Anda di halaman 1dari 24

3 NATIONAL TRAINER SKILL COMPETITION

nd

HEAT AFFECTED ZONE & HEAT TREATMENT

KEMENTRIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA


DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIFITAS
BALAI BESAR LATIHAN KERJA INDUSTRI SERANG
Jalan Raya Pandeglang Km.03 Telp/Fax. (0254) 200160
SERANG - BANTEN
1

HEAT AFFECTED ZONE & HEAT TREATMENT

1. UMUM
Sebagai telah diuraikan diatas, salah satu dari enam sona didalam sambungan las
adalah sona terimbas panas atau heat affected zone (HAZ). Walaupun tidak sampai
mengalami pencairan, namun sona ini telah mengalami suhu tertinggi diluar suhu
pencairan sehingga menyebabkan perubahan struktur mikro yang secara rinci akan
dijelaskan dibawah ini. Untuk bahan yang mengandung unsur carbon cukup tinggi dan
pendinginan yang cukup cepat akan menghasilkan martensit yang bersifat getas.
Kondisi ini ditambah dengan keberadaan kotoran didalam logam las seperti mangan
sulfida dan lain-lain akan mengawali terjadinya retak panas.

2. STRUKTUR MIKRO LAS DAN H.A.Z


Melalui proses perkembangan epitaxial, lebar kristal columnar (panjang) dizona fusi
ditentukan oleh ukuran bahan induk yang berdekatan dengan antar muka las.
Berhubung suhu puncak HAZ meningkat dengan semakin dekatnya dengan lokasi
antar muka las, sedangkan pengembangan kristal merupakan fungsi suhu, ukuran
maksimum kristal didalam HAZ selalu terjadi disepanjang antar muka las. Kristal
dengan ukuran maksimum inilah yang ditransmit kedalam zona fusi.

Ukuran butir ( grain size ).


Hubungan yang digunakan untuk mengukur butiran kristal di HAZ adalah :

Dimana :
D = diameter final butir kristal.
Do = diameter asli butir
e = 2.718 , dasar alami untuk logarithma.
Tp = suhu puncak ( suhu solidus digaris fusi )
t’ = waktu pada suhu terkait.
Q = energi aktivasi untuk pertumbuhan butir.
R = konstanta gas universal
b dan n = konstanta yang ditentukan oleh jenis material.

Suhu dan waktu pada suhu menentukan pertumbuhan butir didalam HAZ, dan
sebagaimana telah diutarakan didepan butir dengan ukuran maksimum selalu berada
dibatas antar muka las. Berhubung semua jenis pengelasan mengalami hal serupa
2

yakni spektrum suhu puncak mulai dari To hingga suhu solidus, maka tinggal waktu
tinggal (residence time) t’ saja yang merupakan variabel penting. Dengan
berkurangnya laju pendinginan, menaikkan waktu tunggu, dan membesarkan ukuran
butir-butir kristal dalam HAZ.

Proses pertumbuhan kristal yang berlangsung dapat menyebabkan pertumbuhan


lateral dari butir kristal bahan las. Pada pengelasan bahan nikel murni, lebar butir butir
columnar yang berkembang dari HAZ berlanjut melebar kesona fusi. Sama halnya
dimetal baja lebar butir-butir columnar akan beberapa kali lebih besar dari ukuran butir
maksimum didalam HAZ. Lebar butir columnar hanya dapat dibatasi oleh ukuran jalur
las dan masukan energi busur nyala, misalnya suatu hal yang tidak mungkin untuk
mendeteksi HAZ dari nyala GTAW pada permukaan tembaga tuang kasar. Hal ini
disebabkan oleh waktu tinggal yang terlalu singkat sehingga tidak sempat terbentuk
pengembangan kristal.

Banyak logam yang tidak dapat diperkuat melalui perlakuan panas dapat diperkuat
melalui rolling dingin, misalnya logam paduan aluminium, paduan tembaga seri 1xxx ,
3xxx dan 5xxx.

3. MENGENDALIKAN KEULETAN (TOUGHNESS) DALAM H.A.Z.


Tidak seperti halnya logam fcc yang selalu daktil dalam segala suhu , metal bcc seperti
baja akan mengalami kondisi transisi dari daktil ke getas ( brittle ) pada suhu yang
sangat dipengaruhi oleh faktor metallurgis seperti struktur mikro , ukuran butir ,
kandungan carbon dan paduan , serta kandungan inklusi oksida . Kegetasan akibat
transisi ini dapat menyebabkan kegagalan yang membawa bencana (catastrophick).

G.13

Struktur mikro.
3

Keuletan metal las baja dapat dicapai manakala struktur mikronya banyak
mengandung acicular ferrite dengan sedikit sekali ferrite batas butir. , bainite dalam
jumlah minimum, dan tidak terdapat martensite. Kecuali apabila jumlah carbon sangat
sedikit sekali, struktur yang sepenuhnya bainite dan atau martensite harus
dihindarkan. Ukuran butir dan jumlah pemasukan (inklusi) kotoran harus serendah
mungkin . Pada gambar G.13 menggambarkan makin sedikit inklusi kotoran , makin
tinggi keuletan bahan.

Proses pengelasan
Karena mengandung austenite awal ( prior austenite ) dan acicular ferrite yang
butirnya berukuran kecil , dan inklusi kotoran yang amat sedikit sekali hingga dapat
dikatakan dapat diabaikan , maka sambungan las yang dilaksanakan dengan proses
GTAW , SMAW dan GMAW bermutu baik dengan tingkat keuletan yang tinggi
(sebagaimana dilaskan). Keuletan HAZ nya biasanya cukup baik karena butir-butirnya
kecil disebabkan oleh masukan panas ( heat input ) yang tidak terlalu tinggi.

Bahan filler
Bahan pemadu didalam bahan filler seperti mangan , nikel , molydenum , chromium
dan vanadium sangat bermanfaat dalam mendorong terbentuknya acicular ferrite
dalam cakupan laju pendinginan las yang lebih luas. Untuk mendapatkan keuletan
maksimum diperlukan jumlah bahan paduan yang optimum . Jika jumlahnya berlebihan
justru akan memberi pengaruh buruk terhadap keuletan (daktilitas) bahan.

