Anda di halaman 1dari 2

Obat rusak adalah obat yang bentuk dan kondisinya tidak dapat digunakan lagi

atau rusak. Kadaluarsa adalah waktu yang menunjukkan batas terakhir obat masih
memenuhi syarat baku. Daluarsa dinyatakan dalam bulan dan tahun harus dicantumkan
dalam etiket.
a. Pengelolaan Obat rusak dan kadaluarsa
1) Mengumpulkan obat-obatan yang rusak dan kadaluarsa .
2) Catat jenis dan jumlah obat yang rusak/ kadaluarsa tersebut pada kolom pengeluaran.
3) Isi format laporan.
4) Kirim obat yang rusak/ kadaluarsa bersama-sama laporan ke Dinas Kesehatan Kota.
b. Manfaat informasi laporan obat rusak atau kadaluarsa, antara lain.
1) Untuk memperbaharui catatan mutasi obat dalam kartu stok pada satuan kerja yang
melaporkan dan menerima kembali obat rusak/daluarsa.
2) Untuk mengetahui persediaan obat yang betul-betul dapat dipakai.
3) Sebagai informasi awal untuk menulusuri penyebab kerusakan obat.

emua resep di simpan selama 3 tahun, setelah 3 tahun resep di musnahkan.


Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai
oleh Apoteker pengelola apotek bersama dengan sekurang-kurangnnya seorang petugas
apotek. Pada pemusnahan resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan
bentuk yang telah ditentukan, rangkap 4 dan ditanda tangani oleh APA bersama dengan
sekurang-kurangnya seorang petugas apotek, dan mengundang salah satu perwakilan
dari dinas BPOM untuk menyaksikan pemusnahan resep dan untuk tanda tangan di
berita acara.
Berita acara pemusnahan memuat:
1. Hari,tanggal,tahun pemusnahan
2. Nama dan jumlah saksi
3. Nama dan jumlah resep yang dimusnahkan
4. Cara pemusnahan
5. Tanda tangan dari APA dan AA

Obat rusak atau kadaluarsa adalah kondisi obat bila konsentrasinya sudah
berkurang antara 25-30% dari konsentrasi awalnya serta bentuk fisik yang
mengalami perubahan (Seto, 2002: 34).
Obat rusak yaitu obat yang bentuk atau kondisinya yang tidak dapat
digunakan lagi, sedangkan waktu kadaluarsa yaitu waktu yang menunjukan batas
akhir obat masih memenuhi syarat dan waktu kadaluarsa dinyatakan dalam bulan
dan tahun harus dicantumkan pada kemasan obat. Obat rusak dan kadaluarsa
dengan kadar dan fungsi yang telah berubah mengakibatkan penyakit pada
manusia serta dapat menimbulkan kematian (BPOM, 2009).
Obat yang sudah melewati masa kadalursa dapat membahayakan karena
berkurangnya stabilitas obat tersebut dan dapat mengakibatkan efek toksik
(racun). Hal ini dikarenakan kerja obat sudah tidak optimal dan kecepatan
reaksinya telah menurun, sehingga obat yang masuk kedalam tubuh hanya akan
mengendap dan menjadi racun. Sebenarnya obat yang belum kadaluarsa juga
dapat menyebabkan efek buruk yang sama. Hal ini disebabkan karena
penyimpanannya yang salah yang menyebabkan zat didalam obat tersebut rusak.
Tanda-tanda kerusakan zat tersebut biasanya disertai dengan perubahan bentuk,
warna, bau, rasa atau konsistensi. Maka dari itu harus diperhatikan juga cara
penyimpanan obat yang baik (Depkes RI, 2004).

Permenkes 35 tahun 2014


E. Pemusnahan
1. Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai
dengan
jenis dan bentuk sediaan. Pemusnahan Obat kadaluwarsa atau
rusak yang mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan
oleh Apoteker dan disaksikan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.

- 10 -
Pemusnahan Obat selain narkotika dan psikotropika dilakukan
oleh
Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang
memiliki surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan
dibuktikan dengan berita acara pemusnahan menggunakan
Formulir 1 sebagaimana terlampir.
2. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima)
tahun
dapat dimusnahkan. Pemusnahan Resep dilakukan oleh Apoteker
disaksikan oleh sekurang-kurangnya petugas lain di Apotek
dengan
cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan
Berita Acara Pemusnahan Resep menggunakan Formulir 2
sebagaimana terlampir dan selanjutnya dilaporkan kepada dinas
kesehatan kabupaten/kota.