Anda di halaman 1dari 10

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

TERMS OF REFERENCE (TOR)


PENGENDALIAN KERUSAKAN HUTAN DAN LAHAN

I. LATAR BELAKANG
Pembangunan yang dilaksanakan selama ini masih bertumpu kepada Trilogi
Pembangunan, yaitu pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan stabilitas nasional.
Dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi tersebut masih mengandalkan kepada
sumberdaya alam, termasuk sumberdaya hutan, tanah dan air. Di lain pihak
pemanfaatan sumberdaya alam seringkali terpaksa dilakukan secara tidak efisien
dan berorientasi kepada kepentingan jangka pendek, sehingga mengakibatkan
terjadinya pengurasan sumberdaya alam secara tidak terkendali.
Tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya hutan dan lahan
dalam pelestarian lingkungan hidup di masa depan adalah bagaimana memanfaatkan
dan memelihara sumberdaya secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat sejalan dengan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia,
terutama yang berkaitan dengan makin meluasnya tuntutan masyarakat untuk
memperoleh kualitas lingkungan hidup yang semakin baik dan adil.
Pembangunan yang seimbang dan terpadu antara aspek ekonomi, sosial,
dan lingkungan hidup adalah prinsip pembangunan yang senantiasa menjadi dasar
pertimbangan utama bagi seluruh sektor dan daerah guna menjamin keberlanjutan
proses pembangunan itu sendiri. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional 2004–2009, perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi
lingkungan hidup diarahkan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sumber daya
alam agar sumber daya alam mampu memberikan manfaat ekonomi, termasuk jasa
lingkungannya, dalam jangka panjang dengan tetap menjamin kelestariannya.
Dengan demikian, sumber daya alam diharapkan dapat tetap mendukung
perekonomian di Kabupaten Jombang dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
tanpa mengorbankan daya dukung dan fungsi lingkungan hidupnya, agar tetap dapat
dinikmati oleh generasi mendatang. Dalam kaitan ini, pembangunan berkelanjutan
terus diupayakan menjadi arus utama dari pembangunan di semua bidang terutama
di Kabupaten Jombang.
Guna mewujudkan perlindungan hutan dan lahan sebagaimana dalam UU
No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup maka pelestarian fungsi
lingkungan hidup sebagai rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya
dukung dan daya tampung lingkungan hidup, manakala terjadi adanya perubahan
langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang
mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang
pembangunan berkelanjutan. Dalam arti lain jika lingkungan tersebut rusak, baik
fisik maupun hayatinya maka lingkungan tersebut tidak dapat lagi mendukung
kehidupan berikutnya, Dengan definisi tersebut maka dapat diketahui bahwa
kerusakan lahan adalah perubahan, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap
lahan sehingga lahan tidak lagi bisa mendukung kehidupan, khususnya manusia.
Kebijaksanaan pemerintah yang tertuang dalam UU No. 22 Tahun 1999 dan
UU No. 25 Tahun 2000, Pemerintah Daerah dituntut harus benar-benar dapat
mempersiapkan perencanaan, pemanfaatan dan pengelolaan semua potensi yang
ada di daerahnya secara komprehensif, optimal dan efektif, efisien dan
berkelanjutan. Perubahan tatanan penggunaan lahan akibat perkembangan aspek
sosial, ekonomi dan budaya sangat mempengaruhi fungsi daya dukung suatu
kawasan terhadap penentuan kebijakan perencanaan tata ruang suatu wilayah.
Akibat dari adanya kerusakan hutan dan lahan di Kabupaten Jombang dapat
membawa dampak pada terjadinya banjir dan tanah longsor yang berakibat
tergenangnya lahan-lahan produktif, kawasan tempat tinggal dan tempat-tempat
usaha. Kondisi yang ada tersebut sebagai akibat dari koefisien aliran yang tinggi
sedangkan kooefisien resapan rendah hal tersebut disebabkan oleh faktor alam
seperti curah hujan dan luasan daerah tangkapan sehingga jika koefisisen pengaliran
tinggi akibat hutan yang berubah menjadi lahan terbuka, atau daerah kawasan
lindung berubah menjadi kawasan budidaya, maka air yang melimpas pun menjadi
tinggi pula sehingga terjadilah banjir.
Upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mendukung terwujudnya
perlindungan hutan dan lahan di Kabupaten Jombang adalah dengan inventarisasi
dan evaluasi lahan kritis serta mitigasi bencana khususnya tanah longsor.

II. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud kegiatan penyusunan pengendalian kerusakan hutan dan lahan di
Kabupaten Jombang ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan lahan
kritis menjadi beberapa wilayah/zonasi berdasarkan tingkat kekritisan lahannya.
Penentuan zonasi wilayah lahan kritis di Kabupaten Jombang didasarkan
pada analisa data jenis tanah, tingkat kelerengan, curah hujan, kerapatan vegetasi,
litologi dan dibandingkan dengan fungsi kawasannya. Lahan kritis ini harus dapat
diidentifikasikan secara kualitatif (derajat kekritisan) dan kuatitatif (jumlah, lokasi
dan luas sebaran lahan kritis), sedangkan Mitigasi dilakukan sebagai "Upaya yang
ditujukan untuk mengurangi dampak dari bencana baik bencana alam maupun
bencana oleh ulah manusia. Upaya yang dilakukan dalam mitigasi bencana, yaitu
tersedia informasi dan peta kawasan rawan bencana untuk tiap jenis bencana serta
pengaturan dan penataan kawasan rawan bencana untuk mengurangi ancaman
bencana.
Tujuan kegiatan ini adalah untk memberikan suatu rekomendasi rencana
dan program yang mampu mengakomodasikan aspirasi dari berbagai pihak dalam
upaya pengelolaan dan pelestarian sumberdaya alam guna meningkatkan kualitas
dan produktivitas lahan pada umumnya dan lahan kritis pada khususnya serta upaya-
upaya penanggulangan bencana, rekomendasi ini dirumuskan dalam penjabaran
program kegiatan dalam perencanaan kegiatan jangka pendek, menengah (lima
tahun), dan jangka panjang.
Rekomendasi ini memuat beberapa item kegiatan sebagai berikut :
a. Identifikasi, diskripsi dan zona lahan kritis;
b. Menentukan prioritas rehabilitasi lahan;
c. Menentukan tahapan dan macam program kegiatan untuk rehabilitasi dan
konservasi pada lahan kritis;
d. Pemetaan dan data base mikro zonasi daerah rawan bencana;
e. Penanganan dan perlakukan khusus terhadap daerah resiko rawan bencana.

III. SASARAN
Sasaran yang akan dicapai dalam penyusunan pengendalian kerusakan hutan
dan lahan adalah terlindunginya kawasan-kawasan lahan kritis dan rawan bencana
dari kerusakan serta tercapainya upaya pemulihan fungsi lingkungan akibat
pemanfataan lahan yang tidak terkendali disamping itu untuk mengetahui
penyebaran, potensi dan kondisi tingkat ancaman terjadinya bencana. Kegiatan
pokok yang harus dilakukan adalah:
(1). Mengidentifikasi lokasi dan luasan lahan kritis;
(2). Menyusun strategi penanganan lahan kritis;
(2). Arahan dan rekomendasi mitigasi bahaya gerakan tanah.

IV. LINGKUP PEKERJAAN


Dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan pengendalian kerusakan hutan dan
lahan, kegiatan yang harus dilakukan adalah :
a. Persiapan peta dasar berupa satuan peta lahan meliputi peta tanah, lereng,
curah hujan, kerapatan vegetasi, dan jenis batuan serta zonasi tingkat
ancaman bencana khususnya tanah longsor;
b. Pekerjaan lapangan meliputi :

 Mengidentifikasi luasan lahan kritis berdasarkan kondisi spesifik biofisik


terhadap kondisi sumberdaya hutan dan lahan yang mengalami kerusakan
serta keseimbangan lingkungan dan tata air pada Daerah Aliran Sungai;

 Mengamati kenampakan erosi, upaya konservasi tanah, penutupan lahan


dan aspek sosial, ekonomi dan budaya serta tinjauan lokasional pada
kawasan rawan longsor;