Sarana meningkatkan keuletan

Masalah serius yang dihadapi dalam menggunakan proses pengelasan yang murah,
berinput panas tinggi seperti misalnya electroslag dan submerged arc welding adalah
kehilangan yang cukup besar daya keuletan materialnya terutama pada sumbu jalur
las dan pada HAZ yang berbutir kasar didaerah antarmuka las.

Ada beberapa cara untuk menaikkan keuletan produk las dari kedua proses tersebut
diatas, yakni:
o Perpaduan yang tepat dan kandungan carbon rendah
o Flux khusus.
o Alat yang menghasilkan konveksi tinggi.
o Gunakan getaran
o Teknik celah sempit
o Pemberian suplemen bubuk metal.
4

Cara yang paling praktis untuk menaikkan keuletan material adalah dengan
menggunakan cabon rendah, bahan tambah (filler) paduan untuk merangsang
terjadinya acicular ferrite, dan melambatkan (retart) terjadinya polygonal dan ferrite
batas butir, serta mengupayakan agar pemasukan kotoran rendah dengan
menggunakan flux semibasic atau basic.

Keuletan HAZ jauh lebih sulit dikendalikan karena HAZ termasuk bahan induk. Sedikit
perbaikan pada keuletan HAZ dihasilkan dengan menggunakan teknik pengelasan
dengan masukan panas kecil termasuk penggunaan celah sempit, kecepatan las tinggi
dan tambahan serbuk metal. Kemungkinan terbaik untuk menaikkan keuletan HAZ
adalah penggunaan jenis baja baru dengan masukan panas tinggi. Baja paduan
khusus yang mengandung titanium dan tambahan nitrogen diciptakan untuk melawan
pembesaran butir dalam HAZ.

Perlakuan panas terhadap ESW dan SAW menghasilkan perbaikan yang cukup
memuaskan dalam menaikkan keuletan baik bahan las maupun HAZ. Normalizing
menghasilkan struktur butir halus diseluruh sambungan las.
5

4. PEMANASAN AWAL (PREHEATING).


Pemanasan awal suatu sambungan las merupakan sarana yang paling effektif yang
biasa digunakan untuk mengurangi (1) laju pendinginan las dan HAZ, (2) besarnya
penyimpangan (distorsi) dan regangan pengkerutan sisa(residual shrinkage stress),
(3) keperluan masukan energi busur nyala untuk mengendapkan (mendeposisikan)
bahan las. Dua faktor pertama penting untuk menghindarkan terjadinya keretakan
dalam baja yang dapat mengeras (hardenable). Faktor ketiga biasa diperlukan untuk
mengelas bagian yang tebal dari bahan yang konduktif seperti tembaga atau
aluminium.

Dari laju pendinginan Adam dan persamaan puncak suhu HAZ, jelas bahwa
pemanasan awal dapat mengurangi laju pendinginan las dan memperlebar HAZ.
Perubahan ikutan dari pemanasan awal terhadap struktur mikro dan kekerasan
sambungan las dapat merupakan hal yang patut diperhitungkan.
Pemanasan awal terhadap pengelasan baja kandungan carbon tinggi 1080 dapat
menghasilkan struktur pearlite yang bebas retakan di HAZ, sedangkan pengelasan
tanpa menggunakan pemanasan awal dari bahan ini dapat menghasilkan martensite
yang getas di HAZnya.

Perhitungan pemanasan awal


Metoda untuk menentukan pemanasan awal yang tepat untuk pengelasan baja biasa
atau baja paduan rendah adalah (1) konsultasi dengan ASME Boiler Code Section IX,
AWS D 1.1 Structural Welding Code, API atau AASHTO Code (American Association
of State Highway and Transportation Officials). (2) perhitungan carbon equivalent (3)
referensi literatur yang diterbitkan, (4) menggunakan kurva CCT yang dipublikasikan.
Dibawah ini adalah contoh dari suatu pengelasan berdasarkan suatu standard code
dimana dipersyaratkan pemanasan awal untuk pengelasan suatu gradasi baja dan
ketebalan, misalnya AWS D1.1 Code menentukan bahwa pengelasan baja A588 yang
tebalnya 2” harus menggunakan proses SAW dengan pemanasan awal minimum
150ºF.

Dengan meningkatnya kandungan carbon , bahan paduan , dan ketebalan pelat ,


keperluan akan pemanasan awal menjadi sangat menentukan untuk mencegah
terjadinya keretakan. Untuk baja dengan komposisi tertentu , pemanasan awal dapat
dihitung berdasarkan carbon equivalent dibawah ini :
6

Dengan menggunakan nilai yang didapat dari persamaan diatas , persyaratan untuk
cakupan suhu pemanasan awal untuk mencegah terjadinya keretakan adalah sebagai
berikut :
o CE < 0.45% , pemanasan awal opsional
o CE > 0.45% atau < 0.60% , p.a = 200 ~ 400 ºF.
o CE > 0.60% p.a = 400 ~ 700ºF.

Asalkan tersedia diagram CCT yang sesuai untuk pelat baja yang harus dilas dan
bahan paduan yang diharapkan terjadi setelah pengelasan , metoda untuk menghitung
suhu pemanasan awal ini sangat berguna dan dapat dimanfaatkan hampir diseluruh
komposisi bahan paduan . Secara umum baja struktural harus dilas dengan
pemanasan awal secukupnya untuk mencegah terbentuknya martensite yang getas.
Dengan mempelajari diagram CCT pelat baja yang akan dilas dan komposisi bahan
las, laju pendinginan maksimum yang dibolehkan dapat dihitung.

Pengurangan distorsi dan regangan sisa ( residual stress ).


