oxide, dll.
Berikut tabel rangkuman penggunaan dari Baterai Primer (Single-use Batteries):
2. Baterai Sekunder
Baterai sekunder adalah baterai yang dapat diisi ulang. Kemampuan diisi ulang
baterai sekunder bervariasi antara 100-500 kali (Satu siklus adalah satu kali pengisian dan
pengosongan). Pada prinsipnya, cara Baterai Sekunder menghasilkan arus listrik adalah
sama dengan Baterai Primer. Hanya saja, Reaksi Kimia pada Baterai Sekunder ini dapat
berbalik (Reversible). Pada saat Baterai digunakan dengan menghubungkan beban pada
terminal Baterai (discharge), Elektron akan mengalir dari Negatif ke Positif. Sedangkan
pada saat Sumber Energi Luar (Charger) dihubungkan ke Baterai Sekunder, elektron akan
mengalir dari Positif ke Negatif sehingga terjadi pengisian muatan pada baterai. Jenis-
jenis Baterai yang dapat di isi ulang (rechargeable Battery) yang sering kita temukan
antara lain seperti Baterai Ni-cd (Nickel-Cadmium), Ni-MH (Nickel-Metal Hydride) dan
Li-Ion (Lithium-Ion).
Berikut tabel rangkuman penggunaan dari Baterai Sekunder (Rechargeable
Batteries):

Tahun 1898, sel kering menjadi baterai yang tersedia secara komersial pertama
dan dijual di Amerika Serikat. Seiring dengan perkembangan teknologi, baterai pun
memiliki beragam jenis berdasarkan komponen kimia penyusunnya, diantaranya:
 Baterai seng-karbon: baterai kimia seng-karbon adalah baterai umum di banyak murah
seperti sel kering AAA, AA, C dan D. Anoda seng, katoda adalah mangan dioksida, dan
elektrolit adalah amonium klorida atau seng klorida.

Gambar: komponen baterai seng-karbon


 Baterai Alkaline: baterai kimia ini juga umumnya dipakai di banyak rumah dengan jenis sel
kering AA, C dan baterai sel kering D. Katoda terdiri dari campuran mangan dioksida,
sedangkan anoda adalah bubuk seng. Namanya Alkaline diperoleh dari elektrolit kalium
hidroksida, yang merupakan zat alkali.

Gambar: Komponen Baterai Alkaline

 Baterai lithium-ion (rechargeable): baterai kimia Lithium sering digunakan dalam


perangkat kinerja tinggi, seperti ponsel, kamera digital dan bahkan mobil listrik. Berbagai
zat digunakan dalam baterai lithium, tetapi kombinasi umum adalah kobalt oksida lithium
sebagai katoda dan karbon sebagai anoda.

Gambar: komponen baterai Lithium-ion

1.2 Bahaya Baterai bagi Lingkungan


Baterai memiliki tiga komponen penting, yaitu anoda, katoda dan elektrolit.
Baterai primer atau baterai sekali pakai misalnya terbuat dari zinc sebagai anoda, karbon
sebagai katoda dan elektrolit yang dipakai berupa pasta campuran MnO2, serbuk karbon
dan NH4Cl sedangkan baterai sekunder yang dapat diisi ulang umumnya memiliki anoda
dari kadmium dan katoda dari nikel dengan elektrolit alkaline (potassium hidroksida).
Komponen-komponen penyusun baterai ini akan berdampak negatif bila
mencemari lingkungan, misalnya kadmium dan mangan. Kenaikan konsentrasi kadmium
dalam tanah akan memperbesar penangkapan unsur logam tersebut oleh tanaman dan
selanjutnya memasuki rantai makanan. Dari seluruh logam kadmium yang masuk ke
dalam tubuh manusia, sebesar 6% melalui makanan. Dampak yang muncul apabila
keracunan logam kadmium adalah tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal, kehilangan sel
darah merah, gangguan lambung serta kerapuhan tulang. Mangan dalam jumlah yang
besar dapat menyebabkan keracunan dan kerusakan saraf pada manusia. Gejala
keracunan mangan adalah halusinasi, pelupa serta keracunan saraf. Mangan juga dapat
menyebabkan parkinson, emboli paru-paru dan bronkitis. Dalam jangka panjang,
kelebihan mangan dapat mengakibatkan impoten. Suatu sindrom yang disebabkan oleh
mangan memiliki gejala seperti skizofrenia, kebodohan, lemah otot, sakit kepala dan
insomnia.
Pada tahun 1990-an, industri batu baterai bahkan menggunakan merkuri (Hg)
sebagai pengganti batang katoda karbon pada batu baterai. Senyawa pada logam merkuri
(Hg) dapat berupa senyawa anorganik dalam bentuk alkil atau aril merkuri. Secara tidak
langsung, merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui air minum atau bahan pangan
baik hewan maupun tumbuhan yang telah tekontaminasi oleh merkuri. Gejala keracunan
akut oleh logam tersebut antara lain rasa mual, muntah- muntah, diare berdarah,
kerusakan ginjal hingga dapat mengakibatkan kematian. Keracunan kronis ditandai oleh
peradangan mulut dan gusi, pembengkakan kelenjar ludah dan pengeluaran ludah secara
berlebihan, gigi menjadi longgar serta kerusakan pada ginjal. Oleh karena itu, batu
baterai bekas termasuk sampah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya) karena mengandung
berbagai logam berat yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.
Di Indonesia, pengelolaan batu baterai bekas belum mendapat perhatian khusus.
Keadaan ini karena kurangnya kepedulian pemerintah dan kesadaran masyarakat
terhadap bahaya limbah batu baterai. Batu baterai biasanya langsung dibuang ke tempat
sampah dan berakhir di TPA. Batu baterai yang dibuang ke tempat sampah, tanpa
disadari akan mengancam lingkungan dan kesehatan. Padahal di Indonesia tidak semua
TPA memiliki sistem pengolahan yang baik, sehingga limbah B3 batu baterai yang
tercampur dengan limbah organik dan anorganik lainnya akan lebih sulit untuk ditangani.