 Pengambilan data sekunder ke dinas/instnasi terkait

c. Penyusunan Laporan meliputi :

 Analisis data

 Klasifikasi data

 Evaluasi

 Arahan dan kebijakan

V. DASAR HUKUM
Dasar hukum pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Pengendalian Kerusakan
Hutan dan Lahan di Kabupaten Jombang adalah sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistem;
2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana diubah
dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 Tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan Menjadi
Undang-Undang;
4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran
Negara Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1226) ;
5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
6. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pegaturan Air;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang RTRW Nasional
11. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan
Kawasan Pelestarian Alam;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2005 tentang Analisa Dampak
Lingkungan Hidup;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi ;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah;
16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2006 tentang Pedoman Umum
Mitigasi Bencana;
17. Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: 316/KPTS-II/1999
tentang Perlindungan Hutan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur;
18. Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 1456.K/20/MEM/2000
tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Karst;
19. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 2002
tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup;
20. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 11 Tahun 1991
tentang Penetapan Kawasan Lindung di Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur;
21. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 5 Tahun 1992 tentang
Perlindungan Hutan Propinsi Jawa Timur;
22. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 8 Tahun 2002 tentang
Pengelolaan Hutan Raya R. Suryo;
23. Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2006 tentang RTRW
Propinsi Jawa Timur ;
24. Peraturan Daerah Kabupaten Jombang Nomor 9 Tahun 2000 tentang RTRW
Kabupaten Jombang 2000 - 2010;

VI. SUMBER PENDANAAN


Sumber pendanaan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Kabupaten Jombang Tahun Anggaran 2009, Program Perencanaan Pembangunan
Daerah Rawan Bencana, dengan nama kegiatan ”Penyusunan Pengendalian
Kerusakan Hutan dan Lahan” kode rekenng : 1.06.25.900.
Keseluruhan nominal anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini adalah :
Rp. 74.625.000,- (Tujuh Puluh Empat Juta Enam Ratus Dua Puluh Lima Ribu
Rupiah).
VII. LOKASI PEKERJAAN
Lokasi kegiatan ”Penyusunan Pengendalian Kerusakan Hutan dan Lahan”
adalah Kabupaten Jombang.

VII. KUALIFIKASI TENAGA PELAKSANA


Untuk penyusunan Koordinasi Penyusunan Masterplan Pengendalian Sumber
Daya Alam dan Lingkunan Hidup di Kabupaten Jombang ini diperlukan tenaga ahli
(Profesional staff) dan asisten (Sub Profesional Staff) dari berbagai disiplin ilmu,
tenaga ahli tersebut minimal adalah sebagai berikut :
a. Team Leader merangkap Ahli Manajemen Sumber Daya Alam / Ahli Lingkungan
/ Environmentalist (1 orang) Minimal Sarjana / S1 Teknik Lingkungan dengan
pengalaman minimum 7 tahun;
b. Ahli Geohidrologi (1 orang) Minimal Sarjana / S1 Teknik Sipil Hidro dengan
pengalaman minimum 5 tahun
c. Ahli Geologi / Geologist (1 orang) Minimal Sarjana / S1 Jurusan Geologi dengan
pengalaman minimum 5 tahun
d. Ahli GIS / Geografis Informasi System (1 orang) S1 Jurusan Geografi dengan
pengalaman minimum 5 tahun
e. Ahli Kehutanan (1 orang) Minimal Sarjana / S1 Jurusan Kehutanan dengan
pengalaman minimum 5 tahun
f. Ahli Tanah (1 orang) S1 Jurusan Pertanian dengan pengalaman minimum 5
tahun
g. Asisten Tenaga Ahli (1 orang) Minimal Sarjana Muda / D3 dengan pengalaman
minimum 3 tahun
h. Tenaga Administrasi (1 orang) Minimal Sarjana Muda / D3
i. Tenaga Kolektor Data (1 orang) Minimal lulusan SMA

VIII. JADUAL KEGIATAN


Jadual kegiatan pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Perlindungan Kerusakan
Hutan dan Lahan di Kabupaten Jombang adalah sebagai berikut :