Tujuan berikutnya dari pemanasan awal untuk pengelasan bahan ferrous dan non
ferrous adalah untuk mengurangi distorsi dan regangan sisa. Ketika sambungan las
baja mendingin melalui cakupan austenite , dan akan halnya metal non ferrous ,
melewati suhu yang dinaikkan , metal metal tersebut memiliki kekuatan yang rendah
dan daya plastis yang baik. Karenanya bahan metal dan HAZ berubah secara plastis
untuk menyesuaikan perubahan dimensi yang diakibatkan oleh pengkerutan las.
Sewaktu pendinginan mencapai suhu kamar, regangan sisa terus bertambah, hal ini
disebabkan oleh proses pengkerutan berlanjut . Bagi pengelasan yang tidak diberi
pemanasan awal , tingkat distorsi dan regangan sisa menjadi jauh lebih besar dan sulit
diukur.

Dalam praktek , tingkat pengukuran penurunan distorsi dan regangan sisa sulit
diprakirakan karena tergantung pada banyak faktor seperti misalnya besarnya
kekangan (restrain), suhu pemanasan awal, penyiapan kampuh dan masukan panas.

5. PERLAKUAN PANAS PASKA LAS (POST WELD HEAT TREATMENT).


Banyak sekali obyek metallurgis yang dapat dicapai melalui proses perlakuan panas
paska las (PWHT), misalnya pembebasan regangan (stress relief), stabilitas dimensi,
ketahanan terhadap retak karat regangan (stress corrosion cracking), peningkatan
keuletan (toughness) dan kekuatan mekanis.
PWHT yang paling umum untuk baja adalah pembebasan stress subkritis, normalizing,
dan quench & temper. Perlakuan panas yang biasa dilakukan untuk bahan non ferrous
, seperti paduan aluminium , adalah pembebasan stress paska las , perlakuan panas
7

larutan penuh dan penuaan ( full solution heat treatment & aging ) , aging saja , dan
anilisasi (pelunakan).

Pembebasan stress mungkin merupakan salah satu perlakuan panas yang paling
sering dilaksanakan untuk mengurangi stress sisa pengelasan pada sambungan las
yang mengalami pengekangan berat (heavy restrain) atau yang peka terhadap
keretakan.

Mekanisme yang dominan dalam pembebasan regangan adalah relaksasi regangan


dan temperisasi martensite atau penuaan lanjut (overaging) dari paduan precipitation
hardening (pengerasan setelah dilaskan). Dalam hal baja, cakupan suhu pembebasan
regangan berkisar dari 895 hingga 1240ºF yang sebenarnya berada dibawah suhu
transformasi eutectoid selama paling sedikit 1 jam per inci tebal.

Sering dilaksanakan orang , deposit las pada baja yang sangat mudah dikeraskan
(high hardenability) seperti misalnya baja 4130 dimasukkan kedalam dapur pembebas
regangan sebelum sempat mendingin hingga dibawah suhu pemanasan awal atau
suhu antar pass, akibatnya struktur mikronya tidak mengandung martensite, karena
struktur austenite yang tersisa setelah pengelasan ditransformasikan kebainite
sewaktu pembebasan regangan sesuai diagram TTT baja 4130 tersebut. Apabila
pengelasan baja ini menghasilkan martensite, hal ini disebabkan oleh kurangnya
pemanasan awal, untuk mengatasi hal tersebut dilaksanakan proses pembebasan
regangan yang akan mengurangi kekerasan (menemper) struktur martensite kestruktur
yang kekerasannya lebih rendah namun meningkatkan keuletan dan daktilitasnya.

Pembebasan regangan paska las dapat menghapuskan retak karat regangan caustic
(caustic stress corrosion cracking) yang terjadi di HAZ dari baja ASTM A 516 gr. 70.

Kombinasi antara regangan sisa dan perbedaan galvanis diantara bahan las, HAZ dan
bahan induk, memberikan kontribusi yang cukup memadai (signifikan) pada ketahanan
terhadap karat regangan yang dihasilkan dari pengelasan pengelasan tersebut diatas.

Normalizing paska las

Proses normalizing paska las berlaku terutama untuk bahan baja. Perlakuan ini secara
umum sama dengan pada proses penuangan, yakni meningkatkan keuletan dan
menghilangkan struktur butir yang kasar. Proses ini menguntungkan bagi electrode
slag welding (ESW). Karena masukan panas yang cukup tinggi, 2286 kJ/inci untuk
8

pengelasan setebal 2”, HAZ yang luas dan ukuran butir yang besar/kasar, ESW
mengalami penurunan keuletan yang luar biasa. Beberapa standard pengelasan
mengijinkan penggunaan electro slag welding pada bagian yang mengalami tegangan
awal, namun dengan syarat asalkan setelah pengelasan dinormaize terlebih dahulu.
Masalahnya adalah bahwa normalizing merupakan proses yang cukup mahal
dibanding pembebasan regangan. Normalizing memerlukan pemanasan yang cukup
tinggi (antara 1600 hingga 1700ºF untuk jangka waktu 1 jam per inci tebal). Suhu ini
memaksa pelaksana membawa komponen atau equipment yang dinormalize kedalam
dapur pemanas.
Keuntungan normalizing paska las adalah: 1) menghilangkan struktur butir columnar
yang kasar dan kristal yang besar diHAZ, 2) peningkatan keuletan pada sumbu las dan
HAZ. Ciri khas struktur mikro lasan yang dinormalize adalah campuran butir halus
antara pearlite dan polygon ferrite. Misalnya pengelasan electroslag pada baja A588,
normalizing paska las akan menaikkan keuletan CVN dari 7 ft.lb menjadi 50 ft.lb. pada
0ºF.
9

Normalizing biasanya tidak terlalu menguntungkan bagi GTAW, SMAW atau GMAW
dibanding SAW dan ESW, karena struktur mikro pada HAZnya tidak terlalu kasar
berhubung masukan panasnya tidak terlalu tinggi dan ukuran jalur (rigi-rigi) yang kecil.
Namun bukan berarti normalizing kurang baik untuk ketiga jenis proses las yang
terdahulu. Normalizing baik untuk semua jenis las karena merubah struktur mikro
menjadi kecil yang merupakan gabungan antara pearlite dan polygon ferrite.