Gambar: Diagram cara pembuangan limbah konvensional

1.3 Komponen-komponen Penting

Baterai terdiri dari tiga komponen penting, yaitu:

1. Elektroda Negatif (Anoda)


Anoda merupakan elektroda negatif yang berkaitan dengan reaksi oksidasi setengah sel
yang melepaskan elektron ke dalam sirkuit eksternal. (Subhan,2011). Anoda berfungsi sebagai
tempat pengumpulan ion lithium serta merupakan tempat bagi material aktif, dimana lembaran
pada anoda biasanya berupa tembaga (Cu foil). Material yang dapat dipakai sebagai anoda harus
memiliki karakteristik antara lain memiliki kapasitas energi yang besar, memiliki profil
kemampuan menyimpan dan melepas muatan/ion yang baik, memiliki tingkat siklus pemakaian
yang lama, mudah untuk di proses, aman dalam pemakaian (tidak mengandung racun) dan
harganya murah.

2. Elektroda Positif (Katoda)


Katoda merupakan elektroda positif, dimana terjadi reaksi setengah sel yaitu reaksi
reduksi yan menerima elektron dari sirkuit luar sehingga reaksi kimia reduksi terjadi pada
elektroda ini. (Subhan, 2011). Pada dasarnya katoda merupakan elektroda yang fungsinya sama
seperti anoda yaitu berfungsi sebagai tempat pengumpulan ion lithium serta merupakan tempat
bagi material aktif, dimana lembaran pada katoda biasanya adalah aluminium (Al foil).
Beberapa karakteristik yang harus dipenuhi suatu material yang digunakan sebagai
katoda antara lain material tersebut terdiri dari ion yang mudah melakukan reaksi reduksi dan
oksidasi, memiliki konduktifitas yang tinggi seperti logam,memiliki kapasitas energi yang tinggi,
memiliki kestabilan yang tinggi (tidak mudah berubah strukturnya atau terdegradasi baik saat
pemakaian maupun pengisian ulang), harganya murah dan ramah lingkungan.

3. Elektrolit
Elektrolit merupakan material yang bersifat penghantar ionik. Fungsi elektrolit ialah
sebagai media untuk mentransfer ion lithium antara katoda dan anoda. Ada beragam jenis
elektrolit seperti cair, padat, polimer dan komposit elektrolit. Elektrolit yang banyak digunakan
pada baterai lithium adalah elektrolit cair yang terdiri dari garam lithium yang dilarutkan dalam
pelarut berair. Hal yang paling penting dalam suatu elektrolit adalah interaksi antara elektrolit
dan elektroda pada baterai. Hubungan dua bahan ini akan mempengaruhi kinerja baterai secara
signifikan.

III. Daftar Pustaka

1) Goosey, Martin. 2009. Introduction and Overview. In: Hester and Harrison (eds).
Electronic Waste Management. Cambridge: RSC Publishing, 1-39.

2) Silberberg. 2007. Principles of General Chemistry, Second Edition. Boston: Mc


Graw Hill.

3) Tine Mk, Etty S, Ratih Sri RN, Nani K. 2007. Sains Kimia 3 SMA/MA Kelas XII.
Jakrta: Bumi Aksara.

4) Underwood, A.L., Day R.A. 2001. Analisa Kimia Kualitatif Edisi Keenam.
Erlangga: Jakarta

5) Widyatmoko, Sintorini. 2002. Menghindari, Mengolah, dan Menyingkirkan


Sampah. Abdi Tandur: Jakarta.