No. Jenis Kegiatan Bulan I Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan


II III IV V VI
1 Persiapan
2 Inventori data
3 Evaluasi Data & Analisis /
perhitungan
4 Laporan Pendahuluan
5 Laporan Fakta dan Analisa

6 Pelaporan akhir
7 Sosialisasi Hasil Rencana

IX. PRODUK YANG DIHASILKAN


Sistem pelaporan pekerjaan Penyusunan Perlindungan Kerusakan Hutan dan
Lahan di Kabupaten Jombang adalah sebagai berikut :
1. Produk yang dihasilkan
a. Laporan Pendahuluan (Inception Report) Berisikan metodologi dan analisis
serta rencana kerja secara terinci.
b. Laporan Fakta dan Analisa Berisikan kumpulan data hasil inventarisasi serta
hasil evaluasi dan analisis data sementara.
c. Laporan Akhir (Final Report), Berupa buku laporan hasil analisis dan
evaluasi serta pemecahan permasalahan untuk kemudian dijadikan
rekomendasi.
d. Album Gambar, Berupa album gambar peta kondisi eksisting dan hasil
analisis.
e. Semua data dihimpun dalam bentuk CD serta sofwer pendukungnya
diserahkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen pada masa akhir pekerjaan.
2. Teknik Penyajian.
Buku tersebut disajikan dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Pengetikan 1,5 spasi dengan kertas HVS polos warna putih.
b. Ukuran kertas :
1. Laporan Pendahuluan
- Ukuran kertas A4, HVS 70/80 gram, jenis huruf (Font) Arial, ukuran
huruf 10
- Jumlah buku 10 (sepuluh) buku
2. Laporan Fakta dan Analisa
- Ukuran kertas A4, HVS 70/80 gram, jenis huruf (Font) Arial, ukuran
huruf 10
- Jumlah buku 10 (sepuluh) buku
3. Laporan Akhir
- Ukuran kertas A4, HVS 70/80 gram, jenis huruf (Font) Arial, ukuran
huruf 12
- Jumlah buku 15 (lima belas) buku
4. Album Gambar
- Ukuran kertas A3
- Jumlah buku 5 (lima) Album
- Ukuran kertas A1
- Jumlah buku 3 (tiga) album
5. Penjilidan
- Buku dijilid sampul keras (hardcover) / sampul lunak (softcover)
- Cover depan memuat: judul buku, kabupaten, tahun penyusunan,
lambang instansi, periode data, lambang kabupaten.
- Judul buku, nama kabupaten dan tahun penyusunan ditulis disisi
buku (sidecover).
6. Pengaturan halaman
− Margin kiri 4 cm; kanan 2,5 cm; atas 2,5 cm; dan bawah 2,5 cm
− Mencantumkan nomor halaman (page number) di sisi kanan bawah
sesuai bab (mis: I-1).