Quench dan temper

Proses quench & temper sangat mahal , oleh karenanya dikhususkan hanya untuk
pengelasan baja 4130 , 4140 , 4340 , H – 11 dan baja dengan kekuatan tinggi lainnya
yang harus diberi perlakuan panas serta yang digunakan untuk kekerasan yang tinggi.
Baja quench & temper seperti A514 , A517 ( T-1 ) dan A508 ( HY-80 ) , yang dapat
diberi perlakuan panas , mengandung carbon dan bahan paduan yang cukup tinggi
untuk mendapatkan sifat kekerasan tinggi dan sifat dapat diperkeras yang dikehendaki
setelah quench dan temperisasi paska las .

Perlakuan solusi dan penuaan (aging)

Perlakuan solusi dan penuaan adalah proses perlakuan panas paska las ( PWHT )
yang diterapkan pada bahan paduan yang mengeras setelah dilaskan ( precipitation
hardening alloy ) untuk mendapatan kekuatan yang merata antara bahan induk , bahan
las dan HAZ. Apabila pendinginan las cepat sebagaimana halnya pada Electron Beam
Welding (EBW), maka hanya dengan proses penuaan saja (aging) akan dapat
menghasilkan kekuatan bahan yang cukup berarti (signifikan). Pada kasus yang
terakhir ini bahan las dan HAZ yang berkristal besar perlu diberi perlakuan solusi
setelah pengelasan.
10

6. HEAT TREATMENT LOGAM


Tukang las harus mengenal dengan bagaimana melunakkan (soften)
mengeraskan (harden), melunakkan sampai batas tertentu (tempering) dari logam.
Struktur logam dalam keadaan padat adalah lebih pejal daripada dalam keadaan cair.
Ketika logam dalam keadaan padat, atom-atom dalam kristal menjadi padat dan
dibungkus dalam suatu bentuk yang teratur ke dalam ruang kisi-kisi. Bentuk teratur dari
pembungkus (packing) membuat struktur logam dingin sangat pejal. Ketika logam cair,
pergerakan atom-atom karena panas memberikan bentuk struktur yang kurang pejal.
Kombinasi tata kerja panas dan dingin untuk mempertahankan sifat-sifat yang
dikehendaki dalam suatu logam atau paduan dikenal sebagai Heat Treatment.
Dalam baja karbon dengan unsur karbon tertentu, sifat fisiknya tergantung dari
bagaimana bentuk karbon yang ada, oleh karena itu, pengaruh heat treatment
tergantung dari bagaimana perlakuan mengubah pendistribusian karbon. Sikap tidak
memperhatikan kandungan karbon, bila baja karbon diperlakukan untuk menjadi keras
atau lunak, baja awalnya harus berubah zat padat. Baja-baja < 0,83 %C, pemanasan
mengikuti cara yang sama, kecuali bahwa baja tidak dipanaskan sampai dimana
bentuk Austenite homogen. Pemanasan yang merata diatas temperatur kritis, jika
dipertahankan konstan sampai karbon larut dan menghambur ke seluruh logam, akan
menghasilkan Austenite homogen ini. Jika pemanasan yang merata ini dipertahankan
dalam waktu yang lama, khususnya baja-baja umum, maka akan dihasilkan bahan
dengan butiran yang kasar. Struktur dan kekerasan sepotong baja yang telah selesai
pengerjaannya tergantung pada metode dan nilai pendinginan.
Pelunakan penuh (full annealing) adalah hasil pendinginan pada nilai yang
sangat lambat, proses yang mana dapat mengubah Austenite (iron carbide) ke dalam
pearlite. Proses full annealing pada baja < 0,83 %C (Hypoeutectoid) memberikan body
struktur pearlite dan ferrite, sedangkan baja >0,83 %C (Hypereutectoid) akan menjadi
pearlite dan cementite ketika dilunakkan penuh. Kalau begitu, full annealing akan
dipengaruhi oleh kandungan karbon dalam baja.

7. KEKERASAN BAJA (Hardness of Steel)


Kekerasan baja tergantung dari pengubahan struktur pearlite yang mungkin
diberikan apabila full annealing dilakukan. Selama heat treatment, beberapa
perubahan austenite ke dalam pearlite, memerlukan waktu tertentu. Seperti
memungkinkan menghasilkan berbagai dengan mengubah waktu dan prosedur
pendinginan. Bilamana proses pengubahan selesai, struktur akan stabil dan tidak akan
mengalami perubahan bilamana didinginkan sampai mencapai temperatur kamar.
8. PELUNAKAN (Annealing)
11

Temperatur dan nilai pendinginan tergantung pada bahan yang sedang


dipanaskan dan tujuan perlakuan selama pelunakan. Pelunakan dapat memurnikan
butiran struktur dan membuat baja lebih ulet. Baja yang stress karena penuangan atau
las dapat dibebaskan dari stress ini dengan annealing yang tepat. Baja yang susah
dikerjakan dengan mesin karena kekerasan dapat dilunakkan dengan annealing yang
tepat.
Bila dipanaskan, baja karbon akhirnya mencapai suatu titik dimana baja
menjadi non-magnetic. Dalam pengelasan, titik ini dikenal dengan Titik Kritis. Selama
full annealing, baja harus disimpan dalam suatu container yang rapat dan dipanaskan
sampai sekurang-kurangnya 100o F (38o C) diatas daerah kritis. Temperatur harus
dipertahankan konstan selama satu jam untuk setiap inchi penampang maksimum dari
baja yang sedang dilunakkan.
Pembengkokan dapat dipermudah dengan pemanasan, apabila panas
diberikan sedikit demi sedikit, dan pemanasan lambat akan menjamin temperatur lebih
merata antara permukaan dan dalamnya logam. Setelah pemanasan yang diinginkan,
pendinginan secara perlahan-lahan mengubah austenite menjadi pearlite. Ketika
pengubahan telah selesai, bahan yang bebas dari stress bagian dalam dan memiliki
kualitas ulet yang tinggi.

9. PENORMALAN (Normalizing)

Stress yang dibentuk didalam baja karena panas las atau melalui pengerjaan
dingin dapat dinormalkan. Baja yang telah dinormalkan adalah lebih keras daripada
baja yang telah dilunakkan dan mempunyai tegangan tarik yang lebih besar,
sedangkan mempertahankan kondisi tetap lunak dan ulet. Baja karbon tinggi dan
beberapa baja paduan meskipun demikian, menjadi sangat sulit melalui penormalan
sehingga tidak dapat dikerjakan dengan mesin.
Baja dipanaskan sampai sedikit lebih tinggi dari temperatur untuk normalizing
daripada untuk annealing. Waktu yang relatif pendek perlu untuk merubah austenite
adalah semua yang diperlukan untuk normalizing. Pendinginan logam masih dalam
udara temperatur kamar, segera setelah mengeluarkan baja dari dapur,
memungkinkan beberapa pearlite terbentuk. Dingin, sirkulasi udara dapat
mengeraskan baja, suatu keadaan yang mudah dikenal dan dipahami oleh banyak
tukang las setelah mempelajari pengerasan baja. Normalizing adalah metode yang
digunakan secara memuaskan pada logam-logam yang dikeraskan (work hardened)
atau lelah karena dilas (fatigue-welded) untuk meningkatkan umur yang diharapkan.
10. PENGERASAN (Hardening)
12

Kekerasan dari banyak baja komposisi, tergantung dari bagaimana cepatnya


baja didinginkan setelah dipanaskan. Kekerasan logam akan bervariasi dari
permukaannya sampai ke intinya. Ini tergantung pada lama pencelupan dan metoda
yang digunakan. Pendinginan ini dikenal sebagai pencelupan (quenching), dikerjakan
dengan meletakkan logam yang panas dalam udara, minyak, air atau air garam (brine).
Brine adalah larutan garam dan air yang digunakan dalam tempat air untuk membuat
kekerasan lebih merata di seluruh permukaan bahan.

Pencelupan-udara (Air-quenching)
Pencelupan di dalam udara adalah bentuk pengerasan lunak yang dikenal
sebagai normalizing dan akan disebut beberapa kali nanti, karena pemakaiannya pada
pengelasan dan postheating. Banyak baja paduan tinggi dapat dikeraskan dengan
udara untuk sebuah baja alat potong.

Pencelupan-minyak (Oil-quenching)
Logam yang didinginkan dalam minyak tidak akan banyak berubah seperti
logam-logam yang didinginkan dalam air, karena nilai pencelupan yang lebih lambat
dari minyak. Kekentalan (kemampuan untuk mengalir) dari minyak semestinya
membiarkan bebas perputaran sekitar bahan yang didinginkan. Metoda Oil-quenching
dapat digunakan secara memuaskan pada baja hypereutectoid dan berbagai macam
baja paduan rendah untuk pengerasan penuh.

Pencelupan-air (Water-quenching)
Pada temperatur dibawah 100o F (38o C), air digunakan untuk mencelupkan
berbagai macam baja dari karbon dan karbon menengah, paduan rendah, baja. Sebab
pengaruh pencelupan cepat dari air, baja karbon rendah dapat dikeraskan dengan
memuaskan. Pengaruh pencelupan air bertambah dengan menyemprotkannya pada
logam yang dipanaskan atau memutarkannya seperti logam dicelupkan. Nilai
pendinginan dengan minyak dan air seperti diagram berikut :
13

Nilai pendinginan selama


pencelupan. Menggambarkan untuk
besi bulat Ø 1”.
(A) Permukaan logam (B) jalan
tengah ke pusat (C) inti/ pusat logam

Air garam (brine)


Ketika brine bersinggungan dengan baja panas, air garam ini membuat
pemutaran sehingga akan memisahkan gelembung-gelembung yang dapat
menimbulkan titik-titik lunak oleh penyekatan logam. Air-garam tidak seperti air sebab
air garam mempunyai sekitar 10% garam. Sedangkan pencelupan air akan mengubah
bagian luar logam menjadi martensite lebih cepat dibanding bagian dalam.
Pengubahan austenite menjadi martensite menambah volume logam, yang
dapat menyebabkan retak ketika martensite dicapai bagian dalam.

Pencelupan tidak terus-menerus (Interrupted-quenchs)


Kebanyakan tukang las akan sedikit memiliki praktek yang digunakan untuk
informasi tentang interrupted-quenchs, tetapi informasi ini akan membantu untuk lebih
baik pengertian konstruksi baja dan formasi.
Interrupted-quenchs menekan/ menahan austenite yang sedang diubah
menjadi pearlite, sedangkan demikian juga menghindari formasi martensite. Larutan
untuk tujuan pencelupan dipertahankan pada temperatur tertentu dan logam
dipertahankan dicelupkan hingga formasi tertentu dicapai. Pemutaran selama
pencelupan dibatasi dan menggunakan garam cair membuatnya memungkinkan
mengeraskan bagian-bagian yang sudah jadi (selesai pengerjaannya).
Austenite dapat diubah menjadi bainite, struktur antara pearlite dan martensite.
Bilamana baja didinginkan secara tiba-tiba sampai kira-kira 800o F (427o C) dan
dipertahankan pada sekitar 500o F (260o C) selama beberapa waktu, terbentuklah
bainite. Prosedur tempering ini dikenal sebagai austempering, memberikan keuletan
lebih besar dan ketegapan (toughness) baja dengan sedikit perubahan.
14

Martempering berarti pencelupan dalam garam cair pada temperature diatas


titik dimana martensite membentuk. Bilamana temperatur merata seluruh logam karena
waktu pencelupan yang lebih lama, struktur martensitic dibentuk. Martempering adalah
lebih cepat dibanding austempering dan lebih memuaskan untuk pengerasan bagian-
bagian yang besar/ berat.