X. RENCANA ANGGARAN DAN BIAYA


Rencana Anggaran dan Biaya (RAB) pekerjaan Penyusunan Pengendalian
Kerusakan Hutan dan Lahan di Kabupaten Jombang tertuang dalam dua dokumen,
yaitu :
1. Dokumen anggaran DPA-SKPD kegiatan “Penyusunan Perlindungan Kerusakan
Hutan dan Lahan”, kode rekening : 1.06.25.900. Keuangan yang tercantum
dalam DPA-SKPD selain komponen ”belanja jasa pihak ketiga” dikelola Pejabat
Pembuat Komitmen beserta Organisasi Pelaksana Kegiatan yang ditunjuk
berdasarkan Keputusan Kepala Bappeda sebagai pengguna Anggaran. Komponen
”belanja jasa pihak ketiga” yang merupakan nilai utuh dalam DPA-SKPD dirinci
penggunaannya dalam RAB yang nantinya akan dikelola oleh pelaksana pekerjaan
yang ditunjuk (pemenang lelang).
2. Dokumen RAB merupakan bagian yang tak terpisahkan dari KAK ini. Pengelola
keuangan yang tertuang dalam RAB ini dilakukan oleh pihak ketiga pemenang
lelang sebagai pelaksana kegiatan. Nilai nominal RAB beserta komponen
kegiatannya merupakan angka indikatif (Harga Perhitungan Sendiri / HPS).
XI. METODE PELAKSANAAN
Metode Pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Pengendalian Kerusakan Hutan
dan Lahan di Kabupaten Jombang :
1.Metode yang digunakan dalam penelitian menggunakan analisis deskriptif
komparatif, dengan membandingkan tingkat sensitivitas lahan kritis hasil
pengolahan metode skoring dan metode fuzzy. Keakuratan atau sensivitas
keseluruhan metode perhitungan dilakukan dengan membandingkan data
pembanding lapangan menggunakan uji peringkat-bertanda Wilcoxon
2.Identifikasi dan analisis data, antara lain :
a. Data persebaran penduduk dan sosial budaya setempat untuk mengetahui
pola penggunaan sumber daya lahan di dalam kawasan hutan (agroforestry)
maupun di luar kawasan hutan, sebagai salah satu bahan dalam
perencanaan kegiatan rehabilitasi;
b. Kondisi areal yang berkaitan dengan kondisi ekosistem (biofisik) dan
pengelolaan kawasan serta infrastruktur setempat yang tersedia.
c. Data kawasan hutan, meliputi :

 Terdiri dari jenis penutupan tanah terbuka, semak/belukar, pertanian


lahan kering bercampur semak, diarahkan pada kegiatan reboisasi dan
penghijauan.

 Terdiri dari jenis penutupan hutan lahan kering sekunder, diarahkan


pada rehabilitasi melalui kegiatan pengayaan tanaman.

 Terdiri dari jenis penutupan pertanian lahan kering, sawah dan


permukiman, Kegiatan diasumsikan tidak dilakukan pada seluruh areal
dan dapat dilakukan melalui kegiatan teknik konservasi tanah.
d. Data DAS dipergunakan pada wilayah DAS berdasarkan lahan, hidrologi,
sosek, investasi dan kebijaksanaan pembangunan wilayah tersebut
mempunyai prioritas tertinggi untuk direhabilitasi.
e. Identifikasi kawasan hutan dan lahan yang perlu dilakukan rehabilitasi
dilaksanakan pada kawasan hutan yang meliputi kawasan hutan lindung,
hutan konservasi, hutan produksi.
f. Identifikasi kawasan hutan dan lahan yang perlu dilakukan rehabilitasi
diarahkan pada kawasan hutan dan lahan kurang/tidak produktif dengan
berdasarkan pada kelas penutupan lahan dari hasil penafsiran citra Landsat.
g. Identifikasi kawasan hutan dan lahan yang perlu dilakukan rehabilitasi
didasarkan pada kriteria lahan kritis dengan tingkat erosi dan sedimentasi
tinggi, kriteria tersebut digunakan dengan pertimbangan bahwa Rehabilitasi
Hutan dan Lahan secara indikatif akan dilakukan pada kawasan hutan dan
lahan yang tidak produktif dan peka terhadap erosi.

XII. ORGANISASI PELAKSANA


Organisasi pelaksana pekerjaan Penyusunan Perlindungan Kerusakan Hutan
dan Lahan di Kabupaten Jombang terdiri dari :
a. Pelaksana Kegiatan, yaitu penerima pekerjaan yang hak dan kewajiban tertuang
dalam KAK dan Dokumen Perjanjian Kontrak yang ditandatangani kedua belah
pihak.
b. Tim Teknis Kegiatan, dengan tugas pokok dan fungsi yang tertuang dalam
keputusan Kepala Bappeda.
c. Panitia Pelaksana Kegiatan, dengan tugas pokok dan fungsi yang tertuang dalam
keputusan Kepala Bappeda.

XIII. INSTANSI PELAKSANA


Instansi pelaksana adalah Bappeda Kabupaten Jombang yang bekerja
dengan pelaksana pekerjaan pemenag lelang.

Jombang, Januari 2009


KEPALA BAPPEDA
KABUPATEN JOMBANG

AGUS RIADI, S.Sos


Pembina Tingkat I
NIP. 010 082 045