Pengurangan kekerasan (tempering)


Setelah baja dikeraskan dengan pencelupan, dapat juga gagal dibawah suatu
beban kerja karena sisa (didalam) stress. Apabila logam telah dikeraskan secara
penuh, mungkin akan menjadi terlalu keras dan rapuh untuk melakukan suatu
pekerjaan yang memuaskan.
Austenite mempunyai kecenderungan untuk mengubah menjadi martensite.
Sebaliknya hal ini akhirnya akan mengkerut dan gagal. Karena austenite lebih pejal
dibanding martensite, berbagai perubahan menjadi suatu struktur yang kurang pejal,
akhirnya menyebabkan kegagalan. Untuk menstabilkan austenite, dengan tempering
akan membuat lebih keras/ tegap, formasi rapuh lebih kecil dengan stress (didalam)
lebih rendah.
Tempering menghendaki pemanasan kembali bahan yang telah dikeraskan
sebelum benda telah menjadi dingin dan mencapai temperatur kamar. Pemanasan
kembali membentuk kristal carbide dari karbon dibebaskan dari martensite; bahan
yang sisa adalah suatu microstructure martensite yang ditemper.
Tempering memerlukan keterampilan dan pengalaman, karena komposisi baja
tergantung pada waktu dan temperatur yang dikehendaki untuk memproduksi struktur
yang memuaskan. Temperatur pemanasan kembali harus diantara 300o F (149o C) dan
temperatur kritis; namun demikian temperatur pemanasan kembali tergantung asal
mulanya baja dan reduksi kekerasan yang diperbolehkan. Baja dengan kandungan
karbon yang sama, tetapi berbeda presentasi unsur paduan, menghendaki prosedur
tempering yang berbeda. Ketegapan/ kekerasan biasanya lebih tinggi dalam baja
dimana panas tempering lebih tinggi telah memungkinkan. Keinginan tukang las dalam
tempering, karena itu, mengatasi dari fakta bahwa tempering membuat baja kuat, sifat
penting untuk memberikan baja kemampuan bertahan pada suatu beban tanpa patah.

RANGKUMAN PERLAKUAN TERHADAP LOGAM


Proses-proses yang mencakup keseluruhan dapat direview dan disimpulkan
untuk mengatur treatment ini karena seorang tukang las membutuhkannya.
15

Preheating (pemanasan pendahuluan)


Mempergunakan panas sebelum pengelasan untuk mengganti kerugian selama
stress sisa didalam suatu perubahan dikenal sebagai preheating. Pada saat yang
sama, preheating memperbaiki kualitas las apabila mungkin. Preheating dapat
dilakukan dengan pembakar oxy-acetylene atau pembakar preheating dengan bahan
bakar lainnya. Metoda ini adalah memuaskan untuk area kecil atau tempat-tempat
terpisah, tetapi api dapur tempa atau api untuk dapur preheating permanen harus
digunakan bilamana keseluruhan unit harus di-preheating.
Preheating menurunkan nilai pendinginan dari las-lasan yang telah selesai,
membantu membatasi keretakan di daerah las dan membantu formasi retak besar.
Temperatur preheat yang disarankan seperti tabel dibawah ini :

Temperatur preheat yang disarankan


% (o F)
Baja
Kandungan Carbon Temperatur
- Mild Steel 0,05 – 0,30 258 (118o C)
- Medium carbon 0,30 – 0,55 600 (316o C)
- High carbon 0,55 – 0,75 700 (371o C)
- Very high carbon 0,75 – 1,5 800 (427o C) +
- Manganese carbon 1,2 tidak diperlukan
- Stainless (18% Chromium
tidak diperlukan
dan 8% Nikel)

Postheat (pemanasan tempat las)


Pemanasan logam setelah pengelasan atau pemotongan dinamakan
postheating. Ini dilakukan untuk memperbaiki sifat daerah yang kena pengaruh panas
(HAZ) berdekatan dengan las untuk melepaskan beberapa tegangan sisa (residual
stress).

Annealing (pelunakan)
Pemanasan dan pendinginan bahan dengan perlahan-lahan untuk
menghilangkan stress seperti dalam postheating dinamakan annealing. Perlakuan ini
akan membuat keras, logam-logam ferro lunak dan oleh karena itu merubah sifat fisik
seperti keuletan dan ketegapan. Tipe bahan dan alasan untuk annealing akan
menentukan temperatur dan nilai pendinginan. Pendinginan lebih lambat, akan
menjadikan bahan lebih lunak bila didinginkan. Suatu petunjuk untuk temperatur
pemanasan adalah suatu titik tepat diatas titik kritis. Apabila bahan dipanaskan
16

ditempatkan dalam abu panas, asbestos atau kapur, pendinginannya diperlambat.


Bahan non-ferrous seperti tembaga tidak perlu dikacaukan dengan ferrous-annealing,
karena hal tersebut dilunakkan, menjadi pemanasan dan pencelupan dalam air
pendingin.

Stress releaving (pembebasan tegangan)


Tegangan sisa (internal stress) ditimbulkan melalui pengelasan harus dibatasi
dengan postheating. Temperatur untuk stress releaving adalah selalu dibawah daerah
kritis, sedangkan untuk annealing dan normalizing adalah selalu diatas daerah kritis.
Stress releaving tidak perlu dilakukan didalam daerah kritis, karena ini menimbulkan
penggeliatan dan mengubah struktur butiran dan ukuran. Ini dapat menyebabkan cacat
las. Baja karbon dan baja paduan harus menghisap (menyerap) karbon pada
temperatur yang berbeda-beda, biasanya sekitar 1100o F (593o C) sampai 1250o F
(677o C), tergantung pada tebal bahan. Suatu nilai lambat pemanasan dan pendinginan
adalah sangat penting dalam stress releaving. Bahan-bahan yang memperlihatkan
perubahan setelah pengelasan biasanya bebas dari tegangan sisa. Bilamana
dipanaskan kembali untuk memperbaiki cacat dalam ukuran, bagaimanapun
pemukulan (peening) harus mengikuti stress releaving.

Hardening (pengerasan)
Baja-baja dengan kandungan karbon dibawah 0,83% dapat dipanaskan sampai
diatas daerah kritis dan dicelupkan di udara, air atau minyak untuk membentuk
martensite, menghasilkan kekuatan yang tinggi, tahan aus dan keras. Untuk
mengembangkan kekerasan penuh, variasi nilai pendinginan tergantung pada
komposisi baja. Baja-baja dibawah 0,3 %C dapat agak dikeraskan, tapi biasanya tidak
untuk dipraktekkan.

Tempering (pengurangan kekerasan)


Penarikan, yang dikenal dengan tempering, terjadi setelah pengerasan untuk
membuat bahan keras tegap, lebih baik daripada rapuh. Baja yang dikeraskan
dipanaskan sampai temperatur di bawah temperatur kritis. Pemanasan kembali
menguraikan martensite menjadi suatu susunan (matrix) ferrite dari butiran-butiran iron
carbide. Dengan kandungan karbon lebih rendah didalam baja, ketegapan akan
menjadi utama, karena ada kekerasan yang lebih rendah ketika digunakan temperatur
untuk tempering. Postheating suatu las juga melunakkan logam berbatasan dengan las
dan membebaskan tegangan (stress). Pengelasan oxy-acetylene memberikan area
17

tempering yang lebih besar daripada area las listrik. Biasanya postheating setelah
pengelasan oxy-acetylene tidak diperlukan.

Normalizing (penormalan)
Bahan yang dilas, khususnya dekat area las, dipanaskan diatas daerah kritis
dan dibiarkan dingin dalam udara, akan diperoleh hasil yang bagus, dalam normalizing.
Ini memperbaiki apa yang telah diterangkan sebelumnya sifat-sifat mekanis dengan
memperhalus ukuran butiran.

Case Hardening (pengerasan bagian luar)


Ini adalah bentuk dari pemberian karbon dan sama dengan pengerasan dengan
nyala api. Selama case hardening, namun demikian hanya bagian luar bahan yang
dikeraskan. Karbon ditambahkan pada permukaan logam, membiarkan bagian dalam
tidak berubah. Hanya baja murni dan baja karbon rendah dapat menyerap karbon
melalui case hardening, dengan demikian permukaannya diubah menjadi suatu alat
atau baja karbon tinggi.
Bahan yang akan di case hardening ditempatkan didalam suatu kontainer
tertutup yang berisi bahan karbon tinggi. Selanjutnya kontainer dipanaskan sekitar
1800o F (983o C), dan baja menyerap karbon bebas. Ketebalan case atau dalamnya
penembusan karbon tergantung pada lamanya waktu pemanasan.
18

SIFAT MEKANIS BAHAN

Karena sifat mekanis menentukan logam mampu bertahan dari robek atau
patah bilamana diberi beban, hal ini dianggap sebagai sifat-sifat yang paling penting
dari pandangan tukang las.

Brittleness (kerapuhan)
Banyak logam yang akan pecah segera, tanpa pembengkokan ringan, dan
dibawah tegangan rendah, dapat diklasifikasikan sebagai rapuh. Kerapuhan seperti
yang didapat dalam besi tuang, adalah salah satu dari sifat-sifat mekanis, tukang las
harus tahu.

Gbr 1. Suatu contoh kerapuhan.


Garis putus-putus
menunjukkan
bentuk awal dari besi tuang

Ductility (keuletan)
Logam dengan keuletan yang bagus dapat dirubah bentuk dengan paksa tanpa
patah. Ini membiarkan logam untuk dikerjakan dalam keadaan dingin, dipukul atau
dipress menjadi berbagai macam bentuk.
19

Gbr 2. Suatu contoh keuletan.Garis


putus-putus menunjukkan
bentuk awal dari baja

Salah satu penerapan dimana keuletan dianggap sangat penting adalah pembuat
(produksi) kawat. Disini baja harus ditarik melalui cetakan untuk mengurangi besarnya
diameter berapapun dibutuhkan. Kemampuan baja untuk ditarik melalui cetakan tanpa
patah/ pecah tergantung dari keuletannya.

Gbr 3. Diameter lebih kecil sedang


dibentuk dengan menarik
melalui suatu cetakan

Compressive strength (kekuatan tekan/ kompresi)


Sifat mekanik yang lain dari logam adalah kekuatan tekan. Logam-logam
dengan kekuatan tekan yang besar akan tahan suatu gaya diatas permukaan yang
luas tanpa berubah bentuk. Gaya harus diberikan secara perlahan-lahan dan merata,
tidak seperti gaya tajam yang digunakan untuk menguji kerapuhan.
Contoh bagus dari kekuatan tekan/ kompresi adalah motor diesel/ bensin
dimana blok mesin/ atau cylinder head harus mampu menahan kompresi mesin diatas
200 lb/in2 tekanan di dalam cylinder, cylinder head yang dibuat dari besi tuang bisa
retak apabila dijatuhkan ke lantai beton dari ketinggian sekitar dua feet (sekitar 62 cm).
20

Gbr 4. Bagian-bagian motor baker


harus memiliki banyak
sekali tegangan kompresi

Tensile strength (tegangan tarik)


Suatu sifat dikenal juga sebagai kekuatan maksimum adalah lebih mengacu
kepada tegangan tarik. Inilah sifat logam yang menjelaskan beban normal maksimum
per satuan suatu bahan bertahan tanpa kegagalan. Tegangan tarik diukur dalam
ribuan pound per inchi persegi; bilamana karbon ditambahkan, tegangan tarik baja
akan meningkat terus menerus karena karbonnya ditambah sampai 0,83 %.
Penambahan karbon setelah 0,83 % akan menyebabkan tegangan tarik akan
berkurang seperti dalam gambar dibawah ini:
Gbr 5. Bagaimana baja
dipengaruhi oleh
penambahan karbon. (A)
Tegangan tarik bertambah
karena kandungan karbon
bertambah sampai 0,83 %.
Apabila ditambahkan diatas
0,83 %, tegangan tarik
berkurang. (B) Karena
karbon ditambah, keuletan
berkurang. (C) Karena
karbon ditambah,
temperatur cair berkurang.

Toughness (kuat)
Logam juga harus tahan terhadap goncangan tiba-tiba, yaitu suatu sifat yang
dikenal sebagai toughness (kuat/ ketegapan). Toughness kadang-kadang digambarkan
21

dalam kejuruan las yaitu kebalikan dari kerapuhan dan melibatkan keuletan dan
kekuatan. Bilamana baja diperlakukan dengan metode pengerasan, dipanaskan
kembali sampai temperatur dibawah temperatur kritis, diikuti dengan pendinginan yang
dikehendaki, baja menjadi kuat. Temperatur kritis adalah bahwa temperatur dimana
baja berubah densitinya, ukuran butirannya, kekerasannya, distribusi karbonnya dan
daya tahan terhadap korosi; dan menjadi non magnetic karena reaksi atomnya.
Kondisi ini digambarkan lebih penuh nanti didalam bab lain.

Malleability (kelunakan)
Logam non-ferro seperti aluminium, tembaga, perak dapat dirol menjadi
lembaran yang tipis, kemampuan ini, paling baik menggambarkan sifat mekanik yang
lain, dikenal sebagai malleability. Ini adalah suatu kemampuan logam untuk dibentuk
dengan tempa, press, pengerolan, tanpa adanya pertambahan perhatian khusus
berarti dalam perlawanan terhadap pembentukan.

Gbr 6. Malleability – kemampuan dari


logam untuk dikerjakan dalam
keadaan dingin tanpa adanya
perhatian perlawanan (sangat
mudah)

Impact strength (kekuatan tumbuk)


Kemampuan logam untuk tahan kejutan tanpa pecah dikenal sebagai impact
strength. Impact adalah suatu tipe aus yang disebabkan oleh pukulan seperti pengaruh
pemukulan. Tahan terhadap tumbukan memerlukan ketegapan suatu logam.
Pemukulan yang terus-menerus, atau tumbukan, pada logam pada waktu yang lama
dapat menimbulkan kondisi yang dikenal gengan fatigue (kelelahan).
Fatigue dapat dikenal bilamana logam memperlihatkan adanya tanda pecah/ retak,
biasanya ditunjukkan dengan suatu retak yang makin panjang, ditimbulkan oleh stress
yang terus-menerus. Kegagalan baja-baja atau logam lain dari fatigue terjadi pada
temperatur biasa. Pemberian beban yang diulang-ulang menimbulkan stress
(tegangan) pada suatu cacat tumbuh pada titik dimana bahan menjadi lemah dan
22

gagal. Korosi bertindak mempercepat kelelahan, tetapi tidak bertanggung jawab untuk
memulai.

Gbr 7. Kegagalan kelelahan


(A), (B), (C) menunjukkan
kemajuan cacat

Stress (tekanan)
Ketika logam ditempatkan dibawah stress, logam mungkin bengkok seperti
elastis. Pembengkokan seperti dinamakan elasticity. Apabila logam kembali ke bentuk
asalnya bila stress dilepaskan. Ketika paduan ferro ditekan, pertama-tama mengalami
deformasi elastis dan apabila tekanan ditambah sampai ke tingkat cukup tinggi, logam
akan berubah bentuk seperti plastik. Penambahan temperatur akan menurunkan nilai
tekanan untuk merubah bentuk logam ini. Batas elastik adalah titik tekanan maksimum
yang tidak akan menyebabkan deformasi permanen dan membiarkan logam kembali
pada bentuk aslinya.
Gbr 8. Batas elastis
ditunjukkan pada suatu batang
baja
(A) Gaya yang diberikan pada
batang baja
(B) Gaya dilepas – batang
kembali pada bentuk
asalnya sebab batas
elastis belum dilampaui
(C) Gaya dilepas – batang
tidak kembali ke bentuk
asalnya karena gaya
melampaui batas elastis
23

bahan

Creep (timbul pelan-pelan)


Sekali batas elastis telah dicapai, gaya kecil, gaya tetap yang didesakkan
dalam waktu yang lama akan menimbulkan suatu perubahan lambat, perubahan
permanen dalam bentuk bahan dikenal sebagai creep.
Bilamana logam dipanaskan mencapai temperatur yang sangat tinggi akan
hilang bentuknya, karena pengaruh yang ditimbulkan oleh perubahan temperatur.
Creep telah digambarkan sebagai suatu deformasi lambat dalam zat metalic
disebabkan oleh gaya kecil, gaya tetap, tepat dibawah batas elastic, berjalan dalam
waktu yang lama.

Creep – garis merah menunjukkan


bentuk asal dari pegas. Beban
kontinyu telah menyebabkan
deformasi dari pegas.

Tegangan tarik dan kekerasan adalah hanya dua sifat mekanik yang sejak awal ahli
teknik menggunakan dalam perencanaan untuk keselamatan. Sebagaimana tenaga
mekanik bertambah, pemisahan bahan yang mengalami tambahan beban setelah
penambahan waktu yang digunakan. Ini menjadi dikenal sebagai kelelahan (fatigue),
yang masa kini nilainya 90% dari semua uraian mekanik. Karena itu tegangan fatigue
logam menjadi salah satu dari sifat mekanik yang paling penting dihadapi tukang las
modern.
Semua logam dan paduan akan mengalami creep (timbul pelan-pelan) apabila
ditundukkan kepada tegangan (stress) pada temperatur minimum tertentu, tentunya
ilmu pengetahuan sifat ini juga penting. Saat ini, tegangan tinggi, dikombinasi dengan
temperatur tinggi, sedang meningkat di banyak industri. Mempelajari pengetahuan
untuk mencari bahan-bahan baru yang dapat bertahan pada tegangan (stress) yang
diperlukan pada temperatur dikehendaki, oleh karena itu efisiensi meningkat, menjadi
penting. Umur perjalanan ruang angkasa membuat sifat creep seperti penting untuk
tukang las masa datang sebagai fatigue bagi ahli teknik sebelum mesin uap. Semua
sifat-sifat ini akan diikuti secara periodik, untuk menjelaskan kesesuaian logam dan
paduannya selama pengelasan.